Title : Piece of Lucifer

Writer and Author : Ahmad MahMudi

Disclaimer : Bukan aku pemilik Naruto ama HS DxD... suer, ra ngapusi!

CrossOver : Naruto, High School DxD, Dsb.

Genre : Friendship, Comedy (maaf kalo garing), Romance, Action

Pairing : penulis bingung, jadi bantuin tentuin ya, para reader

Warning : Danger! Penulis Newcomer!

-Bab 2 Brother Impact-

Dirumah Naruto

"Tadaima Nii-sama!"

"Bruak!"

"byur!"

"Wuaaaa! Panas! Panas! Panas!" Teriak itachi panik merasakan wajah kriputannya kepanasan karena dia yang sedang bersantai dan hendak meminum kopinya terkagetkan oleh suara cewek cempreng dan pintu yang dibuka dengan dibanting. Alhasil kopi itupun menyiram wajah kebanggaannya. 'wajah tampanku...,' ujar innernya meratapi nasib wajahnya dengan aura suram yang mengelilinginya. "woi! Sialan!" serunya sambil bernafas layaknya binatang buas. Celingak-celinguk mencari tersangka. Perlahan setelah pengelihannya membaik setelah terguyur air hitam itu, ia melihat seluet seperti kepala dengan rambut berwarna kuning menyala didepan pintu. "Naruto-kun..?" ujarnya mencoba menebak siapa yang ada didepannya.

"mou... apa aku terlihat seperti laki-laki Itachi-nii?" ujar cewek yang oleh itachi disebut sebagai Naruto tadi masih dengan suara cemprengnya.

Sudah jelas dia bukan Naruto sebab Naruto tidak memiliki suara secempreng ini, dan ini merupakan suara cewek. Itachi yang kebingungan langsung menggunakan tekhniknya. Kepalanya langsung berubah menjadi tengkorak dengan api yang seakan-akan seperti membakar tengkorak itu. Setelah dirasa air kopi menguap ia menghentikan tekhniknya dan kembali seperti semula. Melihat gadis pintu yang sedang nyengir kearahnya, ia terkejut. Terkejut bukan karena cengiran atau apalah, tapi siapa yang ada didepan pintu itu. "Ojou-chan?" sebut itachi dengan nada tanya.

"Hisashiburi ne, Itachi-ni?" ujar gadis itu. Gadis itu sangat mirip dengan Naruto. Rambut pirang menyala yang bagian belakangnya di ikat twin tail sedangkan bagian depannya terdapat poni acak-acakan dan rambut bagian samping yang panjangnya sampai dada dibiarkan membingkai wajahnya, wajah nakal, suara cempreng, tubuh proporsional lebih pendek dari Ino, dada berukuran mini, wajah cantik, dan mata sebiru langit cerah tanpa awan yang bahkan lebih cerah dari warna iris mata Naruto. (dilihat dari ciri-ciri ini pasti reader sudah tahu dong siapa dia).

"ya, sudah lama, kau sudah besar ya, Ojou-chan..." balas Itachi dengan wajah yang sudah melunak lengkap dengan senyum hangat yang tertera di wajah kriputannya. Dia sangat senang karena dapat bertemu lagi dengan gadis yang dulu waktu kecilnya dia urus dan telah menghabiskan banyak waktu dengannya.

"mou... aku jadi ingat masa lalu!" teriaknya mewek dan langsung menerjang Itachi dan mendekapnya dengan erat untuk melepas rindunya. "huaaa! Aku kangen kalian semua! Kenapa Itachi-nii, Nii-sama, Nee-chan dan yang lain gak pulang-pulang!?" teriaknya menangis tersedu-sedu.

"cup-cup, jangan nangis terus , kaya anak kecil aja..." ucap Itachi sambil mengelus surai pirang gadis itu yang perlahan mulai tenang.

"mou, kenapa Itachi-nii masih memanggilku dengan sebutan itu sih, Namaku itu Naruko. Namikaze Naruko, adik dari king Itachi-nii... Itachi-nii gak pernah manggil Nii-sama dengan sebutan Ouji-kun ato sebutan pangeran yang lain. Lalu kenapa Itachi-nii masih memanggilku dengan sebutan puteri." Ujar gadis yang diketahui namanya sebagai Naruko itu ngambek dengan kedua pipi yang mengembung dengan imutnya.

