Title : Beautiful Life

Cast : DBSK, dll.

Pair : Yunjae, dll

Genre : Humor, drama, romance

Disclaimer : These charactersare not mine, they belong to themselves. But this story is mine.

Warning : Yaoi, typos, dll. DON't LIKE DON't READ

CHAPTER 1

RAINBOW APARTMENT

"Ahjumma tenang saja, aku akan menjaga Moonbin dengan baik," kata seorang namja cantik pada tetangganya yang saat ini sedang menitipkan anaknya.

"Ne, mianhae ne, Jaejoong-ah. Aku selalu merepotkanmu dengan menitipkan Moonbin di tempatmu," kata seorang yeoja bersama dengan seorang anak laki-laki berusia 5 tahun.

"Gwenchana, ahjumma. Aku senang karena Moonbin juga mau menemaniku, aku kan tinggal sendirian di sini," jawab namja cantik yang dipanggil Jaejoong tadi.

"Gomawo ne. Moonbin-ah, eomma dan appa berangkat ke kantor dulu ne, jangan merepotkan Jaejoong Hyung, arraseo?" kata yeoja yang merupakan eomma dari Moonbin.

"Ne, arraseo eomma," jawab Moonbin dan setelah itu yeoja yang merupakan eomma dari Moonbin meninggalkan mereka berdua.

Kim Jaejoong, 20 tahun adalah seorang mahasiswa design Sungkyunkwan University tingkat dua. Saat ini dia tinggal sendiri di sebuah apartemen di Seoul karena semua keluarganya berada di Chungnam. Sedangkan Moonbin adalah anak laki-laki dari tetangganya. Eomma Moonbin memang sering menitipkan Moonbin di tempat Jaejoong karena eomma dan appa Moonbin sering sibuk dari pagi hingga malam di kantor. Karena merasa kasihan dengan Moonbin yang ditinggal sendirian, akhirnya Jaejoong menawarkan diri untuk menjaga Moonbin, yah hitung-hitung sekalian menemaninya yang juga tinggal sendirian tersebut.

"Moonbin-ah, ayo masuk dan sarapan," kata Jaejoong mempersilakan Moonbin masuk ke dalam apartemennya.

"Ne, Noona." Jawab Moonbin membuat Jaejoong mempoutkan bibir cherry yang dimilikinya itu yang justru malah menambah kesan imut pada namja cantik itu.

"Ya! Moonbin-ah, sudah berapa kali kubilang. Panggil aku dengan sebutan hyung, aku ini namja," kata Jaejoong membuat Moonbin menatapnya.

"Tapi Noona lebih mirip yeoja daripada namja. Dan kata appa, namja itu tidak cantik tapi tampan, lalu masakan noona juga lebih enak daripada masakan eomma yang yeoja. Pokoknya Moonbin tidak mau memanggil noona dengan sebutan hyung," jawab Moonbin dengan wajah polosnya.

"Ya! Tapi bagaimanapun aku ini masih namja, Moonbin-ah," kata Jaejoong yang sekarang ini berjongkok di hadapan Moonbin, mencoba memberi pengertian pada anak laki-laki itu.

"Shireo, pokoknya Moonbin tidak mau. Moonbin tidak ingin punya hyung, Moonbin ingin punya noona," kata Moonbin. Jaejoong hanya menghela napas mendengar jawaban anak laki-laki itu. Sudahlah, percuma berdebat dengan anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak itu. Jaejoong memilih mengalah dan kemudian berdiri dari posisi jongkoknya. Kemudian namja cantik itu mengajak Moonbin ke ruang makan untuk sarapan.

"Ya sudahlah. Ayo sarapan, Moonbin-ah. Aku sudah menyiapkan sarapan," ajak Jaejoong dan mendapat anggukan antusias dari Moonbin. Moonbin memang sangat menyukai masakan Jae noonanya itu daripada masakan eommanya sendiri.

Mereka berdua pun sarapan. Sesekali mereka berbincang-bincang, Jaejoong pun dengan antusias mendengarkan cerita Moonbin mengenai teman-temannya itu. Setelah selesai sarapan, Jaejoong bersiap-siap untuk berangkat kuliah dan juga mengantarkan Moonbin ke sekolah. Sekolah Moonbin tidak begitu jauh dari apartemen mereka dan satu arah ke tempat permberhentian bus yang akan mengantar Jaejoong ke universitasnya. Karena itu, setiap kali akan berangkat kuliah, Jaejoong sekalian mengantarkan Moonbin dan setiap pulang kuliah.

