Chapter 2 :

New Student

"Uhmmm…." gumamku membuka mata perlahan-lahan. Mendapati sekitar ruangan dengan segala ke familiarannya, yang benar saja, inikan kamarku?

Jelas sangat aneh. Aku ingat betul, kemarin nyaris diculik oleh dua orang penjahat, lalu muncul seorang berjubah hitam yang misterius. Perutku ditinju sampai memuntahkan asam lambung. Terakhir meninggalkan noda merah di kemeja seragam. Pasti ibu kaget sangat, kemudian menginterogasi putrinya sendiri, menuduh yang tidak-tidak atas bukti konkret tersebut. Tidak, bukan itu penyebab bulu kudukku merinding sekarang. Siapa peduli, mau kena marah atau dibentak habis-habisan. Aku siap menanggung puluhan konsekuensi.

Melainkan karena, dia mirip dengan lelaki dalam mimpiku.

"Lucy. Apa kamu sudah bangun?" teriak ibu dari arah dapur. Aku langsung menyibak selimut kasar. Memakai sandal dan menyiapkan seragam di atas ranjang

"Su-sudah, Bu! Aku turun, ya."

"Cepatlah, nanti terlambat masuk sekolah"

Rintik shower menenangkan suasana hatiku sesaat. Air hangat mengalir turun membasahi tubuh serta rambut. Aku menggosok shampoo hingga mengeluarkan busa putih, lalu dibilas lagi sampai tidak tersisa apapun. Handuk putih membersihkan air yang menempel, barulah kemeja putih dengan blazer biru tua dikenakan, dipadu rok sebatas lutut berwarna senada. Derap langkahku terdengar ketika menuruni tangga. Ibu dan ayah telah siap setengah jam lalu, disusul olehku yang terlambat dari jam seharusnya.

"Selamat pagi, Ayah, Ibu." sapaku sambil menarik kursi. Mengambil dua potong roti tawar, hendak memoles sedikit selai stoberi menggunakan pisau plastik

"Wajahmu terlihat pucat. Ada apa?" giliran ayah yang bertanya. Bagaimana tidak, aku pulang larut malam bersimbah darah. Menceritakan kejadian kemarin, mana mungkin mereka percaya begitu saja. Orang dewasa memang begitu, selalu mendasarkan suatu hal berdasarkan kenyataan

"Ke-kemarin aku pulang jam berapa?"

"Hmm….seingat ibu jam empat sore. Kenapa terlambat satu jam, Sayang?" nada bicaranya lembut tanpa menyisipkan kemarahan. Aku heran, apa kepala beliau terbentur tembok sampai lupa? Ayah pun tidak berniat untuk memperbaiki atau menyeletuk, fokus membaca koran ditemani segelas kopi hangat

"Maaf, Bu. Aku dihukum Laxus-sensei karena tertidur di kelas."

"Jangan membuatnya marah. Lain kali tidurlah jam delapan." nasehat ibu melanjutkan kesibukannya, yakni melahap sepiring nasi berlauk telur ceplok. Aku tidak bisa makan-makanan berat, roti tawar sudah cukup guna mengganjal perut di pagi hari, hanya bagiku seorang

"Apa Ibu melihat noda darah di bajuku?"

"Maksudmu saus tomat? Kalau sedang makan harus hati-hati. Untung saja nodanya mudah dihilangkan."

Lagi-lagi berkata aneh! Aku melihat semuanya, 'dia' membelah si penculik menjadi dua bagian. Darah segar terciprat dimana-mana, termasuk mengenai seragam! Daripada ditanyai yang aneh-aneh, ku putuskan untuk berangkat ke sekolah lebih pagi, memacu kecepatan setiap kali pembunuhan gila itu terngiang-ngiang. Tanganku gemetar hebat. Pelipis bercucuran keringat dingin. Air seni pun rasanya ingin bocor, padahal sudah dikeluarkan sepuluh menit terakhir.

Aku tidak mau bertemu dengannya, apalagi ditargetkan sebagai korban ke berapa ratus ribu. Sampai….bau darah tercium sewaktu 'kami' berpapasan. Entah siapa orang itu, tetapi 'dia' melewatiku dan terus berjalan melawan arah.

Benar, hanya sekarang nyawaku terselamatkan.

Di sekolah….

SREKKK!

Semua nampak sibuk membicarakan sesuatu, begiti pula Levy-chan dan Wendy-chan. Tentu aku penasaran, langsung menghampiri mereka berdua yang terpekik kaget, menganggapku mirip hantu datang selewat. Ya, bukan maksudku untuk menakuti, lebih-lebih memberi kejutan ulang tahun.

"Lucy-chan. Ternyata kamu yang datang." ucap Wendy menyambut sambil mengelus dada lega. Phobianya terhadap hantu memang berlebihan

"Tumben kamu datang jam segini, Lu-chan" pukul 6.40, biasanya aku mengaret lima menit sebelum bel masuk berbunyi

"Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya asyik sekali"

"Kata Freed-sensei ada murid baru. Menurutmu laki-laki atau perempuan?"

