KILL THE HEART – Chapter 2

Multichapter Fanfic.

Pairing: Anko x Kakashi.

Genre: Drama. Romance. Angst. Hurt/Comfort.

Rate: M

Warning: OOC, OTP, kiss scenes, kata-kata kasar (gomen!)

Bang Masashi hebat banget deh ah, bisa punya karakter2 kayak gini… saya suka deh minjemnya. Hehehe

.

.

.

Rasa gamang itu menguat, tiap kali Kakashi mengingat perihal kehilangannya akan sebuah hartanya yang berharga. Rasa jengkel itu –sebuah celotehan penuh pandangan merendahkan, yang kini hanya bisa ia tujukan pada gadis itu. Desisan demi desisan tak henti ia keluarkan hanya karena harinya yang terasa hampa. Damn, Icha Icha Paradise sudah bagaikan sahabat sejatinya!

Bagaimana nasibnya kini? Jika tanpa benda yang satu itu, dirinya bukanlah seorang Kakashi Hatake yang biasanya. Kini, ia bagaikan sebuah dunia tanpa langit. Atau mungkin juga bisa diumpamakan sebagai surga tanpa neraka. Segala sesuatu pasti memiliki pasangan, bukan? Ia –dan buku itu. Mereka adalah pasangan sejati. Tidak mungkin boleh dipisahkan. Dan kini ia mendapati kenyataan bahwa gadis itu –perempuan murahan sial itu telah berani merenggut sahabat sejatinya.

Ah, semua ini mungkin terlalu berlebihan. Tapi memang begitulah adanya. Seorang manusia jika sedang menggandrungi sesuatu pun pasti akan marah besar jika benda yang sedang ia candui menghilang begitu saja. Karena itulah, Kakashi samasekali tidak merasa bahwa ini adalah sesuatu yang salah.

Ia wajar merasa marah seperti ini. Ini adalah hal yang sangat wajar.

Yang tidak wajar adalah –gadis itu. Gadis bermarga Mitarashi yang kini menjadi sesosok perempuan yang bagi Kakashi sangat kurang ajar.

Anko Mitarashi –berani-beraninya ia! Wajah tampan tertutup topeng itu pun hanya tampak semakin kusut bila mengingat sebuah nama barusan.

.

.

.

Hari yang berbeda. Dan sudah genap kurang lebih dua puluh empat jam –sang buku kepunyaan tuan Hatake itu disandera oleh seseorang. Sial, Kakashi bahkan sampai nyaris tidak bisa tidur. Bukan karena otaknya terlampau penuh sesak memikirkan kehilangan itu. Hanya saja –ia tidak biasa jika sebelum tidur tidak membaca isi sang buku.

Ah, apa bedanya?

Sebegitu sulitnyakah?

Dan pagi ini, ketika sang jounin bertopeng itu hendak menuju lapangan sektor sekian, ia terpaksa membiarkan matanya melihat sebuah pemandangan tak menyenangkan. Gadis itu. Sebelah matanya tanpa sengaja bertemu sang penculik tak berperasaan itu.

Dari sudut matanya yang menatap dengan malas, terlihat cukup jelas Anko Mitarashi sedang bersama seseorang. Gadis itu tampak sedang mengobrol dengan Yamato. Di sebuah pojokan sepi, dan terkesan jelas sekali jika mereka mungkin sedang tidak ingin diganggu.

Tanpa disangka Kakashi, gadis ular itu meliriknya –menyadari kehadirannya yang hanya lewat tanpa sengaja.

Sungguh malas rasanya. Kakashi mengalihkan penglihatannya. Tak sudi jika harus bertemu pandang lebih lama lagi. Dasar penculik!

"Maaf, aku tinggal sebentar!" cetus gadis itu menghentikan obrolannya, membuat Yamato sang partner bicaranya sedikit terperangah. Anko memutuskan aktifitas mereka dengan seenaknya.

"Kau tidak datang, Kakashi" ucapnya mencegat Kakashi dalam langkahnya. Nada bicaranya terdengar santai. Dan aroma parfumnya –sungguh manis menggoda.

"Semalam aku menunggumu" lanjut suara itu, yang mana belum dipedulikan oleh Kakashi Hatake.

"Aku tidak perlu mengambilnya" sahut pria itu kemudian, setelah memutuskan untuk menjawab. "Aku tak sudi mengambil buku itu kembali darimu".

