Bae Bae ( 1st Sequel of Happen Ending)

.

.

.

.


"Jadi dia melamarmu?" Luhan bertanya heboh sementara Kyungsoo hanya tersenyum tipis.

"Ini." Kyungsoo lalu menunjukkan tangan kanannya, memamerkan cincin berkilat indah itu pada Luhan yang langsung membulatkan mata rusanya shock.

"Astaga!" Pekiknya keras membuat beberapa orang di kafetaria itu menyempatkan diri untuk melihat kedua gadis itu. Kyungsoo memutar bola matanya malas. Bisa tidak sih Luhan bersikap biasa? Ini masih di kampus demi Tuhan!

"I–ini, aku baru saja melihatnya di catalog dua hari yang lalu dan kau sudah memakainya? Wow. Kyung kau beruntung! Ini harganya tuju puluh juta won!" Luhan masih histeris, merutuki betapa beruntungnya Kyungsoo memiliki calon suami yang kaya raya itu.

"Benarkah? Aku bahkan tidak tahu." Kyungsoo melihat cincinnya sejenak kemudian mengangkat bahunya acuh sambil menyeruput Milkteanya.

"Kai benar–benar! Dia bahkan membelikanmu cincin ini dengan cuma–cuma,"

"Begitulah, putra bungsu Kim Junmyeon. Kau tahu sendiri kan?" Luhan mengangguk, gadis manis itu kemudian menatap Kyungsoo bahagia.

"Aku turut bahagia Kyung! Kau itu sahabatku, melihatmu bahagia adalah kebahagiaanku!" Luhan meraih tangan Kyungsoo dan menggenggamnya hangat, membuat Kyungsoo terenyuh. Gadis bermata bulat itu tersenyum dengan mata berkaca–kaca. Ah! Kenapa menjadi mellow begini? Luhan sialan!

"Nanti jika kau menikah, aku yang akan berdiri disampingmu."

"Terimakasih Lu," Jawab Kyungsoo sambil balas menggenggam tangan sahabat yang sudah hidup dengannya hampir selama lima belas tahun itu. Tanpa sadar setetes air mata jatuh dari kelopak mata Kyungsoo yang bulat.

"Sial! Kau membuatku menangis! Maskara mahalku bisa rusak tahu," Luhan tertawa, lalu dengan keras memukul bahu Kyungsoo yang memekik tidak terima lalu ganti mencubit pahanya gemas. Keduanya lalu tertawa bersama, mengabaikan tatapan setiap orang yang ada disana, mereka tak peduli, yang terpenting adalah mereka selalu berbagi kebahagiaan sebagai sahabat.

.

.

.

Kyungsoo memasuki sebuah toko mewah yang memajang berbagai macam gaun dan sepatu. Kai tadi mengirim pesan kepadanya, menyuruh Kyungsoo datang untuk memilih gaun sementara lelaki itu akan datang dua puluh menit lagi. Katanya sih nanti malam dia akan mengajak Kyungsoo keluar. Hhm, Ya mau bagaimana lagi? Kai menyuruh, jadi Kyungsoo tidak bisa menolak. Lagipula, siapa yang tidak mau jika diajak berbelanja di toko mewah ternama ini? Kyungsoo wanita dan wajar jika dia senang berada disini.

Gadis bermata bulat itu lalu melihat–lihat gaun–gaun cantik yang berjejer di lemari kaca, dengan berbagai model dan warna. Semuanya berkilau dan terlihat sangat mahal. Hhm, Kyungsoo jadi berfikir, jika dia ingin membeli semua barang yang ada disini, kira–kira Kai akan mengabulkannya tidak ya?

Tentu saja!

Kyungsoo tanpa sadar tersenyum. Astaga! Lelaki itu begitu arogan dan egois, tapi entah bagaimana dengan bodohnya Kyungsoo sangat mencintainya, bahkan berfikir tidak mau kehilangan lelaki itu. Meski beberapa orang mengatakan bahwa Kyungsoo mau menjadi pacar Kai hanya karna kekayaan lelaki itu, Kyungsoo tak mau ambil peduli. Sebenarnya dia masih mampu membeli barang–barang mewah itu sendiri karna dia juga anak dari orang berada, tapi selama ini Kailah yang selalu memaksa dan Kyungsoo hanya menurut, tak mau membuat lelaki tempramen dan tidak mau ditentang itu tersinggung. Lagipula mereka yang mengatakan Kyungsoo wanita matree adalah mereka yang iri karna tidak memiliki lelaki sesempurna seorang Kai. Benar kan?

