"Benci benci benci! Aku benci Murk sialan itu! Huwaa!"
Tanpa diketahui oleh Jeno, Haechan yang berada di tempat yang jauh darinya hanya bisa menjauhkan ponsel dari telinganya saat mendengar suara rengekan Jeno.
"Berhenti merengek seperti itu! Astaga telingaku mau pengang rasanya."
Jeno mendelik. "Kau tidak membelaku, Chan huh?!"
Di ujung sana Haechan berjingkat kaget. Suara Jeno yang sedang kesal benar-benar terdengar nyaring ckck.
Haechan menggeleng namun sesudahnya ia sadar bahwa Jeno tidak mungkin melihatnya. "Tidak, tentu saja aku membelamu."
Tubuh Jeno ia hempaskan ke kasur besar di tengah kamar. Menatap langit-langit seraya bergumam pelan.
"Apa salahku sih?"
"Halo? Jeno, kau bicara apa?"
Jeno tersadar lalu kembali mendekatkan ponsel ke telinganya. "Bukan apa-apa, Chan hehe. Sudah ya aku mengantuk, bye."
Tut.
Sambungan telepon dimatikan, menyisakan Jeno yang melamun sendirian di kamar bernuansa biru dongker itu.
"Rasanya aku familiar dengan wajahmu Mork," gumamnya.
Jeno menggulingkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan berusaha mengingat wajah familiar Mark.
"Aku sering melihat wajah si sialan itu, tapi di mana?! Eh pernah tidak sih? Mukanya itu kan pasaran, banyak berkeliaran di sekitar Hongdae," lanjut Jeno.
Jeno melamun, memikirkan wajah Mark yang sepertinya sering ia lihat. Hingga semenit kemudian pemuda Lee itu menepuk dahinya keras.
"Lee Jeno bodoh, untuk apa memikirkan pria itu! Kisah cintamu dengan kak Jaehyun saja belum beres."
Kaki Jeno berjalan mendekati meja belajar kecil di sudut kamar. Mengambil sebuah buku dari laci dan membuka satu per satu halaman buku dengan perlahan.
Tiga detik kemudian Jeno mulai menampilkan sebuah senyuman. Matanya menghilang menampilkan dua buah eyes smile indah. Ditatapnya selembar kertas lusuh di tangannya. Kertas yang sudah diremas-remas oleh penulisnya.
Untuk Lee Jeno kelas 7-3
Semua itu berawal dari kejadian tak disengaja yang dilakukan olehmu.
Saat itu tanpa sadar kau menepuk punggungku dengan botol air mineral, membuatku menoleh kepadamu dan kau hanya menatapku bingung. Hingga akhirnya kau sadar bahwa dirimu sudah memukulku dan segera meminta maaf kepadaku.
Sejak saat itu jantungku berdebar keras saat melihatmu. Senyumanmu membuat rasa gundahku luntur. Dan tawamu mengisi setiap relung hatiku.
Aku bukan tipe pria romantis. Karena itu aku hanya bisa menuliskan perasaanku di selembar kertas ini.
Jadi...
maukah kau pergi kencan denganku?
Dari Jung Jaehyun kelas 8-3.
Senyum Jeno semakin melebar namun tak berapa lama senyum itu memudar, digantikan dengan seulas senyum miris.
"Jaehyun hyung, aku masih menyukaimu seperti saat kita SMP dulu. Tapi sepertinya hatimu sudah diisi dengan orang lain yang lebih baik dariku." Jeno tersenyum kecut.
Tanpa Jeno sadari setetes air mata mulai turun membentuk aliran sungai kecil.
"Jaehyun hyung melupakanku, dan sekarang aku punya musuh. Astaga mirisnya hidupmu ini, Jen."
Hate Love
Pagi hari yang mendung namun tak semendung hati Jeno. Saat terbangun tadi matanya memerah juga sembab akibat menangis semalam.
Jeno menatap pantulan wajahnya di kaca kamar mandi. Ia mendengus lalu menyentuh matanya yang terlihat bengkak.
