.
.
Daun-daun berjatuhan dari pohon-pohon besar yang berada di depan rumah sakit Senjuu Konoha. Rupanya musim gugur telah datang beberapa hari yang lalu di kota Tokyo. Dan didalam rumah sakit—tepatnya setelah mengenakan jas putih khusus dokter di kamar mandi—wanita cantik berhelaian pink keluar dan secara kebetulan bertemu teman akrab di rumah sakit tempatnya bekerja saat ini.
"Wah, tumbenan kau datang jam segini, Sakura-san."
Wanita cantik berambut kuning pudar itu bernama Sabaku Temari. Ia dokter spesialis bedah. Berbeda sedikit dengannya. Kalau Temari adalah spesialis bedah organ dalam, dirinya adalah bedah plastik. Ya, pekerjaannya adalah membantu para manusia yang kurang puas akan penampilannya menjadi sempurna seperti keinginan mereka.
"Tentu saja. Kapan sih aku pernah telat?"
Mereka berjalan beriringan dalam lorong yang luas ini. Rumah sakit ini begitu terkenal dan besar, tak heran bahwa lantainya saja bisa mencapai lima. Orang-orang yang lewat berlalu lalang tidak begitu banyak. Mengingat ini masih sangat pagi sekali. Matahari pun belum nampak sepenuhnya.
"Loh bukannya sering ya?"
"Masa sih? Ko aku tidak sadar.." kata Sakura pura-pura lupa.
Temari memutar bola mata bosan dan menepuk bahu Sakura main-main.
"Dasar."
Mereka berhenti di depan lift. Sakura memencet tombol panah atas, tak perlu waktu lama pintu lift itu terbuka. Ruangan sempit didalam lift itu kosong dan dua dokter cantik melangkahkan kaki jenjang mereka untuk masuk.
Telunjuk berkuteks merah milik Temari memencet tombol angka tiga.
Ting!
Lift kembali tertutup.
"Aku kan cuma telat dikit doang." ucap Sakura cuek.
"30 menit kau bilang sedikit?!" ujar Temari tak percaya.
"Hehe."
"Ohya kemarin, kenapa kau absen?"
Dokter berambut pinky itu meregangkan tangannya. "Aku sudah bilang pada direktur Senjuu kalau aku benar-benar berhalangan hadir karena suatu musibah."
Temari masih mendengarkan Sakura lebih lanjut. Sedangkan wanita itu membuka ponselnya lalu dia melanjutkan dengan tenang. "Aku bilang padanya, saat mau datang kesini mobilku masih di bengkel dan saat ingin naik taksi aku kecopetan."
"Seriusan?" komentar Temari agak kaget.
"Tentu saja tidak, baka !" Ia rendahkan nada suaranya. "Aku butuh refreshing satu hari dari pisau-pisau bedah dan darah."
"Astaga! Kalau sampai direktur Senjuu tahu, habis kau."
"Iya maka dari itu, tutup mulutmu."
Temari menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Kemarin, ada seorang gadis yang komplain dan ingin bertemu dengan dokter Haruno."
Alis Sakura mengernyit. "Gadis?"
"Ya, seorang gadis remaja dengan rambut coklat pendek sebahu. Ia bilang, dirinya akan balik lagi ke sini, sampai dokter Haruno benar-benar datang. Apapun yang terjadi." jelasnya.
"Komplain tentang apa?"
"Tidak tahu."
Sakura menganggukan kepalanya. "Baiklah, aku akan menunggunya kalau begitu."
"Hm. Yasudah, aku akan kembali ke ruanganku. Jam sepuluh nanti, aku ada jadwal operasi usus buntu."
Setelah pintu lift terbuka di lantai tiga, Temari beranjak untuk pergi meninggalkannya, tapi sebelumnya tangan putih milik Sakura menepuk bahu dokter cantik dan seksi itu dua kali. Ia berikan senyum cerahnya untuk Temari.
"Semoga sukses, Temari-san."
"Sankyuu. Jaa."
.
.
That One Person, You
Naruto © Masashi Kishimoto
Story by cimoeleventy
AU, OOC, misstypo everywhere, bahasa campur aduk, alur kecepetan, de-el-el.
Genres: Romance, Drama.
Main pair: SasuSaku
.
.
Tumben sekali.
Hari ini tidak ada pasien yang dijadwalkan untuk operasi. Tadi ada beberapa yang datang untuk menanyakan keluhan dan seputar bagian mana yang seharusnya lebih ditonjolkan. Hanya itu saja. Mereka menginginkan operasi besar-besaran untuk mempercantik wajah mereka bulan depan. Para pasien bilang, bahwa bulan depan adalah saat mereka menerima gaji.
Tik.
Tik.
Suara jarum jam menemani ruangan tempatnya yang kosong ini. Sakura menguap bosan. Ia ambil ponselnya dan berniat menyetel video film kesukaannya. Didirikannya ponsel itu menghadapnya, sehingga ia bisa melihat lebih leluasa. Tubuhnya ia sandarkan pada bangku nyaman yang didudukinya.
"Hahh.."
Tok! Tok!
Belum sampai ada dua detik. Sudah ada yang mengetuk.
Set!
Sakura buru-buru mematikan ponsel dan menaruhnya di saku jas.
Setelah memastikan penampilannya cukup layak, ia berdehem. "Ya. Masuk."
Cklek.
Seorang gadis berambut pendek sebahu dengan penampilan fashionable masuk ke ruangannya. Dia mengenakan kacamata coklat. Sakura teringat akan ucapan Temari tadi pagi. Mungkin gadis ini adalah gadis yang diceritakan Temari.
"Oh? Kau si gadis yang dikatakan dokter Temari-san kemarin, bukan?" tanya Sakura setelah gadis itu duduk di hadapannya.
"Hm."
"Ada apa?"
"Kau tidak ingat denganku dokter Haruno-san? Sama sekali tak ingat?"
Gadis itu menanyakan dengan nada seperti Sakura melupakan sesuatu yang luar biasa penting.
"Ng..." Tangan mulus dokter cantik itu menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Kau tahu sendiri kan, profesiku ini harus menemui banyak orang di setiap harinya, bukan hanya dirimu saja."
"Ck. Baiklah. Kuanggap kau lupa." Ia mendengus, lalu melipat kedua tangannya di dada. "Aku akan jelaskan, 8 hari yang lalu, aku ke sini untuk operasi kelopak mata ganda. Hasil awalnya memang bagus. Tapi kesininya.."
Ia membuka kaca mata coklat yang sedari tadi menutupi kedua matanya. "Lihat."
Sakura menutup mulutnya kaget. "A-astaga."
"Ya! Kelopak mataku miring sebelah! Kau tahu, gara-gara ini aku jadi malu hadir ke sekolah. Aku sampai dimarahi Ibu dan Ayah."
"Gomenne, ini memang salahku." Sakura meringis tak enak hati. Lalu bergumam bingung. "Tapi biasanya tidak pernah ada kejadian seperti ini. Semua hasilnya pasti memuaskan bila di tanganku."
"Tapi tidak denganku!" Gadis itu mengomel dengan wajah memerah.
Brak!
Dia menggebrak meja membuat bahu Sakura naik—sedikit terkejut.
"Kau harus bertanggung jawab! Kalau tidak.. aku akan melaporkan ke polisi tentang kelalaianmu menangani pasien! Aku serius. Ayahku punya banyak kenalan teman seorang polisi."
