LOST SCENE

Disclaimer Masashi Kishimoto Sensei

Cand hanya pengagum berat Naruto-kun saja

Chapter 699 ¼

"Sakura-chaaaaan…!"

Sakura menghentikan penjelasannya pada kunoichi yang sepertinya juga ninja medis seperti Sakura. Gadis musim semi Sasuke ini memutar kepala merah jambunya refleks ke arah sumber suara. Tak jauh dari tempatnya sekarang terlihat Uzumaki Naruto melambaikan tangan kirinya penuh semangat dengan sebuah cengiran yang sangat lebar berkembang di wajah berkumisnya. Sakura tak tahu kenapa tapi Naruto terlihat sangat senang disana.

"Ano, Tachi-san. Sumimasen. Bisa kita teruskan nanti?" Pinta Sakura kepada teman kunoichinya.

Setelah mengangguk maklum, Tachibana Tachi segera meninggalkan Sakura untuk kembali ke dalam Rumah Sakit Konoha.

Sfx : Jgler!

"Heh?!" Naruto bergidik ngeri saat tiba-tiba seluruh tubuh Sakura mengeluarkan aura hitam lekat. Sepasang mata emerald Sakura berubah memutih dan urat kesal Sakura kentara jelas sedang menegang. Sakura bahkan berjalan dengan langkah berat dan kasar kearahnya sekarang.

"Apa yang kau lakukan disini?! Bukankah kau seharusnya melatih tanganmu bersama Tsunade-sama, NA-RU-TO!" Naruto beringsut ketakutan dan bersembunyi dibalik tubuh Hatake Kakashi. Suara yang Sakura keluarkan terdengar penuh ancaman.

"Yo, Sakura." Sapa Kakashi, diangkatnya tangan kirinya sebatas dagunya untuk menyapa sementara tangan kanannya disembunyikan dibalik kantong celana jouninnya. Sebaris senyum basa-basi terukir dari balik masker hitam Kakashi.

"Apa kau sedang kelayapan di jam kerjamu, SEN-SEI?!" Bukannya meredup, kobaran aura hitam disekeliling Sakura semakin membesar.

"Haha." Kakashi tertawa sweatdrop dibalik masker hitamnya. Tampaknya mantan ketua tim 7 ini sendiri merasa sama takutnya pada Sakura seperti Naruto.

"Kakashi-sensei! Cepat seret dia keluar! Selamatkan nyawa kita!" Teriak Naruto panik.

Merasa satu pemikiran dengan Naruto, Kakashi segera mengulurkan tangan panjangnya untuk menarik seseorang yang seperti sengaja bersembunyi di balik tembok pintu masuk Rumah Sakit Konoha. Naruto yang semakin panik dengan jarak Sakura yang bertambah dekat, keluar dari balik tubuh Kakashi untuk membantu gurunya itu menyeret orang keras kepala dibalik tembok.

"!" Sakura berhenti melangkah. Aura hitam menakutkan yang sempat menguar hebat dari dirinya beberapa saat lalu menghilang begitu saja tanpa bekas. Pemuda tampan berambut raven yang berdiri di depannya dengan wajah merona tipis sukses membuat Sakura menganga tak percaya.

"Sa-su-ke-kun?" Panggil Sakura ragu.

"Fiuh…" Naruto dan Kakashi menyeka keringat dingin yang membanjiri kening mereka bersamaan dengan helaan nafas lega. Ternyata memang hanya Uchiha Sasuke yang bisa menurunkan kadar kegarangan satu-satunya gadis dalam tim 7 ini.

"Sakura." Balas Sasuke dengan suaranya yang bertambah berat dari yang diingat Sakura.

"Sasuke-kun?!" Sakura memekik gembira. Kesadarannya sudah kembali seutuhnya. Sakura sudah benar-benar mempercayai penglihatannya sekarang.

Sakura berlari mendekati Uchiha Sasuke secepat yang dia bisa. Menerobos beberapa orang yang kebetulan menghalangi jalannya. Tak benar-benar memperhatikan langkahnya, kaki Sakura tanpa sengaja tersandung kaki orang yang baru saja ditabraknya.

Sfx : Duk!

Uchiha Sasuke melakukan sunshin dan menangkap cepat tubuh Sakura dengan dadanya hingga Sakura terhindar dari rasa sakit dan rasa malu karena jatuh terjerembab di depan semua orang di lobi Rumah Sakit Konoha. Sakura cepat menjauhkan kepala dari dada Sasuke dan menatap Sasuke dengan wajah memerah karena terlalu bersemangat.

"Sasuke-kun! Kau pulang! Kau benar-benar sudah pulang!" Sakura berteriak di depan Sasuke. Gadis musim semi ini tak mau menyembunyikan rasa bahagianya sedikitpun pada Sasuke.

"Kau akan tinggal di desa kan? Kau tidak akan pergi lagi kan?"

"Dimana kau akan tinggal? Dirumah Naruto? Dirumah Kakashi-sensei? Atau mungkin di rumah Sai?"

Sasuke hanya diam. Tak ada tanggapan berarti dari bungsu Uchiha ini akan rentetan pertanyaan penuh semangat Sakura yang bahkan tak bisa Sasuke dengar dengan jelas keseluruhannya. Karena bukannya berkonsentrasi pada pertanyaan Sakura, bungsu Uchiha ini justru berkonsentrasi pada mulut mungil Sakura yang terbuka, tertutup, tersenyum, atau mengerucut, bergantian dengan begitu cepatnya.

"Sasuke-kun?" Panggil Sakura. Ditariknya lengan baju kiri Sasuke yang tanpa tangan, dan dipandangnya Uchiha Sasuke dengan tatapan penuh harap akan jawaban pertanyaan yang diberondongnya dalam satu waktu.

'Kau sangat cerewet, Sakura!' Sasuke sangat ingin mengatakannya. Sangat. Tapi entah bagaimana justru yang dia ucapkan pada Sakura adalah sesuatu yang bahkan Sasuke sendiri tak pernah menyangka akan dikatakannya pada Sakura.

"Tadaima." Satu kata dari Sasuke yang selanjutnya mampu membuat mata emerald Sakura berkaca-kaca bahagia.

"Okaeri Sasuke-kun…" Sakura menghambur memeluk erat tubuh kekar Sasuke, yang berusaha mati-matian agar wajahnya tak tersipu malu. Sakura kini tak lagi takut untuk mendekati Sasuke karena Sakura tahu jika Sasuke sudah membuka hati untuknya walau tak ada satupun penjelasan didapatkannya dari Sasuke setelah mereka saling berpelukan, sebelum Sasuke memulai perjalanan penebusan dosanya.

.

.

Sakura tak mau berhenti tersenyum bahagia. Rona merah tak mau cepat-cepat enyah dari kedua pipinya. Tak peduli apakah yang dirasakannya sekarang kenyataan atau sebuah genjutsu kuat seperti Mugen Tsukoyomi. Sakura hanya ingin terus mengulum senyum bahagia.

