Verus Pink Araminta

Adalah salah satu nama anggrek berwana pink, bunga anggrek adalah bunga anggun yang melambangkan ke lemahan dan kekuatan dalam waktu yang bersamaan.

.

.

.

Hari itu tampak seorang pria bermata heterokrom mengawali pagi nya dengan mood yang buruk.

'Haus, tidakkah kau lihat aku begitu menderita Tetsuya?' Guman paginya di awali dengan nada penuh lirih.

'Rasa hausku selama 4 tahun terakhirnya sudah memuncak, Tetsuya'

.

.

.

Besoknya setelah Kuroko sudah di perbolehkan untuk pulang ia langsung masuk ke kantor, namun suasana baru tampak jelas, karena semua di buat sibuk dengan pesanan pesanan dan telepon yang tak kunjung berhenti hampir semua orang di dalam ruangan ini tak ada yang berdiam diri.

"Ano senpai? Ada pesanan? Mengapa semua begitu sibuk" Ucap Kuroko menghampiri Hyuga sang manager kepala cabang di kantor ini.

"Ah, 10.000 untuk anggerk berwana pink, di kirim ke restoran milik Murasakibara Atsushi sebagai penghias ruangan di dalam retoran berbintang miliknya, dan di kirim ke retoran miliknya di berbagai kota"

"Ah berarti ini akan menutup ke rugian karena pembatalan kontrak kemarin?" Ucap Kuroko sedikit tenang.

"Ah kau benar, tadi anggrek jenis yang akan di kirim itu Verus Pink Araminta,Transient Pink Asahy,Verus Pink Claisya,Transient Pink Engrasia,Dark Pink Feodora,Transient Pink Frederika bisakah kau membantu Kagami menyiapkannya?"

"Baik senpai" Ucap Kuroko, hari itu di penuhi oleh order-an sampai beberapa bulan ke depan. Ini akan menjadi batu pijakan perusahaan ini kelak.

Hari ini Kuroko lembur sampai pukul 8 malam, yang biasanya pukul 5 sore ia sudah pulang kini lebih 3 jam dari jadwal biasa.

.

.

.

Hari yang melelahkan itulah yang berada di pikiran Kuroko saat ini. Kaki berjalan perlahan ke arah taman yang berdekatan dengan danau, saat dimana ia tak tahu harus kemana, saat ia tengah lelah, saat ia ingin sendirian maka ia akan ke tempat ini. Langkah kaki kini berhenti tepat di pinggir danau, namun~

BUKKK

Tanpa sengaja ada yang menyenggol Kuroko dan mau tidak mau tubuhnya harus berselimutkan air danau yang dingin sebab ia terjatuh ke atasnya. Dan orang yang menyenggolnya tak menyadari keberadan Kuroko akhirnya iapun berlalu tanpa sadar ada yang tengah membutuhkan pertolongan di dalam danau sana.

Kuroko yang terjatuh bukannya segera menepi ia malah berbaring di atas air danau, mengapung dan menatap langin malam di musim hujan ini.

"Apa yang kau lakukan?" Suara seseorang membangunkan Kuroko dalam lamunannya.

"A-Akashi-kun?" Ucap Kuroko tersadar pria yang menyapanya adalah Akashi Seijuuro.

"..." Masih menatap dingin dari atas.

"Ah sedang mendinginkan kepala" Ucap Kuroko singkat.

"Kau mendinginkan kepala lalu mengapa seluruh tubuhmu juga basah? Cepatlah keluar dari danau" Ucap Akashi semakin dingin.

Tanpa basa-basi Kurokopun menurutinya, langsung menepi dan berhadapan dengan Akashi dengan seluruh tubuh yang basah kuyup.

"Kalau begitu, aku pamit dulu. Akashi-kun" Ucap Kuroko berpamitan, namun belum selangkah ia pergi. Akashi langsung menarik tangannya keras.

"Kau ingin pulang dengan tubuh yang basah kuyup seperti itu? Apa kau gila!?" Ucap Akashi menarik Kuroko menaiki mobil sport keluaran terbaru miliknya.

"Eh?" Begitu tersadar Kuroko sudah ada di dalam mobil bersama Akashi Seijuuro. Penghangat di dalam mobil pun di nyalakan.