Geli dengan tingkah Naruko yang menurutnya imut, ia pun langsung mengeluarkan tawa halus yang membuat gadis itu makin ngambek. "kau tak berubah ya, Naruko-chan." Ucap Itachi seraya menjawil pipi Naruko.

Mendengar Itachi yang mengganti cara memanggilnya, Naruko langsung tersenyum senang. Lalu dengan spontan ia langsung mencium pipi Itachi lalu setelah sadar dengan perbuatannya ia langsung merona hebat. Sedangkan Itachi hanya menanggapinya dengan senyum hangat.

"oiya, kau kemari tidak sendirian kan?"

"um, aku bersama dengan tiga bidak manisku." Jawab Naruko seraya berlari kepintu depan dan sedangkan Itachi mengekorinya menuju pintu depan tersebut. Dia penasara seperti apa saja bidak-bidak Naruko sebab beberapa tahun ini dia tidak pernah bertemu dengan Naruko. Jadi otomatis dia juga tidak tahu bagaimana perkembangannya. Tapi, dia berharap banyak pada Naruko.

Itachi seweatrop melihat para bidak Naruko yang sedang memandangan datar kearah king mereka dengan muka membiru dan sebiji keringat sebesar jagung menggantung dikepala mereka. Sepertinya mereka tengah facepalm melihat tingkah king mereka yang membuka pintu tanpa permisi ditambah dengan dibanting tadi. Bagaimana kalau king mereka salah rumah. Mungkin mereka akan pura-pura tidak kenal seraya berjalan menjauh. Mengesampingkan hal diatas, Itachi ternyata juga terkejut mengetahui bahwa salah satu bidak Naruko merupakan orang-maksudku iblis yang sangat dia kenal, tidak-tidak ia sangat mengenalnya dan sangat dekat dengannya. "Sasuke." Sebutnya dengan terkejut seraya menatap salah satu bidak Naruko yang sangat mirip dengannya kecuali dia yang tidak memiliki kriput dan rambutnya yang dicuatkan ke belakang.

Ternyata pemuda yang disebut oleh Itachi tadi juga tengah terkejut. Lalu tiba-tiba ia mengeraskan wajahnya dan menatap tajam kearah Itachi. "Keparat!" ujarnya berkata kasar lalu meludah sembarang arah.

Itachi menaikkan sebelah alisnya dengan mulut yang menampilkan seringai tebal. "hm? baka-otoutou kah?" ujarnya dengan nada sinis.

Karena atmosfer yang terasa bertambah berat karena dua eksistensi yang ternyata merupakan kakak beradik ini, Naruko berniat mencairkan suasana. "mooou... kalian berdua kenapa sih? Mau ngancurin moodku kah? Huh!" ujarnya kembali mengeluarkan mulut yang dikecutkan.

Sasuke tidak terpengaruh tapi lain adik lain lagi sang kakak sang kakak langsung melunakkan wajahnya dan menatap Naruko yang disampingnya dengan cengiran. "ehehehehehe... maaf Naruko-chan. Oke, ayo masuk, tadi aku buat makanan di dalam. Rencananya mau untuk Naruto-kun dan Ino-chan yang belum pulang sekolah." Ajak Itachi kepada mereka berempat yang dibalas dengan anggukan oleh mereka semua kecuali sang adik.

Naruko sangat senang karena niatnya berhasil dan mengangguk dengan semangat menjawab ajakan Itachi. "um, aku penasaran seperti apa makanan buatan Itachi-nii." Ujar Naruko memasang seringai nakal di mulut mungilnya yang malah membuat Itachi tertawa geli menyebabkan Naruko cemberut lagi. "apa? Apa ada yang lucu?" waduh, dia mulai merajuk.

"yahahahaha... tidak, tidak, tidak, ayo kita lihat nanti.. apakah aku akan mendapat respect dari kalian atau malah kebalikannya." Ucap itachi dengan senyum percaya dirinya seraya berkacak pinggang. "sebelum itu kita masuk kedalam dulu yuk." Ajaknya sambil masuk kedalam rumah yang tergolong besar tersebut.

