TEACHER AND ME

MAIN CAST: NAMJOON, SEOKJIN, YOONGI, JIMIN

PAIRING: NAMJIN/slight YOONMIN

RATE: T++

WARNINGS: TYPO, CERITA ABSURD.

.

.

.

Chapter 2

Flashback

Karena kemampuan memasak Namjoon dan Jackson yang sangat cetek. Mereka tak bisa mengolah bahan bahan itu menjadi makanan apapun yang layak konsumsi. Dengan berat hati, akhirnya segala makanan itu tersimpan rapih di Kulkas-entah akan digunakan kapan-lalu keduanya memutuskan untuk makan diluar.

Dan disinilah mereka di sebuah kedai pinggir jalan.

"kau sudah mendapat pekerjaan tambahan?" Tanya Jackson sambil mengaduk ngaduk bibimbap nya. Namjoon menggeleng.

"aku melihat berita di internet. Ada sebuah lowongan sebagai guru privat di dekat sini. Bagaimana kalau kau coba?"

Namjoon yang baru mau mengaduk makanannya, mendongak kearah Jackson yang sudah makan dengan lahap.

"Guru privat?" ulang Namjoon. Jackson mengangguk antusias. "kau juga sedang mengajar privat sekarang. Akan kerepotan jika mengambil kerja sampingan lagi. Kau harus mencari yang waktunya pas dengan jadwalmu." Kata Jackson tak begitu jelas karena mulutnya masih penuh.

"yeah kau benar. Sebenarnya aku ingin sebuah pengalaman baru sih, tapi kurasa, yang terpenting sekarang aku bisa dapat pekerjaan tambahan dulu."

"nah itu namanya semangat! Ayo habiskan makananmu. Setelah itu aku tunjukan lowongannya!" kata Jackson sambil menyuapkan sesendok penuh bibimbap kedalam mulutnya.

Esok siang setelah kuliah, Namjoon segera pergi menuju sebuah kantor yang tercantum di lowongan itu. dikatakan bahwa mereka tidak menerima lamaran melalui email, melainkan walk in interview. Namjoon heran sekali, kenapa lowongan guru privat di interview disebuah gedung kantor megah seperti ini.

Yang lebih mengherankan lagi adalah yang meng interview adalah CEO nya langsung. Ya, CEO perusahaan itu yang turun tangan. Dan disinilah Namjoon disebuah ruangan CEO yang mewah, berhadapan dengan CEO utama yang memimpin perusahaan.

Namjoon duduk tegap dikursinya, mencoba bersikap tenang meskipun tak bisa dipungkiri ia gugup juga melihat surat lamaran dan CV nya dibaca lekat lekat oleh sang CEO.

"jadi anda… Kim Namjoon?" tanya CEO itu, Kim Chanyeol tanpa melepas pandangan dari kertas ditangannya

"betula Tuan Kim."

"pengalaman bekerja?" tanya Chanyeol lagi. Namjoon jadi heran, sebenarnya pria ini benar benar membaca CV nya tidak sih?.

"kebetulan saya masih disibukan dengan kuliah, jadi pengalaman bekerja masih seputar kegiatan di kampus dan saya juga sedang mengajar privat sekarang." Jelas Namjoon kemudian dengan nada sopan serta senyuman berdimple andalannya itu.

Chanyeol mengerutkan dahinya. "benarkah?" lanjutnya lagi dengan nada tertarik. Pria itu sekarang menaruh kertas itu diatas meja dan mulai menatap Namjoon penuh minat.

"betul tuan Kim."

"berapa usia muridmu? Berapa orang?"

"hanya 1 tuan Kim, dia anak Tahun ke 3 Senior High."

"kebetulan sekali!" pekik Chanyeol tiba tiba, Namjoon hampir tersentak di bangkunya.

"baiklah. Kau diterima." Lanjut Chanyeol santai sementara Namjoon yang mendengar itu hanya mengerjap ngerjapkan matanya heran. Semudah ini?

Dia benar seorang CEO atau jangan jangan CEO gadungan.

Sadar dengan raut Namjoon yang kebingungan, Chanyeol tertawa renyah.

"begini, aku sangat sibuk dan tak bisa mempercayakan orang lain untuk mencari guru privat, karena ini untuk anakku sendiri. Aku tidak bisa percaya begitu saja pilihan orang. Dan kedua, aku sedang membutuhkannya secepat mungkin, lag ipula usiamu tidak begitu jauh dengan anakku. Kau tau, aku butuh guru yang tidak terlalu kolot dan bisa membuat anakku nyaman belajar. Jadi, kau kuterima." Lanjutnya kemudian dengan senyum ramah.

Mendengar itu terbersit sebuah perasaan salut pada pria paruh baya itu. Meskipun sibuk sebagai pemimpin perusahaan besar, ia tetap mengutamakan anaknya.

"benarkah?" ulang Namjoon tak percaya. Chanyeol hanya mengangguk sambil mengambil secarik kertas di atas mejanya.

