UPDATE~ yey, akhirnya aku update nih.. oke deh, aku ga tau harus ngomong apa lagi..
Met baca Readers ^^
Disclaimer: Kingdom hearts bukan punyaku~~ yang punya Square Enix, Disney sama Om Tetsu aku hanya punya alurnya aja .. wakakaka
Genre: Mistery dan Horor... tapi, aku ga yakin kalo fic ini berbau Horor == wahhaa
Character: Sora, Riku, Heyner, Vanitas ^^
NB: Di bawah ini adalah Sora POV ^^
The Old Clock Chapter 1
"Bagaimana harimu di sekolah Sora?" tanya Ayahku.
" Lumayan sih. Hari ini aku mendapat teman. Namanya Riku."jawabku sambil meletakkan sepatuku di rak.
" Oh, Riku yah, dia orangnya seperti apa?" tanya Ayahku. Seperti biasa, seorang ayah pasti menanyakan asal usul temanku, karena khawatir aku salah pergaulan.
" Dia anak ketua komite, dia pintar dan pendiam. Dia berambut silver panjang." kataku. Ayahku hanya memangguk paham, lalu aku berjalan ke sofa sebelah Ayahku. Kami menonton TV bersama.
Saat waktunya makan malam, aku memasak 2 nasi goreng pedas. Yeah, aku hanya tinggal dengan Ayahku, Ibuku sudah tiada saat aku masih sangat kecil. Lalu Ayahku yang jadi ilmuwan sangat sibuk. Karena itu, aku menjadi pendiam, itu kata saudaraku. Tapi, aku cuek saja.
Setelah makan, aku langsung mengerjakan tugas yang hari ini diberikan hari ini.
Lalu, aku tertidur.
-Inside Sora's dream-
Aku berjalan di sekolahku. Hari ini terlihat sangat sepi. Yeah, karena aku berada di sekolah, sangat pagi. Aku mencoba untuk menyusuri jalan yang ada di sekolah. Aku mengingat lagi, tempat yang Riku tunjukkan padaku.Mulaidari gedung Play Group, gedung SD, gedung SMP, gedung SMA. Sekolahku sekarang lebih bagus.
Aku berkeliling gedung SMP-ku. Aku melihat taman di belakang sekolah, rumputnya hijau lebat. Tidak ada sampah yang berserakan dan pohon yang besar dan lebat berada di tengah taman. Tapi, hanya ada 1 pohon yang cukup besar, dan sepertinya, pohon itu yang paling tua. Pohon itu ada di pojok taman.
Lalu, aku berjalan lagi ke ruang guru. Sebelum ruang guru, ada sebuah kapel. Tetapi, ada suara jam tua yang berdentang lirih dari dalam kapel. Saat aku ingin memegang gagang pintu, tiba-tiba aku mendengar suara, tepatnya suaraku bisikan...
-End Of Sora's Dream-
Aku terbangun dari mimpiku. Tidak seperti biasanya aku mimpi buruk. Tapi, mimpi ini aneh sekali, hanya berada di sekitar sekolah baruku dan suara-suara yang berbisik
"Jam Tua…" kata-kata itulah yang kudengar. Tapi, suara yang membisikan kata-kata itu sangat unfamiliar. Lalu aku memutuskan untuk mandi.
"Pagi, Yah~" sapaku pada Ayahku yang sedang nonton berita
"Pagi... Sora? Tumben kamu bangun gasik..." kata Ayahku
"Sora mimpi buruk... jadi Sora memutuskan untuk bangun pagi dari pada melanjutkan mimpi buruk itu..," jawabku enteng. Lalu aku berjalan ke dapur, dan mengambil susu di kulkas. Aku menuangkan susu itu ke dalam gelas, dan meneguknya.
"Um, Ayah nanti mau makan apa?" tanyaku
"Nanti Ayah ada rapat. Jadi Ayah makan di kantor. Kamu saja yang makan." Kata Ayahku sambil menonton berita.
Lalu, aku mengambil 2 roti tawar, lalu mengoleskan selai coklat. Hum, selai coklat adalah selai kesukaanku. Aku memakan Roti itu dengan lahap. Bahkan aku habis 4 tangkup roti, hahahaha.
Lalu aku berangkat ke sekolah. Hum, sekolahku jauh dari rumah. Butuh waktu 15 menit untuk sampai jika kamu menggunakan sepeda untuk ke sekolah. Sesampainya di sekolah, halaman masih terlihat sepi. Yeah, sekarang kan masih pagi, kira-kira setengah jam lagi bel masuk, dan kebanyakan murid di sekolahku, berangkat jika 10 menit sebelum bel berbunyi. Lalu, aku langsung menuju kelasku.