.

.

.

Mesin mobil di nyalakan dan Akashi mulai menancap gas kencang seperti Aomine mengendarai mobil, seperti pembalap, akibatnya meski Kuroko sudah mengenakan sabuk pengaman dirinya tetap terbanting ke kiri dan kekanan.

"A-ano A-Akashi-kun" Bisik Kuroko namun cukup di dengar oleh sang kaisar di samping.

"Ada apa?" Jawab Akashi tanpa memandangi Kuroko, tepat sebelum lampu merah lalu lintas muncul. Dan mobil pun di hentikan.

"Bisakah menyetirnya lebih lambat, dari tadi aku terbanting terus" Adu Kuroko dengan sangat pelan.

"Aku tidak akan menurunkan kecepatan, kalau tidak mau terbanting banting maka (Akahsi melepaskan savety belt miliknya) kemarilah" Ucap Akashi memuncurkan posisi joknya.

"Eh? Ta-tapi Akashi-kun kan sedang menyetir? Dan baju Akashi-kun akan basah?" Ucap Kuroko sedikit panik.

"Cepatlah, sebelum lampu menjadi hijau" Ucap Akashi menatap Kuroko dan tanpa berkata apapun Kuroko duduk di pangkuan Akashi, sabuk savety belt kembali di pansang melingkar indah di tubuh Kuroko.

.

.

.

20 Menit kemudian, tanpa terasa Kuroko tertidur. Aroma mint yang sejak 4 tahun lamanya ia rindukan kini tersampaikan. Membawa si pemilik rambut baby blue ke dalam awan mimpi dengan begitu tenangnya.

"Oi bangun! Kuroko Tetsuya bangun!" Ucap Akashi kesal karena pemuda di pangkuannya ini tak kunjung bangun juga.

"Eng sudah sampai?" Ucap Kuroko mulai membuka mata aquamarinenya perlahan lahan.

"Boccama, Kuroko-sama selamat datang kembali" Ucap seorang pelayan berusia 40 tahun, mendekati mobil yang kini terbuka lebar menyuguhkan pemandangan Kuroko yang masih di pangku oleh Akashi.

"Eh? Inikan bukan rumahku?" Ucap Kuroko semakin jam sudah menunjukan pukul 9 malam.

"Aku akan mengantarmu setelah pakaianmu kering. Karena itu cepatlah minggir" Ucap Akashi dingin.

.

.

.

Setelah Akashi dan Kuroko mandi dengan air hangat di tempat yang berbeda beda, baju kuroko di laundry jadi ia kini mengenakan baju Akashi, walau tampak sedikit kebesaran.

"A-ano Akashi-kun?"Ucap Kuroko memasuki ruangan Akashi.

"Ada apa?" Ucap Akashi tanpa memandang Kuroko yang datang, ia sibuk mengenakan baju ganti tepat di depan Kuroko. Sedang Kuroko dengan wajah merah padan memasuki ruangan.

"Bukankah dulu ada bajuku yang tertinggal di sini, jadi Akashi tidak perlu repot meminjamkan aku baju" Ucap Kuroko dengan jantung yang berpacu semakin cepat.

"Ah itu, setahun yang lalu sudah ku bakar semua" Ucap Akashi ringan, dan jantung Kuroko seakan berhenti sekejam.

"Ka-kalau begitu, aku pamit pulang dulu~" Ucap Kuroko lemah.

"Kau mau pulang dengan telanjang?" Ucap Akashi meledek.

"Eh?"

"Aku tak ingat meminjamkanmu baju?"

"Lalu ini?" Ucap Kuroko menunjukan baju yang di pakainya.

"Ku bilang dari awal, tunggulah sampai bajumu kering. Apa kau tuli?" Ucap Akashi semakin menjadi jadi. Saat itu juga Jantung Kuroko seperti di tusuk oleh pisau terasa sangat sakit, sampai ia harus menggenggamnya agar tidak copot.

"Emp, wakarimashita. Kalau begitu aku akan menunggu di ruangan yang tadi saja" Ucap Kuroko keluar ruangan, dan tak di jawab oleh Akashi.

Begitu pintu ruangan sudah tertutup hanya kesunyian yang berada di sisi Akashi.

