NARUTO FANFICTION

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Warning : Typo and OOC

Pairing: NaruHina

goGatsu no kaze present

I PROMISE YOU


(Lanjutan bagian akhir chapter sebelumnya...)

2 tahun yang lalu...

"Hinata! Kalau kau dengar jawab aku! Hinata!" dengan mengemudikan perahu Naruto terus berteriak memanggil-manggil istrinya. Cuaca lebih buruk dari yang tadi. Sekarang hujan disertai dengan petir dan angin. Sungai pun jadi tak bersahabat, alirannya makin deras saja.

Naruto yang tak memperdulikan lagi dengan keadaan disekitarnya yang membahayakan masih tetap mencari Hinata. Sekecil apapun kemungkinan menemukan yang ia dapat, akan ia raih sekuat tenaga. Sebesar apapun resikonya, akan ia hadapi dengan berani. Semuanya demi istrinya, demi Hinata. Naruto terus berteriak dan berteriak hingga suaranya serak bahkan nyaris hilang. Ia tak peduli, sungguh tak peduli. Asalkan Hinata bisa kembali ke sisinya.

"Hinata! Jangan seperti ini, cepat jawab aku! Hinata!" air mata mengalir di pipinya. Hujan telah menyamarkan semua itu. Sungguh ia tak kuasa jikalau Hinata benar-benar menghilang dari hidupnya. Ia tak tahu harus bagaimana jika tak bisa melihat Hinata lagi.

Aliran sungai yang sangat deras menyeret perahu yang dinaiki Naruto terus menuju hilir. Ia terlalu fokus pada pinggiran sungai yang ia lewati hingga ia tak sadar bahwa di depannya telah menghadang batu besar yang sanggup meluluhlantakkan perahunya. Ketika ia tersadar, semuanya terlambat. Batu itu sudah terlanjur dekat dengan posisinya. Perahu itu akhirnya menabrak batu dan membuat Naruto terpental ke sungai.

Sungai yang begitu deras serta kondisi Naruto yang lemah lahir dan batin membuatnya sulit untuk menyelamatkan dirinya. Padahal kalau dirinya sedang dalam kondisi prima, mungkin ia bisa menggapai sesuatu yang ada di sekitarnya. Pikirannya lalu dirasuki hal-hal yang gila. Ia berpikir mungkin dengan cara ini ia bisa bertemu dengan Hinata. Naruto lalu tak berusaha untuk menyelamatkan dirinya. Tubuhnya makin terseret arus. Ia membiarkannya. Ia semakin terseret dan makin terseret hingga tak sadarkan diri.


-I PROMISE YOU-


Ketika Naruto membuka matanya, ia berada di pinggir Sungai Taiyo. Seluruh tubuhnya terasa sakit, mungkin berkat hantaman batu-batu dan kayu yang ada di sungai. Ia lalu merenung dan menjambak rambutnya kesal. Ia menangis dan berteriak seperti orang gila. 'Kenapa aku tak mati saja?!', batinnya. Pria itu sangat menyesal karena tak bisa menjaga Hinata. Kalau saja ketika Hinata telepon ia langsung menyusulnya, mungkin kejadiannya tak akan seperti ini. Kalau saja.

"Naruto," terdengar suara memanggil namanya. Suara itu berasal dari dalam hutan dekat dengan Sungai Taiyo. Taiyo-gawa memang sungai yang melintasi hutan, "Naruto. Anata," suara itu kembali terdengar.

Naruto mengenali suara itu. Itu suara Hinata. Ia langsung saja menghampiri asal suara. Ia berlari sekuat tenaga untuk mendekat pada si pemilik suara. Langkahnya memelan ketika ia melihat sesosok wanita di hadapannya. Wanita itu istrinya, Hinata. Hinata tersenyum padanya. Wanita itu memakai long dress putih selutut hadiah yang Naruto berikan pada ulang tahun pernikahan mereka yang pertama tahun lalu.

"Hinata," lirih Naruto. Ia mendekati Hinata, ingin memeluknya. Hinata tersenyum mendengar panggilan Naruto, "Yokatta. Kau baik-baik saja. Aku sangat takut kehilanganmu," Naruto memeluk istrinya erat. Menenggelamkan kepalanya ke bahu Hinata. Tubuhnya yang beraroma lavender membuat Naruto merasa damai.

Hinata tersenyum dan melepas pelukannya. Ia lalu meraih tangan Naruto dan mengajaknya untuk menjelajahi hutan tersebut. Naruto menyetujuinya. Pria itu tersenyum dan membalas genggaman tangan istrinya. Hutan itu sangat indah. Pohon-pohon yang ada tak begitu banyak sehingga sinar matahari bisa masuk sampai ke permukaan tanah. Kondisi yang setelah hujan membuat pohon-pohon itu sedikit basah.

"Aku takut sekali. Aku kira tak bisa bertemu denganmu lagi. Aku sangat takut," Naruto mempererat genggaman tangannya yang mulai gemetar. Ia menundukkan kepalanya. Kalau saja ia tak malu dengan Hinata, saat ini juga ia akan menangis.

Hinata memandang Naruto dan tersenyum. Wanita itu lalu melepaskan genggaman tangannya. Ia berdiri menghadap Naruto dan menyentuh wajah pria itu dengan kedua tangannya. Dengan singkat ia cium bibir suami tercintanya itu. Perbuatan Hinata sukses membuat pipi Naruto merona. Hinata kembali tersenyum, namun air mata telah menumpuk di pelupuk matanya.

"Naruto, pulanglah," perkataan Hinata membuat Naruto bingung. Istrinya memintanya untuk pulang, namun pulang kemana? Bukankah rumahnya juga rumah Hinata?

