Disclaimer : I do own nothing


THE HATRED OF BETRAYAL

An IchiRuki's Fanficion

Author: Brainless Creation

.

.


Chapter 2: When The Past Return


.

.

Sudah lewat satu minggu sejak Kuchiki Rukia tinggal di apartemenku, di lingkungan apartemenku tidak ada yang mengenalinya sebagai Kuchiki Rukia, baik tetangga ataupun si Pemilik (Pak Kyoraku), tidak ada yang curiga bagaimana ceritanya perempuan bertubuh ringkih itu tinggal bersamaku, mereka masih menganggap dia adalah perempuan yang memang tinggal bersamaku.

Di hari kedua dia berada di apartemeku, dia mengatakan padaku untuk menyebut namanya saja, karena dia tidak pernah ingin mendengar sebutan Kuchiki padanya, dan aku yang memang kurang ajar, tidak sungkan-sungkan untuk memanggil namanya langsung, aku tidak pernah bisa bicara dengan sapaan hormat. Tapi kalau aku ingat bagaimana dia menyampaikan agar aku tidak menyebut nama keluarganya, selalu membuat aku marah sampai ubun-ubun. Yah, dia mencakar lenganku saat aku menyebut nama lengkapnya. Matanya menyiratkan kebencian yang amat sangat waktu itu, sangat gelap dan kelam. Tapi aku yang jadi pihak tertindas langsung membalasnya habis-habisan, ku kunci dia di lantai dan mencengkram lalu menghentakkan tangannya hingga memar. Ucapannya yang semula berkata : "Jangan pernah menyebutku dengan nama itu!" lantas aku balas dengan kalimat : "Perempuan Sialan! Aku bahkan jijik menyebut namamu! Kau kira kau siapa sampai bisa berpikir aku akan berbaik hati padamu? Jaga tanganmu sebelum aku mematahkannya!"

Aku mengancamnya terang-terangan, tapi setelahnya aku menyesal juga karena dia merenggut tangannya seharian. Tapi dia tidak menangis, matanya masih menunjukkan kebencian yang sama saat menatapku. Dia bahkan tidak merintih kesakitan, dan tetap membisu saat aku menawarkannya makan hari itu. Sedikit aku menyesal, tapi tetap saja dia membuat tanda cakaran lain di badanku, membuatku seperti penjahat wanita saja! Memangnya aku ini Stark?

Hari-hari berlalu sejak pergulatan mengenai nama itu dan Rukia benar-benar seperti patung, saat aku meninggalkannya di apartemen, dan berpesan agar dia jangan pergi kemanapun tanpa izin dariku, dia hanya diam dan saat aku kembali dia pasti masih tetap dengan posisi seperti itu, dia bahkan tidak berusaha mencari makan untuknya sendiri.

Kalian tahu sendiri aku tidak pernah masak, ataupun menyetok makanan, karena itu sejak tiga hari lalu aku selalu menyediakan makanan kecil untuknya.

Aku membelikannya beberapa kaos dan celana murah, bukan barang bagus, karena aku tidak memiliki cukup uang untuk dihamburkan demi menampung hidup satu orang lagi dalam apartemen bobrokku. Aku membelikannya baju di toko loak sebelah bangunan apartemen, aku tidak banyak pilih, mau yang model atau sudah usang, aku tidak peduli, yang penting bisa masuk ke badannya yang hanya setara anak SD itu, dan kebetulan yang ukuran kecil juga murah, aku jadi tidak terlalu banyak menghabiskan uang untuknya.

Kami sering menghabiskan waktu dalam diam. Seperti sekarang. Aku menonton tv sambil memakan kue beras sebagai makan malamku, tapi Rukia malah diam di belakangku, dengan punggung bersandar pada dinding apartemen, matanya menatap bosan pada layar televisi, seperti tidak ada yang menggerakkan emosinya.

"Kau mau jadi patung sampai kapan?" tanyaku seraya menoleh padanya.

Dia tetap diam.

Aku pun bersyukur karena dia tidak lagi mencoba membunuh diri lagi. Pernah satu waktu saat ia tertidur aku melihat tangannya yang terdapat bekas luka sayatan, sepertinya dia sudah berulang kali mencoba bunuh diri. Perempuan tidak waras ini begitu putus asa, tapi aku juga tidak tahu apa yang menyebabkan dia sebegini terpuruknya, dia bungkam setiap kali aku bertanya.

"Makan ini!" aku menggeser kotak kue beras ke hadapannya, tapi dia tidak bergerak juga.

"Apa kau tidak lapar?"

Dia melirikku sesaat dan kembali menatap layar televisi, kepalanya menggeleng sangat samar, sampai ku kira dia hanya menoleh ke satu sisi sebentar.

"Kau belum makan dari tadi pagi," sahutku mengingatkan, tapi dia tetap saja bisu,"Hah, kau menyusahkan sekali!" geramku kesal sendiri.

Aku mengambil sepotong kue beras dan menyodorkannya, memberi isyarat padanya untuk membuka mulut, tapi dia malah melihat mataku langsung.

"Kenapa kau membiarkanku tinggal di sini? Tidak menyerahkanku pada mereka? Kau tidak ingin uang tebusan?"

"Jadi itu yang kau pikirkan dari tadi?"

"Jawab saja!" teriaknya keras, sampai telingaku berdening. Dia tidak bisa mengontrol emosinya sama sekali, padahal tidak perlu berteriak seperti itu kan? Memangnya aku ini tuli? Dasar Gila!

Aku membalasnya kali ini, tidak menjawab ucapannya, malah meraih dagu mungilnya dan menariknya untuk membuka, lalu memasukkan kue beras yang sedari tadi menganggur di tanganku dengan segala jenis pemaksaan. Dia membelalak sejenak, tapi akhirnya mengunyah kue beras yang ku paksa masuk ke mulutnya.

"Aku malas memberikanmu pada mereka, aku tunggu waktu saja sampai uang tebusannya terus berbunga," jawabku, tidak menjawab pertanyaannya secara langsung, karena alasan sesungguhnya bukan ada padaku, tapi ada pada dirinya sendiri.

Dia meringkuk dalam duduknya, menatap pola lantai yang monoton.

"Sampai kapan?"

"Tergantung," jawabku seraya bersandar pada dinding tepat di sampingnya, wajahnya mendongak menatapku, mencari lanjutan kalimatku, dan entah mengapa dia malah terlihat imut jika sedang seperti ini. Dia lebih bersih dari pertama kali aku menemukannya, jauh lebih tenang dan terkendali, membuatku ingin tahu bagaimana rasanya jika aku menyentuh bibir mungilnya itu, bagaimana jika ku jilat perlahan bibirnya untuk bisa merasakan gelenyar kenikmatan, lalu melumatnya hingga ia terengah dan memohon agar aku segera menyentuhnya.

"Tergantung apa?" kejarnya karena tidak juga mendapatkan jawaban dariku.

Aku menggeleng kuat. Argh! Kenapa aku jadi memikirkan hal seperti itu sih? Dia ini cuma perempuan berdada rata yang seharusnya tidak bisa membuatku tertarik.

"Tergantung kemampuan dompetku untuk menampungmu. Tinggal pilih, kau ku tendang pergi atau kita berdua jadi gembel!" jawabku santai.

"Kau berharap mereka akan memberi penghargaan karena telah merawatku?" gumamnya sambil mendesis sinis, dia menghindari tatapan mataku tapi mencemooh seperti itu. Dia benar-benar sudah menggunting urat kesabaran di semua badanku.

"Apa maksudmu?"