Ekor mata Kyungsoo lalu tertuju pada salah satu gaun pendek selutut tanpa lengan berwarna peach. Potongan gaun simple dengan warna cerah yang sederhana namun jangan kaget jika melihat harganya, Kyungsoo langsung jatuh cinta dengan gaun itu, dia akan memilih gaun itu saja. Saat dia akan mengambil gaun itu, tiba–tiba sebuah tangan mendahuluinya dan merebut gaun pilihan Kyungsoo terlebih dahulu.

"Aku dulu yang melihatnya!" Ucap sipemilik tangan yang mendahului Kyungsoo itu. Kyungsoo lalu menatap gadis tersebut, seorang gadis glamour dengan penampilan sedikit…errr, norak?

"Tapi aku juga menginginkan itu." Jawab Kyungsoo pelan dibarengi senyum manis. Ayahnya selalu mengajarinya etika dan sopan santun, jadi dia tidak mau terlihat seperti gadis tidak tahu diri seperti gadis didepannya ini.

"Memang kau mampu membeli ini?" Si gadis dengan rambut berwarna hijau menyala itu bertanya dengan senyum remehnya, membuat Kyungsoo mengumpat dalam hati. Sial! Gadis itu meremehkannya? Ck!

"Kau tidak perlu tahu apakah aku mampu atau tidak, tapi aku benar–benar menyukai gaun itu." Si gadis itu mencibir, lalu seorang lelaki dengan setelan jas kantor datang mendekati si menor itu. Hm, Kyungsoo seperti pernah melihat warna serta gaya rambut si gadis. Jika tidak salah, Park Bom vokalis girlband 2NE1 itu juga pernah mewarnai rambutnya hijau terang disalah satu albumnya seperti gadis norak ini. Tapi hei, Park Bom jauh lebih pantas dan terlihat elegan dengan warna mencolok itu, sedangkan gadis ini? Cih! kyungsoo jadi dongkol sendiri, merasa muak saat si gadis norak merengek pada si lelaki yang mungkin pacarnya itu.

"Sayang, kau bisa memilih gaun yang lain. Yang lebih bagus dan mahal." Si lelaki itu menjawab dengan menekankan kalimat akhirnya dengan sengaja, ekor matanya melirik remeh Kungsoo seolah memamerkan bahwa dia punya banyak black card disakunya, membuat Kyungsoo merasa tersinggung seketika, dalam hati dia berharap bahwa Kai akan segera datang atau pasangan keparat ini akan semakin menghinanya.

"Kasihan gadis ini, sudahlah sayang kau berikan saja gaun itu padanya dan kau bisa mencari yang lebih bagus." Si lelaki kembali mengompori dan Kyungsoo sudah meledak, dia akan membuka mulut jika saja sebuah suara berat tidak terdengar.

"Tidak perlu." Lalu sebuah lengan kekar melingkari pinggang Kyungsoo, gadis bermata bulat itu mendongak, menemukan wajah kekasihnya yang tengah menatap tajam pasangan didepannya itu.

"Kita pergi saja! Aku akan membawamu langsung ke tempat pembuat gaun itu secara khusus untukmu." Lalu setelah mengucapkan kalimat hinaan balas, Kai membawa Kyungsoo yang tersenyum penuh kemenangan itu pergi.

"Pasangan itu menghinaku!" Kyungsoo merajuk dengan kedua pipi mengambung.

"Maaf terlambat! Aku berjanji bahwa tidak akan ada lagi yang berani menghina seorang Kim Kyungsoo!" Kyungsoo berdecak karna lelaki itu seenak jidat mengganti marganya, lalu dia mencubit manja perut lelaki itu sebagai ungkapan kesal.

"Kita membeli gaun ditempat lain, Oke?" Ucap Kai memberikan satu kecupan manis dipucuk kepala Kyungsoo.

"Hm. Memang kita nanti malam akan kemana?"

"Rahasia."

"Ish! Kai, katakan padaku dan jangan buat aku penasaran!" Protes Kyungsoo.

"Kau akan tahu nanti,"

"Tapi aku ingin tahu sekarang!"

"Tidak."

"Ish!"

"Aku akan menjemputmu jam tuju malam, kuharap kau sudah siap dan tidak membuatku menunggu."

.

.

.

Kyungsoo menuruni anak tangga menuju lantai dasar tepat saat jarum pendek menunjuk angka tuju sementara jarum panjang menunjuk angka dua belas, gadis itu tersenyum, pangerannya sudah menunggu disofa sana.