"baik, kalian tunggu disini dulu ya, aku mau menghangatkan makanannya dan menambah menunya. Sepertinya kali ini akan menghabiskan banyak makanan." Ujar Itachi ketika mereka telah sampai diruang tengah seraya berjalan kearah dapur yang seruangan dengan ruang makan meninggalkan mereka yang tengah mengobrol entah tentang apa sambil nonton televisi. Ia tersenyum karena mengingat bagaimana cara Sasuke menatapnya. "kau tumbuh dengan cepat sekali, Sasu-chan..." gumamnya seraya mengeluarkan senyuman yang seakan-akan tersirat rasa syukur yang sangat amat kentara. Selanjutnya ia akan mulai menghangatkan makanan yang ia buat tadi dan membuat makanan. "kita lihat saja nanti apakah kau dapat mengimbangi kakakmu yang telah membuatmu kecewa ini.." lanjutnya melirik dimana sasuke sedang tersenyum kearah bidak lain milik Naruko yang bergender wanita. Ia melirik Sasuke dengan pandangan sendu. Tidak mau membuat mereka menunggu, ia kembali melanjutkan kegiatannya.

.

.

.

Orc klub

Naruto's POV

"namaku Rias Gremory. Dari klan Gremory yang sudah pasti mengonsumsi bidak King. Mohon bantuannya ya, Naruto-kun..." ujar Gadis merah yang posisinya berada disampingku ini dengan mengeluarkan senyum mautnya menyebabkan tubuhku bergetar pelan. Aku membalasnya dengan mengangguk-anggukan kepalaku. 'Sialan, apakah aku masih menyukainya!' ujar innerku mencak mencak gak jelas. Oh ayolah kalian tahu kan bagaimana rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Penolakannya dulu membuatku terlalu malu bahkan untuk membayangkannya. Dan sekarang apa? Berbicara? Nasib buruk selalu menimpaku, sial!

"ara, Namaku Akeno Himejima. Bidak Queen dari Buchou, mohon bantuannya ya ufufufufu." Yang ini malah membuatku merinding seketika ketika aku melihat senyum sadisnya serta lidah yang menjilat bibir bawahnya seakan-akan dia akan memakanku hidup-hidup ditambah tawa sensualnya yang malah membuat buluku langsung berdiri.

"A-ano.. namaku Asia, Asia Argento. A-aku dibangkitkan dengan satu bidak bishop oleh Buchou. M-ohohn, bantuannya..." ujar gadis mini bersurai pirang dengan mata sayunya yang bergetar gugup. Aku tersenyum melihatnya, mengingat salah satu dari bidak adikku juga memiliki sifat yang sama dengannya. Oiya, bagaimana kabar adikku ya? Ah sudahlah, diakan memiliki bidak-bidak kuat dan sering memenangkan rating game.

"Aku Koneko Toujou. Rook Buchou." Ujar gadis loli bersurai dan beriris putih salju dengan pandangan datarnya yang sangat tidak pas dengan perawakannya yang imut membuatku membubarkan hayalan tentang adikku.

"Kiba Yuuto, kau dapat memanggilku apapun yang kau mau. Aku mengonsumsi 1 bidak knight. Salam kenal ya, mohon bantuannya." Kali ini sang pangeran sekolahlah yang mengenalkan diri. Kok aku tahu? Tentu saja, tadi pas aku dan Ino hendak ke atap untuk bersantai dan Ino yang sudah pasti untuk tidur. Nah ketika kami baru setengah jalan, kami sempat melihat sesuatu yang sedang dikerumuni oleh para cewek sekolahan. Dan dialah sesuatu itu. Dia berwajah feminim dan bersurai pirang.

"Namaku Issei Hyoudou. Aku mengonsumsi 8 bidak pawn dan impianku adalah untuk menjadi raja harem!" ujar dari remaja iblis bersurai dan beriris coklat dengan semangat menggebu-gebu dan mata bersinar menatap kearah oppai berisi Ino. Hadeeh... Dia benar-benar mesum. Aku dan Ino tadi juga melihatnya dan dua teman mesumanya sedang dipukuli oleh para cewe dari klub kendo dan saat aku bertanya tentang alasan kenapa dia dipukuli ternyata penyebabnya adalah karena mereka mengintip cewe-cewe itu sedang berganti pakaian. Benar-benar mesum bukan. Tapi, disamping itu, dia merupakan bidak yang mengonsumsi 8 bidak pawn. Itu merupakan hal yang tidak biasa meski akupun juga memiliki anggota yang mengonsumsi 8 bidak pawn. Dan lagi, dia merupakan sekiryuutei yang diceritakan oleh Akeno-san tadi. Sepertinya bocah ini menarik.

