Don't fall in love
Chapter 2
Disclaimer: Kishimoto Sensei
By Karayukii
Warning: OOC, BL.
.
.
.
"Apapun yang terjadi, jangan jatuh cinta padaku."
Kata-kata Naruto sukses membuat alis Sasuke berkerut aneh. Ia menatap pemuda blonde itu lagi. Alis tebal, mata safir, hidung mancung, rahang tegas –semuanya dibalut bersama dengan kulit wajahnya yang kecoklatan. Bentuk tubuhnya pun tidak kalah dari wajahnya, kemeja putih itu kelihatan ketat ditubuhnya, mencetak jelas dada bidang dan otot yang terlatih. Mau dilihat dari manapun Naruto itu laki-laki dan apalagi dia sama sekali tidak cantik –hanya orang buta yang akan mengatakan bahwa Naruto cantik— Jadi dengan segala sisi manly yang dimiliki Naruto, kalimat jangan jatuh cinta padaku terdengar seperti lelucon gila di telinga Sasuke.
Sasuke masih merasa dirinya normal. Walau ia menolak Sakura yang notabenenya adalah wanita tercantik, tapi ia sangat yakin dengan kertarikan sexualnya.
Andai saja Sasuke tidak dalam posisi yang tertekan, ia pasti sudah menghadiahi pria bule itu sebuah sindiran tajam. Tapi tidak, walau Sasuke sendiri merasa tersindir dengan kalimat Naruto, ia masih cukup waras untuk tidak membuat pria itu marah.
Ia melirik lagi kertas perjanjian konyol itu, menatapnya lekat-lekat sambil berharap kertas itu akan terbakar menjadi debu.
Dihadapannya, Naruto masih menunggu, melipat tangan sambil menatap dengan ekspresi tidak sabaran.
"Kau hanya perlu tanda tangan di tempat yang sudah disediakan." Pemuda itu berkata akhirnya. "Tidak ada gunanya membaca keseluruhan perjanjian. Kau bisa membacanya nanti, setelah menandatanganinya –Kau tidak punya pilihan lagipula."
Kalimat terakhir Naruto bagaikan sebuah pedang yang menusuk tepat ke jantung Sasuke. Ia menggertakkan giginya, ingin sekali membanting meja ke wajah menyebalkan itu. Tidak ada gunanya membaca keseluruhan perjanjian, dia bilang. Apa dia tahu bahwa jika Sasuke sudah menandatangani perjanjian itu, itu berarti segala kehidupannya akan dikendalikan oleh apa yang tertulis dikertas itu. Jadi Sasuke jelas harus membacanya.
Sasuke menggigit bibir bawahnya, mata onyxnya bergerak cepat membaca butir demi butir kalimat yang sayangnya… tidak bisa masuk ke dalam otaknya. Dia tidak bisa berpikir, dan terlalu kesal untuk mencerna semua isinya.
Naruto yang masih menunggu Sasuke, mendesah keras. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya dan terlihat makin tidak sabaran. Ia tidak tahu bahwa pemuda raven itu akan sebebal ini. Satu lirikan ia berikan kepada ajudannya, dan pria berjas hitam dibelakang Sasuke mulai bergerak.
Sasuke yang jantungnya tiba-tiba berdebar cepat tanda bahaya, langsung menggerakkan penanya, menggoreskan tanda tangannya dengan jari-jari gemetar.
Ia kemudian meringis sambil memejamkan mata dengan pasrah saat tanda tangannya tercetak dengan cantik di surat perjanjian gila itu.
"Bagus." Naruto berkata, seraya menarik kembali kontrak itu dari tangan Sasuke dan memasukkannya ke dalam map. Ia jelas tidak begitu tertarik dengan tatapan gusar penuh celaan yang diperuntukkan Sasuke untuknya.
"Kau puas sekarang?" Sungut Sasuke.
Uchiha Sasuke merasa hidupnya sudah berakhir. Bagaimana tidak, melihat tanda tangannya sendiri tertoreh di dalam kontrak itu, membuatnya tersadar bahwa ia baru saja menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam jurang kematian. Jurang yang bahkan Sasuke tidak tahu dimana dasarnya.
Naruto tidak langsung menjawab, ia melirik jam tangannya lagi sebelum memfokuskan perhatiannya kembali pada Sasuke. "Ajudan terbaikku akan memberitahumu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Aku harap kau segera mempersiapkan diri."
