Yuhuuu... Author abal kembaliiiii...
#timvuk_masal *BERISIK WOY -_-#
Oke fix, langsung aja deh noh #nunjuk_bawah
Happy reading :).
.
.
®Tittle : You're Not one and Lonely Broken Angel
®Author : Ty2nNH
®Dis© : Seluruh karakter anime Naruto (Mashashi Kishimoto
®Rate : T
®Genre : Angst Romance (may be) :v
®Pairing : Entah :'v (yg penting ada Hinata Hime nya. Ok fix *^O^*)
®Warning : Typos, OOC, AU, gaje tingkat dewa, EYD tidak pada tempatnya, ancur luar binasa, menyebabkan diare perkepanjangan, mual 'n muntah, keselek tiba2, dll. :P siapkan tissue sebanyak-banyaknya karena kemungkinan besar kamu, kamu, kamu bakal meler dengan dahsyatnya :'v *PLAK abaikan.
Terinspirasi dari lagu 'Broken Angel by Arash feat Helena'
.
.
.
You're Not One And Lonely Broken Angel
Sore itu tak lagi sehangat kemarin, tak lagi menampakkan sang surya yang begitu indah memancarkan rona jingganya saat akan terbenam.
Yang ada hanyalah gumpalan kapas gelap yang enggan beranjak dari langit yang kini berubah warna menjadi abu-abu.
"Hinata, di mana kau?!" geram seorang pemuda yang tampak gusar berlari tak tentu arah, onyxnya tampak mencari seseorang di tengah keramaian.
Ia terus berlari membelah lautan manusia yang berduyun-duyun memenuhi jalanan. Wajar saja, sekarang adalah waktunya para pegawai pulang kerja, bermaksud segera sampai rumah guna melepas penat dari aktifitas di tempat kerja merupakan prioritas utama mereka saat ini. Belum lagi cuaca yang mendung membuat para pejalan kaki semakin mempercepat langkah mereka yang tak mau berbasah-basahan.
Tak menyangka pagi hari yang cerah berubah kelabu di sore harinya, layaknya suasana hati seorang gadis yang tengah dicari keberadaannya oleh si bungsu Uchiha ini.
.
.
.
Rintik-rintik cairan bening yang turun kini berganti menjadi curahan hujan yang kian menderas, membasahi gaun putih indah yang membalut tubuh gadis bersurai indigo panjang yang tengah berjalan gontai di sebuah tepi danau.
Tempat yang biasanya ramai pengunjung itu kini sepi karena hujan yang tak kunjung meng'enyahkan diri, seolah mengertikan apa yang tengah gadis bermata amethyst indah itu rasakan.
"Naruto-kun..." seolah menjadi sebuah mantera sihir, satu kata atau nama itu selalu berhasil membuat tetes-tetes bening lolos dari manik rembulan sang gadis.
Menahan sesak, bibir mungil berwarna peace miliknya terus mengucapkan nama itu seakan si empunya nama akan datang dan merengkuh tubuhnya, membebaskan dirinya dari rasa sakit bernama patah hati.
Namun semakin ia berharap, maka hanya kesakitanlah yang ia dapat. Pemuda itu, cinta pertamanya itu, Naruto-kun nya itu, tak akan pernah datang merengkuhnya. Karena ia telah memiliki gadis lain dalam rengkuhannya, pelukannya, dekapannya. Tak ada tempat untuknya, untuk Hyuga Hinata.
Dengan tatapan kosong, kaki jenjang gadis berparas ayu itu terus melangkah dalam derasnya guyuran air hujan, berharap derasnya akan mampu menyembunyikan lelehan liquid asin yang mengalir dari sepasang manik rembulan miliknya.
Begitu pedih rasanya ketika pemuda yang ia cintai membuat goresan pilu pada relung hatinya.
Cinta tulus yang hanya ia persembahkan untuk sang pemuda tak terbalaskan.
.
.
I'm so lonely broken angel
I'm so lonely listen to my heart
One and lonely broken angel
Come and save me before I fall apart :'(
.
(Broken Angel by Arash feat Helena)
.
.
Earphones yang terpasang pada telinga Hinata terus menerus melantunkan bait demi bait lagu yang mencerminkan pilu tatkala mengingat pemuda yang begitu tega mempermainkan hati lembutnya.
"Naruto-kun..." lagi dan lagi hanya kata itu yang keluar dari sang bibir, meski tau kata itu hanya akan mengundang rembulannya untuk meneteskan air mata.