"Moonbin-ah, tadi appamu menitipkan pesan katanya nanti aku akan telat menjemputmu. Kau tunggu dengan soensaengnim, arraseo? Jangan keluar sebelum appa datang menjemput," pesan Jaejoong setelah sampai di depan sekolah Moonbin.

"Arraseo, Noona," jawab Moobin patuh. Setelah memastikan Moonbin masuk ke dalam sekolahnya, Jaejoong pun segera berjalan ke tempat pemberhentian bus dan menunggu bus yang datang. Dan setelah itu, dia pun berangkat ke kampusnya.

JUNG MANSION

Sementara itu, di waktu yang sama, semua anggota keluarga Jung saat ini sedang sarapan di ruang makan mereka yang dapat dibilang cukup mewah itu. Suasana sarapan tersebut cukup hangat, Hankyung, Heechul, dan Changmin berbincang-bincang dengan akrabnya. Namun, suasana hangat ini berbanding terbalik dengan suasana hati seorang namja tampan yang sejak tadi menekuk mukanya.

"Hyung, kau kenapa? Kenapa dari tadi kau cemberut?" tanya Changmin yang menyadari keadaan hyungnya itu.

"Tidak ada," jawab Yunho singkat, namun masih setia menekuk wajah tampannya itu. Heechul yang menyadari kondisi anak sulungnya itu langsung menyeringai kejam.

"Eomma tahu. Pasti kau sedang memikirkan tawaran appamu kemarin. Benarkan? Sudahlah Yun, terima saja tawaran appamu," kata Heechul tepat sasaran masih dengan seringai kejamnya.

"Tidak, pokoknya apapun yang terjadi aku tidak akan menyetujui perjodohan bodoh itu. Lihat saja, aku pasti akan membawa calon istriku," jawab Yunho menantang Heechul.

"Terserah, pokoknya batas waktunya tiga hari, termasuk hari ini," jawab Heechul santai sambil memakan rotinya.

Setelah sarapan, Yunho langsung berangkat ke kantor, sedangkan Changmin berangkat ke sekolahnya di Shin Ki High School. Mereka berdua berangkat dengan mobil masing-masing. Karena keluarga mereka cukup berada, maka Yunho dan Changmin pun mendapat fasilitas yang bisa membuat orang iri dari Heechul dan Hankyung.

JUNG CORPORATION

Sampai di kantornya, Yunho memarkirkan mobil audi hitamnya di basement dan dia sendiri segera berjalan menuju kantornya. Semua karyawan yang melihatnya menjadi bingung, pasalnya biasanya direktur muda mereka ini selalu ramah dan menyapa mereka dengan senyuman, tapi sekarang? Jangankan tersenyum, Yunho berjalan dengan cepat melewati orang-orang di sekitarnya tanpa menyapa mereka sama sekali. Suasana hati Yunho sedang buruk akibat perjanjian dengan appanya kemarin.

Sampai di ruangannya, Yunho langsung berjalan menuju mejanya dan mendudukkan dirinya di kursi kerjanya. Dia menghela napasnya dan mengacak-ngacak rambutnya, tidak peduli kata orang yang nanti akan mengatai penampilannya berantakan.

"Arghhhhh, aku benar-benar gila. Bagaimana aku bisa menyetujui tawaran appa?" kata Yunho frustasi. "Ah, tidak. Aku akan lebih gila jika dijodohkan dengan orang pilihan appa. Lebih baik aku mati saja jika begitu,"

"Argh, tapi bagaimana bisa aku menemukan calon istri dalam waktu tiga hari?" teriak Yunho yang sudah tidak peduli dengan imagenya lagi. Saat sedang merutuki nasibnya itu, tiba-tiba pintu ruangan Yunho diketuk oleh seseorang. Mendengar itu, Yunho segera membenarkan posisi duduknya dan sedikit merapikan rambut yang tadi diacak-acaknya dengan tangannya.

"Masuk," jawab Yunho ketika merasa penampilannya sudah agak mendingan.