"sore ini, datanglah ke rumahku. Kau bisa mulai bekerja hari ini. untuk jadwal mengajar, kau bisa rundingkan dengan anakku nanti. Aku harap kau bisa masuk 3 kali seminggu" kata Chanyeol sambil menuliskan alamat diatas kertas itu.

"ini alamatnya dan bayaranmu." Kemudian ia memberikan secarik kertas tadi dan sebuah amplop coklat yang ia ambil di laci meja pada Namjoon. Namjoon meraih kertas dan amplop itu dengan kikuk.

Tanpa sadar matanya sedikit terbelalak kaget saat menyadari amplop yang ia pegang cukup tebal.

Se-sebanyak ini?

"ah tenang, itu hanya setengahnya. Setengahnya lagi akan aku bayar akhir bulan." Kata Chanyeol buru buru, mengira Namjoon menganggap bayarannya terlalu sedikit.

Pria itu pasti bercanda!

"te-terima kasih tuan Kim."

"Sama sama Namjoon. baiklah, kau bisa pergi sekarang."

" kalau begitu aku permisi dulu tuan Kim, sekali lagi terima kasih banyak. Selamat pagi " kata Namjoon sopan sambil membungkukkan badannya

"selamat pagi, Namjoon. Sampai bertemu lagi"

.

.

Sore harinya Namjoon sampai di sebuah rumah mewah di pusat kota Seoul. Sebenarnya ia sudah memprediksikan hal ini. Tuan Kim adalah seorang CEO, pasti beliau tinggal di rumah yang besar. Hal itu juga terbukti dari alamat perumahan elit yang tertulis dikertas yang tuan Kim berikan.

Namun Namjoon tidak menyangka bahwa rumahnya akan semegah ini. beberapa detik pria itu mengerjap ngerjap dan mengecek sekali lagi alamat yang ia pegang.

Setelah merasa yakin, Namjoon pun menekan bel rumah-yang lebih terlihat seperti mansion-itu. tak beberapa lama pintu pun terbuka dan memperlihatkan seorang ibu muda dengan tubuh mungil. "selamat sore, saya Kim Namjoon, guru privat yang dipanggil oleh tuan Kim Chanyeol" kata Namjoon sopan sambil membungkuk

"ommoooo. Kau masih muda sekali." pekik si wanita dengan senyum kotak-nya yang cantik. Kulit mulus, tubuh langsing dan wajah cantik awet muda hasil perawatan mahal menunjukan bahwa ia pasti nyonya besar dikeluarga ini.

"kenalkan aku Kim Baekhyun. Anak ku sudah kuhubungi, tunggulah sebentar lagi." Kata Baekhyun lalu bergeser untuk mempersilahkan Namjoon masuk. Alih alih di ruang tamu, Baekhyun mengajak Namjoon ke ruang keluarga

Ramah- pikir Namjoon.

Saat Nyonya Kim sedang meminta maid untuk membawakan minuman dan makanan ringan untuk Namjoon, Pria itu sedang sibuk melihat sebuah foto keluarga yang dipajang di dinding ruang keluarga mereka yang luas dan nyaman, tapi bukan itu yang menarik perhatiannya, melainkan sebuah foto di dekat foto keluarga tersebut.

Tampak 2 orang laki laki-yang salah satunya tampak familiar-yang sedang tersenyum ke kamera. Dari latar belakang fotonya, sepertinya foto itu diambil saat keduanya berlibur di Paris.

"ah. Itu kedua anakku." Kata Baekhyun ramah saat ia mendapati tamunya itu sedang menatap penuh minat pada foto anak anaknya.

Namjoon yang kepergok buru buru menoleh ke Baekhyun yang sedang tersenyum kearahnya sekarang "anak.. anda?" ulang nya hati hati.

" iya, Yang pertama, yang memakai mantel pink itu namanya Seokjin, yang kedua, yang disampingnya namanya Taehyung." Jelas Baekhyun sambil menunjuk foto yang tadi Namjoon lihat. Namjoon mengangguk angguk mengerti. Jadi, si pria yang memukulinya semalam namanya Seokjin.

Tunggu dulu.

Kalau begitu….

"nah, Seokjin lah yang nanti akan menjadi anak muridmu Namjoon-sshi." Mata Namjoon membulat dan sebuah senyum tercipta diwajahnya. Beruntung sekali!

"aku harap, aku bisa mengajarinya dengan baik dan berteman dengannya, mengingat usia ku dan Seokjin-sshi tak berbeda jauh." Kata Namjoon pada Baekhyun sebelum nyonya besar itu kebingungan kenapa Namjoon senyum senyum sendiri.

Baekhyun mengangguk setuju

"jadi.. Kim Namjoon, kau sibuk apa akhir akhir ini." dan waktu menunggu Seokjin pun dilalui keduanya dengan obrolan hangat. Nyonya Kim benar benar memiliki kepribadian ramah-agak berbeda sih dengan anaknya-.

Tapi Namjoon sangat senang dengan semua kebetulan ini.

Pekerjaan ini benar benar tak bisa lebih baik lagi!

Flashback end

~ooo~

Keduanya masih diam berhadapan. Senyum Seokjin perlahan memudar, sementara Namjoon masih menatapnya. "apa kita akan diam saja?" sindir si pria lebih tinggi. Seokjin yang baru kembali ke alam sadar langsung gelagapan.

