Stolen

By: Kei Tsukiyomi

^-^v

.

Author's Note: Halo~ saya kembali membawa sequel ff ini karena banyak yang minta dilanjutin. Ini bukan series ya, Cuma sequel, atau bisa juga Side Story. Baca aja deh.

Happy read ^-^

Warning: AU, OOC, Typos, Lil bit crime, gs jaejoong, dll DLDR!

Pair: Haehyuk slight Kyuhyuk&YunJae.

Disclaimer: Milik saya mwahahaha~

.

^-^v

.

Bunyi jari dan keyboard komputer yang beradu menjadi satu-satunya suara yang menggema di sebuah ruangan berdominasi warna putih dengan aksen sederhana. Tampak seorang lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan dan gagah tengah serius mengutak-atik data komputer dengan sorot mata serius. Mata musangnya yang terlihat tajam dengan seksama menulusuri informasi demi informasi yang di dapatnya guna mencari pencerahan. Bagaimanapun ia harus mendapat informasi. Harus! Ia harus menemukan anaknya tersayang yang telah diculik entah oleh siapa. Yang jelas sudah pasti itu salah satu mafia. Karena dalam penjagaan polisi yang begitu ketat tidak mungkin dengan mudah dia atau mereka bisa meloloskan diri dengan mudah, apalagi membawa puteranya.

Demi Tuhan!

Terhitung sudah 3 bulan dari kejadian penculikan itu dan sampai sekarang ia dan beberapa polisi lainnya termasuk Kyuhyun belum mendapat informasi apa-apa! Sama sekali! Hanya beberapa data yang tidak penting.

Jung Yunho, Kepala Polisi selaku ayah dari puteranya yang diculik hanya bisa menghembuskan nafas lelah. Ia memejamkan mata erat.

Kau di mana sekarang anakku? Apa kau baik-baik saja? Apa kau sudah sadar? Apa mereka menyakitimu? Kembalilah, nak! Eomma dan appa merindukanmu.

Sebulir airmata jatuh dari pelupuk mata kirinya. Walaupun dia seorang kepala polisi, dia juga manusia biasa yang bisa bersedih. Apalagi menyangkut keluarga kecilnya. Jaejoong bahkan semakin kurus dari hari ke hari. Istrinya itu hanya akan terus menangis bila menyangkut putera kesayangannya. Putera yang dicintainya. Jaejoong sudah beberapa kali jatuh sakit dan masuk rumah sakit. Kalau terus-menerus seperti ini ia takut akan kehilangan istri yang dicintainya itu. Tidak! Ia tidak mau kehilangan lagi!

Suara pintu yang diketuk menyadarkannya dari lamunan panjang. Yunho sedikit berdeham sebelum berseru menyuruh masuk.

"Anda terlihat kurang sehat pak kepala?" Yunho melirik Kyuhyun yang berdiri membawa map-map kasus di tangan kanannya. Lelaki itu juga terlihat kurang sehat. Kantung matanya menggantung mengerikan di bawah mata. Walaupun tidak mengurangi ketampanannya. Yunho tau Kyuhyun juga tak kalah frustasi darinya. Bagaimanapun ia sudah melihat sendiri semua usaha Kyuhyun untuk menemukan Eunhyuk. Status Kyuhyun sebagai tunangan Eunhyuk memperkuat semuanya. Kyuhyun sangat mencintai Eunhyuk, itu sudah rahasia umum. Yunho bersyukur Eunhyuk mendapatkan lelaki baik, bertanggung jawab, dan juga mencintai Eunhyuk dengan tulus. Pasangan itu akan menikah sebenarnya dalam jangka waktu dekat, tapi kecelakaan dan penculikan itu merusak semuanya. Yunho tau Kyuhyun pastilah menanggung beban yang sama berat selama ini, tapi lelaki itu dengan tegar menjalani semuanya tanpa banyak keluhan. Ia sungguh bangga dengan polisi muda ini.

"Ini data-data tentang penyerbuan di sebuah gudang bawah tanah, kemarin. Para pengedar narkoba itu sudah ditangkap hanya saja mereka masih tak mau membuka mulut mengenai bos mereka." Kyuhyun mengulurkan map-map yang dibawanya dan langsung diambil alih oleh Yunho. Mata musangnya mengamati isi dari data tersebut.

"Ah ya, 'Lucifer' berulah lagi," tambah Kyuhyun memecahkan keheningan. Yunho mengalihkan pandangannya dari map tersebut. Fokusnya tertuju penuh pada pemuda tinggi berambut cokelat ikal yang menatapnya serius.

"Jelaskan!"

"Mereka mencuri salah satu barang paling berharga di pelelangan bawah tanah yang diadakan di pusat kota, 2 hari yang lalu." Yunho tampak mengerutkan kening tanda berpikir.

"Besar kemungkinan mereka masih ada di Seoul saat ini. Cari informasi mereka sebanyak-banyaknya dan tangkap mereka!" Yunho menumpukkan kedua tangan di atas meja, menyatukan jemarinya. Memberi perintah dengan tegas. Kyuhyun mengangguk mengerti.

"Kau bisa kembali ke tempatmu. Ah, satu lagi. Kau juga harus istirahat dengan benar, kita pasti bisa menemukan Eunhyuk." Kyuhyun terdiam sejenak sebelum menyunggingkan senyum kecil. Ia kembali mengangguk sebelum beranjak pergi. Dalam lubuk hati terdalam ia mengamini. Betapa ia begitu merindukkan tunangan tercintanya itu. Bahkan setiap malam ia tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Bayang-bayang Eunhyuk selalu menghantuinya.

Baby, kau di mana sekarang?

.

.

.

Cahaya matahari yang menyelinap masuk dari celah ventilasi jendela membuat salah seorang pemuda manis yang tengah terlelap sedikit terusik. Ia menggeliat pelan, mencari kehangatan. Nafas hangat yang menerpa leher jenjangnya juga pelukan di pinggangnya yang mengerat mau tak mau membuat kelopak mata dengan satu lipatan itu terbuka perlahan. Iris hitamnya menemukan seraut wajah tampan tepat di depan wajahnya. Lee Donghae.