Sakura menghela. "Santai saja, aku akan bertanggung jawab gadis manis. Hari ini pun bisa, aku lumayan kosong hari ini."
"Tapi aku tak mau mengeluarkan uang lagi, karena ini memang murni 100% kesalahanmu."
"Hmm... Iya, iya.." Kepala merah muda itu terayun pelan untuk mengangguk. Tangannya membuka laci meja dibawah, mengambil suatu kertas dan menyodorkannya pada si gadis.
"Isi di kertas yang berisi keluhan komplain pasien ini dan taruh di kotak dekat resepsionis." Emerald memutar kekiri, nampak berpikir. "Sekitar... sore nanti aku akan menghubungimu."
"Kenapa harus sore? Aku maunya sekarang." seru gadis itu sambil mengernyit kesal.
"Karena kesalahan yang dilalaikan oleh dokter bedah plastik sepertiku harus diketahui oleh Direktur rumah sakit ini. Baru... aku boleh melakukan prosedur ulang untuk mempercantik kelopak matamu." jelasnya berusaha sabar.
Gadis itu nampak berpikir keras. Tak lama ia menghela. "Baiklah. Mana sini?"
Sakura memberikannya lagi.
Berdetik-detik terlewat untuk menunggunya selesai, Sakura memperhatikannya seksama. Kenapa ia jadi teringat cerminannya waktu masih remaja dulu, ya? Persis seperti dia. Seenaknya, semaunya, dan gampang sekali emosian.
"Nih."
Sakura tersentak dari lamunannya dan mengambil kertas itu untuk sekedar melihat dan memastikan bahwa pasiennya mengisi dengan tepat.
"Hmm... oke." Sakura mengangguk. Nama gadis ini ternyata Matsuri.
"Matsuri- san kau bisa memberikannya langsung didekat kotak kaca resepsionis."
Sakura mengembalikannya lagi pada gadis bernama Matsuri itu. Gadis berhelaian coklat pun bangkit berdiri setelah mengenakan kembali kacamatanya. Ia berjalan jauh ke depan.
Cklek.
Dengan dagu yang terangkat tinggi, ia menoleh. "Aku akan menunggu."
"Iya. Hati-hati di jalan."
Blam.
.
.
…That One Person, You…
.
.
"Hahhh! Padahal cuma menangkap satu penjahat tapi melelahkan sekali..."
Pria berambut kuning jabrik menghela napas kemudian kedua tangannya direnggangkan sesaat dan dilipat ke belakang kepala.
Iris biru saphire itu melirik ke sudut kanan. "Oi, Teme!"
Pria tampan berambut raven yang dilirik oleh rekan kerjanya yang berambut kuning itu sedang merapihkan berkas-berkas yang sekiranya penting pada mejanya. Tanpa menoleh ia menyahut, "Apa?"
"Kau masih marah padaku? Ini sudah tiga minggu sejak kejadian perkara loh.."
Sasuke mendengus. "Pikir saja sendiri, bodoh."
Polisi bernama Naruto Uzumaki itu mengubah posisi duduknya dengan benar.
"Hei, hei.. Aku melakukan ini semua demi kebaikanmu juga, Teme." belanya.
Pria berambut raven berdiri dan membagi tatapan tajamnya pada Naruto—pria berambut kuning itu.
"Kebaikan darimananya, hah? Kalau saja waktu itu kau tidak menggunakan otak bodohmu untuk membawa wanita aneh itu ke rumahku. Mungkin, beberapa bulan lagi aku dan Karin akan menikah!" jelas Sasuke dengan nada kesal.
Alis Naruto mengerut. "Heran aku padamu, Teme. Aku ini lebih tahu luar dalamnya Karin itu bagaimana. Aku ini sepupu jauhnya. Dia hanya memanfaatkanmu, Teme."
Ya. Karin Uzumaki adalah sepupu jauh dari Naruto Uzumaki. Pria berambut pirang itu memang tidak begitu dekat dengan Karin, tapi ia tahu dengan pasti Karin itu sosok perempuan seperti apa. Dia sendiri pun kaget kenapa tiba-tiba sahabat tampannya ini bisa dekat dan bahkan berpacaran dengan Karin. Setahunya, Karin itu suka sekali bergonta-ganti pacar. Bukan, bahkan lebih dari itu, ia senang memanfaatkan pria tampan dan kaya yang menjadi pacarnya. Dan Naruto sendiri tidak ingin sahabat tampannya ini menjadi salah satu korban sepupu jauhnya itu.
Sasuke mendecih dan kembali pada kegiatannya—menulis laporan di suatu berkas.
"Kau sudah mengatakan itu beribu kali, tapi kau punya bukti apa kalau Karin memang begitu?"
"Sasuke, Naruto. Aku pulang dulu! Kalian tidak pulang?"
Naruto dan Sasuke menoleh pelan pada sosok pria tinggi yang memanggil mereka. Pria itu, Yamato Taichou. Atasan bagian penyelidikan kasus-kasus berat.
"Duluan saja Yamato- senpai. Kami sedang sibuk menangani beberapa masalah di sini." ucap Naruto.
"Oh yasudah, aku duluan kalau begitu."
Yamato melambaikan tangan ke arah mereka.
"Iya. Hati-hati senpai !" seru Naruto riang.
Setelah memastikan Yamato sudah jauh. Iris biru itu kembali menoleh pada sahabat karibnya.
"Sas—Hei, Sasuke! Kau mau kemana? Pembicaraan kita belum selesai!"
Naruto langsung berdiri begitu melihat polisi tampan berambut raven itu sudah rapih dengan gembolan tas dan mengenakan kaos abu tuanya.
"Pulang."
Sasuke tetap berjalan dengan acuh sambil melewati Naruto yang coba menghadanganya.
"Minggir." Disingkirkannya tangan Naruto dengan tenaganya dan berhasil pria berkulit tan itu menyingkir dari jalannya.
"Oi! Coba kau jalani dulu hubungan dengan wanita berambut pinky itu. Bedakan dengan rasanya saat kau berpacaran sama Karin." seru Naruto masih berusaha untuk didengarkan.
Blam.
"Ck. Dikasih tahunya malah.." Ia gelengkan kepala kuningnya itu. "Kenapa aku masih bisa bertahan berteman dengannya? Sudah kukasih tahu dengan benar, dia malah acuh."
Ia berjalan dengan gontai. Berhubung yang tinggal di sini hanya ada beberapa saja. Ia pun mulai membuka cup ramen yang ada di atas mejanya dan menyeduhnya dengan lifter air panas.
"Hahh.. makan ramen dulu enak nih.."
Drrtt.. Drttt..
Tangan tan-nya bergerak untuk mengambil ponsel yang ada dalam saku.
Karin is calling...
Alis Naruto kembali mengerut. Untuk apa wanita itu menelpon?
Meski ragu, ia coba memencet tombol hijau itu. Didekatkannya ponsel berwarna hitam itu pada telinga.
" Hallo kakak sepupu? Bagaimana kabarmu di sana, hm?" sahut wanita itu beberapa detik setelahnya.
"Ada apa kau menelponku? Pergi saja kau sana, tidak usah mengabariku selamanya juga aku tak masalah."
Tangan tan-nya mengepal. Selalu. Entah kenapa setiap berbincang dengan wanita itu, emosi selalu naik sampai ke ubun-ubun.
