MY BOY – Chapter 2
Multichapter fanfic
Pairing: Abarai Renji x Soi Fon
Genre: Drama. Romance. Hurt/Comfort. Angst?
Rate: T
Warning: OOC, Crackpairing, typos, alternate universe.
Disclaimer: Kubo Tite-sensei.
.
.
.
MONOCHROME
Soi Fon masih dengan kegugupan yang luar biasa. Panik, takut, dan keberanian diri yang nyaris membeku. Ini adalah sesuatu yang aneh –yang sangat ganjil yang pernah ia alami. Dan juga, ia sangat tidak menyukainya! Sangat tidak ingin hal ini terjadi.
Dipeluk oleh sesama wanita –dengan mendengar sebuah kalimat penuturan yang mencurigakan, hanya membuatnya merasa semakin kalut. Ini samasekali tak pernah terbayangkan di otak Soi sebelumnya.
Gadis mungil itu menghela nafas, mencoba menetralkan hembusan udara lewat hidungnya yang mulai memacu dengan tidak tenang.
"Soi….. aku….sudah lama tertarik padamu, semenjak kau masuk sekolah ini…" bisik Yoruichi pelan di telinga Soi Fon. Nafas gadis senior itu terasa hangat, namun hal itu samasekali tidak membuat Soi Fon merasa nyaman. Ia hanya merasa bahwa ia-sangat-tidak-ingin-diperlakukan-begini oleh Yoruichi-senpai.
Dipeluk oleh sesama wanita dengan intensitas visi yang menyimpang adalah sesuatu yang gila.
Mungkin jika kau dipeluk oleh teman wanitamu, saat kalian sama-sama menangis haru atau sedang bersedih, itu adalah hal yang wajar. Atau, jika teman wanitamu akan menikah, dan kau sebegitu merasa bahagia karena kabar baiknya itu, lalu kau memeluknya –itu normal-normal saja.
Tetapi, memeluk sambil membisikkan sebuah ucapan ketertarikan? Itu –menjijikkan. Trust me. Ini adalah perihal mengenai gender yang sama. Yoruichi dan Soi Fon, adalah sama-sama wanita.
"Ma-maksud senpai?" ucap Soi Fong di sela kegugupannya yang bertambah, di antara ketakutannya yang sudah hampir membunuhnya.
"Aku menyukaimu, Soi. Aku mencintaimu…" sebuah kalimat bisikan kembali mengalun tepat di sebelah telinga Soi. Dan rupanya kalimat ganjil itu masih belum selesai, masih ada lanjutannya.
"Jadilah kekasihku…." Bisik Yoruichi dengan kalimat super rancu itu. Sepertinya Yoruichi memang benar-benar seorang lesbian.
Soi Fon kembali menelan ludah. Kali ini tenggorokannya benar-benar terasa super tercekat. Tubuhnya semakin dingin. Dan oh –bahkan mungkin tangan dan kakinya sudah mulai gemetar karena takut.
Yoruichi menjadi semakin berani, apalagi karena melihat sikap Soi Fon yang tampak tidak melawan. Ia tidak tahu, jika sebenarnya juniornya itu sangat gugup dan merasa kacau. Ia tidak sadar jika telapak tangan Soi mulai terasa dingin, sedingin keringat yang sedikit mengucur dari tubuh gadis itu.
Dan kemudian gadis kelas tiga itu membalikkan tubuh Soi Fon untuk menghadap dirinya.
"Bagaimana jawabanmu?" tanyanya dengan nada cemas. Tapi sepertinya ia cukup percaya diri. Memperlakukan gadis itu dengan begitu mesra seperti ini tidak mungkin tanpa pemikiran panjang sebelumnya. Yoruichi selama ini berpikiran Soi Fon tidak mungkin menolaknya, karena ia bisa melihat bahwa gelagat gadis itu begitu positif, memperlakukannya dengan begitu baik.
Mereka memang seringkali bersama. Menghabiskan waktu berdua, dan juga saling mencurahkan isi hati. Oh, segala hal telah mereka bicarakan kecuali tentang –laki-laki. Yoruichi ingat, ia tidak pernah mendengar Soi menceritakan perihal ketertarikan kepada seorang lawan jenis.
Dan mungkin, hal itulah yang membuatnya berani berfikiran bahwa Soi juga sama seperti dirinya. Sama-sama memliki ketertarikan yang tidak normal.
