1
Green Daylight "Pembunuh Cahaya" (MarkRen Version)
Cast :
Huang Renjun
Mark Lee
Lee Jeno
Dll…
Summary :
Renjun tidak pernah mengerti apa yang ada di benak Mark. Lelaki itu dulu sangat baik padanya hingga mereka menikah, dan Mark berubah sangat membencinya. Dia selalu merendahkan Renjun, meremehkannya dan menyakiti hatinya. Sebenarnya apa salah Renjun pada Mark?
Genre :
Romance, Hurt/Comfort, marriage life, OOC
Rate : T
Warning :
BL, Yaoi, out karakter, M-Preg. Cerita ini bukan punya aku, aku hanya mengubahnya jadi versi Markren, cerita aslinya punya Kak Santhy Agatha judul novelnya Pembunuh Cahaya… Jadi kalo nemu crita yg sama dengan pair yg beda, itu wajar. Harap maklum karna critanya emang bagus, jadi banyak yg meremakenya (termasuk aku juga.. hehehe)
-o0O0o-
"Cintalah yang membuatku mempertanyakanmu. Seberapa jauhkah kau akan berkorban, atas nama cinta?"
(..•ᵕ_ᵕ•..)(..•˜_˜•..)(..•ˆ_ˆ•..)kkkk
-o0O0o-
Pernikahan mereka luar biasa mewah dan sangat indah, sayangnya eomma Mark tidak bisa hadir karena kata Mark, sang eomma sedang berobat di luar negeri. Kondisi pernikahan mereka yang mendadak membuat eomma Mark tidak bisa mengatur ulang jadwalnya. Tetapi kata Mark eommanya mengirim salam dan segera pulang dari luar negeri, beliau akan menengok mereka berdua sambil membawa kado pernikahan.
Mereka memasuki kamar pengantin yang sudah didekorasi dengan mewah oleh dekorator terkenal, tentu saja bunganya dipasok oleh rumah kaca Renjun. Beberapa merupakan sumbangan dari Jeno sahabatnya yang sangat senang dengan pernikahan Renjun. Jeno memang sahabat dekat Renjun, yang selalu membantunya kapanpun dia siap. Banyak yang mengira mereka berhubungan dekat, tetapi mereka salah. Jeno normal dan dia tidak tertarik kepada laki-laki.
Setelah berganti pakaian dengan piyama tidur warna putih miliknya, Renjun duduk dengan ragu di atas ranjang. Mark belum masuk daritadi karena masih banyak tamu di luar meskipun waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Para tamu itu kebanyakan rekan kerja Mark. Renjun tadi masuk duluan karena dia kelelahan sejak pesta mewah tadi pagi, sedangkan Mark masih harus menemani tamu-tamunya demi kesopanan.
Sudah larut malam ketika Mark akhirnya masuk. Renjun masih menunggu dengan terkantuk-kantuk duduk di tepi ranjang, dia mendongak ketika lelaki itu menutup pintu kamar pengantin mereka.
"Semua sudah pulang?"
Hening.
Mark menatapnya lama sekali, lalu menjawab singkat. "Sudah."
Sekarang jantung Renjun berdegup kencang, dia hanya berdua saja dengan suaminya sekarang. Renjun tidak pernah berduaan di kamar dengan lelaki manapun sebelumnya. Mark adalah lelaki pertamanya dalam segala hal. Dan malam ini mereka adalah suami istri. Pipi Renjun merona, membayangkan bagaimana mereka akan melewatkan malam ini. Renjun bagaimanapun juga menyimpan ketakutan kalau dia akan mengecewakan Mark yang sepertinya sudah bergitu dewasa dan berpengalaman dibanding dirinya. Selisih usia mereka delapan tahun, Renjun baru dua puluh empat tahun, sedangkan Mark tiga puluh dua tahun. Orang bilang usia mereka berdua adalah usia yang pas untuk hidup berumah tangga.
"Belum tidur?" Mark masih berdiri di dekat meja rias, dan mulai melepas dasi, jasnya sendiri sudah disampirkan secara sembrono di kursi rias.
Renjun menggeleng, tersenyum malu-malu, "Belum, aku menunggumu."
Mata Mark tampak menajam, lelaki itu tampak begitu misterius di balik cahaya lampu kamar yang kuning temaram.