"Hai Kai," Kyungsoo berjalan cepat menghampiri lelaki itu, membuat heels dengan warna yang senada dengan gaunnya itu mengetuk lantai dengan keras, gadis itu berputar didepan tunangannya, memamerkan heels serta gaun yang Kai pilihkan di butik paling mahal se-antero Seoul tadi, menunggu komentar apakah dia cantik atau tidak.

"Cantik." Kai bergumam pelan, lelaki itu bangkit lalu menguluran tangannya yang langsung disambut manja oleh Kyungsoo.

Kyungsoo itu selalu sempurna! Jangankan memakai gaun mahal yang berkilau, saat telanjangpun Kyungsoo tetap sempurna. Oh..

Gadis itu memakai gaun berlengan panjang selutut berwarna merah terang, warna yang serupa dengan heels serta –Oh! Sial! Lipstick sialan itu! ingin sekali Kai mengacak–acak lipstick merah merona dibibir hati itu dengan bibirnya.

"Terimakasih," Gadis itu tersipu kecil, membuayarkan fantasi liar milik Kai. "Kau juga tampan." Lanjutnya dan respon Kai hanya seringaian kecil. Kai memang selalu tampan, apalagi saat ini. Kemeja putih serta jas hitam yang membalut tubuh atletisnya terlihat sempurna. Setelah Kyungsoo berpamitan kepada Bibi Han,kepala pelayan dirumah ini –karna orang tua Kyungsoo sedang berada di Belanda– keduanya segera memasuki sebuah Aston Martin berwarna hitam yang telah siap dihalaman rumah. Kyungsoo duduk manis didalam mobil, membiarkan sang pangeran membawanya pergi entah kemana.

Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh menit, akhirnya mereka sampai. Kai memakirkan mobilnya tepat disebuah halaman restoran mewah. Ah, apakah Kai berniat mengajaknya makan malam romantis?

"Mari tuan putri." Kai membukakan pintu untuk gadisnya, mengulurkan tangannya untuk digandeng kemudian membawa pujaan hatinya itu masuk kedalam. Mereka menaiki lift menuju bagian teratas gedung besar tersebut, dan sampailah mereka di sebuah pintu kayu coklat. Kai berhenti, menatap gadisnya.

"Tutup matamu sayang,"

"Apa?"

"Tutup matamu." Kyungsoo mengedip mencerna ucapan kekasihnya. Menutup mata? Memang ada apa? Apa Kai akan memberikan kejutan padanya?

"Sayang,"

"Baiklah," Kyungsoo mengalah, lalu gadis itu menutup kelopak indah bak mawarnya tersebut –memejamkan mata sesuai perintah Kai. Lalu sebuah tangan meraih pingangnya, membimbingnya untuk memasuki pintu tersebut dan masuk semakin dalam.

"Kai, kita sudah sampai?"

"Sebentar sayang." Kai membawanya beberapa langkah dan Kyungsoo bisa merasakan bahwa angin malam kali ini menerpa tubuhnya cukup kuat. Tungguuu, apa Kai membawanya kepembatas balkon dan berniat mengajaknya bunuh diri?

"Kai–"

"Sampai, buka matamu." Langkahnya terhenti dan sontak Kyungsoo membuka kelopak matanya perlahan, mengedip–ngedip mencoba fokus pada pengelihatannya. Dan setelah beberapa kedipan, retinanya mampu menangkap pemandangan didepannya dengan sepenuhnya. Sebuah balkon terbuka dengan meja, kursi dan lilin–lilin dan.. tunggu, siapa orang yang duduk disana itu?

"Mom? Dad?" Kyungsoo membulatkan matanya saat seorang wanita dengan gaun manis berwarna coklat terang disisi pria setengah baya dengan pakaian formalnya itu melambai dengan cantik kearahnya. Gadis bermata bulat itu terdiam sejenak sebelum akhirnya berlari cepat menuju kearah meja.

"Mom! Dad! I miss you," Kyungsoo langsung berhambur memeluk wanita ber gaun coklat tersebut disusul tepukan sayang dari Ayahnya.

"Bukankah kalian masih di Belanda? Kenapa tidak memberi tahuku jika akan pulang?" Kyungsoo berucap protes, setelah puas mencium sang Ibu, kini dia beralih memeluk sang Ayah. "Oh..Dad, aku merindukanmu."

"Aku juga sayang, kami sengaja tidak memberitahukan kepulangan kami sebagai kejutan." Kyungsoo hanya merengut sebagai bentuk protes, namun seketika dia sadar bahwa masih ada orang lain selain Ayah dan Ibunya disini, didepan orang tuanya itu sosok 'calon mertua'nya itu duduk dengan anggunnya.

