Akashi Seijuurou Hidup Journal
By. Tsuki no Kurobara
Sangkalan © Fujisaki Tadatoshi
Akashi Seijuurou Hidup Journal © Tsuki no Kurobara
Chara:
1. Akashi Seijuurou
2. Prof. Akashi
3. Kuroko Tetsuya
4. Satsuki
5. Kiseki no Sedai
6. beberapa karakter dari Iroko dan
Genre: keluarga, persahabatan, sakit hati / kenyamanan.
Warn : Semua characters sekolah di TEIKOU, Akashi POV. Typo masih bertebaran.
BAGIAN 2 : Kenyataan dan Keputusan
Suatu hari saat kami berusia 9 tahun, aku dipanggil oleh kepala sekolah. Sebelumnya aku sudah tahu kalau aku akan melakukan tes IQ. Kuroko menatapku khawatir, saat itu kami baru saja naik ke kelas 4. Kuroko menggenggam bajuku erat. Hanya Kuroko lah sahabatku yang sangat dekat. Aku berusaha menenangkannya dan perlahan melepaskan pegangan tangannya.
"Tidak apa-apa, Kuroko" ujarku
"Kamu yakin, Akashi-kun?" Tanyanya ragu
"Aku yakin 1000% ga apa apa. Serahkan padaku" kataku semangat
Kuroko mengangguk, aku tersenyum lalu melepaskan pegangan tangannya. Jujur saja saat itu aku gugup. Sangat gugup. Perlahan aku berjalan menuju ruang guru. Ruangan itu sedikit membuatku gemetaran, aku tidak pernah membuat kesalahan. Selain itu aku hanya tidur di kelas sekali karena keasyikan bermain shogi dengan Satsuki-neechan semalam. Walaupun ketahuan aku juga sudah di hukum mengerjakan soal di depan kelas. Apa pak Hayama masih dendam padaku?!
Perlahan kubuka pintunya. Di dalam sana duduk guru berbagai bidang pelajaran yang sedang menungguku.
"Su... Sumimasen (permisi)" ucapku gugup
"Masuklah, Akashi-kun"
"Kamu sudah tahu kan apa yang akan kita lakukan disini?" Tanya kepala sekolah padaku. Aku mengangguk "jadi, apa bisa kita mulai sekarang?"
Aku mengenali guru yang sedang berjajar di depanku sambil membawa buku. Ya, mereka adalah guru kelas 5. Aku sudah tahu apa yang akan mereka lakukan. Melempariku soal-soal kelas 5 secara acak. Mereka sudah berniat memasukkanku ke daftar siswa Akselerasi.
Satu persatu soal acak itu dilontarkan padaku, dan anehnya aku spontan menjawabnya dengan benar. Ya, tentu saja aku membaca buku-buku pelajaran SD-SMA sejak aku terbangun dari tidur panjangku hingga aku bisa menjawab soal-soal itu.
Kini jajaran guru kelas 6 maju dan melakukan hal yang sama dengan guru-guru kelas 5 tadi. Dan lagi-lagi aku menjawabnya dengan mudah. Ini terlalu mudah untukku. Secercah rasa bangga menghinggapi dadaku dan rasanya sedikit menyenangkan melihat ekspresi shocks dari para guru. Fufufu tak ada ruginya aku mempelajari buku-buku di perpustakaan sejak kelas 2.
"Kamu sudah tidak pantas berada di SD lagi Akashi-kun. Minggu depan kemarilah lagi, aku akan mengetesmu lagi untuk pelajaran SMP" ujar kepala sekolah sambil memijit keningnya.
Aku membungkuk lalu memohon diri dari hadapan para guru yang tampaknya masih sulit untuk mengumpulkan nyawa mereka. Kalau aku akselerasi sampai SMP... Aku dan Kuroko pasti berjauhan. Tapi masih satu lingkungan sekolah sih. Ya sudahlah rasanya aku ingin memakan sesuatu. Hmm aku lapar dan bel pulang sudah berdentang 10 menit lalu.
Buru-buru aku menyambar tasku di dalam ruang kelas lalu berjalan santai keluar area sekolah. Sesekali kulirik bangunan SMP Rakuzan itu. Mungkin nanti aku akan bersekolah disana. Aku menghela nafas berat, padahal umurku masih 9 tahun. Tapi, aku harus melepas masa kanak-kanakku.