"Apa maksudmu?" tanya pria bermata sapphire itu.

"Pulanglah. Tempatmu bukan disini, anata. Pulanglah," dengan mengeluarkan air mata, Hinata kembali memintanya pulang. Wanita itu lalu melangkah pergi menjauh dari Naruto. Naruto mengejarnya, namun entah mengapa langkah Hinata lebih cepat darinya.

"Hinata, jangan tinggalkan aku! Hinata!" pria itu terus berlari dan berlari. Namun sosok istrinya makin menghilang dari hadapannya. Semakin ia berlari mengikuti sosok Hinata, semakin hilanglah sosok itu hingga tak terlihat lagi.


-I PROMISE YOU-


Naruto dengan lemah membuka kedua matanya. Ia sangat mengenal bau yang menyengat ini. Itu bau obat. Penglihatannya masih samar-samar dan kepalanya terasa sakit. Tak hanya kepalanya, tubuhnya juga sulit digerakkan. Lalu sayup-sayup terdengar suara orang di dekatnya.

"Pasien sudah bangun. Cepat panggilkan Senju-san!" suara seorang pria terlihat panik.

Perlahan penglihatan Naruto mulai membaik. Ia melihat warna putih di sekelilingnya. Banyak selang menempel ditubuhnya. Ia menekan pelipisnya yang sakit. Ketika ia melihat pergelangan tangannya, sudah terpasang jarum infus disana. Ia memperhatikan keadaan sekelilingnya. Tempat itu jelas-jelas bukan rumahnya, dan ranjang yang sekarang ia tempati juga bukan ranjangnya.

Seseorang dengan berpakaian jas panjang putih lalu mendekatinya, "Jangan panik. Kau berada di rumah sakit sekarang," Naruto menatap orang itu. Ia melihat name tag yang bertuliskan Senju Tsunade.

Tsunade lalu mengambil senter kecilnya untuk memeriksa mata Naruto. Naruto benar-benar bingung. Ia tak tahu mengapa ia bisa berada dirumah sakit. Ia lalu bertanya pada Tsunade, "Kenapa aku berada disini? Bukankah aku berada di hutan tadi?"

Tsunade tak menjawab. Ia hanya memeriksa alat pendeteksi detak jantung dan kantong infus yang digunakan Naruto, "Kalau kau terasa pusing atau mual segera hubungi perawat," wanita itu lalu bergegas meninggalkan Naruto. Namun pria itu tak terima, pertanyaannya belum dijawab.

"Hey, kau belum menjawab pertanyaanku! Kenapa aku berada disini?"

"Ketika kau dibawa kesini kau sedang dalam keadaan tak sadarkan diri. Jelas saja kau tak tahu," jawab Tsunade.

"Sudah berapa lama aku disini? Dimana istriku?"

"Dua minggu. Pasien yang dibawa oleh polisi hanya dirimu. Ah iya, kau koma dan baru hari ini sadarkan diri. Ajaib sekali, selain koma kau tak mendapatkan luka berat. Hanya goresan tak berarti yang terdapat dikepalamu itu," Tsunade lalu pergi dan meninggalkan kamar Naruto.

Naruto menyentuh kepalanya, tangannya merasakan kalau perban membalut kepalanya saat ini, "Tidak mungkin. Hinata... Hinata...," lirihnya. Air mata telah membanjiri pipi tan-nya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Pria itu lalu mencabut paksa jarum infus yang bersarang di pergelangan tangannya. Dengan kepala yang masih dibalut perban ia berlari keluar kamar. Ia ingin kembali ke Taiyo-gawa untuk mencari Hinata. Namun ketika sampai di loby rumah sakit, kepalanya semakin berat. Tubuhnya pun tak bisa menyangganya lagi, sehingga ia terjatuh tak sadarkan diri.

Ketika ia kembali terbangun untuk yang kedua kalinya, disampingnya telah ada seseorang. Orang itu berambut coklat panjang diikat dan memiliki mata lavender khas keluarga Hyuuga. Ya, ia adalah Hyuuga Neji, kakak Hinata.

"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah baikan?" Neji hanya sendiri, tak ditemani keluarga Hinata yang lain.

Naruto mengangguk lalu berusaha untuk duduk. Kondisinya yang masih lemah membuat Neji membantunya, "Arigato," ucap pria blonde itu.

"Jangan mencari Hinata lagi. Dia sudah tenang disana. Kalau melihatmu seperti ini, adikku pasti akan sedih," Neji menatap Naruto dengan tatapan sendu.

"Bicara apa kau? Kau bicara seolah-olah Hinata telah meninggal. Jangan bercanda, Neji," Naruto tertawa miris. Neji jadi tak tega melihatnya. Pria Hyuuga itu juga sangat terpukul dengan kematian adiknya. Tapi ia tahu, yang paling terpukul disini adalah pria blonde yang ada di hadapannya kini.

"Naruto, kau harus merelakannya. Cobalah kau pikir, kalau Hinata masih hidup ia pasti akan disini bersama kita. Sudah dua minggu. Namun tak ada tanda-tanda bahwa ia masih hidup. Sadarlah, Naruto!"

"Cukup! Jangan bicara lagi. Aku yakin kalau Hinata masih hidup. Dia sendirian disungai yang dingin itu, Neji. Dia pasti sedang menungguku. Hinata tak mungkin, tak mungkin..." Naruto masih mengelak perkataan Neji.

"Kau harus terima kenyataan, Naruto. Hinata telah tiada. Jangan membuatnya makin sedih karena melihatmu yang seperti ini," Neji lalu bangkit dari tempat duduknya, "Kau harus kuat. Demi Hinata. Aku pergi dulu. Semoga cepat sembuh," pria itu lalu meninggalkan Naruto.

