=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

7 [Sin] x 7 [Mystery]

Story © Necro Antharez / Nekuro Yamikawa

Vocaloid © YAMAHA, Crypton Future Media & joined companies

Genre : Supernatural / (Undetermined yet)

Rate : T

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

Scene : The Lost "Pride"

"Kagamine San", the Wailing Ghost that Haunting our Library's Opposite Mirror.

.

.

.

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

Setelah melalui beberapa ruangan, persimpangan dan belokan-belokan di lorong lantai pertama, akhirnya Len sampai juga di hadapan daun pintu ruang kelasnya yang terbuka setengah. Tanpa menunggu lama, atau menghiraukan pandangan dari dua puluh sembilan pasang mata di setiap tempat duduk yang ada, anak laki-laki ini segera melangkahkan kaki dan menghempaskan diri di bangku terdepan paling kiri. Salah satu posisi paling dekat dengan jendela dan mengarah langsung pada halaman belakang sekolah.

Dia memilih tempat itu karena dari sana dia bisa mengamati keadaan di luar kelasnya, dan setidaknya masih memperoleh sebagian dari cahaya matahari, meski hanya di waktu sore menjelang pulang saja.

"Tumben kau datang tepat waktu, Len." Sapaan sekaligus sindiran pagi bagi Len begitu dia menyandarkan punggung dan meregangkan badan sejenak. Len menolehkan sedikit kepalanya, memandang sekilas anak laki-laki berambut putih di seberang deret bangkunya. Bocah itu adalah sekian dari beberapa anak yang tak terpengaruh oleh cerita takhayul yang seenaknya saja dilekatkan pada sosok Len Kagamine. Bisa dibilang, dia adalah salah satu teman yang bersikap akrab pada si bocah pirang berkuncir di sekolah ini.

"Begadang main game lagi?" sambungnya dengan sebuah pertanyaan yang baginya adalah kalimat retoris jika ditujukan pada Len. Anak itu kemudian merogoh tas dan mengeluarkan sebuah buku catatan bahasa inggris untuk menyambut jam pelajaran pertama mereka setelah bel sekolah berteriak nyaring beberapa detik setelah bocah pirang itu memasuki kelas.

Len diam tak menjawab. Dia hanya melirik sekilas dan me-mimik apa yang dilakukan si pemilik bangku tetangga. Meletakkan buku catatan di atas meja. Menindihnya dengan siku. Lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela selama menanti kedatangan sang guru.

"Oke," anak laki-laki itu memutuskan untuk mengambil jeda di antara percakapan mereka yang hanya berlangsung satu arah. Dia melenguh, mengetukkan jari di meja, lalu mencuri pandang ke deretan anak-anak perempuan di belakang dan bergumam, "diam berarti iya." seraya mengerling usil dan melayangkan senyum pada seorang gadis bernama Akiko Akane yang sempat bertatap mata dengannya untuk sekilas.

Saat itu juga, anak itu mendapat balasan berupa juluran lidah dan wajah yang berpaling dengan sikap angkuh. Bahkan dia bisa mendengar pekikan "Hmph!" dari bibir bersungut si gadis meski jarak mereka jauh.

"Hei, Len, menurutmu siapa anak perempuan di sini yang paling menarik?" sekali lagi, dia menoleh ke arah Len dan mencoba mengobrol dengannya yang sedang dalam fase patung batu. Hanya saja kali ini salah satu alisnya berkedut dan senyuman kaku menempel di bibirnya. Membuat anak itu lebih cocok disebut sedang mengaduh karena perlakuan yang dia dapat barusan daripada meminta pendapat final dari si bocah blasteran ─yah, jika bukan turunan langsung dari kedua orang tua, mungkin rambut berkilau dua puluh empat karat itu adalah warisan dari kakek neneknya. Siapa tahu?

Dia berharap, Len akan memberikan jawaban yang bisa menstimulus otaknya agar bisa menghasilkan bermacam olokan, sekaligus membelokkan persepsi awal yang dia miliki pada gadis berambut keruh kemerahan bermodel sanggul barusan. Misalnya si kepala ramen ─karena tusuk konde yang digunakannya. Kepala permen Loli ─kau bisa melihat gulungan rambut itu seperti sebutir permen jeruk raksasa yang melekat di kepalanya. Atau…

"GRAAAK."

Suara derak halus dari daun pintu yang digeser, disusul salam dari orang dibaliknya seketika mengalihkan perhatiannya. Begitu juga seisi kelas. Hampir semua murid saat ini memasang wajah heran ketika mendapati sosok guru perempuan sekaligus wali kelas mereka, Avanna sensei, melenggang masuk dengan membawa beberapa lembar kertas di tangannya. Wanita berambut hitam bergelombang mencapai punggung itu duduk di balik meja dan mulai mengoreksi lembaran-lembaran yang dia bawa setelah menerima salam hormat dari anak-anak didiknya.