"Jelek, padahal sudah aku kompres dengan air dingin daritadi." Jeno berdecak.
Jeno mendatangi ruang makan lalu mengambil bekal yang sudah ibunya buatkan.
"Jeno, ini-ASTAGA?! ADA APA DENGAN MATAMU, JEN?!" teriak eomma Jeno panik walaupun tangannya tetap tak lupa untuk meletakkan susu coklat untuk Jeno.
Tuh kan, pasti eomma akan panik berlebihan. Jeno kan jadi tidak enak.
Jeno menggeleng lalu meminum susu yang eomma-nya berikan. Jeno mengusap wajahnya berharap agar matanya yang bengkak segera membaik.
"Kemarin aku menangis karena kucing milik Haechan mati."
Bohong. Sejak kapan Haechan punya kucing. Yang ada kucingnya kabur duluan saat melihat Haechan.
Eomma Jeno mengangguk percaya. Dalam hati Jeno meminta maaf karena sudah membohongi ibunya yang perhatian kepadanya.
Mau bagaimana lagi Jeno belum berani cerita kalau sebenarnya ia menangis karena kak Jaehyun yang melupakannya. Jangan sampai kak Jaehyun dibentak eomma-nya karena dikira sudah menyakiti Jeno. Karena eomma Jeno merupakan tipikal ibu yang senggol sedikit bacok. Maka jangan cari masalah dengan Jeno kalau tidak ingin dibentak, dimarahi, dan dipelototi eomma Jeno.
"Ya sudah, aku berangkat dulu." Jeno mengecup pipi eomma-nya lalu berjalan keluar.
Jeno berjalan menuju halte bus terdekat. Ia duduk diam menunggu bus jurusan sekolahnya. Tidak sampai lima belas menit bus tujuannya sudah sampai. Jeno segera masuk dan duduk di kursi dekat jendela, menyisakan satu kursi kosong untuk siapapun yang ingin duduk.
"Sebentar!"
Bus yang hampir berjalan segera berhenti saat supir bus mendengar teriakan seseorang. Jeno menatap ke luar tak peduli, mengabaikan umpatan dari penumpang lainnya yang sebal karena teriakan orang itu.
"Maafkan aku, maafkan aku," ucap orang itu. Jeno masih tidak peduli walaupun batinnya merasa tak asing dengan suara itu. Seperti suara seseorang, batin Jeno. Tetapi Jeno mengesampingkan suara hatinya dan lebih memiih untuk mementingkan lamunannya di pagi hari.
Seseorang menepuk bahunya pelan. Jeno tersentak dari kegiatan melamunnya, menolehkan kepala pada orang yang menganggu aktivitasnya.
"Mork?!"
Jeno menatap Mark kaget sementara Mark hanya tersenyum. "Boleh aku duduk sini? Semua kursi sudah penuh," tanya Mark sembari menatap sekeliling bus.
Jeno mengangguk. Entah karena takut dihina lagi atau memang tidak ingin berada di dekat Mark, Jeno segera menggeser tubuhnya hingga kepalanya menyentuh jendela dan meletakkan tas ranselnya di tengah-tengah dirinya dan Mark.
Keduanya diam, membiarkan detik menit berlalu sia-sia. Mark berdeham, matanya melirik Jeno yang diam saja.
"Aku tidak tahu kalau bus jurusan kita sama." Mark membuka percakapan. Matanya bergerak liar, menatap apapun selain Jeno.
Dengan terpaksa Jeno tersenyum. Mungkin sebelum sampai di bus Mark terbentur sesuatu hingga tiba-tiba menjadi ramah begitu. Walaupun enggan tetapi Jeno diajarkan eomma-nya untuk bersikap baik dan sopan. Jadi mau tak mau ia harus menjawab ucapan Mark-walaupun ia malas.
"Ah, iya," jawab Jeno singkat.
Keadaan kembali hening. Perasaan Jeno saja atau entah kenapa perjalanan ke sekolah hari ini terasa begitu lama?! Ah sial, kalau tahu ia akan bertemu-dan duduk bersama-Mark lebih baik ia berangkat bersama Haechan saja, yang biasanya datang lima menit sebelum bel masuk.