Namun, sebelum Neji keluar dari kamar pria bermata sapphire itu, Naruto berkata, "Kalau kau tak meyakini bahwa Hinata masih hidup, biarlah aku yang meyakininya. Suatu saat nanti Hinata pasti akan kembali padaku."

Neji menghentikan langkahnya sejenak dan menghela nafas singkat. Ia tak menoleh dan langsung melanjutkan langkahnya lagi. Disisi lain, Naruto masih teguh dengan pendiriannya. Sampai ia tak menemukan jasad Hinata, ia tak akan menganggap Hinata mati. Ia terus menunggu dan menunggu hingga tak terasa sudah dua tahun terlewati.

FLASHBACK OFF


-I PROMISE YOU-


Hinata membuka matanya. Ia lalu melihat jendela rumah, langitnya sudah berubah kejinggaan. Itu tandanya sudah sore. Di tangannya masih ada klipingan yang tadi ia baca. Ia kembali menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tapi berkat klipingan itu, ia jadi ingat sesuatu, sesuatu yang makin membuat hatinya sakit.

(in Hinata's dream...)

Ketika wanita itu tak sadarkan diri, ia bagaikan berada di tempat lain. Hinata bagaikan pergi ke dua tahun yang lalu, ketika tragedi itu merenggut kebahagiannya. Ia berada di pinggir sebuah sungai. Ia ingat kalau di sungai itulah ia berdoa memohon sesuatu. Tapi seingatnya sungai itu tak sesepi sekarang. Ia lalu berjalan ke hulu sungai, berharap menemukan orang disana. Benar saja, diarah hulu sungai telah banyak orang. Namun sangat aneh.

Disana terlalu banyak orang. Lain dari biasanya. Dan Hinata juga melihat banyak wartawan. Wanita itu lalu menghampiri kerumunan tersebut. Mencoba bertanya sesuatu, "A-ano, summimasen. Ada apa ya?" ia bertanya pada seseorang yang ada disana. Namun orang tersebut sepertinya tak mendengarnya.

"A-ano, su-" Hinata mencoba memegang orang itu, namun tangannya menembus tubuh orang itu. Tubuh wanita indigo itu jadi gemetar. Ia kembali menyentuh tubuh orang itu, namun hasilnya tetap sama. Mata lavender-nya mengeluarkan air mata. Ia sangat takut. Ia makin bertambah takut ketika orang melewati tubuhnya begitu saja. Semua orang disana tak melihatnya bahkan tak bisa merasakan kehadirannya.

Hinata berlari meninggalkan kerumunan orang tersebut. Berusaha untuk pulang kerumahnya, rumahnya dan Naruto tentu saja. Namun ketika ia sampai kerumahnya, tak ada orang disana. Ia ingat kalau orang bisa menembus tubuhnya, lalu ia mencoba untuk menembus pintu. Dan itu berhasil.

Ia lalu masuk kerumahnya. Ia menatap foto pernikahannya dengan Naruto. Wanita itu kembali menangis, "Apa aku telah mati? Naruto, bagaimana ini? Aku takut sekali," ia menangis sejadi-jadinya. Ia benar-benar takut sekarang.

Tiba-tiba saja seseorang yang dikelilingi sinar yang amat terang mendekatinya. Ia sangat terkejut. Wanita itu berpikir pasti ia yang akan membawanya ke alam yang lain. Hinata sungguh tak mau. Masih ada hal yang harus ia katakan pada Naruto sebelum ia benar-benar pergi dari dunia ini. Orang itu makin mendekat kearahnya. Ketika beberapa senti lagi, ia berhenti.

"Apa kau yang akan membawaku dari dunia ini?" tanya Hinata.

"Ya, ada yang menunggumu disana," jawab orang itu.

"Bisakah kau berikan aku waktu sebentar saja? Ada yang harus kukatakan pada suamiku. Berikan aku waktu sebentar saja. Kumohon," Hinata terisak. Ia benar-benar belum rela meninggalkan dunia ini. Masih banyak yang harus ia lakukan. Masih banyak yang ingin ia katakan pada Naruto, orang yang paling ia cintai.

"Baiklah, kuberikan kau waktu satu hari untuk bertemu dengan suamimu. Setelah itu kau harus ikut denganku," kata orang itu.

"Arigatou, hontou ni arigatou," Hinata senang. Ia diperbolehkan untuk menemui Naruto walaupun hanya satu hari. Ia tak akan pernah menyesal meskipun hanya bertemu dalam waktu singkat. Setelah mengucapkan itu, Hinata bagaikan diserang oleh cahaya putih yang begitu menyilaukan.

(Hinata's dream, end...)

Dan disinilah Hinata. Walaupun dua tahun telah berlalu, tapi Hinata berhasil bertemu dengan Naruto. Ya, walau dengan ingatan yang terhapus pada awalnya. Wanita itu lalu melihat jam yang menggantung di dinding. Waktu telah menunjukkan pukul 17.23 tapi Naruto belum juga pulang. Ia lalu menelepon nomor yang Naruto letakkan disamping telepon.

Hinata memencet tombol yang ada di telepon tersebut. Ia menunggu sampai Naruto menjawab panggilannya, "Ah, moshi-moshi. Naruto, kau masih dikantor?"

"Tidak, aku sedang dalam perjalanan pulang. Daijobu?" Naruto sebenarnya cukup kaget ketika Hinata memanggilnya tanpa akhiran '-san'. Sama seperti dua tahun yang lalu. Namun ia tak terlalu memikirkannya.

"Iie, kalau begitu hati-hati dijalan. Akan kumasakkan makanan yang enak untukmu."