Sasuke melirik Sakura yang masih senyum-senyum sendiri di sampingnya dengan mata terpejam. Sebuah seringai tipis disungging Sasuke dengan sangat hati-hati setelah terlebih dahulu memastikan Naruto dan Kakashi masih terlibat dalam perbincangan serius di depannya dan Sakura.

Sakura terlihat sangat cantik dengan senyuman bahagianya. Sesuatu yang dulu sangat jarang bisa Sasuke lihat dengan jelas karena Sasuke terlalu takut untuk menjalin ikatan dengan siapapun. Jangankan untuk menjalin ikatan persahabatan dengan Naruto, menjalin ikatan krusial masalah hati dengan Sakura saja Sasuke tak berani.

"Hinata!" Naruto memanggil Hinata yang kebetulan lewat bersama dengan anggota tim 8 yang lain tak jauh dari tempatnya berjalan. Suara teriakan Naruto membuat Sakura membuka mata emerald indahnya, dan refleks memaksa Sasuke mengalihkan pandangan dari Sakura secepat yang dia bisa.

'Sial.' Umpat kecil Sasuke dalam hati. Telat sedetik saja memalingkan wajahnya, Sakura pasti sudah memergokinya sedang melamunkan gadis itu.

"Naruto-kun," Menyadari Naruto yang meneriakkan namanya dengan penuh semangat, Hinata berlari mendekati tim 7 dan meninggalkan ketiga rekan satu timnya begitu saja.

"Konnichiwa, Hokage-sama." Sapa Hinata dengan menundukkan kepala, untuk memberikan penghormatan kepada Rokudaime Hokage. Saat Hinata mengangkat kepala birunya, semua orang bisa melihat wajah cantiknya yang merona merah.

"Konnichiwa, Hinata." Balas Kakashi. Sebuah senyum tulus dipersembahkan Kakashi dari balik masker hitamnya kepada gadis cantik yang mulai dekat dengan Naruto ini.

"O-ohisashiburi desu ne, Sa-suke-kun." Sapa Hinata pada Sasuke.

"Ha'i," Jawab Sasuke singkat disertai anggukan kepala kecil.

Naruto dan Sakura menatap bangga pada Sasuke. Ternyata benar apa yang diam-diam mereka pikirkan. Uchiha Sasuke sudah berubah. Tak lagi menjadi pemuda dingin walau masih suka bersembunyi di balik wajah stoic tampannya.

"Hokage-sama, apa yang Anda lakukan disini? Kami harus melaporkan misi yang baru saja kami selesaikan." Tanya Kiba yang memutuskan untuk menyusul Hinata.

Sfx : Jgler!

Kakashi tertawa sweatdrop mendengar pertanyaan polos Kiba yang kembali memancing aura hitam mengancam jiwa dari Sakura di belakangnya. Sepertinya Naruto juga merasakannya karena anak Yondaime Hokage itu beringsut-insut menjauh dari sebelahnya dan bersembunyi di belakang tubuh mungil Hinata yang memasang wajah bingung. Sementara Sasuke yang berada tepat disamping Sakura mengambil 3 langkah ke samping kiri karena takut ikut kena semprot Sakura.

"Aku dalam perjalanan kembali ke kantor Hokage." Bohong Kakashi.

"Ayo, Kiba. Shino. Aku akan menemani kalian ke kantor Hokage." Ajak Kakashi. Naruto mendelik terkejut menyadari rencana Kakashi melarikan diri dan meninggalkannya menjadi korban Sakura sendirian.

"Ayo, Hinata!" Ajak Kiba dengan gerakan kepala. Melihat Hinata di depannya mengangguk patuh, membuat Naruto bertambah kalut.

Baru 2 langkah berjalan menjauhi Naruto, langkah Hinata terhenti oleh tangan Naruto yang meraih pergelangan tangannya. Hinata menengok ke belakang, memandang tangan Naruto yang begitu besar dengan wajah bersemu merah.

"Kau disini saja, Hinata." Pinta Naruto dengan wajah memelas yang dibanjiri keringat dingin.

"De-demo, Na-naruto-kun…" Wajah Hinata semakin merona merah saat dirasa tangan kiri Naruto mencengkram pergelangan tangannya semakin erat, seolah sangat berat melepas kepergian Hinata. Naruto bahkan menggeleng cepat mencoba membuat Hinata mengerti posisi sulitnya.

"Hoy, Naruto! Lepaskan tanganmu dari Hinata!" Protes Kiba tak suka.

"Ya, Naruto. Kau tak boleh egois. Hinata milik tim 8." Dukung Shino.

"Guk. Guk." Akamaru menyalak kencang, sepertinya anjing Kiba ini juga ingin mengatakan hal yang sama pada Naruto atas hak kepemilikan Hyuuga Hinata.

"Sudah. Sudah. Biarkan Hinata menemani Naruto. Kalian berdua sudah cukup untuk melaporkan misi." Kedua tangan Kakashi masing-masing dipakai untuk mengapit leher Kiba dan Shino, yang diseretnya menjauh dari tim 7 dan Hinata.

"Kakashi-sensei! Tapi Hinata bagian dalam tim!" Protes Kiba dalam geliat pemberontakannya untuk melepaskan leher dari apitan tangan kekar Kakashi.

"Guk! Guk!" Akamaru menyalak pada Kakashi, menyetujui protes yang dilayangkan tuannya.

"…." Shino ingin melayangkan protes juga, tapi pemuda kumbang ini bingung harus memanggil Kakashi sebagai Rokudaime Hokage atau Sensei dari Tim 7.

Sfx : Kryuuuk…

"?"

"!"

"?!"

Perhatian Naruto, Sasuke, dan Sakura yang sudah berhenti mengeluarkan aura mematikan, teralih pada Hinata yang perutnya baru saja berbunyi sangat keras. Mendapat tatapan sweatdrop dari ketiga temannya, Hinata hanya bisa menundukkan kepalanya yang sudah semerah buat tomat kesukaan Sasuke dalam-dalam. Malu sekali rasanya ketahuan sedang menahan lapar. Apalagi di depan Naruto, Sakura, dan Sasuke.

"Kau lapar, Hinata?" Tanya Sakura lembut. Sembari menahan malu, Hinata menganggukkan kepala biru gelapnya pelan.

"Sasuke-kun, kau juga lapar kan?" Sakura mendongak tinggi untuk menyamakan pandangan dengan mata onyx sebelah kanan Sasuke. Sasuke baru membuka mulut untuk menjawab saat Sakura mengacuhkannya dan bahkan membuang pandangan darinya lalu berjalan mendekati Hinata.

"Semua orang lapar sekarang. Ayo kita pergi ke kedai ramen Ichiraku, Hinata." Sakura memperlakukan Hinata dengan sangat lembut seperti Hinata adalah adik kandungnya. Sakura kemudian merangkul pundak kecil tapi kokoh milik Hinata untuk menjauhkan gadis itu dari Naruto, yang terpaksa harus melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Hinata.

