Naruto © Masashi Kishimoto

Our Kingdom © Ai Kitazawa

Warning : Fantasy, Romance, AU, Typo

Rated T

Chapter 2 : Day 1

Suara ketukan pintu di pagi membangunkan Sakura dari tidur lelapnya. Ternyata yang ia alami semalam bukan sekedar mimpi. Sakura bangun dan memijit pelipisnya sejenak. Bagaimana, sakura? Siap menjalani hari ini? Sakura membuka pintu dan mendapati seorang pria berambut merah berdiri tegap sambil tersenyum ke arah Sakura. Sakura cukup terkejut mendapati seseorang yang pernah ia lawan lama sekali, sekarang berada di hadapannya.

"Tak kusangka, Naruto-sama tega menjadikan gadis cantik sepertimu tawanan," Kekehnya.

"Sasori?"

"Ah, ternyata benar kata Shizune-senpai. Kau benar-benar mengetahui semua nama kami, eh?"

"Aku.. aku tidak tau. Kau seharusnya sudah mati, Sasori."

"Jahat sekali kau, nona. Lebih baik kau segera membersihkan diri, aku akan menunggu disini. Mulai hari ini sampai tujuh hari kedepan, aku akan mendampingi seluruh pekerjaanmu," Ujarnya ramah. Sakura tidak sanggup berkata apa-apa melihat seorang pria yang seharusnya sudah meninggal, sekarang berdiri di hadapannya dan menjadi pendampingnya selama tujuh hari kedepan. Bisakah dunia lebih aneh daripada ini?

Selesai membersihkan diri, Sakura diantar menuju Pondok Suci yang biasa digunakan oleh perawat-perawat untuk bekerja. Sekali lagi, semua orang yang ada di Pondok Suci adalah orang-orang yang SAMA seperti orang-orang yang bekerja dengan Sakura di Konoha. Luar biasa, batin Sakura. Di ruangan yang terbilang luas ini, Sakura dapat melihat banyak sekali tanaman-tanaman herbal yang dapat dimanfaatkan untuk obat. Tsunade-sama pasti akan menyukai tempat ini, batin Sakura tersenyum.

"Selagi kau bekerja, aku akan menunggu diluar."

"Sasori?"

"Hm?"

"Terima kasih," Sebuah senyuman hangat dilontarkan Sakura dengan tulus untuk Sasori. Mendadak hati Sasori berdesir melihat perlakuan Sakura yang begitu tiba-tiba. Sudahlah, lagipula ia hanya serang tawanan, batin Sasori.

Sakura tidak tahu harus mulai darimana. Walaupun semua orang disini tidak asing bagi Sakura, tentu saja ia asing bagi mereka semua. Tapi Sakura tau ia tidak akan bisa bekerja jika tidak memulainya. Tak jauh dari tempat Sakura berdiri, ia melihat seorang gadis bersurai pirang sedang menubuk sesuatu. Sakura tersenyum dan segera menghampirinya. "Ano, Yamanaka-san?" Tanya Sakura hati-hati.

"Ah, Sakura ya? Pendatang baru yang disebut-sebut akan bekerja disini selama tujuh hari?" Balasnya ramah.

"Be-benar. Ada yang bisa aku bantu?"

"Hm, mari kita lihat. Mungkin kau bisa membantuku untuk meracik obat-obatan ini," Gadis itu menyerahkan beberapa dokumen berisi list tanaman obat. Sakura mulai membacanya mengangguk mengerti. Segera, Sakura mengambil beberapa jenis tanaman yang ada di list dokumen tersebut dan mulai meracik.

Belum 30 menit ia meracik, seseorang mendobrak pintu Pondok Suci dan berteriak "Hinata-sama kambuh!" Sontak, gadis bersurai pirang yang akrab dipanggil Ino itu berdiri dan mempersiapkan obat-obat yang sudah ia racik. Sakura mengerutkan keningnya, ada apa dengan Hinata? Saat Ino hendak meninggalkan ruangan, Sakura menahan lengan Ino. "Boleh aku ikut bersamamu?" Ino tampak menimbang-nimbang sesuatu sebelum mengganguk. Keduanya berlari ke Istana utama yang letaknya cukup jauh dari Pondok Suci.