"Oh, Paman..Bibi, apa kabar?" Kyungsoo membungkuk kecil lalu berlaih memeluk pelan Nyonya Kim, Ibu Kai. Gadis itu tersipu pelan saat Ibu Kai memujinya cantik.

"Duduklah sayang," Kyungsoo mengangguk mengiyakan, dia lalu duduk disisi ibunya tepat didepan Kai yang juga berada disisi Ibunya.

"Jadi.. ini kejutannya?" Kyungsoo bertanya pelan pada Kai yang hanya mengangguk. Ah, orang tuanya adalah kejutan dari Kai yang paling menyenangkan. Tak lama beberapa pelayan datang, membawa nampan berisi penuh makanan. Jadilah dua pasang keluarga itu menikmati makan malam mereka bersama. Sekedar informasi saja, jika Ayah Kyungsoo dan Kai adalah teman dekat.

"Jadi, bisa jelaskan kenapa anakmu memaksaku untuk pulang?" Jongdae melap bibirnya dengan ujung kain putih disisi meja, lelaki paruh baya itu lalu menatap Kai yang hanya berwajah datar. Ck! Padahal orang tuanya sangat ramah, kenapa putranya sangat berbanding terbalik begini?

"Katakan Kai," Ucap Junmyeon kepada anak bungsunya itu. Kai berdehem sejenak, bersiap memberikan alasan kenapa dia mati–matian meminta orang tua Kyungsoo yang sedang berlibur di negeri penjajah itu untuk datang. Lelaki itu lalu menatap Kyungsoo yang mendadak berdebar, menanti sesuatu yang akan terjadi selanjutnya.

"Aku sudah melamar Kyungsoo, jadi aku ingin meminta ijin pada paman dan bibi untuk menikahi Kyungsoo." Ucap Kai tegas sambil menggengga erat tangan gadisnya, pandangannya kini dia bawa kearah Ayah Kyungsoo yang nampak tidak suka.

"Junmyeon! Sekali–kali ajari anakmu ini sopan santun, berani sekali dia melamar putriku tanpa sepengetahuan ataupun izinku." Junmyeon tertawa keras atas ucapan pedas teman lamanya itu. "Meski kuakui jika dia benar–benar keras kepala dalam urusan cinta. Sama seperti Ayahnya," Lanjut Jongdae.

"Jadi bagaimana? Apa kau sudi menerima anakku sebagai menantumu?" Junmyeon bertanya, ini urusan kepala keluarga, sementara para Ibu hanya menggeleng–geleng.

"Keputusannya ada ditangan Kyungsoo sendiri, apa Kyungsoo mau menerima Kai sebagai suaminya kelak?" Minseok, Ibu Kyungsoo akhirnya angkat bicara.

"Memang apa yang kau punya sampai–sampi berani melamar putriku bocah?" Sahut Jongdae judes.

"Apapun yang Kyungsoo mau maka akan aku penuhi." Sahut Kai tegas.

"Bagaimana bisa? Kau itu masih kuliah dan uangpun pemberian orang tuamu kan?"

"Aku akan mulai bekerja dan menghasilkan uang sendiri besok."

Jongdae menyipitkan matanya. Ck! Calon menantunya ini, benar–benar… lelaki paruh baya itu akhirnya menghela nafas, memilih meraih gelas anggur merahnya.

"Bagaimana Kyungsoo? Kau mau menjadi menantuku?" Kini Nyonya Kim bertanya dengan senyum manis, membuat kedua dimplenya terlihat jelas. Kyungsoo tersenyum, tanpa ragu lalu mengangguk.

"Mom..Dad, apa kalian setuju jika aku menerima Kai?" Kyungsoo kini menatap ibunya. Minseok tersenyum, mengecup kening putri satu–satunya dalam.

"Sayang, kau sudah besar. Kau sudah bisa menentukan pilihanmu sendiri. Mom dan Dad akan mendukung apapun keputusanmu, iya kan Dad?" Dia lalu mengalihkan pandangannya kearah sang suami yang hanya bergumam. Meskipun ayah Kyungsoo terlihat ragu, namun Minseok tahu jika Jongdae tidak akan keberatan jika Kyungsoo harus menikah dengan Kai. Dia sudah lama berteman dengan Junmyeon dan tahu segala seluk beluk keluarganya dan sebaliknya.

"Baiklah, jika sudah setuju, kita harus mencari tanggal pernikahan yang tepat." Ucap Junmyeon.