"Naruto yang bayar kok!" Putus Sakura dengan nada penuh ancaman disertai deathglare hingga Naruto hanya bisa membatu ditempatnya karena tak berani membantah.

"Itadakimasu." Sindir Sasuke dibalik seringai gelinya, saat berjalan melewati Naruto yang masih membatu karena sibuk membayangkan sedikit uang yang dia punya terbang tinggi keluar dari dompet kodoknya menuju kedai ramen Ichiraku.

oOo oOo oOo

"Wah, Sakura dan Sasuke. Masuk dan duduklah." Sambut Paman Teuchi hangat.

"Konnichiwa, Teuchi ji-san." Sapa Sakura dibalik senyum manisnya.

"Konnichiwa." Sapa Sasuke kikuk.

Sasuke sebenarnya sempat merasa sedikit khawatir jika dia akan mendapat tanggapan dingin atau cibiran dari warga desa. Mengingat siapa Uchiha Sasuke yang dikenal oleh penduduk desa dulu. Tapi ternyata prasangkanya tidak terbukti sedikitpun. Sakura benar. Sasuke tidak punya alasan untuk merasa takut karena tidak seperti yang Sasuke pikirkan, justru semua orang memandang Uchiha Sasuke sebagai salah satu pahlawan perang dunia shinobi selain Uzumaki Naruto.

"Hahahaha. Konnichiwa." Tawa Paman Teuchi pecah tanpa alasan yang jelas.

"Lama sekali tidak melihat kalian berduaan seperti ini." Ayame masuk dalam obrolan.

"Makan siang setelah pulang kencan ya?" Goda Ayame kemudian.

"Ayame-saaan…" Sakura menangkup wajah meronanya dan menggeliat malu-malu kucing. Sasuke memutar bola matanya bosan merasa sedikit sweatdrop dengan tingkah konyol Sakura.

Sementara Sakura masih terlalu sibuk mengobrol dengan Ayame, Paman Teuchi mulai membuatkan ramen untuk Sakura dan Sasuke. Tak perlu memesan lebih dulu seperti yang dilakukan oleh pengunjung lain karena Paman Teuchi sampai sekarang masih sangat hafal ramen kesukaan masing-masing anggota tim 7, termasuk Sai yang menjadi anggota baru tim 7.

"Lalu dimana Naruto? Kalian tidak mengajaknya?" Tanya Ayame kemudian.

"Duke! Si kuning itu kabur setelah aku bilang dia yang membayar ramennya!" Umpat Sakura kesal. Ayame meringis sweatdrop melihat begitu cepatnya Sakura berubah sikap.

Tak memiliki teman mengobrol, Sasuke hanya bisa menikmati obrolan panjang lebar Ayame dan Sakura disampingnya.

"Maaf, Sasuke-san. Bisa minta tolong kau ambilkan kecap di depan pacarmu?" Pinta seorang warga sipil pada Sasuke.

Sasuke mengepalkan tangan sejenak sebelum mengulurkan satu-satunya tangan yang dia punya untuk mengambil kecap yang ada di samping depan Sakura, yang sedang menertawakan sesuatu entah apa itu.

"Arigatou, Sasuke-san." Ucap warga sipil itu pada Sasuke, sebelum meneruskan obrolan dengan teman satu mejanya lagi seolah apa yang dilakukannya baru saja bukan sesuatu yang besar.

Bukan hal besar memang bagi orang lain. Tapi tidak bagi Sasuke. Walau tidak pernah secara langsung menimbulkan kerusakan terhadap Konoha, tapi Sasuke pernah menyandang status penjahat internasional dan sampai sekarang masih menjadi beban pikirannya. Sebuah gelar yang tidak patut dibanggakan dan memberi cukup alasan bagi warga desa untuk mengintimidasinya, atau jika tidak berani sekedar menatapnya dengan pandangan kebencian.

Sasuke sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berlapang dada dan berpura-pura semua baik-baik saja di depan Sakura jika memang seperti itu perlakuan yang akan Sasuke dapatkan dari warga desa Konoha. Tapi sekali lagi Sakura benar.

"Sasuke-kun." Panggilan Sakura membuyarkan lamunan Sasuke.

"Makanlah ramenmu." Perintah Sakura.

"Hn. Itadakimasu." Sasuke mengangguk patuh dan mulai memakan ramennya karena Sakura sudah menyiapkan sumpit untuknya.

"Itadakimasu!" Sakura berteriak penuh semangat.

"Maaf, Sasuke-san. Bisa minta tolong kau ambilkan kecap di depan pacarmu."

Sfx : Psssh!

Rona merah sedikit demi sedikit mulai mengotori kulit putih Uchiha Sasuke saat tiba-tiba Sasuke tahu apa yang janggal dari permintaan warga sipil padanya tadi.

.

.

"Daisuki da."

"HAH?!" Sakura berteriak sangat keras menahan kaget yang berlebihan melihat sebuket bunga berwarna ungu indah disodorkan Sai kepadanya.

"Uhuk. Uhuk." Sasuke tersedak ocha yang sedang diminumnya.

"Weleh. Weleh. Weleh." Paman Teuchi menggeleng heran pada jiwa-jiwa muda Konoha sementara Ayame justru terlihat bersemangat menanti drama picisan ketiga anggota tim 7 ini.

"Sai! Jangan bercanda denganku, sannarooo!" Sakura secepat kilat menonjok pipi Sai sedikit keras hingga pemuda berkulit pucat itu jatuh melayang 5 meter dari tempat Sakura berdiri kesal. Bunga ungu dalam buket bunga Sai berguguran di sekitar tempat Sai mengerang kesakitan.

"Sakura! Apa masalahmu?" Protes Sai.

"Aku hanya belajar menyatakan cinta untuk Ino." Jelas Sai.

"Are?" Sakura terlihat kaget mendengar penjelasan Sai.

"Gomen ne, Sai." Sakura berlari menghampiri Sai. Sakura kemudian berjongkok di dekat Sai untuk mengalirkan cakra penyembuh berpendar kehijauan pada pipi Sai yang sedikit membengkak.

"Kau seharusnya bilang jika kau ingin belajar. Jadi aku tidak akan salah paham dan memukulmu kan?" Sakura balas memprotes.

"Aku hanya ingin tahu bagaimana reaksi seorang gadis jika aku melakukannya, Sakura." Jelas Sai.

"Hahahaha," Sakura tertawa garing. Sai ternyata masih sangat polos.

"Tentu saja setiap gadis akan memberi tanggapan yang berbeda, Sai." Jelas Sakura. Seulas senyum geli disungging Sakura.

"Tergantung siapa yang menerima pernyataan cintamu."

"Ino…"

"Cepat katakan padanya." Sela Sakura sebelum Sai sempat menyelesaikan keraguannya.

"Jangan buat dia menunggu lebih lama lagi." Sakura kali ini menyungging sebuah senyuman hangat. Membuat Uchiha Sasuke terpana tanpa sadar.

