.

.

Dingin.

Dingin sekali.

Kenapa di sini dingin sekali?

Aku bahkan bisa merasakan embun keluar dari hidung ku saat aku bernapas. Aku menggigil. Dingin yang menyengat membuat ku meringkuk di pembaringan ku.

Apa aku lupa menutup jendela semalam?

Mata ku tetap terpejam. Aku malas untuk bangun. Tangan ku bergerilya mencari sesuatu yang bisa menghangatkan ku. Bukannya menyentuh selimut di bawah kaki, aku malah meraba ….. pasir.

Eh,

Kenapa ada pasir di tempat tidur ku?

.

Dengan heran, ku genggam pasir tersebut. Banyak sekali pasir. Aku bahkan bisa menggenggam penuh di tangan ku.

Ah, dingin.

Dingin yang tiba-tiba menyengat berasal dari pasir di genggaman ku. Segera ku buang pasir itu. Dengan gerakan cepat aku membuka mata dan terduduk. Ku perhatikan telapak tangan ku yang memerah karena dingin. Pandangan ku beralih pada pasir yang baru saja ku buang begitu saja. Pasir itu-

.

DEG

.

Aku mematung. Dengan mata terbelalak. Mulut yang terbuka. Tampang horor. Dan seluruh gerakan ku terhenti. Seketika.

Dari seluruh organ dan anggota tubuhku yang masih dinyatakan sehat oleh dokter, tidak bergerak sama sekali. Hanya bola mata ku yang masih mampu tersadar dari keterkejutan itu. Aa, hanya bola mataku yang masih bisa ku gerakkan. Ke kanan, ke kiri, ke atas, ke depan, dan kembali ke bawah. Berkali-kali kuulangi untuk memastikannya. Memastikan kebenaran apa yang sedang kulihat.

Dan saat pandangan ku kembali ke bawah untuk kesekian kalinya, aku mendapatkan kekuatan untuk menggerakkan tangan ku. Ku gerakkan tangan ku yang gemetar untuk kembali menyentuh sesuatu yang ku buang tadi. Saat itu aku sadar bahwa ini nyata.

Tidak salah lagi. Ini adalah…

"sa…. Salju!" ucap ku terbata tak percaya.

Ini sulit dipercaya. Bahkan dengan akal abnormal sekalipun. Ingatan ku masih sehat. Dan aku masih ingat jelas, jelas sekali, bahwa aku seharusnya masih terbaring nyenyak di tempat tidur di penginapan di kamar nomor 13 di kota Arashiyama. Oke, aku awalnya memang menolak saat pemilik penginapan memberikan kunci dengan nomor 13. Yah, aku sedikit tahu bahwa nomor 13 itu adalah kutukan. Pembawa kesialan. Dan aku tidak ingin berakhir seperti film yang ku tonton dengan judul "kamar nomor 13" 3 bulan lalu.

Tapi karena tidak ada lagi kamar yang tersisa untuk ku. Akhirnya dengan berat hati kuterima. Lagi pula sudah larut malam. Dan ternyata tidak ada kejanggalan apa pun sampai aku terlelap di kasur ku. Dan lihat apa yang aku lihat ini. Sepertinya kutukan itu benar-benar ada.

Kamar ku telah berubah menjadi padang salju yang sangat luas.

Sejauh mata ku memandang. Tidak ada apa pun kecuali salju.

Putih. Hanya warna putih. Dengan embun dingin yang mengitari nya.

Dan aku mulai frustrasi. Aku bingung dan putus asa.

Dimana aku? Kenapa aku bisa ada di sini? Kenapa bisa berakhir seperti ini? Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul di pikiran ku. Yang semakin membuat ku panik. Ku coba untuk berdiri dari posisi ku yang belum berubah sejak tadi. Tak menghiraukan dingin yang menyentuh telapak kaki ku yang tak beralas. Dan aku semakin gamang.

.

TAP

.

Terkesiap. Kurasakan sesuatu menyentuh pundak kanan ku. Dan rasanya dingin. Ku toleh kan perlahan kepala ku ke kanan. Dengan perasaan takut dan penasaran.