"Salam kenal juga Minna! Namaku Ino, Ino Yamanaka. Queen dari Naru-kun. Hobiku menikmati serangan dari Naru-kun. Dia sangat ganas saat menyerangku. Senjatanya berbenturan dengan senjataku dengan sangat cepat dan kasar. Tapi aku sangat menikmati setiap tusukan darinya walaupun terasa sakit. Akh!" ujar Ino yang diakhiri dengan desahannya membuatku langsung facepalm. Bagaimana tidak, mari kita tilik bagaimana reaksi dari para bidak Rias. Akeno-san mengeluarkan senyum sensualnya kali ini begitu tebal, Rias memandangku dengan pandangan tak percaya, Asia wajahnya memerah, Koneko memandangku datar, Kiba-san tersenyum kearahku seakan mengatakan "kau hebat Naruto-sama", dan si gumpalan nafsu Issei langsung tepar dengan hidung mimisan lengkap dengan senyum mesumnya. Oh ayolah, mereka langsung berpikiran yang tidak-tidak. Sebegitu burukkah imageku dimata mereka. Walaupun aku ini berstatus ras iblis dan bermuka preman, tapi hatiku suci sesuci hati malaikat (=_=). Bagaimana aku yang seperti malaikat ini menjadi iblis mesum dipikiran mereka.

"Duak!"

"Ittai! Mooou, kenapa kau menjitakku Naru-kun!?" seru Ino dengan mata berair sambil menggosok kepalanya yang benjol akibat dari kujitak tadi.

Aku menghela nafas mendengarnya. Apa dia tidak meliat situasi yang tak menguntungkan bagiku. "kau membuat mereka salah paham." Merasa bersalah, aku mengelus kepalanya. Tapi, bukannya membenarkan kata-katanya sebelumnya, dia malah memejamkan mata tersenyum menikmati elusan dikepalanya.

"Duak!" kembali, aku memukul kepalanya. Akibatnya kepalanyapun langsung keluar benjol 2 tingkat.

Dengan mata yang mulai berair lagi ia berkata kembali. "Itai, kenapa kau memukulku lagi! Itu kan memang benar, kita biasanya melakukan latihan dan setiap kali kita melakukannya aku sangat menikmatinya." Aku yang mendengarnya tersenyum. 'Sepertinya kata-katanya kali ini benar.' Ujar innerku tersenyum puas.

Kiba makin melebarkan senyumnya. Tapi, senyuman itu malah makin mencurigakan. Aku menyipitkan mataku. "Kau hebat Naruto-sama, menganggap hal seperti itu sebagai latihan." Ujarnya membuatku langsung menjatuhkan rahangku terbengong dengan mulut terbuka. Aku tarik kata-kataku yang mengatakan Ino kali ini benar. Sebaliknya, ini benar-benar kacau.

Akeno-san terkekeh melihatku yang semakin terpojok. Sepertinya dia tahu apa yang dikatakan oleh Ino dan dia tidak mau ikut campur. Sialan!

.

.

.

Ting!

Sasuke langsung melesat kearah Itachi begitu ia menghindari kunai yang dilempar oleh kakaknya itu. Matanya melotot melihat Itachi yang sudah tidak ada pada tempatnya digantikan oleh kobaran api. Instingnya mengatakan ada bahaya dari depan. Diapun melihat itachi dari depan sedang menghunuskan gagang pegangan dari pedang pendeknya. Karena tidak memungkinkan untuk menebasnya dengan katananya atau melakukan salto ke belakang akhirnya dia melakukan salto ke depan melangkahi tibuh kakaknya itu.

Tapi, itulah yang direncanakan Itachi. Ia tanpa menunggu jeda langsung menghujamkan sisi bilah pedangnya kearah belakang. Tepat ketika sasuke baru menapaki tanah, perutnya langsung tertusuk dari belakang. Mencabut pedangnya, Itachi melesat kedepan menjauhi sasuke yang tengah meringis. Luka itu dengan lambat mulai meregenerasi.

Wajah Sasuke mengeras dari tangan kanannya yang tidak memakai senjata Ia mengeluarkan listrik berbentuk pisau. "Lightning blade..." gumamnya dengan mata menatap tajam kearah kakaknya.

