Nerusin FF dulu deh, kemarin-kemarin gak bisa buka FFN soalnya


Perempuan itu bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum, "aku Mikuella Mealarania."

"Mealarania?" gumam Allen.

"Apa? Namaku aneh?" tanya Mealarania.

"Nggak kok," kata Allen cepat. "Ngomong-ngomong ... makasih udah nolong aku."

"Kamu udah bilang makasih dua kali," kata Mealarania, kemudian dia mengikik pelan. "Kamu susah, ya, ngucapin nama aku? Yasudah, panggil aku Miku."

"Ah, bukan begitu, hm .." Allen tak tahu harus bicara apa.

"Ngomong-ngomong, aku dari negara tetangga," kata Miku. "Aku ada perlu disini, dan ... kebetulan sekali aku bertemu denganmu."

Allen sedikit berpikir, "memang ada apa?"

"Bukan apa-apa, sih, aku hanya kebetulan lewat dan melihatmu dalam masalah, dan juga ..."

Allen melihat Miku terdiam. Dia terus memperhatikan sisik ular di tangan Allen dan juga di pipinya. Cepat-cepat Allen menutupi sisik ular di tangannya dan menunduk, agar Miku tak bisa melihat hal aneh yang seperti itu.

"Kenapa? Gak apa-apa kok," kata Miku.

"Aku ngerasa gak bisa ngasih lihat hal yang seperti ini," kata Allen.

Miku hanya menggangguk-angguk. Dia tak bisa memaksa Allen untuk memperlihatkannya sekali pun dia mau. Miku berpikir itu akan memberika kesan yang sangat buruk.

"Lalu itu buku apa?" tanya Miku.

Allen menatap Miku seraya mengerjapkan matanya beberapa kali, entah kenapa kalimat-kalimat Miku sangat sulit untuk di cerna sekali pun Allen tahu apa yang dibicarakan Miku.

Allen membuka buku itu lalu menunjukannya pada Miku. Dia terlihat kebingungan dan sangat sulit untuk membaca tulisannya.

"Huruf apa itu?" tanya Miku, dia terlihat seperti berpikir. "Yamatorant kuno?"

"Benar," jawab Sekki.

Mata Miku tiba-tiba berubah berbinar, dia seperti senang karena mengathuinya.

"Masih ada orang yang memakai huruf Yamatorant kuno, hebat sekali, padahal huruf itu terakhir kali digunakan 100 tahun lalu, kan?" kata Miku.

Allen merasa Miku itu aneh. Tapi kalau memang benar huruf itu terakhir kali digunakan 100 tahun lalu, kira-kira, sudah berapa ratus tahun Allen hidup?

"Berapa umurmu?" tanya Miku lagi, untuk yang kesekian kalinya.

Allen hanya menggelengkan kepalanya. Dia tak pernah tahu berapa umurnya. Apa itu akan benar-benar lebih dari 100 tahun? Sekarang Allen bingung.

"Aku gak tau," jawab Allen. "Kurasa, aku bukan manusia dan aku selalu lupa ingatan, jadi... aku tak pernah tahu itu."

"Tahu dari mana?"

"Buku ini."

Miku terlihat seperti dia sedang berpikir dengan serius. Andai saja Miku menuruti perkataan ayahnya untuk belajar tentang huruf yamatorant kuno, pasti Miku tak perlu banyak bertanya. Dan bagaimana pun juga, Allen tak akan menjawab semua pertanyaannya karena pasti dia akan curiga pada Miku.

Tapi ada satu hal yang membuat Miku penasaran. Allen dan sang Alois sangat cocok. Allen tak memiliki ingatan apapun, dia juga bukan manusia. Kalau misalnya mereka benar-benar cocok. Miku harus mengambil sesuatu dari Allen bagaimana pun caranya. Sesuatu yang ada di Allen bisa jadi sesuatu yang dihilangkan oleh sang Alois sebelum tidurnya.

"Jadi, kamu akan lupa semua hal yang terjadi hari ini besok?" tanya Miku. Allen terlihat tak ingin menjawabnya. "Aku berjanji ini akan menjadi pertanyaan terakhir untuk sekarang."

"Baiklah, tapi jawabanku adalah aku tak tau," balas Allen. "Yang ku tahu hanyalah semua yang tertulis di buku ini, aku tak tahu kapan aku akan kehilangan ingatan kalau aku tak bisa menemukannya di buku ini."

"Katakan padaku kalau kau bisa menemukannya," kata Miku dengan nada yang seperti memerintah.