Oh, tidak.

.

.

Aku paling membenci saat tokoh yang mulai penasaran dengan keganjilan yang terjadi di sebuah film horror. Mereka seharusnya menghindar bukannya malah mendekat dengan gaya takut dan penasaran yang di buat-buat. Menyebalkan.

Dan lihat aku sekarang. Seperti nya aku termakan adegan tersebut. Aku sangat menyesal. Sungguh aku sangat menyesalinya. Seharusnya aku tidak menoleh. Seharusnya aku tidak melihat ke belakang. Seharusnya aku langsung lari saja tadi. Dan kenapa aku tidak melakukannya.

Kini. Di hadapan ku. Berdiri sesosok putih. Yang mengenakan kimono panjang yang putih. Obi putih. Rambut panjang yang putih. Mata berwarna putih kebiruan yang memudar. Kulit putih. Senyum yang putih. Mulutnya terbuka dan tertutup dengan gerakan lambat. Seperti berkata sesuatu. Lalu pandanganku mengabur dan berubah hitam.

.

.


Created by : Yuki /2014/

Disclaimer : Bleach and all of characters belong to Tite Kubo

Mohon maaf ini hanya imajinasi belaka. Semua nama tokoh, alur cerita, dan lokasi hanya fiktif. Kecuali kalau ada beberapa hal yang penulis jelaskan di catatan akhir. Kalau ada yang penasaran dengan latar belakang cerita, kisah ini berawal dari 100 tahun setelah berakhirnya perang shinigami melawan quincy.

Genre : Adventure/Mistery/Romance

Rate T, typo, OOC, OC, AU & Canon campuran

(Segalanya bisa saja berubah)


Berawal Di Kota Ini


.

.

.

"HUUAAAAA….."

Aku berteriak kencang sekali. Dengan gelagapan dan panik luar biasa aku duduk dan pandangan ku berkeliling dengan liar. Napas ku memburu dengan pundak ku yang naik-turun tergesa-gesa. Aku bahkan bernapas melalui mulut. Kepalaku menoleh ke mana-mana, mencari… mencari….

Tidak ada.

"hanya… mimpi" aku hanya bisa bergumam menyadari aku masih berada di kamar penginapan. Tidak ada yang berubah. Tidak ada padang salju. Tidak ada salju. Tidak ada sosok putih itu. Itu semua hanya mimpi. Ya, hanya mimpi.

Aku menghela napas lelah. Memejamkan mata dan menyentuh kening ku dengan telapak tangan kanan ku. Kepala ku terasa berputar. Mimpi itu sangat menyeramkan.

Ku putuskan untuk ke kamar mandi dan membasuh wajah ku. Sepertinya aku memang membutuhkan air untuk menjernihkan pikiran ku. Dengan berjalan gontai aku memasuki kamar mandi dan menuju wastafel. Ku putar keran dan air yang terlihat segar itu mengucur dengan deras. Segera ku basuh wajah ku beberapa kali. Segar sekali.

Ku angkat kepalaku dan aku bisa melihat pantulan diri ku pada cermin di depan wajah ku. Aku bisa melihat wajah ku dengan jelas di sana. Dengan rambut hitam panjang yang berantakan dan wajah yang terlihat pucat dan ada kantung mata terlihat samar. Aku terlihat mengerikan.

Aku mencoba untuk tersenyum dan melupakan mimpi itu, saat kurasakan ngilu pada telapak tangan kanan ku. Ku lihat telapak tangan ku berwarna kemerahan. Ini persis sama seperti di mimpi itu. Saat aku menggenggam pasir salju itu.

Apa mimpi bisa berdampak fisik pada kehidupan nyata?

Mimpi macam apa itu? Seingat ku, aku tidak pernah bermimpi seperti ini sebelumnya.

Kenapa aku bisa bermimpi berada di padang salju? Dan, siapa sosok itu?

Aku sampai termenung di depan cermin sambil memperhatikan telapak tangan ku.