"Seharusnya kau tidur duluan." Gumamnya dingin, lalu melepas kemejanya dan melangkah masuk ke kamar mandi.
Renjun masih tertegun, bingung akan perubahan nada suara Mark kepadanya. Lelaki itu tidak pernah berbicara dengan nada suara sedingin itu kepadanya. Apakah mungkin Mark lelah?
Ketika Mark keluar dari kamar mandi, dia sudah berganti memakai piyama hitam. Dia mengangkat alisnya ketika sudah berdiri di pinggir ranjang.
"Minggir ke sana." gumamnya kasar, membuat Renjun bergegas naik ke atas ranjang dan bergeser ke ujung lainnya, dengan perasaan bingung dan was-was.
Mark lalu naik ke ranjang dan berbaring di sana. Renjun menoleh hendak bertanya, tetapi lelaki itu berbaring membelakanginya dengan nafas teratur seolah jatuh tertidur begitu saja.
Apakah lelaki itu tertidur? Kenapa dia bersikap begitu? Apakah Mark kelelahan? Ataukah lelaki itu marah kepadanya atas sesuatu yang tidak dia sadari? Mungkinkah Renjun telah menyinggung Mark tanpa sadar? Tapi kapan? Kenapa?
Seluruh pertanyaan itu menggayuti benak Renjun. Dia berbaring dengan mata nyalang, menatap punggung tegap Mark.
Tetapi sepertinya pertanyaannya tidak akan terjawab malam ini. Mark tampaknya sudah tertidur pulas. Akhirnya dengan perasaannya yang berkecamuk bingung, Renjun memaksakan dirinya memejamkan mata.
Malam pengantinnya berlalu dalam keheningan yang menyesakkan dada...
-o0O0o-
Pagi hari ketika Renjun membuka mata, dia masih merasa bingung akan keberadaannya. Sejenak dia agak kaget berada di dalam kamar yang tidak dikenalinya, tetapi kemudian dia mengumpulkan ingatannya. Pernikahannya, rumah Mark...
Dengan gugup Renjun menegakkan tubuhnya, mencari Mark tentu saja. Tetapi sebelah ranjangnya kosong. Mark sudah tidak ada.
Diliriknya jam dinding tak jauh darinya, sudah jam tujuh pagi. Renjun tidak pernah bangun sesiang ini sebelumnya, dia selalu bangun jam enam pagi, kemudian menuju rumah kaca dan merawat tanaman miliknya. Sekarang tanaman miliknya sedang dirawat dalam pengawasan Jeno, lelaki itu katanya ingin memberi kebebasan kepada Renjun untuk berbulan madu sementara.
Dengan canggung Renjun melangkah berdiri dari ranjang. Apakah Mark ada di luar untuk sarapan? Kenapa Mark tidak membangunkannya? Apakah lelaki itu tidak mau mengganggu tidurnya?
Renjun melangkah ke kamar mandi dan mandi dengan air hangat untuk menyegarkan dirinya dan tubuhnya yang terasa penat setelah pesta kemarin. Setelah itu dia melangkah ke luar kamar Mark.
Suasana rumah Mark tampak lengang. Kamar Mark berada di lantai dua, dan tidak ada siapapun di situ. Dengan ragu Renjun menuruni tangga melangkah turun, ada seorang pelayan di sana yang langsung membungkukkan tubuh hormat begitu melihatnya.
"Dimana suamiku?" tanya Renjun pelan, masih merasa ragu mengklaim Mark sebagai suaminya.
Pelayan itu masih membungkuk hormat, "Tuan Mark sudah berangkat sejak pagi tadi, Tuan."
"Berangkat kemana?" Renjun mengernyitkan keningnya.
"Berangkat bekerja." Jawab pelayan itu singkat, lalu pamit untuk melanjutkan pekerjaannya di belakang.
Bekerja? Hari ini adalah hari pertama mereka resmi menikah dan Mark berangkat kerja? Sebegitu sibukkah suaminya sehingga tidak bisa libur setelah pernikahan mereka? Tidak adakah bulan madu seperti yang dilakukan orang-orang biasanya? Setahu Renjun, kebanyakan orang memilih melewatkan waktu bersama dengan tidak bekerja, tidak perlu harus berlibur ke suatu tempat, bahkan dengan hanya bersama-sama di rumah itupun sudah cukup.