Soi Fon hanya bisa diam, menatap wajah sang senior dengan ekspresi yang sulit digambarkan. Segala perasaan buruk dalam dirinya membaur menjadi satu. Ia juga memaki dirinya di dalam hati kenapa tidak bisa segera menghentikan peristiwa tidak menyenangkan ini.
Yoruichi Shihouin kini tampak mendekatkan wajahnya pada Soi Fong. Ia seolah tidak peduli dengan bibir gadis itu yang terkunci rapat. Sungguh, ia samasekali tidak peduli tentang banyak hal. Yang ia inginkan saat ini hanyalah –tujuan dirinya yang tercapai. Ia akan memiliki gadis itu sepenuhnya, mulai hari ini.
Kehangatan nafasnya pun mulai terasa di wajah manis Soi. Seniornya itu sepertinya akan benar-benar mencium Soi Fon. Wajah yang sudah sangat dekat, dan bibir yang sedikit terbuka –terlihat seperti sedang mencari lawan atau partner untuk saling merapatkan diri.
Dan ketika bibir mereka sudah semakin mendekat…
Bruuukkk. Yoruichi Shihouin terdorong dengan sangat keras, terjatuh dan terduduk pada lantai. Sontak menghentikan agresinya yang tadi tertuju pada bibir Soi.
Soi Fon, gadis itu –entah dengan keberanian dan kekuatan darimana, berhasil mendorong tubuh seniornya itu dengan keras. Cukup kencang dan bertenaga, sehingga perempuan berambut ungu panjang itu terjatuh hingga terduduk.
"Hentikan! Kau –kau menjijikkan, senpai!" ucap Soi Fong tegas. Dengan tubuh gemetar, ia berusaha mengumpulkan kekuatannya. Tubuh dan jiwa yang serasa membeku sedari tadi kini sudah berhasil ia kendalikan. Ia tidak akan bertahan lebih lama lagi dengan situasi seperti ini. Ia akan segera menghentikannya.
Soi Fon merasa sangat getir kali ini. Seniornya –seniornya yang begitu ia hormati ternyata adalah seorang lesbian! Dan parahnya, justru ialah yang dijadikan Yoruichi sebagai objek nista penyimpangan seksualnya itu.
Benar-benar menjijikkan. Ini sudah diluar batas. Soi tidak akan pernah lagi bertoleransi, menghormati dan menganggap Yoruichi sebagai seorang gadis yang ia kagumi. Segalanya akan berakhir di sini, pada hari ini.
Yoruichi Shihouin tersenyum kecil –sebuah senyuman yang sinis.
"Jangan menolakku, Soi. Aku tahu kita ini sama" ucapnya angkuh.
Soi Fon terperangah. Entah hari apakah ini, apakah sekarang bisa diproklamirkan sebagai hari sial untuk dirinya? Apa lagi namanya, jika bukan kesialan? Seniornya yang ternyata lesbian menyatakan perasaan, memeluk, bahkan hendak mencium bibirnya. Itu sangat gila.
Dan sekarang, wanita itu malah mencoba mengintervensi dalam situasi yang Soi rasa sudah bisa ia kendalikan ini. Soi pikir semua sudah berakhir, Yoruichi ia tolak –dan ia kira senior hebat itu akan urung melakukan atau berucap dengan sebuah lanjutan. Tapi ternyata?
Yoruichi masih menatap lekat Soi. Ada sedikit tatapan kemarahan dalam mata indah gadis kaya raya itu. Sementara Soi membiarkan nafas tak beraturannya menghiasi detik-detik di mana ia akan menjawab ucapan gadis Shihouin itu.
"Kau gila…. Aku –aku bukan makhluk kotor sepertimu! Aku ini normal!?" pekiknya sedikit tak terkendali. Ia harus menyebutkan sebuah kalimat penolakan. Setegas atau semenyakitkan apapun, dan Soi rasa itu tidak masalah.
"Makhluk kotor katamu? Dan kau bilang….kau itu normal? Ck. Jangan bercanda, Soi!" Yoruichi menggumamkan nada sindiran.
Kedua mata Soi Fon membulat. Seniornya ini memang benar-benar brengsek. Tidak jauh beda seperti dirinya yang kini nekat bisa berkata kasar. Soi sadar, ini pertama kalinya ia menjadi pribadi bermulut kotor seperti ini. Pertama kalinya.
"Aku-tidak-sedang-bercanda…." Desisnya pelan. Dan entah kenapa, rasa takut perlahan mulai merambati batinnya kembali.
"Dan aku, menolak permintaanmu, Yoruichi" lanjut Soi cukup tegas. Ia bahkan menolak untuk memanggil Yoruichi dengan sebutan senpai lagi.
