CHAPTER 2
...
Benang merah itu tak terlihat, tapi selalu menghubungkan dua hati yang memiliki perasaan sama ~
.
Aku pernah mendengar kalimat seperti itu. Tapi di mana dan kapan aku mendengarnya?
"Naruto?"
Bagaikan manusia yang terlena dengan kehidupan duniawi. Aku terdiam saat mendengar rangkaian kata yang terlintas di pikiranku. Bukannya terdiam kesal dan merasa salah. Tapi terdiam karena mungkin kata tersebut,
"ada benarnya juga," gumamku.
-oOo-
Sebuah cerita fiksi dari :
Naruto karya Masashi Kishimoto
.
.
.
Kita dan Kisah Klasik Persahabatan
.
.
.
Genre :Poetry
.
.
karya kami, Half Eclipse
Komunitas kecil untuk para penggemar cerita fiksi.
.
.
.
"Naruto? Hoi Naruto?"
Perasaan asing yang banyak dikategorikan orang-orang sebagai perasaan yang menenangkan, menyejukkan, dan memberikan semangat ...
Lagi-lagi sepenggal kalimat memasuki isi pikiranku. Sederet kalimat yang mampu membuatku terkesima. Apa maksudnya semua ini? Aku bahkan tidak ingat siapa yang pernah berkata seperti itu kepadaku. Apa orang tuaku?
Entahlah.
Perasaan tersebut merupakan rasa cinta yang teramat kita inginkan. Bahkan mengharapkan perasaan kita terbalaskan. Andai saja hidup ini bagaikan sebuah cerita dongeng, akan kubuat hidupku seperti keinginanku sendiri ...
"Naruto?!"
Pukk ...
Aku tersentak kaget. Seseorang baru saja memukul pelan bahuku. Pukulannya mampu membuat seekor semut ketiduran berkat kelembutan sentuhannya. Tangannya berukuran kecil, dapat dipastikan yang menyentuhku adalah perempuan.
"Maaf," kataku ketika akhirnya tersadar sedang berada di tengah-tengah kerumunan lautan manusia.
Bukannya kami tidak mempunyai tujuan apa pun. Seperangkat alat musik sudah menjawab semua alasan orang-orang yang manatap penuh harap kepada kami. Bisa-bisanya aku termenung di belakang alat musik yang dikenal sebagai jantungnya sebuah musik. Yaitu drum.
Kami sedang berada di tengah-tengah lapangan basket dengan menghadap membelakangi matahari sore.
"Apa yang kau pikirkan, Dobe?" Tanya Sasuke di saat Sakura sudah kembali ke depan dimana microphone berada. Sedangkan pemuda harajuku itu sendiri sedang menyetel gitarnya yang terhubung ke sound system.
"Aku hanya memikirkan...-"
"Tapi hidup bisa lebih indah dari dongeng. Jika kau mampu menaklukan segala tantangan," potong Sakura membuat Naruto terdiam.
Benang merah itu tak terlihat, tapi selalu menghubungkan dua hati yang memiliki perasaan sama~
.
Perasaan asing yang banyak dikategorikan orang-orang sebagai perasaan yang menenangkan, menyejukkan, dan menyemangatkan.
Perasaan tersebut merupakan rasa cinta yang amat kita inginkan. Bahkan mengharapkan perasaan kita terbalaskan. Andai saja hidup ini bagaikan sebuah cerita dongeng, akan kubuat hidupku seperti keinginanku sendiri...
Dan lanjutan dari kalimat tersebut adalah...
...Tapi hidup bisa lebih indah dari dongeng. Jika kau mampu menaklukan segala tantangan.
Benar juga. Akhirnya daya ingat bodohku ini mengingatnya juga. Ternyata selama ini kalimat abstrak tersebut Sakura-lah yang telah memotivasikannya kepadaku. Penggalam kalimat yang gadis itu ucapkan mampu membuatku terdiam sekarang. Terdiam layaknya serangga kecil yang terjebak di sarang laba-laba. Baru sekarang terdiam karena baru kali ini pula aku menginginkan seseorang.