Renjun mengira Mark akan meluangkan waktu untuk mereka bisa bersantai berdua, apalagi mengingat hubungan mereka yang singkat sebelum menikah. Tidakkah Mark ingin lebih banyak mengenalnya seperti Renjun yang sangat ingin mengenal suaminya lebih dalam?
Dan Mark juga berangkat bekerja tanpa berpamitan kepadanya. Renjun masih bertanya-tanya akan sikap kasar dan dingin Mark semalam, tetapi pagi ini sikap Mark lebih membuatnya bertanya-tanya lagi.
Suami seperti apa yang meninggalkan pengantinnya setelah malam pertama mereka yang tidak tersentuh, hanya untuk pergi bekerja?
Renjun diam termangu. Matanya menatap keindahan rumah dengan segala interior mewahnya yang bergaya minimalis itu dengan bingung. Rumah itu terasa sangat asing baginya, dan tiba-tiba saja, Mark juga terasa sangat asing baginya.
-o0O0o-
"Bagaimana malam pertamamu?" Jeno langsung bertanya dengan menggoda ketika Renjun mengangkat teleponnya.
Renjun tersenyum lembut, "Kami belum malam pertama." Bisiknya, dia memang selalu jujur kepada Jeno dalam hal apapun, dan kenyataan bahwa Jeno yang normal membuatnya semakin nyaman di dekat lelaki itu,
"Apa?" suara Jeno di seberang sana tampak terkejut, "Kalian belum melakukan malam pertama?"
Meskipun ada di seberang telepon, Renjun tersenyum malu-malu, "Kami terlalu lelah, kemarin sampai jam sepuluh malampun masih ada tamu-tamu yang berdatangan."
"Oh." Jeno tertawa, "Itulah resikonya menikah dengan seorang bos besar." Candanya. "Jangan khawatir, semuanya akan ditebus di saat bulan madu kalian.
Sepertinya tidak akan ada bulan madu. Renjun membatin dalam hati, tiba-tiba merasa ragu.
"Renjun?" Jeno bertanya di seberang sana, sepertinya dia sedang menanyakan sesuatu. Tetapi karena sibuk dengan pikirannya, Renjun tidak menanggapinya.
"Eh.. iya..apa?" gumam Renjun gugup.
"Aku tadi bertanya, kemana rencana kalian akan berbulan madu."
Sejenak Renjun bingung harus menjawab apa, dia lalu berdeham karena gugup, "Eh... aku belum tahu." Gumamnya pelan, "Mark belum memberitahuku rencananya."
"Mungkin dia akan memberimu kejutan," Ada nada menggoda di suara Jeno, "Aku membayangkan dia akan membawamu ke pulau eksotis yang luar biasa indahnya, kabari aku ya Renjun."
Renjun memaksakan senyum di suaranya, "Pasti Jeno." Mereka lalu bercakap-cakap sebentar mengenai rumah kaca Renjun. Batin Renjun sedikit tenang ketika Jeno mengatakan dia menyewa temannya untuk menghandle tugas merawat rumah kaca Renjun. Teman Jeno itu dulu pernah melakukan hal yang sama ketika Renjun sakit dan hasilnya memuaskan. Tanaman di rumah kacanya akan baik-baik saja.
Renjun menghembuskan napasnya setelah mengakhiri percakapan mereka, masih bingung akan sikap Mark sejak semalam. Apakah mungkin seperti yang dikatakan oleh Jeno, bahwa Mark ingin memberinya kejutan? Di film-film yang dilihatnya, orang-orang kadang bersikap aneh dan membingungkan ketika ingin memberi kejutan. Misalnya memberikan kejutan ulang tahun, orang-orang berkomplot untuk berpura-pura lupa dan tidak memberikan selamat, hingga membuat orang yang ulang tahun merasa sedih dan kecewa, lalu pada malam harinya mereka memberikan pesta ulang tahun kejutan yang membahagiakan, membuat kejutan mereka lebih bermakna.
Itukah yang sedang dilakukan oleh Mark? Apakah lelaki itu sedang memberikan kejutan untuknya?
-o0O0o-
Sampai dengan siang hari, Renjun terus menghabiskan waktunya dengan kesepian di rumah itu. Dia sama sekali tidak menyangka inilah yang akan terjadi pada dirinya. Ditinggalkan bekerja, seorang diri di rumah satu hari setelah pernikahannya.