Pemuda manis berambut pirang bernama Eunhyuk itu tersenyum manis. Tangan halusnya terangkat guna meraba wajah tampan Donghae yang masih terlelap. Donghaenya memang sangat tampan. Berbulan-bulan tinggal bersama Donghae menumbuhkan perasaan yang begitu dalam bernama cinta yang kini bersemi di hati Eunhyuk. Ya, Eunhyuk mengakui ia telah jatuh cinta pada Donghae.

"Hae~" panggilnya pelan membangunkan Donghae. Mendengar suara halus yang menyapa gendang telinga berikut dengan rabaan yang terasa di wajah, Donghae menggeram pelan sebelum dengan cepat menangkap tangan Eunhyuk dan mencium bibirnya dalam. Eunhyuk yang tidak siap menerima serangan mendadak hanya bisa terdiam dengan mata terbelalak. Tangannya memukul dada Donghae yang bidang pelan saat kebutuhan oksigen menyapa. Donghae melepas ciumannya dan terkekeh pelan melihat rona merah yang sangat kentara dari wajah manis Eunhyuk.

"Pagi-pagi begini sudah menggodaku. Nakal, eh?" Donghae mengaduh begitu jemari lentik Eunhyuk mencubit pinggangnya keras. Bibir Eunhyuk mengerucut minta dicium. Dengan menggemaskan ia menggerutu tentang betapa mesumnya Donghae. Donghae menikmati setiap pergerakan bibir mungil yang tengah mengumpat panjang-pendek terhadapnya dengan senyum hangat. Senyum yang hanya ia berikan pada Eunhyuk seorang. Hahh… betapa beruntungnya ia bisa mengikat malaikat malang ini dengan iblis sepertinya. Dan keadaan semakin menguntungkan di pihak Donghae sebab bidadarinya ini hilang ingatan. Donghae menyeringai, memeluk Eunhyuk erat, menyusupkan wajahnya pada leher putih Eunhyuk dan menciuminya dengan kecupan seringan bulu.

"Kau milikku!"

.

.

.

"Kibummie, Sungmin Hyungie, kalian datang?" kedua lelaki yang disebutkan namanya itu langsung tertawa senang saat Eunhyuk melemparkan tubuhnya pada mereka, memeluknya erat.

"Aigo uri Hyukie tampaknya senang sekali kami berkunjung," ucap Sungmin tertawa. Sungmin dan Kibum baru saja masuk dan begitu dikagetkan kehadiran Eunhyuk yang tanpa aba-aba langsung memeluk mereka. Ahh, imutnya Eunhyuk ini.

"Lepaskan tangan kalian dari Eunhyukku!" Sungmin dan Kibum memutar bola mata malas mendegar nada suara yang begitu dingin lewat di lubang pendengaran mereka. Ckk, sifat posesif Donghae dari hari ke hari semakin parah saja.

"Iya-iya tuan pemarah."

"Ish Hae, aku kan masih ingin memeluk mereka," gerutu Eunhyuk sebal saat Donghae menarik pinggangnya menjauh dari Sungmin dan Kibum. Donghae tampak tidak peduli.

"Kau hanya boleh memelukku. Hanya aku! Ingat itu Hyukee!" terkadang Eunhyuk ingin sekali menendang Donghae karna sifat posesifnya yang diluar batas kewajaran itu. Sangat menyebalkan asal kau tau.

"Untuk apa kalian kemari? Jika tidak penting cepat angkat kaki dari sini!" apa-apaan ucapan lelaki berambut hitam kebiruan ini?! Sebuah perempatan siku-siku muncul di kening Sungmin dan Kibum. Sabar, harus sabar menghadapi iblis satu ini. Semenjak kehadiran Eunhyuk sifat menyebalkan Donghae semakin membuat banyak-banyak mengelus dada saja. Eunhyuk mencubit lengan Donghae dengan bibir mengerucut imut.

"Jangan bicara tidak sopan begitu, Hae!"

"Kami hanya ingin berkunjung. Donghae aku ingin bicara mengenai 'bisnis' kita sekarang juga," ucap Sungmin penuh penekanan. Donghae yang menyadari kode yang diberikan segera mengangguk paham.

"Hyukie kau bisa menyiapkan makanan sekarang, kami ingin membicarakan bisnis perusahaan." Donghae mencium kening Eunhyuk dan mengelus pipinya. Eunhyuk mengangguk riang, lagipula Eunhyuk samasekali tak tertarik dengan urusan bisnis. Ia berlari masuk ke dapur. Melihat Eunhyuk yang sudah tak terlihat lagi, Donghae mendudukkan diri di sofa biru diikuti Sungmin dan Kibum.

"Ada apa?"

"Para polisi itu berhasil menangkap salah satu bawahan kita, menurut informasi dia samasekali belum memberitahu apa-apa mengenai kita. Ya dia memang tidak tau tentang kita, dia hanya bawahan biasa." Donghae menyilangkan kaki mendengarnya. Wajahnya datar cenderung dingin.

"Bunuh dia!" perintah Donghae tenang.

"Kau yakin ingin membunuhnya?" Tanya Kibum menyandarkan punggung di sofa empuk itu. Donghae menyeringai jahat.

"Ya, bunuh saja dia. Tidak berguna. Ah, dan bunuh juga keluarganya yang mengetahui pekerjaannya sesungguhnya. Itu akan merepotkan kita suatu saat nanti bila tak dihabisi sekarang juga."

"Kau memang iblis sejati ya," seloroh Sungmin dengan gelengan kepala. Walaupun ia juga terekrut dalam organisasi mafia ini, sesungguhnya ia masih punya hati nurani yang masih bisa mengiba. Tapi Donghae benar-benar tidak punya hati, dengan entengnya ia bisa membunuh. Hanya kepada Eunhyuklah sifatnya berubah melembut. Penuh kasih. Dan berkat kehadiran Eunhyuk jugalah sifat Donghae mulai berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih baik. Hanya sifat pembunuh berdarah dinginlah yang masih belum berubah. Sepertinya membutuhkan waktu lama untuk merubahnya. Dan Sungmin yakin, selama Eunhyuk selalu berada di sisi Donghae, bukan tak mungkin sifat iblis Donghae akan menyusut bahkan menghilang. Betapa keberadaan Eunhyuk sangat berarti untuk Donghae. Sungmin dan Kibum bersyukur Donghae bisa menemukan dan jatuh cinta pada Eunhyuk walau ada rasa kasihan juga pada pemuda manis itu. Bagaimanapun ingatannya telah dimanipulasi oleh mereka. Kalau saja Donghae tak bertemu Eunhyuk, kalau saja Eunhyuk tak kehilangan ingatannya, mungkin saat ini Eunhyuk tengah bahagia bersama keluarganya. Sungmin mendesah dalam hati. Semoga Tuhan memberikan jalan terbaik untuk mereka.