"Kenapa terburu sekali? Apa tidak menunggu mereka lulus kuliah saja?"

"Karna aku tidak yakin apakah Kyungsoo kebablasan atau tidak,"

Byuur!

Anggur dimulut Jongdae sontak muncrat keluar, untung saja itu tidak mengenai wajah Junmyeon yang ada didepannya. Dia tidak bodoh dengan tidak memahami apa arti kata rekannya itu. Lelaki yang biasanya selalu terlihat wibawa itu kini nampak shock. Matanya mendelik, dia lalu menatap Kai dengan tatapan membunuh.

"Kau," Tudingnya sementara Kai masih memasang wajah tak gentar. "Katakan apakah anakku masih perawan atau tidak!" Cercanya. Kai terdiam sejenak sebelum membuka mulut.

"Sayangnya tidak paman."

"APA?" Itu pekikan keras Jongdae, lelaki itu bahkan sampai bangkit berdiri dengan tatapan siap menelan calon menantu kurang ajarnya itu sementara Minseok hanya menghela nafas. Kyungsoo menunduk merasa bersalah pada ayahnya. Merasa bahwa gadisnya takut, Kai semakin mempererat genggamannya pada tangan Kyungsoo seolah mengatakan bahwa semua akan baik–baik saja.

"Aku akan bertanggung jawab!"

"Bukan masalah bertanggung jawab atau tidak. Hanya saja kau itu.. Argh! Kenapa aku bisa punya menantu sebrengsek dirimu hah? Putriku sudah tidak perawan karnamu." Jongdae lalu mendudukkan dirinya kembali diiringi helaan nafas kasar, disampingnya Minseok mengusap bahunya sambil mengatakan 'tidak apa–apa sayang'.

"Kau mengatakan anakku brengsek! Padahal kau dulunya jauh lebih brengsek Jongdae. Bahkan kau menghamili Minseok sebelum kalian menikah."

"Sial! Jangan buka kartu Junmyeon." Ucap Jongdae mendelik pada Junmyeon yang asik menyesap anggurnya. Lalu ada tawa renyah dari dua pasangan suami istri yang kembali mengenang masa muda mereka dulu, membuat sepasang lagi hanya diam mendengarkan.

"Oke. Sudah kuputuskan, kalian akan menikah bulan depan." Putus Jongdae akhirnya.

.

.

.

"Kau akan menikah dengan Kai?" Jiu memekik, gadis itu lalu langsung menjabat tangan Kyungsoo heboh, ditangannya telah terselip sebuah undangan berwarna emas yang elegan dan terkesan mewah. Tentu saja, itu undangan pernikahan Pangeran Kim dan Putri Do.

"Terimakasih, jangan lupa datang ya. Oh, titipkan juga undangan ini pada Dami dan Siyeon." Kyungsoo lalu memberikan beberapa lembar undangannya pada Jiu untuk dititipkan pada yang lainnya.

"Tentu." Jawab Jiu semangat. "Wah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana pernikahanmu, undangannya saa sudah mewah. Hahaha!" Setelah terbahak, gadis berambut merah itupun akhirnya berlalu pergi meninggalkan Kyungsoo yang hanya tersenyum tipis. Dia mengecek arlojinya, kenapa Luhan belum datang juga? Padahalkan anak rusa itu sudah berjanji akan membantunya menyebar undangan pada teman–teman kampus. Kyungsoo lalu memutuskan untuk bersandar dipillar lorong sembari menunggu sahabatnya itu, lalu sebuah suara ketukan antara lantai lorong dan heels terdengar, Kyungsoo menolehkan kepalanya kearah sumber suara dan menemukan seseorang disana.

Irene!

Si gadis pirang yang terobsesi pada calon suaminya. Kyungsoo tersenyum tipis, dia lalu menyapa Irene yang berdiri didepannya dan memberikan undangan pernikahannya pada gadis itu.

"Datang kepernikahanku ya." Irene menatap kartu undangan mewah ditangannya sejenak sebelum mendongak menatap Kyungsoo dengan raut..kesal? Gadis dengan celana pendek serta blouse yang ditutupi cardigan selutut berwarna ungu itu lalu meremas undangan ditangannya sebelum membuangnya kebawah dan meletakkan ujung heelsnya diatas kertas undangan tersebut. Kyungsoo yang melihat itu hanya tersenyum tipis.

"Acaranya pukul delapan pagi, jangan sampai terlambat."

"Tutup mulutmu pelacur! Kau menikahi Kai karna harta lelaki itu kan?" Tuduh Irene berapi–api, Kyungsoo menghela nafas sambil mengorek telinganya sendiri. Dia lalu menatap gadis yang tengah kebakara jenggot didepannya ini dengan santai.