"Wah, arigatou. Aku tutup ya teleponnya," terdengar suara koneksi terputus dari gagang telepon. Hinata meletakkan gagang itu kembali dan bergegas pergi ke dapur untuk memasak.

Ingatannya kini telah kembali. Ia tahu makanan kesukaan Naruto, ramen. Ia lalu melihat bahan-bahan yang ada di lemari es dan memasaknya. Untung saja Naruto suka membeli mi instan, jadi ia tak perlu repot keluar rumah. Ia memasak dengan tersenyum dan membayangkan reaksi yang Naruto berikan ketika ia tahu menu makan malamnya kali ini.

Beberapa saat setelah masakan selesai dibuat, Naruto tiba dirumah. Hinata menyambutnya dengan senyuman. Tentu saja itu membuat Naruto amat bahagia. Sudah dua tahun ini ia tak merasakan ingin pulang cepat kerumah. Biasanya ia selalu pulang hingga larut. Dan ketika sampai rumahpun tak ada yang menyambutnya.

"Kau masak apa?" tanyanya sambil mengendus bau yang berasal dari dapur.

"Mandilah dulu, baru makan. Aku akan menunggumu," Hinata dengan lembut mendorong Naruto ke kamarnya.

"Wakatta, wakatta. Pasti kau tak tahan dengan bauku ini, ya?" Naruto tersenyum jahil lalu masuk kedalam kamarnya untuk mandi.

Sesaat kemudian Naruto selesai mandi. Ia mengenakan celana tidur panjang berwarna coklat dan t-shirt biru. Rambutnya masih basah karena keramas. Handuk kecil masih menggantung di lehernya. Ia lalu menghampiri Hinata yang duduk menunggunya di meja makan.

"Keringkan dulu rambutmu. Nanti bisa kena flu," omel Hinata.

Naruto mengeluarkan cengirannya dan mengambil tempat duduk di samping Hinata, "Wah, ramen! Yatta!" ekspresinya yang bagai anak kecil membuat Hinata tersenyum.

"Cepat dimakan. Nanti dingin," Hinata lalu memberikan sumpit pada Naruto. Pria itu menyumpit mi tersebut dan menyuapkannya ke mulutnya.

"Oishi!" pria bermata sapphire itu kembali menyuapkan mi ke dalam mulutnya. Ia tak sadar bahwa Hinata menatapnya dengan tatapan sendu.

'Gomennasai, Naruto,' batin Hinata.


-I PROMISE YOU-


Setelah mereka selesai makan. Mereka lalu berbincang-bincang sebentar setelah itu pergi tidur. Ketika Naruto sedang ada di alam mimpi, ia mendengar suara ponselnya. Ia sebenarnya malas mengangkat ponsel itu, namun suaranya yang tak henti-henti hingga setengah jam membuatnya kesal dan terbangun. Matanya lalu melirik jam di atas mejanya. Jarumnya menunjukkan pukul 23.01. 'Siapa yang menelepon malam-malam begini? Mengganggu tidurku saja!' batinnya.

Pria itu lalu mengangkat ponselnya dengan malas, "Moshi-moshi, siapa ini?"

"Naruto, temui aku di Taiyo-gawa sekarang juga," kata orang diseberang telepon sana.

Naruto terkejut, ia lalu melihat layar ponselnya. Nama Hinata tertera disana, "Hi-Hinata, bagaimana bisa? Ponselmu 'kan-"

"Temui aku sekarang juga," sambar Hinata sebelum Naruto menyelesaikan kalimatnya. Setelah itu ia menutup teleponnya.

"Hinata! Hinata! Moshi-moshi, Hinata!" Naruto kembali mencoba menelpon nomor Hinata, namun ponselnya tak diaktifkan. Ia lalu pergi ke lantai atas, ke kamar Hinata. Benar saja, wanita itu tak ada di ranjangnya. Namun sebelum Naruto meninggalkan kamar itu, sebuah benda membuat Naruto terkejut.

Klipingan berita Hinata yang ia susun ada di atas ranjang tempat Hinata tidur. Tangannya gemetar ketika mengambil klipingan itu. Ia kembali mengingat kejadian beberapa saat lalu. Hinata nampak seperti sebelum ingatannya menghilang. Ia tahu makanan kesukaan pria blonde itu. Bahkan ketika berbicara dengannya, wanita itu tak tergagap sama sekali. Ditambah lagi, tadi Hinata menelepon dengan ponsel miliknya. Naruto tak menyadari perubahan itu karena terlalu senangnya. Apakah sekarang ingatan Hinata kembali?

Naruto lalu mengambil mantelnya. Ia menyetop taksi dan menuju Taiyo-gawa. Supir taksi tampak bingung dengan tujuan Naruto. Karena jarang sekali ada yang ke Taiyo-gawa ketika larut malam. Sungai itu memang terkenal sangat angker saat malam hari. Taksipun berhenti di tempat tujuan. Dari tempat Naruto turun, ia masih harus berjalan ke dalam hingga beberapa meter lagi.

"Hinata! Kau dimana?!" teriaknya, namun tak ada jawaban, "Hinata!" masih tak ada jawaban.

Tiba-tiba ia merasakan seseorang menggenggam tangannya. Ia menoleh ke sisi kirinya, ternyata yang menggenggam tangannya adalah Hinata. Jantungnya nyaris saja copot untuk yang kedua kalinya hari ini. Namun setelah melihat Hinata yang terseyum padanya, ia kembali lega. Wanita itu memakai long dress yang sama, long dress hadiah dari Naruto. Namun pria itu tak memperhatikannya.

"Kita jalan-jalan sebentar," ajak Hinata. Ia lalu menarik Naruto untuk menyusuri pinggiran Taiyo-gawa, "Apa kau terkejut?"

