.

.

Jarum jam menunjukan pukul 00.54. Dan di sinilah Sakura berada. Dalam gelungan selimut tebalnya, ia tertidur. Nyenyak sekali. Entah apa yang dimimpikannya sampai-sampai sebuah aliran iler bening turun di samping mulutnya yang agak sedikit terbuka.

Drrt... Drttt...

Diawali sebuah getaran lalu mengeluarkan nada dering. Tanda bahwa ada seseorang yang menelpon pada ponselnya. Entah siapa, tapi Sakura mengabaikannya. Dan berhasil. Setelah beberapa detik berselang ponselnya berhenti berbunyi.

Kamar bernuansa pastel kembali mendapat kesunyian.

Tapi semua itu tak berlangsung lama, kali ini ponselnya berbunyi lagi. Dan, getarannya terasa lebih lama.

Merasa keberisikan, dengan kesal Sakura pun meraba-raba samping kasurnya. Tangannya sibuk mencari-cari, tapi matanya tetap terpejam. Setelah ia mengangkat ponselnya ia akan memarahi habis-habisan si penelpon itu. Mengganggu mimpi indahnya saja, pikirnya antara sadar-tidak sadar.

Tapi tunggu. Mana ponselnya? Kenapa tidak ada ya?

Dengan berat hati, ia pun tergerak untuk bangun dari tidurnya. Helaian merah mudanya terlihat mengembang dengan belek di kedua matanya serta iler yang menyebar hampir di seperempat pipinya.

Ia singkap selimutnya. Diangkatnya bantal-bantal yang ada di sekitarnya.

Kok tidak ketemu ya?

Ponselnya juga berhenti berbunyi. Ia agak bernapas lega. Karena itu dirinya kembali berniat untuk tidur lagi. Baru saja tubuhnya hampir mengenai empuknya kasur, tapi niatnya seketika tersendat karena ponselnya berdering—lagi.

"Arghh! Nyebelin! Mana sih ponselku?!"

Setelah detik-detik terlewat, Sakura baru ingat sesuatu. Ponselnya kan ia taruh di dekat meja belajarnya. Pantasan saja tidak ketemu.

Dengan gerak malas, ia berjalan menuju meja belajarnya yang terpaut sekitar 4 meter. Ia ambil ponselnya dengan rusuh. Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun ketika akan mengangkat ponsel itu.

Tanpa melihat ID nama si penelpon, ia geser tombol hijau ke arah kanan.

Klik.

"Ha—"

"DASAR ORANG GAK PUNYA OTAK! MEMANGNYA KAU PIKIR INI JAM BERAPA?! APA KAU TAK PUNYA JAM DI RUMAH?! "

"Ini aku."

Mendapati selaan suara berat yang menyahut, alis Sakura mengernyit, agak bingung.

"Memangnya kau siapa?"

"Pria yang kemarin lalu menawarimu pekerjaan sebagai mata-mata."

Jawaban padat dari pria itu membuat Sakura menjauhkan ponselnya untuk melihat ID nama yang tertera di layarnya saat ini.

Uchiha.

Pikiran Sakura pun bergerak mundur ke arah beberapa hari yang lalu. Oh iya. Dia ingat. Sakura pikir pria itu hanya omong kosong, karena semenjak hari itu, kelompoknya tak pernah terlihat lagi oleh indera pengelihatannya. Kurang lebih, sudah seminggu setelah malam itu.

"Kukira kau hanya main-main. Aku saja sudah lupa dengan perkataanmu, kalau kau tak mengingatkanku kembali."

"Hn. Jadi kau bisa mulai bekerja besok."

"HEI! Dasar orang stress! Aku saja tidak tahu Saara itu siapa. Ia tinggal di mana, apakah dia masih sekolah atau tidak, dan lainnya. Masa kau langsung menyuruhku kerja tanpa memberikan informasinya sedikitpun padaku." Sudut perempatan siku-siku mulai terbentuk di dahi Sakura.

Hening beberapa saat, sebelum pria itu mengeluarkan sebuah suara lagi.

"Kuberitahu informasi sedikit tentangnya. Namanya Saara Seramu. Ia akan mulai bekerja sebagai guru freelancer di sekolahmu."

"Hah? Sekolahku? Darimana kau tahu aku masih sekolah?" ucap Sakura kaget.

"Kau tak perlu tahu."

"Kau seorang penguntit ya?" tuduh Sakura curiga. Bagaimana dirinya tidak curiga coba? Orang yang kau tidak kenal sama sekali, tiba-tiba bisa tahu tentangmu.

"Bukannya itu pekerjaanmu sekarang?"

Sakura terdiam beberapa detik.

Benar juga sih.

Karena malas memikirkan lebih jauh, iapun hanya menjawab perkataan skak mat milik pria bernama Uchiha itu dengan asal.

