Tittle : JOIND HANDS
Pairing : NaruGaa (Naruto x Gaara)
Slight
NejiSasu (Neji x Sasuke)
ItaKyuu (Itachi x Kyuubi)
Rate : T
Genre : Romance , Friendship , Drama
WARNING:YAOI,BL,OOC,TYPO,ALAY,GJ,ALURLEMOTZZ,DLL.
HANCUR LEBUR MENJADI SATU!
JANGAN DIBACA, MEMBUAT ANDA MUAL NGIDAM DAN MELAHIRKAN-''(?)
BUAT ANDA YANG INGIN FLAME, SAYA KASIH CIUM :*
JIKA INGIN MEMBACA, JANGAN MEMAKAI KACA MATA 3 DIMENSI ! (gak nyambung deh)
.
.
.
At Konoha High School
BRAKK
"OHAYOU MINNAA!" pintu ruang kelas terbuka dengan kasar dan menampilkan sesosok pemuda berambut pirang yang terlewat semangat hingga membuat semua penghuni kelas tersebut merasa sebal karena kaget.
"Ohayou Naruto, berlebihan seperti biasa eh?" sapa pemuda manis berambut coklat yang memiliki tattoo segitiga terbalik bewarna merah di masing-masing pipinya, ia menghampiri Naruto yang masih berdiri di depan pintu dan merangkul leher Naruto yang sedikit jauh lebih tinggi darinya.
"Hahahah, aku sedang menikmati hidupku Kiba" ujar Naruto sembari mengusap gemas rambut coklat milik Kiba.
"EHEM! Cepat kemari jika kau tak ingin ku hukum, Puppy-chan" deheman keras dan ancaman dari suara seorang pemuda malas di belakang Kiba dan Naruto sontak membuat Kiba harus menjauhi Naruto dan berlari menerjang pemuda itu.
"Shikamaruuu! Aku sudah menyangka kau akan terlambat menjemputku, untung saja Hana-nee mau mengantarkan aku" ucap Kiba sebal sembari memasang pose yang membuat Shikamaru harus mencuri morning kissnya dengan cepat.
"Gomen" jawab Shikamaru singkat dan menggiring Kiba ke tempat duduk mereka.
Naruto hanya tersenyum geli melihat tingkah teman-temannya, rasanya ia benar-benar iri melihat sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta.
'Apa bisa aku seperti mereka? Aku harap, aku tak cepat tua mengingat banyak masalah yang harus ku selesaikan' batin Naruto sembari menghembuskan nafas lelah.
"Dobe, sampai kapan kau akan berdiri di situ?" Sasuke yang sempat melihat ekspresi Naruto yang menyedihkan memutuskan untuk menyapa sahabatnya.
"Eh, Teme?" Naruto pun berjalan ke arah bangkunya tepat berada di belakang bangku Sasuke.
"Oi Kiba, cepat kembali ketempatmu. Kau bisa bermanja-manja lagi dengan Shikamaru nanti, 5 menit lagi bel masuk akan berbunyi" usirnya pada Kiba dengan halus.
"Eh, Naruto. Mmm, bisakah kita tukar tempat duduk? Aku sudah tak tahan duduk dengan orang itu, auranya gelap sekali. Pleaseee!" Puppy eyes no jutsu di lancarkan oleh Kiba berharap agar Naruto mau bertukar tempat duduk dengannya yang sebenarnya ingin berduaan dengan rusa kesayangannya.
"Hhhh! Baiklah, tapi kau harus mentraktirku ramen saat istirahat nanti. Deal?" sahut Naruto dengan helaian nafas, lagipula ia ingin menghemat uangnya juga.
"Deal" Kiba dan Naruto pun berjabat tangan dan tak lama terlepas.
"Oi Dobe, jangan lupa untuk memberitahu dia apa yang sudah kita bicarakan kemarin malam saat di rumah sakit" Sasuke mengingatkan Naruto sebelum pergi ke tempat duduk barunya.
"Hm? Hehehe, serahkan dia padaku" ucap Naruto sembari menepuk dada bidangnya dengan sombong.
"Dalam hitungan ke tiga, cepat kembali ke tempat duduk kalian masing-masing?" yah, suara itu siapa lagi kalau bukan sang Kaichou-sama yang suka memerintah seenak ud*lnya.
"Satu" para murid termasuk Naruto mengalihkan pandangannya ke asal suara tersebut.
"Dua" murid-murid pun berlarian agar cepat duduk di bangku mereka masing-masing, tapi tidak dengan Naruto yang masih terpaku pada sosok berambut merah di depan pintu kelasnya. Entah kenapa Naruto merasa sosok berambut merah itu sangat menawan di pagi yang cerah ini.
