Saat Pernyataan


You're wondering why

I talk to you as if you knew me

But what would years of wrong impressions

Do besides distract you from

What should have been me

.

-Loud Family, Years of Wrong Impression-

ooo

"...ya, dan aku memegang pisau itu"

Sai berucap dengan mantap. Keringat mengucur perlahan menuruni pipinya. Jelas sekali ia gugup.

"Kau mencabut pisaunya? Mengapa?" tanya seorang Opsir yang duduk dihadapan Sai. Sai menelan ludah, "Darahnya masih mengalir. Astaga, aku dapat dengan jelas melihatnya. Kupikir ia masih hidup. Kupikir aku hanya tak bisa merasakan nadinya saja karena gugup. Namun setelah kucabut pisaunya ia tetap tak bergerak. Aku hanya berpikir jika aku mencabut pisaunya, ia akan selamat."

"Mengapa setelah kau memeriksa nadinya dan menyatakannya meninggal, kau tak langsung menelepon polisi? Atau keluar untuk memanggil tetangga?" tanya Opsir itu lagi. Dan sialnya ia benar. Sai kini hanya bisa mengutuk sikap bodohnya tadi. "Aku hanya tak yakin...aku...ah, aku panik."

"Jika kesaksianmu benar, mengapa kau tak membukakan pintu untuk tamu yang datang? kau bisa meminta bantuannya untuk memanggil polisi, jika kau terlalu panik... atau semacamnya. Mengapa kau lebih memilih hanya diam disana sampai gadis itu membuka pintu?"

Skak Mat.

Jika Sai punya jawaban, pasti ia akan menjawabnya langsung. Namun sayangnya ia juga tak tahu mengapa ia belari kearah pintu saat bel berbunyi. "Aku...aku...panik. Tak tahu apa yang harus kulakukan saat itu"

"Apa itu artinya kau tak punya jawaban?" seorang polisi lain yang berdiri dibelakangnya ikut bertanya. Sai diam sebentar, lalu menggeleng.

"Dengar, kau tak punya alasan berdiam diri di ruangan itu lebih lama, kecuali karena kau adalah pelakunya" ujar Opsir dengan nada rendah dan dalam. Sai melebarkan mata. Sadar benar bahwa dirinya kini menjabat gelar sebagai Tersangka Utama kasus ini.

"Aku tak membunuhnya! Astaga, dia temanku. Aku tak punya alasan sedikitpun untuk membunuhnya" ujar Sai sebagai pembelaan diri. Sang Opsir hanya mengangkat bahu, "Sudah berapa lama kalian terlibat proyek pembuatan film bersama?"

"Lima tahun belakangan ini. Tepatnya empat film yang kami produksi bersama. Dia editor handal. Pandai memanipulasi adegan, khususnya adegan action. Dan demi tuhan. Aku tak pernah terlibat pertengkaran apapun dengannya. Kalian bisa tanya dengan kru lain di Rumah Produksi jika tak percaya" peluh di dahi Sai masih sesekali menetes. Tiga polisi di ruangan ini pasti memerhatikan seluruh gerak-geriknya, namun ia tak peduli. Yang ia katakan seluruhnya ialah kejujuran.

"Dan di keempat film itu, kau selalu menjadi sutradara?"

Sai mengangguk. "Aku selalu menyerahkan editorial proyek film terbaikku padanya"

Opsir dihadapannya mengangguk-angguk, lalu membaca berkas yang ada diatas meja sekilas, "Apa benar saat ini kalian sedang dalam proses pembuatan film?"

Sai kembali mengangguk. "Prosesnya sudah 80%. Syuting sudah selesai, hanya tinggal proses editing sedikit lagi dan semuanya akan selesai. Hari ini aku berencana bertemu dengannya untuk membicarakan finishing touch film ini. Namun hingga siang ia tak kunjung datang ke Rumah Produksi dan teleponku pun tak satupun ia angkat, karenanya aku datang menyusul ke apartemennya."