Sebuah jawaban yang sungguh tegas. Namun Anko tampak tidak terlalu terpengaruh.

"Oh ya? Kalau begitu…"

"Mungkin membakarnya akan menyenangkan" gumam gadis itu, memutar bola matanya, menatap arah lain dimana tampak beberapa orang sedang berlalu lalang.

Kakashi menahan nafas sejenak.

"Yang jelas buku itu akan segera aku musnahkan" lanjutnya dalam nada ancaman, masih terdengar santai. Ancaman yang sama seperti kemarin, rupanya. Namun cukup jelas di telinga Kakashi, Anko hanya menggertaknya.

"Lakukan saja. Aku tidak peduli" respon Kakashi sekenanya. Ia memang mencoba untuk tidak peduli. Mengancam? Memangnya dia pikir sedang berbicara dengan siapa?

"Jadi begitu?" Anko tampak sedikit terkejut. Rencana awalnya gagal, tapi ia belum menyerah.

"Ya"

"Kau tidak peduli –pada buku kecilmu itu?"

Kakashi kini menatap Anko. Setelah sekian lama memalingkan wajahnya yang lebih tertarik menatap tembok di seberang sana.

Ia peduli –jika boleh jujur.

"Tidak. Samasekali tidak"

Anko mengangguk-angguk. Kakashi ini cukup keras kepala juga. Tapi ia jauh lebih keras kepala daripada itu. Setidaknya begitulah ucap batinnya.

"Aku sudah melihat isinya, Kakashi…."

Apapun itu, aku tidak peduli. Suara batin Kakashi kembali menegaskan. Oh, percakapan ini dirasa terlalu lama. Ingin rasanya ia segera pergi dari sini, meninggalkan pengganggu ini.

Kakashi sekarang lebih memilih memperhatikan pakaian gadis itu –ketimbang menatap wajah atau kedua matanya.

Gaya berpakaian yang sungguh murahan, pikir pria itu berkomentar. Memang cukup menarik, tetapi itu sungguh tidak berguna. Seseorang dinilai bukan karena tampilan luarnya yang menarik atau seksi, melainkan dari kualitas dirinya.

Apa hebatnya sih, menyandang gelar sebagai gadis yang suka mempermainkan laki-laki?

Jika aku menjadi ayah atau kakaknya, akan kubuat ia lebih tahu sopan santun dalam berpakaian! Isi hati Kakashi tak hentinya mengomel.

"Buku itu… tidak lebih dari sebuah buku yang menjijikkan" ucap Mitarashi dalam hinaannya. Nada suaranya begitu sinis. Mengundang rasa sebal yang bertambah pada pendengar tunggalnya kali ini. Kakashi mendesah kesal.

"Kau tahu, Kakashi? Isinya ternyata sangat mesum. Aku tidak menyangka kau suka membaca buku kotor semacam itu" Anko berceramah dengan angkuhnya.

Apa pedulimu, batin Kakashi. Ia berusaha secuek mungkin, tak terpengaruh pada cibiran gadis dihadapannya ini.

"Aku tak menyangka, kau yang diluar terlihat begitu tenang dan keren ini… ternyata bacaannya hanyalah sebuah buku sampah"

Buku sampah? Ah, sungguh bertambah –rasa kesal itu.

"Kau –munafik" desis bibir pink gadis itu. Membisikkan pendapatnya yang begitu kasar.

"Terlihat baik di luar, namun ternyata berfikiran kotor di dalam. Yaah, laki-laki memang semuanya sama saja…" gadis itu tampak mulai terkekeh, menyisakan Kakashi yang rasa bencinya sudah naik ke ubun-ubun.

Namun jounin itu lebih memilih untuk diam. Percuma menanggapi gadis kurang ajar ini.

Anko tiba-tiba tersadar. Yamato memanggilnya. Sepertinya memperhatikan mereka dari kejauhan, membuat rekan Kakashi yang juga terlibat dalam pasukan Anbu itu merasa tidak senang. Ia menuntut Anko untuk kembali padanya –menghentikan urusannya dengan Kakashi.

"Aku harus pergi, Kakashi. Tapi aku harap –"

Kakashi menatapnya yang hendak beringsut dari hadapannya.

"Kau akan datang malam ini" lanjut Anko memproklamirkan pendapat pribadinya –sebuah pemaksaan.