Dia malah beranjak tanpa sepatah katapun, reflek aku menarik tangannya untuk kembali dan menjawab pertanyaanku, tapi tak ku sangka dia malah jatuh menimpaku, aku tidak bisa menahan keseimbangan posisi dudukku hingga kami berdua jatuh berdeman terbaring di lantai, dengan Rukia menindihku.

Matanya membuka lebar, dan dengan cepat dia berusaha bangun tapi yang aku tidak mengerti, tanganku malah merangkul pinggangnya, menahannya untuk tetap seperti ini, dan ia pun kembali terhempas di atasku. Terasa sekali bagaimana organ berbentuk cembung di dadanya itu menimpaku, kenyal dan lembut (padahal sepertinya kecil sekali) . Wajah kami berjarak hanya beberapa senti, saling bertukar napas satu sama lain, seperti dugaanku, wangi napasnya memabukkan. Apa ini wangi mulut kelas bangsawan?

Tanpa ku komando lagi, tanganku bergerak menyentuh pipinya, membelai pipinya yang lembut, tanpa sedetikpun mengalihkan pandanganku darinya, seolah mata kami terkunci satu sama lain.

Wajah pucat Rukia diwarnai semburat merah yang entah mengapa menggelitik hatiku, matanya seperti menelanku, hingga tanpa sadar aku mengangkat kepalaku untuk lebih dekat padanya. Bibir kering miliknya, ingin aku membasahinya dengan lidahku, mengulumnya dalam sapuan bibirku, menikmati indahnya fantasi yang terkadang mengganggu tidurku.

Rukia tampak tidak menghindar, namun matanya semakin membelalak sejalan dengan jarak yang terhapus di antara kami.

"Ichigo!"

Momen indah itu rusak seketika, saat aku mendengar suara Ulquiorra yang menggedor pintu apartemenku tanpa ampun, dan saat aku sadar Rukia sudah beranjak dariku, berlari menuju kamar mandi, menyembunyikan dirinya di sana.

"Ichigo! Buka pintu, ada berita penting!"

"Apa sih?" gerutuku seraya bangun dan meraih slot pintu yang sudah karatan.

Pintu langsung terbuka saat Ulquiorra menariknya terbuka, membuatku bengong melihatnya hanya menggunakan celana pendek dan kaos putih belel -seragam tetap untuk seorang Ulquiorra yang hendak tidur-

"Berita penting apa sampai kau merusak semua kesenanganku," tanyaku seraya mundur untuk memberikan jalan masuk.

"Kesenangan? Memangnya kau sedang apa?" alis si brengsek Ulquiorra terangkat tinggi, dan matanya tajam memerhatikanku.

"Bukan urusanmu! Katakan saja apa berita pentingmu itu?" tandasku kesal.

"Orihime, dia kembali dan bilang akan mencarimu," seloroh Ulquiorra dengan mata berjelaga ke seisi apartemenku.

"Cari apa kau jelalatan begitu?" kataku curiga.

"Rukia ke mana?"

"Kamar mandi, kau ada perlu dengannya?"

"Tidak, aku hanya heran. Bisa-bisanya dia tidak keluar rumah selama berhari-hari. Apa yang ia lakukan di apartemen kotor dan jorok seperti ini?"

"Kau ini. Kau mengasah lidahmu setiap hari ya? Makin lama makin tajam saja!" sahutku kesal.

"Aku kan konsultan asuransi, jadi harus pintar dalam berbahasa," katanya bangga.

"Bukan pintar berbahasa, yang benar pintar mengejek orang!" ucapku seraya duduk kembali di tempat ku sebelum terjadi momen indah tadi.

"Kenapa reaksimu biasa saja? Orihime akan kembali padamu, Strawberry."

"Kau tahu dari mana?"

"Dari blog pribadinya, dia bilang akan kembali dan mencari cinta pertamanya. Sudah ku bilang dia itu cinta mati padamu, Ichigo. Ini kesempatan emas untuk mendapatkan kembali si seksi berambut panjang itu. Kau lupa bagaimana saat kau berada dalam pelukannya? Kau sendiri yang bilang dada Orihime itu sangat empuk, lembut dan besar..." cerocos Ulquiorra tanpa menarik napas tambahan.

Aku tahu, Ulquiorra selalu banyak omong setiap kali menyangkut percintaanku. Dia yang paling mengerti cerita ku dengan Orihime, perempuan yang setahun lalu pergi meninggalkanku, karena dia tidak ingin ada hubungan jarak jauh, mengingat ia harus melanjutkan kariernya sebagai model di Amerika. Yah, bisa dibilang aku ini dibuang setelah ia menjadi sukses, mungkin malu karena aku ini jauh dari harapannya. Aku kan hidup serba berkecukupan, cukup makan, cukup tidur, dan cukup menghemat uang gajiku.

"Kita lihat saja nanti, aku tidak tertarik mengemis cintanya lagi. Tidak minat!"

"Bukannya kau masih suka padanya?"

"Mungkin iya, tapi aku juga punya harga diri, Stoic!"

"Wah, Strawberry kita sedang dilema nih! Ya sudahlah, silahkan kau selesaikan dilema mu itu, aku mau melanjutkan pekerjaanku. Salam untuk Rukia," katanya seraya berjalan keluar dengan tangan terangkat melambai tinggi.

"Cuma begitu? Kau menggedor pintuku cuma mau bilang itu?"

"Memangnya mau apa lagi? Sudah ya!"

"Kau memang perusak, Dasar Stoic!" umpatku, bersamaan dengan bantingan pada pintu apartemenku.

Huh, harus sabar jika berteman dengan Ulquiorra, dia suka sekali membuatku erosi, emosi, erupsi, karena semua kalimatnya hanya memancing amarahku!

Asal jangan sampai membuatku ereksi saja!


Hari ini aku libur, dan memutuskan untuk mencari sebanyak mungkin informasi tentang Rukia, karena aku tahu, pada akhirnya nanti tinggal memutuskan, dia meninggalkanku atau aku yang meninggalkannya. Tapi tetap saja aku tidak bisa mengerti mengapa ia mencoba membunuh dirinya berulang kali, dia benar-benar sudah depresi dan tidak waras. Bahkan kemarin aku sempat memergokinya sedang mengarahkan pisau dapur ke pergelangan tangannya, segera saja aku berteriak keras untuk menghentikanya, dan tanpa sadar aku menamparnya. Dia tampak sangat kaget dan tidak percaya aku sudah memukulnya. Dia tampak terluka, dan kecewa, tapi aku tidak sedikitpun menyesal melihat tatapan bencinya padaku, karena aku yakin apa yang aku lakukan benar, dan aku mengancamnya.

"Jika kau ingin bunuh diri, setidaknya jangan lakukan dengan sepengetahuanku, terlebih lagi dalam jangkauan pandanganku. Jika kau memang sebegitunya ingin mati, nanti aku sendiri yang akan membawakan racun untukmu! Tunggu aku pulang besok, dan aku akan membawakan racun untukmu!"

Dia terlihat lebih lega setelah mendengar aku mengatakan hal itu, padahal dalam hati aku sama sekali tidak ingin membiarkannya mati, tidak sampai aku mendapatkan alasan yang tepat untuk membiarkannya bunuh diri.

Aku menuruni bis yang berhenti tepat di halte yang ku tuju, halte dengan tulisan papan petunjuk RUMAH REHABILITASI PSIKOLOGI DOKTER UKITAKE. Aku sengaja datang ke sini, karena sepertinya bisa ku temukan sedikit informasi mengenai Rukia. Berita terakhir yang ku dengar, Rukia dirawat di rumah rehabilitasi ini sebelum kabur dan terdampar di depan apartemenku. Memasuki bangunan yang menyerupai himpunan pavilion dengan banyak sekali orang yang bergerak ke sana ke mari dengan menyenandungkan lagu atau suara yang tidak jelas, membuatku yakin isi rumah ini hanya orang yang mengalami gangguan mental.