"Tiga" kelas pun menjadi hening, murid-murid pun sudah rapi di bangku mereka. Tatapan mereka hanya tertuju pada satu pemuda yang masih setia pada tempatnya tanpa takut sama sekali. Benar-benar cari mati, begitu yang di pikirkan oleh para murid.
Iris jade milik Gaara pun akhirnya menatap tubuh tegap Naruto yang masih berdiri bak patung Yunani, sebenarnya ia merasa risih dengan tatapan Naruto yang tak lepas darinya sedari tadi. Tapi ia lebih risih lagi saat melihat penampilan Naruto seperti anak berandalan tak tahu aturan, Almamater yang tak di kancingkan, kemeja putih yang di keluarkan, dasi dan sabuk yang terpasang tak rapi di tempatnya.
Gaara menghela nafas lelah, dengan langkah pasti ia berjalan ke arah Naruto yang tak bergerak sedikit pun dari tempatnya. Mereka saling tatap saat Gaara sudah berjarak hanya beberapa meter di depan Naruto.
"Uzumaki-san, belajarlah untuk selalu berpakaian rapi. Letakkan tasmu, cepat ikuti aku" Gaara yang ingin berjalan ke luar kelas menghentikan langkahnya saat tak ada tanggapan apapun dari Naruto.
"Uzumaki-san?" tegurnya pada Naruto.
"Eh? I-iya" Naruto pun dengan cepat melempar tasnya ke arah Kiba, membuat Kiba reflek menangkap tas tersebut.
Gaara pun kembali berjalan keluar kelas di ikuti Naruto di belakangnya, meninggalkan tanda tanya seluruh murid di kelas. Kemana perginya peran Tom and Jerry? Tidak biasanya Gaara dan Naruto tidak beradu cekcok seperti sebelum-sebelumnya. Sungguh keajaiban dunia bagi para murid, itu yang berpikiran leb4y saja.
'Shitt! Kenapa aku bisa seperti orang bodoh begini di dekat Gaara? Tidak mungkin karena aksi ciuman itu kan? Padahal sebelumnya juga aku pernah menciumnya, tapi malam itu aku merasa ciumanku padanya begitu berbeda'
Bruk
"Ouch!" karena terlalu sibuk melamun, Naruto pun sampai tak tahu jika Gaara menghentikan langkahnya.
"Hei, kenapa kau berhenti tiba-tiba?" ujar Naruto sembari meringis mengelus dagunya yang bertabrakan dengan kepala Gaara mengingat ia sedikit lebih tinggi dari Gaara.
Tak jauh berbeda dengan keadaan Gaara yang saat ini sudah memutar badannya menghadap Naruto sembari mengelus kepalanya mengingat rahang Naruto yang terlihat kokoh dan kuat, tentu saja ia tetap stay cool dengan stoic face-nya dan tak seheboh Naruto.
"Kau yang sedari tadi melamun, sekarang rapikan bajumu" Gaara mengarahkan jari telunjuknya ke arah baju Naruto yang tak di masukkan dan sabuk dengan Gasper melenceng entah kemana.
"Hm?" Naruto mengangkat sebelah alisnya, ia pun menoleh kanan kiri untuk mengecek keadaan sekitar. Tak ada seorang pun yang terlihat di lorong sekolah mengingat bel masuk sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, tak lama sebuah ide jahil muncul di otak 'dobe' milik Naruto.
'Aah, benar-benar pagi yang indah' batin Naruto sinting sembari menunjukkan seringai kecilnya.
"Ne Kaichou-sama, bisa kau ajari aku cara memakai pakaian rapi seperti yang kau maksud itu?" tanya Naruto sok polos membuat Gaara sedikit mengangkat sebelah alisnya.
"Hm? Sebenarnya apa saja yang kau pelajari selama sekolah, Uzumaki-san? Aku sangat yakin bahkan murid Sekolah Dasar pun lebih pintar darimu" sinis Gaara.
"Hehehe, kau sudah tau kan kalau aku lebih bodoh daripada murid Sekolah Dasar. Jadi,,,, kenapa tidak segera kau rapikan bajuku hm? Aku tak menanggung jika nanti kita terlambat masuk kelas" ujar Naruto sembari mengangkat bahunya cuek membuat Gaara menghela nafasnya seakan percuma berdebat dengan pemuda berambut kuning yang menurutnya sangat idiot ini.