"Mm... begitu. Apa judul filmnya?"

-ooo-

"Airmata Matahari" tandas Ino, lalu bangkit sebentar untuk membetulkan posisi duduknya, sebelum kembali melanjutkan, "Kupikir judul film itu sangat menarik, juga sinopsisnya. Karenanya aku memutuskan untuk menjadikannya bahan ulasan tesisku. Untuk alasan itu pulalah aku menemui korban hari ini"

"Kapan kau pertamakali mengenal korban?"

"Satu minggu lalu. Kankuro adalah kenalan kakak temanku yang kebetulan terlibat pula di dunia perfilman. Sejak aku bercerita pada temanku bahwa aku akan mengambil film ini untuk bahan tesisku, ia menyarankan aku menemuinya karena Kankuro adalah editor utama film ini. Jadi…. Begitulah"

Seorang polisi wanita yang duduk dihadapan Ino mengangguk, lalu menuliskan sesuatu di catatannya. "Apa kesan pertamamu saat melihat saudara Sai tengan duduk disamping korban…."

"Berjongkok" koreksi Ino. Polisi tadi mengulang pertanyaannya, "Baiklah, berjongkok disamping korban sambil memegang pisau?"

Ino berpikir sejenak sebelum menjawab, "Aku….tentunya yang terpikir pertama kali ialah….ia sedang membunuh Kankuro dengan pisau itu. Dan….. aku tak tahu lagi"

Polisi wanita itu terdiam, menunggu keterangan Ino lebih lanjut. Namun Ino tak meneruskan kalimatnya. "Hanya itu?"

Ino menggigit bibir, "Aku terlalu panik, takut, disaat yang bersamaan. Satu-satunya yang kupikirkan saat itu hanyalah melapor polisi dan lari menjauh" Ino berhenti sejenak, "Dan yang kutakutkan benar saja, setelah melihatku dibalik pintu, pria itu mengejarku. Dan….dan demi tuhan, aku berpenyakit dan aku tak mampu berlari terlampau jauh. Kemudian akhirnya aku pingsan kehabisan napas"

"Kami sudah tahu kondisimu dari dokter yang menanganimu di rumah sakit. Kau tak periu mengungkitnya lagi. Sekarang kau boleh pulang dan beristirahat. Tapi bersiaplah jika suatu saat kami memanggilmu untuk bersaksi di pengadilan"

-ooo-

Sai mengembuskan napas berat. Amat berat. Jika ia tahu Kankuro dibunuh, maka ia akan datang lebih awal. Dan….sudahlah. Sekarang ia harus memikirkan masa depannya.

Ponselnya berbunyi; telepon dari Rumah Produksi.

Sai mengumpat frustasi, walau akhirnya mengangkat telepon itu juga. "Chojuro?"

"Kau masih di kantor polisi?" orang di seberang sana bertanya tergesa, dan Sai hanya menjawab sekenanya, "Ya. Aku akan kesana sekarang"

"Apa yang terjadi sebenarnya? Aku lihat di televisi….."

"Aku akan kesana sekarang." Potong Sai gusar, lalu memutuskan sambungan telepon. Televisi? Ya, para wartawan sialan itu entah bagaimana bisa langsung menghirup aroma kasus ini. Padahal Sai mengira wartawan takkan secepat itu. Dan ini jelas berita buruk baginya.

Dan filmnya.

Sai kembali mengembuskan napas berat saat kembali mengingat filmnya. Proyek yang bahkan belum diselesaikannya. Yang tentu saja akan tertunda dengan hadirnya kasus ini.

Maka dengan gontai ia melangkah menuruni tangga, menuju pintu rahasia kantor polisi, beranjak pulang. Ia tentunya takkan diizinkan pulang melalui pintu depan karena jajaran wartawan sudah menunggunya sejak siang. Sai bahkan tersenyum pahit saat membayangkan wajahnya akan menghiasi halaman pertama koran esok pagi dengan judul berita: Seorang sutradara ternama menjadi tersangka pembunuhan.

