Previous Chapter: Kisame - dead.
Aku akan menemui Hinata suatu saat nanti dan berkata padanya bahwa semua orang yang telah membunuh orangtua kami sudah mati kubunuh.
Dan aku berharap dia akan makin menyayangiku.
Sembilan target lainnya: Hidan, Zetsu, Deidara, Kakuzu, Sasori, Tobi, Itachi, Konan, Pain.
Warning: OOC, Alternative Universe
Disclaimer: Masashi Kishimoto
EsCream presenting:
Most Wanted
.
.
.
Chapter 2: HER GUARDIAN
Kakashi Hatake's POV
Second Target: Hidan.
Pria pemuja setan psycopath yang anehnya punya banyak harta. Ia sedang berada di suatu kota kecil di Amerika Selatan, tepatnya sedang menyebarkan ajaran sesatnya ke penduduk-penduduk di sana. Kurasa dengan ilmu hitam itu jugalah dia memperoleh kekayaannya.
Hidupnya menyedihkan. Almarhum ayahnya juga seorang pemuja setan. Ibunya tewas dibunuh ayahnya sendiri untuk dijadikan tumbal. Hidan menyaksikan kematian ibunya, tapi tak pernah sedetikpun ia merasa sedih atau ngeri.
Aku menjadikan pria sinting ini sebagai targetku yang kedua karena ia ada dalam video pembantaian ayah dan ibuku, artinya, ia terlibat langsung. Meskipun ia bukan orang yang membunuh orangtuaku, tapi ialah yang melakukan suatu ritual setan saat kematian mereka. Ia seolah menjual jiwa orangtuaku, lalu mencongkel bola mata mereka dengan tangan kosong lalu menginjak-nginjaknya dengan ekspresi senang di wajahnya.
Aku tidak akan memaafkannya. Memaafkan Kisame yang sudah tewas dua hari lalu pun tak akan pernah kulakukan. Pria itu memang tidak membunuh orang tuaku secara langsung, tapi dia sudah melecehi tubuh ibuku dengan tangannya. Dia dan dua pria lainnya, memperkosa ibuku dan tak memberi wanita malang itu ampun.
Di video yang berisi kejahatan mereka itu, Kisame bertugas menahan gerakan Mayumi Hatake yang terus memberontak. Tapi pria itu beberapa kali menonjok ibuku dengan keras, membuat lebam di pipinya yang pucat. Hal itu membuatku amat geram padanya. Aku menghukumnya dengan membiarkannya mati disengat kelabang, yang juga menimbulkan lebam di tubuhnya.
Dosa Kisame merupakan yang paling tidak berat. Jadi aku menjadikannya target pertamaku. Aku memang mengejar targetku dari yang paling teri hingga yang paling kakap.
Hidan memiliki dosa yang sedikit lebih berat dari Kisame, jadi ia target keduaku. Menghancurkan bola mata kedua orangtuaku akan menjadi hal yang paling disesalinya.
Saat ia sedang berkoar-koar tentang betapa hebatnya setan yang dipujanya, aku melempar bom ke kerumunan massa yang sedang mendengarkannya. Orang yang bersedia mendengar setan berkata-kata, adalah setan itu sendiri. Jadi sekalian saja kumusnahkan semuanya.
Orang-orang bodoh itu tak sempat berteriak, tubuh mereka sudah tercerai-burai. Hidan sempat melihatku saat aku melempar bom ke arah penontonnya. Jadi ia berhasil selamat. Tapi memang itulah harapanku.
Bajunya compang-camping dan wajahnya menghitam. Ia melihatku berjalan mendekatinya. Sesaat wajahnya terlihat memancarkan ekspresi ketakutan yang amat sangat. Lalu wajah itu berubah mengerikan. Ia tersenyum senang.
"Kau datang!"
Kepribadian ganda. Aku sudah mengetahuinya saat aku membaca arsip tentang dirinya. Dirinya yang satu hanyalah seorang pemuja setan berwajah idiot. Dirinya yang ini adalah seorang psycopath bersifat kekanakan. Dan kepribadian yang inilah yang mencongkel dan menginjak-nginjak kedua mata orangtuaku.
