bingung nih mau ngomong apa :3

lanjut aja deh yaa...

A Dokyeom Seventeen Fanfiction

V - SIGN PRESENT

Lee Seok Min / DK / Dokyeom as Park Joon Hee / Park Joon Ho

OC as Shin Hayoon

.

.

.

.

.

Author POV

Flashback: Hari dimana Hayoon mengunjungi pantai Taejongdae

SUMMER: 15 Agustus 2011

Seorang murid SMA Internasional Yongsan, Seoul, Park Joon Ho sedang bersandar pada dinding mercusuar sambil memejamkan mata. Kaki kirinya ditekuk untuk menjadi tumpuan tangan kanannya yang memegang buku tebal bertuliskan Bussinesman.

Namun ketenangannya terusik ketika mendengar pekikan seorang gadis berambut pendek, menggunakan dress putih selutut dengan kamera DSLR menggantung di lehernya. Ia adalah Shin Hayoon. Gadis itu terus memekik senang karena sudah lama tidak melihat pantai Taejongdae. Ia terus saja mengambil gambar berkali - kali. Namun tidak sadar jika seseorang yang sedang tertidur dibelakangnya merasa terganggu.

"Berisik sekali, kau tidak lihat aku sedang tidur ya?" Gumamnya namun sayangnya Hayoon tidak mendengar.

Joon Ho memutuskan untuk turun ke bawah saja agar bisa berbaring dengan tenang. Saat sampai dibawah ia mendongak memperhatikan Hayoon yang sedang memejamkan mata menikmati segarnya udara pantai disore hari. Sebagian rambut pendeknya tertiup angin dan menari - nari diudara. Joon Ho terdiam Sebentar. Kemudian mulai berjalan dibebatuan pinggir pantai mencari tempat paling sejuk dan mulai berbaring disana. Tak lupa menutup wajahnya dengan buku.

Beberapa saat berbaring ia merasa punggungnya sakit . Memutuskan untuk bangun kemudian terlebih dahulu membersihkan seragamnya dari pasir pantai yang menempel. Karena merasa lehernya kaku ia menggangkan otot - otot lehernya.

"Sayang sekali padahal cuacanya sedang bagus."

Joon Ho bangkit berdiri dan berjalan beberapa langkah sampai ia menyadari seseorang memperhatikannya dari atas. Ia tersenyum tipis. Itu gadis berisik tadi. Ia bahkan berani mengambil gambar Joon Ho.

Hayoon berjongkok menyembunyikan diri dibalik dinding pembatas. Untuk berjaga-jaga apabila Joon Ho melihat kearahnya. Hayoon masih punya rasa malu karena diam - diam mencuri potret seseorang. Ia menggigit bibir lalu tersenyum manis sambil melihat hasil gambarnya. Sempurna. siswa SMA tampan dengan latar belakang pantai Taejongdae yang indah.

Namun ia terlambat menyadari bahwa siswa SMA itu sudah mengetahuinya sejak tadi.

"Dasar pencuri." Ujarnya sambil tersenyum

"Nona Shin Hayoon-ssi..."

"Hayoon..."

"Hei, dokter galak berambut pendek..."

"Oh lihat risleting tas mu terbuka..."

"Jangan berdiri disan.."

Joon Hee terperanjat saat Hayoon tiba - tiba membalik tubuhnya dan melotot kearahnya.

"Sampai kapan kau mau mengikutiku?"

Karena mereka sekarang berada ditempat yang bising dan tidak ada seseorang yang lewat, Hayoon memberanikan diri bicara langsung dengan Joon Hee. Meskipun itu di depan proyek pembangunan sekalipun. Demi apapun Hayoon tetap tidak mau disangka gila karena kedapatan bicara sendiri

"Sampai kau mau mendiskusikan kesepakatan denganku."

Hayoon menarik nafas

"Dengar ya tuan hantu. Aku bukanlah seseorang yang mudah merasa simpati kepada orang lain apalagi hantu sepertimu. Jadi lebih baik kau cari orang lain saja karena aku... tidak mau membantumu... aku sangat sibuk. Semoga beruntung dan selamat tinggal." Hayoon menghentakkan kakinya dan berjalan menjauh.

Joon Hee hendak kembali mengejar Hayoon jika ia tidak mendengar suara seseorang berteriak dari atas. Ia mendongakkan kepalanya, terkejut saat melihat sebuah besi panjang yang digantung terikat oleh rantai, menabrak beton bangunan yang membuat rantai pengikatnya melonggar. Seorang pekerja bangunan yang mengantuk tidak sengaja menyalakan mesin.

"NONA CEPAT PERGI DARI SANA..." Sedetik setelah itu Joon Hee dapat memahami situasi yang akan terjadi

"Shin Hayoon..."