Yoruichi tertegun. 'Soi Fon serius mengatakannya? Heh, apa gadis mungil ini memang sedang tidak bercanda? Baiklah kalau begitu..' Sebuah senyuman sinis lagi-lagi tampak pada wajah gadis itu.
"Kau pikir kau bisa lari dariku, heh?" sahutnya dingin. Sepertinya senior Soi Fon itu mulai marah dan tidak terima atas perlakuan kasar gadis itu.
Soi Fon memandangnya dengan tajam, berusaha mencerna apakah kalimat barusan itu adalah benar-benar sebuah ancaman.
Yoruichi mengancamnya?!
Dan tak ayal, gadis itu pun hanya bisa mengikuti isi hatinya. Soi Fon berlari, melesat dengan begitu cepat –secepat mungkin yang ia bisa. Keluar dari ruangan itu, dan terus membiarkan kaki-kakinya menhentak lantai kayu sekolah dengan cukup kasar. Ia ingin pergi dengan cukup lekas.
Ia akan pergi, ia harus lari dari psikopat cinta yang tidak normal ini. Berada lebih lama bersama Yoruichi hanya akan membuatnya mendapat pengalaman buruk. Ia harus pergi. Ia harus pergi!
.
.
.
"Ups!" desis Abarai Renji yang nyaris saja ditabrak oleh Soi Fon. Ia tanpa sengaja berpapasan dengan siswa itu ketika berlari di dalam lorong –hendak menuju anak tangga.
Soi Fon memperhatikan pemuda itu sejenak. Abarai Renji, teman sekelasnya. Laki-laki kapten klub basket dengan postur tinggi dan tubuh cukup atletis. Rambutnya cukup panjang dan berwarna merah, diikat tinggi di bagian belakang. Wajahnya hanya berada pada tingkat ketampanan rata-rata. Sebuah kemenarikan standar. Orangnya cukup dingin, tidak banyak bicara. Namun dari yang Soi Fong ketahui, Renji itu laki-laki yang cukup galak. Di balik sikapnya yang sebegitu cool, terkadang ia bisa berubah menjadi sosok yang suka bicara seenaknya, kasar, dan juga tergabung dalam kumpulan siswa-siswa bengal lainnya.
Soi Fon memang tidak cukup mengenalnya. Ia jarang –sangat jarang bertegur sapa dengan pemuda itu. Dan ia hanya bisa berterima kasih dari teman-temannya yang terkadang suka menginformasikan berbagai karakter teman sekelasnya kepada dirinya. Soi memang terkadang menjadi pengamat yang kurang baik –ia tidak cukup peka menilai orang lain. Apalagi jika mengenai sifat.
Oh, bahkan katanya Abarai Renji mempunyai tattoo. Di kedua bahunya, lengan berototnya, dan juga punggungnya. Entahlah, Soi Fong juga tidak pernah melihatnya secara langsung. Namun semua kengerian dari pemuda itu bisa teratasi dari prestasinya yang merupakan seorang bintang basket di sekolahnya. Setidaknya, Soi berpikir seperti itu.
Abarai Renji memperhatikan Soi Fon dengan cukup heran. Ia cukup kaget kenapa teman sekelasnya yang juga merupakan bintang kelas itu terlihat aneh kali ini.
Biasanya ia memperhatikan jika Soi selalu tampak ceria bersama kawan-kawan eksekutifnya. Bergaul dengan orang-orang dalam ruang lingkup yang eksklusif.
Gadis itu tampak pucat, dan sepertinya –tubuhnya gemetar. Berlari dengan begitu tergesa –dan nyaris menabraknya. Dan di mata Renji ini adalah hal yang tidak biasa.
'Memangnya kenapa gadis ini?' Batin Renji dengan penuh tanya. Ia bingung karena Soi Fon yang merupakan siswi terpintar di kelasnya ini terkesan bagaikan telah melihat sesuatu yang sangat ganjil dan mengerikan –hantu, mungkin? Pikirnya.
Soi Fon berlalu, meninggalkan Abarai Renji yang penuh tanya –dengan tergesa. Ia terus berlari, melewati Renji, dan terus sampai menuju anak tangga. Ia akan segera turun ke lantai bawah.
.
.
.
"He-hei! Hati-hati, bodoh!?" ucap Renji kemudian –karena kedua kalinya ia dikagetkan oleh perempuan yang kini menyenggolnya. Ia melihat Yoruichi Shihouin, tidak jauh berbeda dari gadis yang tadi juga hampir menabraknya.