"Ya, bukankah harta itu penting?" Jawab Kyungsoo dan diameter mata Irene nampak melebar.

"Bahkan aku meminta Jet Pribadi sebagai mas kawinku,"

"Sialan!" Maki Irene dan Kyungsoo mati–matian menahan tawanya. Astaga! Kenapa didunia ini masih ada manusia macam Irene?

"Kau memang tak pantas untukunya!" Irene yang dibakar rasa cemburu itupun hendak melayangkan tamparan jika saja seseorang tak menahan tangannya. Keduanya menoleh dan menemukan Luhan sudah berdiri disana dengan senyum manis.

"Hello Bitches," Ucapnya sinis lalu menghempaskan tangan Irene kasar. Dia lalu berbalik menatap sahabatnya sendiri.

"Pangeranmu sudah menunggu, ayo kita pergi." Lalu dia mengedip dan menarik Kyungsoo pergi dari sana, meninggalkan Irene yang memekik sebal menyumpah–nyumpahi agar pernikahan Kyungsoo batal. Haha!

"Bitch!" Umpat Kyungsoo akhirnya.

.

.

.

D-Day! Akhirnya hari pernikahan yang ditunggu itupun tiba.

Kyungsoo nampak resah diruang make up tempatnya berdandan, gadis itu sudah selesai berbenah dan wah..

"Oh, kau sangat cantik Soo." Puji Luhan sambil menggeleng. Tubuh Kyungsoo yang mungil dibalut sebuah gaun mewah berwarna putih bersih dengan berbagai mutiara dan batu mulia yang tersebar hampir diseluruh permukaan kain halus tersebut, ujungnya yang panjang menjuntai membuat Kyungsoo benar–benar terlihat seperti seorang Putri, riasannya terlihat natural namun tak meninggalkan kesan elegan. Membuat siapapun yang melihat akan berdecak kagum. Astaga! Kolongmerat itu benar–benar tidak mau main–main. Bahkan perias yang mendandani Kyungsoo adalah perias paling professional yang didatangkan langsung dari Paris.

"Aku takut," Kyungsoo berucap resah, meremas kedua tangannya sendiri gugup. Luhan yang terbalut gaun pendek tanpa lengan itu tertawa, dia lalu meremas tangan sahabatnya lembut.

"Kau bisa kok," Ucapnya tersenyum meyakinkan. "Tenangkan dirimu. Tarik nafas dan hembuskan," Kyungsoo menuruti apa kata sahabatnya, menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Hal kecil itu sepertinya cukup menghilangkan sebagian kecil dari kegugupan Kyungsoo.

Pintu ruangan itu lalu terbuka dan sosok Do Jongdae bersama sang Istri Do Minseok mendekati putri mereka.

"Kau cantik sekali sayang," Minseok langsung memeluk putrinya. "Kau benar–benar anak Mom." Minseok terkekeh. Ah, melihat Kyungsoo yang terbalut baju pernikahan, seperti melihat bayang–bayang masa lalunya, dia seperti melihat dirinya sendiri saat ini yang akan ke altar untuk menemui Jongdae.

"Mom, aku gugup." Ujar Kyungsoo. Minseok menggelang, wanita paruh baya dengan gaun yang berwarna sama dengan milik Luhan itu sedikit memperbaiki kain yang terpasang cantik dikepala putrinya.

"Mom dulu juga sepertimu sayang, tapi jangan khawatir. Bukankah ada Dad, hm?" Minseok mengusap pipi anaknya lembut, menyambut tangan kanan Kyungsoo dan menyerahkannya pada tangan suaminya.

"Ayo pergi, suamimu sudah menunggu." Jongdae menyambut uluran tangan putrinya, meremas jemari mungil itu dengan senyum hangat.

"Kau cantik," Pujinya.

"Thank's Dad," Mereka akan pergi menuju tempat upacara pernikahan, namun Kyungsoo menyempatkan diri berhenti sejenak, dia menatap Luhan.

"Apa dia tidak datang?"

"Dia? Jika yang kau maksud adalah Ratu Cabe itu, aku yakin dia pasti akan terlambat seperti kebiasaannya." Luhan memutar bola matanya malas sementara orang tua Kyungsoo hanya tertawa, Jongdae segera membawa putrinya menuju altar. Meremas kuat tangan putrinya saat dirasa Kyungsoo bergetar pelan saat kaki mereka menginjak sebuah karpet merah panjang yang dipenuhi kelopak mawar.