Hidan berdiri dengan agak susah payah. Salah satu kakinya terkena bom. Ia kini hanya berdiri dengan satu kaki, sementara kaki lainnya sudah hancur lebur.
Meskipun keadaannya begitu, ia tetap mendekatiku. Ia melompat-lompat, semakin dekat dan makin dekat dengan diriku. Ia tertawa terkekeh-kekeh. Tangannya terjulur ke arahku. "Aku ingin matamu..."
Saat ini kedua jarinya sudah sangat dekat dengan mataku dan ia sudah siap mencongkelnya. Aku mengeluarkan katana dari sabukku dan langsung menebas kakinya yang satu lagi hingga putus. Ia terjatuh. Tingginya tak lebih dari pinggulku saat kedua kakinya sudah tiada. Ia mengerang keras dan menangis memegangi kakinya yang berdarah-darah.
"Sialan! Biarkan aku berdiri, aku mau matamu! Matamu!"
"Mau mataku, eh?" Aku berlutut di depannya dan mencondongkan tubuhku ke depan seolah menyerahkan diri. Ia mengulurkan lagi tangannya yang kini gemetar karna ia sedang berusaha menahan sakit. Saat ia menyentuh kelopak mataku, aku langsung menusukkan katanaku yang sudah kusiapkan dari tadi tepat ke dalam mata kanannya.
"ARRGHHH!"
Ia berteriak keras. Aku menusukkan katanaku makin dalam, memutar-mutarnya dengan kegembiraan luar biasa di dalam batinku. "Hentikan! Hentikan! Kau gila! GILAA!"
Heh, bukannya dia yang gila?
Aku mengambil revolver dari balik sakuku. Menggunakan tangan kiriku, aku menusuk mata kirinya dengan moncong revolver yang membuatnya makin berteriak menyedihkan. Aku berusaha mencongkel matanya dengan terus menggerak-gerakkan moncong revolverku yang menempel di bola matanya. Karena masih belum berhasil, aku makin memperdalam tusukanku, menggerakkannya ke atas dan ke bawah. Air mata dan darah membasahi wajahnya.
Aku merasa sangat senang hingga aku tidak menyadari tangannya sudah memegangi tanganku, tepatnya, pistolku. Ia menarik pelatuknya dan bola matanya meledak bersamaan dengan kepalanya.
Tch, bajingan. Ia bunuh diri.
Aku menarik katana juga revolverku dan membersihkan mereka dari darah Hidan yang menjijikkan, lalu menyimpan kedua senjata kesayanganku itu ke dalam sabuknya masing-masing.
Tidak ada polisi atau apapun yang menghampiri lokasi kejadian meskipun bom itu tadinya meledak keras sekali. Tentu saja, karena aku sudah membayar semua penduduk yang tinggal di sekitar sini untuk pergi berlibur sebentar. Aku tidak suka ada yang melihatku sedang melakukan pekerjaanku.
Aku lalu mengeluarkan ponselku dan memotret Hidan.
Objek foto: seorang pria mati terbelalak, dengan kedua bola mata hancur. Tubuhnya tak lagi memiliki kaki. Kaki kiri terburai dan kaki kanan ditebas dalam jarak dekat. Di sekeliling tubuhnya terdapat lingkaran hitam yang biasa digambarkan oleh para pemuja setan saat sedang melakukan ritual penumbalan.
Dan aku lah yang menggambar simbol setan itu. Aku dikaruniai daya ingat fotografis yang membiarkanku mengingat hal-hal yang kulihat. Aku hanya melihat simbol itu sekilas di video pembantaian kedua orang tuaku, namun itu sudah cukup.
Aku lalu mengirimkan foto itu ke delapan target lainnya. Masih dengan namaku tercantum.
Aku membiarkan jasad Hidan dan jasad-jasad para pendengar pidato setannya beristirahat dengan tenang di bagian kota kecil itu. Tubuh mereka semua tidak ada yang utuh. Saat para penduduk lainnya kembali dari liburan mereka, biarlah mereka yang mengubur jasad-jasad itu.
Bukankah aku seseorang yang berhati besar?
Aku segera menuju bandara untuk melakukan penerbangan ke Brazil. Target ketigaku ada di sana. Tapi sebelum berangkat untuk memburu targetku, aku menyempatkan diri untuk menelepon adikku. Ia sudah tiba di Indonesia beberapa jam lalu. Kini aku sedang menghubunginya dan tak lama kemudian ia sudah mengangkat teleponnya.