"Sajangmin, Yoochun-ssi ingin bertemu dengan anda," kata seorang yeoja yang merupakan sekretaris Yunho tersebut.

"Ne, suruh dia masuk, Minjung-ah," kata Yunho, dan setelah itu Yoochun pun masuk.

"Ada apa?" tanya Yunho setelah Yoochun masuk ke ruangan dan sekretarisnya keluar.

"Aku hanya ingin menyerahkan laporan keuangan bulan ini. Ah tunggu, kenapa tampangmu kusut begitu?" tanya Yoochun.

"Tidak," jawab Yunho singkat. Yoochun yang tidak percaya langsung mendudukkan dirinya di kursi di depan meja Yunho. Yoochun atau yang bernama lengkap Park Yoochun adalah sepupu Yunho. Hubungan mereka berdua sangat dekat. Oleh karena itu, Yoochun sama sekali tidak merasa sungkan pada Yunho walaupun status Yunho di kantor tersebut masihlah tetap atasannya.

"Ayolah, ceritakan padaku. Aku mengenalmu, Yunho-ah. Kau pasti sedang memiliki masalah," kata Yoochun.

Yunho menghela napasnya sebentar. Lebih baik dia ceritakan masalahnya pada Yoochun, sepupu sekaligus sahabatnya dari kecil itu. Siapa tahu Yoochun bisa membantunya. Akhirnya Yunho pun menceritakan semua masalahnya pada Yoochun, mulai dari Changmin yang mengadukan ulahnya pada orangtuanya sampai penawaran appanya. Yoochun hanya diam sambil mengangguk-anggukan kepalanya ketika Yunho bercerita, tapi ketika Yunho selesai bercerita….

"Hahahahahahahahaha," Yoochun tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Yunho. Yunho yang merasa ditertawakan kemudian mengambil sebuah map berisi laporan yang cukup tebal dan memukulkan map itu ke kepala Yoochun.

"Aish, appo. Ya! Kenapa kau memukulku?" tanya Yoochun tak terima sambil mengelus kepalanya yang dipukul oleh Yunho.

"Aku menceritakan semuanya padamu bukan untuk kau tertawakan, pabo," kata Yunho kesal.

"Arra arra. Tapi hahahahahahaha," kata Yoochun yang kemudian tertawa lagi mengetahui nasib sepupunya tersebut.

"Ya! Lebih baik kau keluar kalau niatmu hanya menertawakanku," kesal Yunho.

"Hahahaha. Mian ne. Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanya Yoochun sedikit menahan tawanya agar sepupunya itu tidak bertambah bad mood.

"Molla. Arghhh, aku benar-benar gila. Jika saja membunuh itu perbuatan legal, sudah kupastikan tubuh si pangeran setan pecinta makanan itu tercabik-cabik dengan mengenaskan," kata Yunho frustasi. Yoochun yang mendengar itu hanya bergidik ngeri membayangkan tubuh Changmin yang dimutilasi oleh Yunho.

"Bagaimana kalau kukenalkan dengan teman-temanku?" tawar Yoochun pada akhirnya karena merasa tidak tega juga melihat sepupunya frustasi seperti itu.

"Teman-temanmu di night club itu? Tidak, terima kasih," tolak Yunho dengan cepat karena mengetahui teman-teman yang dimaksud Yoochun itu seperti apa, dan jawaban Yunho tentu saja hell no.

"Bukankah mereka sama saja dengan gadis-gadis yang kau bawa itu?" tanya Yoochun.

"Tentu saja beda. Orang-orang di klub malam itu membuatku muak, mereka sengaja menonjolkan bagian tubuh mereka dengan berpakaian minim dan sebagian besar sudah pernah disentuh orang lain. Setidaknya orang-orang yang mendekatiku lebih baik dari mereka," jelas Yunho panjang lebar. Ya, Yoochun dan Yunho memang benar-benar sepupu. Mereka berdua sama-sama playboy kelas kakap, tapi mereka tidak pernah sampai melakukan yang iya-iya dengan mereka. Yunho dan Yoochun masih sama-sama membatasi diri. Dan kali ini eommanya meminta calon istri, tentu saja Yunho harus berpikir sedikit lebih serius.

"Lalu kau mau bagaimana?" tanya Yoochun.