Narasi Joon Hee: Jangan takut, meskipun seluruh dunia membencimu, seluruh jalan terasa gelap dan berbahaya. Aku akan terus merangkulmu meskipun tanpa kedua tanganku sekalipun

BRAKKK

Terdengar bunyi bedebum keras. Hayoon merasa punggungnya membentur dinding bangunan. Seseorang menarik pergelangan tangannya dan melindungi kepalanya dari serpihan kaca yang bertebaran di udara. Ia mendongakkan kepala dan terkejut mendapati wajah pucat Joon Hee hanya berjarak beberapa centimeter dari wajahnya. Ia terpaku menatap mata Joon Hee. Jantungnya berdetak cepat entah karena ketakutan atau berada sedekat ini dengan seorang pria.

"Kau... baik - baik saja? Sudah kubilang jangan berdiri disana kan!"
Keningnya berkerut

"S...suara...suara apa itu?" Nafasnya tercekat.

Joon Hee menundukkan kepala. Kedua tangannya masih bertumpu disamping kepala Hayoon. Hayoon yang masih belum bisa memahami situasi melihat sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan tertimpa sebuah besi panjang. Sebagian besi itu menutup jalan yang dilewati Hayoon. Mobil itu sudah hancur. Para pekerja proyek pembagunan sudah berhamburan keluar. Hayoon menutup mulutnya dengan kedua tangan. Terlihat sangat shock.

"Joon Hee-ssi... bagaimana kau bisa..."

Hayoon menatap Joon Hee yang terdiam, kepalanya tertunduk.

"Joon Hee-ssi... kau kenapa?"

Joon Hee mendongak. Tatapannya kosong

"...setiap berlama - lama dibawah sinar matahari...aku selalu merasa lemah..." Hayoon menyesal mengingat sedari tadi Joon Hee mengikutinya

"Joon Hee-ssi... bertahanlah."

Narasi Hayoon: Takdir seperti apa yang mempertemukan kita? Tanpa kusadari , kemanapun aku pergi. Sejauh apapun keadaan memisahkan kita...Aku selalu bertemu kembali denganmu...

"AAAARGHHH" Hayoon mendelik. Apartemennya sungguh - sungguh berantakan seperti kapal pecah.

"Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?"

Berjalan.

Menjambak rambut.

Duduk.

Dia melakukannya berulang kali.

Bahkan hampir lupa bagaimana cara mengambil nafas

Shin Hayoon memang tidak pernah tahu cara bersih - bersih

Tunggu... tunggu... Untuk apa ia sepanik ini, tidak seperti pacarnya yang akan datang berkunjung kan? Astaga...

KRIETT

"Masuklah..." Hayoon membuka pintu setelah sepuluh menit bergelut dengan apartemennya. Setengah berbisik pada Joon Hee yang sudah menunggunya diluar. Bahkan hampir pingsan.

"Maaf aku tidak biasa menerima tamu." Joon Hee perlahan mencoba duduk di salah satu kursi ruang makan.

"Sudah merasa lebih baik?" Joon Hee mengangguk meskipun masih lemah, memalukan sebenarnya terlihat lemah dihadapan seorang wanita

"Sungguh? Tidak ada satupun orang yang pernah datang? Bahkan hantu selain aku?"

"Kecuali bibi yang tinggal disebelah. Tapi bagaimana kau bisa melakukan itu? Menyentuhku padahal kau kan hantu?" Hayoon duduk di depan Joon Hee sambil menggigit roti isi. Ia lalu memandang rotinya sebentar kemudian mengaku merasa bersalah pada Joon Hee karena memakan rotinya sendirian

"Kalau kau merasa bersalah bagaimana jika aku masuk kedalam tubuhmu dan makan sepuasnya." Hayoon tersedak. Joon Hee mengangkat bahu acuh

"Kurasa aku harus pakai jimat mulai sekarang..."

"...Ada seorang kakek tua di rumah sakit yang mengajariku cara menyentuh benda - benda tertentu. Dia bilang aku hanya bisa melakukannya jika aku berkonsentrasi penuh dan tidak emosi. Jujur saja yang tadi itu pertama kalinya dan berhasil."

Hayoon menunduk kemudian menatap lurus bola mata Joon Hee, ia menggigit bibir merasa menyesal karena bersikap kasar, "Sesungguhnya aku tidak berniat tidak mau membantumu, melihat kau berusaha dengan keras memohon padaku apalagi saat kau mencoba menolongku tadi... aku sungguh minta maaf dan terima kasih Joon Hee-ssi."

"Jadi... keputusanmu?"

"Ya... aku akan berusaha..."

"...dan satu hal lagi... bisakah aku sementara tinggal disini? Di rumah sakit banyak sekali hantu wanita yang menggangguku." Joon Hee mengangkat lengan kirinya sedikit merapikan gaya rambutnya yang berantakan

"... Seingatku tadi aku hanya bilang akan berusaha... bukan benar - benar akan membantumu..." Joon Hee melipat tangannya.

"Aku tidak butuh makanan, tempat tidur, kamar mandi dan pasokan oksigenmu tidak akan berkurang, apa masalahnya?" Hayoon menghela nafas lalu memijat kening

Sampai kapanpun ia tidak akan bisa menang berdebat dengan pria keras kepala ini.