Ayame terkikik geli menyadari bagaimana wajah terpesona Sasuke pada Sakura. Ya, setelah bertahun-tahun Sakura menjadi pihak yang mengejar Sasuke, tak ada salahnya jika mereka berdua bertukar peran sekarang, bukan?

oOo oOo oOo

Naruto dan Hinata berada dalam perjalanan mengantar Hinata pulang ke kediamannya, komplek elit perumahan klan Hyuuga. Naruto beralasan mengantar Hinata pulang karena kasian pada Hinata yang pasti lelah sepulang dari misi, tanpa memberi kesempatan bagi Hinata untuk membantah bahwa dia baik-baik saja. Naruto bahkan menarik paksa Hinata dan berlari secepat yang dia bisa agar tidak sempat dihentikan oleh Sakura ataupun Sasuke.

Naruto bukannya tidak mau mentraktir kedua rekan satu timnya dan Hinata. Hanya saja karena kondisi tangannya yang belum sempurna dan misi yang bisa dia kerjakan paling jauh adalah misi rank C, membuat Naruto tidak punya terlalu banyak uang untuk dia hamburkan.

"Naruto-kun, kenapa kita tidak makan ramen bersama Sakura-san dan Sasuke-kun?" Tanya Hinata.

"Itu karena aku tidak mau mengganggu mereka." Naruto beralasan. Dibuatnya sebuah cengiran lebar yang terlihat kikuk untuk menyembunyikan kebohongannya pada Hinata.

Bagaimanapun juga Naruto seorang laki-laki. Tidak keren rasanya terlihat miskin di depan teman kunoichinya sejak akademi ini. Apalagi Naruto tahu jika Hinata mengaguminya dan sangat menyukainya. Sehingga jika Naruto boleh mengambil kesimpulan mungkin rasa suka Hinata pada Naruto seperti rasa suka Naruto terhadap semangkok ramen.

"Daijobu, Naruto-kun?" Tanya Hinata dengan sorot mata khawatir, berfikir jika Naruto mencoba menyembunyikan rasa kecewanya di balik cengiran rubahnya. Cengiran Naruto memudar. Kini ganti Naruto yang merasa bingung dengan pertanyaan Hinata.

"Apa mak…"

"Naruto senpaiii….!" Sebelum sempat menyelesaikan pertanyaannya, teriakan para gadis menyeruak masuk dalam pendengaran Naruto. Naruto memutar kepala cepat ke arah sumber suara.

'Gawat! Mereka lagi!' Keluh Naruto dalam hati. Walau sudah setahun perang dunia berakhir, Naruto memang masih belum terbiasa menjadi idola baru para gadis Konoha.

"Ikou, Hinata." Naruto meraih tangan Hinata tanpa permisi dan melakukan sushin no jutsu demi menghindari kejaran para fansgirlnya.

Tanpa banyak orang tahu sebenarnya Naruto sering sekali mengeluh pada Konohamaru kenapa para fansgirlnya begitu agresif dan over semangat. Mereka jadi terlihat menyeramkan dan berbahaya. Padahal jika saja para gadis itu semanis dan selembut Hinata, pasti akan lebih menyenangkan bagi Naruto karena Naruto tak perlu merasa pusing oleh suara sumbang dan berisik para gadis.

Jika saja dari awal Naruto tahu memiliki banyak fansgirl tak menyenangkan seperti yang dia bayangkan, saat kecil dulu Naruto tak akan merasa iri pada Sasuke.

Sfx : Tap!

Naruto dan Hinata mendarat di atas genteng rumah salah satu warga sipil Konoha. Hinata yang belum siap melakukan sushin ataupun mendarat darurat hampir terpeleset jatuh ke bawah, karena pijakan kakinya yang tidak kokoh, jika saja Naruto tak sigap menangkap bahu Hinata dengan tangan kirinya yang jauh lebih besar dibanding milik Hinata.

Sfx : Blush!

Wajah Hinata memerah padam tanpa cela. Dicengkram erat bahu kirinya oleh Naruto, sementara bahu kanannya menempel di dada Naruto, membuat jantungnya berdebar kencang. Hinata belum siap. Hinata masih belum terbiasa sedekat ini dengan Naruto.

"Naru…"

"Sussst!" Karena bolos latihan hari ini, Naruto tak bisa terlalu banyak memakai tangan kanannya. Jadi Naruto memonyongkan sedikit bibirnya untuk memberitahu Hinata agar tidak berisik. Naruto khawatir jika sampai segerombolan gadis remaja yang sibuk meneriakkan namanya di bawah sana memergoki keberadaannya.

Sfx : Deg. Deg. Deg. Deg.

Hinata menggigit bibir bawahnya mencoba mengurangi siksaan membahagiakan yang dilakukan Naruto padanya. Tangan Hinata saling meremas di depan dadanya, seolah Hinata berusaha menahan agar jantungnya tidak melompat keluar dari tempatnya berada.

"Sial, mereka semua keras kepala sekali!" Keluh Naruto. Walau 5 menit sudah terlewati, segerombolan fansgirl Naruto masih keukeh meneriakkan nama Naruto.

Hinata mulai menyadari kejanggalan pada tangan besar Naruto yang meremas bahunya setelah pikirannya sedikit tenang. Awalnya Hinata pikir tubuhnya yang bereaksi memanas. Tapi ternyata Hinata salah. Tangan Narutolah yang semakin lama dirasakan Hinata semakin panas.

Hinata memberanikan diri untuk mendongakkan kepala birunya, menatap wajah Naruto yang sangat dekat dengan kepalanya. Hinata dapat melihat jelas bagaimana wajah Naruto merona merah walau tipis. Cukup lama Hinata berada dalam posisi ini tanpa disadari Naruto yang terlalu sibuk mengawasi segerombolan fansgirlnya.

Sfx : Swiiiing!

Angin musim semi mulai bertiup melewati Naruto dan Hinata dengan membawa banyak sekali guguran kelopak bunga Sakura. Beberapa helai bahkan terjebak di rambut jabrik Naruto. Tapi bukan itu alasan Hinata mengulurkan satu tangannya mendekati kepala Naruto, karena yang jadi perhatian utama Hinata adalah wajah tan Naruto yang merona tipis.

Hinata menyusupkan telapak tangan kanannya pada kening Naruto, di bawah poni Naruto yang sudah semakin panjang, untuk merasakan suhu tubuh Naruto.

"!" Naruto menundukkan wajahnya yang merona tipis dan menatap Hinata bingung.

"Kau demam, Naruto-kun?" Tanya Hinata dengan nada khawatir.

"Ore?" Naruto balik bertanya.

"Itu dia! Naruto senpai di atas genteng!"

Naruto memutar kepala cepat menatap ngeri pada segerombolan fansgirlnya yang berhasil menemukan tempat persembunyiannya dan Hinata. Tanpa menjawab pertanyaan Hinata, dan tanpa peringatan, Naruto kembali melakukan sunshin no jutsu.

"Heh?! Naruto-senpai hilang lagi!" Pekik salah seorang gadis.

"Cepat cari!" Segerombolan fansgirl Naruto segera berpencar mencari kembali hawa keberadaan Naruto.