"Entahlah," jawab Yunho yang kali ini menyenderkan kepalanya di atas meja kerjanya. Yoochun yang melihat itu mau tidak mau merasa iba juga dengan Yunho walaupun pada awalnya dia menertawakan nasib Yunho itu.

"Sudahlah, pasti ada jalan keluarnya. Kau tidak ada pekerjaan sekarang?" tanya Yoochun.

"Ani, pekerjaanku hari ini hanya mengecek laporan ini," jawab Yunho, "Kenapa?"

"Kalau begitu cepat selesaikan dan setelah itu kita keluar makan siang, bagaimana? Pekerjaanku juga sedikit hari ini," ajak Yoochun untuk sedikit mengembalikan mood sepupunya itu.

"Arraso, kalau begitu akan segera kuselesaikan," jawab Yunho dan setelah itu Yoochun keluar dari ruangan tersebut. Tidak perlu waktu lama bagi Yunho dan Yoochun untuk menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing. Akhirnya setelah satu jam berlalu Yunho menemui Yoochun yang sudah bersiap untuk keluar. Sebelumnya Yunho juga berpamitan pada sekretarisnya.

"Minjung-ah, aku keluar sebentar. Jika ada yang mencariku bilang saja aku tidak ada," kata Yunho pada sekretarisnya.

"Ne, sajangnim," jawab Minjung.

Setelah itu, Yunho dan Yoochun pun keluar dari kantor tersebut. Mereka sepakat menggunakan mobil Yoochun saja, karena Yunho juga tidak sedang mood untuk menyetir.

"Kita mau kemana?" tanya Yoochun sambil memasang seat beltnya pada Yunho yang sudah duduk di kursi penumpang di sebelahnya.

"Ya! Yang mengajak keluar kan kau. Seharusnya kau yang pikirkan akan kemana," jawab Yunho sewot. Yoochun hanya menghela napasnya, sepupunya itu memang seperti ini jika sedang bad mood. Semua orang akan kena getahnya.

"Arraseo, kalau begitu kita ke café biasa saja. Sekalian makan siang, aku lapar, bagaimana?" tawar Yoochun.

"Terserah kau saja," jawab Yunho. Yoochun pun segera menjalankan mobilnya menuju ke café tempat Yunho dan Yoochun biasa menghabiskan waktunya.

PARADISE CAFÉ

"Silakan," kata seorang pelayan ketika Yunho dan Yoochun sudah duduk di mejanya masing-masing.

"Kau mau pesan apa, Yun?" tanya Yoochun sambil melihat daftar menu.

"Seperti biasa saja," jawab Yunho.

"Kalau begitu kami pesan spaghetti bolognaise 2 porsi, dan kopi 2," kata Yoochun pada pelayan tersebut sambil menutup daftar menu.

"Ne, baiklah. Silakan tunggu sebentar," kata pelayan itu, kemudian beranjak pergi sambil membawa daftar menu tersebut.

Tidak berapa lama kemudian, makanan yang mereka pesan pun datang. Yoochun dan Yunho segera memakan makanan itu sambil sesekali mendiskusikan jalan keluar untuk masalah Yunho tersebut. Tapi tentu saja semua usul tidak masuk akal Yoochun ditolak mentah-mentah oleh Yunho. Bahkan Yunho sampai meragukan kalau sahabatnya ini masih waras karena Yoochun mengusulkan agar Yunho menyewa orang untuk berpura-pura menjadi istrinya. Tentu saja hal itu ditolak oleh Yunho, bagaimana bisa dia menyewa orang untuk menikah. Oke, Yunho memang playboy, tapi untuk masalah pernikahan, dia tidak mau main-main.

Masih asik dengan perbincangan tersebut tiba-tiba saja Yunho merasakan ponselnya bergetar. Yunho pun mengarahkan tangannya ke saku dan mengambil ponsel touch screen keluaran terbarunya itu. Setelah mendapatkan benda yang dimaksud, Yunho segera membaca pesan yang masuk.

From : Changminnie

To : Yunho Hyung

Hyung, kau di mana? Sedang makan siang? Tolong belikan aku makanan juga.

Yunho pun segera membalas pesan tersebut.

From : Yunho

To : Evil - Changminnie

Ya! Beli saja sendiri. Kau kan sedang di sekolah.

Tanpa menunggu lama, ponsel Yunho bergetar lagi menandakan ada balasan dari Changmin.