"Bagaimana?" tawarnya sekali lagi, sebelum benar-benar pergi meninggalkan Kakashi.

Kakashi menghela nafas. Sedikit enggan untuk memberi jawaban. "Kita lihat saja nanti" ucapnya dingin.

"Memperlihatkan wajah begitu saja kenapa harus sesulit ini?" sindir Anko seolah bergumam. Ia memprotes –dan menyakinkan Kakashi lagi bahwa sikapnya menahan buku Kakashi ini hanyalah karena ia ingin membarternya dengan melihat wajah Kakashi tanpa ditutupi topeng.

Anko tersenyum misterius. Wajah cantiknya menatap penuh harap pada Kakashi. Ia menggigit pelan sedikit bagian pada bibir bawahnya, wajahnya menampakkan raut menggoda. Sepertinya ia memang cukup tertarik pada Kakashi –terbukti dari undangan tak resminya yang setengah memaksa pria tersebut.

Kakashi membuang pandangannya, tak sudi ditatap oleh Mitarashi dengan lebih lama.

.

.

.

Kakashi Hatake berjalan dengan perlahan. Ia sudah masuk ke dalam apartemen Anko. Pintunya tidak dikunci. Sepi. Tidak ada orang di sana. Ah, kenapa begini?

Bodohnya ia. Ia terpengaruh pada hinaan gadis itu. Dikatai menjijikkan. Mesum. Kotor. Sampah. Dan yang terakhir –pria munafik. Astaga, benar-benar kurang ajar. Demi Tuhan, jika sekali lagi gadis itu mengeluarkan sebuah kalimat hinaan rendah lagi padanya maupun buku kecilnya, ia tidak akan segan-segan menyakiti gadis itu.

Mungkin menamparnya bisa memberinya sebuah pelajaran. Tidak, apapun itu –jika bisa membuat gadis itu tutup mulut, Kakashi maka akan dengan senang hati melakukannya. Go ahead, Anko. Akan kubuat mulut manismu itu berhenti berkicau!

Sang jounin merutuk tanpa henti di dalam hati kecilnya. Kakashi sangat jengkel tepat ketika memutar memori pertemuannya dengan Anko tadi pagi.

Ia terus melangkahkan kaki malasnya ke dalam hunian itu. Mengacuhkan keheningan yang sedari tadi menyambutnya. Ia hanya punya satu tujuan untuk datang kesini. Mengambil buku itu, dan pergi. Hanya itu.

Oh, jika perempuan murahan itu mengatainya macam-macam lagi, berbagai rencana A, B, dan C juga sudah Kakashi siapkan. Yang jelas, semuanya berkenaan dengan bentuk penyiksaan fisik.

Memang, Anko adalah wanita. Tetapi ia tidak peduli.

Sudah cukup. Ia dan Icha Icha Paradise yang mulia itu tidak pantas mendapatkan yang lebih buruk dari ini.

Benar-benar pemujaan yang sempurna terhadap sebuah benda mati, ya Kakashi-san?

Kakashi memperhatikan sekelilingnya. Rumah Anko yang rapi itu tampak lengang. Setahunya, gadis itu tinggal seorang diri, sama sepertinya.

Tempat tinggal yang cukup nyaman untuk ukuran seorang jounin lajang. Itu wajar, bukan. Pola hidup serta pola pikir seorang gadis tidaklah sama dengan seorang pemuda. Mungkin saja –Anko berbakat menjadi seorang istri yang baik suatu saat kelak, jika ia bisa menilai dari tata cara wanita itu mengatur rumahnya sedemikian rupa.

Ah, berhenti memujinya! Salah satu syaraf kesadaran Kakashi kembali membelokkan pola pikirnya pada minat pertamanya. Tidak ada hal yang baik dari seorang nona Mitarashi ini!

Ngomong-ngomong….di mana gadis itu?

"Di sini, Kakashi! Masuk saja!" tiba-tiba terdengar ucapan seorang kunoichi yang tak lain adalah sang tuan rumah. Suara itu sepertinya berasal dari ruangan yang berbeda –namun masih pada atap yang sama.

Dengan penuh pemikiran Kakashi yang tengah datang ke rumah Anko itu menoleh, mencoba memutuskan apakah harus menuju arah suara itu. Awalnya ia ragu. Berduaan bersama gadis itu baginya cukup beresiko –dan juga memuakkan. Namun akhirnya setelah begitu lama memikirkan buku kesayangannya yang ditawan, lelaki itu memutuskan untuk mengambilnya. Ia akan mendatangi gadis player itu.