Astaga.

"Kau yang mengantarku ke rumah sakit?"

Sai menoleh. Lalu mendapati gadis berambut pirang berdiri beberapa meter dibelakangnya. "Ya, kunci mobilmu kuberikan pada polisi"

"Jadi aku diantar menggunakan mobilmu?" gadis itu bertanya dengan ekspresi datar. Sai menatapnya ganjil, "Ya"

"Terima kasih"

Gadis itu berterima kasih? Oh ya, Sai hampir lupa bahwa gadis itu sekarat saat ia membawanya ke rumah sakit. "Sama-sama"

Mereka bertatapan selama beberapa detik. Pikiran Sai sedang kacau. Ia merasa harus mengatakan sesuatu pada gadis itu, namun tak tahu apa.

Dan akhirnya gadis itu yang memulai percakapan.

"Jadi kau benar melakukannya?"

"Pembunuhan itu?" Sai mengangkat alis tinggi-tinggi, merasa tersinggung. Bagaimana bisa gadis ini menanyakannya dengan wajah amat datar? Seolah baru menanyakan apa-kau-meminjam-pulpenku-barusan?

Gadis itu mengangguk.

Sai emosi. "Dengar. Aku tidak membunuhnya. Aku. Tidak. Membunuhnya. Aku menemukannya sudah dalam keadaan seperti itu. Aku hanya masuk, panik, gemetar, mencabut pisau, lalu kau dating. Apa itu cukup jelas, Nona?"

Alih-alih menjawab, gadis itu malah berjalan menuruni tangga. Memperkecil jaraknya dengan Sai. "Apa aku bisa memercayaimu?"

Sai tahu persis gadis itu tengah menatapnya curiga. Dan tentu saja ia tersinggung. Sai ingin marah namun ia tak ingin mengundang perhatian beberapa polisi yang bertebaran di sekitar mereka. Tak periu menambah masalah.

"Terserah kau saja" Sai akhirnya memutuskan untuk mengabaikan gadis itu dan berbalik untuk pulang. Namun suara hak sepatu dibelakangnya menandakan gadis itu tengah mengikuti langkahnya.

"Aku tak bermaksud mencurigaimu, aku hanya bertanya. Bagaimanapun… bagaimanapun jika kau tak membawaku ke rumah sakit siang tadi, maka aku takkan selamat." Gadis itu setengah berlari menuruni tangga, mengejar Sai yang mempercepat langkah. Sai akhirnya berhenti, lalu berbalik, menatap aquamarine gadis pirang yang kini hanya berdiri beberapa langkah darinya.

"Kau memang tak bisa memercayaiku, karena aku dengan bodohnya hanya diam gemetaran saat kau menekan bel beberapa kali. Dan kau berlari, karena mengira aku akan mengejarmu untuk membuatmu bungkam, kan? Baik, kau memang tak salah. Akulah yang salah" ujar Sai tajam. Berharap dengan penjelasannya ini gadis itu akan mengerti, walau tak memercayai.

Gadis itu hanya diam. Bahkan saat Sai kembali berbalik untuk pergi gadis itu hanya mematung. Detik berikutnya, saat langkah Sai sudah semakin jauh, gadis itu kembali meneriakkan terima kasih, walau Sai, dengan setumpuk beban pikirannya memutuskan untuk tidak menoleh ke arahnya.

-ooo-

"Kau sudah memeriksa pisaunya?"

Yugao menoleh kearah Rin yang sedang menekuni sepotong kemeja berlumuran darah diseberang meja, kemudian mengangguk. "Sudah. Hanya ada dua sidik jari. Milik korban dan milik tersangka."