"ah.. duduklah." Seokjin mempersilahkan Namjoon duduk dengan kikuk. Si tuan rumah duduk lebih dulu diikuti oleh Namjoon. keduanya duduk berhadapan sekarang

"jadi… kau benar benar guru privatku?" ulang Seokjin hati hati. Waspada dengan kemungkinan buruk yang akan ia dengar. Namjoon diam sebentar, menatap Seokjin yang sedikit mengkerut ditempatnya.

"ya begitulah." Sahut Namjoon. Seokjin membatu dan tenggorokannya sedikit tercekat tanpa sadar. Sial. Kenapa situasinya jadi serumit ini. Namjoon memiringkan kepalanya lalu menyipitkan matanya yang sudah sipit itu.

"wajahmu tak asing omong omong." Kata namjoon penuh selidik. Seokjin tersentak dengan apa yang barusan ia dengar. Pria itu membaca berbagai macam doa di dalam hati. Berharap si Kim Namjoon menyebalkan ini tidak ingat padanya.

Ada keheningan diantara mereka sampai akhirnya salah satu nya membuka suara.

"ahhhh kau pria yang di supermarket kemarin kan?" lanjut Namjoon pura pura kaget, sementara Seokjin terbelalak. Jantungnya mencelos.

Astaga, apa tuhan membenciku?

"yang memukulku dan mengataiku penguntit." Cerocos Namjoon tak perduli, pria itu bahkan memasang tampang yang sangat menyebalkan. Seokjin sudah tidak tau lagi harus membatinkan doa apalagi untuk menyelamatkannya dari situasi ini.

Tuhan memang benar benar membenciku!

Seseorang tolong ingatkan anak sulung keluarga Kim ini untuk rajin ke Gereja.

"kebetulan sekali kita bertemu lagi, Seokjin-sshi." Sindir Namjoon lengkap dengan senyuman berdimple khasnya. Pria itu memang berkata dengan intonasi ramah dan sebuah senyum manis yang memikat, tapi telinga Seokjin bisa menangkap intonasi mencurigakan dari kata katanya barusan.

Seokjin menghela nafasnya. Ia akhirnya menyerah. Jelas sekali ia tidak bisa mengubah keadaan ini. "ma-maaf" cicit Seokjin, kepalanya tertunduk. Malu sekali

"apa?"

"maaf."

"aku tak bisa dengar."

Seokjin mendongak, ia mendengus keras keras. "telinga mu tuli atau tidak ada lubangnya? Aku bilang maaf."

Mendengar Seokjin yang sewot begitu Namjoon hanya tertawa pelan.

"aku tak sengaja okay. Aku salah paham. Jadi bisakah kau berhenti tertawa." Namjoon masih terkekeh. Seokjin menyipitkan matanya dan memandang Namjoon dengan sebal. Bolehkah ia menyambit gurunya sekarang? "aishhhh."

"hahaha baiklah baiklah. Aku maafkan. Lain kali, jangan lakukan hal itu lagi. Kau sangat ceroboh kau tau."

" kita baru bertemu dan kau sudah sangat percaya diri sekali menilaiku?" Seokjin melipat tangannya lalu memandang Namjoon dengan tajam. Siapa dia berani beraninya asal menilai pewaris utama Kim corp?

"dari cara mu bersikap saja aku bisa menilai kau orang yang ceroboh." Mendengar hal itu Seokjin reflek menatap ke tubuhnya sendiri, mencari tau apa yang salah. Namjoon yang melihat tingkah lucu Seokjin hanya tersenyum geli.

"kau ini! sudah! Kita mulai belajar saja" kata Seokjin kesal saat menyadari apa yang ia lakukan.

Seokjin meraih ranselnya lalu segera membawa Namjoon ke lantai dua,

.

.

"ini kamarmu?" tanya Namjoon dengan pandangan mengedar ke seluruh ruangan. Kamar itu sangat luas. Benar benar luas. Dihiasi dengan warna gelap dan sentuhan warna pink, kamar itu terlihat manis tanpa meninggalkan kesan kamar anak laki laki. Ranjangnya besar dengan perabot lengkap serta jendela yang tinggi, sampai menyentuh lantai.

Seokjin mengangguk dan menaruh ranselnya dengan asal disebuah kursi santai. "duduklah. Aku sudah meminta maid mengantar makanan ringan dan minuman. Aku mandi dulu." Kata Seokjin lalu berjalan kearah pintu kamar mandi yang ada di pojok ruangan.

Namjoon duduk dikursi santai itu. ia masih mengamati kamar Seokjin yang luar biasa bagus. Ada walking closet, sofa dan 2 kursi santai dan meja kecil yang seperti sebuah mini ruang tamu. TV layar datar yang besar menempel di dinding yang dihiasi lampu malam yang artistic. Dan ada sebuah lemari kaca besar berisi action figure Mario.

Tapi ada yang kurang.

Tidak ada meja belajar di kamar itu.

Dasar.

.

.