"Jika kau masih tetap bermenung, sebaiknya kita tidak ada disini daripada memberikan harapan palsu kepada penggemar kita," tegas Sakura yang sudah memegang microphone dan keyboardnya.
Aku mengangguk paham. Benar juga. Murid-murid yang sedang ingin melepas penat dari kegiatan belajar dan kegiatan klub ini sangat ingin sekali menonton pertunjukkan dari band kami.
Band yang hanya terdiri dari 3 orang. Yaitu aku, Sasuke, dan Sakura. Aku berperan sebagai Drummer, Sasuke sebagai Solo guitarist sekaligus yang mengurusi Backing Vocal dan Sakura sebagai Vocalist-Keyboardist. Terdengar maruk memang. Tapi beginilah kami. Sekumpulan sahabat masa kecil yang sama-sama memimpikan sebuah pertunjukkan spektakuler di sela-sela kegiatan belajar kami.
"Baiklah. Ayo kita mulai!" Seruku menyemangati kedua sahabatku.
Tuk..tuk...tuk...
Aku memberikan aba-aba dengan menggunakan dentuman drum. Dalam ketukan ketiga, gitar yang dipegang kendali oleh Sasuke mulai mengiringi dentuman drum yang aku mainkan.
Tapi...
Aku merasa aneh.
"Shion?!" Kagetku saat mendapati Shion duduk di sampingku dengan kedua tangannya yang melingkari perutku.
Apa yang diinginkan gadis itu?
"Tetaplah fokus atau pertunjukkanmu akan kacau, Naruto-kun," pesan Shion yang membuatku mau tak mau harus fokus ke permainan drumku.
Dasar licik!
Sebuah hentakan kecil dari langkahnya seorang manusia bak bidadari sedang bergerak pelan langkah per langkahnya. Keanggunan tersembunyi yang ada pada diri gadis itu entah mengapa sedikit menyeruak malu-malu.
"Dimana dia?" Gumam gadis itu tanpa sadar karena sosok pemuda yang menjabat sebagai ketua kelas itu tidak memperlihatkan batang hidungnya.
Dirinya bergerak kesana-kemari hanya demi memberikan hasil tugas Literatur Klasik.
"Hinata-chan?"
Tiba-tiba saja seseorang menginterupsinya. Kiba Inuzuka baru saja menyapa gendang telinga Hinata. Sosok gadis konglomerat berpenampilan sederhana. Gadis yang tanpa ia sadari sendiri telah menjadi ikonik keteladanan Konoha Gakuen.
"Kiba-kun?" Gumam Hinata.
Sosok pemuda penyuka anjing itu melangkahkan kaki lebarnya menghampiri Hinata.
"Mari kubantu?" Tawar Kiba dan mengambil alih tumpukan buku yang dipegang tadi oleh Hinata.
"Terima kasih," balas Hinata merasa terbantu.
Kiba mulai memikul beratnya tumpukan buku yang telah dipesankan Naruto tadi. Walaupun sebenarnya tidak harus Hinata yang menyerahkannya kepada Naruto.
"Kau mendengarnya?" Tanya Kiba ketika mereka hendak mencari Naruto bersama Hinata.
Gadis manis nan lembut itu menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah. Suara melodi musik disertai nyanyian khas menyamankan gendang telinga mereka. Musik yang terkesan lembut dan memabukkan tak kuasa mampu menghinoptis penonton setianya.
"Mungkin saja itu Naruto dan teman-temannya. Ayo!" Kiba 'pun mengenggam tangan Hinata dan membawanya ke asal suara.
Di saat mereka telah menemukan Naruto dan kawan-kawan, seketika Hinata tersenyum. Melihat pemuda pirang itu bermain di belakang rekan-rekannya begitu mempesona.
Hinata POV
Suara...
Suara hati mengatakan dia.
Dia...
Dialah tujuanku tersenyum selama ini dalam menghadapi masalahku.
Masalah...
Aku tak tahu masalah apa yang akan kuhadapi jika saja aku kehilangan sosoknya.
Sosok pujaan hatiku itulah...