Aku selalu rindu mendengar suaranya yang lembut itu. Telepon yang aku dan adikku pakai tentu saja bukan telepon yang bisa disadap. Aku tidak membiarkan ada celah sekecil apapun dalam semua rencanaku. Aku akan menjaga Hinata dan tetap hidup untuknya sampai semua orang yang telah menghabisi orang tuaku mati ditanganku.
Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat membunuhku, kecuali dia tentu saja.
Hinata Hatake.
Aku rela mati untuknya. Jika ia memintaku untuk mati, aku akan melakukannya. Tapi tentu saja aku tidak akan langsung mati kalau ada orang-orang yang mengincar hidupnya. Akan kupastikan dulu Hinata aman dan ia berada di tangan orang yang tepat sebelum aku mati.
Aku selalu merasa tak enak membayangkan Hinata akan menikah dengan seorang pria suatu hari nanti. Tapi selama orang itu bisa menjaga Hinata hingga mengorbankan nyawanya sendiri, aku tidak apa-apa. Seandainya Hinata bukan adik kandungku, aku akan menikahinya dan selalu menjaganya.
Hinata adalah alasan aku hidup. Sekali saja orang-orang keparat itu membuatnya terluka, bahkan jika hanya goresan, kupastikan mereka akan menyesal seumur hidup mereka.
Awalnya sangat sulit membiarkan Hinata akan sendirian, berbeda negara dan benua denganku. Lalu aku teringat akan seorang sahabatku.
Ya, aku punya seorang sahabat. Dan sahabatku ini bukanlah orang biasa. Orangtuanya juga terbunuh di kasus pembantaian di Dubai. Kami sudah bersama sejak kecil dan aku tau satu hal, bahwa ia sangat menyayangi Hinata. Ialah satu-satunya orang di dunia ini selain aku, yang menyayangi Hinata lebih dari menyayangi hidupnya sendiri.
Aku menghubunginya dan ia sangat bersedia membantuku. Apalagi tugas yang kuserahkan padanya sangat menguntungkan baginya.
Aku memintanya mengawasi Hinata selama kusembunyikan di Indonesia. Hanya ia yang bisa kupercayai. Ia banyak mempelajari sifatku sejak kecil, jadi aku tidak khawatir menyerahkan Hinata dalam tangannya.
Saat Hinata melakukan penerbangan ke Indonesia, Sai sudah berada di dalam satu pesawat yang sama dengannya. Awalnya aku hanya meminta Sai untuk mengawasi Hinata dari jauh, tapi kini Hinata yang sedang menelponku mengatakan bahwa Sai sedang bersamanya.
"Hey, bagaimana kabarmu? Aku senang mendengarnya. Apa yang sedang kau lakukan? Sai? Bagaimana dengan dia? Kalau butuh uang atau yang lain hubungi aku, oke? Ah, begitu. Jangan segan-segan pukuli dia kalau dia macam-macam. Baiklah aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu, jangan jauh-jauh dari Sai. Bonne journè. Aku menyayangimu, Vania."
Aku menutup telponku. Hinata kini dalam pengawasan penuh Sai, pria murah senyum yang punya sejuta hal misterius dibalik keramahannya.
Mengetahui sifatnya, pria itu mungkin akan menyamar menjadi teman sekelas Hinata di sekolahnya. Wajahnya yang tidak pernah tua itu tentu saja sangat mendukung penyamarannya.
To Be Continued
.
.
.
Nyawww! Makasih yang udah doain Author hingga Chapter 2 selesai di-publish! Moga-moga bisa sampai tamat yak!
EsCream rada bingung ini fanfic dimasukin ke Rate M atau enggak yaa, soalnya dari target ke target Kakashi bakalan makin brutal.
Soal Kakashi yang manggil Hinata dengan nama Vania, itu bukan typo kok. Alasannya akan ada di chapter selanjutnya.
Ditunggu kritik dan saran dari kalian. Bagi yang udah review, makasih banyak! Peluk-peluk yang udah review/fave/follow cerita ini.
Love,
EsCream