"Apa salahku... hiks, hiks, tak adakah sedikit pun celah untukku di hatimu Naruto-kun".
Gadis berparas ayu itu kini kembali terisak.
...
Sementara di tempat lain.
Tak memperdulikan mereka-mereka yang mengumpat kasar karena ia tabrak, Sasuke malah semakin mempercepat laju larinya menuju suatu tempat yang ia yakini memposisikan keberadaan gadisnya. "Dasar bodoh! Tak bisakah kau berhenti melihatnya dan berpaling padaku..." gumamnya lirih mencengkram kemeja putihnya erat menahan sesak.
.
.
.
.
.
Flash back on_
"Kyaaaa... Kau tampak cantik sekali Hinata-chan..", seru gadis rambut cepol dua layaknya telinga Mickey mouse.
"Benarkah Tenten-chan?", tanya Hinata tak percaya,
"Tentu saja, lihatlah dirimu di cermin Hinata-chan, kau layaknya seorang hime," ucapnya kagum memandangi objek make overnya.
Hinata memandangi pantulan dirinya pada cermin besar kamar pengantinnya.
Tubuh calon mempelai wanita itu terbalut gaun putih panjang berbahan satin lembut tanpa lengan, mengekspos kulit bahunya yang juga putih mulus bak porselen, gaun belakangnya panjang namun terbuka di bagian depan, hanya sebatas lutut tapi cukup untuk memperlihatkan kaki jenjang indah milik sang gadis.
Rambut indigonya tersanggul cantik dengan bagian depan rambut yang sedikit di curly namun masih menyisakan poni khas gadis Hyuga ini, di tambah sebuah pita manik-manik yang melingkari sekeliling depan sanggulnya menambah kesan manis nan anggun pada diri sang gadis.
Tak lupa ia pun memakai sarung tangan panjang berenda senada dengan gaun pengantinnya.
Sebuah lengkungan manis tercipta pada bibir gadis Hyuga itu, tatkala mendapati dirinya sebentar lagi akan menjadi nyonya Namikaze, menyandang marga dari seorang pemuda yang telah berhasil mencuri hatinya sejak duduk di bangku SMA.
Ah... ia begitu bahagia...
"Sempurna", ucap Tenten menyadarkan Hinata.
"Ayo Hinata-chan, calon suamimu sudah menunggumu di altar pernikahan."
"Um" Hinata mengangguk, mengikuti sahabatnya meninggalkan kamar pengantin.
...
Sasuke termenung di balkon kamar Hinata, kamar sahabatnya dari kecil. Jemari besarnya menyeka kasar butiran bening yang dengan lancangnya keluar tanpa seizin sang pemuda Uchiha.
Apakah sekarang ia merasa menyesal? Sedikit banyak, mungkin iya. Jika saja ia menyatakan cintanya jauh sebelum Hinata menyampaikan kabar bahagianya bersama Naruto, mungkin saat ini tak akan pernah ada hari pernikahan antara gadis pujaannya dengan sahabat kuningnya tersebut.
Sasuke tersenyum miris. Mungkin lebih baik seperti ini, menyimpan perasaannya rapat-rapat dari Hinata. Bagaimana pun ia tak ingin merusak persahabatannya dengan gadis yang berhasil meluluhkan kristal es dalam hatinya itu.
Masih terngiang dalam ingatannya, Hinata terlihat begitu bahagia saat memberitahukan rencana orang tuanya dan orang tua Naruto untuk menjodohkan putra putri mereka.
Tak pernah terfikir sebelumnya dalam benak Sasuke bahwa rencana perjodohan itu benar-benar dilakukan, karena yang ia tahu, sahabatnya itu mencintai gadis lain. Dan Naruto bukanlah seorang bocah penurut yang akan patuh begitu saja jika ia dipaksa akan sesuatu yang ia sendiri tak menyukainya.
Namun, seperti kata pepatah 'penyesalan selalu datang di akhir' bukan? Lagi pula bukankah harusnya ia turut bahagia melihat gadis yang dicintainya itu kini sebentar lagi menikah dengan sang pujaan hati? Ah, tentu saja si bungsu Uchiha ini turut bahagia demi Hinata, karena baginya kebahagiaan Hinata adalah kebahagiaannya juga. Meski hatinya terasa sakit teramat sangat.
"Sasuke..." terasa seseorang menepuk pundaknya pelan.