Resepsionis menyambutku, dan membuatku mengisi data sebelum aku masuk lebih jauh. Belum apa-apa aku sudah didaftarkan sebagai orang yang patut untuk dicurigai, kekat sekali rumah rehabilitasi ini. Pantas saja keluarga Kuchiki memilih tempat ini untuk menyembunyikan Rukia, tempat ini tertutup bagi orang luar.

"Apakah Dokter Ukitake ada?" tanyaku seraya menulis beberapa informasi tentang diriku.

"Ada, Anda ingin bertemu? Apa sudah membuat janji sebelumnya?" tanya resepsionis itu.

"Belum, tapi aku ingin menanyakan beberapa hal mengenai Kuchiki Rukia," jawabku, dan jawabanku justru membuat mata sang resepsionis terbuka lebar.

"Anda mengenal Kuchiki Rukia?"

"Umm, kebetulan aku ini temannya waktu SMA," jawabku asal. Teman SMA? Yang benar saja! Aku jadi geli sendiri dengan alasan yang ku ajukan ini. Karena aku SMA saja tidak sampai.

"Oh! Sebentar saya beri tahu kepada Dokter Ukitake."

"Ok!"

Sang resepsionis menekan tiga tombol di pesawat telepon di hadapannya.

"Iya, Dok. Dia bilang teman SMA Nona Kuchiki," ucap resepsionis itu mengkonfirmasi.

"Baik, Dok." Dia meletakkan gagang telepon dan menatapku dengan mata berbinar.

"Dokter menyuruh Anda langsung masuk saja, dari sini lurus lalu belok kanan, di sana letak ruangan dokter Ukitake," ucap resepsionis berwajah manis itu.

"Terima kasih," jawabku.

"Saya yang terima kasih. Saya kira Nona Kuchiki tidak pernah memiliki teman, semoga Anda bisa membantu kami menemukan Nona Rukia," lanjut resepsionis itu tetap dengan senyum lebar.

"Saya harap juga begitu," jawabku sekenanya.

Aku pun meninggalkan meja resepsionis, melangkah menuju arah yang sudah ia beritahu. Namun satu hal yang tidak aku mengerti, kenapa dia terlihat begitu senang saat tahu aku ini teman Rukia, apa perempuan bangsawan itu tidak pernah memiliki teman?

Ku ketuk pintu dengan tulisan Dokter Ukitake, dan terdengar suara dari dalam untuk memintaku masuk, aku pun masuk, dengan cepat aku menangkap sosok dengan wajah cukup berumur itu sedang melihat sebuah map di hadapannya, dan dia menyambutku dengan senyum ramah. Matanya agak menyiratkan kecurigaan saat melihatku duduk di hadapannya.

Mungkin dia tidak percaya aku yang tampak berantakan dengan rambut orange menyala plus warna mata yang tidak kalah mencurigakannya ini adalah teman Kuchiki Rukia.

"Saya Ichigo!" kataku memperkenalkan diri.

"Ya, saya dengar Anda teman Rukia," bisik Dokter itu lembut, membuatku ragu bahwa orang ini sesungguhnya adalah dokter.

"Sebenarnya bukan. Saya bukan teman Rukia, dan sepertinya itu tidak akan terjadi," jawabku tenang, namun dokter itu pun cukup mengendalikan ekspresinya, matanya hanya sedikit membulat sebelum kembali menatapku cepat. Tidak heran, psikiater memang harus pandai mengatur emosi dan raut wajah.

"Maksud Anda?" tanyanya

"Saya pernah melihat percobaan bunuh diri Rukia, dan saat saya cegah dia tetap berkeras untuk bunuh diri sekalipun selalu gagal. Apakah saya bisa tahu apa yang terjadi padanya?"

"Dimana Anda pernah melihatnya? Apakah dalam waktu dekat ini?" kejar dokter itu sampai mencondongkan tubuhnya.

Aku menggeleng cepat. Siapa bilang aku akan dengan mudah memberikan tambang emasku pada kalian. Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada nona mungil itu, dan berapa yang akan aku dapatkan sebagai imbalannya.

"Sudah lama, mungkin sebulan lalu," kataku lagi.

"Oh..." dookter itu kembali terduduk lemas di kursinya, terlihat sekali kekecewaan di wajahnya, tapi lalu ia melanjutkan : "Terima kasih sudah memperhatikannya, tapi kami mohon maaf, kami tidak bisa memberikan informasi tentang pasien selain keluarga pasien," jawabnya tegas.

"Sekalipun saya bilang bahwa saya mengetahui keberadaan Rukia?" tantangku. Awalnya aku melihat keraguan pada pria bermata melankolis itu, namun dengan cepat ia menggeleng.

"Ini bukan wewenang kami, dan sudah menjadi peraturan bahwa kami tidak bisa membuka rahasia pasien pada pihak yang tidak berkepentingan. Tapi apa benar Anda tahu dimana Rukia berada?" tuturnya tenang.

"Apa aku harus jawab? Aku tidak akan memberikan informasi apapun karena Anda ti-"

"Dokter! Dokter! Pasien kamar 14 kembali mengamuk, dan dia melukai teman sekamarnya!" teriak seorang suster yang tiba-tiba menerobos ruang kerja dokter utama.

"Baiklah, aku akan ke sana." Dokter Ukitake beralih padaku, "Bisa Anda tunggu di luar?" ucapnya padaku.

"Oh, tidak masalah," jawabku enteng, dan berjalan mengekornya, namun mataku sempat melirik map yang tergeletak di meja, berada di paling bawah, namun bagian atasnya menyembul keluar dari tumpukan, dan di sana bertuliskan Kuchiki Rukia.

Kami sudah berada di luar ruangan, dan dokter Ukitake meninggalkanku setelah menutup pintu ruangannya, dan yang terpenting dia tidak mengunci ruangannya. Dalam hati aku menyeringai, betapa takdir memudahkan langkahku.

"Bakar! Bakar semua setan di dunia ini!" sayup-sayup aku mendengar suara teriakan seorang pria, itu pasti pasien yang sedang mengamuk itu. Lalu beberapa orang perawat pria berlari melewatiku, membawa ranjang dan beberapa alat yang tidak aku mengerti namanya.

"Terus mengamuk ya, biar aku bisa leluasa," gumamku seraya berjalan berjingkat menuju pintu ruangan berwarna putih itu, dan dengan cepat aku sudah berada dalam ruangan.

Aku sudah melihat sekeliling ruangan, tidak ada kamera CCTV jadi ini pasti aman.

Ku tarik tumpukan map paling bawah, ku buka tutup map itu, dan melihat tumpukan kertas yang menyerupai buku dengan jilid rapi. Halaman pertama memuat data diri Rukia, dan baru aku tahu, ternyata dia berumur 21, lebih muda empat tahun dariku. Aku segera pindah ke lembar kedua, berisi indeks catatan mengenai tindakan medis yang diberikan pada Rukia.

Begitu banyak bius yang Rukia terima dalam kurun waktu dua bulan awal dia memasuki rumah rehabilitasi ini, hingga aku yakin, dia pasti menghabiskan sebagian waktunya untuk tidur atau tak sadarkan diri.

Enam bulan ia berada di rumah rehabilitasi, dan saat itu ia langsung menerima bius dengan kadar tinggi, transfusi darah karena kehilangan banyak darah akibat berulang kali mencoba membunuh diri, bahkan infus karena kekurangan nutrisi.