"Mempersiapkan diri?" Jantung Sasuke langsung berdetak was-was. Mempersiapkan diri? Apa yang harus ia persiapkan? Jika yang Naruto maksud adalah mentalnya, Sasuke tidak akan pernah siap.
"Ya, tentu saja. Kita sudah tanda tangan kontrak kan? Kita seharusnya melangkah ke tahapan selanjutnya." Jawab Naruto seakan-akan itu adalah hal yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Tapi melihat wajah kebingungan Sasuke, Naruto menaikkan kedua alisnya. Apa pemuda raven ini sebegitu bodohnya. "Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan secara lebih rincih padamu. Pengawalkulah yang akan menjelaskan rinciannya." Ia berkata. "Intinya persiapkan dirimu, aku tidak ingin terjadi kesalahan sedikitpun, kau dengar?"
Pada akhir kalimatnya Naruto melirik ke seseorang dibelakang Sasuke, kalimat terakhir jelas ditujukan kepada pengawalnya yang sedari tadi terus mengawasi punggung Sasuke.
Sasuke membuka mulutnya, tapi menutupnya kembali ketika melihat Naruto telah beranjak. Ia ikut berdiri tapi alih-alih melakukan sesuatu, ia hanya terpaku dan malah membiarkan Naruto melewatinya begitu saja. Ia sungguh kebingungan. Dan Naruto sama sekali tidak terlihat akan memberinya penjelasan yang bisa menenangkannya. Pemuda itu malah bersikap acuh dan tidak memperdulikan Sasuke. Ia melenggang pergi diikuti oleh seorang pengawal yang juga memasang wajah tidak kalah dingin dari tuannya.
"Apa maksudnya itu?" Sasuke menoleh ke arah ajudan Naruto dengan ekspresi tidak mengerti.
Ajudan Naruto melirik jam tangannya, persis seperti apa yang dilakukan Naruto tadi. "Anda punya waktu sekitar tujuh jam." Ia memberitahu dengan gaya formal. "Waktu yang cukup untuk bersiap-siap."
Uchiha Sasuke tertegun menatap dirinya di cermin. Dia hampir tidak bisa mengenali dirinya sendiri. Tubuhnya yang biasa dibalut dengan celana jeans dan baju kaos rumbang, nampak begitu berbeda ketika dibalut dengan setelan tuxedo mahal berwarna putih, lengkap dengan dasi kupu-kupu hitam. Ia merasa penampilannya sudah seperti para konglomerat kaya dengan penghasilan milyaran pertahun.
"Anda tampak seperti pangeran berkuda putih." Wanita berambut merah berkata sambil merapikan kerah baju Sasuke. Dialah si pesulap yang merubah Sasuke hari ini. "Jadi dimana permaisuri anda?" Tanya wanita itu dengan bercanda seraya menyisir miring poni Sasuke.
Sasuke yang moodnya mendadak down mendengar pertanyaan wanita itu, hanya bisa menekuk mulutnya ke bawah. Permaisuri? Jangan membuatnya tertawa.
Mungkin wanita itu tidak tahu, bahwa Sasuke sedang mempertaruhkan hidup dan matinya sekarang. Ia yang sudah menyepakati perjanjian gila itu, jelas tidak bisa menebak bencana apa yang akan dibawa si konglomerat Namikaze itu kepada dirinya.
Sudah dari tadi kepala Sasuke terus berdenyut sakit. Ia tidak bisa menemukan jalan keluar untuk masalahnya kali ini. Naori menghilang tanpa jejak, dan Sasuke tidak punya gambaran kemana dia akan pergi. Naori punya banyak teman pria, dan dia punya banyak link, wanita itu bisa berada di mana saja. Lagipula Sasuke tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Naruto jika sampai menemukan Naori.
"Kita harus pergi sekarang."
Sasuke mendesah keras, lalu menatap ajudan Naruto yang muncul dari pantulan cermin. Dari tadi pagi sampai menjelang petang pria itu terus saja mengawasi Sasuke, memperlakukannya seperti seorang buronan.
Apa ia semacam tahanan sekarang? Sepertinya begitu.
"Sudah selesai!" Wanita berambut merah menepuk tangannya senang. Sepertinya bangga dengan hasil kerjanya hari ini.
"Bagus." Si ajudan mendatangi wanita itu, mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat yang cukup tebal.