Rin hanya mengangguk-angguk, sementara matanya tetap dengan tekun menelusuri inci demi inci kemeja itu melalui lup.

Hening sejenak. Berkutat dengan pekerjaan masing-masing. Di laboratorium ini hanya tersisa mereka berdua. Ini sudah malam dan kebetulan sekali mereka mendapatkan shift malam.

"Tapi Yugao, tidakkah kau merasa ganjil dengan cara tersangka memegang pisau? Saksi berkata bahwa pria itu memegang pisau dengan tangan kirinya, dan pria itu terbukti tidak kidal. Bagaimana menurutmu?" Rin kembali berkomentar. Diseberangnya Yugao mengangkat bahu, "Entahlah, mungkin tersangka menusuk korban dengan tangan kanan, lalu mencabut pisaunya dengan tangan kiri?"

Kali ini Rin mengalihkan matanya dari kemeja itu, menatap lawan bicaranya, "Begitukah? Apa kau menemukan sidik jari tangan kanan-kirinya?"

Yugao terdiam sejenak, lalu tertawa, "Sayangnya tidak. Aku hanya menemukan sidik jari tangan kiri"

Rin hanya tersenyum, "Sejak awal memang ada yang ganjil disini. Pisau tangan kiri. Sidik jari. Dan kabarnya tak ada jejak kaki tersangka di bagian dalam rumah. Menarik, bukan?"

Yugao terlihat agak terkejut. "Oh ya?"

Rin mengangkat bahu, "Jadi, Yugao, apa pendapatmu?"

"Menurutku bagian tersangka hanya diam disamping korban saat bel dibunyikan sebanyak lima kali hanya masuk akal jika memang dialah pelakunya. Itu menurutku" ujar Yugao, walau mengatakannya dengan yakin, ada sedikit nada ragu terselip disana. Seperti biasa, Rin hanya tersenyum.

"Aku malah berpendapat sebaliknya. Orang ini bukan pelakunya"

Yugao melipat kening, "Maksudmu pelakunya orang luar?"

Rin mengangguk, "Bisa jadi seperti itu"

"Ah, menurutku ini sudah sangat jelas" sanggah Yugao. Rin tertawa, "Baiklah, kau mau bertaruh?"

Yugao menatap mata cokelat Rin dari seberang meja, tersenyum miring. "Bertaruh? Bukan ide yang buruk."

-ooo-

Ino meringis memandangi mejanya yang berantakan. Semenjak bangun pagi beberapa saat lalu, hal yang terngiang-ngiang dibenak gadis itu hanyalah Tesis. Tesis. Tesis.

Bagaimana nasib tesisnya?

Seharusnya kemarin ia berhasil mewawancarai Kankuro. Seharusnya malam tadi ia sudah mengerjakan bagian pembuka tesisnya. Dan nyatanya tesis itu kini belum sedikitpun tersentuh.

Ino menarik kursi dan duduk bersandar, frustasi. Siapa pula yang perlu ia wawancarai jika satu-satunya orang dalam film itu yang ia kenal kini sudah tiada?

Mengunjungi Rumah Produksinya.

Tiba-tiba ide itu muncul di benak Ino. Mengapa tak terpikir sejak tadi? Oh, baiklah. Sebelum semua ini terlambat, sebaiknya ia segera mandi dan berangkat. Ia tahu alamat Rumah Produksinya. Anggap saja ada seorang mahasiswa yang ingin mewawancarai film itu, dan tentunya mereka takkan keberatan, bukan?

-ooo-

Persetan dengan wartawan.

Sai mengumpat dari balik jendela lantai dua Rumah Produksi. Ini masih pagi dan puluhan wartawan sudah sesak memenuhi halaman bangunan ini. Apa yang mereka pikirkan, sih?

Dan tentunya ini berita buruk. Reputasinya –dan juga filmnya- akan jatuh bahkan sebelum film ini dirilis. Menyakitkan. Jika ia bertemu pembunuh Kankuro suatu hari nanti maka ia takkan segan melemparkan satu tinju kearah wajahnya.