"Jika tak ada yang dibicarakan lagi silahkan pergi. Pintu rumahku terbuka lebar."

"Dasar iblis!"

.

.

"Hei nona manis, sedang apa? Sedang membuat sarapan untuk suami tercinta ya?" Eunhyuk terkesiap kaget saat tangan kokoh melingkari pinggangnya erat, belum lagi hembusan nafas yang menerpa lehernya.

"Aku bukan nona dan kau bukan suamiku," jawab Eunhyuk acuh kembali meneruskan pekerjaannya menata makanan di meja makan.

"Aku suamimu, sayang. Setidaknya seminggu lagi." Wajah Eunhyuk merona heboh. Benar, seminggu lagi mereka akan melangsungkan pernikahan. Setelah melewati berbulan-bulan bersama, Eunhyuk mulai yakin dengan keputusannya menerima lamaran Donghae. Lagipula mereka memang akan menikah kan dulu?

"Istriku manis sekali eh, wajahmu merona sayang." Uhh… kenapa Donghae suka sekali menggodanya sih. Jantung Eunhyuk jadi kebat-kebit dibuatnya. Hahh… ia jadi merasa seperti remaja yang tengah kasmaran.

"Nghh Hae~" Eunhyuk melenguh pelan saat lidah Donghae bergerilya di lehernya. Satu lagi kebiasaan Donghae yang membuat kerja jantungnya meningkat berkali-kali lipat, sentuhannya yang memabukkan. Donghae memang tidak pernah berbuat jauh pada Eunhyuk, hanya kecupan dan jilatan sensual yang cukup membuat lutut Eunhyuk melemas.

"Hae… sudahh…" Donghae terkekeh mendengar suara rajukan Eunhyuk dengan sedikit desahan di dalamnya. Ingin sekali rasanya membawa pemuda manis ini ke kamar dan mencumbunya dengan penuh gairah. Tapi tidak sekarang, ia masih menghormati Eunhyuk. Lagipula semua akan indah pada waktunya. Sabar, Donghae.

"Baby, bagaimana kalau kita menikah sekarang juga?" Eunhyuk membulatkan matanya lucu mendengar permintaan Donghae yang kini tersenyum lebar padanya.

"Tidak mau!"

"Ayolah baby."

"Andwae!"

"Kalau begitu ayo kita lakukan malam pertama terlebih dahulu." Dan geplakan maut Eunhyuk tak terhindarkan untuk Donghae.

"Mana Sungmin Hyung dan Kibumie?"

"Sudah kuusir pulang."

"YA! Kau keterlaluan!"

.

.

.

Sore hari ini cukup sejuk karena mulai masuk musim dingin.

Eunhyuk duduk santai di sofa ruang keluarga. Di tangan kanannya terdapat susu stroberi dan di tangan kiri memegang remote tv. Di waktu luang seperti ini memang cocok dinikmati untuk bersantai. Menonton tv misalnya. Eunhyuk memijit remote guna mencari chanel yang menarik untuk dilihat dan ia tertarik dengan berita yang ditayangkan. Selama ini ia tidak pernah menonton berita karena Donghae selalu merecokinya atau sebut saja menggodanya. Saat ini Donghae belum pulang kerja, jadi ia bisa leluasa menonton.

Tepat saat melihat siaran berita yang menayangkan mengenai pelaku kasus Narkoba yang ditemukan telah mati, iris hitamnya terpaku pada satu figur di layar televisi. Entahlah, ia tidak mempunyai memori apapun tapi rasanya ia familiar dan sangat mengenal dengan figur itu. Seorang polisi lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah, rambut hitam pendeknya tertata rapi, mata musang yang terlihat tajam itu… tiba-tiba Eunhyuk merasa rindu untuk alasan yang tidak dimengertinya. Mata bulatnya reflek melebar dengan detak jantung yang berdebar kencang saat melihat seorang pemuda berseragam polisi yang datang dari arah belakang menghampiri laki-laki paruh baya tadi. Tubuh tinggi tegap, rambut ikal cokelat, kulit putih pucat, mata itu…

Eunhyuk memegang kepalanya saat sebuah bayangan samar melintas di benaknya. Mereka berdua tampak tak asing baginya, tapi apa? Ia tak ingat sama sekali. Eunhyuk tersentak kaget saat layar tv dihadapannya menghitam. Ia menoleh ke belakang dan menemukan Donghae sedang menatapnya dengan ekspresi tidak terbaca. Tanpa suara Donghae duduk di samping Eunhyuk, memegang jemari Eunhyuk yang masih memegangi kepala dan membawa tubuh ramping itu ke dalam pelukan hangatnya. Diciuminya puncak kepala Eunhyuk bertubi-tubi.

"Kau lelah baby, ayo istirahat, minum vitaminmu." Eunhyuk menurut saat Donghae mengangkat badannya ke pangkuan, membawanya ke kamar mereka. Onyx Eunhyuk dengan setia mengikuti pergerakan Donghae ke manapun. Pria tampan itu tampak aneh, tidak tersenyum menggoda seperti biasanya.

"Minum dulu vitaminmu, baby." Donghae mengulurkan beberapa kapsul vitamin dan secangkir air putih, tanpa penolakan Eunhyuk mengambil dan meminumnya. Eunhyuk melirik Donghae ketika tangan pria itu mengelus kepalanya.

"Ayo tidur, baby." dan Eunhyuk kembali menurut saat Donghae meraih tubuhnya untuk di dekap dan berbaring bersamanya. Donghae yang seperti ini tidak bisa ditolak.

"Hae~"

"Hmm?"

"Kau kenapa?"

"Tidak apa-apa, tidurlah baby. Ingat satu hal, jangan pernah menonton siaran berita tanpa aku di sampingmu, mengerti?" dahi Eunhyuk mengerut. Memang kenapa? Ia ingin bertanya tapi pertanyaannya tertelan kembali begitu melihat sorot mata sendu Donghae menatapnya dalam. Membuatnya tak berkutik. Dan pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk mematuhi permintaan Donghae.