Sasuke meliriknya sekilas, sebelum salah satu ajudan Naruto yang lain muncul, dan menarik tangannya untuk segera keluar dari kamar hotel. Beberapa detik kemudian mereka tengah berjalan di lorong menuju ke lift terdekat. Sekejap jantung Sasuke berdetak cepat seperti berusaha memperingatinya. Ini satu-satunya kesempatan bagi Sasuke untuk melarikan diri.
Tapi Sasuke meragukannya. Ia tidak mungkin bisa melarikan diri begitu saja, ketika bodyguard Namikaze terus-terusan menempelinya. Dua bodyguard di kanan kiri Sasuke kelihatannya orang-orang yang tangguh. Ia pastilah tidak akan menang jika harus bertarung dua lawan satu dengan orang-orang terlatih macam mereka.
Dan lagipula jika Sasuke benar-benar berhasil kabur, mungkin ia akan menjadi semacam teroris. Keluarga Namikaze bukanlah konglomerat tingkat teri, mereka begitu terkenal dan kaya raya sampai ada yang menduga kalau di halaman rumah mereka terparkir selusin helicopter pribadi. Sasuke memijat kepalanya, mendadak pusing.
Mereka masuk ke dalam lift yang terbuka. Sasuke menelan ludah, berusaha membasahi tenggorokannya. Ia melihat salah satu ajudan Naruto menekan lantai 7, dan lift bergerak naik ke atas.
"Jadi ada yang ingin menjelaskan padaku, mengenai rencana Naruto?" Tanya Sasuke untuk yang kesekian kalinya. Sudah dari tadi dia menanyakan hal yang sama, tapi ajudan Naruto hanya diam dan sibuk dengan kegiatan mereka sendiri.
Mendengarkan pertanyaannya hanya dijawab oleh keheningan membuat rasa jengkel di dada Sasuke sedikit menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya lewat mulut. Ia sebenarnya lelah dikacangi oleh kedua orang itu, tapi ia tidak bisa membiarkan dirinya lepas kendali. Bersabar adalah pilihan yang lebih baik.
Pintu lift kembali terbuka, dan Sasuke merasakan lengannya kembali di tarik keluar. Sungguh, Sasuke merasa seperti seorang tahanan yang akan dibawa ke dalam selnya. Tapi alih-alih mengenakan seragam tahanan, ia mengenakan setelan yang harganya selangit. Dan alih-alih sampai ke pintu sel, ia berhenti disebuah pintu ganda besar berwarna coklat gelap.
Mereka berhenti, dan Sasuke memasang wajah super penasaran, sungguh ingin tahu apa yang berada di balik pintu itu. Salah satu ajudan Naruto, tiba-tiba menyenggol lengannya, Sasuke menoleh untuk melihat sebuah kotak kecil tengah disodorkan padanya.
"Pakai di jari manismu." Ajudan itu memerintah.
Sasuke mengernyit padanya dengan jengkel, tidak senang diperintah dengan semena-mena, tapi pada akhirnya ia membukanya juga dan menemukan sebuah cincin perak didalamnya. Ia mengikuti perintah, mengambilnya lalu mengenakannya di jari manis. Saat ia tengah memandang cincin itu, salah satu ajudan Naruto, tiba-tiba membuka pintu. Dan sebelum Sasuke bisa menebak apa yang tengah terjadi, ia sudah didorong masuk secara tidak hormat.
Sasuke tersandung karpet saat memasuki ruangan itu. Ia hampir menubruk salah satu pria berpakaian jas hitam kelam mengkilat yang tengah menyesap minumannya, sebelum berakhir berpegangan pada salah satu pajangan tiang yang diletakkan tepat disamping pintu. Keberisikan yang dibuat Sasuke, sukses membuat pria itu berbalik dan memandangnya dengan tatapan terkejut.
"Anda baik-baik saja?" Tanya pria itu heran.
Sasuke, yang sadar dirinya sedang dalam posisi yang kelihatan bodoh –kedua tangannya berpegangan erat ke tiang sementara kakinya menekuk dengan gaya yang aneh—cepat-cepat mengangkat tubuhnya, berusaha bertopang pada kakinya, yang sayangnya masih belum siap menerima beban tubuh Sasuke, dan membuatnya lagi-lagi tersandung karena kakinya sendiri.
Tubuh Sasuke jatuh ke depan dan kali ini benar-benar menubruk pria itu. Sasuke meringis, saat dahinya menghantam dada pria itu, yang ternyata berhasil menopang keseluruhan berat tubuh Sasuke dengan tubuhnya. Sepasang tangan melingkar erat di pinggang Sasuke memeluknya erat.