"Seijuurou-kuuuunn~" sebuah suara cempreng menyambut telingaku. Ah, aku tahu siapa orang yang memanggilku.
"Satsuki-neechan ..."
"Ayo pergi Seijuurou-kun" ujarnya ceria sambil menarik lenganku
"Pergi kemana, Satsuki-nee?" Tanyaku dengan tampang malas
"Belanja laaah~ ini kan awal bulan."
"Aku malas, neechan aja deh" tolakku
"Aaah sayang sekali~ tadinya kalau kamu mau ikut aku akan memasakkanmu sup tofu pedas. Tapi sepertinya tidak jadi"
Sup tofu?! Demi rambut palsu Hayama aku ga mau menolak yang satu ini. Dengan cepat aku berbalik dengan wajah berbinar.
"Aku mau" jawabku semangat
"Bagus! Ayo pergi" ujarnya dengan senyum kemenangan dan latar selanjutnya adalah pemandangan supermarket di Kyoto.
Aku menatap malas kearah pria berumur 23 tahun itu. Ia terus menatap 2 buah kotak sereal dan membanding-bandingkannya selama 25 menit... 25 MENIT tolong catat itu. Memangnya apa sih yang sedang dilihatnya?!
"Oi, sampai kapan kau berencana membiarkanku memegang troli seperti ini, Satsuki-nee?" Protesku kesal
"Tunggulah sebentar aku sedang membandingkan kadar gizinya" ujarnya santai tanpa menengok ke arahku.
Kedutan samar muncul di pelipis kiriku. Demi boxer lope lope milik Prof. Akashi, ingin rasanya aku menendang bokong gadis nista dihadapanku lalu menginjak-injaknya di lantai. Ok, itu fikiran nista yang tidak mungkin ku lakukan. Baru saja aku akan membuka mulut untuk melancarkan protes selanjutnya sebuah suara tembakan menginterupsiku. Tunggu, tembakan?! Tapi ini mall?!
"Semuanya jongkok! Letakan tangan kalian di atas kepala!l" perintah seseorang yang tiba-tiba saja datang dan menodongkan pistol atau senapan laras panjangnya ke arah kami.
Anda
Ini... Pembajakan? Atau pencurian?. Aku panik tidak terkecuali Satsuki-nee. Aku sedikit meliriknya, sesuai dugaanku dia menggigil ketakutan. Ku dengar beberapa orang anak-anak menangis. Ada pula mereka yang dipisahkan dari orangtua mereka. Apa-apaan ini?! Apa mereka tidak punya hati?! Dan dengan kejamnya ada beberapa dari para pembajak itu memukul seorang anak kecil yang merengek padanya. Itu membuatku geram.
Jarak dari tempatku sekarang dan meja kasir cukup dekat. Jika saja aku bisa mencapai meja kasir dan mengambil sesuatu yang disebut kabel koneksi aku mungkin bisa menghentikan tingkah para iblis yang datang tiba-tiba ini. Yang perlu kulakukan hanyalah mencapainya. Tanganku turun dan berusaha melepas sepatuku. Usahaku nyaris berhasil ketika suara baritone menginterupsi kegiatanku.
"Sedang apa kau bocah?" Bentaknya garang
Aku tersentak kaget lalu menatapnya dengan wajah puppy eyesku. Inilah kali pertamanya seorang Seijuurou Akashi harus menampilkan wajah sok imut minta di gares sama om-om shotacon aku sudah cukup bergidik dengan membayangkannya saja.
"Paman, kakiku gatal, aku ingin menggaruknya" pintaku dengan suara manja khas kekanakan walau dalam hati aku sudah bersungut-sungut tidak jelas.
"Selesaikan urusanmu bocah" ucapnya sinis.
Berani memanggilku bocah sama dengan mati. Kalau aku berhasil memanggil polisi, kaulah yang akan jadi orang pertama yang mendapat 'salam hangat' dariku kakek tua. Maki ku dalam hati.