"Terserah kau saja. Tapi kau tidak boleh melanggar daerah privasiku seperti kamar dan toilet, jangan mengikutiku lagi dan jangan gunakan barang - barangku untuk percobaan menyentuhmu itu! Satu lagi... jangan pernah mengajakku bicara saat aku bersama orang lain kau mengerti?"

Joon Hee menganggukkan kepalanya mengerti lalu memperhatikan detail ruangan apartemen Hayoon. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga. Cukup untuk seseorang yang tinggal sendirian. Hanya ada satu kamar. Dan juga dapur dilengkapi kulkas berukuran sedang. Tapi tidak ada ruang tamu karena Hayoon jarang menerima tamu. Setiap lantai selalu dilapisi karpet karena ia benci kedinginan. Dan sekarang Joon Hee duduk di kursi meja makan berhadapan langsung dengan kamar Hayoon. Joon Hee berdehem.

"Baiklah, kalau begitu aku juga punya persyaratan..."

"...APA? KAU BERANI..."

"...jangan melarikan diri dariku karena aku tidak tahu harus mencari bantuan kemana lagi..." Hayoon tertegun

"B..baiklah.. kuharap aku bisa melakukannya." Hayoon melanjutkan lagi acara makan roti isi yang tersisa

Melihat Hayoon makan dengan lahap, Joon Hee hanya memperhatikan dan berfikir sesuatu, "Tapi... sungguh kau baik - baik saja? Kudengar kau penderita PTSD? Kau sudah cuci tangan?" Hayoon terkejut

(PTSD: POST TRAUMATIC STRESS DISORDER)

Ia terkejut bukan karena ketahuan belum mencuci tangan saat makan. Mendadak ia lupa kebiasaanya selalu mencuci tangan berulang kali saat sedang stress atau cemas berlebihan, apalagi ia tadi hampir mati. Selama ini Hayoon selalu tinggal sendirian. Mungkinkah kehadiran Joon Hee membuatnya merasa aman?

"Joon Hee... "

"Hmm?"

"Kurasa untuk kedua kalinya aku berhutang budi padamu..."

Hayoon menguap diruangannya sambil memperhatikan catatan pasien. Melelahkan menjadi dokter residen. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali tidur saat malam hari karena selalu berjaga di jam malam. Tapi bukan Hayoon jika ia mengeluh. Ia sangat bangga bekerja sebagai dokter apalagi seseorang memujinya kemarin.

"Untuk seorang wanita galak sepertimu, ternyata kau hebat juga." Gumam Joon Hee sambil melihat - lihat piagam penghargaan yang terpajang rapi di dinding

Hayoon menggelengkan kepala. Apa yang baru saja ia pikirkan. Kemudian menepuk pipinya yang entah kenapa terasa panas. Seorang dokter magang yang juga sedang berada di ruangan yang sama dengan Hayoon merasa terganggu oleh suara tepukan pipi. Dia adalah Seo In Young.

"Eonni... kali ini apa lagi yang mengganggumu?" Melihat In Young yang sedang santai sambil meminum kopinya. Hayoon berfikir ingin bertanya sesuatu. Ia mendorong kursinya agar berada tepat didepan meja In Young.

"In Young... apakah kau tahu kemana perginya seseorang setelah meninggal dunia?"

"Tentu saja pergi ke surga. Kenapa kau tiba - tiba bertanya seperti itu?" In Young mengernyit bingung

"Lalu jika seseorang itu sudah meninggal tapi ia tidak bisa pergi? Kenapa ia tidak bisa pergi?"

"Kenapa ya? Hmm... Mungkin karena seseorang itu masih ada beberapa urusan yang belum bisa diselesaikan atau memang dia belum benar - benar meninggal."

"Belum benar - benar meninggal?" In Young mulai mengerti arah pembicaraan Sunbae nya itu

"Eonni? Hantu mengerikan seperti apa lagi yang kau lihat? Kau selalu membuatku merinding." In Young mengusap lehernya merasa ngeri

"Dia tinggi, wajahnya pucat tapi tampan, dan juga punya tubuh yang bagus." Hayoon menerawang tanpa sadar

"Eonni, kau ngelantur lagi ya? Mana ada hantu yang tampan? Semua hantu mengerikan. Mungkin kau salah lihat, mungkin saja yang kau lihat itu Ahn Jae Hyun oppa." Inyoung berkata sambil tersenyum memandang foto aktor Ahn Jae Hyun yang terpajang dimeja kerjanya

Hayoon berpikir sejenak. Tepat saat itu ia melihat sesosok hantu anak kecil masuk menembus pintu ruang kerjanya yang tertutup.

"In Young. Kurasa aku butuh udara segar."

.

.

.

karena sebenarnya saya sudah menyelesaikan sampai bagian 7, saya mungkin akan upload 2-3 bagian dalam sehari hehehe... biar cepet fin gitu... \^^/

review puhleaseu :*