"Ya, ya, yaa. Terserah apa katamu, Uchiha."

"Hn. "

"Ya sudah. Kututup telponnya, ya."

"Tunggu."

Niat ingin tidurnya seketika terpecah lagi, karena halangan pria itu. Dengan mata lima watt, gadis berambut pink itu menjawab suram. "Apa?"

"Walaupun informasi yang kau dapat hanya sedikit. Kau tetap harus memberitahuku. Bagaimanapun caranya."

" Ha'i ..."

Tut.. tut.. tut...

Sakura membelalakan matanya tak percaya pada ponsel digenggamannya. Tanpa memberi kata maaf atau ucapan selamat malam, pria itu memutuskan telponnya begitu saja?

...

6 Hari yang lalu..

"APA?! JADI KAU TIDAK TAHU MATA-MATA ITU APA? BWAHAHAHA!"

Sinar matahari tembus dari kaca jendela di kamar milik kediaman keluarga Yamanaka. Khususnya kamar Ino. Sinarnya menerpa wajah seorang gadis cantik bernama Sakura Haruno yang memerah, ia meringis malu. Suara Ino terlalu membahana. Walaupun ia hanya berdua di kamar milik sahabat cantiknya itu. Tetap saja kan.. perasaan malu karena dirinya terlihat seperti 'terlalu bodoh' di mata sahabatnya.

"Ha-ha-ha. Lucu ya."

Ino masih mengeluarkan tawanya. Ia pegangi perut langsingnya itu, kedua matanya sampai berair.

Ino sebenarnya tertawa bukan karena pertanyaan yang terlontar dari mulut sahabat pinky-nya itu. Tapi lebih karena ekspresi polos serius yang sebegitu penasaran oleh mimik muka Sakura. Makanya ia tertawa sampai terbahak-bahak kayak sekarang. Sakura jarang sekali memasang ekspresi seperti itu. Yang menjadi pemandangan sehari-harinya 'kan, Sakura selalu terlihat judes, sinis, dan lainnya. Walau tak dapat dipungkiri dirinya pun sebelas-dua belas dengannya.

"Hahaha. Duh! Air mataku sampai keluar nih." Telunjuk tangannya mengarah untuk menghapus sudut air di mata Aquamarine-nya.

"Yasudahh cepat beritahu aku! Mata-mata itu pekerjaan seperti apa?"

Gadis cantik berambut panjang blonde itu berbaring di kasur empuknya. Tawanya sudah mereda, meski ada sedikit kekehan kecil. Ia ambil sebuah I-Pod silver miliknya. Jari-jarinya bergerak ke atas ke bawah. Ia sebenarnya malas menjelaskan panjang lebar pada Sakura. Maka dari itu, ia coba memberi saran.

"Kenapa tidak searching saja sih di internet? Inikan jaman modern Sakuraa."

"Ribet ah. Lagian aku nggak punya pulsa."

Ino memandang Sakura tak percaya. Tapi, karena kasihan melihat wajah Sakura yang terlihat sebegitu mengenaskan ingin tahu, jadilah ia berusaha menjelaskan sesimple mungkin. Supaya dirinya juga tak berbelit-belit berbicara, dan Sakura langsung paham.

"Setau dari film yang kutonton sih, mata-mata itu semacam pekerjaan, di mana orang yang bekerja sebagai mata-mata ditugaskan untuk mencari informasi secara sembunyi-sembunyi dari target yang di mata-matainya. Bisa berupa penyamaran untuk mendekatinya, berpura-pura baik dengannya, yaa pokoknya sampai tujuan kita terlaksana untuk mendapatkan informasi pribadi tanpa di curigai pihak manapun."

"Ohh.." Penjelasan panjang Ino membuat Sakura mengangguk mengerti.

"Memangnya kenapa sih kau nanya-nanya hal kayak gini? Tumben banget." Ino kembali bertanya dengan cueknya. Masih belum paham maksud Sakura.

"Ada sesuatu hal lah pokonya."

Jawaban Sakura membuatnya dilanda perasaan penasaran seketika. Jadi Sakura mau main rahasia-rahasian? Oh tidak bisa. Ia harus mengetahuinya apapun yang terjadi. Ia tinggalkan kegiatan bermain I-pod sejenak. Kembali ia dekati Sakura yang masih terduduk di meja rias dekat kasurnya. "Apa? Apa? Aku mau tahuu.."

Sakura memberi isyarat untuk mendekat. Ino mengerti, ia majukan telinganya ke hadapan Sakura.

"HAH?! JADI KAU DIPEKERJAKAN SEBAGAI MATA-MATA SAMA PRIA YANG BARU SAJA KAU KENAL?!"

Tentu saja Ino kaget akan penuturan yang Sakura jelaskan. Bagaimana bisa Sakura—

BUGH!