"Kau diam saja disini, tak bisa juga kan, kau keluar?"

Sai menoleh. Mendapati Chojuro tengah berdiri disampingnya, juga memandangi kerumunan wartawan itu dengan ekspresi datar. "Sepertinya memang begitu. Dan jika aku bisa keluar pun, pasti karena polisi yang menjemputku"

"Menjemputmu?" Tanya Chojuro polos. Sai menarik napas, "Astaga! Aku tersangka utama mereka! Pastinya aku akan dipanggil berkali-kali kesana. Tadi malam bukti belum cukup terkumpul untuk menahanku, makanya aku dibebaskan, namun pastinya ada saja polisi yang membuntutiku"

Chojuro hanya mengangguk-angguk. "Semalam kau menceritakannya sambil emosi, jadi aku tak menangkap semua penjelasanmu. Jika sudah begini kau serahkan saja pada polisi, bukti pasti takkan merujuk padamu jika kau tak bersalah"

Sai hanya diam. Apa yang dikatakan Chojuro memang benar. Namun permasalahannya ialah aktivitasnya akan terhambat. Padahal tinggal sedikit lagi dan semuanya akan selesai.

"Jangan gelisah begitu. Sudahlah, ayo sarapan." Chojuro menepuk punggung Sai sambil lalu. Sementara Sai masih memandang kearah yang sama, berpikir tentang hal yang sama.

Sai hanya terdiam selama beberapa detik sebelum teringat akan sesuatu. Pengacara. Ya, dalam suatu keadaan tertentu terkadang pengacara bisa sangat berguna. Dan salahsatunya dalam kasus ini. Maka Sai segera berbalik arah, sambil menekan tombol-tombol ponselnya tergesa, ia berjalan menuruni tangga.

-ooo-

Ino memutar kunci mobilnya sekali lagi. Tak berhasil.

Dan akhirnya ia menyerah. Audi yang ia gunakan memang terkadang merepotkan. Padahal sedikit lagi -satu belokan lagi-, ia akan sampai di Rumah Produksi. Namun sepertinya langit tak mengizinkan semuanya berjalan dengan lancar. Akhirnya gadis itu keluar. Membawa tas tangannya dan berencana berjalan untuk mencapai bangunan itu. Untung saja tadi ia sempat menepi saat mesin mobilnya mulai mengeluarkan bunyi ganjil, sebelum benar-benar mati. Setidaknya mobilnya takkan menghalangi jalan walau harus diparkir dipinggir jalan seperti ini. Lantas mau bagaimana lagi?

Ino mengunci mobilnya lalu dengan napas berat mulai berjalan. Kali ini ia menyiapkan oksigen didalam tasnya. Takut-takut jika peristiwa kemarin terulang lagi. Namun nampaknya tak apa-apa. Toh hanya berjalan sedikit saja, kan?

Ino baru berjalan sejauh beberapa meter saat dua mobil besar datang dari arah berlawanan. Tepatnya dari kelokan yang sedang ia tuju. Mobil televisi? Entahlah. Ino tak peduli. Yang perlu ia lakukan hanyalah berjalan menuju Rumah Produksi. Dengan selamat.

Namun saat beberapa orang berlari dari arah yang sama. Dengan membawa kamera. Membawa microphone. Dan lain lain. Ino menghentikan langkah. Jangan-jangan….

"Tunggu disini saja, sebentar lagi mobilnya akan sampai di belokan ini." Salah seorang yang berpenampilan seperti wartawan berseru kepada rekannya. Atau itu memang wartawan? Entahlah. Jarak Ino dengan mereka terpaut cukup dekat sehingga Ino dengan jelas bisa mendengar percakapan mereka. Ino masih berhenti. Dengan segera berjuta skenario 'jangan-jangan' menari- nari dibenaknya.