Dorongan untuk mengunjungi rumah kaca dan melarikan kebosanannya dengan merawat tanamannya sangat kuat. Tetapi kalau dia ke rumah kaca, Jeno pasti akan memberondongnya dengan sejuta pertanyaan, dan Renjun pasti tidak akan bisa menjawab, karena dia sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi.
Diliriknya ponselnya. Sepi, tidak ada kabar satupun. Dulu sebelum mereka menikah, Mark selalu mengiriminya pesan-pesan penuh perhatian kepadanya. Bahkan hanya untuk sekedar mengucapkan selamat pagi, menanyakan apakah dia sudah makan, atau juga kadang memberikan info tentang apa yang dilakukannya.
Tetapi sekarang berbeda, tidak ada satupun pesan dari Mark kepadanya, Apakah Mark sedang benar-benar sibuk?
Renjun sungguh tergoda untuk menelepon Mark, tetapi dia takut siapa tahu akan mengganggu Mark yang sedang berada di tengah rapat penting.
Dengan pedih Renjun menghela napas panjang. Dia harus keluar dari rumah ini, atau dia akan menjadi gila.
Dengan cepat dia berganti pakaian, meraih tasnya dan memanggil taxi.
"Garden Cafe." Gumamnya, menyebut tempat Renjun biasanya menghabiskan waktu siangnya di sana. Secangkir teh hijau hangat mungkin bisa membantu menghapuskan kegalauannya.
-o0O0o-
Cafe itu sangat cocok dengan namanya, 'Garden Cafe', nuansa taman sangat kental mengelilingi areanya, semua serba hijau dan memantulkan suasana alam yang indah, dengan tanaman hijau yang menarik dipadu dengan bunga-bunga anggrek di setiap sudutnya. Efek tamannya semakin nyata karena seluruh dindingnya terbuat dari kaca, sehingga pengunjung bisa menatap pemandangan taman, merasakan kedamaian sambil menikmati makanan dan minumannya di dalam cafe. Dan Renjun sungguh merasa bangga karena dia memiliki andil dalam keindahan cafe ini, seluruh tanaman yang ada di cafe ini, baik di taman maupun bunga-bungaan dekorasinya, semua berasal dari rumah kaca Renjun.
Leeteuk, sang pelayan setengah baya yang sudah sangat dikenalnya tersenyum ketika melihatnya datang.
"Apa yang dilakukan pengantin baru di sini?" tanyanya menggoda, membuat Renjun merasa malu.
Dia mencoba menggelak dari pertanyaan Leeteuk, "Aku masih belum bisa melepaskan ketergantungan dari teh hijau di siang hari." Gumamnya penuh canda, membuat Leeteuk tergelak.
"Pesanan akan segera diantar." gumamnya mengedipkan mata, lalu melangkah pergi.
Tak lama kemudian lelaki itu kembali, mengantarkan secangkir teh hijau beraroma khas yang harum yang masih panas. Renjun sangat menyukai harum aroma teh hijau ini, apalagi teh hijau dari Garden Cafe. Hampir setiap hari selama beberapa tahun terakhir ini, Renjun selalu mampir untuk makan siang dan menikmati secangkir teh hijau.
"Hanya andalah satu-satunya yang memesan teh panas, bahkan di saat suasana sedang panas." Leeteuk melirik ke luar yang sedang terik. Untunglah tanaman hijau melindungi sekeliling area cafe ini, membuat udaranya tetap segar.
Renjun tertawa, "Kata orang, teh hijau mempunyai kemampuan menenangkan."
"Yah, menenangkan orang yang sedang banyak pikiran." Leeteuk tersenyum, "Yang pasti bukan untuk pengantin baru sepertimu Renjun." Lelaki itu setengah berbisik, "Tahukah kau apa yang selalu kupikirkan kalau menyajikan teh hijau ini?"
"Apa?" Renjun langsung tertarik. Percakapan dengan Leeteuk memang selalu menarik, lelaki itu seolah punya segudang pengalaman dan pengetahuan yang kadang-kadang bisa membuat Renjun terpana.
"Rahasia."