Pintu kamar utama segera dibuka agar ke-5 orang dari Pondok Suci bisa masuk dan menghampiri Nyonya muda mereka. Disana terbaringlah Uzumaki Hinata, istri dari Uzumaki Naruto selaku Raja dari kerajaan ini. Hinata terbaring lemas dengan kedua matanya yang diperban sehingga tidak dapat melihat. Disampignya, nampak Naruto yang sedang menggenggam tangan Hinata sembari memandang Hinata dengan pandangan sayu.

Ino menghampiri Genma selaku pengawal Hinata tentang keadaan Hinata. "Apa yang terjadi?" Genma menghela nafas berat. "Entahlah, sepertinya Hinata-sama kembali menerawang dan memaksakan matanya sehingga tiba-tiba saja ia terbatuk dan mengeluarkan darah."

Menerawang? Mata? Tunggu, jangan bilang Hinata memiliki byakugan disini? Sakura menggenggam tangan Hinata. "Hinata-sama. Namaku Sakura, apa matamu sakit?" Pertanyaan yang dilontarkan Sakura membuat seisi ruangan menatapnya heran. Apa yang gadis ini lakukan?

"Sakit. Aku bisa melihatmu, aku bisa melihat semuanya, bahkan yang ada diruangan ini, aku bisa melihatnya," Sahutnya pelan. Tentu saja Hinata, kau ini memiliki mata Byakugan. Sakura mengeluarkan cakrannya dan memposisinya tangannya di mata Hinata. Aku akan menenangkan saraf yang membuat matanya sakit, batin Sakura. Tapi tiba-tiba tangan Sakura ditahan oleh sebuah tangan kekar yang sudah memandangnya dengan tatapan 'Aku siap membunuhmu apabila kau berani menyentuhnya'.

"Sasuke, lepaskan aku. Aku bisa menyembuhkannya!" Sakura menarik tangannya dan menatap Sasuke dengan tatap menantang. Ketegangan diruangan itu semakin menjadi ketika Sasuke mengeluarkan pedang dan mengarahkannya pada Sakura.

"Cukup! Istriku sedang sakit!" Bentak Naruto pada keduanya. "Kalian berdua pergilah dari ruangan ini."

Sakura tersentak. "Apa? Kau tidak mengerti Naruto! Aku dapat menyembuhkannya!"

"Ayo pergi, Sakura. Kau sangat tidak sopan terhadap Raja," Sasuke menarik tangan Sakura dan membawanya pergi dari ruagan. Keduanya terus berjalan ke arah taman belakang istana, tempat yang tidak terlalu sering banyak orang. Sasuke mendorong Sakura hingga terjatuh ketika mereka sampai.

"Apa-apaan kau! Kasar sekali!"

"Aku tidak tau apa yang kau rencanakan, tapi sebaiknya kau benar-benar pergi sebelum membuat kekcauan yang lebih dari ini," Sasuke kembali mengeluarkan pedang nya dan menempelkan pada dagu Sakura. Sakura menangkis pedang tersebut dengan mudah dan berdiri membuat kuda-kuda. Sasuke terkejut dan tersenyum. Gadis ini bukan gadis biasa, batinnya.

"Aku tidak ingin membuat keributan disini, Sasuke."

Sasuke kembali memasukkan pedangnya dan berjalan meninggalkan Sakura sendiri. "Tunggu!" Sasuke berbalik dan memandang Sakura. "Aku tau apa yang terjadi pada Hinata," Sasuke tetap berdiri diam ditempat. "Aku tidak memintamu untuk percaya, tapi setidaknya kau bisa mendengarkan aku."

Maka disinilah mereka, disamping tanaman bunga dan rerumputan hijau duduk berdampingan menatap awan. "Mata itu adalah mata Byakugan. Di tempat asalku, keluarga Hyuuga adalah keluarga terpandangan karena memiliki salah satu dari tiga mata terkuat yang dimiliki Shinobi. Dan semua keluarga Hyuuga memiliki jenis mata yang sama. Bagaimana dengan Hinata? Apa seluruh keluargnya memiliki mata yang serupa?"

"Hn," Seperti biasa hanya itu yang diucapkan Sasuke.

"Hinata baik-baik saja. Hal ini terjadi karena dia tidak pernah melatih kekuatan matanya, sehingga ia menjadi syok setiap kali mengaktifkan Byakugannya."

"Aku tidak percaya."

"Astaga, Sasuke! Hhh baiklah lupakan, kalian tidak akan memberikan kesempatan padaku."