Itachi yang melihat itu juga mengeluarkan gumpalan api dan memadatkannya ditangan kirinya yang juga tidak menggunakan senjata. "Fire Hank..." gumamnya menatap datar kearah adiknya. Itachi langsung melesat kearah adiknya diikuti Sasuke yang juga melesat kearahnya.

Kedua jurus itu berbenturan. Namun, api Itachi melahap petir Sasuke menyebabkan tangan sasuke langsung menjadi gosong terbakar.

Merasakan hal itu, Sasuke meringis kesakitan. Ia berfikir 'aku tidak bisa menggunakan petirku kepadanya. Shit!'. Lalu tiba-tiba ia mengingat pertarungan antara ayah dari Naruko, Minato-sama dengan orang tua kekar berwajah sangar dengan gaya rambut yang ditarik kebelakang. Orang tua itu menggunakan listrik ketubuhnya untuk mengatasi kecepatan dari ayah Naruko. Ia menyeringai "begitu ya... akan kucoba pada tangan kananku..."

"dhuar!"

"argh!" teriak Sasuke merasakan tangan kanannya sekarang malah menjadi tambah gosong. Memanfaatkan kejadian ini, Itachi langsung melesat dan berduel pedang dengan Sasuke. "Shit!" umpatnya. 'kenapa listrik tak mau berisonansi dengan tubuhku. Aku telah menggunakan listrik ketu- tunggu, aku menggunakan listrik ketubuhku? bukankah itu sama saja dengan bunuh diri. Lalu, apa yang dilakukan oleh tua bangka itu? Dia menggunakan listrik sebagai energinya.'

"Ada apa Sasuke? Sampai disinikah kemampuanmu?" tanya Itachi disela-sela serangannya.

'jangan-jangan, shit! Jadi begitu, dia menggunakan energi didalam tubuhnya tanpa melepaskannya dan merubahnya menjadi listrik. Lalu mengalirkannya keseluruh tubuhnya.' Sasuke yang tengah memikirkan tindakan apa yang akan ia lakukan langsung buyar karena-

"Jrash!"

"Ak," Sasuke meringis merasakan perih dikakiya karena telah menjadi korban tebasan kakaknya.

Itachi memandang datar kearah adiknya dan berujar. "Saat bertarung, jangan biarkan pikiranmu pergi kemana-mana, itu mungkin akan membuatmu lengah seperti barusan."

Sasuke mengabaikan apa yang dikatakan oleh kakaknya dan memilih untuk menutup mata dan mengatur nafas untuk menenangkan tubuh. 'konsentrasi...' hal ini tentu saja membuat Itachi menaikkan sebelah alisnya. Lalu, tiba-tiba Sasuke membuka matanya dengan melotot dan Aura listrik tiba-tiba menyeruak dari tubuhnya.

Itachi kaget melihatnya. "i-ini..." gumamnya seraya memasang kuda-kuda bertarung. Ia semakin kaget merasa adiknya telah sampai disampingnya dengan menyeringai seraya menebaskan katananya dari arah belakang tubuh Itachi. Tidak mau kehilangan kepalanya, Itachi tentusaja langsung menunduk menghindari tebasan katana Sasuke sambil menusukkan pedangnya kearah perut Sasuke yang memilih untuk mundur kebelakang menghindari serangan Itachi. Itachi tanpa membuang jeda langsung kembali menyerang sasuke dan kembali melakukan duel berpedang. Sasuke dalam hal kecepatan lebih unggul dari Itachi. Sebaliknya, Itachi sangat jauh lebih unggul dalam hal kelincahan, tekhnik, jurus, sihir, reflek, dan ketenangan serta pertahanan ketimbang adiknya yang terkesan tidak sabaran.

Dalam beberapa dentingan pedang saja, Sasuke berkali-kali hampir menjadi korban tebasan Itachi.

"Jrash!" tapi, sepandai pandai tupai melompat, ia akan jatuh juga. Sasuke yang terus mengelakpun terkena tebasan pedang pendek Itachi.

Tapi, ketika Itachi hendak mendekati Sasuke, Sang adik berujar "Balance Breaker : Susanoo Armor." Membuat Itachi terkejut dan terpental oleh gelombang kejut Balance Breaker milik Sasuke.

"A..., begitu, jadi pedangmu merupakan Sacred gearmu." Ucap Itachi setelah mendarat dengan cantik (:v) dan melihat sasuke yang dalam mode Balance breakernya berupa pedangnya yang mengeluarkan aura ungu membentuk armor ungu transparan seukuran tubuhnya dan menutupi tubuhnya.