"Hmmm….mungkin laki-laki" jawabku asal. Menarik kursi terdekat dan menempatkan posisi se-nyaman mungkin. Pantas seisi kelas bersemangat. Entah kenapa aku yang paling lemas di sini

"Aku berharap dia perempuan. Jadi, kita bisa mengajaknya main bersama" Levy-chan berkata riang. Membayangkan rupa si murid baru sampai mesam-mesem sendiri. Apa, sih, yang dipikirkan olehnya?

"Meski laki-laki, kita kan masih bisa berteman dengannya"

"Kalau begitu jadi sulit komunikasi"

Apa obrolan membosankan ini akan terus berlanjut? Aku menidurkan kepala malas, sesekali memejamkan mata lelah hampir terlelap dalam mimpi. Mau tidur pun rasanya sulit. Pasti adegan itu terbesit dan membuatku bangun lagi. Arghh….jika begini terus, aku bisa mendapat 'kantung' gratis macam panda.

Mendadak suasana ricuh berubah hening. Freed-sensei bersama seorang murid baru berjenis kelamin laki-laki, masuk ke dalam kelas dengan langkah tenang. Aku bergidik ngeri, merasakan aura 'gelap' terpancar jelas dari tubuh pendeknya, ditambah ekspresi itu sedarar pantat panci, yang biasa ibu pakai untuk menggoreng ikan saat jam makan siang. Dia menuliskan deretan huruf kanji, di atas kulit hijau lumut papan tulis. Membungkuk hormat lalu menjelaskan identitas sebatas nama.

"Jellal Fernandes. Salam kenal" singkat, padat, jelas, juga sangat menjengkelkan. Aku tidak suka, nada bicaranya yang monoton tanpa mengucapkan 'salam kenal' atau bersuka hati

Kecurigaan menjalari diriku yang masih terpaku. Apa pemuda bernama Jellal itu, adalah dalang dibalik pembunuhan mayat yang menghilang sepekan lalu? Aku mengenal bau badannya dengan jelas, aroma mint bercampur unsur besi tertempel lekat, di setiap ruas permukaan kulit ras mongloid tersebut. Pasti….dia pasti pelakunya! Aku tau, menuduh sembarangan bukan perbuatan baik. Namun, firasatku yakin atas tuduhan barusan.

Tinggal mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya. Maka ketakutanku akan berakhir.

Jam istirahat….

"Halo Jellal. Namaku Jet dan dia Droy. Salam kenal, ya!"

"Hey. Apa olahraga kesukaanmu? Mau tidak bergabung dengan klub sepak bola? Sebelumnya, perkenalan namaku Loke Leo. Panggil saja sesukamu"

"Kamu mirip model di majalah pria. Boleh aku memotretmu?"

"Apa Jellal-san suka makanan manis? Kapan-kapan aku buatkan, ya?" tawar Wendy-chan sesudah aku balik dari kantin, membeli sebungkus nasi goreng dan jus apel. Bahkan dia mau merebut perhatian sahabatku, tidak boleh dibiarkan!

"Ehem! Aku ingin berbicara denganmu sebentar." paksaku menarik lengannya, menjauhi keramaian yang membuat sesak. Di sinilah kami berdiri, ujung koridor dekat gudang olahraga

"Kesal karena aku merebut perhatian temanmu, yang bernama Wendy Marvell itu?"

"Tentu saja! Kau adalah orang yang berbahaya. Wendy-chan bisa dibunuh kapanpun, jika aku tidak segera mencegatmu"

"Berbahaya apanya?"

"Katakan dengan jujur. Apa kamu, yang membunuh seluruh mayat di gang kecil Jalan Magnolia?"

"Mayat? Bukankah hanya tumpukan sampah biasa?" balas Jellal menatap dingin, merasuk hingga menyebabkan tulang-tulangku terasa beku. Aku pasti ketakutan, kalau tinggi badannya melebihiku

"Jangan pura-pura bodoh! Kamu juga, kan, yang membunuh kedua penculik itu kemarin?!" amarahku semakin menjadi-jadi. Tampang datarnya amat menjengkelkan, seakan mengisyratkan Jellal acuh tak acuh

"Kenapa kamu mengira, pahlawan kesayanganmu adalah aku?"

"Firsatku tidak pernah salah! Aku mengingat bau tubuh si pembunuh itu. Dia mirip denganmu!"

"Berhentilah mengada-ada. Dan lagi, aku tidak mengenal, siapa pembunuh dan penculik yang kau bicarakan selama lima menit."

"Ha….baiklah, kau boleh mengelak, Jellal Fernandes. Aku sendiri yang akan membongkarnya!"