Dengan malas Gaara menarik sabuk Naruto yang masih terpasang longgar bermaksud untuk membuat Naruto mendekat karena jarak mereka sebelumnya membuat Gaara tak bisa merapikan baju Naruto, karena ia juga malas dan sebenarnya tak berminat untuk menuruti kemauan bodoh Naruto. Gaara pun mulai membuka sabuk dan membuka kancing celana milik Naruto.
"Cepat masukan sendiri bajumu, dan jangan membantah" perintah Gaara, Naruto pun menurut.
Hingga tiba saat Gaara harus membenarkan letak dasi Naruto membuat ia menarik sedikit dasi tersebut agar Naruto lebih dekat dengannya bermaksud menyamakan tinggi Naruto dengannya agar tak kesulitan untuk membenarkan dasi tersebut.
Naruto yang sedikit tersentak kaget dengan tarikan Gaara hanya dapat tersenyum geli dan sedikit berdehem untuk merilekskan tubuh dan wajahnya yang tiba-tiba memanas. Perasaannya yang ia rasakan sebelumnya bersama Gaara itu muncul kembali, Naruto merasakan nafas hangat Gaara yang menerpa wajahnya. Entah kenapa di pagi hari ini ia merasa seluruh beban di pundaknya sedikit terangkat hanya berdekatan dengan Gaara seperti ini. Ia tak peduli perasaan seperti apa ini, ia hanya merasa nyaman bersama Gaara untuk saat ini.
"Ne Gaara, boleh ku tanya sesuatu?" Naruto memulai percakapan sembari mensejajarkan wajahnya dengan wajah Gaara.
"Hn" gumam Gaara yang masih sibuk memasang dasi Naruto.
"Apa itu artinya iya?"
"Hn"
"Baiklah, aku akan memulai bertanya kalau begitu"
"….."
"Kenapa kau sangat anti dengan hal yang tabu? Emm,,,, yah seperti gay?"
"Entahlah, pertanyaanmu seperti anak kecil" sahut Gaara cuek.
"Hahaha" Naruto hanya tertawa kecil sembari mengusap pucul kepala Gaara dengan gemas membuat Gaara harus mengernyit tak nyaman.
"Ck! Apa yang kau lakukan, Idiot?!" Gaara berusaha melepaskan tangan Naruto dan berniat untuk menjitak kepala Naruto tapi sayang karena Naruto segera menghindarinya dengan berlari menuju kelas mereka sembari tertawa keras mengejek Gaara.
"Dasar Rambut Durian, dia membuat jantungku berlari lagi. Sial!" rutuk Gaara sembari memegangi dadanya. Ia pun segera berlari menyusul Naruto kembali ke kelas.
Skip Time
'Benar-benar hari yang indah, hehehe' batin Naruto yang sedari tadi tak memperhatikan pelajaran karena selalu memperhatikan Gaara yang sekarang duduk sebangku dengannya. Bahkan ia rela di anggap gila oleh teman-temannya karena selalu cengar-cengir tak jelas dan itu membuat Gaara selalu risih, bahkan Gaara sudah lelah menjitak kepala pirang Naruto yang sedari tadi selalu memperhatikannya.
'Sial, awas kau Kiba!' batin Gaara yang merutuki Kiba,karenanya ia harus duduk dengan makhluk astral berambut kuning menyebalkan di suluruh dunia ini, menurutnya.
TEEETTT
Bel istirah pun berbunyi, Gaara merapikan semua peralatannya dan berniat pergi ke Ruang Osis untuk makan siang karena tempat itu sangat sepi jika jam istirahat mengingat ia suka dengan ketenangan.
Tapi na'as, sesuatu yang menyebalkan harus menahannya untuk pergi.
"Gaara, ada yang ingin ku bicarakan denganmu. Bisa kau ikut aku dan Sasuke ke atas atap sekolah?" kata Naruto yang sudah berdiri dengan sosok Sasuke di sebelahnya.
"Hn, aku harap itu sangat penting" sahut Gaara.
"Hahah, maafkan aku jika merepotkanmu. Kita bisa memakan bento kita di sana, sambil kita berbicara. Iya kan, Teme?" Naruto sedikit tak enak juga, ia pun meminta bantuan Sasuke untuk mencairkan suasana yang sedikit tegang ini.
"Hn" sahut Sasuke cuek yang membuat Naruto merutuki nasibnya.
Skip Time
Di Atap Sekolah.
Menurut Sasuke, bicara saat makan adalah sesuatu yang tak sopan apalagi ia adalah seorang Uchiha. Begitu pun juga Gaara yang beranggapan sama meskipun tidak dengan kata yang terucap.