"Sebentar lagi aniki..." balasnya masih mempertahankan pandangannya yang entah kemana itu tanpa menoleh sedikit pun pada asal suara.
"Baiklah... Tapi jangan terlalu lama, sebentar lagi acaranya dimulai".
"Hn"
Melangkahkan kakinya menjauh, kemudian menutup pintu kamar Hinata sepelan mungkin, "Ku harap kau dapat segera melupakan Hinata dengan cepat otoutou..." gumam Itachi lirih.
.
.
.
"kau siap?"
Hinata memberikan senyuman manisnya sebagai jawaban 'Iya'.
Pintu besar itu terbuka, menampakkan sesosok pemuda gagah bersurai kuning jabrik memakai setelan jas senada dengan sang gadis di ujung sana.
'Dia sangat tampan' batin Hinata.
Kakinya begitu ringan melangkah menuju kekasih yang sebentar lagi resmi menjadi suaminya, tangannya menggenggam sebuket bunga dengan penuh bahagia, senyumnya terus merekah dalam gandengan tangan sang ayahanda tercinta.
Beberapa langkah lagi ia akan berdiri di samping sang pujaan hati mengucapkan ikrar suci pernikahan.
Belum sampai langkah kaki mungilnya mendekati sang pemuda, pemuda itu menuju ke arahnya.
Hinata sangat bahagia, kekasihnya bahkan tak mau menunggunya sebentar saja, ia bahkan ingin menjemput Hinata dari sang calon mertua demi menggandengnya menuju altar, begitu benaknya.
Selangkah
2 langkah
3 langkah
.
.
.
Pemuda itu hampir melewatinya,
.
.
.
Dan kini pemuda itu benar-benar melewatinya.
"Naruto-kun?...", suara Hinata terdengar bergetar.
Posisi mereka kini saling memunggungi.
.
.
"Gomennasai..."
Hanya kata itu yang terucap dari bibir sang pemuda kemudian berlalu tanpa kata yang terucap dari bibirnya lagi.
Para undangan pun hanya terbungkam bertanya-tanya dengan apa yang terjadi dengan kedua mempelai pengantin.
Seorang pemuda yang duduk dibangku depan tamu undangan, tengah menatap tajam pada mempelai pria.
"Beraninya dia" pemuda itu hendak bangkit dari duduknya, tapi ditahan oleh tangan seseorang di sampingnya.
"Tahan amarahmu Neji" cegah pria berambut panjang diikat kebelakang yang tak lain adalah Itachi, sahabatnya.
.
.
.
"Nani?..." pandangan Hinata buram karena air mata yang seakan mengembun menggantung di pelupuk matanya, "Nani Naruto-kun?" lirih Hinata menghentikan langkah kaki pemuda bersurai kuning jabrik itu.
"Karena... aku tak pernah mencintaimu", ia kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Hinata yang masih terpaku.
"Apa yang kau lakukan bocah!" gertak Hiashi, sang ayah mempelai wanita.
Namun seolah tak mendengar apa pun, Naruto terus melanjutkan langkahnya.
Buket bunga dalam genggaman Hinata jatuh begitu saja, ia meremas gaun pengantinnya menahan sesak di dadanya, bagai di tusuk sebilah pedang tajam, tak berdarah namun begitu sakit, teramat sangat sakit.
"Naruto-kuuun...", Hinata berbalik mengejar pria yang begitu ia cintai,
Mungkin ini akan terlihat egois, namun tak akan ia biarkan pemuda itu meninggalkannya. Tak akan, dan tak akan pernah.
Sementara di barisan kursi paling belakang, seorang pemuda berambut raven berdiri mengepalkan tangannya kuat dan ikut berlari menyusul kedua mempelai pengantin.
Naruto sudah berada di luar rumah mewah kediaman Hyuga.
"Naruto-kuuunn..."
Grebh!
Hinata memeluk tubuh kekar Naruto dari belakang.
"Naruto-kun, hiks hiks, jangan pergi, ku mohon.. hiks hiks. Aku tau mungkin aku tak akan pernah mampu seperti Sakura-san. Aku pun tak keberatan jika Naruto-kun sampai saat ini masih mencintainya, karena aku pun sadar jika aku tak pantas menyamai kedudukannya apa lagi menggantikan posisinya di hatimu Naruto-kun hiks, ta-tapi setidaknya izinkan aku mencintaimu dan selalu berada di dekatmu, ku mohon.. hiks hiks". Isaknya pada punggung Naruto.