Ada apa ini? Tadi Soi Fon, dan sekarang siswi kelas tiga ini juga tengah berlari seolah habis melihat hantu –sama seperti Soi. Bedanya adalah, wajahnya tidak tampak pucat.
Yoruichi menghentikan larinya, ia balik menatap Renji dengan kesal. Dan Renji balas menatapnya dengan jutek.
"Kau yang seharusnya hati-hati, tahu!?" maki Yoruichi tegas pada Renji –adik kelasnya itu.
Abarai Renji mengerutkan dahinya. Apa? Kesannya seperti Yoruichi sedang mengejar Soi Fong saja. Tadi ia hampir saja ditabrak oleh gadis keturunan China itu, dan sekarang? Ia disenggol oleh Yoruichi –siswi kelas tiga yang ceroboh ini.
"Minggir!" perintah Yoruichi pada lelaki itu. Entah mengapa, meskipun dongkol tapi Renji menurut saja. Ia menepikan dirinya yang bertubuh besar itu –dengan kemungkinan bahwa dirinya bisa menghalangi orang lain dari melewati lorong sekolah sempit tersebut.
Gadis itu pun melanjutkan larinya. Renji hanya memperhatikannya berlalu dengan alis yang masih bertaut.
'Dasar orang-orang VIP aneh!' Batinnya. Siswa-siswi yang pintar adalah orang-orang VIP yang menyebalkan. Setidaknya, begitulah pikir Renji.
Dan kemudian setelah mengalami tragedi kecil itu, Abarai Renji kembali dikejutkan dengan dua orang gadis yang tampak berbisik-bisik dengan heboh. Kedua gadis yang juga teman satu angkatannya itu tampak mencurigakan –tertawa-tawa kecil dan saling berkomentar dengan berisik. Meskipun sekali lagi, Renji tidak peduli dengan urusan orang lain.
Renji nyaris saja berfikiran bahwa para gadis itu sedang membicarakan dirinya, namun pemikiran itu urung karena ia sempat mendengar selentingan buah bibir para perempuan aneh itu.
Namun Renji benar-benar tidak peduli. Masa bodoh dengan segala hal, ia hanya ingin melanjutkan perjalanannya –menuju lokernya yang terletak di depan ruang kelas.
.
.
.
Hari berikutnya. Cuaca masih cerah. Kota Karakura memang belakangan menjanjikan situasi nyaman yang bisa membuat siapa saja merasa bahagia dan begitu beruntung untuk bisa hidup di dunia yang indah ini.
Sementara dalam sebuah sudut di SMU Seireitei, Soi Fong melangkahkan kakinya dengan kurang percaya diri. Pagi ini –di hari sepagi ini, pikirannya sudah begitu kacau. Terlalu berkecamuk. Amat banyak kekhawatiran di benaknya yang membuat dirinya seolah kehilangan jati dirinya.
Memangnya apalagi jika bukan karena peristiwa semalam? Ia takut –sangat takut jika mengingat peristiwa kemarin siang. Ia merasa jijik, dan hampir rasanya ia tidak ingin menginjakkan kakinya ke sekolah hari ini. Ia tidak mau bertemu dengan Yoruichi Shihouin.
Setidaknya ia beruntung, perbedaan kelas dan angkatan di antara mereka jelas akan menghambat terjadinya pertemuan tidak sengaja antara mereka berdua. Itu pun sudah cukup merupakan hal yang baik.
Soi Fon menghela nafas, berusaha memperbaiki ekspresi wajahnya yang sedari tadi tampak horror dan cemas. Ia berusaha menampilkan ekspresi ceria yang baik, namun jika hal itu gagal, tampil dengan wajah datar saja sudah cukup membanggakan.
'Semoga tidak ada seorang pun yang mengetahuinya'. Setidaknya itulah sebait doa yang sempat ia ucapkan ketika ia memasuki gerbang sekolah SMUnya.
Dengan kepercayaan diri yang begitu kurang, ketakutan yang menjalar, dan rasa was-was yang menyiksa. Sekali lagi Soi Fong berusaha menutupi itu semua dengan memasang tampang datar tanpa ekspresi. Ia berusaha menegarkan diri, bersikap biasa-biasa saja seolah samasekali tidak ada yang mengganggu pikirannya.
Dan semuanya itu nyaris saja lenyap ketika ia mulai memasuki ruang kelasnya.
Ia terdiam, menatap dingin pemandangan di depannya. Langkahnya terhenti dengan begitu jelas tatkala sampai pada jalur masuk kelas yang terbuka lebar itu.