Sasuke membeku ditempatnya, panas dingin. Dengan perlahan ia mengangkat kepalanya untuk melihat sepasang mata hitam kelam sedang menunduk menatap balik dirinya.
"Anda tidak apa-apa?" Senyuman geli terpasang di wajah pria itu.
Sasuke meringis, dan dengan perlahan menarik tubuhnya berdiri. Dalam hati ingin meninju ajudan Naruto yang tadi mendorongnya tanpa peringatan. Ia menundukkan wajahnya, terlalu malu untuk memandang mata pria itu. "Maafkan aku, tadi ada seseorang yang tanpa sengaja mendorong…."
"Tidak masalah." Potong pria itu kalem. "Jangan dipikirkan."
Sasuke hanya memberikan sebuah anggukan kecil ke lantai, terlalu malu untuk mengangkat wajahnya. Dengan masih menunduk ia menyeret kakinya menjauh, berharap pria itu sudah tidak menatapnya dan bahkan melupakan dirinya. Sementara ia melangkah sedikit demi sedikit ke sudut ruangan yang lain sambil menyembunyikan wajahnya, lagi-lagi ia nyaris menabrak seseorang saat mengambil langkahnya.
Kali ini seorang wanita, berambut pirang pudar dengan mata lavender terang yang cantik. Wanita itu menatap heran Sasuke yang berjalan sambil menundukkan kepala.
Sasuke berdeham pelan, pura-pura sibuk memperbaiki dasi kupu-kupunya, sebelum berjalan kembali tanpa menoleh ke arah wanita itu.
Sial! Berhenti berperilaku seperti orang tolol! Sasuke membentak dirinya sendiri setelah mangambil langkah menjauh. Otaknya jadi agak lambat setelah menandatangani kontrak gila itu.
Ia mengambil napas dalam-dalam lalu mengedarkan pandangannya ke ruangan. Tempat itu besar, penuh dengan hiasan-hiasan cantik dan makanan yang dihidangkan di meja-meja. Orang-orang berlalu lalang dengan pakaian yang kelihatannya mahal. Para pria berpakaian setelan jas formal, dan wanita mengenakan gaun-gaun berwarna-warni. Ada belasan pelayan berseragam yang membawa nampan, dan juga berdiri dibeberapa tempat. Cahaya tampak diredupkan dan perhatian semua orang terpaku pada satu tempat di atas panggung.
Sasuke mendadak sesak napas, dimana sebenarnya ia berada? Tempat ini terlihat seperti pesta para konglomerat. Konglomerat yang sesungguhnya!
Sasuke lagi-lagi mengedarkan kepalanya ke sekitar, mencari-cari ajudan Naruto yang sedari tadi terus bersamanya. Tapi setelah berkali-kali mengedarkan pandangan, Sasuke baru sadar bahwa dia sendirian, tanpa pengawal. Dia… bebas!
Tubuh Sasuke mendadak menemukan lagi kekuatannya, ini kesempatannya untuk lari. Satu-satunya kesempatannya. Ide itu muncul dikepalanya tepat ketika ia sadar tidak ada satupun orang yang memerhatikannya.
Pintu berada di ujung sana, Sasuke tidak akan keluar melewati pintu yang sama dengan pintu tempatnya masuk tadi. Tidak—jika ajudan Naruto masih berada di sana. Ia berjalan melewati kerumunan orang yang kelihatannya begitu fokus dengan kehadiran seseorang diatas panggung. Sasuke mempercepat langkahnya, ia bisa mendengar suara yang cukup familiar tengah berbicara lewat sound system. Sasuke menoleh secara otomatis ke atas panggung dan berhenti di tempat begitu sadar siapa tepatnya yang menjadi titik fokus seluruh orang di ruangan itu.
Berpidato diatas podium, tersenyum professional, dengan setelan jas hitam pekat dan dasi merah panjang. Namikaze Naruto nampak begitu tampan dan berwibawa. Mata safirnya berkilau dibawah lampu panggung, menunjukkan kejernihannya yang memikat.
Dan mata itu, menatap lurus ke arah Sasuke.
Sasuke mengerjapkan matanya, pemikirannya untuk kabur seperti lenyap seketika. Kakinya seperti di paku ke lantai dan ia merasa sesuatu yang tidak menyenangkan mengaliri tubuhnya. Tatapan Naruto begitu mengintimidasi, membuatnya tertegun dengan tubuh membeku.