"Chappy…. Chappy… let's get up. Let's move it. Let's goooo!~~~"

"Chappy…. Chappy… let's get up. Let's move it. Let's goooo!~~~"

.

.

Sampai aku tersentak dengan suara menggelegar itu dan menoleh karenanya. Ternyata itu bunyi alarm handphone ku yang sengaja ku setel semalam. Sengaja ku buat untuk membangunkan ku karena ada pekerjaan hari ini. Dan ternyata aku bangun lebih dulu karena mimpi sialan itu.

Aku menghela napas lega. Sungguh aku tadi kaget sekali. Sampai detak jantung ku memburu. segera ku turunkan tangan ku yang masih mengambang di udara. Dan mematikan keran air. Lalu beranjak untuk mandi.

Ada misi yang harus ku selesaikan hari ini. Jadi aku harus segera bersiap.

.

.

.


Aku percaya akan kematian, setelah melihat ayah, ibu, dan adik ku yang sudah tiada. Aku percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini telah diatur oleh Tuhan. Aku bahkan percaya kalau Kengo itu laki-laki, walaupun setelah melihat sikapnya yang penakut itu meragukanku. Dan aku juga percaya keberadaan ku di sini juga merupakan skenario-Nya. Tapi sungguh aku tidak bisa percaya dengan apa yang kulihat saat ini.

Walaupun semua orang sudah membicarakannya. Walaupun aku sudah melihatnya secara langsung. Aku tetap sulit mempercayainya.

"astaga…" ucap ku tak percaya sekaligus takjub.

Rumor itu benar. Es raksasa itu benar-benar menutupi hampir separuh pegunungan. Es itu terlihat sangat kuat dan kokoh dengan warna birunya. Pinggirannya telihat mulai meleleh karena teriknya matahari musim panas. Dan garis polisi sudah mengelilingi bongkahan es raksasa itu.

Aku berdiri terdiam di lereng pegunungan. Memandangnya dengan penuh takjub. Begitu juga dengan warga sekitar yang ikut berkerumun menyaksikan pemandangan itu.

Ini luar biasa. Ini sebuah fenomena. Benar-benar sebuah keajaiban.

Dengan segera ku keluarkan smartphone dari saku celana jeans ku. Aku mengambil beberapa foto dengan kamera smartphone ku. Ku ambil dari berbagai sisi. Dari lereng gunung. Dari samping. Bahkan aku sempat mendaki untuk mengambil gambar dari atas. Aku tidak cukup puas dengan hasil jepretan ku. Foto tampak jauh tidak terlalu jelas.

Aku memutuskan untuk mendekat dan melewati garis polisi. Ternyata dilihat lebih dekat semakin luar biasa. Aku bahkan menyentuh bongkahan es itu. Terasa dingin menyengat dan membuat kulit jariku yang menyentuhnya menempel seperti terhisap. Itu menandakan suhu es itu sangatlah dingin. Minus derajat celsius.

Lalu aku mulai mengarahkan smartphone ku lagi. Untuk mengambil gambar dari anggle dekat. Sampai kudengar ada seseorang yang berteriak ke arah ku. Kepalaku mengikuti arah suaranya. Di sana, seorang polisi berseragam berlari ke arahku.

"Hey nona, apa kau tidak lihat garis polisi di sana? Kau tidak boleh mendekat kesini. Kau ini tahu aturan tidak?" polisi itu berkata sambil membentakku dan menunjuk-nunjuk garis polisi yang terbentang di belakangku.

Segera kuraih dompet di saku belakang celana ku. Dan mengambil kartu identitas ku di sana.

"Maaf. Saya wartawan. Kurosaki Yuki dari Rakuyo news." Ucap ku singkat sambil menunjukkan kartu identitas Pers ku padanya. Sekilas dia terlihat terkejut mendengar ucapanku.

"Kau wartawan? Dari mana kau datang?" dia bertanya keheranan. Karena mungkin aku satu-satunya wartawan yang ada di sini.