Sasuke tampak menimbang-nimbang sesuatu. Ia akui, dari awal kedatangan Sakura, ia sudah memandangi gadis ini dengan seksama. Bahkan ia berharap Naruto akan memintanya untuk mengawasi Sakura, namun karena posisinya yang sudah menjadi tangan kanan Naruto, tidak mungkin untuknya mengawasi Sakura. Di satu sisi, gadis ini adalah gadis asing yang katanya tiba-tiba terbangun di sebuah taman rahasia. Namun di satu sisi, gadis ini mengatakan bahwa ia mengerti penyakit yang diderita Hinata. Sebagai penasehat apa yang akan kau lakukan, Sasuke?

"Satu."

"Hah?"

"Satu kesempatan. Kalau kau membuat Hinata-sama semakin memburuk, aku bunuh kau." Benar-benar Uchiha. Sakura mengangguk mengerti. Keduanya bangkit dan kembali menuju kamar utama. Naruto terkejut melihat mereka berdua kembali dengan tenang. Sasuke menepuk bahu Naruto dan berbisik "Percayalah padaku apabila kau tidak percaya padanya."

Sakura mendekat ke arah Hinata dan memfokuskan cakranya ke mata Hinata. Perlahan, Hinata kembali tenang dan menghela nafas pelan. Rasa sakitnya sedikit berkurang dibanding yang tadi. "Hinata-sama. Kau memiliki mata yang istimewa, jangan takut untuk melihat dengan matamu."

"Sakura.. rasa sakit ini terus muncul karena aku dapat melihat semuanya dan aku dapat melihat aliran darah dari tubuh seseorang.. aku dapat melihat aliran darahmu, berbeda."

"Aku tau, aku bisa membantumu untuk melatihmu agar terbiasa dengan matamu."

"Terima kasih, Sakura," sahut Hinata tulus.

"Tapi sebelum itu.." Sakura membuka balutan mata Hinata "Buka matamu, Hinata-sama."

Hinata membuka mata perlahan, dan disambut oleh senyum Sakura yang tak sadar membuatnya juga tersenyum. Sakura menggenggam tangan Hinata "Kau memiliki mata yang indah, tidak baik apabila terus ditutupi seperti itu. Kau punya tubuh yang luar biasa sehat, Hinata-sama. Kau hanya takut dengan kekuatanmu. Percaya dirilah, kau adalah seorang Ratu yang hebat." Hinata mengangguk tulus dan menatap Naruto dengan tatapan 'Dimana kau menemukan wanita luar biasa ini'.

Naruto dan seisi ruangan itu menghela nafas lega. Ino terkejut dibuatnya dan tersenyum menepuk bahu Sakura, " Terima kasih sudah menolong Hinata-sama." Sakura balas mengangguk dan senyum Ino dengan senyum manis Sakura. Sasuke memandang Sakura dengan seksama. Mau tak mau, Sasuke ikut tersenyum tipis dalam diam melihat tingkah gadis lucu ini.

Semua orang kembali kepada pekerjaannya masing-masing. Termasuk Sakura yang mendapat tepukan tangan meriah ketika ia dan Ino masuk kembali ke Pondok Suci. "Sakura kau hebat!" Ino menepuk bahu Sakura, "Kau harus terbiasa dengan keadaan ini. Berita sangat mudah tersebar di kerjaan kami, Sakura." Sakura mengangguk. Tidak hanya disini, berita sangat mudah tersebar pula di Konoha.

"Sakura, kau diminta untuk bertemu dengan kepala Pondok Suci di ruangannya, mari saya antar," Ujar seorang gadis menghampiri Sakura. Sakura mengerutkan keningnya, entah sudah berapa kali hari ini Sakura mengerutkan kening. Apa sekarang ia akan bertemu dengan Tsunade?

Sakura masuk kesebuah ruangan yang bau sake. Lagi-lagi tebakan Sakura benar, ini ruangan yang sama seperti ruangan Tsunade-sama. Tak jauh dari tempat ia berdiri, ia dapat melihat Tsunade-sama duduk membelakangi mereka sambil meminum sake. "Sakura sudah disini, Tsunade-senpai. Aku permisi."

"Sakura.. Sakura.. Sakura.." Kata-kata itu yang membuat Sakura selalu bergidik ngeri. Biasanya Tsunade sudah siap marah apabila sudah mengulang nama Sakura tiga kali. "Y-ya, Tsunade-sama?"

"Tsunade-senpai saja, pangkatku tidak setinggi itu."

"Ah, baik Tsunade-senpai."