.

.

Sfx : Tap!

Naruto untuk kedua kalinya mendarat di tempat aneh. Setelah mendarat di atas genteng rumah warga sipil, kali ini Naruto mendarat di tengah rerimbunan rumput liar entah dimana. Untunglah gadis yang bersamanya sekarang adalah Hyuuga Hinata. Karena jika tidak, Naruto pasti tidak akan bisa menyelamatkan kepala jabriknya dari sebuah jitakan mematikan.

"Gomenasai!" Hinata yang tanpa sadar ternyata bergelanyut pada leher Naruto, segera menjauhkan diri dari Naruto dengan wajah memerah padam. Naruto menggaruk belakang kepalanya bingung akan sikap Hinata.

"Hinata. Dari dulu aku penasaran. Kenapa kau sering memalingkan wajahmu dariku?" Tanya Naruto. Hinata menunduk malu dalam kebingungan. Mempermainkan kedua jari telunjuknya di depan dada. Haruskah Hinata menggunakan kesempatan ini untuk menyatakan cintanya sekali lagi pada Naruto?

"Apa kau membenciku?" Pancing Naruto.

"Iie!" Hinata berpaling cepat dan memekik spontan, membuat Naruto kaget hingga jatuh terduduk menempel tanah. Naruto bahkan sampai harus menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya.

"Watashi wa…"

"Watashi wa…" Hinata mulai merasakan kegugupan yang luar biasa. Apalagi mata langit Naruto menatapnya penuh penantian.

"Wa-watashi wa, Na-naru-to-kun wa…"

Sfx : Deg! Deg! Deg!

Jantung Hinata berdetak diluar detakan normalnya. Bagaimanapun Hinata mencoba meneguhkan hati, mulut Hinata terasa kelu untuk dapat menyelesaikan pernyataan cinta keduanya dengan lancar.

"Dai…"

Sfx : Kruush!

"Are?"

Hinata, Naruto, dan seorang kakek yang memegang gunting rumput membeku di tempat mereka masing-masing. Setelah tersadar dari rasa terkejutnya, dengan gerakan kaku Naruto mengulurkan tangan kirinya untuk menyentuh bagian tengah rambut jabriknya yang terasa dingin.

Air mata mengalir deras melewati kedua pelupuk mata safir Naruto. Naruto menangis tanpa suara saat merasa yakin jika suara yang baru saja di dengarnya adalah suara rambut jabrik kebanggannya yang ikut dibabat oleh kakek pemilik rumput tempat dia dan Hinata bersembunyi. Sementara itu sang kakek menganga ngeri ditempatnya melihat kepala bagian tengah Naruto hampir botak akibat ulahnya.

.

.

Naruto masih sibuk menatap miris pantulan dirinya dan rambut baru cepaknya di depan kaca, walau sudah 5 menit berlalu setelah sang kakek selesai memotong seluruh rambut kuningnya agar rata.

"Maafkan saya, Naruto-sama. Saya tidak sengaja melakukannya." Sang kakek menggaruk belakang kepala botaknya kikuk. Tak ada tanggapan dari Naruto karena anak Yondaime Hokage itu masih sibuk meratapi nasib rambut jabriknya.

"Iie, daijobu, Ojii-san. Naruto-kun hanya butuh sedikit waktu untuk terbiasa dengan rambut barunya." Hinata yang menjawab di balik senyum gelinya. Sang kakek melirik Naruto yang air matanya semakin deras saja membanjiri wajah berkumisnya.

"Kalau begitu saya permisi dulu." Sang kakek menundukkan sedikit kepalanya dan memilih untuk pergi meninggalkan Hinata dan Naruto di pelataran rumahnya daripada nanti tiba-tiba Naruto membuatnya babak belur walau tidak mungkin terjadi. Hinata balas sedikit menunduk untuk menghormati sang kakek.

"Ufu." Hinata tertawa kecil karena Naruto masih saja menangis tanpa suara di depan kaca. Jika sedang begini Naruto jadi terlihat sangat manja. Dan jika boleh jujur, Hinata sangat menyukai Naruto yang seperti ini.

"Naruto-kun." Panggil Hinata. Naruto mendongak, menatap Hinata yang masih mengulum senyum geli dengan air mata mengalir deras membanjiri wajah berkumisnya.

"Bahkan kau juga tertawa, Hinata! Aku pasti terlihat sangat lucu." Rengek Naruto.

"Bagaimana aku akan menghadapi dunia setelah ini." Tambah Naruto berlebihan.

"Iie, Naruto-kun." Hinata menggeleng cepat.

"Kau terlihat sangat tampan." Puji Hinata tulus. Air mata Naruto berhenti mengalir seketika. Naruto menatap Hinata dengan tatapan penuh arti.

Menyadari bahwa apa yang baru saja diucapkannya terlalu berani, Hinata segera merubah pernyataannya.

"Ma-maksudku Na-naruto-kun ti-tidak akan ke-kerepotan lagi mera-pikan rambut de-dengan sa-satu tangan," Hinata tergagap dan salah tingkah. Tangannya sibuk menarik-narik ujung jaket ungunya.

"Sou ka?" Naruto mengulum seringai tipis penuh arti.

"Ha-ha'i." Angguk Hinata cepat.

"Aku rasa kau benar." Seringai Naruto berkembang menjadi senyuman lebar penuh rahasia yang hanya Naruto sendiri yang tahu apa artinya.

oOo oOo oOo

"Ya ampun!" Ino berteriak sangat keras agar terdengar oleh Shikamaru dan Temari.

Sfx : Plok!

'Ittai.' Ino memekik kecil dalam hati karena terlalu keras menepuk jidatnya sendiri hanya untuk memberi kesan kuat jika dia benar-benar melupakan sesuatu.

Shikamaru dan Temari yang memang berjalan tanpa sadar sedikit jauh di depan Ino, menghentikan langkah dan menoleh kepada Ino bersamaan. Shikamaru dan Temari kemudian saling melempar pandangan bingung melihat bagaimana Ino tak bisa menyembunyikan wajahnya yang meringis sakit.

"Aku baru sadar aku menghilangkan dompetku." Ino menurunkan tangan dari keningnya, yang tercetak merah telapak tangannya, dan segera menyampaikan alasan.

"Aku akan coba mencarinya di kedai ramen Yakiniku_Q." Sambung Ino cepat tanpa memberi Shikamaru kesempatan untuk bertanya.

"Biar aku temani." Sela Temari walau pandangan Ino lebih ditujukan pada Shikamaru.

"Tidak usah." Ino menggeleng cepat.

"Kau harus cepat mengantarkan Temari-san pulang, Shikamaru! Temari-san sedang sakit. Bagaimana bisa kau tidak menyadarinya?" Ino mencoba merubah topik.

Shikamaru mengalihkan perhatiannya pada wajah Temari tanpa banyak berkomentar. Menatap wajah cantik kakak tertua Kazekage ini dengan pandangan menyelidik. Benar juga kata Ino, rona merah di wajah Temari bisa dilihatnya dengan sangat jelas sekarang.