" Haha, jangan marah-marah begitu! Nanti kau cepat tua."
Naruto berusaha sabar. "Apa maumu?"
" Harus to the point gitu ya?" Dia mendengus. " Aku akan 'bermain-main' sebentar dengan kekasihmu bernama Hinata di sini, kalau sampai kau memberitahu macam-macam yang sebenarnya pada Sasuke, bahwa aku hanya memanfaatkannya." ancam wanita itu di seberang sana dengan tenang.
"Dasar gila!" teriak Naruto.
"Terima kasih." kata Karin dengan nada menyebalkan.
"Honey.. who are you calling?"
Terdengar suara decapan kecupan dari sana.
"Wait a minute, baby."
"Siapa pria itu? Selingkuhanmu?!"
Entah bagaimana wajah seorang Naruto Uzumaki sekarang. Rahang yang mengeras dan alis yang mengkerut dalam serta tangan yang terkepal. Yang jelas dia sedang amat sangat marah saat ini.
"Kau tak perlu tahu. Oh ya, hanya mengingatkan. Secara kebetulan aku dan Hinata satu kampus loh. Sayangnya, aku lebih populer dibandingkan dia." jelasnya tanpa diminta diiringi dengusan mengejek.
"Jangan pernah mencoba untuk menyakiti Hinata, Karin!" seru Naruto tak main-main.
"Tenang... Santai saja. Aku takkan menyakitinya kalau kau juga bisa menjaga rahasiaku, bagaimana? Aku pintar kan?"
"Kalau kau laki-laki. Sudah kupastikan kau habis di tanganku!" teriak Naruto sambil menggertakan giginya.
Andai saja orang yang sedang berbicara dengannya dalam ponsel bisa ia banting lewat benda ini dan mati. Ia akan lakukan. Apapun demi Hinata-nya. Pria itu takut perempuan yang dicintainya terluka oleh tangan licik sepupunya. Karin punya seribu satu cara apa saja untuk apapun yang dia inginkan. Meskipun melukai orang lain.
"Ow.. aku takut..! Bagaimana? Aku tak punya banyak waktu untuk bicara."
Pria itu terdiam sejenak. Di satu sisi ia tidak ingin Hinata terluka, tapi di sisi lain ia juga tidak ingin Sasuke bersamanya. Dia harus bagaimana?
Hinata.
Dirinya lebih takut 96% kekasihnya kenapa-kenapa di sana. Maka dengan pejaman mata terakhir, ia menghela. "Hm."
"Hah? 'Hm' itu apa? Artinya 'Ya' atau 'Tidak' ?"
"Ya. Aku setuju."
Kau sendiri yang keras kepala, Teme. Aku sudah memperingatimu berulang kali. Sampai mulutku capek. Dan sekarang, bagiku Hinata lebih penting.
"Senang bernegosiasi denganmu, kakak sepupu. Bye~"
Brakk!
Ia gebrak meja itu keras. Diacaknya rambut kuning itu dengan frustasi.
"Argghh! Sial!"
.
.
…That One Person, You…
.
.
"Kau di mana?"
"Siapa ini?" tanya wanita berjas putih dengan ponsel yang diapit pada bahu dan telinga kanannya.
Saat ini ia berada di sebuah kantin rumah sakit, menunggu sebuah ice coffe yang di pesannya. Lumayan ramai, meski ini sudah hampir jam 22.15. Ada beberapa yang makan atau sekedar menikmati kesendirian atau hanya duduk-duduk saja bersama keluarga dari pasien, mungkin.
"Ini ice coffe-nya nona."
Seorang pria mengulurkan tangannya yang menggenggam sebuah gelas kertas berisi cairan hitam pekat itu. Sakura pun mengambilnya sambil mengucapkan pelan kata 'terima kasih'. Ia berbalik dan menuju pintu keluar. Ponselnya ia pindahkan dengan posisi benar dengan tangan yang memegang ponsel itu.
"Sasuke."
Pria itu menjawab beberapa saat kemudian. Sepertinya ia tahu apa yang sedang saat ini Sakura lakukan.
Sambil menyeruput kopi ia berjalan dan keningnya mengkerut. "Darimana kau tahu nomorku?"
"Itu tidak penting. Cepat datang ke rumahku. Sekarang. Dan lakukan ucapanmu dengan benar seperti yang kau janjikan."
"Apa?"
Klik.
Sakura menganga sedikit sambil menperhatikan layar ponselnya.
"Ck. Apa-apaan dia..? Dia bahkan belum mendengar perkataanku selanjutnya."
Ditaruhnya ponsel itu pada saku jas. Dengan menyeruput kopi, kembali ia bergumam.
"Untung saja aku sudah pulang."
Tap.
Tap.
Langkahnya menggema di setiap laju langkahnya.
"Kira-kira... aku harus bagaimana ya tampil ke sana?"
Dia masih bertanya pada dirinya sendiri, mengabaikan tatapan orang-orang yang menatapnya aneh.
Flashback.
Setelah berdetik-detik lama terdiam, wanita berhelaian pink memulai pembicaraan.
"Aku punya penawaran bagus untukmu. Anggap saja, ini sama-sama menguntungkan kita berdua."
Sasuke terdiam. Mungkin dirinya masih kesal dengan kelakuan sahabat kuning jabriknya itu. Maka Sakura tetap menjelaskan.
"Begini, sampai calon istrimu yang bernama Kasin itu—"
"Karin."
Sakura mengangguk. "Iya, Karin maksudku." Lalu dia melanjutkan sambil menatap wajah lelaki tampan tapi arogan itu dengan serius. "Sampai Karin kembali, aku akan pura-pura menjadi calon istrimu sampai—"
"Tch, tidak."
Tentu saja pria itu menolak mentah-mentah. Apa wanita aneh itu tidak punya otak untuk berpikir lebih luas ke depan?
Beberapa jam yang lalu Sasuke tidak sadarkan diri dan saat tiba-tiba terbangun, Ayame—istri dari kakaknya—menghampiri mobil milik Sakura dan tanpa aba-aba, tanpa penjelasan, dirinya ditarik masuk kedalam rumah. Pria itu memang berjanji membawa kekasihnya untuk dikenalkan pada keluarganya, karena menurutnya ini adalah saat yang tepat untuk menjalin hubungan serius. Tapi apa yang harus ia perbuat, kalau semua ini keluar jalur dari rencana yang dibuatnya matang-matang. Mengingat tadi keluarganya begitu tertarik dengan sosok Sakura. Terutama Ibunya.
"Dengar dulu sampai aku selesai!" Sakura menggeram. Ia hela napasnya. "Kedua orangtuamu sudah terlanjur tahunya aku adalah calon istrimu. Kan kasihan, tiba-tiba kalau mereka tahu, ternyata anak laki-laki kebanggaannya ini berbohong. Kau tidak peduli pada perasaan ibumu yang sudah mempercayaimu sejauh ini?"
Ia tatap lekat-lekat lagi onyx itu di hadapannya. Wanita cantik dengan mata hijau itu membuat mimik muka semeyakinkan mungkin. "Intinya, aku akan menjadi calon menantu yang kurang ajar di hadapan kedua orangtuamu sampai mereka benar-benar tidak suka terhadapku dan kau bisa terbebas dariku tanpa hambatan masalah apapun."