Beberapa langkah dibuat. Tidak sulit bagi Kakashi untuk menyadari dimana gadis itu berada. Anko tengah menyuruhnya masuk ke dalam kamarnya.

Astaga, kenapa sampai harus masuk ke kamar, sih? Kakashi tidak habis pikir. Berada di dalam sarang ular betina hanya akan membuatnya terkena racun dan bisa. Dan itu sangat berbahaya. Bisa-bisa ia akan mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.

Kakashi sudah masuk ke dalamnya. Itu adalah kamar tidur, sebuah ruang pribadi. Disana tampak tempat tidur milik Anko yang berukuran hanya untuk satu orang. Disana juga terlihat meja kerja, dua buah lemari, serta jendela yang tertutupi tirai berwarna ungu cerah. Dinding kamar gadis itu tampak nyaman dilihat karena berwarna biru pucat yang sejuk.

Tidak jauh dari Kakashi tampak Anko yang baru saja selesai mengikat rambutnya. Gadis itu tampak seksi dengan mengenakan kaos fishnet khasnya, dan rok mini cokelatnya itu. Dan mantel cream panjang miliknya itu tidak sedang menutupi tubuh indahnya.

Ah. Ada aroma harum. Tetapi bukan parfum. Sepertinya gadis itu juga suka menyemprotkan wewangian pada ruangan kamarnya. Anko jelas menebarkan pewangi ruangan pada kamar kecil itu. Aromanya cukup enak –bersahabat pada hidung Kakashi.

Dan kini, Kakashi bisa melihat jelas postur tubuh gadis itu yang memang –seksi, jika Kakashi boleh jujur.

Payudaranya yang menarik itu sungguh terlihat lekukannya. Rok mininya pun tampak makin pendek saja dibanding dahulu –saat ia masih belum menyabet gelar playgirl. Dan kedua pahanya yang putih susu itu makin menambah nilai plus Anko Mitarashi saja. Gadis itu memang cukup terlihat menggoda. Tubuhnya sempurna.

Dasar ular betina! Umpat Kakashi sedikit jengkel di sela keterpanaannya.

"Kau terlambat Kakashi! Terlambat sepuluh menit!" tukas Anko kini.

Apa? Memangnya tadi siang ia mengatakan perihal pukul berapa ia akan datang, begitu? Sepertinya tidak, bukan? Benak Kakashi penuh dengan argumen.

"Bicara apa kau? Aku bahkan tidak pernah bilang kapan aku akan datang ke rumahmu" ucap Kakashi dingin.

Anko tertawa kecil. Gadis itu memperhatikan mangsanya yang berjalan kian mendekat dengan dirinya. Dua matanya tak henti menatap lekat Kakashi yang sedang tampak kesal padanya. Ia tahu. Ia paham Kakashi sedang sangat jengkel padanya. Dan itu menyenangkan –baginya.

"Sini, mana bukuku!?" kata Kakashi lagi. Ia berhenti melangkah, dan berusaha menjaga jarak dengan gadis itu. Keduanya kini berdiri berhadapan.

Anko memperlihatkan buku mesum Kakashi di tangannya. Sebuah buku kecil dengan sampul berwarna orange. Dan juga cover bergambar yang cukup norak. Bagi Anko buku itu memang payah, tetapi bagi Kakashi buku itu adalah segalanya.

Ups. Lagi-lagi sebuah ungkapan yang berlebihan.

Sebelum Kakashi sempat mendekatinya, buru-buru gadis itu berpindah. Berjalan pelan menuju meja kerjanya. Ia kemudian meletakkan buku Kakashi di tepi meja. Dan…

Ah, gadis itu menduduki buku Icha Ichanya. Anko Mitarashi menduduki buku kesayangan Kakashi itu –yang berada di atas meja. Benar. Diduduki.

Sebuah tindakan yang kurang sopan terhadap sebuah buku, bukan? Anak-anak sekolah pun selalu diajarkan untuk menyayangi buku, karena buku adalah gudang ilmu serta jendela dunia. Tapi nona Mitarashi ini punya pendapat lain yang menyimpang.

"Kemarilah kalau kau mau?" tantang Anko Mitarashi.