"Hei, kau lihat gadis itu? Demi tuhan! Dia saksi yang kulihat kemarin di kantor polisi."

"Oh ya? Kau melihatnya kemarin?"

"Iya, bodoh! Daripada lelah menunggu sutradara sombong itu, lebih baik kita wawancarai saja dia!"

Dan Ino segera mengerti apa yang akan terjadi. dua wartawan itu segera berlari menuju kearahnya. Mobil televisi yang tadinya menepi tak jauh dari kelokan itu mulai berjalan mendekatinya. Sesuai perintah sang wartawan.

Yang perlu Ino lakukan saat ini ialah : berbalik dan lari.

Atau masalahnya akan semakin panjang.

Tanpa piker panjang Ino segera berbalik dan berlari menuju…mobilnya? Ia sadar ini tak ada gunanya. Toh mobilnya hanya bisa diam, sama sekali tak bermanfaat untuk melarikan diri. Namun setidaknya ia bisa bersembunyi di dalamnya. Baiklah.

"Nona! Tunggu! Izinkan kami menanyai sedikit"

"Nona Yamanaka, tunggu!"

Apa? Bahkan mereka mengetahui namanya? Tidak, Ino takkan membiarkan semuanya berjalan semakin buruk. Lupakan soal Rumah Produksi itu sejenak. Yang penting kini dirinya berhasil kabur dari mereka.

Namun kerumunan wartawan itu semakin riuh saja. Ino tak berani menengok kebelakang. Namun samar-samar ia mendengar suara mobil dibelakangnya. Dan teriakan wartawan segera membuncah.

Ino masih berlari dengan kecepatan paling tinggi yang memungkinkan bagi paru-parunya. Suara mesin mobil itu semakin jelas. Mendekat. Dengan kecepatan tinggi. Dan Ino semakin terengah-engah.

"Hei kau! Apa yang kau lakukan disini?"

Sambil berlari, Ino menoleh kearah mobil yang kini sedang melaju pelan disisinya. Patah-patah Ino menjawab, "Mobilku…..mogok"

"Bodoh, cepat naik!" perintah seorang pria setelah kaca mobilnya diturunkan sepenuhnya. Ino baru menyadari bahwa orang ini orang yang kemarin. "Tapi…mobilku…."

"CEPAT NAIK!" bentakan pria itu membuat Ino menghentikan larinya. Dan wartawan yang semakin mendekat mendorong Ino untuk segera membuka pintu mobil dan masuk dengan tergesa. Mobil ini bahkan tidak berhenti saat Ino bergabung untuk naik. Dan tepat saat Ino menutup pintu, pria itu segera tancap gas. Ino nyaris terjengkang kebelakang akibat gas yang mendadak ini. Namun syukurlah, paru-parunya selamat.

"Kau membawa oksigen, kan?"

Dengan sisa-sisa engahannya, Ino menatap pria berambut hitam yang duduk dibalik kemudi sambil mengangguk. "Ba..wa…". Mungkin saja pria itu takut kejadian kemarin terulang lagi.

Konsentrasi pria itu kini tertuju sepenuhnya kearah jalanan. Kecepatan tinggi membuat wartawan-wartawan itu –dan mobil televisinya- sudah tertinggal jauh dibelakang. Ino buru-buru memasang seatbelt, tahu benar perjalanannya kali ini akan begitu menegangkan.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Ino mengatur napasnya sebelum menjawab, "Aku berniat datang ke Rumah Produksi film yang dengan digarap mendiang Kankuro. Aku tak punya pilihan lain. Dan sialnya mobilku mogok dijalan. Seperti yang kau lihat"

Pria disampingnya mengernyit, "Mau apa kau ke Rumah Produksi? Sebenarnya apa hubunganmu dengan Kankuro?"