"Anak-anak," ucapnya mengawali pertemuan jam pelajaran pertama. Wanita itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, lalu mengamati kertas-kertas di tangannya sekali lagi. "Hari ini Leon sensei berhalangan hadir karena ada keperluan yang mendesak." Terdengar seruan 'yes!' dari deretan bangku belakang, tetapi terlalu lirih untuk bisa terdengar sampai ke telinga wali kelas mereka.

"Namun, beliau telah berpesan agar kalian semua mengerjakan soal di buku pelajaran mulai dari halaman 100 sampai 110." Sambungnya yang kali ini berhasil membuat seruan-seruan semacam tadi berubah menjadi desahan malas. Lagi-lagi dari murid-murid bandel bangku belakang. "Tugas tersebut harus segera dikumpulkan hari ini."

"Haaa?!" yah, sepertinya untuk kalimat yang terakhir ini semua murid bersepakat untuk menyuarakan rasa keberatan mereka. Kecuali Len dan segelintir kecil lainnya.

"Kalian tidak perlu menyelesaikan semuanya," wanita itu tersenyum simpul. "kerjakan semampu kalian minimal setengah dari jumlah halaman yang diberikan." Lanjut wali kelas mereka untuk mencegah agar setiap penghuni yang menjadi tanggung jawabnya ini tidak menjadi gaduh dan mengusik kelas lainnya. "Ada yang perlu ditanyakan?"

Salah seorang murid perempuan merespon. Dia mengangkat tangannya untuk meminta ijin bertanya. Avanna sensei mengangguk. Lalu mempersilahkan anak itu untuk berdiri dan mengatakan apa yang ingin diucapkan. "Lalu, mengapa kami harus mendapat tugas sebanyak itu jika kami tidak perlu menyelesaikan semuanya, sensei?"

"Oh, itu..." Avanna menunjukkan lembar-lembar yang sejak tadi dia genggam. "karena sebagian besar dari kalian mendapat nilai kurang, bahkan pas di atas standard nilai ulangan harian bahasa inggris dari kegiatan ulangan minggu lalu." Wanita itu mengambil jeda. Melipat kedua tangannya. "Sehingga beliau memutuskan untuk memberikan tugas seperti ini." Sejenak, kelas pun menjadi hening karena para murid saling berpandangan satu sama lain.

"Tetapi ada satu hal lagi. Bagi siapa pun yang bisa memperoleh nilai 9,9+ dari semua soal yang diberikan Leon sensei hari ini, beliau mengijinkan murid tersebut untuk tidak mengikuti ulangan harian selanjutnya tanpa perlu khawatir dengan nilai yang akan dia dapat." Tawaran yang sangat mengiurkan. Suara-suara riuh rendah pun mulai terdengar di antara para murid untuk menyambut kabar itu.

Leon sensei memang sering memberi hadiah-hadiah yang unik kepada anak didiknya untuk mendongkrak semangat belajar. Bukan kali ini saja, bahkan sebelumnya pun beliau pernah menghadiahkan sejumlah uang atau sebatang coklat mahal yang dia dapat sepulang dari urusan pentingnya di luar sana. Mentraktir makan dan karaoke pun pernah.

"9,9+ huh?" gumam anak lelaki berambut putih yang sama. Di tangannya kini terdapat selembar kertas ulangan harian bahasa inggris dengan nilai 7,0 di dalam lingkaran tinta hitam, tepat di bawah kotak nama bertuliskan 'Piko Utatane'.

Kertas itu baru saja dia dapat dari ketua kelasnya, IA, setelah gadis itu diberi amanat untuk membagikannya ke teman-teman satu kelas. "mengapa tidak 10 saja sekalian. Tanggung amat."

"Kau itu berpura-pura tidak tahu apa menantang kesialan, huh?" sela seorang anak laki-laki ─atau kurang lebih begitulah kesan awal setiap orang ketika melihatnya. Anak itu berambut putih dengan gaya pangkas rambut sependek anak laki-laki pada umumnya. Dia duduk bertopang dagu. Menyipitkan mata beriris biru teduh mendekati warna abu-abu pada Piko. "Sudah menjadi rahasia umum bahwa tidak satu pun guru diperkenankan memberi nilai sempurna, atau juga murid untuk menerimanya." Lanjutnya, kemudian membuka sebuah buku berisi tugas soal-soal yang dimaksud oleh wali kelas mereka.