"sial! Sial! Siaaaal!" gerutu Seokjin sambil sibuk mondar mandi dikamar mandi. Nafasnya memburu, wajahnya keheranan tak percaya.

"dia guruku? Si penguntit itu? aishhhh. Bagaimana ini." monolognya. Sebenarnya Namjoon sudah tak begitu mempersalahkan itu. namun Seokjin masih saja malu. Astaga!

Bahkan ia sudah hampir lupa kalau senyuman pria itu yang menarik perhatiannya pertama kali. Ia lupa kalau awalnya ia 'terpana' pada sebuah senyuman. Yang ada sekarang malah perasaan malu, malu dan malu.

Seokjin mengatur nafasnya. "tenang… ia sudah memaafkanku. Semuanya akan kembali normal." Lanjutnya lagi, kembali bermonolog. Lengkap dengan senyum percaya dirinya yang ia lemparkan paa bayangannya di cermin. Dan setelah merasa lebih baik, Seokjin pun menanggalkan pakaiannya dan segera mengguyur badan dibawah pancuran.

Semuanya akan kembali normal kan?

.

.

Saat itu Namjoon sedang memainkan ponselnya sambil menunggu Seokjin selesai mandi. Pria yang lebiih muda itu datang dengan baju rumahan serta rambut setengah kering khas orang baru mandi.

Wangi sampo dan sabun menyapa indra penciuman Namjoon begitu Seokjin duduk didepannya.

"kau tidak punya meja belajar?" tanya Namjoon begitu saja setelah selesai mengamati kamar Seokjin. Seokjin yang baru duduk hanya mengerjap ngerjap lucu. Memproses kata kata Namjoon.

"huh?"

"meja belajar." Ulang Namjoon dengan penuh penekanan, berharap otak lemot anak didiknya mengerti dan tak minta diulang lagi. Mulut Seokjin terbuka sedikit, seolah otaknya baru konek.

"ohhh. Iya aku tidak punya meja belajar hehe." Namjoon menaikan sebelah alisnya. Kamar seluas dan nyaris sempurna ini tidak punya meja belajar? Dia mengerjakan tugas diamana? Kamar mandi?

"lalu dimana kau mengerjakan PR mu?"

"di sekolah." Sahut seokjin santai. merasa tak ada yang salah dengan jawabannya itu

"sekolah?" Namjoon mengulang dengan intonasi tidak percaya. Setahunya, PR adalah singkatan dari pekerjaan rumah yang seharusnya dikerjakan dirumah. Sejak kapan lokasinya berubah menjadi sekolah?

"ya begitulah. Aku selalu kelupaan, jadi pasti mengerjakannya pas pagi hari disekolah. hehe" Jelas seokjin, masih santai, lengkap dengan cengirannya seolah tidak ada masalah.

"kau lebih buruk dari yang kukira." Desis Namjoon dengan tatapan menyipit tajam.

"mwo?!" Namjoon mengabaikan ekspresi tak terima Seokjin, pria itu menghembuskan nafasnya kasar.

"yasudah, berikan aku hasil ulanganmu akhir akhir ini."

"untuk apa?"

"melihat sejauh mana kemampuanmu tentu saja." Jelas Namjoon, Seokjin mengangguk mengerti dengan wajah polosnya. Pria itu segera berjalan kearah nakas dan mengambil beberapa lembar kertas yang sudah lusuh. Seolah kertas kertas itu sehabis dijejalkan kedalam laci-atau dengan kata lain, disembunyikan dengan asal dibawah timbunan barang barang.

Namjoon mengambil kertas menyedihkan itu. mencoba meratakannya sesekali, meskipun kerutan kerutan lusuh masih terlihat jelas. Baru lembar pertama yang ia lihat, Namjoon sudah membulatkan matanya tak percaya.

"astaga!" Seokjin mendongak, memerhatikan Namjoon yang menatap kertas ujiannya dengan ekspresi remeh tak percaya.

"apa apaan ini?" sahut Namjoon lagi sambil terus melihat kertas kertas berikutnya. Seokjin yang mendengar itu Cuma bisa diam menatap tajam guru privat barunya.

Dan Namjoon terus saja mengomentari hasil ulangan Seokjin dengan sepatah kata yang langsung menohok.

"mengerikan."

Seokjin makin mengkerut dibangkunya, kepalanya tertunduk, malu, bingung, kesal. Ia tidak tau harus apa. Bosan dengan komentar sinis, Namjoon sekarang menatap kertas itu dengan senyum remehnya.

"pfttt" pria itu bahkan sampai menahan tawanya yang nyaris menyembur keluar.

"bodoh sekali." Namjoon terkekeh. Sementara Seokjin-tanpa sadar-mempoutkan bibirnya. Menyebalkan sekali!

Mata Namjoon membulat ngeri, "aku bahkan tak akan membicarakan soal yang ini"lalu ia buru buru melanjutkan penilaiannya ke kertas ulangan selanjutnya. Seolah ia baru saja melihat gambar hantu dikertas itu.

Dan Namjoon pun menjadi kritikus nilai yang sangat pedas. Ia terus terus dan terus melanjutkan kegiatan, yang tampaknya sangat ia nikmati itu.