Sebenarnya dari awal pertemuan tak sengaja mereka di kedai dango, Shikamaru sadar jika wajah Temari sedikit memerah. Tapi Shikamaru berfikir mungkin Temari hanya merasa sedikit kedinginan saja mengingat wajah Ino juga sering memerah jika merasa kedinginan. Shikamaru nampaknya benar-benar lupa jika saat ini di Konoha sedang musim semi dan bukannya musim dingin.

"Berhenti menatapku seperti itu, Shikamaru!" Protes Temari yang merasa jengah dengan cara Shikamaru menatapnya.

"Maaf." Ucap Shikamaru singkat pada Temari sebelum memutar kepala nanasnya kembali pada Ino.

"Ino, aku minta maaf padamu juga. Aku tak bisa menemanimu kembali ke Yakiniku_Q." Shikamaru tak bisa menyembunyikan ekspresi tak enak hati pada Ino karena lebih memilih mengantar Temari kembali ke penginapannya.

Walau nampaknya Ino baik-baik saja dari senyum lebar yang disunggingnya pada Shikamaru, tetap saja tak membuat hati Shikamaru tenang. Bagaimanapun juga Ino sudah seperti adik perempuannya sendiri sejak mereka berdua berada dalam satu tim 10 dibawah bimbingan almarhum Sarutobi Asuma. Apalagi setelah kedua ayah mereka gugur dalam perang, Shikamaru semakin menyayangi Ino dan berusaha untuk selalu melindunginya bersama Akimichi Chouji.

"Jika aku sampai membuat gadis disebelahku ini sakit," Shikamaru menunjuk Temari dengan jempol kirinya, sementara tangan kanan Shikamaru disembunyikannya di dalam kantong celana.

"aku takut besok pagi ibu akan menangis di atas makamku." Temari mendengus geli mendengar kalimat terakhir Shikamaru.

"Wakatta." Ino mengangguk maklum. Senyuman lebar namun terkesan dipaksakan tak kunjung dilepaskannya.

"Jika aku pergi sekarang, sepertinya aku masih bisa menyusul Chouji." Tambah Ino.

"Bye Bye Shikamaru. Temari-san." Pamit Ino.

Ino memutar tubuh dan mencoba untuk berjalan senormal yang dia bisa. Kedua tangannya yang bergetar disembunyikan Ino di depan tubuhnya agar tak terlihat oleh mata awas Shikamaru.

Shikamaru mengerutkan kening dengan kedua tangan yang disembunyikannya di dalam kantong celana. Walau tidak begitu yakin, tapi Shikamaru tahu ada yang aneh dengan Ino. Tidak biasanya Ino tersenyum selebar itu dan tak cerewet mengeluhkan apa saja yang bisa dia keluhkan. Shikamaru mulai menyesali keputusan yang baru saja dia ambil. Sepertinya tidak tepat membiarkan Ino sendirian saat ini.

'Mungkin sebaiknya aku merubah keputusanku.' Pikir Shikamaru dalam hati.

"Jadi apa aku boleh menghadiri pemakamanmu?" Sindir Temari.

Shikamaru menunduk sedikit untuk beradu pandang dengan jade tajam Temari. Sial bagi Shikamaru, baru saja berniat untuk merubah keputusannya dan meminta Temari kembali ke penginapan sendirian, wajah Temari yang terlihat semakin cantik saat sedang merona sukses membuat lidahnya tiba-tiba terasa kelu hingga tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya seperti apa yang ada dalam pikirannya.

'Mendokusai!' Umpat Shikamaru dalam hati.

Shikamaru memejamkan mata beberapa detik, mencari kemana perginya kata-kata yang tertahan di kerongkongannya tadi. Untunglah tak butuh waktu lama bagi Shikamaru segera bisa menguasai dirinya kembali.

"Hanya jika kau tak menghabiskan waktu terlalu lama untuk menguncir rambutmu." Jawab Shikamaru asal.

Shikamaru kembali berjalan. Menyesali kelemahan hatinya karena Temari. Merapalkan permintaan maaf yang sangat banyak dalam hati kepada Ino karena akhirnya benar-benar tak mengantar Ino kembali ke kedai ramen Ichiraku.

Shikamaru terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tak sadar jika meninggalkan Temari sedikit jauh dibelakangnya. Shikamaru juga tak sadar jika jawaban asalnya mulai mengganggu pikiran Temari dan membuat Temari mengambil kesimpulan sepihak tentang Shikamaru yang ternyata tidak menyukai gadis dengan terlalu banyak kunciran sepertinya. Mengingat Shikamaru adalah laki-laki yang sangat mudah melabeli segala hal "merepotkan", keyakinan Temari akan kesimpulan yang baru saja dibuatnya menjadi semakin kuat.

"Sampai kapan kau mau berdiri disana? Ayo pulang." Shikamaru memberi perintah Temari untuk mulai berjalan dengan gerakan kepala.

Temari kembali melangkah menyamakan posisi dengan Shikamaru sebelum keduanya berjalan berdampingan dalam diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Shikamaru, besok aku akan kembali ke Suna." Menyadari hampir sampai di penginapannya, Temari memecah keheningan antara dirinya dan Shikamaru. Suara Temari terdengar melembut. Tapi Shikamaru tahu, walau tak terlalu kentara namun ada nada berat di dalamnya.

Shikamaru melirik Temari sejenak sebelum mengulum sebuah senyum penuh arti.

"Mau mampir di kedai dango? Sepertinya aku lapar lagi." Tawar Shikamaru. Tak segera menjawab, Temari justru menunduk sedikit untuk menyembunyikan senyum penuh artinya juga.

"Jika kau memaksa." Jawab Temari.

Saat gadis berkuncir empat ini mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk pada Shikamaru, sebuah cengiran lebar yang sangat jarang diperlihatkan gadis ini pada orang lain selain Shikamaru terukir sangat jelas di wajah tembemnya.

oOo oOo oOo

Sfx : Cklek! Klang.

Ino membuka pintu masuk toko bunganya dengan malas. Hari ini sangat menyebalkan untuknya. Melihat Sakura seharian bersama Sasuke dari jauh. Tak sengaja melihat Naruto dan Hinata bermesraan di atas genteng. Lalu berakhir harus menjadi obat nyamuk Shikamaru dan Temari di jalan.

Sfx : Tak. Tak. Tak.

Ino menyalakan semua lampu yang ada di dalam tokonya. Disambarnya malas kemoceng yang tergantung pasrah di tembok dekat pintu masuk untuk mulai membersihkan debu yang membuat kotor meja kasirnya.

Ino tahu di jam semalam ini tidak mungkin ada pembeli. Ino hanya selalu merasa nyaman berada di toko bersama seluruh koleksi bunga yang dijualnya, karena Ino bisa bercerita, mengumpat, menangis, dan melakukan apapun di depan semua bunganya tanpa mendapatkan satupun interupsi atau cemoohan dari mereka.