"Setelah pulang kerja nanti aku akan mampir ke rumahmu untuk bicara pada Paman dan Bibi tentang rencana keluarga Uchiha, aku harap tidak merepotkan kalian" jelas Naruto pada Gaara yang sedang menikmati bentonya.
"Itu terlalu merepotkan, menurutku. Lebih baik kau minta kedua orang tuaku langsung menemui keluarga Uchiha dan biarkan mereka berunding sendiri sampai rencana benar-benar tersusun rapi. Bagaimana menurutmu, Uchiha Sasuke?" ungkap Gaara.
"Hn, itu lebih baik dan tidak merepotkan" sahut Sasuke cuek dan kembali berkonsentrasi pada bentonya.
"Hahahah, aku beruntung sekali kalian mau membantuku. Aku janji, jika semua ini selesai aku tak akan menganggu kalian lagi. Dan aku juga akan meminta maaf pada keluarga kalian karena sudah terlalu merepotkan"
Mendengar penuturan Naruto, Sasuke menghentikan makannya begitu juga dengan Gaara.
"Jangan berfikir aneh-aneh, Dobe. Kapasitas otakmu tak akan muat menampung kata-kata seperti itu, kau memang merepotkan. Jadi menurutku itu wajar, kau bisa bertanya pada Panda itu?" watados Sasuke sembari menunjuk Gaara dengan sumpitnya.
Belum sempat Gaara menambahkan perkataan Sasuke, mereka mendengar HP milik Naruto berbunyi. Dengan kilat Naruto mengangkat telepon tersebut setelah mengetahui Kyuubi lah yang memanggil.
"Kyuu?"
"Nii-chan, Dokter bilang Chiyo-baa harus segera di operasi. Jika tidak, mereka takut Chiyo-baa tidak akan bertahan lebih lama lagi"
Naruto hanya bisa diam setelah mendengar apa yang Kyuubi katakan, ia sedang berfikir apa yang harus ia lakukan? Tak mungkin jika ia harus merepotkan keluarga Uchiha lagi, karena uang yang ia kumpulkan masih belum cukup untuk biaya operasi neneknya.
"Naru-nii? Kau mendengarkanku?"
"Ah, iya. Baiklah aku akan segera kesana sekarang, kau tenanglah"
"Naruto, ini aku Itachi. Kali ini biarkan aku membantumu, Naruto"
Naruto sedikit tersentak setelah tau bahwa Hp milik Kyuubi sudah berganti tangan. Naruto berusaha untuk tenang meskipun wajahnya terlihat sekali jika ia sedang di landa kebingungan sampai wajahnya terlihat merah kentara jika ia menahan tangis. Dan itu tak luput dari penglihatan Gaara dan Sasuke yang sedari tadi memperhatikan Naruto.
"Ti-tidak Itachi, nanti aku akan memberikan uang muka pada pihak Rumah Sakit. Kau tak perlu khawatir, tolong kau jagalah Kyuubi"
Dengan cepat ia mematikan telepon tersebut dan bersiap untuk meninggalkan tempatnya tapi lagi-lagi Gaara menahannya untuk pergi.
"Tolonglah Gaara!" Naruto mencoba memohon pada Gaara, ia tak sadar jika sudut matanya sudah ada setitik air yang siap untuk jatuh.
"Biarkan kami pergi, Sabaku. Aku ikut denganmu, Dobe" sahut Sasuke yang sedari tadi hanya diam.
"Aku tak akan menahan kalian, aku hanya penasaran dengan apa yang kau lakukan setiap meninggalkan sekolah. Aku ikut, kita menggunakan mobilku" sahut Gaara dan mereka bertiga pun berlari sepakat bahwa Gaara yang akan meminta izin langsung kepada Kepala Sekolah sedangkan Sasuke dan Naruto menuju kelas untuk mengambil tas milik mereka dan milik Gaara juga.
Skip Time
Gaara POV
Perlu aku tekankan! . yang sangat tampan mempunyai penggemar di seluruh jagat raya ini harus berubah profesi menjadi sopir dengan dua ekor penumpang, yang berambut kuning jabrik anak dari Saudara/ Saudari Marsupilaknat (Naruto) dan yang satu lagi berambut hitam adalah anak dari Saudara/Saudari Donald Bobrok (Sasuke). Oke, lupakan!
Saat ini aku sedang menunggangi Lamborgini merah kesayanganku, dengan dua orang penumpang yang sedang duduk di belakang kursi penumpang dan tentu saja aku yang menyetir karena aku tak mau mobil kesayanganku di sentuh oleh orang lain. Entah kenapa suasana disini sangat suram, Naruto tak biasanya diam dan Sasuke tak biasanya murung. Aku hanya sedikit tau tentang musibah yang di alami oleh Naruto, tapi aku tak menyangka Sasuke yang biasanya mempunyai aura sangat dingin bisa ikut Galau seperti ini, dan jika di ingat-ingat lagi ia suka sekali ikut campur semua urusan Naruto.