"Hanya kenalan. Aku berencana membahas film itu untuk tesisku, mewawancarainya sebagai langkah awal. Karena aku tak bisa meresensi film itu sendiri karena film itu belum rilis" jelas Ino. Pria disampingnya menoleh kearah Ino, "Sudah tahu belum rilis, mengapa kau mengangkatnya untuk tesis?"

"Itu diperbolehkan. Kupikir judul dan sinopsisnya menarik. Cocok dengan tema tesisku. Jadi kuambil saja" terang Ino datar. Sama seperti ucapannya di depan kantor polisi kemarin. Sai menganguk-angguk, lalu bertanya, "Lalu siapa yang akan kau temui di Rumah Produksi?"

-ooo-

Gadis itu terdiam sejenak. Mungkin berpikir? Entahlah.

"Siapa saja yang terlibat langsung film itu. Jika memungkinkan, aku ingin mewawancarai sutradaranya langsung." Gadis itu akhirnya berucap. Sai meliriknya sekilas, "Lakukan saja"

Dari ujung matanya Sai melihat gadis itu memandangnya aneh. "Maksudmu?"

"Aku kini sedang menuju kantor pengacara. Aku tak punya waktu lain nanti-nanti. Lakukan saja wawancaranya disini" ujar Sai sekenanya, yang langsung ditanggapi dengan heboh oleh gadis itu. "Memangnya kau siapa?"

Sai mendeliknya tajam. "Kau bilang jika memungkinkan ingin mewawancarai langsung sutradaranya. Nah, saat ini, selagi ada waktu luang. Silakan wawancara"

Sai sudah mengalihkan pandangannya kembali kearah jalanan. Namun gadis disampingnya masih memandangnya takjub. Berlebihan sekali.

"Kau sutradaranya?"

Sai mengangguk sekilas. Tatapannya lekat pada jalanan. Mencari jalan pintas untuk secepatnya sampai kekantor pengacaranya. Tiba-tiba,

"Astaga! Mengapa kau tak katakan sejak kemarin?" gadis itu berseru sambil memukul lengan kiri Sai. Apa-apan sih?

"Tak sempat. Kupikir tak penting juga" ujar Sai dingin. Gadis disampingnya segera heboh mengeluarkan buku dan alat tulis dari tasnya. "Demi tuhan, itu penting bagiku!"

"Mana kutahu? Kemarin kukira kau pacar gelap Kankuro" tandas Sai cuek, yang lagi-lagi segera di sambut pukulan maut gadis itu. Sai mendeliknya tajam. Perempuan ini benar-benar.

"Baiklah, lupakan. Kantor pengacaramu masih jauh, bukan? Mari kita mulai wawancaranya. Kita mulai dengan… sebentar, nama sutradara Airmata Matahari itu Sai. Jadi, kau itu Sai?" Tanya gadis itu, lagi-lagi dengan tampang datar. Sai menjawabnya malas, "Sudah jelas, bukan?"

"Selama ini aku hanya mendengar namanya saja. Aku tak tahu wajahnya. Dan…wajahnya tidak seperti yang kubayangkan" ujar gadis itu sambil mengamati wajah Sai lekat. Apa-apaan, sih?

"Lalu kau membayangkannya seperti apa? Tampan seperti para aktor-aktor pemain filmnya?"

"Tidak juga. Kupikir sudah tua. Ternyata masih muda. Dan wajahnya lumayan juga,"gadis itu masih mengamati wajah Sai lekat. Dan Sai tidak nyaman dengan ini. Mereka baru bertemu kemarin dan gadis cerewet ini sudah mengomentari wajahnya, dihadapannya. Benar-benar.