Ia mulai lagi dengan komentar "kau pasti bercanda."

Lalu mulai menyebalkan seperti, "astaga, anak SD juga bisa lebih baik dari ini."

Sampai yang paling kurang ajar "yatuhan.. apa yang ada diotakmu."

Sebuah helaan nafas panjang menjadi penutup kegiatan Namjoon itu. ia merapihkan kertas ulangan tersebut dan memberikannya kembali pada Seokjin.

"baiklah, setelah kulihat lihat, dari semuanya, kau hanya bagus di Bahasa Inggris. Sementara nilai yang lain.. mengerikan." Seokjin mengambil kertas itu, sedikit meremasnya untuk meredakan emosi yang berkecamuk di dada.

"yang terparah adalah hitung menghitung." Ah, Seokjin setuju sekali dengan ini. ia tak pernah menyukai apapun yang memiliki rumus.

Namjoon diam sebentar, lalu ia menatap Seokjin dalam diam. "aku tak tau aku sanggup mengajarimu atau tidak." Lanjutnya serius sekali. yang akhirnya membuat Seokjin berdecak sebal. Namjoon bukannya tidak mengerti atau merasa benar benar tidak sanggup. Nilai Seokjin pun tidak separah yang seperti Namjoon komentari.

Tapi ia hanya senang menggoda anak didik nya itu. ia suka saat melihat Seokjin yang berubah ubah ekspresinya. Bagi Namjoon, itu lucu dan menggemaskan. Padahal Seokjin seorang pria tulen dengan badan yang bisa dikatakan ideal untuk seorang namja.

Apa namjoon keterlaluan?

Ayolah ia hanya bercanda, lagipula hitung hitung ini untuk balas dendamnya karena ulah Seokjin kemarin.

Sudah cukup bercandanya, Namjoon juga orang yang serius jika menyangkut tanggung jawab. Pria itu lalu mengambil buku matematika yang ada diatas meja. "yasudah. Coba kau baca dulu bab ini." ia membuka buku itu dan menunjukan sebuah bab lalu menyodorkannya pada Seokjin.

Posisi meja yang lebih rendah dari kursi dan tidak begitu besar membuat Seokjin aga kesusahan untuk membaca, ia membungkuk dan tampak kesulitan saat membuat catatan catatan kecil.

"ah, tempat ini tak mendukung. Apa kau punya tempat lain yang lebih baik?" tanya Namjoon akhirnya. Kalau Seokjin begitu terus, bagaimana ia bisa focus belajar. Seokjin menghentikan kegiatannya, lalu menegakkan badannya kembali.

"hmm. Perpustakaan? Ada perpustakaan kecil di lantai tiga, dekat dengan ruang kerja appa ku. Aku jarang kesana."

"bagus. Kita belajar disitu saja. Rapihkan bukumu." Kata Namjoon santai, Seokjin sempat mendengus sekali sampai akhirnya ia menuruti perintah Namjoon.

Lihat, baru sehari dia sudah tukang perintah seperti itu.

Keduanya pun keluar dari kamar dengan Seokjin yang berjalan lebih dulu di depan. Namjoon yang sedang berjalan dibelakangnya –dengan beberapa buku Seokjin yang ia bantu bawa-menatap punggung namja itu dengan seksama. ia tak melepaskan pandangannya bahkan saat mereka berpapasan dengan maid yang membawa makanan dan minuman yang Seokjin pesan sebelumnya.

"tolong antar kan ke perpustakaan saja." Perintah tuan muda itu dengan nada sopan yang membuat Namjoon semakin menatapnya penuh minat.

Dan akhirnya merekapun sampai di perpustakaan

.

.

Keduanya duduk berhadapan disebuah meja. Perpustakaan ini memang tidak luas tapi juga tidak kecil. Tergolong lengkap dan besar malah, untuk sebuah perpustakaan yang ada dirumah. Beberapa rak buku tinggi berdiri dengan koleksi koleksi buku lengkap dari berbagai topic. Seperti bisnis, politik, novel klasik dan bacaan bacaan lain-yang separuhnya adalah milik Tuan Kim.

Seokjin sudah selesai membaca bab yang Namjoon berikan, sekarang gantian guru itu yang mengambil buku Seokjin dan mulai menerangkan pelajaran. "baiklah, sekarang kita mulai. Aku akan mulai dari materi ini. jadi, jika kau menemukan soal seperti ini, yang pertama harus kau lakukan adalah mencari nilai X. dengan rumus ini." kata Namjoon sambil mencorat coret disebuah kertas. Menerangkan pelajaran dengan lancar dan lugas, tanpa terdengar menggurui seperti guru ke murid. Melainkan layaknya seorang kaka yang menjelaskan sesuatu pada adiknya.

Bahasa yang Namjoon gunakan juga santai dan mudah dimengerti.

"…lalu, masukan nilai yang kau dapat tadi… lalu…" padangan Seokjin teralihkan, bukannya memperhatikan Namjoon dan catatan yang ia buat, Seokjin malah menatap bibir tebal lelaki itu yang terlihat menghipnotis.