.

.

.

Pagi hari telah tiba.

Eunhyuk tampak menggerutu di depan kulkas. Bibir merahnya terpout sempurna. Tidak, susu stroberinya tidak habis kok. Lantas apa yang membuatnya cemberut manis di pagi hari yang cerah ini?

"Baby kenapa kau meninggalkanku sendiri? Aku kesepian tanpamu." Eunhyuk sedikit terkejut saat tiba-tiba Donghae datang dan memeluknya dari belakang. Sudah bangun ternyata.

"Kenapa memajukan bibir seperti itu? Minta dicium?" goda Donghae dengan seringai yang mampu membuat para wanita rela berbuat dosa. Ia memajukan wajahnya mendekati Eunhyuk.

"Ish! Yak! Menjauh sana Donghae pabbo~" Donghae tertawa melihat reaksi Eunhyuk yang tidak pernah membuatnya bosan. Wajah Eunhyuk itu manis sekali.

"Aku mau menagih morning kiss ku dulu baby~"

"Kita belum menikah, tidak ada morning kiss!"

"Pelit."

"Wee…" Eunhyuk memeletkan lidah mengejek Donghae yang menekuk mukanya masam.

"Aish baiklah. Jadi kenapa babyku ini cemberut di pagi hari yang indah ini hmm?"

"Bahan masakan kita habis, Hae~" Donghae mengikuti arah telunjuk Eunhyuk. Benar, kulkas mereka hanya berisi makanan instan, beberapa minuman kaleng, dan susu stroberi. Tampaknya mereka harus berbelanja. Donghae tampak berpikir sebentar sebelum bertanya pada Eunhyuk.

"Kau mau ikut berbelanja? Kurasa kau juga butuh refreshing." Mata Eunhyuk berbinar cerah mendengar penawaran Donghae. Selama ini Donghae memang tidak pernah membawanya keluar rumah untuk jalan-jalan. Donghae bilang Eunhyuk tinggal sebatang kara selama ini, ia hanya memiliki Donghae, jadi tidak ada tempat yang bisa membantunya untuk mengembalikkan ingatan. Eunhyuk hanya bisa mengangguk pasrah ketika rajukannya untuk keluar rumah ditolak oleh Donghae. Dan selama ini mereka memang tidak pernah kemana-mana kecuali mengunjungi Sungmin atau Kibum. Tak ayal penawaran Donghae kali ini disambut gembira oleh Eunhyuk.

"Mau Hae~"

"Aku senang melihatmu tersenyum. Nah sekarang ganti bajumu!" Eunhyuk memekik girang dan langsung melemparkan tubuhnya pada Donghae. Memeluknya erat.

"Aku sayang Donghae hihi~"

"Aku lebih menyayangimu, baby."

.

.

.

Eunhyuk menekuk mukanya masam. Tangannya bersedekap di dada dengan kesal. Seharusnya Eunhyuk tau jika Donghae berbuat baik padanya pasti ada apa-apanya di belakang. Terbukti, sekarang Eunhyuk berada di salah satu salon terkemuka di pusat kota. Bukan salonnya yang ia permasalahkan, tapi permintaan Donghae yang membuatnya menjerit kesal. Bayangkan saja, setelah dari pagi berbelanja ke Supermarket hingga siang hari, Donghae berniat mengajaknya ke mall untuk membeli pakaian dan sekalian mencari referensi baju pengantin untuk mereka berdua. Tapi sebelum itu Donghae membelokkan mobilnya ke salon kecantikkan untuk merias Eunhyuk. Eunhyuk tidak menolak, malah senang. Ia mengganti warna rambutnya menjadi cokelat madu berponi seperti usulan Donghae. Ia terlihat semakin manis. Tapi yang tidak bisa diterimanya adalah sewaktu pria ini dengan tenang menyuruhnya mengganti baju dengan pakaian yang cukup feminim dan memakai wig cokelat panjang sebahu. Menyuruhnya menyamar menjadi seorang wanita. Apa-apaan!

"Aku tidak mau!" Eunhyuk menghentakkan kakinya dengan wajah memerah kesal. Kenapa ia harus menyamar? Eunhyuk kan bukan wanita!

"Ayolah baby," bujuk Donghae tidak menyerah. Mata Eunhyuk berkaca-kaca, wajahnya terlihat sedih memandang Donghae.

"Hae malu jalan bersama seorang lelaki sepertiku? Makanya Hae menyuruhku menjadi wanita?" Donghae menggertakan gigi marah mendengarnya. Dengan cepat pria itu membawa Eunhyuk ke dalam pelukannya.

"Jangan bicara seperti itu baby! Aku tidak pernah malu padamu. Tidak pernah! Sekarang dengarkan aku, kau tau kan perusahaanku sedang berada dipuncaknya?" Eunhyuk mengangguk dalam dekapan Donghae. Ia pernah sekali diajak ke Perusahaan Donghae dan menemani pria tampan itu di dalam ruangan seharian. Dan memang benar, Donghae disibukkan dengan berkas-berkas yang menumpuk. Cukup membuktikkan perusahaan Donghae sedang dalam masa kejayaannya.

"Banyak dari para pesaingku menggunakan cara kotor untuk menjatuhkanku. Aku bisa menghadapi mereka, tapi aku tidak mau kau terlibat dan terluka. Aku tidak mau baby. Aku menyuruhmu menyamar menjadi seorang wanita semata-mata agar kau terlindungi. Bukan untuk merendahkanmu." Iris hitam Eunhyuk kembali berkaca-kaca, kali ini karena terharu. Ternyata Donghaenya mengkhawatirkan dirinya. Bukan hanya iseng menggodanya seperti yang dipikirkan. Setelah cukup lama terdiam Eunhyuk membuka mulutnya.

"Baiklah, aku mau."

"Hm?"

"Aku mau memakai wig itu, tapi aku tidak mau memakai rok!" Donghae tertawa.

"Tentu saja tidak, sayang. Kau cukup memakai pakaian yang sedikit feminim. Lagipula tanpa wig dan pakaian wanita pun kau sudah terlihat cantik seperti Barbie."

"Ish Hae!"

Donghae menyeringai. Pengalihan, sukses!

.

.

.