Pikiran negatifnya segera berhenti tatkala ia mendapat pukulan bantal kencang bertenaga oleh Sakura.

"Aww! Pusing tahu.." kata Ino manyun sambil mengusap kepalanya yang baru saja dipukul pakai bantal oleh Sakura.

" Baka ! Aku sengaja bisik-bisik supaya tak ada yang dengar. Kau malah berkata dengan teriak seperti itu!"

"Tapikan di rumahku lagi ngga ada siapa-siapa Sakura."

Hening.

Dirinya baru sadar. Tujuannya curhat sekaligus bertanya pada Ino kan.. karena Ino bilang kebetulan rumahnya lagi tidak ada siapa-siapa untuk mendengarkan apapun yang akan sahabatnya ceritakan nanti. Makanya Sakura langsung bergegas ke rumah Ino.

"Oh iya, ya. Maaf, aku lupa..."

"Huu! Eh, tapi benar? Kau akan.." Ino merendahkan suaranya. "Menjadi mata-mata oleh pria yang baru saja kau kenal?"

Sakura mengangguk sebagai jawaban. "Hem. Habis gajinya menggiurkan sih."

"Berapa emangnya?"

"Dua juta ryo jika aku berhasil."

"Huapah?! Orang itu apa tidak sayang uang apa? Dua juta ryo kan jumlah yang tidak sedikit."

Sakura mengangkat bahunya cuek. "Entah. Dan aku tak peduli."

"Eh tapi Sakura, pria itu tak punya catatan kriminal kan? Aku takut kau kenapa-kenapa." raut muka nona Yamanaka terlihat khawatir, ketika memikirkan sahabatnya lagi. Melihat hal itu, Sakura langsung memberikan senyum manisnya.

"Tenaangg. Aku ini sudah sabuk hitam. Jadi tak perlu khawatir, oke? Masalah dia benar-benar dengan ucapannya waktu itu atau tidak, aku sudah punya solusi kok."

"Oh ya? Apa?"

"Waktu itu dia memberiku nomer telponnya. Aku takkan menghubunginya duluan, karena tentu saja dia yang membutuhkanku; bukan aku yang membutuhkannya."

"Jadi maksudmu kau menunggunya untuk menghubungimu duluan, untuk membuktikan perkataannya. Begitu?" Ino memiringkan wajahnya, bingung.

"Tepat sekali." Sakura menjentikkan jarinya. Ia putar tubuhnya menghadap cermin. Ditatanya rambut pink halus panjang sepunggung miliknya itu.

"Kalau dia tidak menghubungimu?" tanya Ino lagi.

"Yasudah. Aku akan melupakannya. Buat apa juga aku memikirkan hal rumit seperti itu. Hhh! Sudahlah kita ganti topik saja."

"Oke, oke. Hmm..." Ino memutar bola matanya ke kiri mencoba mengingat sesuatu. Lantas tangan putihnya terulur untuk mengambil kembali I-pod yang sempat terabaikan beberapa menit lalu. Ia tekan sekali tombol power on di atasnya.

"Kemarin aku baru saja mengunduh video ini. Tariannya rumit tapi menyimpan makna dan gerakan yang bagus loh."

"Mana? mana? coba aku lihat!" Sakura beranjak dari tempat duduknya dan langsung merapat pada Ino di sampingnya. Kepalanya ia dekatkan pada sahabatnya itu; ingin melihat video yang dibilang Ino.

"Nih."

.

.

Two Million ryo

Naruto © Masashi Kishimoto

Story by cimoeleventy

AU, OOC, misstypo everywhere, bahasa campur aduk, alur kecepetan, de-el-el.

Genres: Romance, Friendship, Humor.

Main pair: ItaSaku—slight: ItaSaara.

.

.

SECOND: She's Beauty

.

.

Di pagi hari yang cerah Sakura berangkat menuju kelasnya dengan gontai. Angin musim semi berhembus pelan, membuat helai pink-nya bergerak ke sana-kemari. Ia langkahkan kaki jenjangnya yang terbalut kaus kaki hitam sebetis tak semangat.

Buk!

Sesuatu menghantam bahunya sebentar. Tak lama berselang, pundaknya mendapatkan sebuah rangkulan oleh seseorang. Tangan itu berkulit eksotis, kentara sekali bahwa pemilik tangannya adalah spesies laki-laki.

Pemuda yang merangkul Sakura tak menghiraukan tatapan siswi-siswi yang memandang Sakura dengan iri.

"Ohayou Sakura-chann~ Eh? Matamu kenapa Sakura? Kok ada hitam-hitamnya begitu di bawahnya?" tanya cowok berambut kuning awut-awutan yang merangkulnya. Badge nama Naruto Uzumaki terpasang di sebelah kanan dadanya.

"Bukan urusanmu." Sakura menjawab sinis.