"Ah ya, ada satu hal lain yang ingin ku umumkan bersamaan di hari yang spesial ini." Suara Naruto terdengar jelas dari sound system, "ini sama pentingnya dengan pelantikanku menjadi direktur utama di kantor pusat."
Senyuman Naruto mengembang, dan Sasuke merasakan mata itu menatapnya, berkilat dingin.
"Kemarilah, Sasuke. Naik kemari bersamaku."
Dalam satu kedipan mata, lampu sorot tiba-tiba menyala, langsung menerangi tempat Sasuke berdiri. Puluhan mata langsung beralih dari atas panggung ke arah Sasuke. Pandangan penasaran dan tidak mengerti. Sasuke yang masih butuh waktu untuk mencerna apa yang sedang terjadi, malah setengah menutup matanya yang silau akibat lampu sorot.
"Sasuke, kemarilah." Suara Naruto terdengar kembali. Pemuda raven itu membuka matanya dan melihat Naruto tengah menunggunya.
Seseorang di bawah alam sadar Sasuke berbisik padanya, menyuruhnya untuk lari secepatnya. Tapi kaki Sasuke terlalu kaku untuk digerakan. Dan mata safir itu seperti menguncinya. Ia memandang sekitarnya untuk melihat orang-orang tengah memerhatikan balik dirinya, beberapa diantara mereka saling berbiisik dan beberapanya lagi hanya menatap dengan wajah bingung. Tapi arti dari gerakan itu bisa dimaknakan dalam satu kalimat yang sama, siapa orang ini?
"Sasuke," Suara Naruto menggaung ditengah bisikan-bisikan para tamu.
Sasuke menoleh padanya, dan melihat mata safir itu masih menunggunya. Ia menghela napas panjang, tidak ada pilihan lain, gumamnya dalam hati. Dengan langkah perlahan, ia berjalan menuju panggung, mengikuti perintah Naruto dan mengacuhkan bisikan-bisikan di dalam dirinya.
Biarlah, gumamnya dalam hati, biarlah dia yang bertanggung jawab. Entah sudah keberapa kalinya, tapi Sasuke memang selalu menyelesaikan masalah yang disebabkan oleh Naori. Baik dipukuli, maupun diperas, semuanya sudah ia alami. Jadi kali ini, ia akan melakukan hal yang sama.
Sasuke tiba diatas panggung, dan sedang berjalan ke tengah untuk berada disisi Naruto. Dalam setiap langkahnya, Sasuke memikirkan bagaimana nasib Naori jika dialah yang benar-benar menikahi pria ini. Apa dia akan merasa senang, puas, atau bangga? Ah, jika dia merasakan itu semua, dia pasti tidak akan kabur.
Sasuke tiba disisi Naruto, ia berdiri memandanginya, menunggu pria itu melakukan sesuatu. Senyum puas terpancar dari wajah pemuda blonde itu. Ia menarik tangan Sasuke ke dalam genggamannya. Lembut dan sangat berhat-hati.
"Aku ingin memperkanalkannya kepada kalian semua." Ia berbicara ke microphone lagi, sehingga suaranya kembali menggema dan terdengar ke seluruh ruangan. "Namanya adalah Uchiha Sasuke."
Sasuke ikut memandang ke arah tamu, kali ini semuanya begitu fokus pada dirinya.
Disampingnya Naruto melanjutkan. "Aku tahu ini akan menggemparkan kalian semua, tapi cinta adalah cinta. Dan aku ingin memberitahukan, tentang berita pernikahan kami."
Keheningan yang aneh menyapa selama beberapa saat, dan Sasuke merasakan dirinya mendadak mual. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan wajah terbelalak, dan dia sungguh berhasil menciptakan ekspresi tenang diwajahnya sekarang. Walau jantungnya berpacu dengan sangat cepat. Ia tidak pernah tahu Naruto akan mengumumkannya sefrontal ini. Tapi ia sebenarnya tidak pernah tahu apa yang direncakan oleh pemuda ini.
"Kami telah menikah," Naruto menjedah kalimatnya, ia mengangkat tangan Sasuke dan menunjukkan cincin perak di jari manisnya, yang tentu saja kembar dengan cincin perak lainnya di jari manis Naruto sendiri. "Karena kami saling mencintai. Jadi aku ingin kalian menerima Sasuke, sebagai pendampingku, belahan jiwaku, dan…" Ia menoleh kepada Sasuke, tersenyum hangat. "anggap saja sebagai istriku."