Onyx itu balas menatap mata emerald indah di hadapannya. Kembali otak cerdas itu berpikir dengan sedikit bumbu curiga. Malas mengakuinya, tapi wanita ini benar. Dia juga sudah mengeluarkan kalimat 'secepatnya' saat ditanya kapan menikah. Tidak mungkin ia kembali kedalam dan mengatakan bahwa Sakura hanyalah orang asing yang tidak dikenalnya.
Kalau wanita ini memang benar-benar mau melakoninya—akan ucapannya yang tadi—pria tampan itu mungkin akan menyetujuinya.
"Menarik."
"Kau setuju?"
"Akan kupikir lagi."
"Kau harus memikirkannya dengan benar, Uchiha- san ."
Sakura tersenyum misterius.
"Eits. Tapi ini semua tidak gratis loh." lanjutnya sambil menggerakan jari telunjuk ke arah kiri dan kanan.
Alis Sasuke mengkerut. "Apa?"
"Kalau kau mau, tentu saja kau juga harus membantuku."
Sasuke sudah menduga-duga. Pasti wanita ini memang ada maunya.
"Berpura-puralah menjadi pacarku. Di hadapan teman-temanku bulan depan nanti."
...
"Apa yang mereka bicarakan? Penawaran bagus? Pura-pura? Jadi.. mereka berbohong padaku?"
Sementara di luar mobil. Tanpa Sasuke dan Sakura sadari, Mikoto mendengar perbincangan mereka. Mobil wanita cantik itu tidak kedap suara dan ibu dari dua orang anak itu tentu saja mendengar semuanya dengan jelas dari awal hingga akhir.
Niat awalnya menyusul mereka adalah Sakura, wanita yang dikiranya benar-benar calon menantunya itu menjatuhkan sebuah kartu nama di depan ruang tamu. Tapi saat menyusul ke sini ia malah mendapati fakta bahwa anak kesayangannya beserta Sakura, membicarakan hal konyol penuh drama seperti ini.
"Akan kuikuti permainan kalian berdua anak-anak muda."
Flashback off.
.
.
…That One Person, You…
.
.
"A-astaga! K-kenapa penampilannya seperti ini, Kaasan ?"
Seorang wanita berambut coklat panjang menutup mulutnya yang sedikit terbuka. Sementara orang yang dipanggil 'Kaasan' oleh wanita itu hanya menatap datar seorang wanita yang dibicarakan oleh si menantu.
"Kau habis darimana, Sakura?" tanya wanita yang berambut raven panjang. Tatapannya lurus-lurus menatap wanita berambut merah muda di depannya.
Tanpa berpikir dua kali, wanita berambut pink itu menjawab dengan riang.
"Aku... habis dari clubbing haha~ Lalu, hik! Pria bajingan ini, hik! Menelponku untuk cepat-cepat datang kemari... hik! Haha... Iya kan sayang... coba jelaskan pada ibumu.. hmm... haha."
Wanita yang kita ketahui identitasnya adalah Sakura itu merangkul sambil memegang wajah pria tampan di sebelahnya dengan menggoda.
Bau alkohol menguar dari tubuhnya. Dua kancing teratas kemeja warna kuning gading yang dipakainya terbuka. Sedikit mengekspos kulit mulus dadanya itu. Rok ketat warna hitam pendek di atas lutut pun menambah kesan seksinya.
"Apa benar, Sasuke?" tanya Mikoto pada putra bungsunya.
"Seperti yang Ibu lihat." jawab Sasuke.
"Ya ampun... apa mataku tak salah lihat? Calon Ibu mertua, garis-garis apa itu di sekitar matamu? Kerutan kah?"
Tiba-tiba Sakura menghampiri Mikoto sambil menatap lamat-lamat wajah itu. Maka sebagai menantu yang baik, Ayame—wanita yang duduk disampingnya—mendorong Sakura pelan supaya menyingkir. Ayame tidak habis pikir, kenapa Sakura cepat sekali berubah? Padahal waktu awal pertemuan dia tidak seperti ini.
"Hei, kau tidak sopan!" ucap Ayame sedikit membentak.
Masuk kuping kanan-keluar kuping kiri, mungkin itulah yang Sakura lakukan. Ia mengabaikan bentakan Ayame, tanpa tahu diri ia genggam kedua tangan Mikoto. Emerald sayu itu menengadah.
"Calon ibu mertua, aku ini dokter bedah plastik yang mahir loh dalam.. hik! Urusan seperti ini. Kau tinggal datang saja ke rumah sakit Senjuu Konoha. Aku akan memberimu diskon untuk suntik botox supaya.. hik! Wajahmu kelihatan lebih awet muda." saran Sakura seperti orang gila bahkan ia sampai bertepuk tangan dan ketawa-ketawa sendiri.
Emerald itu melirik ke kanan. "Kau juga calon kakak ipar. Matamu terlalu kecil, coba kau perbesar sedikit, pasti hasilnya akan sangaaaaaat sempurnaaa! Hik!"
"Hentikan, Sakura! Kancing bajumu dengan benar dan pulanglah!"
Kembali, Ayame membentak. Lain halnya dengan Ayame, raut Mikoto tetap datar pada wanita itu dan juga Sasuke. Tidak ada lagi senyum ramah dan sambutan lembut, karena ia sudah tahu kebohongan ini semua. Dan.. hanya tinggal menunggu ending apakah yang akan mereka putuskan. Tetap berjalan atau putus di tengah jalan. Ia tak mau ikut campur. Apapun keputusan Sasuke, pasti itu yang terbaik untuknya. Putranya sudah besar dan bisa memilih sendiri apa yang terbaik untuk hidupnya.
Sakura memanyunkan bibir berlipstik merah itu.
"Hmm... Aku jauh-jauh loh datang ke sini.. Masa diusir begitu saja, hik! Tidak mau memberiku minuman atau apa gitu..? hik."
Ayame tertawa sarkastis. Lalu menatap tajam ke arah pria yang merupakan adik iparnya itu. Heran. Kenapa pria itu malah diam saja, di saat Ibu kandungnya beserta dia di jelek-jelekan secara tak langsung seperti ini? Memang, Ayame akui Sakura itu cantik. Tapi, kalau aslinya seperti ini, apa mungkin ia bisa tahan?
Wanita cantik berambut coklat itu sudah tidak peduli lagi akan sifat jeleknya yang suka membentak itu keluar. Yang jelas, Ayame hanya menginginkan satu. Supaya gadis tidak tahu sopan-santun itu cepat-cepat keluar dari sini.
"Sasuke! Urus pacarmu dengan benar. Kaasan, kita masuk saja kedalam kamar." ajak Ayame sambil mengamit lengan Mikoto untuk bangkit.
Untung saja hari sudah larut jadi Yuki sudah tidur dan ia tidak terlalu kerepotan untuk mengurus satu orang. Fugaku dan Itachi juga masih bekerja. Jadi yang tersisa di rumah hanya Mikoto, Yuki, dan dirinya. Juga, Sasuke.
"Oh ya, ada Sasuke.. Kita akhir-akhir ini belum berciuman, bagaimana kalau kita melakukannya sekarang? Tunjukkan pada keluargamu bahwa kau mencintaiku.."
Wanita berambut pink itu menangkup wajah Sasuke dan memiringkan wajahnya berniat mencium pria tampan itu di hadapan mereka—Ayame dan Mikoto—tanpa tahu tempat.
Mata hitam milik Ayame membulat.
"SASUKE! CEPAT BAWA DIA KELUAR!" seru Ayame keras. Ia sudah tidak tahan mendengarnya.