Naruto perlahan melepaskan pelukan Hinata, lalu berbalik menatap mata rembulan gadis manis di hadapannya.
"Maafkan aku Hinata, tak seharusnya aku menyakiti gadis sebaik dirimu. Harusnya aku menolak perjodohan diantara kita sejak awal, tadinya aku berfikir menerima perjodohan orang tuaku akan membuatku melupakan Sakura. Tapi kenyataannya, aku malah semakin tersiksa karenanya, dan kini aku juga menyakitimu dengan kebohonganku yang selalu berpura-pura seakan aku juga mencintaimu. Maafkan aku Hinata..." Naruto mengecup lembut kening Hinata lalu menuju mobil sport hitam yang terparkir di halaman rumah mewah itu.
Kedua orang tua Hinata dan Naruto menyaksikan percakapan menyedihkan diantara kedua calon pengantin tersebut. kemudian Kushina ibu dari Naruto mendekati Hinata, membelai puncak kepalanya lembut seolah itu permintaan maaf atas kesalahan putranya.
Kaca mobil sport hitam itu terbuka, menampakkan gadis berambut pink yang tengah tersenyum licik penuh kemenangan atas penderitaan yang dialami Hinata. Merebut yang seharusnya menjadi milik sang gadis Hyuga, membalas gadis itu yang seakan merebut Sasuke miliknya. Tak dapat dipungkiri, Sakura hanya memperalat Naruto guna menyakiti Hinata. Pada hakekatnya Sakura hanya mencintai Sasuke, tapi Sasuke mencintai Hinata, sedangkan Hinata malah mencintai Naruto, dan Naruto sendiri mencintai dirinya. Mengapa Kami-sama menghadirkan cinta yang begitu rumit?
"Naruto, jika kau lebih memilih perempuan jalang itu, maka jangan pernah kau menginjakkan kakimu lagi di rumah, kau bukan lagi bagian dari Namikaze!" teriak Kushina marah.
Namun Naruto tak menghentikan langkahnya sedikit pun, sebelum seseorang menarik pundaknya dengan paksa dan membuatnya menoleh.
BUGH!
Naruto tersungkur, darah segar mengalir dari sudut bibirnya yang robek.
Namun sedetik kemudian ia kembali berdiri, tak berniat membalas si pelaku pemukulan terhadap dirinya yang tak lain adalah sahabatnya sendiri, yakni Sasuke.
Seolah tak menghiraukan rasa nyeri pada lukanya. Naruto memasuki mobil sport itu lalu benar-benar meninggalkan kediaman Hyuga.
"Naruto-kuunnn..."
Brukh!
"Hinata, Hinataaaaa..." Sasuke segera menggendong tubuh Hinata menuju kamarnya.
...
"Enghh..." Hinata perlahan membuka matanya tersadar, "Sasuke..."
Sasuke bersyukur Hinata sudah siuman, tersenyum lembut ketika hal pertama yang ditangkap amethyst Hinata adalah dirinya. "Istirahatlah, aku akan mengambilkan air minum untukmu" Sasuke mengelus sayang surai panjang Hinata sebelum meninggalkannya.
...
"Hinata, aku membuatkan teh un..." Sasuke terkesiap, Hinata tak ada di kamarnya, "Hinataaa... Hinataaa..."
Flash back off_
.
.
.
.
.
"Hiks, hiks, aku akan selalu mencintaimu Naruto-kun, selalu dan selamanya..."
Kaki mungilnya terus melangkah hingga menyentuh dinginnya air danau.
.
.
.
Prakh!
Hinata melepaskan earphone dari telinganya, membiarkan alunan nada dari ponselnya mengisi setiap luas danau itu.
.
.