Kakashi diam saja. Sebenarnya ia mulai kesal. Berani-beraninya gadis ular itu menduduki buku sucinya. Buku sepenting itu tidak pantas untuk ditindih oleh bokong gadis bejat itu. Semewah-mewahnya seseorang, seelit-elitnya seseorang, tetaplah itu bukan sebuah tindakan yang terhormat.

Menduduki bukuku. Sialan. Kakashi sedikit berdecih.

Ia sudah kesal. Jounin bertopeng itu kini sedikit mengeraskan rahangnya.

"Kau tidak menginginkan buku ini lagi, Kakashi?" Tanya Anko kemudian. Kakashi malah meresponnya dengan sebuah pemikiran keras. Ia harus memikirkannya matang-matang sebelum bersikap. Salah sedikit saja, bisa-bisa ia jatuh ke pelukan Mitarashi. Ia tidak mau. Ia tidak sudi.

Coba kalian pikirkan. Mungkin saja tindakan Anko ini hanya untuk menggoda Kakashi. Membuat pria itu mendekat padanya dan –ketika sudah cukup leluasa, ia akan membuatnya jatuh pada pesonanya. Kita lihat saja, apakah dia bisa melakukannya?

Dan seperti yang terlihat, Kakashi masih tetap diam –sementara Anko Mitarashi tampak duduk santai, dengan buku kecil Kakashi di bawah tubuhnya.

Beberapa menit kemudian, akhirnya Kakashi menyerah. Otaknya lelah karena sedemikian keras berfikir. Satu langkah yang bisa ia lakukan saat ini –ia hanya bisa bergerak maju, mendatangi Anko yang tampak melipat lengannya di dada. Kedua paha mulus itu ia tumpuk menjadi satu. Benar-benar pose yang cukup menggoda.

Gadis itu penasaran dengan tingkah Kakashi yang sedikit sulit dilumpuhkan itu.

Kakashi mendekat. Cukup dekat. Cukup dekat dengan tubuh Anko.

"Cepatlah, aku tidak ingin lama-lama disini" protes Kakashi sekenanya. Ia tidak ingin jika tiba-tiba Yamato memergokinya berada di kamar gadis ini.

Anko hanya diam dan tersenyum.

"Kembalikan bukuku, Anko…." ucapnya dengan nada dilemahkan. Berusaha selembut mungkin menggugah perasaan Anko –meskipun itu adalah palsu.

"Tapi sebelumnya….." sahut gadis berambut ungu gelap itu perlahan.

"Kau menyepakatinya kan? Perjanjian kita…." Gumamnya lagi. Kakashi mendengarnya –dan dengan sangat jelas. Itu karena wajah mereka cukup berdekatan.

"Kubuka topengmu dan –kau boleh mengambil bukumu kembali" desis gadis itu lebih lanjut.

Kakashi masih diam, lagi-lagi –ia cukup menyukai kebisuan saat ini. Ia hanya menatap mata Anko, berusaha menyelami pola pikir gila dan aneh dari gadis itu.

Barter adalah cara kuno. Namun mau bagaimana lagi. Jikalau ia menyerahkan uang pada gadis itu sebagai ganti bukunya, hal itu tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Anko. Terang saja, gadis itu bukanlah seorang pedagang.

Dan gadis itu kini dengan liciknya menawarkan sebuah tawaran ganjil kepada Kakashi. Sebuah hal ditukar dengan hal lainnya. Dan yang harus ia tukar serta dapatkan adalah hal yang cukup penting dalam hidupnya.

Buku berharga itu. Dan juga wajah di balik topengnya ini.

Keduanya adalah hal spesifik yang tidak murah nilainya.

Beberapa saat kemudian tak ada ucapan lanjutan dari Anko. Itu cukup membuat Kakashi lega. Setidaknya ia terbebas dari rasa bersalah jika menyakiti seorang perempuan. Ya, ia urung melakukan penyiksaannya karena Anko tidak mengeluarkan hinaan sarkasmenya kali ini.

"Kuanggap diammu itu sebagai jawaban penerimaan, Kakashi!"

Dan keduanya pun kini akan melakukan hal itu. Buku Icha Icha Kakashi yang dibarter dengan Anko yang boleh melihat wajah Kakashi. Kakashi tampak menahan nafas. Terkesan sedikit risih dengan gadis yang kini sangat dekat posisinya dengan dirinya itu.