"Memangnya rumahmu di mana?"
Jeno mengutuk bibirnya yang seenak jidat bertanya kepada Mark. Tuhan, semoga Mark tidak bersikap ketus dan menghinanya selama hari ini. Diam-diam Jeno melirik Mark yang sedang tersenyum tipis.
Mark menatap Jeno yang membuat si objek tatapan menatap balik.
"Kau tahu Perumahan Gong?" tanya Mark.
Jeno mengangguk. "Tahu tahu, rumahku dekat situ. Bukan di dalam perumahannya sih. Pokoknya rumahku di dekat rumah sakit yang ada di dekat Perumahan Gong," jawab Jeno.
"Rumahku itu ada di... aduh bagaimana menjelaskannya ya? Tahu putaran di dekat minimarket Hong? Nah setelah itu ada tanjakan, lurus sedikit lalu belok kanan maka kau akan ketemu rumahku," jelas Mark panjang lebar.
Jeno menatap Mark antusias. Setahu Jeno, perumahan Gong itu rumahnya besar-besar. Pasti rumah si Mork juga besar, pikir Jeno.
"Pasti rumahmu besar ya, Mork?" tanya Jeno.
Mark menggeleng keras. "Tidak, rumahku biasa-biasa saja dibanding rumah-rumah yang lain. Kadang-kadang aku malu kalau melihat rumah-rumah di sampingku. Rumahku sepertinya kecil sekali. Ah omong-omong namaku Mark bukan Mork ataupun Murk, Jeno." Mark terkekeh.
"Maafkan aku. Namamu susah," cicit Jeno. Ia menunduk malu. Aduh, ia pasti terlihat bodoh sekali di depan Mark.
"Tidak apa-apa. Hanya saja lucu mendengarmu salah terus sejak kemarin," kekeh Mark.
Jeno hanya meringis menahan malu sementara Mark tetap berbicara tentang berbagai macam hal.
Mark menepuk paha Jeno saat mengetahui mereka sudah tiba di halte dekat sekolah. "Kita sudah sampai."
Jeno segera tersadar lalu berjalan mengikuti Mark yang akan membayar ongkos bus.
"Aku yang bayar. Dua orang, Paman," ucap Mark seraya mengeluarkan beberapa lembar uang kepada supir bus.
Jeno mengedip-ngedipkan matanya bingung. Wah benar-benar, jangan-jangan Mark mengalami amnesia sesaat. Bagaimana bisa ia jadi sebaik ini pada Jeno? Padahal kemarin ia dihina habis-habisan.
Mark dan Jeno berjalan beriringan dari halte. Keduanya diam. Jeno masih bingung dengan tingkah laku Mark yang berbeda, walaupun tak bisa dipungkiri ia juga senang dengan sikap Mark saat ini.
"Kau langsung ke kelas?" tanya Jeno saat mereka berada di dekat tangga.
Mark menatap Jeno sekilas lalu menggeleng sembari tersenyum tipis. "Tidak, aku ingin ke kantin dulu."
Jeno mengangguk mengerti. "Baiklah, kalau begitu... aku duluan." Jeno tersenyum sebelum melambaikan tangan pada Mark lalu berjalan menuju kelas.
Kedua berjalan terpisah, tanpa menyadari tatapan sepasang mata dari kejauhan.
"Sial."
Hate Love
Jeno menatap bingung murid-murid kelasnya yang sedang berkumpul di belakang kelas, menatap selembar kertas yang tertempel di mading.
"Ada apa?" tanya Jeno sembari meletakkan tasnya di kursi kepada Siyeon yang sedang memainkan ponsel.
"Oh itu ada pengumuman dari Pak Sehun tentang teman sebangku selama satu semester ke depan," jawab Siyeon. Jeno mengangguk mengerti lalu mengucapkan terima kasih.
Jeno pun berjalan menuju belakang kelas. Masih ramai. Karena itu Jeno terpaksa menjinjitkan kakinya agar dapat melihat isi pengumuman itu. Matanya memicing saat menangkap namanya tertera dikertas itu.