Naruto mengangguk, "Tentu saja. Kau membuat jantungku hampir copot. Jangan lakukan hal seperti itu lagi."

Hinata tersenyum. Mereka berdua menikmati suasana di pinggiran Taiyo-gawa. Di seberang sungai terlihat kunang-kunang dengan cahayanya yang cantik. Mereka berhenti sebentar untuk memandangi kunang-kunang itu, "Apa yang kau lakukan selama dua tahun ini?" tanya Hinata tiba-tiba.

"Tidak banyak. Hanya bekerja seperti biasanya. Dan ketika libur aku-" Naruto menghentikan perkatannya, ia menyadari sesuatu,"Ingatanmu kembali?"

Hinata mengangguk. Naruto tersenyum dan memeluknya. Ia bahagia, ingatan Hinata telah pulih. Entah apa sebabnya hingga ingatannya kembali. Ia tak peduli. Asalkan Hinata mengingatnya kembali, semuanya pasti akan kembali seperti semula. Itu yang ia pikir.

"Naruto," Hinata melepaskan pelukannya, "Apakah kau percaya kalau setiap manusia memiliki jodohnya masing-masing?"

"Ya, tentu."

"Aku bahagia saat bersamamu. Hidupku sempurna karenamu. Dan karena itu aku percaya kalau kaulah jodohku."

Naruto tersenyum, "Ya, bukankah pernikahan kita telah menjadi bukti kalau kita ini memang berjodoh?"

Hinata menatap sapphire Naruto, ia mengangguk dan tersenyum, "Tapi apakah kau juga percaya kalau jodoh manusia itu juga memiliki akhir?"

"Apa maksudmu?"

Hinata menyentuh wajah Naruto. Membelai pipinya dengan lembut. Dengan mengeluarkan air mata wanita itu menatap mata Naruto lekat-lekat. Naruto menikmati setiap sentuhan Hinata di wajahnya. Sentuhan yang tak pernah ia rasakan lagi selama dua tahun. Wanita itu juga membelai surai blonde milik suaminya tersebut.

"Naruto, aku mencintaimu," ia tersenyum ditengah tangisnya. Tangannya lalu menarik kepala Naruto. Bibirnya ia dekatkan ke bibir pria yang paling ia cintai itu. Mereka berciuman.

Naruto mencium bibir Hinata lembut, bagakan benda rapuh yang rentan rusak. Ciuman itu tak penuh nafsu, hanya kasih sayang dan kerinduan yang terasa disana. Namun ciuman itu tak bertahan lama. Naruto merasakan ada yang aneh pada diri Hinata. Pria itu melihat dengan matanya sendiri bahwa tubuh istrinya berubah transparan.

"Hinata, kau kenapa? Mengapa aku tak bisa menyentuhmu?" ia sangat terkejut. Tangannya tak bisa menyentuh Hinata. Kakinya menjadi lemas sampai ia jatuh terduduk.

"Naruto, dengarkan aku," Hinata mencoba menjelaskan semuanya pada Naruto, "Setelah bertemu denganmu aku sangat bahagia. Terlalu bahagianya hingga aku tak tahu harus berkata apa. Menikah denganmu merupakan impianku yang menjadi nyata. Bisa melihatmu disampingku ketika terbangun dipagi hari adalah anugrah tersendiri buatku. Kehadiranmu bagaikan keajaiban yang menuntunku keluar dari lubang hitam. Aku sangat mencintaimu, sangat...," ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya untuk menahan suara isakannya.

Mata sapphire Naruto juga mengeluarkan air mata. Ia juga sangat mencintai Hinata. Ia mencintai Hinata bagaikan orang gila, "Hinata," lirihnya.

Hinata kembali meneruskan kalimatnya, "Selama hampir dua tahun kita menikah, tak pernah aku merasakan kesedihan dalam hidupku. Arigatou. Tapi, setiap kebahagiaan pasti akan ada akhirnya bukan?"

Naruto menggeleng. Ia benar-benar tak mau Hinata berkata apapun lagi, "Tidak. Itu tidak benar," gumamnya.

Tubuh Hinata tiba-tiba kembali seperti semula, tidak transparan lagi. Wanita itu langsung saja menyentuh wajah Naruto. Membuat wajah itu menghadapnya. Membuat mata sapphire itu menatap lavender-nya, "Gomennasai, kembalinya aku padamu hanya akan menambah luka. Tapi, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu, anata," Hinata mencoba menahan tangisnya. Naruto lalu memeluknya dan menangis. Tubuhnya gemetar, Hinata bisa merasakan itu.

"Aku tak mau. Jangan katakan apapun," kata Naruto.

"Ini takdir kita, Naruto. Semakin kau bersedih, semakin tak rela aku disana nanti."

"Kau mau kemana? Bawalah aku bersamamu," ucap Naruto di sela-sela tangisannya.

"Aku tak bisa. Gomennasai," Hinata melepaskan pelukan Naruto. Namun Naruto tak mau, ia makin mempererat pelukannya, "Anata, kau masih ingat perkataanku dua tahun yang lalu di telepon? Aku bilang padamu kalau ada yang ingin kubawakan padamu. Sesuatu yang kubawakan itu adalah sebuah berita. Berita yang akan membuatmu bahagia. Namun karena aku ceroboh, aku terseret arus dan menjadi seperti ini."

"Jangan katakan apapun lagi, kumohon," pinta Naruto.

Hinata tak menuruti permintaan itu, ia melanjutkan perkataannya, "Naruto, aku hamil. Aku mengandung anakmu. Apa kau senang? Aku kembali padamu hanya untuk mengatakan hal ini. Sebenarnya tak hanya itu saja. Walaupun hanya sehari, aku ingin bersamamu lagi,"

Naruto semakin terisak. Tubuhnya makin bergetar dalam pelukannya. Ia tak mengeluarkan sepatah katapun. Pria itu hanya memeluk istrinya, selagi bisa. Hinata terseyum, ia juga menangis. Mereka menangis sambil berpelukan.