Sasuke berdecak. Sambil menyingkirkan wajah wanita itu yang terlalu dekat dengannya kemudian menggendong tubuh Sakura yang lumayan enteng baginya. Ia gendong dengan perut yang berada di bahunya dan membiarkan wajah Sakura jatuh di belakangnya.
"Kau mabuk." ucap Sasuke sedikit jengkel.
"Hemmm..." Sakura memukul punggung pria itu dengan tak bertenaga. Dirinya protes tak terima. "Hik! Cium aku dulu baru pulang."
"Menyusahkan." ujarnya.
Dengan satu tarikan ia buka pintu rumahnya dan menutup kembali pintunya. Berjalan sampai beberapa meter dekat taman depan rumahnya yang sepi ditumbuhi tanaman-tanaman menjulang.
Bruk.
Ia turunkan wanita itu.
"Huaaaaa! Apa yang barusan kulakukan! Apa yang barusan kulakukann! Hyaaa~ menjijikannn..."
Tiba-tiba wanita yang dikira mabuk itu menangkup kedua wajahnya lalu ia pukul-pukul sendiri pipinya itu supaya mengenyahkan ingatan yang beberapa waktu lalu. Benar-benar memalukan plus menjijikan, rutuknya.
Kalau kalian mau tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Sakura adalah.. Wanita itu memang mabuk, tapi tidak sampai separah itu. Ia hanya meneguk satu gelas dan sisanya ia taruh di tangan dan menempelkannya seperti minyak wangi pada leher serta bajunya. Soal penampilannya, ia memang sengaja. Semua ini ia lakukan supaya keluarga Sasuke tidak mencium bau kebohongan yang ia lakukan, sekecil apapun ia berusaha semaksimal mungkin. Dan ini.. adalah pengalaman dalam hidupnya yang paling menjijikan yang takkan pernah ia lupakan. Apalagi soal ingin mencium Sasuke di hadapan Mikoto serta Ayame. Argh! Rasanya ingin ia pukul ingatan itu sampai pecah tak tersisa.
Berbeda dengan Sakura, pria di hadapannya mendengus sambil menaruh kedua tangannya pada kantung celana bahan itu.
"Bagus. Kau melakukannya dengan benar."
Sakura membagi tatapan kesalnya pada Sasuke.
"Harga diriku..! Mau taruh di mana harga diriku! Huaaa!"
Sasuke berdecak. Lama-lama telinganya bisa sakit juga jika mendengar wanita ini terus berteriak. "Ck. Sudahlah."
Sakura terdiam kemudian menghela. Ia ancungkan jari telunjuknya tepat ke arah Sasuke.
"Tiga hari lagi adalah giliranmu. Kau harus menyiapkan akting sebagus diriku tadi. Jangan sampai membuat teman-temanku curiga, paham?"
"Hn."
.
.
…That One Person, You…
.
.
"Bengkak wajahmu sudah hilang, kau sudah diizinkan pulang, Yamaku- san ." ucap seorang dokter berambut pink dengan ramah pada pasien di hadapannya.
Gadis dengan rambut panjang sepunggung berwarna biru itu tersenyum saat melihat wajahnya di cermin. Memang, belum sepenuhnya bengkak itu hilang, sekitar 95% lagi wajahnya akan benar-benar mendekati sempurna. Persis yang seperti ada di bayangannya.
"Kalau begitu aku pulang saja dan merawat diri dan wajah baru ini di rumah. Terima kasih banyak dokter Haruno- san ."
Gadis cantik itu membungkuk sedikit pada dokter bernama Sakura dan tersenyum sambil berlalu meninggalkannya setelah mendapatkan resep obat penghilang rasa sakit juga oleh dokter itu.
"Ya, sama-sama." ucap Sakura pelan sambil melambaikan tangan.
Setelah memastikan benar-benar tidak ada orang, Sakura menolehkan pandangannya pada seorang perawat yang membantunya selama bekerja.
"Harumi- san sampai jam berapa ya aku bekerja hari ini?" tanyanya pada perawat itu.
Perawat berambut hijau itu melihat sebuah kertas catatan yang selalu dibawanya pada papan.
"Ng.. sekitar jam 6 sore, dokter Haruno- san." jawabnya.
" Arigatou ." kata Sakura sambil menyunggingkan senyum tipis. Ia renggangkan kedua tangannya lalu bangkit berdiri.
"Aku ingin ke toilet dulu sebentar."
Dokter berambut merah muda itu berjalan dengan langkah pelan, ia ambil ponselnya sekedar untuk melihat-lihat pesan masuk. Pandangannya masih tertuju pada layar ponselnya bahkan saat ia membuka pintu sekalipun.
Cklek.
Bruk.
Tubuhnya limbung—sepertinya ia baru saja menabrak seseorang—maka dari itu segera ia gulirkan pandangannya pada orang itu. Niat ingin meminta maafnya hilang diganti dengan perasaan sedikit terkejut, mungkin?
"Sakura- san! Baru saja aku ingin menemuimu, kebetulan sekali." ucap seseorang yang ditabraknya dengan senyum ramah. Orang itu ternyata Sabaku Temari, dokter bedah spesialis organ dalam. "Apa aku menganggu?"
"Oh? Ternyata kau Temari-san." Sakura balas tersenyum sambil memasukan ponsel pada saku jasnya. "Tidak juga. Ada perlu apa?"
Dokter cantik beriris biru langit itu nampak ragu untuk menjawab. Akhirnya dengan helaan napas ia tatap Sakura yang notabane-nya sedikit lebih pendek darinya.
"Ng... aku ingin minta tolong padamu, bolehkah?"
"Tentu saja, asal aku masih bisa melakukannya. Kenapa tidak?"
"Begini, kau hari ini tidak lembur 'kan?"
"I..ya?" Meski agak bingung, dokter berambut pink itu tetap menjawab.
"Sakura- san kau pernah bilang bahwa rumahmu kebetulan searah dan melewati dua blok dari rumahku, 'kan? Nah.. aku ingin minta tolong untuk menitipkan ini pada penjaga rumahku," Temari maju selangkah lebih dekat kearahnya sambil menyerahkan sekotak kecil kado dengan pita merah yang melingkar. "Bilang ini dari nona Temari untuk adiknya. Maaf, jika merepotkanmu."
Temari meringis tak enak hati pada Sakura. Sebenarnya bisa saja Temari menelpon kurir bayaran, tapi masalahnya hari ini jadwalnya benar-benar padat bahkan untuk menelpon dan menemui orang lain pada saat jam kerja saja benar-benar tidak bisa. Dan kebetulan juga hari ini Gaara—adiknya—berulang tahun, ia ingin memberi sebuah kejutan kecil yang berharga untuk adiknya, tapi mau bagaimana lagi kalau rencana untuk merayakannya bersama harus ditunda lagi di tahun ini. Maka harapan terbesarnya hanya ini, semoga adiknya suka dan mau memaafkannya yang selalu sibuk. Dan seingatnya Sakura pernah bilang bahwa rumahnya hanya beda beberapa blok dari rumah wanita pink itu. Inilah alasannya untuk menemui rekan dokternya itu.
Sakura mengangguk mengerti.
"Hanya ini saja?"
"Iya."
Sakura diam sejenak. "Rumahmu nomor 53, bukan?"