"Kau berhasil membuat Hinata-sama tenang dari gangguan psikologis karena matanya yang unik. Dan kau melakukannya dengan cara yang berbeda. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?"

"Dari tempat asalku, kami biasa melakukan itu. Karena kami adalah Shinobi, Tsunade-senpai. Dan aku adalah seorang ninja medis."

"Ninja, eh? Kalau begitu kau sama dengan Sasori."

"Sasori?"

"Ya, pertama kali ia datang kesini kira-kira 6 tahun lalu, ia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang ninja pelarian yang aku juga tidak mengerti apa maksudnya. Ia mengabdi pada kerajaan ini setelahnya," Sakura mencerna semua perkataan Tsunade dengan seksama. Enam tahun lalu Sakura yakin ia dan Nenek Chiyo sudah membunuhnya. Baiklah, ada apa sebenarnya? Ia harus bertemu dengan Sasori.

"Ah, aku rasa kami berasal dari dunia yang sama."

"Entahlah, bagaimanapun juga kerja bagus Sakura. Akan lebih baik apabila selama kau disini kau mau membantu Hinata-sama secara khusus hingga ia pulih seutuhnya."

"Baik, Tsunade-senpai. Aku permisi," Sakura meinggalkan ruangan dengan pikiran yang campur aduk.


Sasuke berdiri tegap di samping meja kerja Naruto. Naruto tampak sibuk menuliskan sesuatu yang penting sementara Sasuke hanya diam tidak melakukan apapun. Sesungguhnya, Naruto sangat membenci situasi ini. Sasuke tidak seharusnya bersikap sangat formal padanya, mengingat mereka selalu bersama semenjak lahir. Rasanya Naruto ingin segera memecat Sasuke dari posisinya. "Berhentilah bersikap formal apabila kau tidak ingin kehilangan pekerjaan barumu, Sasuke. Aku benci melihatmu seperti ini."

"Hn, dobe."

"Hahaha. Ngomong-ngomong kau mempercayai gadis itu?" Sahut Naruto penasaran.

"Gadis itu berasal dari tempat yang sama seperti Sasori. Kurasa ia bemain-main dengan buku yang sama seperti Sasori."

"Kurasa kau benar. Apa yang akan kita lakukan? kita hanya memberinya 7 hari untuk pergi dari sini."

"Kirim saja surat yang kau tulis itu. Aku yakin Orochimaru akan membantu kita."

"Kau.. berusaha membuat gadis ini tinggal disini, Sasuke?" Tanya Naruto tidak percaya.

"Demi Hinata," Balas Sasuke berdeham.

Naruto tampak berpikir keras. Enam tahun lalu ada seorang pria yang berasal dari dunia ninja datang dan mengabdi pada kerajaannya. Pria tersebut terlihat membawa sebuah buku kosong yang bercerita tentang kerajaan ini. Setiap hari pria tersebut melakukan sesuatu, tulisan yang ada di dalam buku yang ia bawa terus bertambah dan semakin mendekati akhir dari buku itu, pria tersebut semakin transparan. Dengan bantuan Orochimaru tetua yang tinggal di atas gunung terdekat dengan kerajaan Uzumaki, buku itu berhasil di segel dan Sasori tidak pernah berhasil ke dunianya.

"Sakura berhak kembali ke dunianya jika ia mau, Sasuke. Sasori memilih untuk tinggal bersama kita."

"Bagaimana dengan Hinata?"

"Kita akan lihat perkembangan Hinata 7 hari kedepan. Jika ia benar-benar sudah pulih, kita harus memberi tau Sakura bahwa ada jalan untuk kembali ke dunianya," Sasuke berdecak kesal dengan keputusan Naruto. ia sendiri tidak tau apa yang membuatnya begitu kesal mendengar ada jalan untuk Sakura kembali ke tempat asalnya. Apa peduliku terhadapnya? Batin Sasuke kesal.

"Hn."

"Aku mengundang Sakura untuk makan malam dengan kami malam ini."

"Aku akan menjemputnya," Sahut Sasuke dengan langkah cepat langsung keluar dari ruangan.

"He-Hei! Teme! Aish, padahal aku sudah menyuruh Sasori untuk menjemputnya! Oi!"


TOK TOK

"Masuk," Sahut Sakura pelan.

Lelaki itu masuk dan duduk disebelah Sakura. Ia memandang sebuah buku yang sedari tadi Sakura pegang dan Sakura amati. Sembari menghela nafas, ia mengambil buku yang Sakura pegang dan membuka halaman demi halaman.