Aku melewati beberapa lembar catatan yang menurutku tidak penting, lalu perhatianku tertuju pada sebuah kertas kuning yang menjadi pembatas halaman, di sana berjudul wawancara pertama dengan Rukia.

Tulisan tangannya seperti cakar ayam, tapi masih mampu ku baca.

Hari ini hari ke dua puluh Rukia dirawat, dan akhirnya dia berhenti mencoba mengiris tangannya setelah hampir satu minggu berada di ruang isolasi. Dia bilang padaku bahwa ia ingin bicara, tapi dengan syarat sesudah itu aku harus membiarkannya mati.

Aku tidak pernah menemui seorang dengan akal sehat seperti dirinya begitu menginginkan kematian. Aku menyetujui permintaannya, tapi hanya di mulut, aku tidak akan membiarkan perempuan yang ku anggap hampir seperti anakku sendiri ini membunuh dirinya sendiri.

Aku berhenti membaca pada bait ini, agak heran dengan tulisan dokter berambut putih panjang itu. Kenapa dia menganggap Rukia seperti anaknya sendiri? Padahal Rukia juga baru masuk rumah rehabilitasi ini kan? Apa mungkin dia ada hubungan dengan keluarga Kuchiki? Tapi ku simpan pertanyaanku dan kembali melanjutkan bacaanku.

Aku menjadi pendengar yang baik dan membiarkannya bicara, merekam semua kata yang ia ucapkan dalam recorder.

Dia pun mulai bercerita...

"Aku tidak ingin lagi hidup Dokter, karena itu aku ingin kau biarkan aku mati. Izinkan aku mati, biarkan aku menjemput mautku jika kalian tidak bisa memberikannya."

Aku terdiam, tidak memeluk lututnya erat, seperti menggigil kedinginan dalam ruangan yang menurutku cukup panas. Lalu ia melanjutkan:

"Bagaimana aku harus memulai semuanya… Yang aku ingat hanya sakit, mati rasa serta putus asa yang tidak pernah ada habisnya." Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan cepat.

Beban berat itu tergambar jelas di wajahnya. Miris sekali melihat perempuan cantik dan polos sepertinya harus sebegini terlukanya. Yang bisa aku baca hanya duka mendalam di dirinya, tapi tidak aku ketahui sumber segala penderitaan yang ia rasakan. Ku harap ia bisa membuka dirinya kali ini agar aku bisa membantunya keluar dari permasalahannya sendiri.

Aku melihat rambutnya yang kusut, dan bahunya yang merosot turun. Tubuhnya sudah tidak sanggup lagi menahan bebannya.

"Yang membuatku sakit bukan karena 'bajingan itu' menodaiku berulang kali, yang membuat aku mati rasa bukan kebas karena dia memukulku setiap kali memaksakan nafsu bejatnya, yang membuatku putus asa bukan karena aku sudah bosan hidup, tapi karena satu-satunya orang yang aku harapkan bisa menyelamatkanku justru membuangku, membuatku terjerumus semakin dalamke jurang mengerikan itu."

Dia mulai menangis dan sekujur tubuhnya gemetar hebat. Aku baru sadar, luka yang ia derita jauh lebih dalam dari apa yang aku bayangkan.

"Aku mengalami pelecehan seksual dari sepupuku sendiri, Kouga. Bertahun-tahun aku merasa hidup berada dalam neraka karena apa yang ia lakukan padaku. Neraka itu berawal tiga tahun lalu, saat dia tinggal di rumah keluarga Kuchiki karena harus mengikuti pendidikan di kota ini, dan Kakek membiarkannya tinggal tepat di samping kamarku, karena menganggap dia adalah pria baik-baik. Hingga suatu hari Kouga menerobos kamarku saat aku sedang tidur, dan dia memperkosaku, mengancam akan membunuhku jika aku tidak menurutinya.

"Aku membiarkannya melakukan semua yang ia inginkan hingga ia puas, berulang-ulang kali, dan aku hanya seperti robot, mengikuti semua perintahnya. Dia akan memukulku jika aku menolak ataupun membantahnya. Aku hanya bisa menangis, hal itu terus berlangsung selama bertahun-tahun. Hingga suatu saat pelayan memergoki Kouga yang sedang mencoba memerkosaku, dia melaporkan hal itu pada Kakek Yamamoto.

"Malam itu, ku kira aku akan selamat, terbebas untuk selamanya dari penderitaan dan nafsu bejat Kouga, tapi aku salah, aku seharusnya tahu tidak boleh menggantungkan harapanku terlalu tinggi. Aku mendapati kenyataan bahwa Kakek Yamamoto justru menudingku sebagai pelacur, menggoda Kouga hingga mau tidur denganku, menyebutku wanita jalang, tak bermartabat dan tak pantas menjadi seorang Kuchiki."

Jeda sebentar dalam suaranya yang datar, aku tidak tahu mengapa ia bisa begitu lancar menceritakan hal mengerikan seperti itu padaku. Dia memang meneteskan air mata, sekujur tubuhnya memang bergetar ketakutan, tapi suaranya datar seolah tanpa emosi.

"Aku menyangkal tudingan Kakek dan mengatakan bahwa aku justru korban dalam hal ini, tapi Kakek mengatakan bahwa Kouga adalah pria baik-baik yang tidak mungkin melakukan hal tercela seperti itu. Dia menutup mata pada kenyataan pakaianku yang koyak dan tidak aku tutupi saat mereka mengadakan sidang untukku. Aku menangis dan mengiba pengakuan mereka bahwa aku tidak bersalah, tapi sia-sia. Aku hanya debu dan noda di mata mereka."

Rukia menghapus air matanya, dan menatapku untuk pertama kalinya.

"Saat aku sedang terpojok seperti itu, Kakak Byakuya datang, dia menutupiku dengan jas yang ia gunakan, menutupi pakaianku yang koyak. Saat itu aku berpikir bahwa pada akhirnya ada yang percaya padaku, Kakak Byakuya akan membelaku, dia pasti percaya dan tidak akan membiarkanku terus dituduh seperti ini."

Rukia tersenyum miris.

"Tahu kah kau betapa senangnya aku saat itu,Dokter? Seperti melihat secercah cahaya dalam kegelapan."

Rukia kembali tertunduk.

"Tapi harapanku menguap secepat kedatangannya. Aku masih ingat dengan jelas kalimat yang Kakak ucapkan saat itu…"

Rukia tampak mengingat dan membuka kembali ingatannya.

"'Kakek, kita sudahi saja permasalahan ini. Kita pindahkan Rukia ke rumah keluarga yang ada di luar kota, jangan perpanjang lagi. Mungkin Rukia sedang tidak sadar saat melakukan hal itu,'" ucap Rukia, menirukan kata-kata Kakak yang ia sebut bagai malaikat baginya itu.

Sunyi yang aku rasakan, seolah aku ikut merasakan duka dan perih yang melanda Rukia saat ini di udara yang sama-sama kami hirup.

"Aku menatapnya tidak percaya saat itu, ternyata tidak ada yang bisa aku lakukan untuk meyakinkan mereka, karena sesungguhnya mereka bukan tidak yakin padaku, tapi mereka menutup mata pada apa yang telah terjadi padaku. Detik itu aku putuskan bahwa aku bukan lagi bagian dari mereka, dan aku tidak akan lagi menggantungkan napasku padaku mereka, karena mereka tidak akan pernah memberikan udara padaku. Mereka ingin aku enyah dari kehidupan mereka.