"Hem. Maaf ya sekali lagi merepotkanmu. Ini sangat penting.. Adikku ulang tahun tapi aku malah tidak bisa pulang dan ia sendirian di rumah."
Temari tersenyum sedih. Ia sangat menyayangi adik laki-lakinya yang satu itu.
Puk.
Sakura menepuk bahu teman kerjanya itu sekali. Ia keluarkan senyum manisnya.
"Baiklah. Itu bukan masalah besar ko. Santai saja."
.
.
…That One Person, You…
.
.
Hari sudah menjelang siang, sinarnya masuk kedalam pusat kantor kepolisian kota Tokyo.
"Tch! Lihatlah layar televisi itu! Sampai bosan, setiap mengganti channel berita.. pasti selalu ada berita tentang.." Pria dengan seragam polisi yang melekat di badannya mulai meniru gaya pembawa acara berita. " 'Polisi tampan nan terkenal, Uchiha Sasuke. Pria berumur 29 tahun ini berhasil menyelesaikan kasus paling susah pasca tragedi pembunuhan berencana' blablabla."
Pria dengan dua garis merah di pipinya itu mengeluh begitu mendapatkan makan siang dan menonton tv yang terletak di atas dinding.
"Ya.." Seorang polisi yang berambut kuning juga ikut menganggukan kepalanya tanda setuju. Slurrpp. Ia kunyah ramen pesanannya hingga masuk ke tenggorokan lalu melanjutkan. "Padahalkan yang bertugas menyelesaikan kasus ini bukan hanya Teme saja. Kita semua turut andil."
"Hhh! Payah. Wajah rupawan itu pasti selalu jadi pusat perhatian nomer satu dibandingkan kita yang punya wajah pas-pasan."
Kembali, polisi dengan pin nama Inuzuka Kiba di dadanya itu mencibir sambil memakan makanannya.
Polisi dengan rambut nanasnya melerai Naruto dan Kiba dengan malas. "Hentikan omongan berisik kalian."
Sementara Sasuke; orang yang sedaritadi dibicarakan hanya diam saja tak menghiraukan ucapan rekan-rekannya. Ia hanya memakan makanannya dengan tenang tanpa terganggu sekalipun.
Teett! Teett!
Sebuah siline merah yang terpajang pada kantin kepolisian itu menyala. Semua para polisi yang ada di sana pun menengok ke satu pusat bersamaan, tak terkecuali Kiba, Naruto, Sasuke, dan Shikamaru. Tumben sekali alarm itu berbunyi di saat jam seperti ini?
"Tim 4! Informasi untuk tim 4. Kalian diberi tugas oleh Inspektur Kakashi untuk segera bergegas datang ke distrik kompleks perumahan Tokyo di blok 50. Ada sebuah toko kecil, pemiliknya seorang wanita paruh baya yang dirampok paksa oleh sekelompok pria yang membawa senjata api."
Dan ke-empat pria yang bernama Naruto, Kiba, Sasuke, dan Shikamaru saling bertatapan dan mulai bergegas.
.
.
…That One Person, You…
.
.
Sakura Haruno berdiri di rumah mewah bergaya klasik dengan nomor 53 yang menyembul di bagian samping pagarnya. Ia perhatikan sejenak lalu setelah menghela napas, jarinya menekan sebuah bel yang ada.
"Permisi.. apa ini benar rumah dari Sabaku Temari?"
Ia mendekatkan wajah pada sebuah kamera yang menghubungkannya dengan seseorang yang ada didalam rumah itu.
"Iya. Anda siapa?"
Setelah beberapa detik terdengar sebuah suara berat yang menyahut. Wanita berambut merah muda itu mendesah lega.
"Saya Sakura Haruno, teman kerjanya di rumah sakit. Ini. Titipan dari Temari- san , ia bilang untuk adiknya."
Tangannya menyodorkan sebuah paket kecil ke arah kamera.
"Ohh. Ya, ya. Sebentar saya akan keluar."
Sakura mengangguk pelan. Beberapa detik terlewat dan akhirnya pagar tinggi itu terbuka perlahan menampakkan sesosok pria paruh baya dengan seragam penjaga yang melekat di badannya, ia tersenyum pada wanita cantik itu. Tangannya mengambil uluran sebuah paket kecil yang diserahkan Sakura.
"Untuk tuan Gaara pasti. Terima kasih ya, nona. Akan saya sampaikan." ucapnya.
Senyum kecil hadir di bibir wanita berambut pink itu. "Oke." Lalu Sakura membungkuk sedikit. "Kalau begitu saya pamit dulu, permisi.."
Ia langkahkan kakinya yang terbalut heels tiga senti itu menuju mobil pribadinya. Baru saja tangannya terulur untuk membuka pintu mobil gerakannya terhenti.
"Hufft.. Aku lapar.." Ia mengeluh kecil sambil memegang perutnya yamg keroncongan. Kembali ia tutup pintu mobilnya. "Ingin beli daging yakiniku di kedai dulu deh.. Aku juga sudah lama tidak jalan kaki di daerah sini.. Kangen juga.."
Setelah mengunci pintu mobilnya ia berjalan menuju kedai yang ada di ruko nomor 49 di sana. Tidak begitu jauh, maka dari itu Sakura lebih memilih jalan kaki ketimbang memakai mobil. Lagipula udaranya sangat segar, sayang kalau ia hanya berdiam diri di mobil. Sesekali seperti ini juga tak masalah baginya.
Wuushh~
Udara dingin di musim gugur cukup untuk membuatnya merapatkan jaket tebal yang dipakainya.
"Dingin sih.. Tapi sejuk.." Dia bergumam kecil.
Langkah yang tadinya lumayan bergerak cepat kini agak memelan begitu dilihatnya ada 5 orang pria berbadan besar yang ternyata sedang mengamatinya dari kejauhan. Sebenarnya ia ingin mengabaikan dan terus berjalan tapi apa boleh buat kalau dua orang dari mereka menghalangi jalannya tiba-tiba.
"Hei nona berambut pink..!"
"Sini, main dulu bersama kami."
Salah satu dari mereka mencolek dagunya dengan lancang. Tentu saja Sakura menepisnya kasar. Ia bagi tatapan tajamnya pada mereka.
"Jangan berani menyentuhku, sialan!" ucapnya sambil menggertakan gigi.
"Jangan galak-galak. Nanti cantiknya luntur loh!"
Sakura berdesis. Alisnya mengernyit. "Dasar menjijikan."
Jujur. Sebenarnya wanita itu takut dan was-was dengan mereka. Apalagi melihat tatapan mereka yang seolah-olah menelanjanginya bulat-bulat. Dalam hati agak menyesal juga kenapa dirinya bodoh sekali berjalan sendirian di tengah kesepian seperti ini tanpa berpikir jauh kedepan. Dekat sih dekat, tapi sama aja cari mati namanya kalau begini. Dia juga tidak tahu kalau akan ada kejadian seperti ini. Ternyata jalanan blok rumahnya sudah tidak aman. Besok-besok ia akan melapor pada penjaga kompleks untuk lebih memperketat penjagaan.
"Kubilang jangan sentuh aku, brengsek!"
Sakura kembali menepis kasar begitu rambut panjangnya dipegang oleh salah satu pria. Mereka tertawa senang begitu mendapat respon wanita cantik itu. Tangannya merapatkan jaket yang dikenakannya sambil berusaha menerobos mereka. Lalu berjalan cepat sambil menunduk.