"Astaga, dari sekian banyak murid di kelas kenapa aku harus duduk dengan Mark?" Jeno menghela napas pasrah.
Detik kemudian Jeno menghela napas lega. "Terima kasih, Tuhan. Setidaknya di belakangku Haechan," ujar Jeno senang.
Jeno kembali mengambil tasnya lalu meletakkannya di tempat duduk terbarunya. Sebenarnya ia tidak suka dengan posisi tempat duduknya sekarang. Habisnya ia dapat tempat duduk di samping pintu, paling depan pula. Jeno itukan sering tertidur saat pelajaran. Kalau begini caranya ia tidak bisa tidur dong. Memang duduk di depan itu adalah posisi laknat. Jeno jadi sebal sendiri.
Sambil menunggu kedatangan Haechan, Jeno memainkan ponselnya walaupun diselingi dengan mengobrol dengan Jaemin yang sekarang sudah pergi entah ke mana. Karena Jeno duduk tepat di samping pintu maka Jeno bisa mengetahui siapa saja yang datang. Dan sialnya Jeno menengok ke luar tepat saat Mark datang.
"A-ah hai Mark," sapa Jeno canggung. Mark tersenyum tipis, terlalu tipis malah hingga Jeno tidak yakin Mark merespon sapaannya atau tidak.
Mark bersiap untuk jalan ke tempat teman-temannya berkumpul. Ada Kangmin, Chanhee, dan Sanha. Jeno segera menahannya. Mark menaikkan alisnya menatap tangan Jeno yang menggengam pergelangan tangannya. Jeno segera melepas genggamannya.
"Maafkan aku. Aku hanya ingin memberitahumu kalau kau duduk sebangku denganku," ujar Jeno dengan tangan yang mengusap tengkuk tak nyaman.
Mark hanya diam, tidak membalas ucapan Jeno. Dengan wajah datar Mark meletakkan tasnya di kursi samping Jeno lalu segera pergi ke tempat teman-temannya berkumpul.
"Mengapa ia datar sekali?" Jeno bergumam bingung.
Hate Love
Mark berjalan menuju kursi tempat teman-temannya berkumpul. Wajahnya yang semula datar mulai menampilkan sebuah senyum. Senyum mengejek.
"Hey man, kau duduk dengan Jeno. Awas nanti ada yang cemburu."
Mark menyeringai. "Sial, aku sebenarnya malas duduk dengannya."
Mendengar itu Kangmin memukul bahu Mark kasar. "Malas atau malas?" ejeknya.
Mark berdecih. "Kau tahu tadi aku bertemu dengannya di bus dan sialnya lagi aku terpaksa duduk dengannya karena semua kursi sudah diisi," ucapnya.
Ketiga temannya-Kangmin, Chanhee, dan Sanha-menatap Mark kaget.
"Gila bung! Kalau Lucas tahu sudah babak belur dirimu," ucap Sanha.
Mark mengangkat kedua bahunya malas. Mengambil pensil di atas meja lalu memainkannya asal. "Apa bagusnya si Jeno itu sampai Lucas bisa menyukainya? Lihat wajahnya sok cantik sekali," decih Mark.
Kangmin menggeleng tak setuju. Jari telunjuknya bergerak ke kiri dan ke kanan, menolak ucapan tak suka Mark.
"Matamu buta atau apa, Mark. Menurutku Jeno itu manis daripada cantik."
Chanhee dan Sanha mengangguk setuju. "Banyak yang menyukai Jeno. Wajahnya manis dan imut. Yah walaupun sikapnya itu sedikit bocah, tapi tak apa lagipula memang umurnya lebih muda satu tahun dari kita," setuju Chanhee.
Mark terdiam. Ia tidak bisa melawan teman-temannya kalau sudah begini.
Entah perasaannya saja tapi mengapa rasanya ia tidak suka mendengar orang lain menyebut Jeno manis?
Hate Love
author notee:
yeayy, mark sama jeno ketemu di bus! duduk bareng lagi.