"Aku mengamuk, dan mengambil vas di sampingku, saat itu aku di luar kendali menghantam kepala Kouga, membuat kepalanya berdarah dan tak sadarkan diri di lantai. Kakak berteriak padaku, namun aku tidak berhenti, aku mengambil barang-barang lain yang bisa aku lempar, tidak peduli mendarat pada siapapun, bahkan pada diriku sendiri pun aku tidak peduli, karena aku tidak bisa tetap seperti ini.

"'Penjaga, bawa Rukia ke ruang isolasi!' itulah yang Kakak Byakuya katakan. Aku berusaha lepas dari mereka, dan meraih pecahan vas, menggores pergelangan tanganku sendiri, namun ternyata tidak cukup dalam untuk membuatku menghembuskan napas terakhir. Aku diseret ke ruang isolasi dan seorang penjaga membalut tanganku.

"Entah berapa lama aku berada di ruangan gelap tanpa cahaya itu. Berharap kegelapan akan menelanku, membawaku ke neraka pun aku tidak peduli, karena aku sadar aku tidak cukup bersih untuk menjejak surga. Tapi harapanku habis begitu saja setelah aku dikirim ke rumah rehabilitasi ini. Aku hanya ingin mati dokter, ku mohon biarkan aku."

Detik itu aku tahu bahwa aku tidak akan pernah mengabulkan permohonannya, dia tidak berhak mati, dia jiwa murni yang tidak sepantasnya ternoda seperti ini, dia tidak bersalah, dia seharusnya menerima uluran tangan saat ia merasa putus asa, bukan diperlakukan seperti binatang seperti itu.

Dia sendirian, dan selalu sendirian, perempuan itu selalu sendirian. Sejak ia masuk dalam rumah rehabilitasi ini tidak ada satu orangpun yang menjenguknya, dan aku mengerti betapa itu sangat menyakitkan untuknya. Dia memang tidak mengharapkan kunjungan, namun bukankah sekalipun manusia yang ingin sendiri pasti pernah ingin memiliki seorang teman?

Aku menutup map saat membaca akhir dari kalimat yang ditulis oleh dokter Ukitake. Sakit yang melanda hatiku sangat menyesakkan. Rukia, perempuan itu telah terluka sebegini dalam, hingga ia tidak ingin hidup lagi, karena dia berpikir tidak ada gunanya lagi menapaki jalan takdir yang diciptakan Sang Pencipta untuknya. Aku pun tidak sanggup membaca lembar-lembar lain yang mungkin akan membuatku tidak bisa menahan kebencian dan kemarahan yang menyala dalam diriku. Karena itu aku meninggalkan ruang dokter Ukitake.

Aku bersumpah, akan kuberi pelajaran yang pantas orang bernama Kouga itu. Binatang itu tidak sepantasnya bernapas dengan lega, dia tidak punya hak untuk menjejak bumi ini dengan segala dosa yang telah ia lakukan. Aku sadar sepenuhnya kalau aku pun bukan pria baik-baik, aku sekelas bajingan yang dapat dengan mudah tidur dengan perempuan manapun yang menawarkan dirinya padaku, tapi aku tidak pernah berpikiran untuk merenggut dan memaksa mereka, bahkan menggunakan kekerasan untuk memuaskan gairah laki-lakiku. Aku bajingan tapi aku masih punya moral, karena aku menghormati kebebasan tiap orang untuk memilih. Tapi ini sungguh di luar batas akal!

Ku pacu kaki ku untuk pulang kembali ke apartemen, berdo'a agar Rukia tidak melakukan hal bodoh untuk menghabisi nyawanya sendiri. Perempuan itu, aku harus melindunginya, luka yang ia derita sungguh membuatku tidak mampu menahan gejolak amarah yang tiba-tiba membakar hatiku dengan sangat hebat.

"Rukia!"

Aku berhambur masuk apartemen, dan mencari Rukia ke penjuru apartemen sempit yang seharusnya memudahkanku untuk menemukannya, tapi ia tidak ada di manapun.

"Rukia!" pekikku lagi, dan tidak ada jawaban. Aku berlari menuju kamar mandi dan memaksa pintu terbuka lebar. Rukia berdiri dengan wajah kaget, tangannya memegang sikat dan baju kerjaku, siapa yang menyangka kalau dia sedang mencuci bajuku.

Kontan lututku lemas, dan aku merosot turun hingga terduduk di lantai kamar mandi, merasakan kelegaan yang luar biasa.

"Kau bawa racun untukku?" ucapnya dalam nada suara hampa.

Aku menggeleng cepat.

"Lalu sampai kapan kau tidak akan membiarkanku mati?" sahutnya.

"Selama aku masih hidup," jawabku cepat, membuatnya membuka mata lebar-lebar.

"Kau tidak akan bisa," jawab Rukia seraya kembali menyikat baju kerjaku, membuatku menatap punggung ringkih miliknya.

Aku beranjak dari tempatku dan tidak akan menjawabnya, membiarkan waktu yang akan membuktikan pernyataanku padanya. Aku tidak akan membiarkan waktu membuatnya lebih menderita lagi dari semua ini, dia berhak bahagia, sama seperti aku yang diberi kesempatan hidup di atas kematian seseorang, karena itu aku harus mensyukuri hidup yang aku tempuh sekarang.

Baik Rukia ataupun aku, kami berdua diberi kesempatan untuk menapaki jejak takdir yang sudah digariskan, agar kami bisa menjadi seseorang yang lebih baik, dan tidak membuat Sang Pemberi Kehidupan menyesal karena telah memberikan nyawa pada kami.

"Kau mau makan ramen?" tanyaku saat melihat jam menunjukkan sudah hampir waktu makan siang.

"Tidak," jawabnya sambil terus menyikat.

Aku melihat punggungnya yang bergerak maju mundur perlahan, seiring gerakannya menyikat bajuku. Heran, dari mana dia berinisiatif untuk mencuci bajuku? Apa mungkin dia bosan dan melihat bagaimana joroknya aku yang tidak pernah mengganti baju kerja jika belum seluruhnya hitam karena oli.

"Ini bukan waktunya tawar menawar. Tinggalkan baju itu, ikut denganku."

Ku tarik tangannya dan membawanya paksa.

Sialan! Aku lupa-

"Lepas! LEPAS!" Rukia meronta dan memukul punggungku keras-keras, dia berteriak histeris dan berusaha lepas dariku.

"JANGAN SENTUH AKU!" pekiknya saat aku melepaskan tangannya, dia memeluk tangannya erat-erat, dan air mata mewarnai wajahnya.

"Rukia, aku… aku tidak bermaksud menyakitimu…"

"Tinggalkan aku sendiri!" serunya dengan mata penuh kebencian.

Aku membeku, melihat luka itu kini tergambar jelas di wajahnya, dan yang membuatku miris adalah… Aku penyebab luka itu naik lagi ke permukaan, dan melihatnya menangis ketakutan seperti ini membuatku mengutuk diriku sendiri.

"Rukia…" aku menjulurkan tangan hendak meraih bahunya, tapi ia menghentakkan tanganku.

"Singkirkan tanganmu dariku!" pintanya dengan nada suara tinggi.

"Luka itu…, seberapa dalam sudah ia torehkan padamu, Rukia? Siapa yang sebenarnya paling menyakitimu? Kouga ataukah Kuchiki Byakuya?" tanyaku perlahan.

Rukia membelalak dan menatapku tidak percaya, dan tangisnya berubah menjadi ketakutan yang tak pernah aku bayangkan akan aku lihat darinya. Dia mundur, terus mundur hingga punggungnya bertemu dinding kamar mandi.