Penutup di mata kirinya adalah jawaban dari vonisku! Dia menghindar dan terus menghindar. Saat tanganku terjulur ke depan, dengan mudah Jellal mengelak, lalu kembali menjaga jarak. Sekarang kecurigaanku bertambah kuat. Refleks serta kecepatannya tidak normal untuk manusia biasa. Aku mengetahui, detail demi detail tentang semua itu.

Hanya penyihir yang mampu melakukannya.

BRAKKK!

CUP!

"Sial….! Kenapa harus terpeleset?!" batinku bangkit berdiri. Baru menyadari bahwa posisi kami benar-benar tidak mengenakkan. Aku menindih Jellal yang terlihat tidak berdaya

"Ma-maaf, maaf! Tetapi jangan salah sangka, aku masih menaruh rasa curiga padamu. Waktunya ganti pertanyaan, apa kamu penyihir?"

"Jika aku menjawab 'ya', apa reaksimu?"

"Membunuh itu dilarang dalam peraturan penyihir! Ketahuan maka dijatuhi hukuman mati."

"Aku juga curiga. Apa kamu penyihir? Tidak ada gunanya berbohong, Lucy Heartfilia" tu-tunggu, bagaimana dia mengetahui namaku? Kami belum berkenalan. Baru saja mengobrol dan saling kontak mata. Sihir macam apa yang Jellal punya?

"Lu-chan. Kamu di situ rupanya" panggil Levy-chan diikuti Wendy-chan. Mau tidak mau aku melepaskan kesempatan ini

"Ingat. Kamu berhutang sebuah penjelasan padaku"

Pertemuan kami berakhir, ketika bel masuk berbunyi menandakan jam istirahat telah selesai.

Pulang sekolah….

"Aku dan Wendy-chan ingin karaoke. Ayo pergi bersama!" ajaknya mengulurkan tangan, yang aku tolak dengan mudahnya akibat digandrungi mood buruk

"Kapan-kapan saja. Aku ada urusan penting di rumah"

"Hati-hati di jalan!" seru Wendy-chan berteriak lantang. Aku sekadar mengangguk pelan, lalu berlari meninggalkan kelas agar tidak tertinggal jejak kaki Jellal

Aku terus membuntuti, seperti stalker yang terobsesi dengan sang idola. Ingat, Jellal itu musuh! Perkataanku hanyalah perumpaan semata. Tubuh kecilnya menyalip lautan manusia, seakan celah yang tercipta cukup besar untuk dilewati. Aku menggertakkan gigi kesal, menyadari kehilangan hawa keberadaannya yang tipis. Seorang lelaki berjubah hitam sempat berpapasan denganku. Ternyata dia sudah mulai menyamar.

"Tatap wajahku, sekarang!" perintahku menggengam erat tangannya. Netra maple itu tertangkap jelas oleh indra pengelihatanku. Tatapan mata yang terkesan lembut dan….tidak, aku pasti salah terka!

"Untuk apa kamu mencegatku?"

"Sandiwara murahan! Aku tidak mungkin tertipu. Akuilah bahwa kamu seorang penyihir, Jellal Fernandes!" volume suaraku maksimal seratus persen. Membentaknya yang mendadak ciut memelas ampun. Ini di luar dugaan, apa pasti dia berekspresi mirip orang lemah?

"Darimana kamu mengetahuinya?"

"Apa kamu tidak ingat?! Aku berusaha merebut penutup matamu. Sudah terungkap sekarang, kau penyihir sekaligus anak terkutuk, kan? Aku membacanya di novel berjudul Akame. Siapa sangka, ternyata cerita fiksi semacam itu benar-benar nyata."

"Mau membodohiku, dengan menggunkan soflen abu-abu? Sayangnya mustahil, karena aku tidak mudah untuk ditipu!"

"Kita sesama penyihir. Aku mohon, jangan sembarangan mengumbarnya di depan umum! Jadi, ayo selesaikan dengan berduel!"

"Satu syarat. Jika aku menang, kau wajib memberitau siapa dirimu, dan apa yang kamu lakukan, terhadap mayat di gang kecil Jalan Magnolia. Setuju?"

"Mana mungkin aku mundur, Lucy-san. Jika kamu kalah, berhentilah melakukan komunikasi denganku"

Bersambung….

Next Chapter :

Friend or Enemy

Cek link : s/10531657/2/Red-Eyes

Balasan review :

Fic of Delusion : Atas dasar keajaiban ciptaan author Lucy kagak jadi mati, wkwkw. Jadi, sebaiknya ucapanmu ditarik dan dikeluarkan untuk beberapa chapter ke depan. Thx ya udah review! Sering-seringlah mampir.

BlackHage-chan : Yap bener banget, orang itu adalah Jellal sendiri. Karena hanya re-make jadinya ada banyak adegan yang sama persis, tetapi itu hanya untuk awalan. Ke depannya bakalan berubah 180 derajat. Thx ya udah review!