From : Changminnie

To : Yunho Hyung

Aku sekarang sedang di kantomu Hyung. Aku pulang lebih awal. Aku akan bosan jika di rumah sendiri. Belikan aku makanan Hyung. Apa kau mau adikmu satu-satunya yang paling tampan ini mati kelaparan?

Yunho pun membalas pesan adiknya itu lagi.

From : Yunho

To : Evil - Changminnie

Mati saja sana. Aku tidak peduli.

Dan beberapa saat kemudian, Changmin membalas pesannya lagi.

From : Changminnie

To : Yunho Hyung

Arraseo, tapi jangan salahkan aku kalau nanti appa dan eomma tahu kelakuan Hyung yang lain.

Yunho menghela napas melihat balasan dari Changmin itu. Tentu saja dia tidak mau menghadapi musibah seperti kemarin lagi. Akhirnya dengan berat hati, Yunho mengiyakan permintaan adiknya itu.

From : Yunho

To : Evil - Changminnie

Arraseo. Akan kubelikan. Tapi jika kau berani macam-macam, akan kucincang kau jadi makanan Taepong.

Setelah membalas pesan adiknya itu, Yunho segera memanggil pelayan dan memesankan berbagai macam makanan untuk Changmin mengingat jatah makan Changmin tidak cukup satu porsi. Kadang Yunho beranggapan kalau Changmin beruntung karena lahir dari keluarga yang berkecukupan, jika tidak, pasti sekarang ini dia sudah mati kelaparan karena jatah makanannya kurang.

SUNGKYUNKWAN UNIVERSITY

"Jaejoong-ah,"

Merasa namanya dipanggil, namja cantik itu menoleh dan mendapati seorang namja tampan yang sedang melambaikan tangan padanya. Melihat itu, Jaejoong pun tersenyum dan berjalan ke arah orang itu.

"Jeong Hoon Hyung, ada apa?" panggil Jaejoong ketika sudah sampai di depan orang yang memanggilnya tadi.

"Ani, kau ada kelas setelah ini?" tanya pemuda bernama Jeong Hoon itu.

"Tidak ada, kelasku siang ini ditiadakan. Jadi aku sekarang tidak ada kelas," jawab Jaejoong.

"Bagaimana jika kita makan siang bersama? Aku punya kejutan untukmu," kata Jeong Hoon yang berhasil membuat wajah Jaejoong memerah. Ya, Jeong Hoon adalah cinta pertama Jaejoong sejak SMA sampai sekarang.

"Eh? Kejutan apa?" tanya Jaejoong.

"Kau akan tahu nanti," jawab Jeong Hoon.

"Ne, baiklah kalau begitu. Lagipula aku juga sudah tidak ada kelas," jawab Jaejoong.

"Ne, kalau begitu kita pergi sekarang ne?" ajak Jeong Hoon yang mendapat anggukan dari Jaejoong.

Akhirnya mereka berdua sepakat untuk makan siang di sebuah café yang tidak jauh dari kampus mereka. Karena jarak yang cukup dekat, maka mereka berdua memutuskan untuk berjalan kaki saja dan selama perjalanan mereka pun berbincang-bincang dengan akrab satu sama lain karena mereka memang sudah mengenal sejak lama. Tidak sampai 10 menit mereka sudah sampai di depan sebuah café.

"Kita tidak masuk, Hyung?" tanya Jaejoong pada Jeong Hoon karena mendapati Jeong Hoon hanya diam berdiri di depan café tersebut.

"Tunggu sebentar, kita harus menunggu seseorang," jawab Jeong Hoon.

"Siapa?" tanya Jaejoong.

"Nanti kau akan tahu," jawab Jeong Hoon lagi.

Jaejoong hanya diam saja mendengar jawaban Jeong Hoon itu sambil bertanya-tanya dalam hati. Namun tidak berapa lama kemudian ada seseorang yang memanggil mereka.

"Jeong Hoon Hyung! Jaejoongie!" teriak suara itu. Jaejoong mendongakkan kepala ke asal suara itu dan membulatkan matanya, terkejut. Di hadapannya sekarang ada seorang namja berwajah imut yang tidak asing lagi baginya.

"Junsu? Kim Junsu?" panggil Jaejoong.