"Sepertinya isi dari buku sudah bertambah ya, Sakura," Sahutnya pelan.

"Bisakah.. kau menjelaskannya padaku?"

"Enam tahun yang lalu saat kau mengalahkanku, ada seseorang yang datang untuk memeriksa keadaanku. Dengan keadaanku yang sekarat, aku tidak dapat bergerak. Tiba-tiba saja ia menjatuhkan sebuah buku saat hendak pergi karena mengira aku sudah mati. Aku ingin berteriak, tapi aku sudah tidak sanggup lagi. Jadi aku membiarkan buku itu."

"Lalu?"

"Tiba-tiba saja angin kencang membuat buku itu terbuka, dan aku seketika masuk ke dalam sana. Namun aneh, ketika aku sampai disini, aku tidak terluka. Kupikir iniadalah Surga," Lanjutnya.

"Tentu saja saat itu Naruto-sama belum menjabat sebagai Raja. Maka Minato-sama, ayah Naruto dengan senang hati mengirimku ke penjara. Aku sangat bingung dibuatnya. Tiga hari di penjara, tiba-tiba saja aku dikeluarkan untuk menjelaskan sebuah buku yang ditemukan bersamaku. Kata mereka buku itu terus bertambah tulisan seiring bertambah, atau seiring aku melakukan sesuatu."

"Persis seperti yang terjadi padaku, Sasori," Sakura menghelas nafas.

"Benar. Keadaan yang tak biasa ini membuat Minato-sama memanggil Orochimaru, tetua yang tinggal di belakang gunung kerajaan ini. Orochimaru menyegel buku itu dengan sesuatu yang aku sendiri tidak tau. Yang pasti, seiring perjalanan waktu, semakin kau mendekati bagian akhir, kau akan semakin menghilang Sakura. Kurasa kau harus meminta bantuan Orochimaru."

"Ta-tapi, aku ingin kembali ke Konoha," Sakura sedikit tercengan mengingat penjelasan Sasori. Apakah ia harus terus tinggal disini? bagaimana jika seseorang mencarinya?

"Maaf, Sakura. Aku tidak tau apakah ada jalan kembali. Kalaupun aku tau, aku sendirian. Aku sudah mati di duniamu."

"Aku mengerti, aku akan bertanya pada Naruto-sama. Terima kasih kau sudah jujur padaku, Sasori," Ujar Sakura sambil tersenyum. Sedikit dipaksakan, tapi tidak baik menunjukan kesedihan di depan orang lain.

"Ah, kedatanganku sebenarnya karena Naruto-sama ingin mengajakmu makan malam bersama. Sebagai tanda terima kasih sudah membuat Hinata-sama menjadi lebih baik."

"Benarkah? Ta-tapi aku tidak punya pakaian yang pantas, bagaimana ini.." Sakura datang hanya dengan menggunakan pakaian ninjanya dan itu sedikit terbuka, membuat Sakura tidak enak hati jika harus makan malam dengan pakaian tidak pantas.

"Tenang saja, aku sudah meminjamkannya dari Ino-san. Kukira kalian seumuran dan seukuran?" Sasori menyerahkan sebuah gaun sederhana dengan motif bunga-bunga berwana hijau pada Sakura.

"Aku sedikit menyesal karena pernah membunuhmu, Sasori," Sahut Sakura terkekeh dan dibalas dengan kekehan garing Sasori.

"Aku akan menunggu diluar kalau begitu?"

"Um, aku tidak akan lama."

BRAK!

Saat Sasori hendak keluar, keduanya dikejutkan oleh pintu kamar Sakura yang dibanting cukup keras. Sasori memeriksa sekitar namun tidak ada seorangpun yang terlihat melintasi lorong sekitar kamar Sakura.

"Mungkin tadi hanya angin, aku permisi."

"I-iya.."

Tak jauh dari kamar Sakura, sebuah helaan nafas keluar dari seseorang. "Aku terlambat."

TBC

Jadi, sedikit menjawab pertanyaan review. Tidak, Sakura tidak akan kehilangan kehebatannya sebagai Kunoichi

Adegan Sasusaku juga semakin kedepan akan semakin diperlihatkan.. maaf menunggu lama hehehe

Terima kasih sudah membaca, kritik dan saran sangat diterima demi menjadikan Author lebih baik lagi

Salam Hangat, Ai Kitazawa.