Sfx : Klang!

Mendengar lonceng pintu masuk tokonya berbunyi, Ino memutar tubuh cepat. Penasaran siapa orang yang membeli bunga di jam selarut ini.

"Irasshaimase," Ucap Ino refleks.

"…" Tak ada tanggapan dari pelanggan yang baru saja membuka pintu masuk toko bunga Ino.

"Sai-kun?" Ino kini terheran-heran melihat Sai berdiri terpaku di depan pintu masuk dengan wajah tegang.

Sekali lagi Sai mengabaikan Ino. Sai justru sibuk mengeluarkan gulungan dari dalam tempat gulungan di saku pinggangnya. Ino memiringkan kepala kuncir kudanya bingung. Berfikir jangan-jangan karena lapar Sai jadi sedikit konslet pikirannya.

Ino mengerutkan kening semakin jelas saat melihat gambar dari gulungan pertama yang dibuka Sai adalah 3 ekor tikus hitam legam. Sai lalu membuat segel tangan dan mulai merapalkan jutsunya.

"Ninpou Choujuu Giga." Selesainya Sai merapalkan jutsunya. 3 ekor tikus kecil yang digambarnya menjadi hidup dan berlarian keluar dari gulungan Sai. Menyebar masuk dalam toko bunga Ino.

"IYAAAKS?!" Ino memekik geli saat satu ekor tikus begitu jahil lewat diatas kakinya.

Ino semakin yakin otak Sai sedang tak beres karena pemuda pucat itu tanpa sebab menyebar hama di toko bunganya.

Sfx : Prang!

Suara vas bunga pecah berhasil memancing kemarahan Ino yang sebelumnya sudah merasa badmood.

"SAI! Apa kau salah makan?! Apa yang kau lakukan ditoko bungaku?!" Mata aquamarine Ino memutih kesal pada Sai yang mulai mengeluarkan gulungan kedua. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Sai terlihat menulis sesuatu di atas media gambar khususnya.

Sfx : Slap! Tap!

Ino melompat dan mendarat tepat di depan Sai. Tanpa membuang banyak waktu, Ino memukul keras kepala hitam Sai dengan kemoceng sebagai pengganti kunai.

"Ittai!" Pekik Sai spontan.

Gulungan yang sebelumnya di genggam erat dengan satu tangan, jatuh tergeletak di atas kaki Ino. Ino refleks meraih gulungan yang ada di atas kakinya dan membaca apa yang ditulis Sai disana. Tak butuh waktu lama, mata aquamarine Ino berkaca-kaca haru membaca deretan kanji di depannya.

"Daisuki da, kimi dake o. Yamanaka Ino." Adalah pesan yang dibuat Sai untuknya.

Sfx : Ciit! Ciit! Ciit!

Ketiga tikus yang disebar Sai masing-masing menggigit setangkai bunga bermacam bentuk dan warna yang kemudian disetorkan kepada Sai. Melihat tuannya mengangguk, ketiga tikus Sai kembali menjadi gambar tak bergerak di atas gulungan Sai yang dibuarkan tergeletak dalam keadaan terbuka.

"Tsu-tsukiatte kudasai, Ino! (Jadilah pacarku, Ino!)" Pinta Sai sembari menyodorkan tiga tangkai bunga hasil pemburuan tikus miliknya.

Ino menatap tak percaya bergantian pada tiga tangkai bunga di tangan Sai, dan pada Sai yang berdiri tegang dengan wajah pucatnya yang merona malu.

"Gomen-ne, Sai-kun." Jawab Ino dengan suara lirih setelah saling terdiam beberapa lama. Sai menunduk frustasi. Berfikir jika dia baru saja ditolak Ino.

"Maaf karena sudah memukul kepalamu."

Cup.

Ino menghadiahkan sebuah kecupan sayang di pipi pucat Sai yang segera saja bersemu merah dengan sangat jelas.

oOo oOo oOo

"Hoooaaam…" Sai menguap lebar.

Untunglah semalam semuanya berjalan lancar. Sai berhasil menyatakan cinta dan berhasil menjadikan Yamanaka Ino miliknya. Sekarang Sai tak perlu merasa cemburu lagi pada Nara Shikamaru atau Akimichi Chouji jika Ino bersama mereka.

Sai mulai menjalankan aktivitas paginya seperti biasa, namun kali ini sedikit lebih pagi dari jam normal Sai karena Chuubu Rokudaime Hokage ini mendapatkan misi dadakan semalam sepulang dari toko bunga Ino. Mandi pagi, sarapan pagi, memakai pakaian ANBUnya dengan rapi seperti biasanya. Yang berbeda hanya senyum bahagia yang tak dilepaskan Sai sedetikpun dari wajah pucatnya.

Sai menatap sedikit lama pantulan dirinya yang tersenyum bahagia, kebahagiaan yang butuh waktu lama bagi Sai untuk mendapatkannya. Senyum bahagia yang sungguh terasa singkron sekali dengan Sai sang ANBU Root 2 tahun sebelumnya. Dimana Sai bahkan tidak tahu definisi emosi itu apa dan bagaimana cara mengekspresikannya agar dimengerti orang lain dengan mudah.

"Tinggal memakai sandal dan berangkat." Ucap Sai pada dirinya sendiri.

Sai mulai berjalan meninggalkan kaca lemarinya. Memastikan kamarnya telah terkunci rapat sebelum berjalan ke ruang depan rumahnya. Sesampainya di ruang depan tempat Sai meletakkan sandal ninjanya, Sai mengerutkan kening. Ada sepucuk surat tanpa amplop yang tergeletak tak jauh dari celah pintu bawah pintunya.

Sai sedikit ragu mengambil surat tak bertuan itu. Dengan kewaspadaan tingkat tinggi Sai mulai membuka surat itu. Intuisinya sebagai ANBU dan tangan kanan Hokage memaksa Sai untuk selalu menaruh curiga pada benda apapun yang tak jelas asal-usulnya.

"Haha," Sai tertawa sweatdrop setelah tahu bahwa surat yang tergeletak tanpa daya di bawah celah pintu masuk rumahnya adalah bon tagihan dari toko bunga Yamanaka atas pembelian 3 tangkai bunga dan beberapa vas bunga Ino yang dipecahkan oleh ketiga tikus Sai.

.

.

Sfx : Tap!

Sasuke mengerutkan kening terkejut saat sosok Sakura, yang memakai baju berwarna merah tua dengan sedikit lengan dan rok selutut berwarna hijau tua, berdiri melamun menatap langit pagi Konoha yang bersih dari awan. Walau tak tahu apa yang saat ini Sakura lamunkan, tapi dari sorot emeraldnya yang menyembunyikan kesedihan, Sasuke tahu pasti Sakura sedang memikirkannya.

"Apa yang kau lakukan disini sepagi ini?" Tanya Sasuke memecah lamunan Sakura.

Seolah sudah memperkirakan sebelumnya, Sakura memutar kepala dengan tenang untuk menatap Sasuke dengan sebuah senyuman yang dipaksakan terlihat normal.