"Mustahil," kata Allen. Jawaban yang membuat Miku sedikit terkejut. "Aku tak tahu siapa kau kan? Jadi, mustahil."

Miku mengangguk mengerti, sepertinya Allen tak ingin melanjutkan ini, "beristirahatlah, kau terlihat lelah karena terlalu banyak bercerita ... sepertinya. Tapi aku akan ada di luar jika kamu membutuhkan sesuatu."

Allen hanya mengangguk pelan seraya melihat Miku yang bangkit.

"Hei, Kenapa kamu sangat ingin tahu aku?" tanya Allen.

"Nggak, kamu hanya membuatku penasaran," balas Miku. Miku merasa bersalah karena berbohong, tapi Miku juga tahu bahwa Allen tak sebodoh itu.

Miku pergi keluar ruangan itu dan menutup pintu dengan sangat pelan.

Allen menghela nafas. Dia tak lega begitu melihat Miku yang aneh. Terlihat dengan jelas bahwa Miku sedang menutupi sesuatu. Allen sendiri tak terlalu tertarik dengan hal itu. Apapun itu adalah urusan Miku. Tapi jika yang dimaksud Miku berhubungan dengannya, Allen jelas tak akan diam.


"Allen, kau ada di dalam? Mandilah dulu!"

Jelas sekali Allen tak tahu siapa itu. Bukanlah suara Miku yang dia dengar, bukan juga suara ular besar yang tinggal di dekat rumahnya.

Allen perlahan membuka pintu. Masih sedikit. Seseorang sedikit terkejut melihat Allen, namun dia tersenyum ramah padanya beberapa detik kemudian. Penampilan anak perempuan itu tak jauh berbeda dari Xandra.

"Hai," sapa orang itu.

Allen memperhatikan orang itu. Pakaiannya masih lebih sederhana dari milik Miku, namun orang itu lebih terlihat seperti wortel dengan rambut hijau dan pakaian yang berwarna oranye.

"Ada apa?" tanyanya.

Allen masih sembunyi di balik pintu dengan menyembulkan sedikit kepalanya. Hidungnya bergerak-gerak. Mencium sesuatu yang manis dan segar dari arah perempuan itu. Anak itu mengikik pelan.

"Sesuatu tercium olehku," kata Allen.

Anak itu malah tertawa, "apakah aroma seperti jeruk? Miku menitipkannya padaku, Ngomong-ngomong, namaku Gumilla Tangerine, aku teman Miku, oh iya, kamu manggil dia apa? Mikuella? Miku? Atau ..."

"Miku," jawab Allen cepat lalu menutup pintunya.

Allen bersandar di balik pintu seraya menghela nafas. Anak yang bernama Gumilla Tangerine itu agak aneh memang. Dia terlalu bersemangat, bukan tipe orang yang disukai Allen. Dia lebih menyukai orang seperti Miku yang walau pun agak misterius tetapi tenang dan menyejukkan.

"Oke, maafkan aku, aku memang terlalu bersemangat," katanya.

Allen agak terkejut, seperti dia bisa membaca pikirannya. Dia mencoba membuka pintu pelan. Dilihatnya anak perempuan itu masih di tempatnya sejak awal.

"Oke, aku minta maaf, kamu boleh memanggilku Gumi," katanya—Gumi.

"Gumi?" gumam Allen.

"Nah, itu sudah bagus," kata Mikan. "Oh iya, kamu tak perlu bersembunyi seperti itu, aku teman Miku."

"Kemana dia?" tanya Allen pelan, masih di balik pintunya.

"Dia? Maksudmu Miku? Dia sedang pergi, dia memintaku untuk menyuruhmu mandi saat jam pasir ini sudah habis," jelas Gumi seraya menunjukan jam pasir ditangannya.

Gumi kemudian memutar-mutar tangannya. Sebuah percikan dari cahaya kecil membuat jam pasir itu menghilang.

"Ayolah, cepat pergi ke tempat pemandian di belakang," kata Gumi. "Aku sudah menaruh pakaianmu."

Allen hanya mengangguk pelan.

"Mah ... kamu malah diam," kata Gumi.

"Aku akan kesana jika kau pergi," balas Allen.

Gumi menatap Allen sebentar lalu pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Allen berusaha untuk pergi keluar tanpa melihat oeh Gumi. Dia tak begitu menyukai Gumi, tapi benar seperti itu kan?


Allen melihat dirinya di pantulan cermin. Pakaian yang disiapkan Gumi memang agak aneh. Tapi Allen tak begitu heran. Pakaiannya masih tak jauh berbeda dengan orang-orang lain yang ada di kota tadi siang. Mungkin hanya Allen yang berbeda.