Sai tidak ambil pusing. Pikirannya sudah cukup penuh dengan masalah-masalah. "Lekas mulai wawancaranya"

"Ah baik. Pertanyaan pertama…." Ucapan gadis itu terpotong suara sirine yang mengaum tanpa ampun. Mobil patrol itu muncul dari belakang, menyeruak diantara puluhan mobil lainnya yang memenuhi jalan. Mobil berisik itu hanya butuh waktu sekejap saja untuk tiba tepat dibelakang mobil Sai. Dan Sai punya firasat buruk tentang ini. Melalui spion Sai melihat kepala seorang polisi muncul dari jendela mobil patroli, dengan sebuah pengeras suara ditangannya

"BMW hitam nomor polisi X 500 10, dimohon segera menepi. Sekali lagi…."

Sial. Haruskah polisi menahannya dengan cara seperti ini?

-ooo-

Sersan Darui menatap pria pucat dihadapannya dengan seksama. Pria itu berkeringat. Entah karena cuaca hari ini panas, atau karena ketegangan yang barusan melandanya.

"Aku tak berniat melukai gadis itu. Aku mendapatinya sedang berlari dikejar wartawan disekitar Rumah Produksi. Mobilnya mogok" pria bernama Sai itu menerangkan. Sejauh ini keterangannya memang benar. Tadi mereka terpaksa menghentikan BMWnya dijalanan karena khawatir pria ini berencana mencelakai Ino untuk menutup mulutnya. Mengingat sejak mereka membuntuti BMW itu dari Rumah Produksi, kecepatan mobil itu selalu tinggi.

"Baiklah. Tindakan yang kami lakukan hanyalah sebagai bentuk pencegahan." Ujar Darui. "Ino sedang diinterogasi diruang sebelah dan semuanya memang seperti yang kau katakana. Mau kemana kau tadi? Tampak buru-buru sekali"

"Kantor pengacara. Aku butuh kasus ini lekas selesai. Film itu belum rampung," desah Sai. Darui hanya mengangguk-angguk. Penyelidikan mereka belum selesai dan tentunya mereka tak punya hak untuk menahan pria ini lebih lama.

"Apa kita sudah selesai?" Tanya Sai. Darui melihat arlojinya, lalu mengangguk. Sementara Sai segera berdiri dari kursinya, hendak berbalik menuju pintu saat Letnan Shisui memasuki ruangan.

"Belum, kita belum selesai"

Letnan Shisui memasuki ruangan dengan sebuah berkas di tangan. Berjalan perlahan sambil menatap Sai. Darui tahu benar tatapan itu. Artinya sesuatu terjadi.

"Apalagi?" rengek Sai. Letnan Shisui degan tegas menyuruh Sai kembali duduk, sementara ia berjalan mendekati Darui. Darui segera mengerti maksudnya, maka ia mundur beberapa langkah, mempersilakan Letnan Shisui memimpin interogasi. "Kami punya berita untukmu, Sai"

Sai terlihat gugup. Darui bisa melihatnya menelan ludah gelisah. Sang Letnan menaruh berkas yang dibawanya diatas meja, lalu menyodorkan sebuah foto kearah Sai. Foto pisau.

"Kami hanya menemukan sidik jarimu di pisau ini"

Darui melihat ekspresi Sai berubah takjub. Memucat. Letnan Shisui tidak memerlukan tanggapan Sai sepertinya, karena ia segera melanjutkan, "Kau tahu apa artinya itu?"

"Tidak! Kalian tak bisa menahanku sekarang! Bisa saja Si Pembunuh menggunakan sarung tangan hingga sidik jarinya tak tertinggal?" Sai berdiri dengan emosi. Bersitatap dengan Letnan Shisui. Melawan.

"Aku tak bilang kami bisa menahanmu. Tapi ini cukup bagi kami untuk mendapatkan surat izin penggeledahan." Ujar Letnan Shisui tenang. Ia kembali menutup berkas itu, lalu berjalan mengitari meja, menuju pintu. Sementara napas Sai masih tersengal, menahan emosi.

Kemudian Letnan Shisui berbalik sekilas sebelum meninggalkan ruangan, "Bersiaplah, Sai"