"Saya dari Sakyo Ward, Kyoto. Saya sudah berada disini sejak kemarin, lebih tepatnya sebelum jalur kereta terjebak oleh es ini. Bisa tolong anda jelaskan tentang kejadian ini?" tanyaku mulai mewawancarai polisi tersebut dan mengarahkan smartphone ku yang sudah dalam menu voice record.

"Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang melihat. Es itu terjadi begitu saja. Muncul tiba-tiba. Kami sudah menanyakan pada penduduk sekitar pun tidak ada yang tahu. Tapi ada beberapa warga sekitar yang sempat mendengar suara gemuruh saat menjelang malam." Terang polisi tersebut.

"Gemuruh?" aku bertanya dengan nada heran. Kurasakan alis ku bertaut karena heran.

"Iya, seperti suara tanah longsor. Mereka bilang arah suara dari belakang pegunungan. Tak lama kemudian mereka merasa ada getaran pada tanah yang mereka injak. Beberapa warga memutuskan untuk memeriksa sumber suara setelah getaran berhenti. Dan kondisi sudah seperti ini saat mereka sampai." Polisi tersebut menjelaskan dengan rinci kejadian tidak biasa ini.

"Apa anda tahu berapa lama waktu kejadian saat terdengar gemuruh sampai getaran berhenti?" Tanya ku lagi mencoba memastikan analisa ku.

"Mungkin sekitar 15 detik. Setelah itu para warga mulai keluar rumah karena merasa heran. Dan mereka bergegas pergi ke tempat kejadian. Jarak dari perkampungan sekitar menuju tempat ini kurang lebih 5-10 menit."

Seketika tubuhku meremang mendengar penjelasan polisi tersebut. Aku merinding dibuatnya. Jika memang benar kejadiannya seperti yang dijelaskan, itu berarti proses terbentuk nya es raksasa ini tidak sampai 1 menit. Sedangkan kalau diperhatikan, luas es ini bisa mencapai 2 hektare dengan ketebalan mencapai 5 meter. Sesuatu yang tidak mungkin.

"Lalu, bagaimana dengan hasil penyelidikan dari pihak kepolisian? Apakah ada sesuatu yang ditemukan?" lanjut ku bertanya. Aku ingin tahu apa saja yang sudah mereka dapat.

"Hasil nya hanya menunjukkan bahwa itu hanyalah es biasa. Tidak ada yang aneh kecuali kemunculannya. Lagi pula es itu terbentuk di permukaan tanah, bukan berasal dari dalam tanah."

Hmm, Di permukaan tanah ya…

"Apa masih ada yang ingin kau tanyakan?" Tanya polisi tersebut seperti sedang terburu-buru.

"Ah maaf, ini pertanyaan terakhir. Apa ada rencana untuk menyingkirkan es ini oleh kepolisian?"

"Untuk menyingkirkan es ini, kami membutuhkan alat berat. Sedangkan satu-satu nya alat transportasi ke pinggiran kota ini hanya dengan kereta. Jadi, mungkin kami akan mencoba untuk menyingkirkan es yang menutupi jalur kereta dulu dengan alat seadanya. Supaya kereta bisa memasuki stasiun."

"Ah, baiklah kalau begitu. Saya rasa ini cukup. Terima kasih atas informasinya" aku membungkuk hormat untuk menyampaikan rasa terima kasih ku. Setelah berpamitan, polisi itu pun meninggalkanku.

"Menggunakan alat seadanya. Sepertinya aku akan lama berada di Kota ini" gumamku setelah menegakkan tubuh ku.

Segera ku non-aktifkan voice record pada smartphone ku. Dan melihat kadar suhu sekitar di layar. 25ºC, suhu normal pegunungan di musim panas. Aku pun berjalan perlahan menjauhi es tersebut.

Saat ini otak ku dipenuhi kemungkinan-kemungkinan yang tidak masuk akal. Informasi yang kudapat malah semakin membuat ini sulit dimengerti. Yang jelas ini bukan perbuatan manusia biasa.

Apakah ini murni peristiwa alam?