"Siapa yang mengatakannya padamu? SIAPA?"

"Ichigo!"

Aku menoleh pada sumber suara lain, dan mendapati Ulquiorra berdiri di pintu apartemenku, pandangannya bergantian antara aku dan Rukia. Mata malasnya bergerak dengan sangat lambat, membuatku tidak nyaman berada di bawah pandangannya.

"Aku mendengar suara ribut, jadi ku pikir mungkin aku bisa membantu," ucapnya yang merasa canggung sendiri. Mata bosan Ulquiorra menatap Rukia sepenuhnya, seperti tengah melihat ketakutan yang terpancar dari Rukia.

"Tidak perlu, kau bisa pergi, ini masalah aku dan Rukia. Biar kami yang selesaikan," jawabku.

"Oh, masalah pasangan toh. Ya sudah, aku pergi, tapi jangan ribut! Jangan sampai Pak Kyoraku mendatangimu lagi," katanya memperingatkan. Aku terdiam dan melihatnya undur diri, namun sebelum benar-benar menghilang ditelan pintu, ia masih memusatkan perhatiannya pada Rukia. Apa-apaan sorot matanya itu? Ini pertama kalinya aku melihat Ulquiorra tertarik dengan makhluk bernama perempuan. Hidup Ulquiorra biasanya hanya dipenuhi upaya untuk mengejar target asuransinya, dia bahkan rela tidur dengan wanita kelas atas agar mereka tertarik untuk mengambil produk asuransinya agar targetnya selalu terpenuhi, selalu menjadi nomor satu. Karena itu dia tidak pernah benar-benar memperhatikan perempuan secara utuh.

Perhatianku kembali pada Rukia yang masih berdiri dengan memeluk diri erat-erat, dan aku menarik napas dalam-dalam, aku sudah membuat Rukia takut padaku.

"Siapa yang mengatakan padamu tentang Kouga dan Kakak Byakuya?" tanyanya lirih.

"Kau bahkan masih menyebutnya Kakak?" cemoohku.

"Aku ingin berhenti menyebutnya seperti itu, tapi hatiku selalu menolak. Mungkin aku akan tetap membencinya sebagai seorang Kakak," jawab Rukia dengan mata menekuri lantai. "Lagipula bukan urusanmu bagaimana aku memanggilnya!" umpatnya yang kemudian melempar sorot mata tajam padaku, kebencian tergambar di sana. Gila! Cepat sekali dia bisa merubah suasana hati. Dari ketakutan, sedih, dan terluka, sekarang dia menguarkan aura kebencian dan kemarahan yang mendalam. Bulu tengkuk ku langsung berdiri seketika.

"Maafkan aku, aku tidak sengaja melakukan hal itu, kau tahu aku tidak bermaksud menyakitimu. Jika aku memang seperti Kouga, mungkin aku sudah melakukannya sejak pertama kali bertemu denganmu. Tapi kau tahu bahwa aku tidak suka perempuan berbadan lurus seperti mu. Iya kan?"

Semburat merah muncul di wajahnya, membuatku tersenyum, dia menyadari kenyataan yang aku sajikan, tapi juga malu karena aku sudah mengatakan kenyataan yang memukulnya dengan sangat telak.

"Jangan beralasan!" semburnya masih dengan pipi memerah. Diam-diam aku tersenyum melihat dia tersipu seperti itu. Yah, jarang-jarang dan ini satu lagi emosi yang muncul menggantikan emosi lain dalam dirinya.

"Aku tidak beralasan, itu kenyataan. Nah kita pergi makan ramen sekarang?" kataku lagi dengan tangan terulur untuk ia sambut.

Dia tetap di tempatnya, tidak bergerak, hanya melihatku dengan segenap matanya, seolah aku tersedot ke kelaman hatinya.

"Ayo! Kau mau membuatku menadah seperti ini sampai sore?" desakku agar ia mau mengulurkan tangannya. Aku hanya berharap kami bisa menjadi teman, selangkah lebih dekat agar aku bisa menjangkau hatinya, agar dia tidak lagi merasa sendirian dan terbuang.

"Jawab pertanyaanku! Siapa yang mengatakan padamu mengenai Kouga dan Kakak Byakuya?"

Aku menghela napas lagi. Perempuan ini sungguh sulit dimengerti, keras kepala dan pantang menyerah.

"Kau mau jawaban jujur atau bohong?" kataku mencoba berkelit.

"Jujur atau bohong, aku tidak tahu karena kau yang mengetahui kebenarannya, bukan aku!" jawabnya cepat, tetap memasang wajah sengit yang sama.

"Ternyata kau cukup cerdik," pujiku dan aku menatap matanya lagi, hazel bertemu biru, yang satu kelam yang satu terang. Namun aku sadar, kekelaman dalam matanya tidak jauh berbeda dengan kekelaman dalam hatiku.

"Aku menyusup ke kantor dokter Ukitake, jadi tidak ada yang mengatakannya padaku. Aku mencari sendiri kebenaran itu."

"Untuk apa?" desaknya.

"Harus aku jawab?" ucapku dengan hembusan napas lelah, karena aku benar-benar lelah menghadapi pertanyaannya yang beruntun, padahal kami tidak sedang main cerdas cermat.

"Kau ingin aku pergi makan ramen?" dia menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lagi, dia membuatku ingin berteriak saja. Aku paling tidak bisa bermain kata seperti ini.

"Argh!" aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, rasanya hampir frustasi menghadapi Rukia.

"Sudah! Sudah! Mau makan ramen saja sampai ribet begini. Lagipula aku yang menawarkan, kenapa jadi aku yang susah. Kau mau ikut tidak? Kalau kau ikut aku akan jawab pertanyaanmu di kedai ramen. Bagaimana?" kataku putus asa, ini sudah penawaran terakhirku.

Rukia tidak beranjak juga, apa ada lem yang mematri kakinya di sana?

"Ayo, aku sudah lapar, Rukia. Jangan biarkan aku pingsan karena kelaparan."

Aku kembali mengulurkan tangan, namun kali ini aku memberanikan diri untuk memperpendek jarak di antara kami dengan maju dua langkah. Ku biarkan tanganku tetap menggantung menunggunya, karena aku tidak ingin memaksanya lagi, atau aku akan membuatnya kembali terluka.

"Apakah kau akan memaksaku lagi?" bisiknya, tersirat keraguan di suara tegasnya.

Aku menggeleng.

"Kau bebas melakukan yang kau suka, tapi jangan pernah berpikir untuk mati," kataku.

Sunyi yang akhirnya ada di antara kami, dan aku memberanikan diri kembali memperpendek jarak kami. Rukia tampak ragu, dia melihat tanganku, lalu kembali ke mataku, seolah mencari niat jahat yang mungkin ada di diriku, tapi aku tersenyum untuk meyakinkannya. Tapi aku sendiri ragu, karena Ulqui sering bilang senyumku lebih mirip seringai, malah membuat orang takut.

Rukia menurunkan tangannya dari dada, dan dengan ragu dia menjulurkan tangan, tadinya ku kira dia akan meraih tanganku, tapi dia malah meraih ujung jaket yang aku gunakan. Wajahnya tertunduk dalam, dan aku yakin dia pasti sangat malu untuk menatap langsung wajahku. Akhirnya dia menyerah. Yup! Kali ini aku berhasil menjinakkannya.

Entah mengapa rasanya seperti menghadapi anak SMA yang masih sangat canggung untuk bergaul dengan pria yang baru ia kenal.

"Apa kau tidak pernah pergi kencan?" tanyaku masih menghadapnya.