Mereka berada di pusat perbelanjaan terkemuka sekarang. Tangan Eunhyuk tertaut manis dengan tangan kokoh Donghae. Banyak pasang mata melemparkan tatapan kagum ke arah Donghae dan Eunhyuk yang sungguh terlihat serasi.

"Hei lihat pasangan itu, mereka cocok ya."

"Wanita itu terlihat seperti Barbie, cantik sekali dan pria dengan rambut biru itu terlihat seksi sekali. Lihat ototnya, kyaa~"

"Mereka seperti Barbie dan Ken."

"Apa mereka sudah menikah?"

Eunhyuk yang tanpa sengaja mendengar bisik-bisik keramaian di sekelilingnya, menunduk malu. Ia memperhatikan Donghae yang berjalan santai di sebelahnya sambil menggenggam tangannya erat. Benar juga, Donghae tampak seksi dengan kemeja pas badan yang melekat di tubuh gagahnya. Otot-otot kekarnya tercetak sempurna. Eunhyuk sedikit mencibir begitu melihat para wanita di sekeliling mereka memperhatikkan Donghae dengan pandangan tak biasa. Uhh apa-apaan mereka itu? Donghae hanya miliknya! Donghae juga, kenapa harus memakai pakaian seperti itu sih!

"Kau kenapa, sayang?" sedari tadi Donghae memperhatikkan wajah manis Eunhyuknya ini terus memberengut.

"Hae genit!"

Apa? Apa Donghae tak salah dengar barusan? Dia? Genit? Perasaan dia tidak melakukan apa-apa. Bahkan ia mengabaikan orang-orang disekelilingnya.

"Hei-hei, kenapa kau bilang begitu sayang?" Donghae menghentikkan langkah kakinya melihat Eunhyuk yang mencebikkan bibirnya imut.

"Kenapa Hae memakai baju seperti ini? Para wanita itu jadi menatap Hae terus. Hae pasti berniat menggoda mereka! Hae genit!" ow-ow tampaknya Donghae tau kenapa barbienya ini bisa mengatakan demikian. Dengan seringai seksi ia merangkul pinggang langsing Eunhyuk dengan posesif dan berbisik tepat di telinga Eunhyuk dengan suara rendah.

"Cemburu eh?" rona merah itu langsung menghiasi wajah Eunhyuk sampai telinga. Ia mendorong Donghae.

"Siapa yang cemburu?!"

"Kau baby."

"Aku tidak!"

"Iya."

"Aku tidak cemburu Donghae jelek!" menghentakkan kakinya kesal, dengan cepat Eunhyuk berlalu dari hadapan Donghae.

"Hei baby, kau mau ke mana? Jangan cepat-cepat nanti kau tersesat," peringat Donghae pada Eunhyuk yang sudah tak terlihat.

.

.

.

Eunhyuk terus berjalan lurus, bibirnya terus bergerak mengeluarkan segala umpatan untuk Donghae. Hingga beberapa saat kemudian langkah kakinya terhenti saat sadar di mana dirinya sekarang. Eunhyuk menoleh ke belakang dan langsung panik karena tak menemukan Donghae. Di mana pria itu? Menoleh kanan-kiri tak juga melihat keberadaan Donghae. Menghembuskan nafas pelan, Eunhyuk mencoba berpikir tenang. Saat ini Donghae mungkin juga sedang mencarinya. Jadi yang harus ia lakukan adalah melakukan hal yang sama. Ia merutuk pelan karena bisa-bisanya tersesat. Eunhyuk memperhatikkan setiap orang yang berlalu lalang dengan teliti. Matanya berbinar senang saat samar-samar melihat surai kebiruan di depan sana, berbaur dengan beberapa pengunjung mall. Dengan cepat ia melangkah dan tanpa basa-basi menyusupkan jemarinya ke dalam genggaman tangan pria di depannya.

"Hae~"

Eunhyuk membeku. Itu bukan Donghae. Yang berdiri di depannya dan yang ia genggam ini bukan Donghae. Melainkan pria tinggi dengan rambut ikal cokelat, berkulit putih pucat dan bermata berwarna serupa dengan rambutnya. Pria itu tampak terkejut melihatnya.

"Hyukie?"

Kyuhyunie…

Sekelebat memori nama itu melintas begitu saja di benaknya. Membuatnya merasa rindu tiba-tiba. Pria ini sungguh familiar bagi Eunhyuk. Seperti sudah lama mengenal. Pria ini adalah pria yang sama yang dilihatnya di siaran berita kemarin. Apa pria ini salah satu bagian dari masalalunya?

"Hyukie? Kaukah ini?" pria ini serta merta langsung memeluk Eunhyuk dengan erat.

"Eunhyukie, syukurlah kau selamat, sayang." Eunhyuk masih membeku dengan mata berkaca-kaca. Kenapa rasanya sangat nyaman? Pelukkan ini terasa hangat dan ia merindukkannya. Sebenarnya siapa pria ini? Kenapa kehadirannya membuat Eunhyuk seperti ini?

"Ka-kau siapa?"

"Kau tidak mengingatku? Aku Kyuhyun, tunanganmu, Jung Eunhyuk!" Eunhyuk memegangi kepalanya dan sedikit meringis. Sekelebatan memori samar itu datang lagi, membuat kepala Eunhyuk sakit. Pria bernama Kyuhyun itu melepas pelukannya dan menangkup wajah Eunhyuk dengan kedua tangan kuatnya. Memaku onyx Eunhyuk agar melihatnya.

"Kau ke mana saja selama ini, Eunhyukie? Kami mencarimu selama ini."

"A-aku bukan Eunhyuk. A-anda salah orang, tuan," kata Eunhyuk dengan suara pelan. Ia ingat dengan ucapan Donghae. Donghae bilang, ia tak boleh memperkenalkan dirinya sebagai Eunhyuk pada orang lain. Alasannya sama seperti saat membujuknya menyamar menjadi wanita. Untuk melindunginya.

"Kau bukan Eunhyuk?!" Eunhyuk menggeleng, jantungnya berdebar resah begitu melihat binar mata Kyuhyun meredup. Jangan bersedih.

"Na-namaku Lee Hyukjae, Kyuhyun-ssi." Kyuhyun melepas tangannya dan memperhatikkan Eunhyuk dengan seksama. Hatinya tertohok saat harapannya pupus. Sepertinya benar ia bukan Eunhyuk. Dia wanita, bukan pria. Apa hanya kebetulan semata wajah mereka mirip? Tapi hati kecilnya mengatakan inilah Eunhyuknya. Tubuhnya merespon positif saat berdekatan dan menyentuhnya.