Jantungnya terus berpompa kala mendapati mereka mengikuti langkahnya yang terlihat seperti ingin melarikan diri.
"Jangan mengikutiku!" serunya kencang sambil melempar beberapa batu kecil yang di lihatnya. Dan berhasil ada satu orang dari mereka yang berhenti karena batu itu sukses mengenai pelipisnya. Sakura mengambil kesempatan itu untuk berlari tapi sayang dalam kondisi dengan sepatu heels yang dikenakannya akan membuat kakinya terluka nantinya. Tapi ia tak peduli, saat ini dipikirannya hanya satu. Menjauh dari mereka, maka dirinya aman.
Tanpa Sakura sadari semakin lama langkahnya semakin pelan, itu dikarenakan efek nyeri yang timbul dari sepatu tingginya itu. Dia berhenti sebentar. Keringat-keringat kecil mulai keluar dari pori-pori kulit putihnya, tumit kakinya benar-benar berdenyut luar biasa, padahal belum sampai jarak berpuluh kilo meter tapi sudah seperih ini? Dia merutuk dirinya karena jarang berolahraga.
"Hyaa—Hmpphh!"
Sakura tersentak saat mulutnya dibekap dan kemudian diseret paksa menuju sebuah gang gelap yang pengap dan juga kotor. Pikiran Sakura mulai kalut, ia menggeleng-geleng kuat. Kakinya meronta-ronta minta dilepaskan.
"Sudah. Sikat saja. Tubuhnya bagus. Sayang kalau tidak dimanfaatkan dengan baik—"
Belum sampai menyelesaikan kalimat itu, Sakura sudah menggigit tangan bau pria itu dengan kencang sampai pria bertubuh kekar itu merutuk Sakura dengan kalimat tak pantas.
Wanita itu tak peduli. Ia takut sekarang. Sangat takut. Bagaimana caranya ia bisa lolos bila satu-satunya celah jalan keluar dihalangi oleh badan mereka?
Emerald-nya mulai berkaca-kaca kala pikiran negatif mulai mengumbar kemana-mana dalam otaknya.
"TOLONGG!"
Ia berteriak histeris dan mereka semua membiarkannya. Percuma, kalau wanita itu teriak yang ada cuma menghabiskan suara dan tenaganya saja. Takkan ada yang mendengarnya.
Napasnya terengah-engah, ia lirik mereka takut-takut. Dengan keberanian yang ia kumpulkan ia segera lancarkan aksinya, yaitu menendang salah satu selangkangan dari pria di tengah yang menghalangi jalannya.
"Egh!"
Dan berhasil, dua orang pria yang ada di sampingnya langsung menangkap sigap tubuh pria yang 'itu' nya ditendang oleh Sakura.
" KUSO! J-Juniorku! Tangkap dia!"
Sakura segera melarikan diri. Dengan berdoa dalam hati ia berucap semoga dirinya selamat dan kakinya kuat. Ia terus berusaha dengan linangan air mata yang mengalir, dia menggigit bibir bawahnya.
"PERGI KAU ORANG-ORANG BRENGSEK!"
Sakura melempar heels miliknya pada mereka sambil terus berlari dengan sedikit terpincang-pincang.
"Toloong!"
Ia berteriak parau. Tak adakah orang yang akan menyelamatkannya? Kenapa daerah disekitar blok ini sepi sekali.. Kami-sama ... inikah akhir hidup yang mengerikan untuknya? Diperkosa oleh sekumpulan pria tak jelas asal-usulnya. Air matanya kembali mengalir dan bruk! Dia terjatuh, kakinya benar-benar lemas dan juga mulai membiru karena dipaksa terus berlari tanpa henti. Sakit di kakinya tidak sebanding dengan perasaan takut yang menghinggapnya kini.
"Toloong.. Kumohon siapapun.. tolong aku.. hiks.. hiks.."
Wanita itu menunduk sampai menutupi bagian samping wajahnya. Ia memejamkan matanya sambil memegang kakinya yang terus berdenyut-denyut nyeri. Dirinya pasrah akan hal apapun yang akan terjadi padanya nanti. Tubuhnya bergetar karena tangis.
"Diam ditempat atau kutembak kalian!"
"Sial. Kenapa harus ada polisi segala?! Sudah ayo pergi."
Wanita berambut pink itu masih tetap memejamkan matanya; tidak sadar kalau pria-pria brengsek tadi sudah pergi lari ketakutan.
Sebuah suara langkah mendekat terdengar di gendang telinganya. Sakura makin erat memejamkan matanya.
"Kau..."
"Ja-jangan mendekat." ucapnya memberi peringatan pada sosok itu.
Sementara di lain sisi, pria berambut raven yang masih mengenakan seragam polisi itu mendengus. Ia taruh pistol miliknya pada saku belakang tempat menyimpan benda berpelatuk itu.
"Kau sudah kutolong, tak ingin mengucapkan terima kasih, hn?"
Suara menjengkelkan ini..
Dengan perlahan ia dongakkan wajahnya yang sedari tadi menunduk. Dan matanya seketika membulat saat mendapati pria itu ada di hadapannya. Berdiri dengan raut datar memandangnya dari atas.
"Kau...? S-Sasuke?"
"Ya."
.
.
.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau ada aku di sana?" tanya Sakura, agak heran.
Mereka berdua sedang berjalan—ralat, hanya Sasuke yang berjalan, sementara Sakura digendong olehnya—menuju mobil milik wanita berambut pink yang masih terpakir rapih di rumah Temari jauh diujung blok sana.
Agak malu sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi kalau kakinya benar-benar tak kuat dipakai untuk berjalan. Jangankan berjalan, menapak untuk berdiri saja sulit.
"Kebetulan." jawab Sasuke seadanya.
Saat menyelesaikan tugas untuk menyelamatkan wanita paruh baya pemilik toko, sehabis pulang, dirinya berniat untuk membeli sebuah makanan di kedai yang tak terlalu jauh letaknya dari sana. Saat berjalan melewati blok nomor 53 ia sedikit melirik mobil dengan plat yang cukup familiar di otaknya. Dan tak disangka-sangka juga ternyata onyx miliknya melihat sekelebat pria dari jauh menuju gang kecil di sebuah sudut, mereka seperti terlihat mengejar sesuatu dan insting polisinya pun bergerak untuk melihat keadaan yang terjadi. Cukup terkejut juga, ternyata korbannya adalah wanita pink ini.
Langit di atas sudah mulai gelap. Dan dalam menuju perjalanan yang sepi Sakura merasa.. entahlah, ia merasa nyaman dan terlindungi dalam gendongan pria itu. Aneh memang, beberapa hari sebelumnya ia merasa pria di dekapannya ini sangat menjengkelkan dan begitu menyebalkan, tapi pemikiran itu sudah tergeser berkat kejadian tadi. Memikirkan hal itu Sakura kembali terbayang-bayang oleh pria-pria brengsek yang mencoba untuk mencabulinya. Wanita itu mendecih.
"Tsk. Aku tidak tahu kalau kau tak ada apa yang akan terjadi padaku.."
"Hn."