Aku merasa sangat beruntung ketika melihat si kakek bodoh itu sedang mengalihkan pandangannya dariku. Dengan cepat dan pelan aku berlari ke meja kasir dan duduk di bawah meja kasir. Kulihat seorang wanita -yang kuyakini penjaga kasir- sedang duduk memeluk lututnya ketakutan.
"Dimana?" Tanyaku setengah berbisik padanya
"A-APA?"
"Kabel koneksinya"
"Untuk apa?!"
"Berikan saja padaku kalau kalian ingin selamat. Aku tidak punya banyak waktu" Bisikku
Ia tampak bingung namun menunjukan kabel yang tersambung dengan komputer itu padaku. Aku menariknya pelan agar tidak menimbulkan suara, dengan segera aku mengambil laptop yang kubawa di tas kecilku dan menyambungkannya. Sial proteksinya kuat sekali. Saat aku bertanya apa sandi-nya wanita kasir ini hanya menggeleng. Dengan terpaksa aku melakukan Hacking pada system informasi di gedung 7 tingkat itu.
30 menit lebih aku berkutat dengan laptop dan kode-kode yang terpajang manis di layar laptopku. Aku bersyukur Prof. Akashi sudah mengajarkanku tentang 'cara cepat melakukan hacking' aku terkekeh geli jika mengingat judul ajaran pria paruh baya yang sudah kuanggap ayah sendiri itu. Ayah... Keluarga? Fikiranku melayang tentang keluarga itu lagi.
Tlirng
Connection alart berbunyi nyaring menandakan usahaku sukses. Seringaian kecil menghiasi wajahku. Tinggal menghubungi polisi dan melumpuhkan mereka. Aku menyambungkan connection itu ke ruang monitor dan mengcopynya ke laptopku. Mereka Tetsuyatar 35 orang. Tersebar dibawah lebih banyak daripada di atas. Sepertinya kali ini aku benar-benar beruntung karena di bagian atas hanya ada 10 orang di 4 blok berbeda.
Sepertinya sisi iblis didalam diriku sudah bangkit. Segala macam fikiran nista muncul di benakku. Tanpa fikir panjang aku mengambil sebuah tongkat yang menjadi pegangan troli rusak yang di letakan di dekat mesin kasir. Aku berdiri. 15 menit waktuku bersenang senang.
"Hei kakek, mau main main denganku? Aku bosan" kataku dengan nada manja sambil menyembunyikan tongkat besi tumpul itu di dalam saku celanaku
"Apa kau bilang?! Kakek?! Kau bosan hidup ya bocah?!" Bentaknya sambil mendekat ke arahku
"Heh, kau terlalu dekat..." Sepersekian detik aku sudah menghunuskan besi itu ke perutnya. Terdengar ia melengguh kesakitan "Kakek, tenang aku tidak akan membunuhmu" bisikku lalu melempar tubuhnya ke lantai.
Bukan karena aku kejam atau tega. Tapi dia itu BERAT. Kulihat seonggok daging yang sedang pingsan itu dengan tatapan kemenangan. Kuambil senapan laras panjang di tangannya dan menimang-nimangnya dengan tatapan senang.
"Seijuurou!" Pekik Satsuki menatapku cemas
"Neechan tolong urus pengunjung disini, aku mau bersenang-senang. Penderitaan kita akan selesai dalam waktu kurang dari 15 menit lagi" ujarku sambil tersenyum -menyeringai-
Selanjutnya, dengan perlahan aku berlari ke arah lain. Blok sebelah, 3 orang. Aku mengarahkan senjataku tepat ke arah kakinya. Tidak mau mengambil resiko membunuh orang. Aku cukup senang dengan kemampuan ototku yang diatas rata-rata orang normal hingga aku bisa berlari dan melumpuhkan 3 orang yang baru saja kutembak kakinya itu berhasil kubuat pingsan.
20 menit berlalu, aku menatap onggokan demi onggokan manusia tengah terbaring tak berdaya di lantai mall yang dingin. Dari tempatku berdiri di lantai 4 aku bisa mendengar derap langkah polisi-polisi itu yang sepertinya sudah masuk kedalam area lantai 1 mall ini. Baru saja aku akan melangkahkan kaki sebuah tangan sudah mencengkram leherku.