"Ini adalah Sacred Gearku, susanoo."

Itachi menyeringai mendengarnya. "mari kita lihat, bagaimanakah kuatnya Sacred Gearmu itu." Gumamnya seraya kembali memasang kuda-kuda bertarungnya kembali.

"Akan aku ambil kepalamu!" teriak Sasuke melesat kearah Itachi dengan katananya yang ditebaskan vertikal kebawah.

Begitu sasuke sudah siap membabatnya, Itachi dengan tenang menusukkan pedang pendeknya. Namun, pedang itu tidak ditusukkannya kearah Sasuke, melainkan kearah pedang sasuke yang membuat tangan sasuke langsung terpental kembali. Hal ini membutuhkan akurasi yang sangat tepat. Dan Itachi telah melatih tekhnik berpedangnya dengan Ino.

Dengan mementum itu, Itachi tidak membuang kesempatannya. Dia langsung menebaskan pedangnya dari kanan tubuhnya kearah kiri bermasuk membabat kepala adiknya itu. Namun, sasuke menanggapinya dengan menyeringai percaya diri bahwa armornya dapat menangani senjata Itachi. Namun, itu adalah tindakan yang salah. Dengan cepat, kepala Itachi berubah menjadi tengkorak yang tebakar Pedangnya pun memanjang dan terbakar juga. Sasuke melihatnya langsung menundukkan kepalanya menyelamatkan kepalanya dari tebasan maut kakaknya. Tindakannya berhasil mengamankan kepalanya, namun tidak dengan tangan kirinya yang membawa pedang. Tangan itu terpotong telempar kearah kanan Sasuke.

"Jrash!"

"Haaaa!" Sasuke menjerit dengan keras takdapat merasakan tangan kirinya. Yang ia rasakan hanya rasa sakit di tangan kirinya akibat terpotong tadi. 'kenapa? Kenapa aku tak dapat mengalahkannya!' jerit innernya merasa sedih dengan dirinya yang tak dapat mengalahkan kakaknya itu. Sebelum ia kehilangan kesadarannya, ia samar-samar melihat kakaknya yang sudah dalam human modenya sedang menatap khawatir kearahnya. "Ita-nii.." gumamnya lalu setelah itu ia kehilangan kesadaranya.

Itachi yang terkejut mendengar sebutan masa kecil Sasuke kepadanya. "S-Sasu-chan..." gumamnya dengan wajah melembut.

Tidak tega melihat adiknya dalam keadaan mengenaskan tersebut, ia langsung berucap dengan lemas. "Senpai kembalikan kami ketempat semula."

Mereka berdua beserta tangan putus Sasukepun tiba-tiba ditelan oleh suatu lubang dengan putaran spiral transparan.

.

.

.

Kembali kerumah Naruto

Itachi yang baru saja keluar dari pusaran spiral mengabaikan beberapa pasang mata yang menatap kagum kearahnya dan berjalan dengan gontai dan dengan wajah kusut kearah kamarnya. "terimakasih, Kakashi-senpai." Ujarnya tanpa menghentikan jalannya.

Orang yang dipanggil sebagai senior tadi menganggukkan kepalanya. "ya, Itachi." Balasnya. Ia adalah seorang pria menggunakan masker yang menutupi mata kirinya. Matanya yang hanya setengah terbuka berwarna hitam dan rambutnya melawan grafitasi agak kedepan. Ia menggunakan kemeja hitam dan celana panjang berwarna hitam pula. Eiiit, satu lagi, ia membawa novel echi-echi paradise juga wkwkwkwk (:v). Nama lengkapnya adalah Kakashi Hatake.

"Itachi-nii, kau terlalu berlebihan." Ujar Naruko yang sama sekali tak ditanggapi oleh sang empu. Merasa di acuhkan, dia berniat untuk mengejarnya namun dicegah olah Kakashi.

"Ojou-chan, jangan... biarkan dia menenangkan dirinya."

Naruko menurutinya dan memutuskan untuk menenangkan salah satu bidaknya yang tengah menangisi Sasuke dalam diam.

"Hinata-chan, tenang ya, ayo kita obati Sasu bersama-sama." Ujarnya seraya mengelus kepala bersurai Hitam itu.