"Gomennasai, anata. Aku membawa anak kita bersamaku," tubuh Hinata kembali transparan. Dengan wajah yang penuh air mata, Naruto menatap Hinata, "Ikutilah cahaya kunang-kunang, maka kau akan menemukan jasadku," lanjutnya.

"Hinata, kau tak boleh pergi," pria itu menggeleng lemah. Ia tak rela kalau Hinata menghilang dari hadapannya. Dari kehidupannya, selamanya.

"Aku selalu mencintaimu, Naruto," perlahan wujud Hinata semakin menghilang dan menjadi titik-titik cahaya yang melayang ke angkasa. Dan beberapa saat kemudian cahaya tersebut benar-benar menghilang.

Naruto hanya melihat kepergian Hinata dengan tatapan kosong. Ia kembali menangis ketika tersadar kalau Hinata benar-benar telah tiada. Kepulangan Hinata yang hanya sehari memang memberikan luka, namun ia juga merasa bahagia. Setidaknya ia bisa bertemu dengan Hinata lagi. Lalu, ia ingat pesan istrinya itu sebelum menghilang. Dengan hati-hati ia lalu menyebrangi Sungai Taiyo dengan cahaya seadanya. Ya, ia hanya bisa memanfaatkan cahaya dari ponselnya.

Setelah sampai di seberang sungai, seekor kunang-kunang menghampirinya seolah ingin menunjukkan sesuatu. Ia lalu mengikuti arah terbang kunang-kunang tersebut. Ia terus mengikutinya hingga menuju sebuah pohon besar yang tak jauh dari pinggir sungai. Kunang-kunang itu lalu berputar-putar disekitar pohon tersebut. Lalu entah darimana segerombolan kunang-kunang tiba-tiba bermunculan di sekitar pohon tersebut.

Dilihat dari bentuknya, pohon itu adalah pohon sakura. Ia sejenak terpana dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Cahaya kunang-kunang itu begitu cantik. Gerombolan kunang-kunang tersebut lalu menyatu dan menuju satu titik di sebelah kanan pohon. Naruto mengikutinya, namun tiba-tiba semuanya bagaikan berputar. Pandangannya gelap, ia terjatuh tak sadarkan diri.

"Hinata," lirihnya.


-I PROMISE YOU-


Kepala Naruto terasa sakit. Ia membuka matanya lalu memijat pelipisnya. Ia terkejut karena sekarang ia berada di kamarnya. Naruto melihat jendela kamarnya yang terbuka, sudah pagi rupanya. Pria itu lalu beranjak dari ranjangnya dan keluar kamar.

"Kau sudah bangun rupanya?" terdengar suara yang membuat Naruto cukup terkejut.

"Teme?"

"Kau ditemukan pingsan dihutan," suara seorang wanita lagi-lagi mengejutkan Naruto.

"Sakura?"

"Jasadnya telah ditemukan. Sekarang keluarganya sedang mempersiapkan acara pemakamannya. Apa kau mau ikut?" ucap Sasuke.

Naruto tahu apa maksud perkataan Sasuke. Jasad tersebut adalah jasad Hinata. Pasti mereka telah menemukannya di sekitar pohon sakura tempatnya jatuh pingsan tadi malam. Apa yang Hinata katakan benar.

"Tentu saja dia harus ikut. Hinata 'kan istrinya. Lagipula kau juga harus melihat jasad Hinata dengan matamu sendiri. Kau pasti terkejut," jelas Sakura.

Naruto lalu kembali masuk ke kamarnya. Ia mandi dan mengganti baju tidurnya dengan kemeja dan celana bahan berwarna hitam, "Ayo berangkat. Aku tak sabar bertemu Hinata lagi," ia tersenyum, namun senyuman penuh luka.

"Lagi?" kata Sasuke dan Sakura bersamaan. Mereka saling menatap penuh kebingungan.

Mereka ke pemakaman dengan menaiki mobil Sasuke. Perjalanan ditempuh hanya dalam waktu setengah jam. Kebetulan sekali jalanan tidak macet. Yang menyetir adalah Sasuke. Sebenarnya Naruto telah menawarkan diri, namun mengingat kondisinya yang kurang sehat mereka memutuskan bahwa Sasuke yang membawanya. Alasan lainnya adalah mereka berdua masih sayang dengan nyawa mereka.

"Kenapa aku ada dirumah? Seingatku tak ada yang tahu kalau aku di hutan malam itu," kata Naruto di sela-sela perjalanan mereka.

"Kau ingat tidak hari ini hari apa?" tanya Sakura.

"Hari Kamis, kenapa?" jawab Naruto.

"Dasar baka, hari kematian istrimu saja tidak ingat," omel Sasuke.

Naruto lalu membuka ponselnya, mengecek tanggal yang ada disana, "Ah, iya. Aku lupa," gumamnya.

"Kami kerumahmu karena ingin mengenang hari kematian Hinata. Ketika sampai disana, rumahmu kosong dalam keadaan tidak terkunci. Aku menghubungi ponselmu, tapi tak kau angkat. Lalu aku menggunakan GPS untuk mencarimu. Ternyata kau ada di hutan dekat Taiyo-gawa. Kami berdua cemas karena tahu Taiyo-gawa adalah tempat Hinata meninggal. Kami takut kau berbuat hal yang tidak-tidak," jelas Sakura, "Lalu aku menghubungi polisi untuk mencarimu. Kau ditemukan pingsan tak jauh dari pinggir sungai, dibawah pohon sakura. Lalu beberapa meter dari tempatmu pingsan, jasad Hinata ditemukan," lanjutnya.