Dengan lembut Anko menyentuh wajah jounin bertopeng itu, menyentuh masker kainnya, dan menurunkannya dengan sangat perlahan.

Ah, apakah ini ide bodoh, membiarkan Anko melihat wajahku? Batin Kakashi resah.

Anko masih dengan kedua tangannya –menurunkan dengan lembut penutup wajah Kakashi. Pelan, sangat perlahan. Sepertinya gadis itu ingin menikmati dengan sempurna detik-detik dimana ia bisa melihat wajah asli pria itu.

Detik demi detik pun berlalu. Tindakan tangan gadis itu sudah membuahkan hasil. Anko terpaku menatap wajah Kakashi –yang kini sudah tidak tertutupi topeng itu.

Selanjutnya apa? Gumam batin Kakashi yang menatap wajah gadis itu dengan malas.

Anko tampak terpana. Ini sungguh diluar dugaannya.

Kenapa….kenapa wajah Kakashi semenawan ini. Ia kehabisan kata-kata. Perlahan, wajah manisnya disusupi oleh rona merah muda tipis yang terasa hangat. Kakashi memang tampan. Ternyata gosip itu benar. Sedikitnya Anko merasa bersalah pada dirinya yang sombong dan keras kepala selama ini.

Sebenarnya manis juga Anko ini –jika dilihat dengan cukup dekat, pikir Kakashi dengan ide yang mulai menyimpang dari akal sehatnya. Tampaknya racun dari sang ular sudah mulai cukup membius, menghilangkan kesadaran dari sang Jounin hebat itu.

Keduanya tampak sama-sama terpana. Dan bertatapan dengan dalam selama beberapa saat.

Dan kemudian, tanpa diduga Kakashi, Anko menaikkan pelindung kepala Kakashi yang menutupi mata Sharingan pria itu.

"Hitai-ate tidak masuk dalam perjanjian, Anko" desis Kakashi pada gadis yang mulai seenaknya itu.

Anko tersenyum kecil. "Apa bedanya? Aku ingin melihat kedua matamu" ucap gadis itu masih dengan raut yang sedikit merona dan terpesona.

Kini wajah Kakashi Hatake tampak begitu jelas di mata Anko Mitarashi. Ah, ini benar-benar membuatnya hampir gila. Kenapa ia merasa aneh seperti ini? Rasanya seperti…..

"Sudah puas? Sekarang mana bukuku" kata Kakashi tiba-tiba.

Anko masih menatapnya lekat. Sepasang mata berbeda warna milik Kakashi itu terasa begitu menyedot matanya. Bekas luka lurus memanjang di sekitar mata berwarna merah itu bahkan membuat Kakashi terlihat gagah. Belum lagi dengan wajahnya yang ternyata memang benar –tampan itu.

Ah, laki-laki ini…sempurna.

"Sabar sedikit, Kakashi…." Desah Anko yang masih tampak belum puas memandangi wajah pria itu. Gadis player memang tidak tahan dengan yang namanya pria tampan.

Dan kemudian, alih-alih menyerahkan buku milik Kakashi, Anko malah mendekatkan wajahnya pada wajah pria itu. Jarak keduanya hampir tidak ada lagi. Dan parahnya, gadis itu membuka kedua pahanya sehingga posisi berdiri Kakashi terlihat sudah sangat rapat dengan gadis itu.

Kakashi diam saja, seolah pasrah dengan gadis itu yang mungkin saja –akan menciumnya.

Benar saja, Anko menyapukan dengan lembut bibirnya pada bibir Kakashi. Mengecup bibir shinobi itu dengan perlahan. Begitu mendebarkan. Sebuah perlakuan romantis yang bisa membuat lelaki jounin itu takluk meskipun hanya untuk sesaat.

Keduanya berciuman dengan lembut. Anko memejamkan kedua matanya, mengimbangi bibirnya yang merasakan kenikmatan luar biasa dari merasakan bibir seorang Kakashi Hatake. Ini adalah sebuah ciuman yang ia idam-idamkan.

Kakashi pun melakukan hal yang sama. Memejamkan kedua matanya, dan membiarkan gadis itu melakukan sebuah percobaan pada bibirnya.

.

.

.

T B C

A/N:

Woohooo….

Hmmm…

Makasih dah sudi membaca. Arigatou…

Review?