Di kelas, masih terlihat sepi. Karena hanya beberapa orang yang sudah datang dan Riku juga sudah datang. Aku berjalan ke bangkuku dan menaruh tas. Kemudian aku mendekati Riku.
"Hai Sora. Tumben kamu berangkat pagi?" kata Riku.
"Ahaha, lagi niat dateng pagi aja..." jawabku asal. Aku tidak mau membahas tentang mimpi buruk itu lagi.
"Oh, eh tugas yang di kasih kemarin aku sudah selesai?" Tanya Riku.
"Ahaha, aku kurang nomor 5 esay. Susah banget. Nyerah aku…" kataku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Hum, nomer 5 esay yah… Huh? Gampang kok. Sini kuajarin…" kata Riku. Lalu aku mengambil buku tugas dan Riku mengajariku.
Ternyata soalnya memang gampang. Apa lagi Riku menjelaskannya dengan kata-kata yang bikin mudeng. Kadang, dia menjelaskan dengan contoh di kehidupan.
Tak terasa, aku berbincang-bincang sama Riku memakan banyak waktu. Sekarang bel masuk sudah berbunyi. Aku kembali ke bangkuku.
Selama pelajaran, aku tidak bisa konsen. Apa lagi, sekarang aku bisa mendengar suara bisikan yang sama seperti di mimpiku walau samar. Ada apa sih dengan"jam tua" itu? Sepertinya menghantuiku terus.
"Ra...Sora!"
"Huh? Oh, ada apa Heyner?" tanyaku kepada Heyner, teman sekelasku yang berambut blonde berantakan.
"Hah, jangan melamun dong. Kamu di panggil tuh." katanya.
"Ohh, Thank's Heyner." Kataku. Lalu aku berjalan menuju meja guru.
"Maaf, memanggilku?" tanyaku.
"Iya. Tolong ambilkan kertas soal di ruang guru. Meja ada di sebelah Miss. Larxene, kamu tau letak ruang guru kan?" Tanya . aku hanya mengangguk paham. Lalu aku berjalan ke luar kelas.
Sekilas, aku melihat wajah Riku terlihat sedikit cemberut. Pasti karena bilang "kertas soal" yang berarti bakal ada ulangan mendadak. Setiap murid paling sebel kalo ada ulangan dadakan, karena itu teman sekelas protes. Karena tidak di tanggapi, mereka hanya mengeluh.
Aku berjalan menyusuri koridor sekolahku. Yeah, sekolahku memang besar, tapi kalau sedang sepi jadi menakutkan. Apa lagi kalau sendirian.
"Hum, habis belokan di depan ada kapel, lalu ruang guru ada di pojok kiri sih.. kalau tidak salah.." kataku pada diriku sendiri. Lalu aku berjalan cepat munuju ruang guru.
Saat di depan kapel, aku mendengar suara jam berdentang. Walau samar, aku yakin suara jam itu berasal dari dalam kapel.
"Huh? Jam berdentang? Aneh, perasaan di dalam kapel tidak ada jam tua deh. Apa lagi sekolahku yang bisa dibilang modern, menyimpan jam tua di kapel. Kurang kerjaan banget kan? Atau ini hanya perasaanku yah?" pikirku dengan gaya detektif.
Karena penasaran, aku membuka pintu kapel, lalu masuk ke dalam. Aku melihat sekeliling, tidak ada jam tua. Aku baru menyadari kalau jam tua itu sudah tidak berdentang.
"Huh berhenti? Masa sih ini hanya perasaanku saja?" tapi, suara jam itu memang sudah tidak terdengar lagi. Kapel ini kosong dan hening. Lalu aku memutuskan untuk kembali ke ruang guru untuk mengambil kertas soal.
Saat aku memegang pintu kapel, suara jam berdentang lagi.
"Kai ini, memang bukan perasaanku. Kalau begitu, pasti ada ruang tersembunyi di dalam kapel ini." Kataku dengan senyum nakal.
Aku berjalan menuju altar, mengikuti suara jam berasal. Lalu aku memeriksa di sekitar altar, tapi tidak ada tanda apa-apa. Lalu aku mempertajam dan memfokuskan pada suara itu.
Ternyatal suara itu berasal dari balik lukisan yang besar di dinding sebelah kiri altar. Hum, lukisan itu adalah lukisan Lucifer. Setauku, Lucifer adalah setan di masa lalu. Lalu aku menggeser lukisan itu. Ternyata, ada pintu yang tepat berada di belakang foto itu.