Atau apakah ini perbuatan alien? Yah, sejenis makhluk luar angkasa yang rupanya tidak jelas itu.

Atau ini perbuatan sesuatu tak kasat mata, seperti hantu atau makhluk halus?

Aaarrgggghh…. Ini benar-benar membingungkan.

Dan saat aku menggaruk kepala ku yang tidak gatal ini, saat itulah mataku menangkap sosok nya lagi. Posisi ku yang berdiri di bagian atas pegunungan, menangkap dengan jelas sosok nya yang berdiri di bagian lereng pegunungan. Berbaur dengan kerumunan orang-orang di bawah sana. Penampilannya terlihat berbeda saat terakhir aku melihatnya. Kali ini dia lebih normal dan casual.

Dia tampak sedang berdiri dengan pandangan yang tak lepas dari gundukan es di depannya. Dengan tangan yang bersedekap di dada, seperti sedang mengamati. Aku bisa melihat keseriusan di wajahnya. Alis yang bertaut, tatapan yang tajam, garis wajah yang kaku, dan rambut putih itu.

"cosplay…?"

Dan terjadi lagi. Seperti saat itu, saat aku pertama kali bertemu dengannya. Aku hanya berdiri terdiam dengan memandangnya lekat. Aku sama sekali tidak terusik dengan orang-orang di sekitar ku. Mata ku terus menatapnya. Hanya menatapnya. Dan waktu seolah berjalan dengan sangat lambat. Ada apa dengan ku? Kenapa aku tidak bisa berpaling darinya?

Tiba-tiba seseorang menabrak bahu kanan ku. Membuat ku sedikit terhuyung ke samping. Dan memutuskan pandangan ku dari nya. Aku melihat seorang wanita paruh baya yang terlihat terkejut. Beliau membungkuk dan meminta maaf padaku karena tidak sengaja menabrak ku.

"Maaf nona, saya tidak sengaja" Ucap nya penuh penyesalan.

"Ah, iya. Tidak apa-apa. Anda tidak perlu membungkuk" jawab ku merasa tidak enak karena wanita itu terus membungkuk di depan ku.

Setelah aku berhasil meyakinkan pada wanita itu bahwa aku tidak apa-apa, akhirnya wanita itu pun meninggalkan ku.

"Aku sungguh tidak apa-apa, kenapa dia terus saja bersikeras. Memang nya aku terlihat selemah itu. Hanya disenggol begitu saja tidak akan membuat ku masuk rumah sakit kan. Ada-ada saja" umpat sedikit kesal. Dan kembali mengalihkan pandanganku pada sosok nya di bawah sana.

Dan terjadi lagi. Dia menghilang begitu saja. Mata ku memperhatikan sekitar, namun tetap tidak menemukan sosoknya.

"Cepat sekali dia menghilang. Aku hanya mengalihkan pandangan ku sebentar dan dia sudah tidak ada. Apa jangan-jangan dia... ahahaha mana mungkin, aku kan tidak bisa melihat hantu" aku berkata sendiri lalu tertawa sendiri.

Seperti orang bodoh saja.

.

.


Artikel singkat berjudul 'Hot news! Fenomena langka Es di musim panas' yang telah ku lengkapi dengan beberapa foto referensi hasil jepretan ku, telah berhasil ku unggah di situs resmi Rakuyo news. Tidak lupa mencantumkan nama ku pada pojok kiri artikel sebagai penanda sumber berita. Dengan ini berita tersebut berhasil ku publikasi kan.

Dengan senyum kepuasan yang mengembang di bibir ku, ku ambil gelas yang berisi jus strawberry dingin di atas meja lalu menyeruput nya perlahan. Saat ini aku berada di sebuah kafe di daerah pertokoan Arashiyama.

Setelah puas mengamati tempat kejadian, aku memutuskan untuk mencari tempat bersantai sambil mengerjakan artikel ku. Lagi pula aku belum makan apa pun sejak pagi, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 waktu setempat. Sangat terlambat untuk sarapan.

Dan sekarang di sinilah aku.