Kedua bola mata gelapnya mengamati dengan seksama. Ia bisa melihat segerombolan teman-teman sekelasnya yang tiba-tiba terdiam dengan begitu signifikan ketika ia baru masuk ke dalam ruang belajarnya itu.
'Ada apa ini? Kenapa mereka semua –terdiam seperti itu?'
Ah! Raut wajah para siswa-siswi itu masing-masing mulai berubah satu persatu. Ada yang tersenyum. Ada yang memasang wajah ngeri. Ada yang berbisik-bisik. Ada yang menatapnya dengan pandangan meremehkan. Dan oh –ada pula yang tertawa dengan sangat lancar.
"Soi Fon si lesbian datang!" seru salah seorang teman sekelas Soi. Gin Ichimaru –pemuda bengal teman sepermainan Abarai Renji, rupanya. Soi Fon menelan ludah. Sepertinya hari ini ia akan menjalani hari yang berat. Bodohnya, ia samasekali tidak merasakan firasat buruk itu sebelumnya. Ini diluar perkiraannya!
Dan dalam beberapa detik kemudian, terdengarlah sorak sorai dari hampir semua teman-teman sekelasnya. Soi Fon hanya bisa terdiam, menelan mentah-mentah semua komentar yang didengar telinganya. Kebanyakan dari mereka adalah mencaci, menghinanya, dan mengomentarinya dengan ungkapan-ungkapan yang jijik.
Sungguh mengerikan. Jadi, begini rasanya menjadi bahan hinaan?
Soi memang sudah sering mendengar aplaus tepuk tangan yang meriah, atau sorakan kegembiraan selama ini –ketika ia acapkali memenangkan lomba pidato bahasa Inggris atau semacamnya. Tapi kali ini?
Dihujani dan dihujami kata-kata yang tidak sopan ternyata cukup menyiksa batinnya. Mentalnya tiba-tiba merasa sangat lemah.
Soi ingin menangis rasanya, tetapi ia berusaha menahannya sekuat tenaga.
'Tuhan, aku mohon selamatkanlah aku!'
Gadis itu kemudian memberanikan diri masuk, melangkah dan menuju tempat duduknya. Ia berusaha tidak peduli dengan teman-temannya yang sibuk menggodanya –menyorakinya dengan ucapan-ucapan kasar mereka.
Rupanya, rumor sudah tersebar. Entah bagaimana, dan entah dari siapa. Rupanya peristiwa semalam sudah menjadi berita hangat di sekolah hari ini. Kabar buruk itu menyatakan bahwa 'Soi Fon adalah seorang lesbian. Berpasangan dengan siswi kelas tiga Yoruichi Shihouin'.
Soi berusaha menenangkan batinnya berkali-kali. Seulas doa kecil untuk penguat dirinya tak henti ia ucapkan dalam batinnya. Ia hanya bisa pasrah, dengan otak yang sedikit berpikir mengenai semua kemungkinan ini.
Mungkin ada seseorang yang tengah memergokinya dan Yoruichi-senpai saat peristiwa kemarin. Mungkin saja. Namun ia samasekali tidak menyangka, siapa yang tega menyebarkannya sebagai sebuah fitnah.
Padahal, ia jelas-jelas menolak dan menghindari aksi Yoruichi-senpai, namun itu semua sia-sia karena sudah jelas ada beberapa oknum yang memanfaatkan aksi menyimpang saat itu untuk dijadikan sebuah pembicaraan hangat.
Gosip. Dan fitnah. Apa bedanya? Sebagian besar gosip biasanya berisi hal yang tidak benar. Tetapi masalahnya sekarang ialah, Soi sendirian melawan dunia. Teman-teman yang memandangnya dengan hina kini begitu banyak. Apa yang harus ia lakukan?!
Soi Fon hanya bisa meratapi nasibnya, berusaha untuk tetap kuat meskipun sebenarnya ia hampir tidak tahan.
Dan airmata sungguh tidak berguna saat ini. Soi lebih memilih berpura-pura kuat ketimbang membuat dirinya terlihat semakin lemah. Ia tidak akan menangis. Setidaknya –di depan orang lain.
.
.
.
T B C
A/N:
Gomen, alurnya lambat.
Ngomong-ngomong…ketika saya mengedit chap ini, saya baru2 saja menemukan fic yang pairingnya sama.
Kyaaa! Tak terkira senangnya hati saya.
Renji dan Soi sangat jarang saya temukan. Dan saya suka mereka.
RnR, minna?
Arigatou jika ada yang membaca karya ini.