Piko segera memutar badan sembilan puluh derajat ke belakang. Dia mendengus dan meratakan alis. "Huh?" jeda sejenak. Anak itu mendongak dan Piko masih menatap ke arahnya. "Kagamine san lagi maksudmu." Dia mengangguk perlahan.

Piko hanya diam, sebelum akhirnya tawa keluar dari bibirnya. "Hei Len, kau tidak keberatan jika aku memperoleh nilai sempurna, kan?" jawaban Len hanya kibasan tangan saja. Anak itu sendiri kini sedang bertopang dagu mengerjakan tugas, terlalu malas untuk mengikuti ketidak-stabilan kondisi sekelilingnya. "kau lihat, cewek tampan, dia tidak mempermasalahkannya." Lanjut Piko dengan nada meledek.

Anak yang dipanggilnya 'cewek tampan' ini mendengus. Dia pun akhirnya memutuskan untuk tidak menghiraukan jika sudah menyangkut julukan yang lumayan populer di kelas ini akibat penampilan tomboy yang dia miliki. Namun, sebelum dia menjawab soal pertama yang tertangkap oleh pengelihatannya, senyuman simpul lebih dulu melengkung di wajahnya.

"Terserah kau saja, cowok cantik." Ia berbisik lirih, tapi cukup untuk bisa membuat ujung telinga bocah laki-laki didepannya berkedut. "jangan sampai kau menangis dan mengurung diri di toilet sambil membawa sekotak tisyu karena meratapi sikap orang-orang yang mengira kau sudah tidak waras lagi." seraya mencoret pilihan ganda dari sebuah soal bernomor urut dua puluh tiga, anak perempuan berpredikat imbuhan tampan ini pun menambahkan, ─tepat sebelum bocah bernama Piko tersebut sempat melakukan perlawanan─, "Oh ya, aku merekomendasikan toilet perempuan. Belakangan tempat itu sangat sering sekali digunakan untuk kegiatan semacam demikian. Aku yakin siapa pun tidak akan ada yang mempermasalahkan jika itu adalah kau."

Dan untuk beberapa menit kemudian setelah guru wali kelas mereka hengkang, pagi hari Len Kagamine pun berlanjut dengan adu mulut antara dua sosok berketerbalikan kata sifat yang harus diberikan pada anak laki-laki dan perempuan dari pemilik bangku tetangga beserta siswi berdarah cina di belakang tempat duduknya.

Yah, setidaknya rutinitas mereka berdua setiap hari bisa sedikit memberi hiburan tersendiri bagi bocah pirang tersebut, sekaligus sejenak membuatnya terlupa akan keganjilan jalur koridor gelap yang sempat dia lalui sepanjang perjalanan mengejar keterlambatan hadir hari ini.

;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;

Kagamine san.

Berdasarkan cerita yang berkembang dari mulut ke mulut selama bertahun-tahun di Yamaha Gakuen, hantu itu dulunya adalah sosok dari seorang siswi berprestasi. Semasa hidup, dia selalu menempati peringkat pertama di setiap buku rapot tahunan. Bukan hanya itu, dia juga dipilih sebagai kandidat dari Yamaha Gakuen untuk mengikuti ajang olimpiade antar propinsi.

Namun kejadian naas yang menimpa sebelum dia sempat menunaikan amanat yang diberikan merenggut nyawanya. Gadis berimpian menjadi seorang dokter itu tewas akibat tertimpa rak kaca berisikan zat kimia berbahaya ketika menjalani praktek di ruang lab.

Sungguh, sebenarnya dia adalah gadis yang berperilaku baik di mata teman-temannya. Namun, sejak laporan kejadian-kejadian ganjil yang bermunculan seminggu setelah kepergian gadis itu, semua orang mulai mengubah persepsi positif yang mereka alamatkan padanya. Suara-suara berbisik dan terkikik dari balik cermin, poltergeist, hingga sosok bermandi darah tanpa mata dan mulut berbibir terkoyak mengenakan pita di kepala…

"Tunggu," Len yang sekarang ini duduk di hadapan dua anak perempuan dari angkatan tahun ke dua, menyela Azuki yang begitu semangat bercerita. Di lain pihak, Matcha memasang senyum berkedut seiring warna putih pucat melumer rata di wajahnya. Ekspresi bocah itu berubah heran. Tatapannya yang menerawang sekilas bergulir pada kanvas bunga yang tergeletak di atas meja di antara mereka bertiga. "Bisa, senpai jelaskan secara detail wujud yang sering dipakai oleh Kagamine san ini?" tukasnya.