"Arigatou, Ojou-chan..." ujarnya dengan senyum lembut tapi mata lavendernya masih menatap sendu kearah Sasuke. Nama lengkapnya adalah Hinata Hyuuga, merupakan putri dari salah satu keluarga bangsawan di underworld. Namun, dia kalah pamor dengan kakaknya, Neji Hyuuga. Tetapi, ia tidak dapat menyalahkan bahkan membencinya karena kakaknya itu sangatlah menyayanginya. Ia memiliki mata lembut berwarna lavender, wajah cantik manis, rambut hitam berkilau yang panjangnya sampai punggung dengan poni datar di dahinya, tubuhnya sama dengan Naruko namun tidak dengan dadanya yang sama besarnya dengan milik Ino (:v). Ia menggunakan jaket lavender dengan warna putih di bagian lengan jaket tersebut, lalu ia juga menggunakan celana jeans berwarna hitam.

"Tadaima!" terdengar suara dua orang dengan nada berbeda dari arah depan rumah.

Naruko yang merasa familiar dengan suara ini langsung bersemangat menuju kearah pintu depan yang tengah dibuka oleh seseorang. Dan benar saja, setelah pintu itu dibuka, wajah cantik Ino dan wajah mengerikan Narutopun mulai terlihat. "Okaeri, Onii-sama, Onee-chan!" seru Naruko dengan terharu dan bersemangat.

Naruto yang melihat ada bencana datang dari dalam rumahnya langsung berkata. "Ittekimaasu!" ujarnya seraya membalikkan badannya. (beh, gak bener ini orang. Kenapa aku jadikan pemain utama ya.. -_-").

"Tak!"

Seketika, kepala Naruto benjol tujuh tingkat akibat terkena jitakan seseorang. Ketika ia menengokkan kesampingnya, ia melihat Ino tersenyum puas dengan hasil karyanya seolah mengatakan 'itu pembalasan yang tadi.'

Alis Naruto berkedut melihat senyum aneh itu. "oi, nenek sihir. Lu mau ane rebus?" tanya Naruto yang tiba-tiba mengeluarkan logat aneh.

"eh, pocong bermuka preman, emang gue pikirin. Lu mau rebus gue? Gue mutilasi lu." Balas Ino yang ikut-ikutan menggunakan logat aneh juga. (huuh, dunia memang aneh -_-")

Akhirnya merekapun malah beradu jotos bagaikan tom and jerry dengan debu yang menutupi perkelahian mereka. Perkelahian ini sangat mengerikan pemirsa, bahkan sampai menelan satu korban sakit jiwa bernama saudari Naruko yang tidak sepenuhnya tidak bersalah. Dan...

.

.

.

Bersambung...

Author Note :

Yey, akhirnya update lagi... wuuhuu! Kali ini dibumbui adegan action yang 'mungkin' menegangkan wkwkwkwk. Terimakasih karena telah membaca dan mereviez. Penulis mengerti betul kalau fict ini masih belum sempurna, jadi review ya... aku mau tau, tanggapan pembaca lebih lanjut. Oiya ini ada info tentang salah satu bidak Naruto :

Itachi Uchiha

Strength : A

Agility : S+

Speed : A

Defense : B

Accuration : S

Mage : EX

Element : Api, Tanah

Weapon Skill : Sword Skill (EX), Shooting skill (A+), Whipping Skill (S+)

Weapon : Assassin Sword

Ras : half Devil-Vampire, Dark Angel

Bidak : Mutation Bishop

Status :

Merupakan bidak Naruto yang sebelumnya memiliki ras Vampire. Dia di cap sebagai Traitor (penghianat) karena telah membunuh seluruh keluarganya kecuali Adiknya dan Ibunya. Tetapi adiknya sama sekali tidak tahu bahwa Ibunya masih hidup. Sekarang ia telah menyelesaikan S3 dalam bidang Matematikanya dan berniat untuk melamar pekerjaan sebagai guru di sekolah yang sama dengan Naruto bersekolah. Beberapa tahun sebelumnya ia melakukan kontrak dengan salah satu Malaikat yang menyebabkannya dapat berupah menjadi tengkorak yang di selimuti api.

Oke, sekian dulu ya, maaf kalo updatenya lama. Mungkin paling cepat updatenya seminggu, dan paling lama sebulan. Maaf kalau ada kesalahan, atau singgungan, jangan lupa review ya, Sumimasen...