"Gaara, bisa kita mampir dulu ke tempat kerjaku? Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Hanya 500 meter dari sini, tinggal lurus saja" kata Naruto tiba-tiba.
"Hn, kau kerja dimana?" tanyaku.
Bukannya aku penasaran, tapi aku hanya ingin tau. Apa bedanya? Aku tak peduli.
"Di Kedai Ramen Ichiraku, jika kau melihatnya langsung saja berhenti di depannya. Aku hanya sebentar saja"
"Hn, aku sudah melihatnya"
Aku pun memarkirkan mobilku di jejeran mobil lainnya, dari kaca spion ku lihat Naruto terburu-buru sekali. Tunggu dulu,,, ada apa dengan Sasuke? Raut wajahnya sendu sekali, sangat tak cocok dengannya. Apalagi tatapan matanya tak lepas dari Naruto, tak mungkin kan kalau dia menyukai Naruto sedangkan dia sudah mempunyai Neji?
Ya ampun, kenapa aku jadi Kepo begini sih? Sebenarnya aku sedikit tak mengerti tentang keadaan ini. Masa lalu Naruto, tentang Orochimaru, tentang keluarga Uchiha dan keluargaku, dan juga masalah yang sekarang. Hmmm, aku tanyakan saja pada Uchiha bungsu. Aku harap dia bisa menjawab semuanya .
"Uchiha" tegurku.
"Hn" akhirnya dia menatapku yang sedari tadi memperhatikan pintu masuk kedai, dan aku tau dia menanti Naruto.
"Bisa kau jelaskan semua ini? Aku hanya seperti orang bodoh di tengah-tengah kalian, aku seperti merasa di butuhkan tapi aku tak tau apa yang harus aku lakukan"
Sasuke mendengus lalu berkata "kupikir kau jenius, tak ku sangka kau sama bodohnya dengan Dobe!"
KURANG AJAR! Jika saja situasinya tidak kepepet seperti ini, pasti sudah ku gunduli rambut pantat bebeknya. Tak ada yang bisa ku lakukan selain hanya memasang wajah datar andalanku, meskipun sakitnya tuh "disini".
GAARA POV END
"Ayah Naruto adalah Pengusaha nomor satu di Jepang, begitu juga dengan Ibu Naruto yang berstatus sebagai Putri tunggal Pemimpin Yakuza yang paling ditakuti di dunia Bawah Tanah. Sejak Sekolah Dasar, aku bertemu Naruto dan kami berteman begitu juga dengan orang tua kami. Dan yang ku tau, Ibumu adalah sahabat Ibu Naruto saat SMA dan Ayahmu adalah orang kepercayaan Minato-sama atau kita sebut Ayah Naruto. Paman Minato yang saat itu tau bahwa kau beserta saudara-saudaramu adalah anak dari sahabat istrinya yang menangis karena ibumu tak bisa membelikan seteguk susu memutuskan untuk membantu kalian, yaitu dengan membangun anak cabang Namikaze Corp. Paman Minato mempercayakan anak cabang itu pada Ayahmu, setelah berjalan beberapa bulan Ayahmu sudah berhasil menjalankan perusahaan dengan sangat baik dan membuat Paman Minato menyerahkan seluruhnya kepada ayahmu. Dan saat itulah Orochimaru entah datang dari mana mendatangi perusahaan tersebut dengan alasan untuk melamar pekerjaan. Entah bagaimana jalan ceritanya Ayahmu terpengaruh oleh bujukan Orochimaru yang secara tidak langsung membantunya untuk menghancurkan Namikaze-Uzumaki. Kehidupan keluargamu dulu sangatlah miskin bahkan untuk membeli satu butir beras sebelum Ibumu bertemu dengan Bibi Kushina." Sasuke menghakhiri cerita panjangnya dengan emosi yang meluap-luap meskipun ia masih memasang wajah datarnya.
Gaara menekuk kedua alisnya tanda ia sedang berfikir. Saat Gaara ingin bertanya sesuatu kepada Sasuke, tiba-tiba mereka di kagetkan oleh Naruto yang terburu-buru membuka pintu mobil milik Gaara dan segera duduk di sebelah Sasuke.
"Maaf menunggu lama, aku harus berdebat dulu dengan Paman Teuchi karena dia sedikit mengkhawatirkanku yang tiba-tiba mengambil uang gaji sebelum waktunya."
