.

"Hidup seperti ini..memang lebih mudah," gumamnya serak hampir tanpa suara—Sakura sesaat tak yakin apakah ia benar-benar berbicara barusan atau tidak.

" Apa, Sasori?" tanya Sakura agak ragu—berharap ia masih ada sedikit kesabaran untuk mengulang kata-katanya barusan. Cahaya redup kebiruan tampak di telapak tangan kanan gadis itu, bersiap untuk melakukan pemeriksaan.

Jeda sesaat sebelum sosok berambut merah itu menggerakkan bibir pucatnya lagi. Gumaman serak yang diucapkan perlahan terdengar memecah sunyi di udara.

"Hidup seperti ini..tanpa emosi, memang lebih mudah.."


Katalis

A SasoSaku (maybe..) fanfiction

Genre: Drama/Hurt/Comfort

Rate: T

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: Setting canon yang dimodifikasi, OOC (mungkin), romance gagal.


"Hidup seperti ini..tanpa emosi, memang lebih mudah.."

Datar. Kata-kata itu —meski maknanya tajam— terdengar begitu datar dan dingin begitu diucapkan oleh seorang Akasuna no Sasori. Sakura berjengit sedikit, chakra kebiruan di tangannya berkedip sesaat karena reaksinya tadi. Lelaki ini..

"Tapi kini kau sudah punya emosi,kan? Tubuhmu..sudah bukan tubuh boneka lagi sekarang," gumam Sakura hampir kepada dirinya sendiri. Piyama atasan lusuh milik Sasori sudah tergeletak di sebelahnya, tangan gadis berambut merah muda pucat itu kini tengah sibuk mengobati luka bilur merah –yang masih empuk dan basah—di dada kiri Sasori. Tempat jantungnya berada.

"..Kau salah."

Sakura terkejut sedikit, tak menyangka kalau kata-katanya barusan didengar oleh lelaki di depannya. "Tentu saja bodoh, kau berada dengan jarak sedekat ini dengannya," Inner Sakura berbisik mengejek didalam kepalanya.

"Uhm, maaf, tapi apanya yang salah?" tanya gadis berambut merah muda pucat itu ragu.

Jeda sesaat. Lelaki berambut merah itu tak langsung menjawab, melainkan diam sebentar—seakan mengetes kesabaran gadis didepannya itu.

"Kau salah. Aku memang punya emosi—dari dulu."

"Bukankah waktu itu kau bilang kalau..hatimu itu sama seperti tubuhmu saat itu, Sasori?" tanya Sakura tak yakin.

Sosok berambut merah yang daritadi menunduk itu mengangkat kepalanya, hingga poni acak-acakannya yang tadi turun menutupi mata kini tersibak sedikit—menyingkap sepasang hazel sayu dibawahnya. Ia menatap Sakura dengan pandang meremehkan.

"Wanita..memang selalu ingin tahu, ya," bisiknya serak sambil menyeringai tipis. Gadis berambut harummanis di depannya mengernyitkan kening tak suka, sementara dalam hati ragu—apakah ia sedang marah atau memang sekadar terganggu saja. Seandainya di wajah pucat itu tergambar sedikit saja emosi, mungkin Sakura tak perlu repot-repot berspekulasi tentang apa yang ada di pikirannya sekarang.

"Aku punya emosi,bocah. Hanya saja, aku tak menggunakannya," lanjutnya dingin.

"Mengapa—"

"Diam." Potong Sasori tajam, sebelah tangannya terangkat.

Sakura bingung harus berkata apa. Akhirnya ia memutuskan untuk tetap tenang dan bersabar sedikit—mengacuhkan inner-nya yang protes atas kejadian tadi. Ayolah, kau sudah bukan bocah lagi, Sakura..

Tangan gadis berambut merah muda pucat itu bergerak lebih cekatan dari sebelumnya—memusatkan konsentrasinya pada luka dalam di dada Sasori, yang masih empuk dan basah. Sepertinya, proses penyembuhannya tidak bisa selesai saat ini juga, batin Sakura. Sekilas ia melirik ke Sasori, melihat ekspresinya apakah kesakitan atau tidak. Tapi wajah pucat itu tetap datar seperti biasa.

.

Selang beberapa menit ditemani keheningan yang menyiksa, ninja medis berambut kembang gula itu berjengit terkejut.

Ia menemukan sesuatu yang aneh di dalam luka Sasori.

Ada beberapa butir pasir—dalam jumlah yang cukup signifikan.

Ia mengerutkan dahi bingung. Seingatnya, katana kedua boneka yang digunakan Nenek Chiyo untuk menikam Sasori tidak kotor sama sekali, apalagi terkena pasir. Jadi..darimana asalnya serpihan-serpihan pasir ini?

Dan sebuah analisa yang masuk akal segera muncul di kepala Sakura. Ia bergidik sedikit. Tak salah lagi..


Pemuda berambut merah menyala itu memijat kepalanya sesaat, sebelum tangannya kembali menelusuri tumpukan dokumen yang menggunung di depannya. Menjadi pemimpin salah satu negara besar di dunia ninja memang melelahkan—apalagi di usianya saat ini. Seandainya saja ia boleh mengambil cuti barang sehari, tentu saja ia akan melakukannya—dengan senang hati.

Suara pintu yang diketuk memecah kesunyian di kantor itu.

"Masuk."