"Sudah sampai," perkataan Sasuke membuat Naruto tersadar dari lamunannya. Mereka berdua turun dan langsung masuk ke areal pemakaman.

Disana telah ada ayah, kakak, dan adik Hinata. Orang-orang yang datang hanya sedikit. Yang datang hanyalah keluarga dan teman terdekat saja. Ayah Hinata, Hyuuga Hiashi, memang sengaja tak memberitahukan rekan-rekan kerjanya agar pemakaman lebih terasa sakral.

Naruto lalu mendekati peti mati tempat Hinata tertidur untuk selamanya. Ia juga penasaran dengan yang dikatakan Sakura. Wanita itu bilang kalau ia akan terkjut ketika melihat jasad Hinata. Mamangnya wujud apa yang bisa dilihat pada jasad yang telah hilang selama dua tahun? Naruto berpikir pasti wujudnya hanyalah tulang belulang saja. Mungkin wujud itulah yang menurut Sakura akan membuatnya terkejut.

Namun semua itu salah. Ketika ia melihat jasad Hinata, tubuhnya bergetar. Bukan karena takut, melainkan menahan tangis. Tubuh Hinata masih utuh bagaikan meninggal beberapa saat yang lalu. Ia bagaikan putri tidur, wajahnya sangat tenang dan damai. Ini sangat aneh, mengingat Hinata meninggal dua tahun yang lalu. Seharusnya ia ditemukan dalam wujud tulang belulang, seperti anggapan Naruto sebelumnya. Orang-orang yang melihatnyapun juga memiliki reaksi yang sama ketika melihat Hinata.

"Hinata," Naruto jatuh berlutut di depan peti mati Hinata. Tubuhnya bergetar, ia terisak. Orang yang melihatnya jadi merasa iba. Ia menangis, dalam diam.

'Jangan menangis, anata,' suara Hinata terdengar ditelinganya. Ia tersenyum di tengah tangisnya.

Ia kembali berdiri, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata. Ia membisikkan sesuatu, "Aku selalu mencintaimu, Hinata," ia lalu melangkah mundur menjauhi peti mati Hinata yang akan dikuburkan. Tak ada lagi air mata di wajahnya karena ia tahu Hinata akan sedih kalau ia juga bersedih.

Dari kejauhan Naruto melihat seseorang berdiri dibawah pohon, tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Pria itu lalu tersenyum padanya. Ya, itu adalah Hinata. Hinata yang bahagia karena melihat senyuman Naruto. Lalu, sesaat kemudian ia pergi menghilang terbawa angin yang berhembus pagi itu.


-I PROMISE YOU-


Sore itu Naruto sedang mengamati anak-anak yang bermain bola dengan riangnya. Hari ini tepat tiga bulan setelah dimakamkannya Hinata. Hatinya masih sakit, namun ia harus merelakan kepergian Hinata. Ia memejamkan matanya seolah-olah merasakan hawa keberadaan Hinata disekitarnya. Pikirannya jauh melayang ke enam tahun yang lalu ketika ia bertemu Hinata untuk yang pertama kalinya.

FLASHBACK ON

6 tahun yang lalu...

Naruto dan teman-temannya merayakan kelulusannya dari Senior High dengan bermain bola. Tak tanggung-tanggung, mereka menyewa satu stadion hanya untuk bermain selama dua jam dengan pemain berjumlah sepuluh orang. Berterimakasihlah pada keluarga Sai yang merupakan penyumbang dana pengembangan stadion dengan nominal terbesar. Jadi ketika mereka menyewa stadion tersebut, mereka diberikan potongan harga yang cukup besar.

"Phuah, asyik sekali! Lain kali kita harus main disini lagi," ucap Inuzuka Kiba. Salah satu teman Naruto.

"Mendokusai, lebih baik tidur saja dirumah," sanggah pria berambut nanas, Nara Shikamaru.

"Kalau ingin merayakan perpisahan, bukankah lebih baik pergi makan?" pria bertubuh tambun disamping Kiba bercuap sambil mengelus perut buncitnya.

"Chouji, kalau kau mau pergi makan seharusnya perbaiki caramu janken. Kalau tadi kau tidak kalah, pasti kita sudah di restauran saat ini," jelas pria berkaca mata, Aburame Shino.

"Uwoh, bukankah lebih baik kalau berolahraga saja? Selain tubuh menjadi sehat, hati juga menjadi senang. Selain itu, bermain sepak bola juga bisa meningkatkan semangat masa muda kita. Benar tidak, Gaara?" Lee mengeluarkan cengirannya dan mengacungkan ibu jarinya ke arah Gaara. Pria yang dimaksud Lee, tak memberi respon. Ia hanya melihat pria beralis tebal itu tanpa ekspresi.

Perayaan perpisahan kali ini memang ditentukan dengan cara janken. Yang menjadi perwakilannya adalah Kiba, Chouji, Lee, dan Naruto. Kalau Kiba yang menang, ia ingin merayakannya di kebun binatang. Jika Chouji yang menang, pasti saat ini mereka telah kekenyangan di restauran daging bakar. Lain halnya dengan Naruto, ia ingin merayakannya di taman bermain. Namun, karena mereka payah dalam ber-janken, Lee keluar sebagai pemenang. Lee yang memang gemar berolahraga langsung memilih sepak bola untuk merayakan perpisahan mereka.

Sasuke hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika melihat kelakuan teman-temannya. Ia dan Gaara memang setipe. Pria pendiam yang jika mengeluarkan kata-kata pasti sangatlah tajam. Pria raven itu lalu kembali fokus pada ponselnya. Memencet-mencet tombol yang ada disana.

