Its Possible?
A Fanfiction by Malfoy1409
Harry Potter belong to J.K Rowling
Naruto belong to Masashi K
Standar warning
Happy Reading
-0-
.
.
"Terima kasih, Sasuke-kun" Hinata mengucapkan ucapan terima kasih dengan senyum di wajahnya. Sementara Sasuke hanya tersenyum sangat tipis seraya menanggukan kepalanya.
"Masuklah, ayahmu menunggu" Sasuke dapat merasakan cakra ayah Hinata tak jauh dari mereka berada. Hiashi memang selalu saja ada disana ketika Sasuke mengantar Hinata pulang. Mungkin Hiashi belum dapat sepenuhnya percaya pada Sasuke.
"Hati-hati, Sasuke-kun" Sasuke menampilkan senyum manis sebelum Hinata berbalik dan meninggalkannya.
-o-
.
.
"Harry, kurasa kita harus memulai pencarian lagi" Hermione berusaha membuat Harry lepas dari lamunannya.
"Dumbledore belum mengijinkan. Dumbledore mengatakan kalau dia dan Snape menemukan teman baru untuk kita" Harry menjelaskan kepada kedua sahabatnya bahwa tadi malam Dumbledore memanggilnya untuk memberitahukan hal tersebut.
"Teman baru?" Ron kali ini bersuara.
Harry menanggukan kepalanya dengan senyum yang sepertinya sedikit dipaksakan. Hermione mengerutkan keningnya,
"Harry, apa ada yang kau sembunyikan dari kami?" Harry menggeleng pelan
"Tidak ada" Hermione memiringkan kepalanya dan memandang tajam Harry. Membuat Harry jadi merasa bersalah kalau tidak memberitahu kedua sahabatnya.
"Dumbledore mengatakan jika mereka juga ninja" Hermione dan Ron seketika membelalakan mata mereka. Bagaimana mungkin?
"Bagus! Sekarang Dumbledore sama gilanya dengan Voldemort" Ron bangkit dari duduknya dan berteriak. Beruntung di kamar kebutuhan hanya ada mereka bertiga.
"Kau yakin, Harry?" Hermione berusaha meyakinkan dirinya jika yang baru saja di dengarnya dari Harry tidaklah benar. Entahlah, menurut Hermione ini ide yang tak begitu bagus.
-o-
.
.
.
Pagi ini di Konoha terlihat lebih cerah. Team yang akan di kirim ke Hogwarts sudah siap dengan perlengkapan mereka. Naruto masih terlihat tidak rela karena harus meninggalkan desanya hanya untuk tinggal disebuah kamar.
Sementara Ino dan Sakura tampak bersemangat. Tak jauh dari tempat Sakura dan Ino berdiri, tampak Itachi, Kakashi dan Tsunade sedang berbincang masalah tugas Itachi dan Kakashi selama mereka ada di Hogwarts. Tenten juga sudah berada disana.
Hinata yang baru datang bersama Neji segera bergabung bersama Sakura dan Ino setelah sebelumnya memberikan senyum kearah Sasuke. Hal tersebut terlihat oleh mata Itachi, segera saja Itachi menghampiri adiknya dan menggodanya habis-habisan.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya mereka semua lengkap. Dumbledore tiba-tiba muncul diantara mereka. Dumbledore tidak sendirian, ada McGonagall disampingnya.
"Jadi, kalian yang akan membantu kami?" Dumbledore bertanya sembari tersenyum.
"Ya. Kami yang akan membantu anda" Itachi mewakili yang ada disana mengeluarkan suaranya. Dumbledore menganggukan kepalanya dan tersenyum.
"Jadi Ojii-san yang akan membawa kami?" Itu suara Naruto. Suara Naruto terdengar ceria. Ia tampak memperhatikan bagaimana cara Dumbledore dan McGonagall berpakaian, sepertinya di mata Naruto mereka tampak aneh.
Dumbledore menganggukan kepalanya pada Naruto. Jujur saja, Dumbledore masih belum terlalu memahami bahasa yang Naruto dan dunia Ninja gunakan. Betapa beruntungnya Dumbledore memiliki kemampuan Legimency yang baik, sehingga dapat mengerti apa yang Naruto maksudkan.
"Jadi, siap berangkat?" Dumbledore kembali bertanya. Kali ini semua yang ada disana menatap Dumbledore dengan bingung. Berangkat? Dengan apa?
"Ah, mungkin kalian masih bingung—"
"Tentu saja kami bingung" Sasuke berucap dengan nada datarnya yang segera saja dibalas dengan tatapan tajam dari Tsunade.
"Kalau begitu, silahkan kalian berpegangan" McGonagall memberikan instruksi kepada mereka. Tapi, Naruto dan kawan-kawan hanya menatap McGonagall dengan bingung.