Pintu terbuka, menampilkan seorang pria berambut cokelat tua yang tinggi dan tegap didampingi oleh seorang wanita berambut pirang yang lebih tua disampingnya.

Sudut bibir sang Kazekage muda sedikit terangkat—membentuk sebuah senyuman begitu melihat kedatangan dua orang kakaknya itu.

"Gaara, kau sudah makan?" tanya wanita berambut pirang itu khawatir. Di tangannya tergenggam nampan berisi onigiri hangat dan segelas ocha. Diletakkannya nampan tadi di meja sang Kazekage.

Sementara laki-laki berambut coklat yang lebih muda itu duduk mengambil tempat berhadapan dengan adiknya, sebelum memberi komentar akan kegiatan adik satu-satunya.

"Hoo, rajinnya adikku.." katanya sambil tersenyum lebar—yang disambut oleh jitakan Temari, wanita berambut pirang tadi.

"Sssh, Kankuro! Jangan ganggu, Gaara sedang sibuk," gumam Temari sedikit kesal.

"Hoo, sibuk? Seingatku tadi ia baru saja tertidur di mejanya ketika kuintip," balas Kankuro sambil menyeringai iseng. Pipi sang Kazekage muda bersemu merah—tak menyangka kalau istirahat diam-diamnya tadi ketahuan. Tapi apa boleh buat, dari tadi pagi ia sudah bekerja tanpa ada kesempatan bersantai sedikitpun.

Temari tak menghiraukan perkataan Kankuro tadi. "Gaara, kau belum menyentuh makananmu daritadi. Jangan bilang kalau.." ia memberi jeda sesaat, aura dingin khas kakak perempuan yang siap mengamuk menusuk keluar dari sekelilingnya, "..kau tak menyukai masakanku?"

Gaara langsung merespon dengan memasukkan sebuah onigiri langsung kedalam mulutnya, lalu mengunyahnya cepat-cepat. "Enak. Terima kasih, Temari-neechan."

Gadis berambut pirang itu mengangguk puas, sebelum ekspresinya berubah menjadi serius. "Bagaimana dengan rapat tadi?" tanyanya hati-hati.

Sang Kazekage muda menghirup sedikit ocha-nya, sebelum menjawab dengan nada lambat. "Rapat tadi..berlangsung alot. Para tetua menginginkan ia segera dieksekusi begitu kakinya menginjak Sunagakure ini, meskipun menurutku itu bukan pilihan yang terbaik."

"Kukira kau akan langsung setuju dengan pendapat para tetua itu—mengingat apa yang pernah ia lakukan terhadapmu." Kankuro angkat bicara. "Mengetahui bahwa kini ia tengah berada di penjara Sunagakure dan bukan remuk berdarah-darah dengan Sabaku Sousou-mu, itu adalah fakta yang..cukup mengagetkan."

Temari mengernyitkan kening seakan berpikir keras. "Aku juga kurang setuju dengan pendapat para tetua itu. Bukannya aku kasihan padanya—dengan senang hati ia pasti langsung K.O dengan kipasku kalau diizinkan—tapi kita bisa mengorek keterangan tentang Akatsuki darinya. Bagaimana pendapatmu, Gaara?"

Sang Kazekage menghirup ocha-nya sekali lagi lambat-lambat, sebelum mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. "Aku sependapat denganmu, Temari-neechan. Kita memerlukan informasi darinya, setelah segala hal yang kita perlukan diperoleh, urusan kita dengannya selesai. Kita bisa langsung mengeksekusinya."

Kankuro menaikkan alis sedikit mendengar kata-kata adiknya tadi. Dalam hati ia kurang setuju—sang Master kugutsu itu kedengaran tak lebih dari seorang budak yang bisa dimanipulasi begitu saja, setelah selesai bisa langsung disingkirkan. Tapi ia tak menunjukkan pemikirannya barusan.

"Aku ragu apakah Sasori-sam—Sasori akan buka mulut semudah itu." kata Kankuro serius. Temari mengangguk, dalam hati ia mengiyakan kata-kata Kankuro barusan.

Pemuda berambut merah menyala itu mengambil onigiri terakhir yang tersisa, lalu memutar-mutarnya pelan sambil menatap nasi gulung di tangannya itu dengan pandangan penuh arti.

"Tenang saja.." katanya perlahan. "Suka atau tidak, ia pasti akan buka mulut."

Entah itu hanya imajinasi Kankuro atau memang kenyataan, ia merasa bahwa ia mendengar suara desik-desikan kecil pasir yang bergoyang di dalam guci pasir milik adiknya barusan.


.

.

Bersambung..

.

A/N: Chapter 2, akhirnya selesai. :D *makansosis*. Semoga anda terhibur setelah membaca ini. Maaf kalau pendek dan (rada) gaje.

Apa Temari dan adik-adik kelihatan OOC disini? Mohon kritiknya, saya berusaha menjaga setiap tokoh tidak terlalu melenceng dari karakter aslinya di canon. (Meskipun jadinya rada OOC juga sih -,)

Terima kasih kepada Moku-Chan, Kuromi no Sora, akasuna no ei-chan, Mizuira Kumiko, Yura Natsuki, taintedIris, dan allykeysa yang sudah me-review di chapter kemarin. Review kalian membuatku tersentuh (?). :) #maafauthornyaperasaanbanget

Terima kasih sudah membaca. Kritik atau saran untuk chapter depan, jika berkenan? :)