"Bagaimana menurutmu?" kata Miku yang sudah kembali begitu Allen selesai.

"Gumi yang menyiapkannya?" tanya Allen.

"Tentu saja, maaf aku agak sibuk tadi," kata Miku.

"Dia agak aneh, ya?" kata Allen. Itu membukat Miku tertawa pelan.

"Oke, siapa yang aneh?" kata seseorang.

Allen sudah tahu dari suaranya. Dia segera bersembunyi di balik Miku dengan cepat.

"Hey, sebenci itu kah kau padaku?" tanya Gumi seraya menggembungkan pipinya. "Akuilah, kau suka itu."

Wajah Allen memerah dan Gumi merasa kalau dia menang.

"Ini aneh," kata Allen.

"Eeehhh, jelas kau hanya tak terima!" bantah Gumi.

"Kalian cepat akrab ya?" kata Miku.

Allen dan Gumi menatap Miku bersamaan dengan tatapan dari-mana-asalnya-itu.

"Allen itu pemalu, jadi biarkan ya?" tambah Miku seraya menengok ke arah Gumi.

Dan Allen segera mencengkram lengan baju Xandra kuat.

"Jangan bicara yang aneh-aneh," kata Allen pelan, mungkin hampir tak terdengar sedikit pun.

"Baiklah, bagaimana kalau kita makan malam?" kata Miku, berusaha untuk mengalihkan suasana yang tegang itu.

Gumi mengangguk semangat sedangkan Allen hanya menggelengkan kepalanya.

"Ayolah, bagaimana jika kita makan malam?" tanya Miku seraya berbalik untuk melihat wajah Allen.

"Aku tak perlu makan," balas Allen.

Gumi terlihat heran. Miku langsung memberinya isyarat agar Gumi mengingat apa yang sudah di ceritakan olehnya tentang Allen.

Allen merasa semuanya sudah tak nyaman lagi. Miku dan Gumi sedang menyembunyikan sesuatu. "Aku punya permintaan," kata Allen.

Miku dan Gumi saling bertatapan heran. Kemudian keduanya mengangguk untuk meyakinkan diri mereka.


Miku berpikir keras di samping jendela. Mengenai apa yang tadi Allen minta, kali itu dia terlihat lebih serius. Miku harus memikirkannya matang-matang. Jawabannya antara 'ya' atau 'tidak', tapi bahkan ini lebih susah dari pada belajar sihir ketika dia tak punya bakat untuk menggunakan sihir.

"Kau belum tidur rupanya?" kata seseorang.

"Ya," jawab Miku pelan.

"Aku cukup terkejut dengan kata-kata Allen," katanya. "Tapi bukankah tujuanmu untuk mendapatkannya?"

"Kupikir akan mudah, tapi, aneh sekali," jawab Miku.

Orang itu tak lagi bersuara, atau bahkan menghilang. Namun Miku tak peduli. Yang dia pikirkan hanya permintaan Allen. Jika dia mengiyakan keinginan Allen, bisa saja dia kehilangan Allen. Kehilangannya lagi untuk yang kedua kalinya. Dia masih tak ingin mendapatkan Allen dengan kekerasan seperti waktu itu.

Kalau dipikir-pikir, Miku tahu suatu mantra yang akan memudahkan jalannya jika ia kehilangan Sekki.

"Benar!" kata Miku pelan, namun agak bersemangat.

Miku memukul keningnya beberapa kali. Dia melupakan sesuatu yang sangat penting itu. Tapi, yang pasti, resikonya lumayan besar. Allen tak bisa di bodohi, dia cerdik.

"Kau sudah menemukan sesuatu?"

"Oh, kamu masih disana?" tanya Miku.

"Iya, kutanya lagi, kau sudah menemukan sesuatu?" kata orang itu.

"Tentu," jawab Miku.

"Apa keputusanmu? Membiarkan Allen pergi, atau kau mau mengurungnya?" tanya orang itu.

Miku diam. Benar katanya. Jika Miku berkata 'ya' itu artinya dia membiarkan Allen pergi, jika 'tidak' maka Miku akan menangkap Allen dengan gegabah.

"Yah, apapun keputusanku, aku akan mendapatkannya dan menyelamatkanmu, Alois."


Omelan Author

Myeah, lagi pusing gegara MOPDB, istirahat dulu sambil nerusin FF. Banyak banget tugasnya huee :''''

Terharus banget liat reviewnya /plok/ makasih deh buat yang udah baca dan yang udah review Hoho

Review minna?