"Uang gaji?" tanya Gaara heran.
"Hum, untuk uang muka operasi Nenekku" sahut Naruto.
"Sebaiknya kita harus cepat" sela Sasuke yang membuat Gaara mengangguk dan menyalakan mesinnya.
'Jadi begitu, aku tak tau cerita itu benar atau tidak. Tapi, aku akan berusaha sebisaku untuk membantumu Naruto dan—maaf' batin Gaara dan melanjutkan perjalanan menuju Rumah Sakit Konoha.
Sesampainya di Rumah Sakit Konoha, Naruto pun memutuskan untuk langsung menuju kasir memenuhi uang muka Operasi sedangkan Sasuke dan Gaara memutuskan untuk langsung menemui Itachi yang saat ini berada di Kamar Nenek Chiyo menemani Kyuubi.
Drap.. Drap..
Itachi dan Kyuubi langsung menoleh ke asal suara sepatu yang menggema di lorong Rumah sakit, mereka melihat Sasuke dan pemuda berambut merah yang mereka tidak ketahui siapa.
"Sasuke" sapa Itachi.
"Aniki, Bagaimana kondisi Chiyo-baa?" tanya Sasuke sembari mengatur nafasnya.
"Di dalam ruangan itu sedang dalam proses operasi, aku sudah melunasi pembayarannya. Dimana Naruto?" Mendengar pertanyaan Itachi tentang Naruto, Kyuubi pun mendekati Itachi dan turut mendengarkan jawaban Sasuke.
"Dia bilang akan mengurus pembayarannya, dan aku yakin Naruto akan mengomel padamu setelah ini"
"Aku akan mengurusnya nanti, aku hanya takut jika terlambat Chiyo-baa tak akan bisa di sembuhkan. Kau tau maksudku kan? Lagipula Kyuubi yang memintanya" Itachi pun mengusap pucuk kepala Kyuubi dengan pandangan kasihan.
Sasuke hanya bisa membuang nafas dan mengusap rambut pantat ayamnya dengan kasar.
"Jadi Sasuke, apakah dia temanmu?" tanya Itachi tiba-tiba.
"Apa?" Sasuke bingung dengan pertanyaan Itachi, terlihat dari salah satu alisnya yang terangkat.
Mereka terdiam… Sedangkan mata obsidian milik Itachi dan mata rubby milik Kyuubi melihat pemuda berambut merah yang berdiri di belakang Sasuke yang sedari tadi hanya diam dengan pandangan yang sangat datar.
"Astaga! Gaara, gomen" Sasuke pun menoleh ke belakang, baru ingat jika ia juga membawa anak panda bersamanya.
"Ck! Dasar anak ayam bodoh!" gumam Kyuubi dengan memutar kedua bola matanya.
"Dia Bungsu Sabaku yang kita bicarakan tadi malam, Aniki" Sasuke kembali menatap Itachi.
"Uchiha Itachi, kakak Sasuke" Itachi menyodorkan tangan kanannya bermaksud mengajak Gaara untuk berkenalan.
"Sabaku no Gaara" Sahut Gaara dengan membalas jabatan tangan Itachi di sertai dengan senyum yang sangat tipis di wajahnya.
"Ah, dia Namikaze-Uzumaki Kyuubi. Adik laki-laki Naruto" Itachi juga mengenalkan Kyuubi.
"Hn" sahut Gaara cuek dengan mata jade-nya yang mengarah pada Kyuubi.
"Jadi kau Sabaku no Gaara yang membuat akar permasalahan keluargaku hancur? Sayangnya Naruto-nii selalu berfikir bahwa Sabaku lah yang menyelamatkan kami, padahal dia tau kalian—para Sabaku lah yang menghancurkan kami" ucap Kyuubi dengan sangat tajam dan membuat Itachi membelalakkan matanya, sedangkan Sasuke hanya memasang wajah datar.
"Kyuubi, hentikan! Apa yang kau katakan?" Itachi berusaha melembutkan nada suaranya untuk menegur Kyuubi meskipun gagal.
Kyuubi hanya mendengus dengan wajah datar mengarah pada Gaara, lalu pergi meninggalkan tempatnya dan duduk di kursi tunggu yang tersedia di lorong rumah sakit.
"Gaara-kun, maaf atas ucapan Kyuubi. Terima kasih sudah menemani Sasuke dan Naruto kemari" Itachi meminta maaf pada Gaara, merasa tak enak dengan ucapan Kyuubi tadi.