Aku tersenyum nakal, lalu membuka pintu itu "Sepertinya menarik," kataku dalam hati. Suara jam itu sudah tidak terdengar lagi, tapi rasa penasaranku akan lorong ini sangat kuat. Lalu aku memasuki pintu itu.
Lorong ini sangat gelap. Tidak ada satupun penerangan di lorong ini. Lantai dan dindingnya juga udah licin karena lumut. Karena itu, aku berjalan sangat hati-hati. Di ujung lorong, hanya ada 1 pintu, ku putar gagang pintu, dan membuka pintu itu.
Ruangan ini, gelap, hanya ada sinar jam tua yang jadi penerang di sana. Lalu, aku melihat secarik kertas barada di lantai.
"Thank's sudah menemukan tempat ini. Sekarang kamu akan mengetahui masa laluku dan pecahkan masalahku kalau kamu ingin hidup!"
-Vanitas-
"Va-Vanitas? Nama itu sangat familiar bagiku, tapi, aku mendengar nama itu dimana?" tanyaku pada diriku sendiri.
Dan saat itu juga, jam berdentang sangat keras. Aku merasa sangat pusing. Kepalaku berdenyut seiring jam berdentang.
Anehnya, banyak ingatan dan suara yang bertumpuk dan bercampur di kepalaku. Aku tidak kuat denagn sakit kepalaku. Aku terjatuh dan padanganku mulai kabur.
"Ping-san... oh god, jangan! Aku tidak mau pingsan di..si..ni…"katalu pelan, lalu badanku lemas, dan akhirny aku jatuh pingsan.
-Inside Sora's memory-
Aku merasa jatuh dalam kegelapan. Gelap, sangat gelap. Lalu aku melihat berkas ahaya. Aku meraih cahaya itu dan anehnya, cahaya itu masuk ke tubuhku. Lalu tiba-tiba tempat ini berubah jadi ruang kelas. Aku sedang berdiri di belakang. Tapi, tidak ada yang tau dengan kehadiranku. Aku bereriak jugatidak ada yang mendengar. Sepertinya memang aku tidak terlihat.
"Greek"
Pintu terbuka dan seorang guru memasuki kelas.
"Anak-anak, hari ini kalia akan mendapat teman baru... silahkan masuk!"
Seorang anak berambut hitam spiky memasuki kelas. Saat dia menengadahkan kepalanya, aku terkejut bukan main. Dia, mirip banget sama aku. Hanya warna rambut dan matanya saja yang beda. Rambutnya hitam dan matanya berwarna emas mengkilat. Sorot matanya juga tajam namun terlihat kosong.
Aku memandangi dia, bener-bener sama seoertiku. Tinggi, ukuran badan, bahkan muka juga sama. Bagaikan bercermin di depan cermin besar.
"Yak seilahkan perkenalkan dirimu!"
"Alright. Namaku Vanitas Reinhard. Aku pindahan dari SMP Sky." Katanya datat dan dingin.
'Huh? Smp Sky? Pantas saja aku sangat familiar sama nama , Wait a Sec! Vanitas, Ahh, di surat itu juga ada nama Vanitas. Memang apa yang terjadi padanya?' batinku.
"Okay Vanitas, silahkan duduk di bangku kosong itu!" Vanitas hanya mengangguk pelan, lalu berjaln ke bangkunya.
Dia duduk, lalu menatapku tajam. Senyum sinisnya menghiasi bibirnya. Aneh, bukankah au tidak terlihat? Apa Vanitas bisa melihatku?
Lalu dia mengucapkan kata-kata
"Enjoy your bad dreams that continue to haunt you!"
"Huh?"
Lalu, aku terdorong ke belakang , tiba-tiba aku kembali terjatuh ke tempat yang gelap. Lagi-lagi, sebuah berkas cahaya mendekati. Cahaya itu makin terang, dan sangat nyaman.. lalu aku terbangun...
To Be Continue
Huftt.. akhirnya selese juga nih… haha, bagaimana readers? Masih kurang yah? Gomen-nee~
Oh iya, kalau masih ada miss typo, gomen, aku lagi ga focus hehehe…
Sora: Miss typo adalah hak dan kewajiban seorang Author loh~
Me: i..iya sih.. menurutmu gimana Vani?
Vanitas: Don't ask me !
Me: ke… KEREN ! Vani ku peluk kau! Sini! Sini ! wahaahah
Vanitas: Don't touch me Idiot!
Me: AWW~~ your so awesome..
Sora: Man, she totally talkativfe. Well, she order me to tell you something,
Review Please^^