Ditemani dengan segelas jus strawberry dan sepiring cheese cake. Ah, tidak lupa dengan mangkuk besar yang kosong. Sebenarnya mangkuk itu tadi berisi ramen porsi besar. Karena aku sangat lapar, jadi aku yang mengosongkan mangkuk itu. Dan sekarang aku sangat kenyang.

Drrrtttt,,,, drrrrrrrrrtttttt

Ku rasakan handphone ku bergetar. Rupanya ada telphone masuk. Setelah kuperiksa, ternyata dari Kengo. Dia pasti ingin mengkonfirmasi soal berita ku.

"Halo...," sapa ku setelah menggeser simbol hijau di layar.

"Yuki, Kau serius dengan artikel itu? Jelaskan pada ku?"

Benar kan.

"Semua sudah ku jelaskan di artikel itu. Beserta seluruh gambar yang sudah ku ambil. Kau tinggal baca saja.'

"Tidak mungkin. Bagaimana itu bisa terjadi. Sulit dipercaya"

"Begitu juga dengan ku. Tapi setelah melihatnya langsung, dengan terpaksa aku harus percaya. Dan satu lagi, aku satu-satunya wartawan di sini. Keuntungan bagi kita. Karena mungkin pihak lain akan kesulitan datang ke sini selama jalur kereta belum diperbaiki. Kecuali mereka punya helikopter pribadi, heh. Aku satu-satunya sumber informasi di sini."

"Benar juga. Lalu, sampai kapan jalur kereta akan di perbaiki?"

"Entahlah, mereka tidak punya alat berat di sini. Jadi mereka hanya menggunakan alat berat seadanya. Sepertinya akan memakan waktu lama. Kau lihat sendiri seberapa besar gunung es itu"

"Kau sekarang ada di mana?"

"Aku sedang makan di sebuah kafe. Tidak jauh dari penginapan ku"

"Berhati-hatilah di sana. Ingat, kau hanya sendiri. Tidak ada seorang pun yang kau kenal di sana. Kalau terjadi sesuatu padamu, aku tidak bisa langsung ke sana. Karena tidak ada jalur transportasi. Jadi komunikasi kita tidak boleh terputus. Ini satu-satunya yang menghubungkan kita. Laporkan apa pun yang terjadi di sana pada ku. Dan bla...bla...bla..."

Huft, aku malas mendengarkan nya. Kengo cerewet sekali. seperti seorang ibu yang sedang menasehati anak nya yang mau pergi berkemah di hutan belantara. Memang aku ini anak nya.

Aku memutar bola mata ku, bosan. Handphone ku masih bertengger di telinga kanan ku. Kengo masih sibuk dengan ocehan nya yang tak kunjung habis. Sangking bosannya, mata ku hanya memperhatikan sekitar ku. Memperhatikan jalanan di depan ku yang di penuhi dengan kendaraan yang berlalu lalang. Motor dan mobil dan melaju dengan kecepatan rata-rata. Dan melihat seorang anak perempuan berjalan pelan ke seberang jalan.

Seketika mata ku terbelalak.

Apa yang sedang di lakukan anak itu?

Apa dia mau mati?

Anak itu terus berjalan dengan tenang ke tengah jalanan. Tanpa menoleh ke kanan atau pun ke kiri. Dan saat sebuah mini truk melaju kencang ke arahnya, saat itu pula tanpa pikir panjang aku langsung berlari melesat ke arah nya.

Aku berlari sekuat tenaga, secepat mungkin, dengan tangan kanan ku yang terulur ke depan. Berusaha menggapai nya. Berusaha untuk tidak terlambat. Tidak. Semoga aku tidak terlambat.

Aku bahkan bisa mendengar suara deru napas ku. Detak jantung ku yang bertalu-talu. Aku bahkan tidak kuat meneriakan kata "awas" padanya. Waktu terasa melambat. Semua terasa melambat.