"SIAL!" Akashi menendang buku buku yang tertata rapih di lantai membuat semua terjauh kesana dan kemari.

.

.

.

15 menit kemudan, Akashi mendatangi ruangan Kuroko. Namun Kuroko sudah tidak ada di tempat.

"Tetsuya?" Ucap Akashi dengan mata heterokrom yang mengkilat tajam.

'Lagi-lagi kembali menghilang!'

"Ah Kuroko sama tadi sudah pamit pulang" Ucap kepala pelayan Akashi.

"Apa?!" dengan cepat Akashi berlari ke gerbang utama, tampaklah Kuroko sudah hampir sampai ke depan gerbang.

.

.

.

"Tetsuya, berhenti!" Tiba-tiba suara bariton terdengar dari belakang membuat Kuroko menghentikan langkahnya keluar gerbang.

"Eh ada apa Akashi-kun?" Ucap Kuroko dengan polosnya.

"Kau kira kau mau kemana?" Ucap Akashi mengatur napasnya.

"Pulang, bajuku sudah kering jadi aku akan pulang" Ucap Kuroko lagi lagi membuat Akashi tak habis pikir.

"Tapi aku belum mengi-"

"Are Kuroko?" Ucap pria lain berrambut jingga yang tengah lewat mengenakan stelan jas lengkap namun sedikit bau alkohol.

"Ogiwara-kun?" Ucap Kuroko membuat Akashi semakin geram.

"Kau sedang apa? Aku habis pulang dari acara kantor, mau pulang dan kau?" Ucap Ogiwara

"Ah kebetulan, aku pun mau pulang" Ucap Kuroko memandang Ogiwara

"TETSUYA! KEMARI!" Tiba-tiba Akashi menarik tangan Kuroko kasar membawanya kembali ke ruangan, sedang Ogiwara yang mlihatnya tak tinggal diam.

"Kuroko?" Ucap Ogiwara mencoba mendekat namun-

"Aku gak apa apa, Ogiwara-kun pulang duluan saja~" Ucap Kuroko mencoba untuk tenang.

.

.

.

Pintu kamar di banting bersamaan dengan tubuh Kuroko yang di dolak kasar ke atas kasur oleh Akashi.

"A-Akashi-kun?" Ucap Kuroko panik.

"Ogiwara, pria itu apakah pacar baru mu?! Jadi dia pengganti tempatku?!" Ucap Akashi dengan mata heterokrom yang mengkilat memandang Kuroko yang tak juga menjawab.

"Akashi-kun? Coba tenanglah sedikit" Ucap Kuroko namun api kecemburuan Akashi sudah terlanjur membesar sebesar gunung yang melahap semua kebenaran, dan membutakan diri.

"JAWAB!" Ucap Akashi menarik kasar baju kemeja Kuroko hingga hampir seluruh kancing baju milik Kuroko terpental keseluruh penjuru arah. Membuat Kuroko meneteskan air mata dengan tubuhnya sedikit gemetar, Kurokopun menjawab.

"Bu-kan, Ogi-wara-kun i-itu teman ku gak le-bih. Dia sudah meni-kah dan mereka baik baik saja~. Kami ha-nya teman" Ucap Kuroko menggenggam bajunya yang terbuka lebar menampilkan kulit putih sehalus keramik di depan Akashi yang berada di atasnya.

"Benarkah?" Ucap Akashi mulai sedikit tenang, dan Kuroko kali ini hanya menjawab dengan anggukan dengan air mata yang mulai menetes pelan.

Lalu Akashi mulai bangkit dan mengambil kemeja putih miliknya sambil berjalan keluar ia melempar baju itu ke samping Kuroko.

"Ganti bajumu dengan itu" Ucap Akashi.

"Akashi-kun meminjamkan ku?" Ucap Kuroko sedikit pelan dari basanya.

"Ya, kau tunggulah di sini" Ucap Akashi mulai menghilang di balik pintu

"Arigatou Gozaimasu Akashi-kun" Ucap Kuroko mulai bangkit dan melepaskan bajunya menggantinya dengan baju Akashi yang sedikit lebih besar dari miliknya.

.

.

.