"Kau siap?"

"Um," Kyungsoo merespon pertanyaan Ayahnya dengan gumaman. Pintu ganda itu terbuka dan semua tamu seketika sudah berdiri bersiap menyambut pengantin wanita. Dua perempuan kecil dengan gaun putih yang imut berdiri didepannya, memegang sebuket bunga yang cantik. Kyungsoo menghela nafas, kaki kecilnya mulai melangkah melewati karpet merah panjang tersebut, menapak satu persatu menuju ketengah panggung dimana Pangerannya sudah menunggu dengan seorang pendeta disebelahnya.

Kyungsoo tak pernah berfikir akan berjalan sejauh ini, dari semalam gadis itu terus befikir apakah ini nyata ataukah hanya mimpi, dan ternyata ini semua nyata. Kai berdiri dengan gagah disana, dengan setelan jas yang membalut tubuhnya dengan pas. Membuatnya luar biasa tampan, bahkan mungkin Arion akan menangis karna itu.

Mereka sampai, Jongdae lalu menyerahkan tangan putrinya kearah Kai sambil bergumam mengancam.

"Jika aku melihat putriku menangis, bersiap–siaplah untuk mati Kim Kai." Kai tersenyum tipis, dengan tegas diapun menjawab ancaman Ayah Kyungsoo.

"Bunuh aku jika aku berani melakukannya."

"Bagus." Jongdae menepuk keras bahu calon menantunya itu sebelum akhirnya turun panggung dan berdiri disisi Minseok yang sudah menangis, lelaki itu langsung memeluk pinggang istrinya mesra.

"Mereka bahagia," Bisiknya pelan. Disebelahnya Kim Junmyeon da istrinya, Yixing Kim juga tersenyum, menyaksikan anak terakhir mereka yang akhirnya menikah, menyusul seperti kakak–kakak perempuannya.

"Myeon, anak kita semuanya sudah berkeluarga ya." Yixing tanpa sadar mengusap air matanya haru.

"Ya, anak–anak kita sudah bukan lagi anak kecil, mereka sudah punya keluarga sendiri."

.

.

.

"Dengan ini, saya menyatakan bahwa saudara Kim Kai dan Do Kyungsoo sudah sah menjadi sepasang suami istri. Dipersilahkan untuk suami mencium istrinya."

Sang pendeta menutup bukunya lalu melantuntan doa–doa'nya untuk memberkati pasangan suami istri baru tersebut, dengan ini semua sudah selesai. Do Kyungsoo sudah sah menjadi Nyonya Kim Kyungsoo. Kai menghadap kearah Kyungsoo, dengan perlahan dia lalu membuka kain yang menutupi wajah istrinya dan menemukan air mata bahagia dikedua matanya. Dengan lembut Kai mengusap air mata itu sebelum mendekat dan merusak paksa lipstick berwarna pink yang mempercantik bibir Kyungsoo itu.

Prok!

Prok!

Prok!

Hadirin yang hadir di gereja tersebut bertepuk tangan heboh saat pasangan suami istri diatas panggung itu berciuman dengan sedikit..err, panas?

"Selamat Kyungsoo," Luhan berbisik lirih sambil mengusap air matanya haru. Ah, dia suatu saat nanti pasti akan menyusul Kyungsoo. Berbeda dengan Luhan yang menangis haru, sosok Chanyeol yang berada tak jauh dari sana hanya tersenyum tipis. Lelaki jangkung yang datang atas undangan langsung dari Kyungsoo itu hanya menghela nafas, gadis yang dia sukai telah menikah dengan orang lain.

Hah!

Tak mau lebih sakit, lelaki jangkung itupun segera bangkit dan beranjak dari sana.

.

.

.

Kyungsoo berdiri diatas panggung bersama Kai disisinya. Gadis itu memegang sebuket bunga mawar yang bersiap akan dia lemparkan sebentar lagi. Sudah banyak teman–temannya yang menunggu moment ini, Kyungsoo menatap Kai dan suaminya itu hanya mengangguk, segera gadis itu berbalik dan melempar buket bunga itu kebelakang dengan keras.

Siapa orang beruntung yang sebentar lagi akan menyusul seperti Kai dan Kyungsoo?

"YA! AKU DAPAT!" Luhan berteriak heboh saat dia berhasil menangkap buket bunga itu dengan kedua tangan mungilnya, namun tanpa disangka–sangka, ada tangan lain yang juga menggenggam erat buket bunga itu terlebih dahulu.