"Kalian tidak percaya padaku?" McGonagall kembali berucap dan semua yang ada disana berpegangan tangan. Setelah semua berpegangan tangan, McGonagall memberikan instruksi untuk memegang tangannya. Dan seketika mereka manghilang dari sana kecuali Kakashi dan Dumbledore yang memang tidak berpegangan tangan.
"Kalau begitu, saya pamit Tsunade. Terima kasih atas bantuannya" Dumbledore pun segera menghilang bersama Kakashi yang tadi juga telah memegang tangannya.
-0-
.
.
.
Merasa berputar, merasa perut yang ingin mengeluarkan sesuatu dan sedikit merasakan pusing di kepala itulah yang dirasakan oleh Naruto dan teman-temannya. Ini pertama kali bagi mereka untuk pergi dengan cara seperti ini.
Apperation
Neji yang melihat Hinata menampilkan wajah yang seperti orang ingin muntah segera menghampirinya, Neji memastikan jika sepupu kesayangannya itu baik-baik saja. Sementara Ino berjongkok dan menunduk saking mualnya.
Sasuke, Itachi, Naruto dan Sai hanya menampilkan wajah datar meskipun merasakan mual dan pusing. Sasuke sendiri justru lebih mencemaskan Hinata yang terlihat pucat.
"Apa itu tadi?" Naruto penasaran.
McGonagall hanya tersenyum, "Sesuatu yang biasa digunakan penyihir untuk berpergian"
Disini sepi dan sunyi. Dinding batu bata yang kehitaman menjadi pemandangan yang paling dominan disini. Hanya ada obor-obor kecil yang menjadi sumber penerangan di ruangan ini. Ini bukan di Hogwarts. McGonagall tidak bisa ber-Apperate ke dalam Hogwarts, hanya Dumbledore sebagai kepala sekolah yang bisa melakukan itu.
"Jadi ini tempatnya?" Itachi bertanya. Naruto sepertinya terkejut. Tidak! Dia tidak mau terkurung di temapat ini!
"Bukan, Bukan. Mari istirahat sejenak sebelum kalian menuju Hogwarts. Minumlah, ini disiapkan oleh Abeforth dan ngomong-ngomong dimana dia?" McGonagall terlihat masuk kedalam pintu dan mencari sosok seseorang disana.
Dapat dilihat, disana ada gelas-gelas yang sudah terisi oleh segelas penuh Butterbear. Minuman ini yang special untuk mereka, jelas mereka belum boleh minum wiski api.
"Ini enak! Apa ini?!" Naruto tampak sangat antusias setelah menenggak segelas penuh Butterbear.
"Berisik, Bodoh!" Sakura yang sedari tadi belum bersuara kini mengeluarkan suaranya. Mualnya sudah hilang sekarang.
Tak berapa lama, Dumbledore muncul bersama Kakashi tepat dihadapan naruto, membuat Naruto tersentak kaget karenanya. Dumbledore hanya tersenyum dan mencoba membantu Naruto untuk kembali berdiri.
"Menikmati, anak-anak?" Hinata, Ino dan Sakura menganggukan kepalanya. Tenten hanya tersenyum antusias.
-o-
.
.
.
Kamar kebutuhan sekarang semakin luas dengan sekat-sekat yang berisikan satu tempat tidur di setiap ruangnya. Ini sekitar untuk dua puluh lima orang. Bagian perempuan dan laki-laki berlainan dengan jarak yang dipisahkan oleh sebuah meja makan yang lumayan panjang.
"Harry, sepertinya kau harus berbicara dengan Ginny" Hermione datang ke tempat Harry dan duduk di tepi kasur. Ia menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan ini dengan Harry seorang diri tanpa Ron di sampingnya.
"Tentang? Dengar, kami sudah berakhir, Mione?" Harry hanya kembali melanjutkan membaca buku tentang sejarah sihir yang digenggamnya.
"Aku tahu. Tapi, kalian masih saling mencintaikan?"
"Kita dalam masa menjelang perang, Mione dan demi Merlin ini bukanlah saat yang tepat untuk membahas hubunganku dan Ginny" Harry kembali pada dirinya yang keras kepala. Harry bukannya tidak mau memperbaiki hubungannya dengan Ginny. Dia hanya terlalu takut memberikan harapan dan kemudian menghempaskan harapan Ginny.
Harry tidak yakin ia akan bertahan selama yang orang lain percayai. Harry ragu bahwa dirinyalah yang terpilih. Ia hanya takut meninggalkan Ginny dengan tiba-tiba.
"Harry—"
"Please, kita bicarakan yang lain" dan Hermione bungkam. Ia tahu Harry benar tapi ia ingin Ginny kembali bersama Harry. Harry sahabatnya dan Ginny sudah bagaikan adik perempuan untuknya. Hermione tahu betul apa yang dirasakan Ginny terhadap harry bukanlah cinta cengeng yang akan menangis saat Harry pergi begitu saja.
TBC
Thanks for reading