"Oh!" seru Azuki kemudian, bola matanya melebar karena masih terbawa nuansa mendebarkan cerita yang dia bawakan. Matcha sendiri hanya bisa mengalihkan perhatian secara bergantian berulang kali antara sahabat karib dan Kagamine Len di hadapannya dengan tatapan seperti orang yang memohon. "Menurut rumor yang beredar..." Gadis berambut sewarna rubi itu menggerakkan tangan. Meletakkan telapak di dagu kemudian mengetuk-ngetuk pipi dengan jemarinya. "secara umum, dia selalu tampak utuh."

Alis Len mengernyit. "dengan kata lain, dia tidak pernah menampakkan diri sebagai hantu yang kehilangan anggota badannya." lanjut Azuki seraya mengangkat jari telunjuk sejajar senyum di bibirnya. "Dan seperti yang ku katakan sebelumnya, bisa disimpulkan dia sangat mudah dikenali dari cara dia mengenakan pita di kepalanya."

"Cara dia mengenakan pita?" Len mengulang kalimat tersebut. Ingatan tentang sosok yang dia ragukan keberadaannya dan tengah berkelebat di lorong pagi tadi sempat berputar di kepalanya. Namun bocah itu segera mengenyampingkan hal tersebut dan mulai mencermati penjelasan Azuki lebih lanjut.

"Iya, Kagamine kun." anak perempuan berusia setahun lebih tua darinya itu memiringkan wajah sedikit ke kanan, senyum masih melekat di tempat semula. "Kagamine san memiliki selera tersendiri dalam mengenakan pita. Umumnya, jika kita menyebut kata pita, pasti yang terlintas adalah bentuk ikatan kupu-kupu." Anak laki-laki itu menggangguk pelan.

"La-Lalu, ikatan model apa yang kau maksudkan?" mencoba menunjukkan bahwa dirinya masih mampu menahan rasa merinding dari atmosfir yang tercipta di sekelilingnya, akhirnya Matcha bersedia juga untuk bersuara. Manik-manik rubi itu pun bergulir, beralih pada gadis berambut zaitun di sebelahnya. Tapi kali ini bibirnya berubah menjadi bangun segitiga, sedangkan alisnya membentuk sepasang garis rata. "Eeh? Masa kamu lupa?"

Suasana menjadi hening sejenak. Bukan karena nuansa seram yang semakin kental di antara mereka, tetapi lebih karena Azuki kini merasa kecewa sehingga mampu membuat Matcha mematung seperti pahatan kapur berbentuk manusia. "U-Unnn... bu-bukannya aku lupa," gadis itu kemudian cemberut sambil mengadu kedua ujung jari telunjuk, "tapi waktu itu aku menutup telingaku dengan bantal." lanjutnya sembari tersenyum kecut dan menjulur lidah.

"Ah, terserah kau saja." Azuki mendengus, namun perhatiannya segera kembali pada Len.

Mengedarkan pandangan sejenak ke beragam objek lain yang tergeletak di dalam ruangan, si gadis rubi mengabaikan sikap seperti kucing kecil terpergok mencuri ikan dari wajah Matcha, kemudian mendesah sekali lagi karena tidak mendapati benda yang sedang dia cari.

Hingga akhirnya sesuatu melintas di benaknya ketika dia mencoba mengubah posisi duduknya. 'Setidaknya benda ini masih bisa dipakai.' begitulah yang dia pikir ketika ingatan gadis bersanggul itu tertuju pada sesuatu di dalam saku bajunya.

Sambil tersenyum jahil, gadis bersanggul itu meminta kawan dekatnya untuk mendekatkan wajah padanya.

.

.

.

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

Thanks for read.

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

A/N : Coba tebak siapa pemilik bangku belakang tempat duduk Piko Utatane?


Ungkapan maaf sebesar-besarnya author sampaikan kepada pembaca sekalian. Jujur, akhir-akhir ini serangan writerblock lebih tangguh dari hari-hari sebelumnya. Faktor malas dan penyakit keranjingan game online akibat tergiur event mingguan turut memberi pengaruh, bahkan lebih dahsyat dari yang saya bayangkan.

Blank.

Hanya itu yang bisa saya sampaikan hingga detik ini. Chapter kali ini pun rampung karena |lagi-lagi| menggabungkan dua chapter alternatif menjadi satu demi memenuhi target word count minimum 1700, disertai tambalan kecil di sana-sini. Jika terus menerus seperti ini, bukan tidak mungkin saya akan berhibernasi menjadi sekedar pembaca di fandom ini.

Hiks... hiks... hueee, T-T

Beelzebub:"Udah gan, jangan nangis. Penjual balon keliling sudah punah di abad ini, jangan bikin ane susah, hadeh, =_="