"…nah untuk contoh soal seperti ini kau harus menggunakan rumus yang ini." entah karena ia sudah mabok rumus atau suara Namjoon memang terdengar sexy di telinganya? Namjoon memiliki suara serak serak berat yang menenangkan, dan harus Seokjin akui.. itu keren.

Seokjin masih terus menatap bibir Namjoon yang bergerak gerak, menghasilkan suara sexy yang memanjakan telinganya. Anak sulung keluarga Kim ini tak menyadari, ia tidak berkedip sedikit pun dari tadi.

Namjoon menyudahi penjelasannya, ia menoleh menatap Seokjin di depannya, memastikan apa Seokjin memperhatikan atau tidak. "kau menger-" Namjoon menghentikan ucapannya begitu ia menangkap basah anak muridnya sedang melamun memperhatikan wajahnya.

Seokjin tersentak kaget. jantungnya berdegub keras

"what are u lookin at, kid?" tanya Namjoon penuh selidik dengan sebuah smirk diwajahnya.

"no-nothing. And by the way, im not a kid! Kurasa umur kita tak begitu berbeda jauh!" kata Seokjin gagap. Sialan. Kenapa juga aku harus gelagapan begini?

Namjoon menaikan sebelah alisnya, menilai gelagat Seokjin barusan. Sementara yang lebih muda mati matian menjaga sikapnya agar tampak normal. Namjoon mengangkat bahunya tak perduli.

"okay, kalau begitu, sekarang kerjakan latihan soal yang ini."

Seokjin pun buru buru mengambil buku latihan, mengerjakan soal memusingkan itu. setidaknya itu lebih baik daripada terus terusan memandang Namjoon. ia sudah tidak beradu tatap lagi dengan Namjoon, tapi jantungnya masih saja berdetak tak normal.

Ia mengintip diam diam kearah Namjoon yang ada di depannya. Tapi buru buru mengalihkan pandangannya lagi ke buku dihadapannya.

Sial! Dia mengawasiku.

Namjoon tersenyum kecil saat melihat tingkah Seokjin tadi. Setelah memergoki Seokjin yang menatapnya, ia jadi semakin gemas untuk menggoda anak didiknya. Pria itu malah balik memerhatikan Seokjin yang-pura pura-sibuk dengan soal yang ia berikan,

Seokjin mengambil asal buku matematikan di depannya, lalu mendirikan buku itu di atas meja dengan posisi terbuka. Persis seperti orang yang sedang membaca.

Seokjin sebenarnya tidak membaca buku itu. boro boro membaca, melirik pun tidak. Ia hanya butuh sesuatu untuk menghalangi pandangan Namjoon ke dirinya sebelum jantung Seokjin makin berdetak gila gilaan.

Sedang sibuk sibuknya mencoba meredakan debaran di dadanya, tiba tiba buku yang menjadi 'perisai' Seokjin jatuh dengan bunyi yang membuat pria itu kaget.

Seokjin mendongak, Namjoon baru saja menarik buku yang Seokjin baca, sehingga buku tebal yang tadi berdiri dengan posisi terbuka, sekarang tergeletak diatas meja.

"apa yang kau lakukan?!"

Namjoon masih diam dengan tatapan khas nya. Seokjin mengerjap ngerjap. Mencoba berfikir reaksi normal apa yang harus ia lakukan sekarang.

Diam beberapa detik sampai akhirnya Namjoon memajukan wajahnya kearah Seokjin. Pria itu membulatkan matanya kaget. kebingungan dengan situasi yang semakin tak membantu jantungnya.

"aku hanya mau ….." kata Namjoon pelan, membuat suaranya makin terdengar sexy. Seokjin memundurkan kepalanya, tapi Namjoon tak menyerah.

"bilang padamu kalau ….." Namjoon makin mendekatkan wajahnya kearah Seokjin, pria itu bahkan sampai berdiri demi memangkas jarak wajah mereka sampai sedekat mungkin.

Dada Seokjin bergemuruh, dengan jarak sedekat ini, ia cukup yakin si Namjoon menyebalkan itu bisa mendengar bunyi degub-annya.

Deg

deg

"buku yang kau baca….."

Deg

Deg

"terbalik." Kata Namjoon. Soekjin membatu. Mereka terus dalam posisi itu sampai akhirnya Namjoon kembali memundurkan badannya dan duduk seperti semula. Seokjin yang tersadar beberapa detik kemudian langsung kelabakan.

"eh-i-eng-a-eh-" Seokjin mencari elakan yang tepat tapi tak berhasil. Tangannya pura pura sibuk mencari kertas, buku, pulpen, atau apapun untuk meredakan salah tingkahnya-yang sebenarnya malah membuat dia lebih salah tingkah.

"bodoh." Gumam Namjoon, tapi masih bisa ditangkap oleh indera pendengaran Seokjin. Namjoon hanya mendengus geli sementara seokjin menghembuskan nafasnya kasar.

.

.

"baiklah.. kurasa hari ini cukup." Kata Namjoon begitu selesai mengoreksi semua jawaban Seokjin yang salah. Namjoon mengecek jam tangannya, memastikan berapa waktu yang ia punya untuk bersiap ke jadwal selanjutnya.