Di tempat lain tepatnya di kediaman Mayuzumi Chihiro tampat dua sejoli tengah bersandar mesra tanpa ada adegan adegan memadu kasih, mereka berdua membaca buku.

"Chihiro~" Goda Nijimura sang pacar.

"Hmp" Ucap Chihiro tidak menghiraukan. Namun Nijimura tidak tinggal diam, tangannya mulai meletakkan light novel dan mulai menyentuh wajah sang pacar.

"Nijimura-san, kan sudah berjanji. Bila di rumahku tidak akan berbuat yang aneh aneh" Kesal Nijimura.

"Eh~ walau hanya ciuman saja~" Rengek Nijimura pada sang pacar.

"Walau hanya ciuman!" Ucap Chihiro santai, namun 2 menit kemudian wajahnya menampilkan ekspresi tak biasa dan segera pergi dari hadapan sang pacar.

Nijimura yang melihat tingkah aneh Chihiro langsung menyusul.

"Chihiro apa kau baik baik saja?" Ucap Nijimura langsung berlari begitu melihat sang pacar sudah terduduk lemas setelah memuntahkan isi perutnya.

Setelah membawa Chihiro ke kamar dan membaringkannya ia langsung menelepon Midorima Shintaro salah satu kenalannya yang berprofesi sebagai Dokter yang telah di akui dunia akan keahliannya walau masih berusia sangat muda saat ini.

.

.

.

20 menit kemudian Midorima sudah sampai di kediaman Chihiro dan langsung memeriksanya. Di rumah sederhana ini hanya ada mereka bertiga dan Kuroko belum juga pulang sedang hari sudah menunjukka pukul 10 lewat.

"Jadi bagaimana keadaannya?" Ucap Nijimura melihat Midorima sudah selesai memeriksa.

"hmp, untuk lebih baik sebaiknya di lakukan pemeriksaan di rumah sakit nanodayo" Ucap Midorima serius dan itu cukup membuat Nijimura sang pacar sangat khawatir.

"Apa sakitnya sangat parah, Midorima?" Ucap Nijimura mendesak.

"Ahh bukan seperti itu nanodayo. Hanya saja, sepertinya Mayuzumi-san sedang mengandung 8 minggu nanodayo. Sepertinya Mayuzumi-san juga tidak menyadari kalau dirinya sedang mengandung jadi sebaiknya secepat mungkin di periksa ke rumah sakit nanodayo"Jelas Midorima membuat kedua orang lainnya terkejut bukan main sampai tak mampu berucap apa apa sampai 5 menit berlalu.

"Bagaimana ini?" Ucap Nijimura memandang Chihiro serius.

"Nijimura-san" Chihiropun mulai berfikir amat panjang, bagaimana pun hubungan mereka berdua belum di beritahu pada keluarga besar Nijimura, apa lagi Chihiro merupakan dari golongan rakyat biasa saja yang berprofesi sebagai dokter di rumah sakit kecil berbeda dengan sang pacar yang merupakan pemilik Nijimura Corporation saat ini. Apakah hubungan mereka akan berjalan lancar atau ia harus menggugurkan kandungannya?

"Midorima ayo kita segera ke rumah sakit" Ucap Nijimura mulai menarik tangan Chihiro lembut.

"Eh?" Ucap Chihiro.

"Kita harus memerika kandunganmu kan supaya aku yakin semua baik baik saja, akh mengapa kamu gak sadar kalau lagi mengandung?" Ucap Nijimura dengan senyum yang sangat menawan.

"Maaf" Ucap Chihiro mulai tersenyum kembali.

"Oiya sebelum itu ayo kita berdua ketemu dengan orang tuaku dulu"Ucap Nijimura sang pacar membuat Chihiro panas dingin, tiba-tiba harus ketemu dengan calon mertua dan pada jam segini.

"Ta-tapi ini sudah jam 10 lebih dan Kuroko juga belum pulang"

"Tenang saja, Kuroko sekarang ada di kediaman Akashi jadi ayo kita berangkat. Besok aku akan kerumah sakit jadi pastikan besok kau ada di sana Midorima" Ucap Nijimura seakan mengancam.

"Aku tau itu nanodayo" Ucap Midorima mulai melangkah pergi.

.

.

.