"Apa?" Renjun mengernyit makin dalam mendengar jawaban Leeteuk,
Leeteuk tertawa lagi, "Rahasia. Setiap memikirkan teh hijau aku selalu memikirkan tentang rahasia." Ditatapnya Renjun dengan serius, "Kau tahu ketika sajian teh hijau yang dipadau dengan melati datang kepadamu, aromanya sangat khas dan menakjubkan, membuatmu tergoda dan bahkan bisa membayangkan rasanya, sebelum kau mencincipinya. Tetapi kemudian ketika kau menyesapnya, kau pasti akan mengernyit, merasakan pahitnya yang menerpa lidahmu. Setelah itu ketika kau menyesapnya lagi dan lagi, barulah kau bisa menemukan keindahan citarasanya yang berpadu. Teh hijau selalu penuh rahasia, dia tidak seperti aroma yang ditampilkannya, bahkan menyediakan kepahitan pada kontak pertama. Kau harus selalu sedikit demi sedikit menyibak lapisan demi lapisan rasanya hingga menemukan kenikmatan sejati di dalam minuman ini."
"Wow." Renjun terpesona mendengar penjelasan Leeteuk, "Aku tidak pernah memandang teh hijau seperti itu sebelumnya. Bagiku dia hanyalah minuman yang enak dan membuatku ketagihan." Renjun tergelak, "Luar biasa memang pemikiranmu, Leeteuk ahjussi."
Leeteuk terkekeh, "Kadang atasan saya bilang bahwa pikiran saya terlalu rumit." Lelaki itu melirik ke belakang, "Tetapi sekarang atasan saya sama sekali tidak pernah memprotes cara berpikir saja, sejak dia menikah. Dia terlalu sibuk berbahagia, menghabiskan waktu dengan istrinya. Semua pengantin baru sepertinya tidak pernah tahan menjauhkan diri satu sama lain." Leeteuk mengedipkan sebelah matanya sebelum melangkah mundur, "Silahkan nikmati teh hijaumu, Renjun."
Sementara itu Renjun tertegun mendengar kata-kata Leeteuk bahwa semua pengantin baru tidak pernah tahan menjauhkan diri satu sama lain.
Diliriknya ponselnya yang masih sepi dalam keheningan. Renjun menghela napas panjang, tiba-tiba merasakan firasat buruk yang menggayuti hatinya.
-o0O0o-
Pada akhirnya Renjun tidak tahan untuk tidak mengunjungi Jeno, dia berdiri di rumahnya yang sekaligus menjadi kantor mereka dengan ragu. Rumah Jeno sendiri persis menempel di sebelah rumah Renjun, jadi lelaki itu sering sekali bolak-balik antara kantor ke rumahnya, yang ditinggalinya bersama eommanya dan dua adik perempuannya.
Hubungan Jeno dan Renjun sangat dekat, lebih dari sahabat, menyerupai adik dan kakak. Keluarga Jeno juga sangat menyayanginya. Ketika eommanya meninggal, otomatis keluarga Jeno mengangkat dirinya menjadi anak angkat tidak resmi.
Eomma Jeno selalu berharap lebih akan hubungan Renjun dengan Jeno. Berkali-kali dia menyinggung betapa senangnya jika mempunyai menantu seperti Renjun. Tetapi kemudian ketika Renjun merencanakan pernikahannya dengan Mark, dia akhirnya menerima kenyataan bahwa mereka memang tidak ditakdirkan melebihi sahabat. Dan bahkan kemudian eomma Jenolah yang bersemangat membantu persiapan pernikahan Renjun, membuat Renjun terharu karena Eomma Jeno bertindak seperti eomma kandungnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" suara di belakangnya membuat Renjun berjingkat karena kaget.
Renjun menoleh dan melihat Jeno berdiri di belakangnya, lelaki itu sepertinya tadi keluar untuk membeli makanan, karena ada kantong plastik berlogo fast food di tangannya. Renjun melirik makanan yang dibawa Jeno dan mencibir.
"Kau akan mati muda kena serangan jantung kalau tiap hari mengkonsumsi fast food semacam itu." Gumamnya.
Jeno tergelak lalu memutar bola matanya untuk mengejek pendapat Renjun. Dia melangkah mendahului Renjun memasuki bagian depan rumah Renjun yang sudah dialih fungsikan menjadi kantor mereka.
"Kenapa kau di sini? Bukankah kau seharusnya menghabiskan hari yang indah bersama suamimu?'