...Naruto Namikaze.
Seketika jantungku berhenti sesaat. Menyadari sesuatu yang mampu membuatku terdiam. Berharap...berharap kesalahanlah yang aku lihat.
Mereka...mereka...
...Aku tak mampu melanjutkan kata-kataku.
Sepersekian menit kemudian, iris Lavenderku menangkap sorotan mata Shappire menenangkan miliknya.
Sorotan matanya yang menangkapku membuat diriku mendadak malu. Aku 'pun pergi begitu saja meninggalkan Kiba yang sudah berbaik hati membantuku.
"Hinata-chan?!"
Hinata POV End
.
.
.
Jiwaku terdiam walaupun fisikku bergerak. Lagi-lagi, aku melihatnya bersama laki-laki lain. Apalagi tadi aku melihat mereka saling mengenggam tangan.
"Kucoba! Melepasmu..."
Sentakan irama dari nyanyian Sakura membuat jiwaku kembali tersadar.
"Meninggalkan kenangan...Selama ini!"
Kenangan?
Kenangan apa? Aku bahkan tidak pernah mengobrol santai dengan Hinata.
"Sial!"
"Kututup semua kenangan...-"
Tiba-tiba saja aku menyadari bahwa apa yang aku lakukan telah memengaruhi penampilan kami. Aku baru saja mengacaukannya dengan dentuman yang terdengar tidak seirama.
Naruto POV End
.
.
.
Hening melanda band yang dinaungi 3 sahabat itu seketika. Engg... lebih tepatnya sepasang kekasih dengan satu sahabat mereka.
Keheningan membawa mereka semua menuju kecanggungan. Nyanyian yang tadinya begitu dinikmati penggemar dadakan mereka turut terdiam.
"Lepaskan," desis Naruto dengan dingin membuat Shion bergidik ngeri.
Lepaskan semua gangguan ini! Tidak sanggup menerima apa yang kau lihat? Lantas kau mau apa? Menangis? Marah? Kesal? Ya kau hanya bisa merasakannya. Tidak bisa berbuat apapun tanpa kepala dingin.
Naruto melepaskan pelukan Shion dengan paksa. Pemuda itu berdiri dan meninggalkan semua orang yang menatapnya dengan tanda tanya. Termasuk Sasuke dan Sakura.
"Kenapa dengannya?" Tanya Sasuke kepada sang kekasih.
Sakura mengidikkan bahunya bertanda tak tahu apa-apa. Sasuke menghela nafas berat.
Deretan orang-orang yang tadinya mengelilingi mereka mulai memudar layaknya singa yang sudah menghabisi mangsanya.
Sasuke menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia harus segera kembali mengumpulkan alat musik yang ia bawa dari ruangan klub musik ke tengah lapangan basket seperti ini.
Matanya melirik seperangkat alat musik drum. Ia kembali menghela nafas untuk kedua kalinya. Kali ini helaan nafas berat.
"Apa harus aku angkat untuk kedua kalinya?" Batin Sasuke menjerit.
Satu per satu alat musik sudah dipindahkan oleh Sasuke dan Sakura. Sasuke hanya membawa alat drum yang punya berbagai bagian itu. Hingga akhirnya Sasuke mulai mengangkat bagian terakhir yang ukurannya paling besar. Yaitu bass drum.
"Kau yakin bisa melakukannya sendirian, Sasuke-kun? Apa perlu aku bantu?" Tanya Sakura khawatir dengan kekasihnya itu.
"Tidak perlu, Sakura."
Sakura hanya bisa menghela nafas berat. Kekasihnya itu memang keras kepala. Lagian dirinya bukanlah perempuan lemah yang selalu bersikap manja di depan kekasih sendiri.
.
.
.
TBC
A/N:
Apa kabar?
Kali ini Kazehiro Tatsuya dapat bagian Poetry yang menurut pribadiku sendiri adalah musuh terbesar dalam gaya penulisanku.
Jadi maaf ya kalau kurang bagus Poetry nya
Udah gitu aja kok curcolnya...
Salam hangat...