"Kenapa bertanya?" dia kembali marah, mau tidak mau aku harus mengalah, tapi aku tahu dari sorot mata menghindarnya ia tidak pernah kencan.

"Kau tidak pernah pacaran?" tanyaku lagi.

Lagi-lagi hanya sorot mata bermusuhan yang aku dapatkan.

"Kenapa kau bertanya hal-hal aneh begitu? Memangnya ada pengaruhnya aku pernah kencan atau tidak? Pernah pacaran atau tidak bukan urusanmu, kan?"

"Kalau orang sedang jalan berdua harus bergandengan tangan, bukan pegang jaket seperti ini. Kau kira aku pengasuh anak SD!" jawabku emosi juga pada akhirnya, habisnya dia selalu berteriak dan bicara dengan nada tinggi begitu, membuatku hilang kesabaran.

"Tapi aku-" wajah Rukia langsung menunduk, malu-malu menatapku. Dia kalah telak!

"Sudah, sekarang genggam tanganku, aku tidak ingin kau terpisah, kalau hilang susah mencarimu nanti," kataku dengan menyodorkan tangan.

"Kau cuma takut tidak mendapat uang imbalan dari kakakku kan?" gerutunya skeptis.

"Jangan mulai lagi, Rukia. Jangan membuatku lebih lapar dari yang sekarang. Kau tahu, kalau aku lapar, aku bisa makan apa saja. Termasuk dirimu…" Aku memberikan sorot mata serigala andalanku, dan sepertinya itu berpengaruh pada Rukia, karena dia melepaskan cengkraman di jaketku, dan dengan sangat perlahan ia menyentuh ujung jariku. Seperti ada sengatan lain yang menyerangku saat jemarinya yang halus dan basah menyentuh jari-jariku yang kasar. Saat ku pikir dia tidak akan menghindar lagi, aku menggenggam tangannya dan mulai melangkah, menuntunnya menuju pintu keluar, tapi kemudian aku sadar tentang satu hal.

"Bajumu…"

Aku melihat rambutnya yang diikat model ekor kuda, lalu turun ke kaos berwarna hitam pudar yang seingatku harus dicuci berulang kali dalam seminggu karena dia tidak punya baju yang lain, plus celana pendek milikku yang ia pakai dengan ikat pinggang karena kebesaran, seharusnya sih celana pendek tapi saat ia yang pakai malah mencapai bawah lutut. Kalau ku lihat lagi, tampangnya jauh lebih kacau dariku.

"Kenapa?" jawabnya cepat.

"Kalau kau tidak keberatan ya sudah! Kita berangkat."

Selama dalam perjalanan aku dan Rukia tidak pernah melepaskan genggaman, dan aku mampu merasakan kegugupannya dari tangannya yang terasa sangat kecil dalam genggaman tanganku. Kami duduk bersebelahan dalam bis. Aku berusaha agar ia duduk di tempat aman yang tidak terjangkau dari sentuhan penumpang lain, sengaja aku arahkan dia duduk di dekat jendela dan aku di sebelahnya. Dia lebih banyak menunduk diam selama dalam perjalanan. Yah setidaknya dia masih bisa tenang saat ini, dan ini pertama kalinya aku membawanya ke tempat umum, aku harap dia tidak mengamuk. Aku menjaga langkahnya saat turun dari bis, tidak lucu kalau dia sampai jatuh.

Akh Ichigo! Kau memang Bajingan yang berhati lembut. Mau tidak mau aku mendengus senang mendapati kenyataan ini.

"Kau pernah makan ramen?" aku mencoba membuka pembicaraan dengannya.

"Pernah waktu kelas tiga SMP, dan setelah itu Kakak tidak pernah membiarkanku makan ramen."

"Semua yang kau ingat selalu tentang Kakakmu ya?" kataku kesal. Aku tidak suka dia terus-terusan menyebut kakaknya, padahal orang itu bertanggungjawab atas semua penderitaan Rukia.

Dia tetap bungkam, tidak mau menjawabku sepertinya, tapi aku sudah tahu jawabannya pasti ya. Tidak salah jika ia sangat kecewa saat orang bernama Kuchiki Byakuya itu tidak sekalipun mengulurkan tangan untuknya, membuangnya saat ia justru sangat membutuhkan pertolongan seorang Kakak.

Kami memasuki kedai ramen, dan betapa kagetnya aku saat melihat Renji melambai padaku dari meja depan counter.

"Kau mengajak Rukia juga?" serunya dengan tangan mengayun tinggi, seringai lebarnya lebih seram dari model rambut nanasnya.

"Si-siapa?" bisik Rukia, agak ketakutan, tapi ia berusaha tidak terlalu menampakkannya.

Aku lupa, Rukia belum kenal Renji, karena terakhir kali Renji melihat Rukia ya di bengkel, saat Rukia pingsan, tapi setelah itu aku membawa Rukia yang pingsan pulang ke apartemen, karena itu mereka belum pernah tatap muka seperti ini. Aku jadi cemas, jangan-jangan perempuan ini juga akan berteriak histeris kalau bertemu orang asing.

"Renji, teman kerjaku. Panggil saja dia Kepala Nanas Bodoh, bentuk rambutnya mencerminkan namanya, kan?" bisikku dan Rukia langsung melihat rambut Renji yang berdiri seperti daun pohon nanas.

"Kau bilang apa padanya, Strawberry?" geram Renji yang memerhatikan Rukia.

"Masih lebih buruk dari nanas sih," ucap Rukia datar, dan dia menatap Renji dingin. Benar-benar dingin. Kemana perginya ketakutan tadi?

Tapi Renji seharusnya masih bersyukur karena Rukia tidak bersikap liar seperti saat aku menemukannya. Dia terlihat jauh lebih manusia, tidak pernah aku berpikir dia akan bertahan tinggal denganku, bahkan bicara dengan normal seperti ini kepada Renji.

"Kau kenapa bengong, Ichigo?" Renji menyadarkanku kembali dari pikiranku tentang Rukia.

"Ti-tidak apa-apa," aku mengalihkan pandanganku saat mata Rukia beralih padaku. Kenapa aku jadi canggung begini?

"Pasti kau melamun jorok, kan? Lihat saja iler di mulutmu hampir netes tuh!" celetuk Renji sambil nyengir kuda, dan jelas-jelas ia melirik Rukia.

"Otakmu tuh yang jorok!" balasku seraya menarik kursi untuk Rukia, tapi Rukia malah tidak bergerak dari tempatnya, dia menatapku tajam. Aku tidak suka kecurigaan yang terpampang jelas di matanya. Besok-besok aku ingin menutup matanya itu, kesal sekali setiap kali melihatnya melotot padaku.

" Aku pesan ramen pedas seperti biasa. Kau pesan apa, Rukia?" kataku cuek, menarik kursi lain untukku sendiri, dan membiarkan kursi yang tadi aku tarik menganggur menunggu penghuninya.

Rukia melihat daftar menu yang berbaris di papan samping counter, dan matanya terpusat pada gambar kue beras.

"Kau mau kue beras?" tanyaku.

"Kue beras yang waktu itu tidak terlalu buruk," jawabnya dengan sangat tegas, sepertinya kepribadiannya yang berani -yang aku temui saat pertama kali bertemu dengannya- muncul begitu saja, padahal tadi dia masih gugup bertanya tentang Renji. Dia bukan lagi Rukia yang diam dan memendam kata-katanya. Ah, ini benar-benar! Semakin diperhatikan sepertinya dia memiliki kepribadian banyak yang bisa ia pakai seenak perutnya.

"Kau ini punya penyakit susah jujur ya?"