"Hn, aku tidak mempermasalahkannya Itachi-san. Sasuke sudah menceritakannya padaku, begitu juga Naruto. Mungkin setelah ini aku akan meminta penjelasannya pada kedua orang tuaku, aku permisi" Gaara membungkukkan badannya pada Itachi untuk berpamitan bahwa ia akan pulang.
Gaara berjalan di lorong rumah sakit dengan masih menundukkan kepalanya, poninya yang sedikit panjang menutupi kedua matanya. Ia ingin menangis setelah mendengar ucapan Kyuubi tadi, benar-benar membuat hatinya sakit.
'Kenapa? Kenapa Naruto tidak mengatakan sebenarnya saat itu? Kenapa malah dia bercerita bahwa dia yang memiliki hutang budi pada orang tuaku? Apa yang harus ku lakukan? Naruto no BAKA!' batin Gaara.
Brukk..
Karena melamun dan menatap ke bawah, Gaara tak sadar jika bertabrakan dengan Naruto yang kebetulan sedang terburu-buru ingin segera menceramahi Itachi dan tidak tau jika Gaara lah yang berpapasan dengannya.
Gaara mendongak berniat melihat siapa yang bertabrakan dengannya lalu minta maaf. Alangkah kesalnya dia karena pemuda berambut durian lah yang ia tabrak, seketika itu juga amarahnya langsung meledak dan wajahnya berubah menjadi seperti seekor panda yang sedang mangamuk.
Gaara pun melayangkan bogem tangannya ke arah wajah Naruto dan berhasil membuat hidung Naruto mengeluarkan darah dan terjatuh lalu memegang hidungnya yang terasa sangat sakit.
"Sialan kau, Naruto!" geram Gaara sembari mendudukkan dirinya di atas perut Naruto dan mencengkram kerah baju Naruto lalu memukul Naruto lagi dan lagi.
Naruto yang tak tau apa yang membuat Gaara menjadi kalap seperti ini hanya bisa berusaha menangkap kedua tangan Gaara yang terus menerus berusaha memukulnya.
"Gaara! Gaara! Hei, tenanglah! Apa yang terjadi? Ada apa denganmu? Hei, ini sakit!" Kata-kata itu berulang kali Naruto katakan tetapi tak ada respon apapun dari Gaara yang masih tetap berusaha memukul Naruto.
"Hiks,, hiks,, hiks,," Perlahan-lahan Gaara berhenti dan Naruto benar-benar kaget, merasa tak percaya. Sabaku no Gaara yang selama ini sangat dingin dan sok keren itu menangis, dan itu di hadapannya.
Gaara berusaha menyembunyikan wajahnya di antara kedua lengannya, ia merasa seperti orang bodoh. Yah, selalu seperti ini jika ia berdekatan dengan Naruto. Ia selalu tidak bisa mengendalikan emosinya saat bersama Naruto, bahkan hanya memikirkan Naruto saja ia selalu merasa aneh. Entah sejak kapan Gaara seperti ini pada Naruto, Gaara tak tau.
Naruto yang sudah sadar dari keterkejutannya hanya bisa menghembuskan nafas, ia bingung. Dadanya berdebar, seluruh tubuhnya bergetar, bahkan jantungnya ingin segera lepas dari cangkangnya, juga darahnya yang berdesir tak karuan mengalir kemana-mana. Itu memang sebuah efek jika kau berdekatan dengan orang yang kau sukai kan? Apalagi dengan posisi yang sedikit intim, seperti yang Naruto alami saat ini. Ia bahkan melupakan rasa sakit pada wajahnya yang sudah banyak lebam dimana-mana dan darah mengalir dari hidungnya akibat pukulan Gaara yang tak sempat di hindarinya.
"Hei, ada apa?" Naruto melembutkan suaranya dan memaksa untuk melepaskan lengan Gaara.
Gaara masih menahan lengannya, ia malu jika Naruto melihatnya dengan keadaan yang sangat memalukan begini. Gaara juga masih belum bisa menghentikan air matanya, ia seperti merasa bersalah pada Naruto.
"Hei Gaara, ayolah katakan padaku ada apa? Jangan seperti ini" Naruto beranjak duduk membuat Gaara yang semula duduk di atas perutnya terjatuh duduk ke pangkuannya. Sedikit memaksa Naruto pun berhasil melepaskan lengan Gaara dan mengangkat dagu Gaara.
Naruto bisa melihat, mata Gaara yang sembap dan membengkak membuat mata pandanya yang bulat itu menjadi sangat sipit, lalu bibir merahnya yang semakin merah, air mata yang masih mengalir di mata panda yang sudah sipit itu, pipinya juga memerah dan terlihat semakin chubby saja. Entah kenapa pikiran dewasa Naruto mulai menyerang dan setengahnya ia benar-benar sangat terkejut alias tak percaya Gaara benar-benar berubah 1.999% menjadi seekor panda yang ingin diperkaos (?)