Bisikan kali ini terdengar memenuhi seluruh ruangan. Sasuke tau ini akan terjadi, ini mungkin kontrofersi paling gila yang pernah ada. Pewaris Namikaze baru saja mengumumkan bahwa dirinya gay, dan telah menikah dengan seorang pria. Wartawan pasti akan melakukan apa saja untuk segera mempublikasikan berita ini.
Di atas panggung senyuman Naruto telah berubah, terganti menjadi sebuah tatapan dingin yang keji. Ia meletakkan microphonenya kembali ke tempatnya menganggap pidatonya sudah cukup. Ia lalu melangkah pergi, tentu saja sambil menarik Sasuke bersamanya, menuju ke belakang panggung, meninggalkan keributan begitu saja, dan menjauhi tatapan-tatapan tidak percaya yang terus-terusan diarahkan pada mereka.
"Kerja bagus." Naruto menghempaskan dirinya ke kursi, tersenyum senang. "Aku suka ekspresimu tadi. Sungguh meyakinkan."
Sasuke yang telah diseret sampai ke kamar hotel hanya menatapnya dengan bingung campur jengkel. "Jadi, sudah selesai?" Ia bertanya berharap Naruto mengizinkannya pergi.
"Selesai?" Satu alis Naruto terangkat.
"Ya, aku sudah melakukan apa yang kau suruh." Jelas Sasuke sambil menatap Naruto dengan wajah puas. "jadi boleh sekarang aku pergi?"
Tapi pemuda blonde itu malah tertawa, seakan Sasuke baru saja mengatakan sebuah lelucon. "Ini belum selesai, ini bahkan baru di mulai." Katanya dengan nada geli. "Setelah ini kau akan tinggal bersamaku, di rumahku, di duniaku."
Naruto menatap Sasuke yang kini memasang ekpresi shock berat.
"Kau pikir semuanya selesai setelah aku mengumumkan bahwa kita sudah menikah?" Ia bertanya dengan nada heran. "Tunggu sebentar, apa kau pikir kita hanya pura-pura menikah?"
"Bu-bukannya di kontrak, kau menyuruhku untuk berakting—"
"Berakting menyukaiku, tapi tidak benar-benar jatuh cinta padaku." Naruto melanjutkan dengan tidak sabar. "Tapi Uchiha-san, secara hukum kita memang sudah benar-benar menikah. Aku sudah mendaftarkan pernikahan kita, yang berarti secara resmi status kita sama seperti sepasang suami istri lainnya. Kau pikir aku akan menyebarkan kebohongan tentang status pernikahan kita? Dengan keluargaku sebagai taruhannya? Wartawan-wartawan yang akan ribut nantinya? Kau pasti tidak membaca kontraknya dengan teliti."
Sasuke tidak bisa berbicara, bibirnya terlalu kebas untuk digerakkan. Memang benar Sasuke tidak membaca baik-baik kontrak itu, dia sudah terlanjur gusar dan tidak bisa mencernanya dengan baik. Tapi ini salah, ini terlalu mustahil untuk dijadikan kenyataan.
"Ku pikir aku hanya berhutang padamu, tapi kenapa kau malah benar-benar menikahiku?" Sasuke tidak mengerti sama sekali tidak mengerti.
Naruto mengangkat bahu dengan enteng. "Kau berhutang padaku, jadi aku bisa melakukan apapun padamu."
Sasuke mengernyit, sama sekali tidak senang dengan nada menyebalkan Naruto. "Tapi bagaimana aku bisa berpisah denganmu nantinya, saat hutangku akhirnya sudah terbayar lunas?" Ia sesungguhnya merasa dirinya akan terikat jika Naruto benar-benar menikahinya. Apa ia akan direpotkan dengan urusan perceraian jika nantinya mereka akan berpisah. Apa Naruto tidak mempertimbangkan hal itu?
Kali ini Narutolah yang memberikan Sasuke tatapan tidak mengerti. Ia beranjak dan berdiri dihadapan Sasuke. "Bukan kau yang memutuskan kapan hutangmu akan terbayar." Katanya dengan nada tidak puas. "Akulah yang memutuskannya, maka dari itu, aku jugalah yang memutuskan kapan aku akan membuangmu. Yah kecuali kau bisa membayar lunas seluruh hutang Naori padaku, tapi itu mustahilkan."