Sampai detik terakhir dan langkah terakhir ku tiba di belakang nya. Tangan kanan yang terulur berusaha menggamitnya. Dan suara klakson mobil yang terdengar memekakkan telinga kiri ku. Aku menoleh sekilas melihat seberapa dekat benda itu dengan ku. Aku hanya menahan napas dan melebar kan mata ku kemudian. Dan semuanya terjadi dengan sangat cepat.

"Kyaaaaaaaa... "

"Awaaaaassss..."

"Heeeyyyyyyyy..."

Tiiiiinnnnnnn...

Pandangan ku gelap. Hanya teriakan-teriakan itu yang mengaung di telinga ku. Aku Hanya merasa tubuh ku seperti tertarik, lalu terangkat melayang tak menapak tanah, dan terjatuh.

Apa aku akan mati?

Sekilas pikiran itu melintas di pikiran ku. Sampai aku menyadari posisi tubuh ku yang tengkurap di atas tubuh seseorang. Aku bahkan tidak merasakan sakit. Sama sekali tidak.

Iya, aku benar-benar terbaring di atas tubuh seseorang.

Perlahan aku membuka mata untuk memastikan nya. Di sana, di depan mata ku, di depan wajah ku, hanya berjarak 1 jengkal dari wajah ku, aku bisa melihat dengan jelas wajah nya. Orang itu menatap ku dengan mata terbelalak, bibir yang sedikit terbuka, dan garis rahang yang terlihat kaku.

Aku hanya terus menatapnya beberapa detik. Bisa kurasakan mata nya yang juga terus menatap ku dengan pandangan yang sulit ku artikan. Ke dua tangan nya yang masih erat memeluk pinggang ku. Dan tubuh ku yang masih terbaring di atas tubuh nya. Sampai-

"Cosplay..." lirih ku tanpa sadar mengenalinya.

dan

"Kau..." lirih nya.

.

.

.

.

TBC


Author note :

saya memutuskan untuk update chapter 2 sekarang. Selagi ide nya masih bergelantungan mesra di otak ku. hehe..

Disini aku masih menggunakan sudut pandang orang pertama. Dan belum beranjak dari tempat semula, Arashiyama. kenapa aku milih tempat ini? alasannya akan terungkap di cerita.

dan sebagai bocoran untuk para reader sekalian, Kurosaki Yuki adalah pemeran utama dalam cerita ini. siapa dia? jawabannya akan terungkap seiring berjalannya waktu. hohohoho... yang jelas dia adalah seorang wartawan, keturunan kurosaki sesuai namanya, dan dia sebatang kara. Dan Yuki adalah seorang perempuan. tokoh kedua adalah orang yang sudah 2x bertemu yuki. "you know who is he"... dengan rambut putihnya dan wajah tampannya. siapa tak kenal dia..

untuk rukia, belum saya munculkan sekarang. mungkin chapter depan atau depannya lagi. hehe,,

alur sengaja saya buat lambat dengan penggambaran yang detail. saya suka tipe penulisan seperti ini, terkesan lebih menghayati.

dan sekarang, saatnya membalas review :

Ana cii Bunny : yup, benar sekali. ini cerita tentang masa depan. setting 100 tahun setelah perang. kalau soal reinkarnasi atau bukan,, jawabannya ada di cerita. ikutin terus ceritanya, dan kamu pasti akan dapat jawabannya. sekali lagi terima kasih atas dukungannya Ana-chan. ini chapter 2 udah update,, selamat membaca.

mira cahya 1 : kamu penasaran? sama saya juga. halah... wah,, kita suka pairing yang sama. Aku suka hitsugaya karena aku memang suka karakter seperti dia. dalem. hihihi... ngomong2 soal tokoh utama, udah aku jelasin di author note di chapter ini. jadi selamat menikmati chapter 2... terima kasih mira-chan atas dukungannya.

Sekali lagi saya ucapkan terima kasih bagi yang sudah memberikan review. sungguh, review sangat membangkitkan mood dalam menulis. jadi, bagi yang telah membaca chapter ini, silahkan tinggalkan jejak di kotak review di bawah ini.

sampai jumpa di chapter 3. (chapter 3 akan saya update kilat, jadi siap-siap ya)