Tak memakan waktu lama untuk Nijimura Shuzo membujuk sang pacar agar mau menemui keluarganya, karena saat ini mereka berdua sudah ada di dalam mobil yang melaju dengan kencang.

"Ano~ Ni-Nijimura-san tolong bisa pelan sedikit?" Ucap Chihiro memegangi savety beltnya kencang.

"Baiklah akan aku pelankan tapi bila kau menciumku" Goda Nijimura mulai menghentikan mobil di perempatan lampu merah yang tengah menampilkan lampu merah menyala. Dan dengan wajah memerah padam, Chihiro mulai melepaskan savety beltnya dan dengan perlahan Chihiro mendekat.

"Cepatlah sebelum lampu merah berubah menjadi hijau" Ucap Nijimura memojokkan.

"Nijimura-san berisik" Kesal Chihiro sudah semakin dekat.

Cup

Ciuman singkat itu pun membuat Nijimura tersenyum sendiri. Namun begitu lampu merah berubah menjadi hijau, awalnya Nijimura hendak mengerjai sang pacar dengan menginjak gas mendadak adar Chihiro bisa terduduk di pangkuannya tapi-

CRUSHHHHHH!

Ternyata mobil yang lewat belum juga henti, dan tabrakan keraspun tak bisa di elakkan, Nijimura terbentur cukup keras namun tidak terlalu parah karena balon pengaman di depan stir langsung keluar. Namun tidak dengan Chihiro yang terbanting ke belakang, karena mobil mereka menabrak mobil di depan dan juga di tabrak dari belakang jadi mobilnya cukup mengalami kerusakan cukup parah. Chihiro terjepak di bagian bawah bangku belakang mobil dan cukup lama untuk bisa di evakuasi, 3 jam setelah ke celakan Chihiro baru bisa di evakuasi dan saat itu Chihiro sudah tak sadarkan diri.

.

.

.

Di tempat lain.

Akashi kembali ke ruang dengan membawa kotak P3K, Kuroko seakan melihat sedikit Akashi lama kembali.

"Akashi-kun?"

"Hmp, dengan baju itu kau cukup menggoda" Ucap Akashi tersenyum dari atas.

"A-Akashi-kun?" Begitu terkejut dengan apa yang di ucapkan Akashi yang tak lagi dingin seperti beberapa waktu yang lalu.

"Dari tadi kau memanggil manggil namaku terus, ada apa? Berikan tanganmu biar ku kompres, tadi aku menariknya terlalu keras bukan" Ucap Akashi manyentuh tangan Kuroko yg tadinya di tarik kasar, kini di sentuh begitu lembut.

"Arigatou Gozaimasu" Ucap Kuroko mulai tersipu malu.

"Tetsuya" Ucap Akashi mulai menyantuh wajah Kuroko lembut sama seperti dahulu mereka menjadi sepasang kekasih.

"Akashi-ku-"Kuroko mulai menutup matanya, tapi-

PIPP PIPP PIPP

"Eh?" Ucap Kuroko kembali membuka matanya dalam sekejap.

"Smart Phone ku berbunyi, kenapa kau menutup matamu?" Ucap Akashi menggoda Kuroko.

'Akashi-kun menyebalkan' Ucap Kuroko dalam hari sambil merengut.

"Aku bisa dengar itu, hmp" Ucap Akashi, sensai seperti ini sudah sangat lama mereka rindukan kini terlaksana.

"Ya, Shintaro ada apa?" Ucap Akashi kembali pada suara baritonnya yang biasa.

"Akashi bisa segera ke rumah sakitku yang di tengah kota, Nijimura-san dan Mayuzumi-san mengalami kecelakaan cukup serius" Ucap Midorima terdengar begitu panik di seberang dalam sekejap mata heterokrom Akashi mengkilat, melihat perubahan Akashi Kuroko langsung tahu ada yang tidak beres.

"Akashi-kun ada apa?"

TBC


A/n

Spesial thanks untuk Killua san, ,Daisy Uchiha,KarinNU95,ShirShira,drunkenfishNijiMayu ShuHiro,Kiki Zaoldyk,Diva Dizuka ,Vanilla Parfaif,melur985,miichan maru,AkaKuro-nanodayo