"Maafkan aku nona. Anda begitu mirip dengan tunanganku yang menghilang. Sekali lagi maaf atas kekurang ajaranku memelukmu seenaknya." Kyuhyun membungkukkan badannya membuat Eunhyuk sedikit panik.

"E-eh, tidak usah membungkuk seperti itu. Tidak apa-apa kok, Kyunie." Eunhyuk menutup mulutnya dengan kedua tangan saat panggilan itu meluncur mulus dari kerongkongannya. Kenapa ia bisa memanggil dengan panggilan kecil begitu saja?

"Maaf aku-"

"Tidak apa-apa, kau boleh memanggilku seperti itu. Sebagai gantinya, boleh aku memanggilmu Hyukie?" Eunhyuk tersenyum dan mengangguk. Senyum gusi itu… kenapa begitu mirip? Benarkah orang ini bukan Eunhyuknya? Batin Kyuhyun merana.

"Kau sendiri saja, Hyukie?"

"Tidak, aku bersama seseorang tapi aku tersesat dan terpisah sekarang, menyebalkan!" Kyuhyun tersenyum melihat Eunhyuk mempoutkan bibirnya imut.

Tuhan, mereka mirip sekali.

"Kalau begitu ayo kutemani mencarinya."

"Memang Kyunie tidak sibuk?" Kyuhyun menggeleng. Sebenarnya ia ke mall ini sedang bertugas memata-matai seorang lelaki yang dicurigai sebagai pengedar narkoba. Tapi kehadiran Hyukjae kini benar-benar mengalihkan atensinya. Kyuhyun tak akan melepaskan kesempatan ini. Biarlah rekan Kyuhyun yang meneruskan investigasinya. Hyukjae jauh lebih penting.

"Kalau begitu terimakasih. Ayo~" dengan gembira mereka berjalan mencari Donghae dengan obrolan ringan dan canda tawa. Entahlah, hati Eunhyuk terasa nyaman di dekat Kyuhyun. Seakan kegiatan bercengkrama ini sudah sering mereka lakukan.

Langkah kaki Eunhyuk spontan terhenti di depan stand aksesoris. Jantungnya berdebar kencang. Tempat ini seperti tak asing.

Kyunie aku mau kalung bentuk stroberi itu~

Iya, sayang. Ayo sekalian mencari gelang couple untuk kita pakai di pernikahan kita nanti.

Benarkah? Yeayy… Saranghae Cho Kyuhyun~

Nado Saranghae Jung Eunhyuk.

Eunhyuk memegangi kepalanya. Ringisan pelan keluar dari mulutnya. Kyuhyun yang semula melamun ke dalam bayangan masa lalu langsung menoleh melihat gelagat aneh Hyukjae. Ia langsung menangkup wajahnya.

"Hyukie kau kenapa?"

"Kepalaku sakit… hiks…" baru saja Kyuhyun ingin memeluknya, tubuh Hyukjae sudah tertarik ke pelukan orang asing yang tak dikenalnya. Kyuhyun mengernyitkan dahi begitu mendapat tatapan tajam dari lelaki yang kini memeluk Hyukjae.

"Hae~" Eunhyuk mendongak, menemukan Donghae yang memeluknya erat. Akhirnya Donghae menemukannya. Tapi kenapa wajah Donghae terlihat marah? Bukan padanya, tapi pada Kyuhyun.

"Kau tidak apa-apa, baby?"

"Kepalaku sakit…" eluh Eunhyuk. Donghae mengusap kepalanya dengan sayang.

"Ayo kita pulang." Eunhyuk mengangguk. Melepas pelukan Donghae, Eunhyuk sedikit membungkuk pada Kyuhyun yang sedari tadi memperhatikkan mereka.

"Terimakasih sudah menemaniku Kyunie, aku sudah menemukan Donghae." Eunhyuk ingin berbalik tapi tertahan saat tangan Kyuhyun menarik lengannya.

"Tunggu." Donghae menggertakan gigi marah melihat tangan itu begitu lancang menyentuh miliknya. Dengan kasar ia menyentakkan genggaman Kyuhyun.

"Jangan sentuh istriku!" Kyuhyun terkejut begitupun Eunhyuk. Nada bicara Donghae terdengar begitu dingin, bahkan aura yang dikeluarkan sangat menyesakkan. Tanpa sadar Eunhyuk mundur perlahan karena takut. Ini bukan seperti Donghaenya. Eunhyuk semakin takut begitu menyadari Kyuhyun membalas tatapan mata Donghae tak kalah dingin. Ada apa dengan mereka berdua?

"Bisa kau menjauh dari istriku?! Karena aku merasa terganggu dengan itu," ucap Donghae datar. Hazelnya lurus menatap iris cokelat Kyuhyun penuh aura mematikkan, tubuhnya gemetar menahan amarah. Suaranya seolah-olah bergema menakutkan.

"Maaf kalau begitu," jawab Kyuhyun tenang, tapi Eunhyuk menyadari ada getar kemarahan dari suaranya. Tidak mau berlanjut semakin buruk, Eunhyuk menarik lengan Donghae.

"Hae, ayo kita pergi saja. Sekali lagi terimakasih Kyuhyunie." Dengan berat hati Kyuhyun mengangguk walau jelas ia tak rela berpisah dari Hyukjae. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Hyukjae sudah menemukan orang yang dicarinya. Dan sepertinya lelaki berwajah dingin ini adalah suaminya. Tadi ia memanggil Hyukjae istrinya kan?

Donghae mengenggam jemari Eunhyuk dan segera berlalu dari sana. Sial baginya karena begitu membalik badan ia menabrak sepasang suami istri paruh baya.

"Maaf," ucap Donghae singkat, ingin segera melanjutkan langkah. Tapi langkahnya kembali tertahan.

"Hyukie, kaukah ini sayang? Hyukie, ya Tuhan, anakku kembali hiks…" mata Donghae melebar saat sadar siapa yang ditabraknya, orangtua Eunhyuk. Jung Yunho dan Jung Jaejoong. Sial! Kenapa bisa seperti ini?! Donghae kembali menggertakkan gigi marah melihat Eunhyuknya di pelukan Jaejoong. Yunho juga nampak terkejut melihat Eunhyuk. Tidak! Ia tidak akan menyerahkan Eunhyuk pada mereka. Eunhyuk miliknya! Hanya miliknya!