"karena hari pertama, belajar kali ini tidak usah lama lama dulu. Kebetulan aku juga ada urusan lain" kata Namjoon sambil membereskan barang barangnya dan memasukannya kembali ke tas. Seokjin mengangguk angguk mengerti.

"seokjin-sshi, kapan kau tidak sibuk?" Namjoon bertanya pada Soekjin dengan nada lembut. Tatapannya juga tidak menyebalkan seperti sebelum sebelumnya.

"eh?" tidak sibuk? Dia.. mengajakku… kencan?

"ah.. sibuk? Eng.. memangnya kita mau kemana?" dan hanya kalimat itu yang berhasil keluar dari mulut Seokjin, lengkap dengan tampang polosnya. Namjoon mengernyitkan dahinya bingung.

"apa yang kau pikirkan?" lanjut pria itu sambil tertawa pelan. Melihat Namjoon yang tertawa, giliran Seokjin yang sekarang mengerutkan keningnya.

"aku ingin menyocokan jadwal kita. Hari apa kau bisa belajar. Setidaknya aku butuh 3 hari dari waktumu dalam seminggu."

Astaga! Bodoh sekali kau seokjin!

"oh. Be-begitu.. ehmmm.. kamis jumat sabtu?"

"tidak bisa.. hari kamis aku sudah ada janji lain." Hari ini hari kamis, Namjoon sebenarnya ada jadwal mengajar lagi, tapi karena tuan kim memintanya datang sore ini ia tidak enak hati untuk menolak.

"lalu kau bisanya kapan?"

"selain hari Rabu, Kamis, aku bisa." Kata Namjoon yang sudah selesai merapihkan barang barangnya. Ia memakai tas nya lalu menatap Seokjin dengan senyuman lembutnya tadi.

Senyuman yang membuat Seokjin tak berkedip saat menabrak pria itu. Seokjin berdehem sekali.

"yasudah, Senin, Selasa, Jumat."

"baiklah aku setuju. Oh iya, bisakah kau memberikanku ponselmu?"

"untuk apa?"

"berikan saja." Seokjin merogoh saku celananya dan memberikan benda pipih itu pada Namjoon. Namjoon sempat mengembalikan kembali begitu ponsel itu meminta untuk memasukan password terlebih dulu.

"kita harus menyimpan nomor masing masing. Dengan begitu kita bisa saling berkabar dengan mudah." Kata Namjoon saat Seokjin sudah membuka password ponselnya dan memberikan kembali pada Namjoon. pria itu sibuk mengetik sebuah nomor di ponsel lalu menyentuh pilihan dial

"berkabar?" tanya Seokjin heran. Sementara Namjoon sedang mengecek ponselnya sendiri, memastikan panggilan dari ponsel Seokjin tersambung ke miliknya.

"ya… misalnya kalau ada keperluan belajar atau semacamnya." Lanjut Namjoon. setelah ia selesai menyimpan nomer Seokjin di ponselnya.

"ini, sudah ada nomorku juga di ponselmu" kata Namjoon ssambil memberikan kembali ponsel itu ke pemiliknya.

"baiklah, aku pulang dulu. Sampaikan salamku untuk nyonya Kim. Aku pamit Seokjin-sshi. Permisi."

"ne.. terima kasih untuk hari ini."

Dan Namjoon pun keluar perpustakaan, meninggalkan Seokjin sendirian yang masih menatap kepergian pemuda itu.

~ooo~

Makan malam pun tiba. Berhubung Chanyeol dan Baekhyun sedang ada di Korea, mereka selalu menyempatkan untuk makan bersama keluarga. Tak perlu restoran mewah, makan bersama dirumah adalah tempat favorit keluarga mereka untuk makan malam sambil berbincang hangat.

Mengingat, Chanyeol sangat sibuk, dan momen itu susah sekali didapatkan.

Tapi ada yang berbeda dari makan malam itu. Seokjin yang biasanya paling lahap makannya, ribut dimeja makan dengan adiknya. Saling meledek sampai acara makan malam bisa menjadi acara lempar makanan, malah menjadi pendiam.

"jinnie, apa makanannya tidak enak?" tanya Baekhyun yang duduk disampingnya, menatap anak sulungnya khawatir.

"huh? Apa eomma?" Seokjin yang sedang melamun, tersentak kaget begitu Baekhyun menyentuh pundaknya pelan. Chanyeol dan Taehyung yang duduk di depannya ikut ikutan menatap Seokjin penuh tanya.

"dari tadi kau memainkan makananmu. Kau kenapa?"

"ani.. tidak ada apa apa." Bohong Seokjin, lalu kembali menyuapkan makanan kemulutnya.

"oh iya, ngomong ngomong, bagaimana hari pertama mu belajar privat Seokjin? Apa dia menyenangkan?" tanya Chanyeol tiba tiba, membuat seokjin tersedak. Buru buru Baekhyun memberikan gelas air putih untuk anaknya yang langsung diminum habis.

"ah.. soal itu…" kata Seokjin setelah menelan tegukan terakhir.