"Itu karena kau harus melewati jalan ini untuk meninggalkan desa." Jawab Sakura.

"Darimana kau tahu aku akan pergi?" Tanya Sasuke kembali.

"Dari sini." Sakura meletakkan telapak tangan kanannya di depan dada kirinya.

Sasuke hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Sakura. Sasuke kembali meneruskan langkahnya tanpa memberi tanggapan pada jawaban Sakura.

"Sasuke-kun," Panggil Sakura dengan suara lirih saat Sasuke berjalan melewatinya tanpa melirik sedikitpun.

Sakura menunduk. Kedua tangannya saling menggenggam erat di depan roknya. Baru saja setitik air mata kesedihan menetes keluar dari pelupuk matanya, Sakura dapat melihat sepasang kaki dengan sandal ninja berwarna hitam berdiri kokoh di depannya. Sakura mendongak dengan wajah sembab.

"Bukankah kau disini untuk mengantar kepergianku?" Tanya Sasuke.

"Apa aku boleh?" Tanya Sakura ragu.

"Hn." Jawab Sasuke singkat.

Sasuke dengan menahan malu, kembali membalikkan tubuh dan berjalan menuju pintu gerbang Konoha. Sementara itu, Sakura menghapus sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya cepat, dan mengekor di belakang Sasuke.

"Berjalanlah disampingku." Perintah Sasuke. Masih dengan membawa rasa tak percayanya, Sakura memposisikan dirinya di samping Sasuke.

"Aku tidak pergi untuk menjadi Nuke-nin." Sakura seperti bermimpi melihat Sasuke saat ini sedang tersenyum hangat padanya.

"Hanya belum saatnya aku kembali ke desa." Sasuke begitu lembut menjelaskan posisinya pada Sakura.

Sfx : Tap.

Sasuke berhenti berjalan tepat di depan pintu gerbang Konoha. Sasuke kemudian berjalan ke depan Sakura yang nampaknya masih terjebak dalam ketidakpercayaannya. Dalam diam Sakura bisa melihat tangan kanan Sasuke yang terangkat. Dalam benak Sakura mungkin Sasuke akan kembali menyentil keningnya seperti yang dilakukan Sasuke terakhir kali mereka berpisah setelah perang dunia dulu. Tapi ternyata tidak seperti itu.

"Kemarikan tanganmu." Perintah Sasuke. Sakura menurut tanpa banyak berkomentar. Diulurkan tangan kanannya di depan Sasuke.

Sasuke meletakkan tangan kanannya yang sejak tadi tergenggam di atas telapak tangan Sakura. Mata emerald Sakura terpaku pada tangan Sasuke yang perlahan mulai merenggangkan genggaman tangannya. Saat tangan kokoh itu terangkat, Sakura dapat melihat sepasang jepit rambut berwarna merah tua tergeletak manis di atas telapak tangannya.

Mata emerald Sakura melebar terkejut. Tak pernah sedikitpun terpikirkan oleh Sakura jika Uchiha Sasuke akan memberikan hadiah seperti ini padanya.

"Otanjoubi Omedettou, Sakura."

"Aku pulang untuk memberikan ini padamu." Sasuke mengambil salah satu dari benda itu. Tangan kanan Sasuke kemudian mengarah ke kepala bagian kanan Sakura.

"Dan untuk memberitahumu apa yang aku pikirkan." Sakura bisa merasakan Sasuke melakukan sesuatu di rambut Sakura.

"Aku tidak pandai mencari kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku padamu." Sasuke ternyata menjepit poni Sakura dengan jepit rambut berwarna merah maroon seperti buah tomat yang terlalu matang.

"Nokori no jinsei zutto ishou ni iyou, Sakura. (Aku ingin bersamamu selama sisa hidupku, Sakura.)" Ucap Sasuke dengan sangat tegas. Mata emerald Sakura membulat penuh sebelum berkaca-kaca oleh buncahan rasa harunya. Sakura tidak boleh menangis. Sakura tidak boleh terlihat cengeng di depan Sasuke. Sakura meneguhkan hati untuk menjadi wanita kuat di depan Sasuke walau kerongkongannya terasa sangat perih menahan tangis.

Dan tidak cukup disana kebahagiaan yang Sasuke berikan pada Sakura. Bungsu Uchiha kembali mengangkat tangan kanannya, kali ini menyusup di bawah telinga Sakura yang tertutupi rambut permen kapas pendeknya. Sasuke mendongakkan kepala Sakura dan memaksa Sakura menatap mata rinnegan dan onyx tajamnya yang menyiratkan kehangatan hati yang selama ini disembunyikan sangat apik oleh Sasuke.

Sakura memejamkan mata emeraldnya saat Sasuke mulai membunuh jarak antara keduanya. Tanpa banyak penjelasan Sakura tahu apa yang akan Sasuke lakukan. Sasuke ingin memberi tanda kepemilikan dirinya pada bibirnya yang bergetar menahan bahagia.

"Katakan jika kau tidak mau, Sakura." Desis Sasuke.

"…" Kediaman Sakura seolah menjadi pernyataan setuju dari sang gadis.

Sasuke pun tanpa ragu mendaratkan sebuah ciuman lembut pada Sakura yang membiarkan saja air mata bahagianya mengalir keluar dari kedua pelupuk matanya yang terpejam.

Sfx : Swiiiing!

Angin musim semi menghujani Sasuke dan Sakura dengan guguran kelopak indah bunga Sakura. Walau sebenarnya baru besok hari ulang tahun Sakura, Sakura tak mengatakan apapun. Kepalan tangan Sakura yang mengepal erat menahan gejolak perasaannya, sudah cukup untuk mewakili rasa syukurnya karena tak pernah menyerah untuk menunggu datangnya hari ini.

.

.

Sfx : Dziing!

Sai menekan cepat tombol di area lehernya saat benda itu mulai mengeluarkan suara berdesing.

"Apa kau berhasil?" Tanya seseorang dengan dibarengi suara gemerisik dari wireless yang dipakai oleh Sai.

"Ha'i, Hokage-sama." Sai mengangguk patuh walau tahu Kakashi tak akan melihatnya.

"Aku berhasil merekam mereka seperti yang kau perintahkan." Jawab Sai dengan suara selirih yang dia bisa. Sai harus menjaga konsentrasi agar tidak terpergok oleh Sasuke dan Sakura atau umurnya tidak akan panjang lagi di ditangan dua rekan satu timnya itu.

"Kalau begitu lekas kembali keruanganku, Sai! Aku ingin segera menontonnya." Perintah Kakashi.

"Ha'i. Wakarimashite." Hanya butuh waktu satu kedipan mata bagi Sai untuk menghilang dari tempatnya merekam adegan perpisahan Sasuke dan Sakura seperti yang diperintahkan oleh Rokudaime Hokage, Hatake Kakashi, padanya. Misi rank-S kata Kakashi.

oOo The End oOo

Author Note : Like what Cand said before, It's just for fun ^_^

Cand_Chan.