"Kau darimana saja, nak? Eomma merindukanmu sayang." Eunhyuk hanya bisa terpaku di tempat. Masih terlalu terkejut karena di peluk tiba-tiba. Belum lagi begitu melihat wajah kedua orang ini membuat kepalanya makin sakit. Rasa rindunya tak terbendung begitu saja tanpa peringatan. Airmatanya mengalir dari pelupuk mata indahnya.

Eomma… appa… hyukie juga rindu kalian…

Ingin sekali Eunhyuk membalas pelukan wanita paruh baya yang menangis sambil memeluknya ini. Ia tidak mau wanita ini menangis. Hatinya sakit melihat airmata yang mengaliri paras cantiknya. Belum sempat merealisasikan keinginannya, Donghae sudah terlebih dulu menarik tangannya. Memutus pelukan yang terjalin secara sepihak.

"Maaf anda salah orang, nyonya." Jaejoong dan Yunho terkejut dibuatnya. Jaejoong menggeleng keras dan hendak meraih Eunhyuk kembali ke pelukannya tapi terhalang Donghae yang menjauhkan Eunhyuk darinya.

"Tidak! Dia Eunhyukku! Kembalikkan anakku!"

"Dia bukan Eunhyuk! Dia Lee Hyukjae!"

"Tidak! Dia Eunhyuk anakku! Yunho lakukan sesuatu!" Yunho yang sedari tadi terdiam mengamati Eunhyuk mulai mengambil tindakkan. Ia raih tangan istrinya dan mengelusnya lembut.

"Boo, dia bukan Eunhyuk, lihat dia! Dia perempuan. Dia bukan anak kita," jelasnya memberi pengertian. Walau dalam hati kecilnya ia meneriakkan hal yang sama dengan istrinya. Tapi kenyataannya dia bukan Eunhyuk. Lelaki itu bilang namanya Lee Hyukjae kan? Dan jelas sekali Hyukjae itu perempuan. Hyukjae bukan Eunhyuk. Dengan berat hati ia mengakui. Padahal sebelumnya ia begitu bahagia begitu melihat Eunhyuk sebelum diterjunkan dalam jurang kekecewaan.

"Tidak Yun! Dia Eunhyuk! Anak kita!" jeritnya tak terima. Airmatanya kembali terjatuh. Eunhyuk ingin sekali menghapus airmata itu.

"Boo tenanglah!"

"Tidak! Dia anakku!"

"Dia bukan anakmu nyonya! Dia Lee Hyukjae istriku!" Donghae berseru agak keras dengan wajah marah. Donghae mengangkat Eunhyuk bridal style dan segera berlalu dari sana. Membuahkan jeritan Jaejoong yang menggema memilukan.

"Kembalikkan anakku!" airmata Eunhyuk kembali terjatuh mendengarnya. Tangan kanannya terangkat berusaha menggapai Jaejoong yang kini berusaha ditenangkan Yunho.

Eomma jangan menangis…

Jaejoong berlari mengejar Eunhyuk yang sudah masuk ke dalam mobil. Kyuhyun yang mengenali Jaejoong sontak ikut berlari mengejar ke arah parkiran.

"Ahjussi, ahjumma kenapa?" Tanya Kyuhyun begitu Yunho ada di sampingnya, ikut berlari.

"Tadi kami bertemu seseorang yang mirip Eunhyuk. Jae mengira itu Eunhyuk, dan sekarang ia berlari mengejarnya," jelasnya dengan nafas yang tersenggal.

Hyukjae. Nama itu melintas dipikirannya. Apa Hyukjae yang mereka temui?

"Boo…" Yunho berjongkok di samping Jaejoong yang terduduk di jalanan.

"Anakku. Yun, anakku. Anakku masuk mobil itu!" Yunho meringis perih melihat istrinya dalam keadaan kacau begini. Sungguh ia tidak tega. Apa yang bisa ia lakukan sekarang?

"Permisi tuan. Maaf, apa yang terjadi?" seorang pemuda berambut hitam mendekati Yunho, Jaejoong dan Kyuhyun dengan ekspresi heran. Ia yang sedari tadi ada di sana menyaksikan Jaejoong berlari dan menangis di jalan sambil meraung-raung. Membuatnya iba.

"Anakku, anakku masuk mobil merah itu!" Jaejoong masih menjerit dengan linangan airmata. Pemuda itu mengernyit sebentar. Mobil merah? Ia meraih kamera yang sedari tadi digenggamnya. Mengutak-atiknya sebentar lalu menunjukkannya pada mereka bertiga.

"Apa mobil merah yang ini? Tadi saya sempat memfotonya. Plat mobilnya terlihat jelas, kalian bisa mencarinya kalau mau." Mereka bertiga terdiam sesaat sebelum seruan Jaejoong memecahkan keheningan.

"Yun, cari mobil ini! Temukan anak kita. Kita harus menyelidikinya. Aku yakin itu anak kita, Yun," pinta Jaejoong memelas. Kyuhyun mengangguk menanggapi.

"Benar juga Ahjussi, tidak ada salahnya kita mencarinya dan mendapatkan informasi. Siapa tau dengan bertemu mereka, ahjumma bisa lebih tenang." Lagipula Kyuhyun juga ingin kembali bertemu dengan Hyukjae.

"Baiklah, kita akan mencari mobil ini. Terimakasih, emm nama anda siapa?" Tanya Yunho.

"Panggil saja LeeTeuk, tuan." Ada lesung pipi di wajahnya saat tersenyum. Yunho mengangguk.

"Baiklah, Leeteuk-ah terimakasih banyak atas bantuanya."

"Saya senang bisa membantu."

.

.

.

"Hae, kenapa kau membawaku? Aku tidak tega melihatnya menangis," ucap Eunhyuk lirih saat Donghae mendudukkanya di dalam mobil. Donghae menatapnya dengan ekspresi tak terbaca.

"Itu bukan urusan kita."

"Hae-"

"Kau harus istirahat, baby." Eunhyuk tidak bersuara lagi. Dan sesaat kemudian mobil yang ditumpanginya melaju membelah jalanan.