"Maaf, tapi aku memegangnya terlebih dahulu sebelum dirimu." Luhan menurunkan tangannya demi menemukan seorang lelaki tinggi dengan kulit putihnya itu tengah menatapnya dengan ekspresi dingin. Gadis manis itu mengedip pelan.

Jadi, dia dan lelaki ini yang menangkap buket bunga ini bersamaan?

"Aku Sehun, sepupu Kai yang tinggal di Los Angels."

.

.

.

"Kembaliannya ambil saja paman!" Gadis mungil dengan rambut pirang itu mengabaikan teriakan terimakasih si supir taxi. Dengan terburu dia kemudian berlari sambil membuka mantel tebalnya memasuki gereja.

Sial!

Penerbangannya dari Jerman kemarin sempat tertunda karna adanya masalah teknisi dan itu berakibat fatal karna itu mungkin bisa membuatnya terlambat untuk menghadiri upacara pernikahan sahabat baiknya. Ah, mungkin dia sudah terlambat? YA! Makadari itulah dia berangkat dari Jerman langsung menggunakan gaun yang hanya ditutupi sebuah mantel berwarna pink muda yang panjangnya selutut, mewanti–wanti agar dia nanti tidak terlambat.

"YA! SIAL!" Gadis itu lalu berhenti mendadak, membuka brutal tasnya dan mencari sepasang heels, dengan kalap dia membuka sepatu ketsnya dan bersusah payah memakai heels berwarna putih tersebut. Karna sibuk dengan sepatunya, gadis itu sampai tak sadar bahwa dia tengah menabrak seseorang yang baru saja keluar dari gereja saat ini.

Bruk!

"Maafkan aku!" Baekhyun yang merasa menabrak sesuatu yang cukup keras langsung mendongak berniat meminta maaf, namun maniknya sempat terpaku dalam beberapa detik.

Oh.. Lelaki ini sangat tampan.

"Kau teman Kyungsoo?" Lelaki itu bertanya dengan suara beratnya, membuat si gadis pirang langsung tersadar.

"Aku sahabatnya yang baru pulang dari Jerman."

"Begitu ya? Sayang sekali pernikahannya sudah selesai."

"APA?" Si gadis memekik heboh lalu langsung mengambil langkah seribu memasuki gereja, namun sebelum itu dia berhenti dan berbalik menatap lelaki jangkung yang ternyata juga tengah menatapnya.

"Ohya, namaku Byun Baekhyun." Dia berteriak kemudian berhambur memasuki gereja. Lelaki jangkung itu hanya tersenyum tipis, kemudian membawa kedua tangannya memasuki saku celana.

Dia… Park Chanyeol yang sedang patah hati.

.

.

.

"Kita akan kemana?"

Kyungsoo bertanya saat suami tampannya itu membawanya kesebuah lapangan luas dekat gereja tersebut. Acara telah berakhir dan ini saatnya bagi keduanya menghabiskan waktu bersama. Ehem, anggap saja seperti malam pertama, Uhuk!

"Kita akan bulan madu, tentu saja sayang."

"APA?" Kyungsoo membulatkan matanya. Bulan madu? Tunggu, masih dengan gaun panjang ini? Dia juga belum menyiapkan segalanya.

"Semua sudah disiapkan, tenang saja sayang." Kai yang mengerti raut khawatir diwajah Kyungsoo menyeringai kecil, dia lalu mengecup sensual bibir gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu. Tak lama kemudian, sebuah helicopter datang dan mendarat tepat didekat pasangan suami istri itu.

"Tunggu, Kai jangan bilang–"

"Yap! Kita akan bulan madu di Pulau Jeju sayang, saat ini juga. Ayo naik!"


.

.

.

.

.

FIN!

.

.

.

.

.

Ini inspirasi dari lagunya Big Bang yang Bae Bae! Selain itu ada juga lagunya mbak CL yang 'Hello Bitches' lagu itu berperan besar dalam penulisan fanfict sequel ini ^^

Special buat yang request ^.^

Semoga tidak mengecewakan! Dan Jangan lupa tinggalkan jejak ^^

.

Terimakasih buat review dichap sebelumnya ^^

Big Love to;

Ncjdbcd, geash, rly, sekyungbin13, DioRah, NopwillineKaiSoo, Misslah, BlackXX, rismaayu741, maximum, kamsab, Guest, ia, EPanda, aaa, kaiaooexo, Bubbleniiowl, sehunsdeer, vionaaaH, beng beng max, kyung1225, Skymoebius, ruixi1, HeeKyuMin91, OneKim, kenlee1412 & Lady Azhura.

Saranghae ^^