"Setelah ini, kita mau kemana? Apa hanya disini saja lalu langsung pulang?" tanya Kankuro yang duduk disamping Gaara.

"Bagaimana kalau karaoke? Sudah lama kita tidak karaoke," tawar Naruto. Teman-temannya yang lain lalu menatapnya dengan tatapan tak setuju. Walaupun tak diucapkan Naruto sudah mengerti, "Aku 'kan hanya memberi usul," ia lalu memajukan sedikit bibirnya.

"Kita kerumahku saja," ucap Sai tiba-tiba, "Tadi sebelum aku meninggalkan rumah, kaa-san 'ku bilang kalau akan menyiapkan makan siang untuk kalian semua. Bagaimana?"

Semuanya mengangguk. Yang paling antusias disini adalah Chouji. Pria itu memang paling semangat jika mendengar kata makanan. Apalagi makanan tersebut gratis. Lain dengan Sasuke. Pria itu hanya menatap temannya tanpa berkata sepatah katapun. Memang sangat irit bicara rupanya.

Mereka semua akhirnya bersiap-siap untuk pergi meninggalkan stadion. Mereka kerumah Sai dengan menggunakan bis umum. Orang tua mereka memang tak memperbolehkan mereka untuk memiliki kendaraan pribadi, setidaknya untuk saat ini. Ketika sampai di halte bis, mata Naruto menangkap sesosok gadis yang nampaknya sedang kebingungan. Dengan membawa kopernya, gadis itu nampak mencari-cari sebuah tempat pada peta yang ada tak jauh dari tempat Naruto berdiri.

Pria blonde itu lalu menoleh ke teman-temannya. Semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Karena merasa tak ada yang memperhatikannya, Naruto diam-diam meninggalkan gerombolan temannya dan pergi menghampiri gadis tersebut. Teman-temannya baru sadar ketika Naruto tak ditemukan di dalam bis.

Naruto menghampiri gadis tersebut. Ia memperhatikannya. Gadis itu sangat cantik walaupun dengan muka yang kebingungan. Ia memakai t-shirt kuning yang dipadukan dengan jaket blue jeans. Bawahannya adalah rok hitam selutut. Rambut indigonya ia ikat ponytail dan diberikan jepitan kupu-kupu disisi kirinya sebagai pemanis. Naruto sempat terpana dengan kecantikan gadis tersebut. Ia bagaikan titisan dewi.

"Umm, ano," Naruto menyolek bahu gadis itu. Ia sempat terkejut karena orang lain menyentuhnya tiba-tiba, "Kau tersesat?"

Wajah gadis itu memerah, ia mengangguk, "Se-sepertinya iya. A-aku masih baru disini."

"Bisa kulihat alamatnya?" Naruto lalu mengambil kertas yang gadis itu sodorkan. Pria itu lalu membaca tulisannya, "Oh, tempat ini dekat dengan apartemenku. Mau kuantar?"

Gadis itu melihat Naruto dengan tatapan curiga. Mungkin ia takut ditipu oleh pria dihadapannya kini. Tapi apa boleh buat, kalau tak mengiyakan tawarannya gadis itu takut akan lebih tersesat lagi. Akhirnya ia mengangguk walaupun itu adalah anggukan antara iya dan tidak.

Naruto tersenyum, ia mengulurkan tangannya, "Namikaze Naruto. Kau?"

Gadis itu membalas uluran tangan Naruto, "H-Hyuuga Hinata, yoroshiku ne."

FLASHBACK OFF

Setelah pertemuan mereka yang singkat itu, hubungan mereka semakin erat dan dalam. Hingga akhirnya satu tahun kemudian mereka memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Hinata yang pemalu serta lembut mengisi kekurangan Naruto yang gampang marah dan banyak tingkah. Mereka berdua pasangan serasi.

Setelah satu tahun mereka berpacaran, mereka memutuskan untuk menikah. Usaha yang mereka tempuh tidaklah mudah. Naruto harus sering-sering berkunjung ke rumah Hinata untuk mengambil hati sang calon mertua. Awalnya ayah Hinata ragu. Namun karena mereka menunjukkan kesungguhan mereka dalam berhubungan, akhirnya ia setuju.

Kehidupan pernikahan mereka juga membuat iri pasangan lain. Nyaris tak ada konflik. Naruto dan Hinata saling menyayangi, hingga tak pernah ada salah paham antara mereka. Kepercayaan selalu mereka bangun dalam rumah tangganya. Namun, takdir berkata lain. Belum genap dua tahun usia pernikahan mereka, Hinata telah pergi meninggalkan Naruto untuk selama-lamanya. Memang, setiap awal pasti ada akhir, setiap ikatan pasti ada saatnya untuk berpisah. Entah karena perselingkuhan, konflik yang lain, ataupun kematian.

Dengan kematian Hinata, sekali lagi Naruto harus menelan pil pahit. Yang pertama yaitu ketika kedua orangtuanya meninggal bersamaan dalam kecelakaan pesawat ketika ia masih kelas sepuluh Senior High. Namun, ada pelajaran dibalik semua itu. Ia jadi bisa merelakan sesuatu yang memang bukan miliknya. Kalau memang telah dijodohkan Tuhan, takdir pasti akan mempersatukan mereka. Ya, takdir. Tak ada seorangpun yang bisa melawan itu semua.


-I PROMISE YOU-


-The End-


Uwooooh, sughoi!

Kaze kalaaaaaap!

Ehehe, tapi chapter akhir ini udah menjelaskan semuanya 'kan?

Happy NaruHina Tragedy Days, all!

Terus dukung dan semangatin Kaze untuk buat fic NaruHina yang lebih kece dan oke ya!

Adios!