"U-ugh..." Lengguh ku saat tangan kekar itu mengapit leherku.
"Kena kau bocah tengik. Kau fikir kau bisa mengalahkan kami dengan mudah?!"
Holy shit! Aku lupa kalau di lantai 4 ada 5 orang yang menjaga tawanan. Aku ceroboh. Sebuah colt di todongkan ke arah kepalaku. Alarm tanda bahaya sudah berdering di kepalaku, lagi-lagi saat aku berusaha memberontak sebuah suara menginterupsi kegiatanku.
"Kami dari kepolisian, letakan senjata anda dan menyerahlah!" Perintah salah seorang polisi. Aku terdiam
"Pak, hiraukan aku, tolong bantu anak-anak lain yang dipisahkan dari orang tuanya!" Pintaku
"Kamu masih dibawah umur, tugas kami melindungi-" kata-kata polisi itu terputus ketika aku dengan mudahnya menyikut perut manusia bau di belakangku dan melemparnya ke lantai. Dan perlu di catat kalau makhluk ini benar-benar berat.
"Sudah kubilang jangan perdulikan-" ucapku sambil memukul tengkuk pria di hadapanku hingga pingsan "-aku" lanjutku sambil mendengus kesal.
Masih bisa kulihat mereka tampak membatu di hadapanku. Aku menatap mereka dengan wajah polos. Karena tak kunjung sadar juga, aku menembakan sebuah peluru ke udara.
"Kalau paman melamun, mereka bisa kabur dan anak-anak akan semakin menangis ketakutan." Ujarku
Kulihat mereka terperanjat kaget. Aku sedikit menyukai ekspresi bodoh mereka "a... Ehem... Benar juga. Semuanya berpencar. Pertemukan anak-anak itu dengan orang tua mereka dan tahan para pelaku!" Perintah inspektur kepada anak buahnya
Beberapa menit kemudian, keadaan sekitarku berubah menjadi haru biru. Anak-anak menangis memeluk orang tua mereka, begitu pula orang tua mereka yang memeluk anaknya cemas. Aku termagu. Keluarga?... Apa itu?... Apa aku punya juga?... Apa aku bisa bersama mereka?... Siapa manusia yang melahirkanku ke dunia?. Tanpa terasa sebuah likuid bening meleleh ke pipiku. Hangat namun menyesakkan dada.
"Are? Nande? (*eh? Kenapa?)" Gumanku sambil mengelap kasar air mataku "kenapa aku menangis?" Lanjutku
Tiba-tiba sebuah tangan sudah menyentuh puncak kepalaku dan mengelusnya lembut.
"Nakanaide, Seijuurou-kun. Otsukare (*jangan menangis Seijuurou, kerja bagus)" ujarnya lembut. Aku mengangguk pelan masih dengan acara mengelap air mataku.
"Kenapa... Aku malah menangis?"
"Aku mengerti perasaanmu, Seijuurou."
Kulihat tatapan mata Satsuki-nee meneduh. Ia memelukku dengan sayang dan penuh dengan kehati-hatian. Aku hanya terdiam. Perasaan ini terasa begitu menyesakkan untukku. Ibu... Apa ada wanita yang bisa kupanggil ibu? Ayah... Apa ada pria yang bisa kusebut ayah?
Acara pelukan kami terganggu dengan sebuah suara baritone inspektur. Kami sama-sama menengok kearah pria bongsor itu dengan tatapan yang sendu.
"Nak, siapa namamu?" Tanya inspektur pada ku.
"Akashi Seijuurou"
"Akashi?! Kamu anak tester itu?!"
Tester? Apa lagi itu? Aku mengernyit meminta penjelasan lebih lanjut. Inspektur masih berkutat dengan fikirannya. Kutarik ujung bajunya lalu menanggah. Menatap langsung manik hitamnya.
"Kamu tidak mengerti ya? Jadi, 9 tahun lalu Prof. Akashi mendapatkan anak dengan tubuh yang sangat lemah. Lalu, ia meminta izin untuk melakukan penelitian pada anaknya sendiri. Selama 7 tahun. Tak kusangka hasilnya begini" jelasnya.