Sakura terdiam beberapa saat sampai rasa penasaran itu mulai menghigapinya; mengenai seragam yang dipakai Sasuke. Ia miringkan kepalanya untuk melihat wajah pria itu dari samping. Sempat terpana kala menyimpulkan dalam hati bahwa pria itu sangat tampan dengan hidung mancung, mata hitam yang tajam dan garis bibir yang pas. Kulitnya juga mulus tanpa sedikitpun cacat kecil. Wangi yang menguar dari tubuh pria ini juga.. ia.. entah kenapa serasa ingin memeluknya sampai jatuh tertidur. Sakura menelan ludahnya susah payah.
Tidak.
Ia menggelengkan kepalanya pelan. Ada apa dengannya? Kenapa malah memuji ketampanan dan memikirkan hal yang aneh-aneh tentang pria itu coba? Hish. Aneh.
Sasuke melirik wanita yang digendongnya lewat ekor mata. Sedikit heran kenapa Sakura bertingkah seperti orang tidak waras dengan menggelengkan kepalanya sendiri.
"Hn? Kenapa kau?" tanya pria itu.
Sakura menghela napas. Ia gigit bibir bawahnya sebelum bersuara.
"Hei.. kau benar-benar seorang polisi?"
"Seperti yang kau lihat."
Sakura terdiam beberapa saat.
"A-arigatou ne..."
Tes.
Satu titik air mata jatuh dan Sakura buru-buru mengelapnya. Wanita itu merutuk dalam hati kenapa suasana hatinya mendadak kacau balau seperti ini? Mungkin efek ketakutan itu masih terasa jika otaknya mengulang lagi momen mengerikan itu. Ia tertawa miris dengan bibir yang bergetar saat membayangkan kalau seandainya saja tidak ada Sasuke yang menolongnya, mungkin hidupnya sudah kacau sekarang.
Onyx itu kembali melirik lewat sudut matanya. Pria itu bisa merasakan ada sebuah air yang menetes di kulit lehernya yang tak tertutupi oleh syal. Dia mendengus. Wanita berambut pink yang selama ini ia pikir kuat ternyata bisa menunjukan sisi seperti ini juga.
"Kenapa kau menangis? Dasar cengeng."
PUK!
Sebuah pukulan mendarat di bahu pria itu. Sasuke agak sedikit terkejut, hampir saja gendongannya terlepas kalau dia tidak cepat-cepat sigap membenahinya lagi. Niat ingin memarahinya seketika padam begitu lehernya kembali didekap erat oleh wanita itu. Sakura membenamkan wajahnya disana dengan sebuah isakan kecil. Sasuke pun terdiam.
"Kau tak tahu apa yang kurasakan! I-Ini seperti menyangkut harga dirimu yang paling berharga, dasar bodoh!"
Sakura berucap dengan suara yang teredam.
Pria itu kembali menatap lurus jalanan sepi yang di hujani dengan daun-daun berguguran warna-warni. Ia hembuskan napasnya lewat hidung.
"Seperti deja vu. "
Entah niat ingin menghibur wanita itu atau Sasuke memang sedang ingin berbagi, ia juga tidak tahu. Yang jelas mulutnya seperti bergerak sendiri saat mengulang sebuah memori lama.
Air mata Sakura berhenti mengalir dan perlahan mengangkat wajahnya karena bingung.
Sedikit menghela pria itu melanjutkan. "Sewaktu aku masih sekolah menengah ada seorang gadis berambut merah yang menolongku saat aku dikeroyok oleh sekumpulan pria brengsek yang membenciku. Aku pikir hidupku akan berakhir di sana. Tapi nyatanya tidak."
Tanpa sadar garis bibir datar pria itu membentuk sebuah senyum kecil yang tak terlihat oleh siapapun.
"Wanita itu.. apakah Karin? Kekasihmu?"
"Hn. Awalnya aku berpikir dia adalah orang yang menyebalkan, tapi lama-lama menarik juga." Onyxnya memandang langit kelabu malam ini. "Lalu saat dia bilang, dia ingin menikah dengan seorang polisi. Tanpa sadar aku berusaha mewujudkan mimpinya itu. Dan aku tahu, saat itu juga aku telah menaruh hati padanya."
Sakura mengeratkan dekapannya. Entah kenapa ia tak suka saat mendengar Sasuke bercerita tentang perasaannya ke wanita lain.
"Kau.. apakah kau benar-benar mencintainya?" Sakura memberikan pertanyaan lagi dengan nada pelan.
Dan pria itu pun menjawab cepat. "Hn. Sangat. Aku sangat mencintainya."
Sakura membuang arah pandangannya ke arah samping. Matanya kembali memanas, ia taruh tangan kirinya yang terkepal di bawah dadanya. Ada apa dengan dirinya? Kenapa ia kecewa dan sedih, seakan tidak terima dengan jawaban pria itu?
TO BE CONTINUED
a/n:
Ampuun! Sorri lama apdet, dan maaf juga saya ngga bisa apdet kilat haha. Tadinya mau niat hiatus #dilemparpohontoge #kabur Tapi tapi masih adakah yang mau nunggu? Atau malah.. udh pada bosen trus keluar dari panpikku? Heuuu :'( Cuma mau bilang 2 atau 3 chapter lagi fic ini tamat :') Author udah pernah bilang kan kalau fic ini gak akan panjang? Muehehe.. *krik..krikk..* Oya aku sekalian mau curhat dikit nih, aku udah masang cover di semua panpikku dri awal pertama aku publish tpi pas aku buka lewat hape, covernya malah gaada #bingung
Dan aku sekalian mau bales review yg ada di sini..
Lumaera : Cieee yg riview pertamaaa #plak. Iya kamu yg pertama ngeriview :D Makasih yaa untuk riviewnya.
Jeyhwasasusaku23 : Iya gak bakal aku di discontinued ko fic ini. Arigatouu buat follow dan favoritnya ya. Salam kenal juga Jeyhwasasusaku23 :)
kakikuda : Wkwk kayaknya mah otak authornya nih yg ngaco jadi Sakura-nya kebawa-bawa #plak. Iya Karin mah pergi saja kau yg jauh sana #hushhush
Lin Xiao Li : Wahh, syukur deh ya kalau menghibur.
fujiwaraa : Ini udah lanjut. Maaf ngga bisa apdet kilaat huu :(
KujyoNozara : Ciee yg senyum-senyum sendiri haha (asal jan ada yg liat ya, ntr pada mikir yg aneh" lagi #ditendang #tuingg) Ini udah lanjut ko. Makasih buat semangatnya ya.
donat bunder : Okeey, udah dilanjut ko ini :D semoga suka dan ga mengecewakan ya.
A. Fran Maha Megane : Ini sudah lanjut. Oke, makasih buat semangatnya.
DCherryBlue : Wiih setujuu :D SasuSaku alwaysss hiyaaa #abaikan. Ini udah lanjut ko.
Putri447 : Makasih untuk pujian dan semangatnya.
PIYORIN : Trimakasih.
alif yusanto : Makasih untuk riviewnya, ini udh lanjut..
miryou horouki : Ini udah next chapternya.
Sachan : Aaa masa sih ini seru? :D haha tpi makasih udah review, ini sudah kulanjut ko.
fransiskasara33 : Syukur deh kalau suka sama temanya ya :D Ini sudah lanjut.
Trimakasih bnyk buat yang udah ngeriview, nge-follow serta nge-fave atau sekedar baca aja :) jangan bosen" untuk kasih aku riview lagi :') Dan semoga kalian suka sama chapter ini. Yasudah segini aja author note ini berakhir. Sampai bertemu di chapter selanjutnyaa!
Terakhir, boleh minta review?