Rukia mengerutkan alis dan duduk di kursi yang dua menit lalu aku tarik untuknya, tapi dia menariknya lagi, hingga jarak duduk kami sampai satu setengah meter. Gila, dia pikir aku ini virus antraks?

"Tidak!"

"Masih mengelak lagi! Kau tinggal bilang kalau kue beras yang waktu itu 'enak', bukannya 'tidak terlalu buruk'. Benar-benar kau ini!" aku menggeleng tidak habis pikir.

"Pak, ramen pedas satu, kue beras satu!" seruku dan si petugas kedai mengacungkan jempolnya sebagai respon atas pesananku.

"Ichigo, kau yakin matamu tidak salah lihat?" Renji mencondongkan badan dan berbisik padaku, berusaha agar suaranya tidak terdengar Rukia.

"Bicara apa kau?"

"Aku cuma ragu sih. Kau yakin mau melanjutkan hubungan dengan perempuan seperti dia? Dia jauh sekali dari seleramu, tidak cantik, jauh dibanding Orihime yang lebih berbentuk, aku tidak tahu kalau kau suka yang serata ini," lanjutnya dengan mata melirik Rukia, alisnya terangkat penuh keraguan.

"Jidatmu!" aku langsung mendorong kepalanya hingga Renji hampir terjengkang dari kursinya.

"Sialan! Aku hampir jatuh, Kepala Jeruk!" umpatnya

"Jangan pernah bertanya lagi, aku tidak akan-"

"Dia bisa membuangku kapan saja, tapi dia tidak melakukannya. Entah apa yang dia pikirkan, seharusnya kau ajari dia agar punya selera perempuan yang lebih baik. Berapa ukuran yang kau inginkan? 36 cup D? Atau malah 38 cup D?"

Baik aku maupun Renji sama-sama menoleh pada Rukia, dia menyeruput teh hijau yang baru saja dihidangkan petugas kedai, matanya masih menatap bosan pada gelas. Aku melirik Renji dan Renji mengendikkan bahu. Kami sama-sama bingung, padahal kami bicara sambil bisik-bisik, tapi dia bisa mendengar pembicaraan kami sejelas itu. Telinganya lebih tajam dari perkiraanku.

"Dia suka yang big size!" celetuk Renji cepat.

"Tutup mulutmu, Nanas!" aku langsung saja menjitak kepala Renji, dia suka sekali memancing di air keruh, sama saja dengan Ulqui!

"Lho benar kan? Buktinya di antara semua cewek, kau paling awet sama Orihime!" Renji lagi-lagi bicara ngawur.

"Sepertinya mulutmu perlu ku sumpal dengan sepatu Szayel, biar kau tahu caranya menjaga mulut!" geramku, dan Renji langsung menekap mulutnya rapat-rapat. Kami semua tahu bagaimana baunya kaki Szayel yang hobby tidak mencuci sepatunya kalau belum berubah warna.

Aku bisa membayangkan Szayel pasti tersedak, entah dimana dia berada sekarang.

"Oh, jadi memang yang ada di kepala kalian hanya tubuh perempuan ya?" desis Rukia yang kemudian melirikku, sontak aku merasa sangat direndahkan dengan caranya menatapku.

Rukia menyeruput tehnya hingga tinggal setengahnya, dan aku melihat matanya yang berbinar cerah saat pesanan kue berasnya tiba. Ah, ternyata dia bisa terlihat hidup seperti itu ya? Aku jadi ingin tahu bagaimana wajahnya kalau dia tertawa.

Dia meraih sumpit dan langsung menyantap kue beras yang masih mengepulkan uap panas itu, dia meniupnya perlahan.

Wah, bibirnya… mengerucut seperti itu malah terlihat agak seksi, andai aku bisa menyentuhnya dengan bibirku… tiba-tiba saja aku merasakan perutku menggeliat resah.

Tidak, jangan terpancing hanya dengan melihat bibirnya. Aku bahkan pernah merasakan bibir Orihime yang jauh lebih kissable dari bibir Rukia. Bibir Rukia belum seberapa dibanding bibir Orihime. Tenang Ichigo, kau belum kalah, perempuan ini belum ada apa-apanya.

Bayangkan saja Orihime, ingat bagaimana lekuk tubuhnya, ingat bagaimana ia selalu membalas ciumanmu, ingat bagaimana ia selalu merangkulkan tangan halus miliknya di bahumu, memijat lehermu perlahan untuk membuatmu rileks, ingat itu…

Ah… kenapa rasanya nyata sekali ya. Orihime seperti benar-benar tengah memijat leherku, bahkan wangi parfumnya sampai tercium di cuping hidungku.

"Hai, Ichigo…"

"Ah, kau nyata sekali Orihime…" gumamku yang merasakan bagian lain dari diriku terbangun.

"Seharusnya kau buka matamu, Ichigo."

Aku sontak membuka mata, aku hampir terjungkal dari kursiku saat mendapati perempuan dalam imajinasiku berdiri tepat di sampingku, tersenyum begitu manis.

"O-Orihime?" gagapku seraya melihat sekeliling, ini masih di kedai ramen, Renji dan Rukia masih ada, tapi kenapa ada Orihime? Apa aku sedang berkhayal?

"Iya, ini aku. Apa kabar?" Orihime menangkup pipiku, dan menarikku hingga menghadap padanya, aku masih belum sadar saat Orihime memiringkan wajahnya hendak menciumku, mataku terbelalak lebar saat melihat wajah dingin Rukia dari balik bahu Orihime, dia menyeringai samar mencemoohku.

Sial!

"Tunggu!" tanganku sontak terangkat dan mendorong Orihime hingga menjauh dariku. Dia mengerang penuh kecewa atas penolakanku, tapi aku masih belum terima semua kenyataan ini. Kenapa...

.

.

.

To Be Continued

.

.


Thanks for your support Guys. I'm glad that my fiction be accepted.

Thanks for all the reviews.

And I'm gonna update again on June 25th, 2012


This is part of chapter 3 :

"LEPASKAN AKU, BAJINGAN!" umpatnya, memukulku tanpa henti.

"Kau sebut apa barusan?" ulangku yang tidak segan-segan melemparnya di ruang tengah, dia sampai tersungkur dengan wajah hampir mencium lantai.

"BAJINGAN! KAU BAJINGAN!" pekiknya lagi.

"KALAU KAU SEBUT AKU BAJINGAN, KAU SEBUT APA MEREKA?" balasku dengan suara yang tak kalah kerasnya, aku marah sekali melihatnya yang begitu terluka dan tidak pernah melihat kenyataan di depan matanya. Napasku memburu pembuluh darahku, membakar tiap sel dalam tubuhku. Rukia menatapku penuh kemarahan, matanya menyiratkan kebencian yang amat sangat.

"Kau marah?" Aku berlutut dan memberi tatapan mencemoohku padanya, aku menghinanya terang-terangan. "Marahlah pada mereka yang telah berbuat seperti ini padamu! Marah pada ketidakberdayaanmu untuk melawan! Marah dan bangun dari keterpurukanmu. Kau mau biarkan mereka menertawakanmu yang melihatmu menyedihkan seperti ini, melihatmu yang menangis dan terus meminta mati. Cih! Kau cuma membuatku muak! Kau pikir orang akan kasihan hanya dengan melihatmu yang seperti ini?" aku mendorong kepalanya kuat-kuat ke belakang, dia hampir terjatuh lagi, tapi kali ini ia bisa menahan diri, matanya memberiku kemarahan yang lebih mengerikan begitu dia berhasil mempertahankan posisinya.

.

.


So See You Guys On The Next Chapter

Xx - - Brainless - - xX

June 15th, 2012