Aku tercengang suaraku tercekat. Jadi seharusnya saat ini aku sudah mati... Tapi Prof. Akashi... Ayahku?! Tanpa memperdulikan Satsuki dan Inspektur aku pergi, berlari meninggalkan mereka. Masa bodohlah dengan semua yang aku lakukan, semuanya karena hasil penelitian. Padahal aku ingin mereka bangga. Kenapa Prof. Akashi berbohong dan tidak pernah menganggapku sebagai anaknya?.
Likuid bening itu kembali menjelajahi pipiku. Aku tidak mau lagi bertemu dengan Prof. Akashi. Aku membencinya. Satsuki-nee juga aku benci mereka. Mereka menyembunyikan semuanya dariku. Aku duduk di sebuah taman bermain. Kulihat beberapa anak-anak sedang tertawa dengan riangnya, ditemani ibu-ibu mereka. Lagi, sakit mendera di dadaku. Sesak sekali. Aku tertawa pelan, aku sosok yang sempurna pintar, kuat dan memiliki penampilan baik. Ingin rasanya aku membuang 'kesempurnaan' itu dengan sebuah keluarga.
"Kakak kenapa menangis?" Tanya seorang anak kecil sambil menarik-narik tanganku.
Aku menatap wajah polos tak berdosa itu. Berusaha tersenyum pada sang malaikat kecil "kakak ga menangis sayang, kakak cuma kelilipan" jawabku
"Kata mama kalau ada olang nangic altinya dia lagi cakit, kakak yang mana yang cakit?" Ujarnya dengan nada cadel khas anak-anak. Aku terkekeh dan menyentuh puncak kepalanya dengan penuh sayang.
"Kakak ga sakit kok. Terima kasih ya adik kecil. Em siapa namamu?" Tanyaku pada bocah lelaki itu.
"Nawaki Tetcuya" jawabnya
"Nah, Tetsuya-kun main lagi gih, liat teman-temanmu sudah menunggu" kataku sambil menunjuk teman-temannya
"Kakak ga ikutan main?"
"Ngga sayang, kakak mau pulang. Jaa ne"
"Un!" Ia mengangguk lalu pergi meninggalkanku.
Surai hitam Scarletku tertiup angin musim panas saat aku tengah berjalan pulang. Memang aku tak bisa menerima kenyataan. Tapi, kalau aku nekad berlama-lama di awal bulan agustus mungkin aku akan menjelma menjadi daging panggang. Efek penelitian padaku adalah kulitku menjadi sensitive dan mudah terbakar dibawah sinar matahari.
Sesampainya di rumah, seperti biasa para pelayan Prof. Akashi menyambut kedatanganku dengan hormat. Aku membalasnya dengan senyuman tipis lalu pergi ke ruang kerja pria paruh baya itu. Selain seorang profesor ia juga menjadi seorang direktur di salah satu perusahaan besar di jepang.
"Masuklah Seijuurou"
Aku melangkahkan kakiku ke ruangan kerjanya yang luas. Aku menghela nafas pelan.
"Prof. Akashi... Aku minta izin untuk meninggalkan Kyoto" ujarku to the point. Ia tampak kaget dan langsung menatapku.
"Kamu mau pergi?! Kemana?!" Bentaknya
"Biarkan aku tinggal di Tokyo sampai aku lulus SMP"
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin pergi?"
"Karena... Aku butuh waktu untuk menyendiri. Aku mohon"
"Baiklah, kuizinkan dengan syarat"
"Syarat apa? Aku mulai tidak menyukai syarat-syarat ini" gumanku
"Kamu harus tinggal di rumah keluarga Akashi di tokyo. Bawa 4 orang pelayan bersamamu lalu kamu ikutilah les-les ini. Aku akan mendaftarkanmu di SMP Teiko" jelasnya sambil memberikanku selembar kertas.
Wajahku memucat. Daftar les mulai dari les piano, biola, les bahasa asing, les melukis... Dan lainnya. Aku lebih baik menyanggupinya.
"Baiklah. Aku sanggup." Jawabku mantap
"Bersiaplah karena aku akan langsung mengurusmu"
"Arigatou" kataku sambil berjalan keluar kamarnya. "Oyasumi, otousan" gumanku sebelum pintu besar itu menutup.
Harus contiuned ...