"Ga-ga-gaara" Naruto hanya bisa menelan ludahnya sendiri, sebenarnya ia ingin menelan ludah Gaara saja. Tapi,,,,,,, ini fanfict Rate: T (bercanda^^)
"Kenapa kau berbohong padaku Naruto? Kenapa kau tidak menceritakan kebenarannya padaku? Maafkan aku, sungguh aku tidak tau apa-apa." Dengan masih sesenggukan, Gaara mencoba menjelaskan pada Naruto. Ia pasrah dengan apa yang ia lakukan, pikirannya sudah terpecah dan otaknya tak bisa ia kendalikan.
Naruto yang mendengar perkataan Gaara, hanya bisa heran. Ia tak tau apa yang Gaara katakan tadi, berbohong apa? Cerita kebenaran apa? Minta maaf padanya untuk apa? Bukankah Gaara bilang tak tau apa-apa? Jadi Naruto bingung kan?
"Kenapa kau bilang bahwa Ayahku menyelamatkanmu, padahal Ayahku yang menghancurkan keluargamu. Hiks,, hiks.."
Naruto sempat tercengang dengan apa yang di katakan Gaara, jadi itu yang Gaara maksudkan.
'Pasti ini pekerjaan si Teme , awas saja dia nanti. Kakak dan adik sama-sama menyebalkan!' batin Naruto yang sudah merasa bahwa Sasuke menceritakan kejadian selengkapnya kepada Gaara.
"Aku tidak berbohong padamu, memang waktu itu keluarga Sabaku lah yang menyelamatkanku dan adikku" Naruto mencoba membujuk agar Gaara berhenti menangis.
"Kau masih berbohong padaku, Naruto" kata Gaara sangsi.
"Hhh! Apa Sasuke yang sudah bercerita tidak-tidak padamu?" tanya Naruto sedikit ketus.
Gaara mengangguk lalu berkata "Aku juga bertemu adikmu dan dia langsung membenciku."
Naruto tak kaget, ia memang benar-benar tau bagaimana watak Kyuubi yang terkenal kesadisannya. Yah, Naruto sangat bersyukur karena itu tak berlaku untuk dirinya dan Chiyo-baa.
"Jadi Kyuubi? Dia memang seperti itu. Tak usah kau dengarkan, Kyuubi itu pedas mulutnya tapi manis hatinya. Jadi tidak perlu khawatir dan kaget jika kau bertemu dengannya lagi"
Melihat Gaara yang hanya diam membuat Naruto menghela nafas bingung, ia masih syok melihat Gaara jadi seperti ini. Siapa yang patut ia salahkan atas peristiwa langkah ini?
"Baiklah, sampai kapan kau akan seperti ini? Kau berat, tau?! Cepat berdiri" ujar Naruto yang ingin mencairkan suasana. Dan dengan berat hati, Naruto harus merelakan berdiri dari pangkuannya.
Mereka pun terdiam dan saling mengalihkan perhatian, dan suasana yang canggung sangat tidak disukai Naruto.
"Hmm, apa kau lapar?" tanya Naruto kikuk.
"Hn?"
"Ah, itu.. Ah ya, tadi kau tak sempat menghabiskan bentomu kan? Jadi, aku akan mentraktirmu makan siang. Yah, anggap saja sebagai rasa terimakasihku karena sudah memberi tumpangan kemari" jelas Naruto yang sedikit gugup.
"….." Gaara hanya diam.
"Hei, bagaimana?" tanya Naruto.
"Terserah kau saja" Gaara pun melangkahkan kakinya cuek meninggalkan Naruto yang melongo bingung.
Saat Naruto sadar bahwa Gaara menerima ajakannya, senyum gembira pun menghias wajah tan miliknya membuatnya semakin tampan.
"Yes!" Naruto pun melompat-lompat saking senangnya dan memutuskan segera mengejar Gaara.
Naruto dan Gaara pun berjalan beriringan di bawah langit sore, mereka tak tahu perasaan hangat yg mereka rasakan. Naruto tau bahwa ia akan merasa nyaman dan tenang saat di dekat Gaara, begitu pun Gaara yang merasa aman dan terlindungi saat Naruto di dekatnya. Entahlah, mungkin Gaara sedikit merasakan adanya bahaya yang akan terjadi nanti.
.
.
.
.
.
The End kah?
Ngga masalah..
Lanjut kah..?
Dilarang protes! Hahahah..
Review, please^_^