Jari-jari Sasuke mengepal membentuk tinju, ia ingin menghajar wajah pria itu. Senyuman memuakan yang terpasang diwajahnya sekarang membuat amarah Sasuke membuncah. Membuangnya, dia bilang? Apa Sasuke semacam benda yang ketika ia telah kehilangan kegunaan, Naruto bisa membuangnya begitu saja. Jangan salah sangka, walau hidup Sasuke sulit tapi dia sangat benci ketika seseorang menginjak-injak harga dirinya. Dia lebih suka dihajar sampai sekarat daripada diinjak-injak seperti ini.
Melihat ketegangan di wajah Sasuke, Naruto menangkupkan jarinya ke dagu Sasuke, mendekatkan wajah pria itu ke wajahnya. "Mulai sekarang kau akan terus bersamaku, menyandang nama margaku, dan mendapatkan ketenaran dikalangan publik. Kau boleh menikmati itu semua, aku memberimu izin. Tapi kau harus tetap mengingat statusmu yang sebenarnya. Dan tentu saja, peringatanku padamu, jangan berharap terlalu banyak kepadaku, apalagi sampai jatuh cinta padaku."
Sasuke ingin tertawa mendengar kalimat terakhir Naruto. Lucu, sangat lucu, jika saja Naruto tahu seberapa besar kebencian Sasuke kepadanya sekarang, dia pasti akan malu sendiri dengan tingkat kepercayaan dirinya. Lagipula apa menariknya pria itu? Sasuke hanya melihatnya tidak lebih dari pemuda licik yang egois. Pemuda yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Tidak perlu kuatir Namikaze-san. Bagiku kau yang sekarang sama menjijikkannya dengan lintah darat yang ingin kuinjak." Dingin dan keras, Sasuke tidak perduli lagi dengan posisinya saat ini. Dia sudah hancur saat menerima fakta bahwa ia sudah menikah dengan pria ini. Ini jelas akan menjadi noda di masa depannya. Tidak lama wajahnya akan di muat di koran dan bermunculan di berita. Semua orang akan tahu dirinya. Ia jadi tidak punya tempat untuk lari.
Sebuah kernyitan jengkel muncul dipelipis Naruto setelah mendengar kalimat Sasuke. Mata safirnya berkilat berbahaya, dan sentuhannya di dagu Sasuke kini berubah menjadi cengkraman kasar yang menyakitkan. Tapi Sasuke juga tidak kalah sangar dari dirinya, jika pemuda itu ingin berkelahi, Sasuke dengan senang hati akan meladeninya. Kebetulan tangannya sudah sangat gatal ingin menghajar wajah menyebalkan itu.
Ketegangan itu sedikit terganggu ketika mendengar suara seorang wanita dari balik pintu bertertiak dengan nada jengkel kepada dua ajudan Naruto yang berjaga di depan pintu kamar hotel.
"Menyingkir kalian berdua!" Suara itu menggaung sampai ke dalam kamar, membuat Sasuke menoleh ke arah pintu.
"Aku harus bertemu dengan Naruto sekarang juga!"
Heran karena keributan itu, Sasuke mengalihkan perhatiannya kembali kepada Naruto, yang kini tengah memasang wajah begitu tegang. Seketika ia tertegun melihat ekspresi Naruto, sepertinya wanita di luar sana begitu penting untuknya hingga berhasil membuat Naruto terlihat tertekan seperti ini. Ia semakin yakin dengan pemikirannya tersebut karena wanita itu berhasil meyakinkan dua ajudan berotot Naruto untuk menyingkir, karena suara klik yang berasal dari pintu akhirnya terdengar.
Pintu dengan perlahan mengayun terbuka, dan Naruto bergerak dengan sangat tiba-tiba. Pemuda itu menarik tubuh Sasuke. Satu tangannya berada dipinggulnya dan satunya lagi menahan belakang kepalanya. Wajahnya di hentak mendekat, dan Sasuke terbelalak tak percaya saat tiba-tiba bibirnya bersentuhan dengan bibir Naruto dalam sebuah tubrukan yang cukup keras.
Dan kejadian itu, sungguh bertepatan dengan dibukanya pintu kamar hotel. Siapapun yang baru saja masuk, berhambur bersama mereka, pastinya melihat adegan itu –Dirinya yang sedang berciuman dengan Naruto.
"Naruto!" Sebuah sentakan terdengar.
Naruto dan Sasuke menoleh bersamaan, dan melihat seorang wanita bergaun putih panjang sedang menatap mereka dengan wajah terluka.
"Hinata?" Naruto menyebut nama wanita itu, seakan dia sama sekali tidak menyadari kedatangannya.