I'm so lonely, broken angel
(Aku sangat kesepian, bidadari yang terluka)
I'm so lonely, listen to my heart
(Aku sangat kesepian, dengarkanlah isi hatiku)
Man dooset daram
(Aku telah mencintaimu)
Be cheshme man gerye nade
(Jangan biarkan mataku menangis)
Na, nemitoonam
(Tidak, aku tak mampu)
Bedoone to halam bade
(Tanpamu aku gila)
I'm so lonely, broken angel
(Aku sangat kesepian, bidadari yang terluka)
I'm so lonely, listen to my heart
(Aku sangat kesepian, dengarkanlah hatiku)
One and only, broken angel
(Satu-satunya, bidadari yang terluka)
Come and save me, before I fall apart
(Datang dan selamatkanlah aku, sebelum aku hancur)
To har jaa ke bashi kenaretam
(Dimanapun kau berada, aku di sisimu)
Taa aakharesh divoonatam
(Hingga akhir waktu, aku tergila-gila padamu)
To to nemidooni ke joonami
(Kau, kau tak tahu bahwa kaulah hidupku)
Bargard pisham
(Kembalilah padaku)
I'm so lonely, broken angel
(Aku sangat kesepian, bidadari yang terluka)
I'm so lonely, listen to my heart
(Aku sangat kesepian, dengarkanlah hatiku)
One and only, broken angel
(Satu-satunya, bidadari yang terluka)
Come and save me, before I fall apart
(Datang dan selamatkanlah aku, sebelum aku hancur)
I'm so lonely, broken angel
(Aku sangat kesepian, bidadari yang terluka)
I'm so lonely, listen to my heart
(Aku sangat kesepian, dengarkanlah hatiku)
One and only, broken angel
(Satu-satunya, bidadari yang terluka)
Come and save me, before I fall apart
(Datang dan selamatkanlah aku, sebelum aku hancur)
.
(Broken Angel by Arash feat Helena)
.
.
BLAMMM !
Sasuke berlari semampu yang ia bisa tatkala melihat Hinata menjatuhkan diri ke dalam danau, tak perduli ia harus terjatuh berkali-kali karena licinnya tanah yang ia tapak karena hujan yang masih setia membasahi bumi.
"Hinataaa..."
Byuurrr
Sasuke turut menceburkan dirinya guna menyelamatkan Hinata, menarik tubuh gadis itu ke tepian, dan langsung memberikan pertolongan pertama dengan menekan dadanya untuk mengeluarkan air danau yang kemungkinan tertelan oleh gadis itu.
Di rasa tak berhasil, ia memberikan nafas buatan dengan segera. Lagi dan lagi berulang-ulang. Namun setelah berpuluh-puluh menit lamanya, tubuh Hinata masih sama sekali tak merespon, kulit putih Hinata pun semakin terlihat memucat.
"Hinata" Sasuke mengguncang tubuh Hinata pelan, "Bangunlah..." ia mengecup kening gadis itu, Hinata masih tak bereaksi.
"Gadis bodoh! Cepat bangun! Ini tidak lucu!" Sasuke kini mengguncang kasar tubuh Hinata. "Kubilang bangun!" Pemuda itu masih saja belum berhenti mengguncang tubuh Hinata meski tahu gadis itu tak akan pernah terbangun lagi.
"Hinataaaaa..." Sasuke menjerit histeris, "Jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu" ucapnya berulang-ulang sembari memeluk erat tubuh dingin gadis itu.
"Kau mau tau kenapa aku selalu memanggilmu gadis bodoh, hm?" ujarnya meletakkan dagunya pada puncak kepala Hinata, "Karena kau terus saja melihat si kuning idiot itu" Sasuke menyeka air mata yang turun begitu saja dari onyxnya, "Si idiot itu bahkan tak bisa membedakan mana yang kerikil dan berlian sepertimu hime" lanjutnya lagi semakin mempererat pelukannya, "Kau seharusnya berhenti melihatnya dan berpaling padaku" ujarnya lirih, "Kau mendengarku hime? Harusnya kau mencintaiku, KAU HARUSNYA MENCINTAIKU, AKU! HANYA AKU!" teriaknya entah pada siapa, air matanya terus mengalir semakin deras tanpa bisa ia tahan.
"Dengarkan aku baik-baik gadis bodoh..." Sasuke menjeda kalimatnya sembari meraih tubuh Hinata, "Kau tak akan pernah merasakan sakitnya sendirian..." mencoba mengangkat tubuh pucat gadis yang dicintainya, "Aku selalu bersedia terluka untukmu..." ia melangkahkan kakinya menyentuh dinginnya air danau, "Karena aku mencintaimu..." langkahnya semakin dalam memasuki genangan air, "Maka, berpalinglah..." ucapnya menggantung, ketika air sudah hampir menenggelamkan wajah ayu Hinata, "Berpalinglah padaku di kehidupan berikutnya." kini hanya terlihat air danau yang meletupkan gelembung-gelembung nafas Sasuke. Sebelum kembali tenang dengan riak-riak yang diakibatkan hujan yang masih setia menyanyikan lagu sedih untuk mereka.
The end_