.

.

.

Eunhyuk diam saja saat Donghae kembali mengangkatnya bridal style ke dalam rumah. Langkahnya terus tertuju pada kamar. Eunhyuk terkejut saat tiba-tiba Donghae mencium bibirnya begitu tubuhnya terbaring di ranjang. Ciuman Donghae terasa dalam dan menuntut. Eunhyuk sedikit kewalahan mengimbanginya. Ia memekik pelan saat Donghae menjilat bibirnya dan menggigitnya. Mulutnya reflek membuka, dan tanpa membuang waktu Donghae memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Eunhyuk. Mengecapi setiap inchi tanpa terlewat. Suara lenguhan Eunhyuk membuat Donghae semakin memperdalam ciumannya.

"Aku mencintaimu, Eunhyuk. Sangat mencintaimu," erang Donghae tepat di depan bibir Eunhyuk yang sedikit membuka. Menghantarkan gelenyar panas pada tubuh dan wajah Eunhyuk. Belum lagi tatapan dari mata sendu Donghae yang kini menatapnya begitu dalam. Seakan ingin menyampaikan perasaan cintanya lewat pandangan mata. Mata Eunhyuk terpejam saat lehernya yang kini menjadi tawanan bibir sensual Donghae. Mengecupinya dengan ciuman bertubi-tubi.

"Aku mencintaimu Eunhyuk. Aku mencintaimu," ulangnya terus menerus tanpa bosan. Bibirnya terus bekerja memberi kenikmatan dan melantunkan kata cinta teruntuk Eunhyuk seorang. Eunhyuk kembali melenguh begitu Donghae menggigit lehernya, meninggalkan tanda merah kebiruan di sana. Mencetak tanda kepemilikannya. Eunhyuk hanya bisa terus melenguh menerima perlakuan lembut Donghae padanya. Ia tidak mengerti, kenapa dengan tiba-tiba Donghae mencumbunya seperti ini. Belum lagi ungkapan cinta yang bertubi-tubi sukses membuat debar jantungnya bekerja dua kali lipat. Seperti ada jutaan kupu-kupu terbang di perutnya. Rasanya geli sekaligus menyenangkan.

"Hae~"

"Aku benar-benar mencintaimu, Eunhyuk. Tolong jangan tinggalkan aku." Eunhyuk terperangah saat melihat setetes airmata jatuh dari hazel Donghae. Nada suara Donghae juga terdengar lirih. Kenapa?

"Hae-"

"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku selamanya," pintanya masih dengan linangan airmata. Sungguh, ia takut sekali. Seumur hidupnya baru kali ini ia merasa takut kehilangan seseorang di hidupnya. Eunhyuk sudah menjadi hidupnya saat ini. Donghae benar-benar tulus mencintai Eunhyuk. Ia tidak mau kehilangan Eunhyuk dari sisinya.

Donghae menatap mata Eunhyuk dalam, membuat Eunhyuk tak bisa berpikir. Pandangan mata Donghae membuat Eunhyuk berdebar-debar, tenggorokkannya tercekat sehingga tak mampu untuk berbicara. Mata Donghae yang gelap seolah-olah bisa melihat ke dalam jiwa Eunhyuk. Eunhyuk pernah mendengar kalimat kalau kita bisa tenggelam dalam mata seseorang, dan Eunhyuk sedang mengalaminya. Hazel Donghae menyeretnya untuk terperosok lebih dalam lagi, tak mengijinkannya keluar.

"Aku berjanji, Hae."

"Benarkah?" Eunhyuk sedikit terkekeh saat bisa mengendalikkan dirinya kembali. Donghaenya bisa kekanakkan juga ternyata.

"Iya, Hae. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu." Eunhyuk mencubit hidung Donghae yang masih dalam posisi menindihnya dengan gemas.

"Saranghae Eunhyuk."

"Nado saranghae Lee Donghae."

"Kita percepat pernikahan ya, sayang?"

"Kenapa?"

"Aku merasa kita harus mempercepatnya. Kau tidak mau menikah denganku?"

"Ish bukan begitu. Hahh… baiklah terserahmu saja." Eunhyuk hanya bisa mendesah pasrah kini.

"Besok kita berangkat ke Paris. Kita menikah di sana, baby." Eunhyuk terkejut. Paris? Kenapa jauh sekali? Tapi tidak buruk juga, Paris salah satu tempat yang sangat ingin ia kunjungi.

"Paris?"

"Iya, baby. Sekarang ayo tidur, biar aku yang menyiapkan segala keperluannya."

"Tapi Hae-"

"Tidur atau kutiduri?"

"Ya! Kau ini mesum sekali!"

"Kau sungguh menggoda, aku jadi tidak tahan. Ayo kita lanjutkan yang tadi."

"Ya! Tidak mau! Menjauh sana~" Donghae tertawa bahagia. Dipeluknya Eunhyuk dengan erat.

Donghae menyeringai jahat tanpa sepengetahuan Eunhyuk. Ia tidak akan melepaskan Eunhyuk sampai kapanpun. Ia akan menjauhkan Eunhyuk dari keluarganya. Membawanya jauh dari Seoul. Tidak akan ia biarkan ingatan Eunhyuk kembali. Tidak akan! Eunhyuk hanya miliknya!

Biarkan Donghae menjadi iblis untuk memiliki malaikatnya.

Mengurung malaikat malang itu ke dalam jerat hidupnya selamanya.

.

.

End

Bagi yang kemarin minta sequel diharap kembali meninggalkan jejak. Buat reader yang baru juga jangan sungkan-sungkan review ya~ #tebarcium

Ini gak gantung kan? Gak dong, ya :v

Saya serahkan kelanjutan ceritanya pada readers semua. Apa rombongan Kyuhyun, Jaejoong, Yunho bisa ketemu Eunhyuk dan dibawa pulang, atau gak ketemu karna Eunhyuk keburu dibawa ke Paris buat dinikahin sama Donghae? Terserah readers mau endingnya Haehyuk atau Kyuhyuk. Kalau saya sih, Haehyuk mwahaha…

Dan terakhir, saya mohon reviewnya dari kalian semua yang sudah mampir. Gak baik loh mampir tanpa kasih salam sama pemilik rumah. Dosa :v

Jangan lupa review ya~

Bye~