"Ne, ini aku. Syukurlah kau tidak lupa padaku, Joongie," kata orang yang dipanggil Kim Junsu itu.

"Ya! Mana mungkin aku lupa padamu. Kapan kau pulang dari Jepang?" kata Jaejoong senang sambil memeluk Junsu. Kim Junsu adalah adik sepupu Jeong Hoon yang merupakan sahabat Jaejoong sejak duduk di bangku SMP. Namun saat SMA, Junsu ikut orangtuanya pindah ke Jepang. Dan inilah pertama kalinya mereka bertemu sejak itu.

"Minggu kemarin. Huaa, aku merindukanmu, Joongie," kata Junsu senang sambil membalas pelukan dari Jaejoong.

"Ne, aku juga. Sekarang kau kuliah di mana?" tanya Jaejoong sambil melepas pelukannya pada Junsu.

"Aku kuliah di tempat yang sama denganmu. Hanya saja aku di jurusan seni, berbeda denganmu dan Jeong Hoon Hyung yang berada di jurusan design," jawab Junsu.

"Sudahlah, bercakap-cakapnya nanti saja. Bagaimana kalau sekarang kita masuk?" tawar Jeong Hoon pada kedua sahabat yang sedang saling melepas rindu tersebut. Tawaran Jeong Hoon tersebut mendapat anggukan dari Junsu dan juga Jaejoong.

Mereka bertiga pun masuk ke dalam café yang bertuliskan Paradise Café tersebut. Junsu dan Jaejoong masih saja asik berbincang-bincang karena sudah lama tidak bertemu. Karena itu, mereka kurang memperhatikan jalan, sampai tiba-tiba….

BRUKKKKK

Jaejoong menabrak seseorang yang akan keluar dari café tersebut. Jaejoong kaget dan hampir saja terjatuh. Untung saja Jeong Hoon memiliki refleks yang baik sehinngga dia langsung menahan tubuh Jaejoong dari belakang sebelum tubuh Jaejoong menyentuh lantai. Sedetik kemudian Jaejoong berusaha berdiri tegak, dan kemudian dia mendengar suara bass berbicara padanya.

"Ya! Apa kau tidak bisa melihat kalau…," kalimat orang tersebut terputus ketika Jaejoong mengangkat kepalanya melihat orang bersuara bass tersebut. Tiba-tiba saja, teman orang bersuara bass tersebut datang.

"Yunho-ah. Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya teman orang tersebut yang ternyata adalah Yoochun.

Yunho hanya diam sambil mangamati orang yang menabraknya tadi. Kesan pertama Yunho pada orang yang menabraknya tadi hanya satu, yaitu sangat cantik. Sampai beberapa detik kemudian Yunho masih tertegun melihat sosok Jaejoong, mata doenya yang bulat, bibir cherry yang merah alami, serta kulit seputih susu yang membungkus tubuh namja cantik itu. Pandangan Yunho beralih ke dada Jaejoong dan Yunho pun menyadari kalau yang manabraknya tadi adalah namja.

"Mianhae karena aku menabrakmu," kata Jaejoong pada Yunho sambil membungkukan sedikit badannya. Yunho yang sedari tadi sedang melamun karena asik mengamati wajah Jaejoong segera tersadar.

"Siapa namamu?" tanya Yunho. Yunho sendiri tidak mengerti kenapa malah kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.

"Ne?" Jaejoong balik bertanya karena kaget.

"Kutanya siapa namamu?" tanya Yunho lagi, kali ini dengan sedikit ketus. Tentu saja untuk menutupi gengsinya agar tidak ketahuan kalau tadi dia sedikit terpesona pada namja cantik itu.

"Kim….. Jaejoong," jawab Jaejoong dengan ragu-ragu.

Sepertinya bukanlah kebetulan jika seorang Jung Yunho memiliki seorang dongsaeng dan eomma yang bisa dikatakan merupakan titisan pangeran dan ratu setan tersebut. Sebut saja Yunho beruntung karena di saat seperti ini, otak jenius atau yang lebih tepat disebut sebagai otak evil yang bisa dikatakan turunan dari ummanya tersebut bekerja dengan baik.

Sepertinya namja ini bisa kugunakan, pikir Yunho dalam hatinya sambil menyeringai menatap Jaejoong.

TO BE CONTINUED