Sasuke menoleh secara bergantian dari wajah sang wanita ke wajah Naruto. Bingung sekaligus tidak mengerti. Tapi kontak mata kedua orang itu seperti menghempaskan Sasuke menjauh. Mereka seakan berada di dunia mereka sendiri.
Mata wanita itu sempat menatap Sasuke dengan tajam sebelum kembali beralih ke arah Naruto."Aku ingin berbicara padamu." Wanita itu berkata dengan menuntut.
Naruto menjilat bibirnya, dan Sasuke merasakan gejolak aneh ketika sadar bahwa bibir Naruto baru saja menyentuh bibirnya beberapa menit yang lalu.
"Aku…" Naruto menjedah kalimatnya, ia memberikan sebuah lirikan tak terbaca kepada Sasuke sebelum kembali menatap wanita itu. "sesungguhnya sedang sibuk."
Sasuke merasakan bulu kuduknya berdiri saat mendengar perkataan Naruto, pernyataan itu seakan-akan bahwa Naruto tidak ingin kesenangannya diganggu. Jika saja Sasuke tidak tahu bahwa Naruto sedang berakting, ia mungkin akan mengira bahwa Naruto sangat serius mengharapkan wanita itu pergi agar dia bisa kembali bermesraan dengan dirinya.
Tapi akting Naruto benar-benar berhasil menipu wanita itu, karena mata violet wanita itu tiba-tiba berkaca-kaca. "Kau!" Ia terlihat ingin meneriakkan seluruh emosinya tapi tak mampu melakukannya. Bibirnya malah berakhir gemetar dan ekspresinya menujukkan bahwa ia sangat menderita. Kelakukan Naruto seperti telah menusuknya, menyakitinya sangat dalam.
Naruto terdiam, senyumannyapun menghilang. Sepertinya reaksi terluka wanita itu telah menular kepadanya. Menghancurkan akting Naruto, dan membuatnya tak bisa berkata-kata. Saat air mata mulai merembes jatuh ke pipi gadis itu, Naruto terlihat seakan ingin berlari dan memberikan sebuah pelukan menenangkan untuknya.
Sasuke menyadari semua itu. Ia mendadak merasa sangat tidak enak. Ia merasa terlibat, merasa menjadi tembok penghalang. Ia menghela napas berat, wanita itu pasti punya hubungan khusus dengan Naruto. Dan dia pasti sangat berarti baginya. Kalau tidak, kenapa Naruto bisa memasang wajah seperti itu, seperti sedang menahan sakit.
Sasuke menggeleng, lalu berkata dengan nada pelan. "Lebih baik aku keluar." katanya seraya mengalah.
Disudut hatinya, Sasuke mengira Naruto akan mencegahnya. Jika Naruto masih fokus pada sandiwara mereka, dia seharusnya melakukan itu. Bukankah dia sendiri yang mengatakan bahwa mereka harus berakting seperti sepasang yang saling mencintai. Dia juga harus tetap mempertahankan itu dihadapan gadis ini. Tapi dia tidak melakukannya, Naruto hanya berdiri kaku memandang gadis itu dengan penuh makna. Bahkan ketika Sasuke telah meraih pegangan pintu ia tetap tidak menunjukkan gerakan apapun untuk mencegahnya.
Sasuke mendapati dirinya kembali mendesah saat menutup pintu kamar, meninggalkan kedua orang itu dalam keheningan. Ia saling tatap dengan ajudan Naruto, yang langsung mengalihkan pandangannya seakan tidak terjadi apa-apa.
Sasuke berdecak mengalihkan pandangannya memandangi atap, terdiam. Ia tidak bisa mendengar apapun dari luar sini, walau ia cukup penasaran tentang apa yang terjadi di dalam sana.
Apa Naruto telah memutuskan menyerah dengan sandiwara bodoh ini? Jika iya, maka itu adalah keberuntungan bagi Sasuke. Tapi entah kenapa Sasuke jadi merasa seperti baru saja dipermainkan. Naruto bahkan sudah menciumnya, hanya untuk ditaklukan oleh tatapan tak berdaya wanita itu.
Sasuke berdecih, Namikaze Naruto, dia ternyata hanya seorang Usuratonkachi. Gumam Sasuke dalam hati, kejengkelan tiba-tiba menguasainya.
-tbc-
FF yang terlupakan. Lagi beniat untuk menamatkan semua FF Saya. Hm hm