Aduh, bagaimana menjelaskannya?

"apakah kau nyaman belajar dengannya?" belum sempat menjawab, Chanyeol sudah bertanya lagi.

"ah… itu… aku.. se-"

Otak. Aku mohon. Bekerja sama lah.

"bicara yang jelas nak." Tegur Baekhyun. Bagaimana Seokjin menjelaskannya? Apa ia harus jujur? Memberi tahu bahwa ia memukuli guru privatnya dan mengatainya penguntit? Lalu si Namjoon itu membuat nya malu sekarang. Dan setiap kali mengajar pria itu selalu membuat jantung Seokjin berdebar keras, begitu?

"eng.. anu.. itu.. malu.. hmm. Anu.. keras."

"hah? Anunya keras?" celetuk Taehyung dengan wajah polosnya. Chanyeol dan Baekhyun langsung melemparkan death glare pada Seokjin. Buru buru Seokjin mengoreksi kembali sebelum Taehyung makin bertanya kemana mana.

"bu-bukan begitu! Aish! Di-dia.. dia berusaha keras untuk membuatku mengerti ayah." Kata Seokjin akhirnya.

"bagus dong"

"kau sebodoh itu hyung?" yang benar saja sampai seorang guru berusaha keras untuk mengajar. Pasti otak kakanya sudah tak tertolong lagi.

"maksud- ah sudah lupakan saja. Aku tidak mau membahas apapun soal Namjoon"

"Namjoon?" Chanyeol mengkerutkan dahinya. "Seokjin. Dia gurumu. Panggil dengan sebutan Namjoon-ssaem" tegur Chanyeol tegas. Seokjin hanya mengangguk asal.

Bagus. Sekarang aku harus memanggil si menyebalkan itu dengan embel embel ssaem.

.

.

Entah apa mimpi Jackson semalam, yang jelas ia bahagia sekali begitu pulang kerumah dan menemukan banyak sekali makanan di meja makan. Ada ayam, daging, sup, kue, buah. Stock kulkas mereka juga penuh dengan makanan bergizi yang mudah dimasak. "wow… kau habis menang lotre atau bagaimana?" tanya Jackson kebingungan

"tidak.. aku diterima bekerja menjadi guru privat yang kau tawarkan itu. lalu hari ini aku langsung bekerja. Dan kau tau, aku sudah dibayar setengahnya dan jumlahnya lebih dari yang kuharapkan." Kata Namjoon antusias sambil menyiapkan makanan dimeja makan.

"wah, yang benar?" Jackson yang mendengar itu jadi takjub sendiri.

"menurutmu aku bisa beli ini dari mana."

"wahhh kau benar benar makmur Namjoon!" sahut Jackson bahagia sambil mendudukan dirinya dikursi meja makan. Keduanya pun tengah duduk bersama menikmati makan malam dengan makanan berlimpah yang jarang terjadi ini.

"untuk bulan ini, biar aku yang membayar uang sewa dan semua tagihan serta keperluan bulanan. Kau focus saja untuk biaya ibumu, arra?" kata Namjoon disela sela makannya. Jackson yang mendengar itu tersenyum lalu menggeleng.

"kau tidak usah sampai seperti itu Namjoon, ini uangmu."

"bicara apa kau! Ibumu sudah kuanggap ibuku sendiri. Sudah. Aku tidak menerima kata penolakan!" Kata Namjoon tegas, pura pura marah. Jackson menatap sahabatnya itu lekat lekat.

"baiklah.."

"thanks buddy." Lanjutnya dengan senyum tulus. Sementara Namjoon mengibaskan tangannya, memberi kode bahwa itu bukan apa apa.

"omong omong.. bagaimana muridmu kali ini? apa dia cantik? Sexy? Hot?" tanya Jackson penuh selidik dengan senyum jahilnya. Namjoon tertawa.

"yak! otakmu Mesum sekali!"

"hahaha, aku serius.."

Pria itu tersenyum lalu kembali mengingat seharian ini dengan Seokjin. Dan sebeuah kalimat keluar dari mulutnya tanpa ia sadari

"dia…. menarik" kata Namjoon dengan seulas senyum penuh arti.

Kau benar benar menarik perhatianku. Kim Seokjin

.

.

.

TBC

Haa.. maaf aku update malem malem. Ada yang baca ga? Hehehe.

Aku gatau pilih cast siapa untuk orang tua Jin. Jadinya milih chanbaek. Soalnya baek mirip tae dan aku pernah nemu foto jin mirip chanyeol. heheheh

Btw untuk Namjin ini konfliknya ga berat kok dan aku juga ga mau bikin panjang panjang takut bosen. Hehehe

Oh iya aku mau tanya, berhubung army baru aku belum tau banyak nih. Aku mau minta pendapat chingudeul, kira kira cast yang cocok untuk deket sama jin dan namjoon siapa ya? Dulu aku pernah nemu ff yang jin nya sama hyosang. Nah kira kira selain hyosang siapa lagi? Dan kalo di namjoon siapa?

Thankyou udah baca. Jangan lupa review nya ya.. ;)

-tachi-