Title: Zepesis
Fanfiction : Naruto
Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Genre : Horror/Mystery/Supranatural.
Rate : M
Warning: AU, OOC,
Short Chapter, 1 k.
Note: Jika review lebih dari 7 akan saya lanjutkan story ini, Happy reading-
Chapter 2
Zepesis
Berlatar di sebuah desa yang sangat jauh dari keramaian, Negara eropa Switzerland.
Hujan mengguyur sebagian wilayah pedesaan, hujan yang sangat lebat itu, membuat para penduduk setempat tidak berani untuk keluar dari tempat tinggal mereka. Pohon berdaun hijau nampak melambai-lambai karena hempasan angin yang kencang, seperti ingin tumbang dari akarnya. Tanah menjadi lunak dan basah oleh butiran-butiran air yang jatuh dari langit, seberapa banyak titik air itu, tidak terhingga jumlahnya. Dan jauh dari mata memandang, sebuah pedesaan kecil jauh sekali dari keramaian berdiri di sana, rumah-rumah tradisional yang reot dan tak berpenghuni, benar saja. Setelah dilihat dari dekat, rumah-rumah itu sudah tak bisa digunakan lagi, genting yang pecah dan berlubang, pintu rusak bersarang rayap, dinding rapuh hampir hancur serta, tulang-belulang yang bergeletakan di mana-mana. Seorang laki-laki sedang menyelidiki tempat itu, bermodal senter kepala dan jas hujan seadanya. Ia memasuki rumah ke rumah, tidak ada ketakutan yang menyelimuti dirinya, namun hawa mencekam terus membuat bulu kuduknya berdiri. Mengingat hari ini hujan lebat, sesuatu hal seperti itu akan sangat wajar. Kilat menyambar-nyambar, pepohonan terus bergerak dari akarnya akibat hembusan angin yang kencang, sedangkan laki-laki itu mulai memasuki salah satu rumah tak berpenghuni di daerah pedesaan tersebut.
Tap tap tap.
Langkah kecil penuh hati-hati terdengar menggema di seluruh ruangan, rumah yang ia pijak sekarang memiliki luas 30 meter persegi, dengan tata dekorasi tradisional khas pedesaan. Rasa cemas mulai menyelimuti diri pria itu, memeriksa seluruh ruangan hampa tak berpenghuni, dari ruang tamu, ruang makan, kamar mandi dan loteng yang terletak di lantai atas.
Ia menaiki tangga yang rapuh,kayu yang dipergunakan sebagai pegangannya pun sudah hilang entah kemana, berpikir semuanya akan baik-baik saja adalah modal yang baik untuk melalui ini, ia menghela napas panjang, berusaha memperhatikan ke depan.
Kayu yang menjadi tempat kakinya berpijak, menimbulkan suara khas dari kayu yang sudah rapuh, seperti rumah yang tak dihuni selama ber abad-abad lebih, meninggalkan banyak sarang laba-laba, dan debu di mana-mana dan setelah 10 langkah menaiki tangga rapuh itu dengan penuh hati-hati, ia pun sampai di lantai atas, mendapati sebuah kamar dengan ranjang putih berbalut selimut merah. Lantai atas itu hanya berisikan satu ruangan, yakni sebuah kamar perempuan. Dilihat dari sudut manapun sudah terlihat seperti itu, lemarinya, boneka-boneka yang mentereng di atas rak buku dan foto yang tak sengaja dilihat oleh pria tersebut.
Penasaran akan foto itu, ia berjalan mendekatinya dan melihatnya. Sebuah kalimat tertulis di bawah foto itu, secarik kertas bertinta darah yang masih segar.
"Jangan ganggu kami, pergilah dasar setan!"
Membaca pesan itu membuat si pria panik.
'Shit! Apakah ini peringatan' batinnya mulai gelisah.
Dan dari jendela kamar, angin malam mulai masuk, dinginnya udara itu sampai menembus jas hujan tebal yang masih ia kenakan, menusuk sampai ke tulang-tulang. Tiba-tiba saja kulit di tubuhnya mulai merinding, ia masih memegang foto itu dengan tangan yang bergetaran.
Pria itu masih memberanikan diri untuk tetap berada disana, tanpa berbalik ke belakang atau pun keluar dari rumah tersebut, sampai ia melihat foto itu berubah, sebelumnya hanya wanita berumur 19 tahun dengan senyuman manisnya tapi ia melihat kejanggalan dari foto itu, wanita yang terdapat di dalam foto itu menyeringai sambil memegang sebuah pisau tajam di tangan kanannya.
Lalu ia berbalik badan dengan sangat cepat, dan ia melihat wanita berambut panjang menyerangnya dengan brutal. "Waaarr!"
Matanya putih melotot, darah mengucur dari kulit wajahnya, dan pisau di tangannya ia anggap sebagai bagian dari organ luarnya.
Crshh, Crshh, Crshh!
Bertubi-tubi pisau itu menusuk tubuh sang pria itu,
"No, no! I will kill you! This is fucking nightmare!"
Wanita menakutkan itu hanya diam sambil memasang ekspresi setan, berpikir untuk mengakhiri nyawa sang pria, beranggapan bahwa semua ini adalah kesenangan yang tiada tara.
"Fucking devil!"
Senyuman mengerikan ia pertunjukkan dari wajahnya, tatapannya tidak berubah sedikit pun dari sebelumnya, Demon Face. Wanita setan itu mengangkat pisau yang ia genggam tinggi-tinggi, sampai dia mendaratkan pisau itu tepat di bagian mata si pria, dan darahnya bercucuran ke mana-mana, mengalir di lantai gapuk yang sudah tua, menetes di sembarang tempat.
"Game over!"
"Ini akan menjadi koleksi terbaruku,"
Sesuatu yang salah, desa yang terpencil, tidak ada orang yang berani mendatanginya. Satu hal yang pasti. "This is Zepesis!"
TBC
Chapter 2 END
©Yoshino Tada.