Renjun menjawab asal untuk mengihindari kecurigaan Jeno, "Mark ada urusan pekerjaan sebentar di kantornya, jadi aku memutuskan untuk kemari dan menengok rumah kacaku."
"Bekerja di hari pertama setelah pernikahan?" Suara Jeno meninggi, "Sungguh keterlaluan." Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dramatis. Mereka sudah memasuki area kantor, dan Jeno meletakkan kantong plastik yang dibawanya ke meja. Dia menarik makanannya dan memakannya dengan nikmat, diliriknya Renjun yang memandang ngeri pada pesanan makanan Jeno.
"Mau?" Jeno menyodorkan makanannya, menggoda Renjun, tahu persis bahwa Renjun adalah maniak makanan yang sehat dan pasti akan menolaknya.
Dan seperti dugaannya, Renjun menggelengkan kepalanya. "Aku sedang bingung."
Jeno menatapnya dan mengernyit, "Bingung kenapa?"
"Tentang Mark." Pipi Renjun memerah, "Dia...semalam sikapnya aneh.."
Jeno tertawa, "Kebanyakan pengantin baru memang suka bersikap aneh, Renjun...Mungkin nanti kau akan menemukan banyak hal baru dari suamimu. Sesuatu yang tidak pernah kau duga sebelumnya, tetapi memang itulah asyiknya pernikahan."
Renjun mencibir, "Seperti kau sudah ahli dalam pernikahan saja."
Jeno tertawa, melahap makanannya dengan nikmat. "Aku memang belum pernah mengalami pernikahan dan mungkin tidak akan pernah." Wajahnya tampak sedih, tetapi dengan cepat dia mengubah ekspresinya menjadi ceria, "Tetapi aku banyak membaca dan mencari tahu, kau bisa datang padaku kalau kau ada masalah dengan pernikahanmu."
Mereka tergelak bersama meskipun ada sedikit perasaan trenyuh di benak Renjun. Jeno sebenarnya bisa saja menjalin suatu hubungan lalu menyusul menikah seperti Renjun. Tetapi pengkhianatan yang dilakukan pasangan perempuannya dulu membuat dia tidak lagi mempercayai cinta. Renjun tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya Jeno, apalagi mengingat bahwa eomma Jeno sering sekali mendesak anak lelaki satu-satunya itu untuk segera menikah.
Berbicara tentang eomma Jeno, Renjun teringat akan eommanya, eommanya yang cantik dan begitu lembut. Yang selalu Renjun kenang dari eommanya adalah aroma wangi bunga yang menyelubunginya, hasil dari seharian menghabiskan waktunya di rumah kaca. Ah seandainya eommanya ada di sini, menghadiri pernikahannya, dia pasti akan sangat bahagia. Tetapi Renjun meyakini dalam hatinya bahwa eommanya pasti berbahagia di atas sana, melihatnya pada akhirnya menemukan lelaki yang menjaganya.
-o0O0o-
"Dari mana saja kau?" suara dingin Mark menyambut Renjun di ruang tamu, membuat Renjun mengernyitkan keningnya.
Dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dengan gugup, "Eh.. karena tidak ada pekerjaan, aku.. aku memutuskan untuk ke rumah kaca."
"Ke rumah kaca?" Tatapan Mark menjadi tajam. "Menemui Jeno?"
"Iya, dan juga menengok rumah kacaku, Jeno mempercayakan perawatannya kepada seseorang, jadi aku mampir untuk mengevaluasi hasil..."
"Tidak bisakah kau melepaskan rumah kaca dan Jeno dari pikiranmu? Aku muak kalau kau selalu menyebut-nyebutnya di rumah ini. Kalau kau memang mau menjadi istri yang baik, fokuslah pada rumah ini, pada keluarga ini, bukan hanya melulu mengurusi rumah kaca itu!" dengan ketus Mark melangkah meninggalkan Renjun yang terperangah kaget di ruang tamu.
Renjun merasakan hatinya mencelos seperti diremas, matanya terasa panas, tetapi dia menahannya. Seumur hidupnya, tidak pernah ada orang yang memarahinya dengan seketus itu. Apakah Mark cemburu kepada Jeno dan juga kepada rumah kacanya?
Hati Renjun meragu, tetapi... sepertinya dulu Mark sama sekali tidak keberatan akan itu semua?
-o0O0o-
.
.
TBC
Ini dah aku lanjut
Review nya dongsss…
Sign
Minnie