"Ne... Ne... aku mengerti," Kepala pirang itu mengangguk-ngangguk seolah paham apa yang sedang sahabat lawan jenisnya ini sedang rasakan. "Kalau sudah urusan seperti ini. Pasti gara-gara.. kau menghapal kore.. ko-koreogeografi ya semalaman?"

"Yang benar koreografi, baka." ralat Sakura dengan suara lesunya.

Tentu saja, tebakan Naruto Uzumaki salah besar kalau mata panda yang dia dapatkan hari ini adalah karena menghapal koreografi. Seandainya dia tahu kalau Sakura mendapat telpon teror tengah malam, habislah sudah, dia akan mendapatkan pertanyaan beruntun.

Cengiran seketika terpampang pada raut muka Naruto. "Iyaa, maksudku itu. Hehe."

"Sudahlah, minggir. Aku mau masuk ke kelas."

Sakura melepaskan diri dari rangkulan cowok yang memiliki tiga kumis tipis pada kedua pipinya. Ia bergerak lebih cepat di depan.

"Aku temani kau yaa, Sakura- chan ."

"Terserah."

"Uhuuyy!" Merasa ditanggapi iapun berjalan lagi beriringan dengan Sakura.

Dengan baik hatinya ia geser pintu kelas yang tertera tanda 'XI-F' berbentuk papan kecil itu. Mereka pun masuk ke dalam. Suasana terlihat ramai, tentu saja karena ini sudah agak siang dari jam masuk yang ditentukan sekolah.

Sakura berjalan menuju bangkunya. Nomor tiga dari barisan kedua. Naruto yang tidak ambil pusing langsung duduk di depannya. Mengabaikan tatapan siswi di seberangnya yang merona karena kehadirannya secara tiba-tiba.

Otak Naruto berpikir keras. Ingin mencari topik bahan bicara dengan Sakura. Lantas, ingatannya mengingat sesuatu yang masih fresh, ia buka mulutnya untuk memulai. "Oh iya, kau udah dengar gosip yang lagi beredar? Katanya sekolah kita mendapatkan guru baru lohh. Tapi dia tidak tetap mengajarnya. Apa ya sebutan untuk itu.. emm.. sebentar. Biar kuingat dulu "

" Freelancer ?"

"Iya itu. Gurunya cantik. Aku bisa berkata begini karena Shikamaru yang bilang, dia kan ketua osis. Katanya sensei itu masih muda. Namanya Saara Seramu kalo nggak salah." jelas Naruto ceria.

Urusan cewek cantik, entah kenapa membuat mood berceritanya menjadi naik empat tingkat.

Deg!

Beda hal dengan Naruto. Sakura justru terpaku, saat Naruto menyebutkan nama guru baru itu. Siapa tadi katanya? Saara Seramu?

Berarti.. pria bernama Uchiha itu memang tidak main-main dengan ucapannya. Merasa obrolan ini begitu penting dan menarik, maka dirinya pun bertanya lebih jauh, "Dia ngajar apa?"

"Matematika." wajah Naruto berubah muram seketika. "Soalnya kan Kurenai-sensei lagi ambil cuti untuk melahirkan."

Teet! Teet!

"Yah! Udah masuk lagi. Yaudah deh aku balik dulu ya ke kelas, Saku- chan ." Naruto berdiri dari bangku menciptakan suara decit bunyi pada bangku yang sedetik lalu didudukinya.

"Hm."

Pupus sudah. Niat berwawancaranya harus ditunda dulu karena sebuah bunyi bel.

"Oiya. Si Ino kemana? Biasanya kau selalu datang berdua dengannya ke sekolah?"

Naruto belum benar-benar pergi dari kelas XI-F ini.

"Dia izin."

"Oke! Yasudah. Jaa ne !"

Setelah mendapati jawaban, ia baru meninggalkan kelas itu. Kaki panjang yang dibalut celana hitam itu berlari ke luar kelas, menyisakan seorang gadis manis berponi tembam yang menghela napas lega.

.

.

.

Sreeekkk...

Pintu kelas terbuka. Memunculkan seorang wanita asing—bagi para murid—cantik berambut merah ruby panjang dengan poni-poni jarang pada dahinya. Sepatu heels yang dikenakannya menimbulkan bunyi setiap laju langkahnya.

Ia berhenti pada sebuah meja guru. Berdehem sebentar untuk mencairkan suasana sunyi kala dirinya masuk. " Ohayou gozaimasu ?"

" Ohayou.. " semua murid serempak menjawab sopan.

"Kalian pasti heran ya dengan kehadiranku? Baiklah. Sedikit informasi, aku adalah guru baru yang menggantikan tugasnya Kurenai-senpai sementara. Yah, karena kalian tahu sendiri Kurenai- senpai sedang hamil tua." Jelasnya, paham dengan raut heran yang dikeluarkan para calon muridnya dalam tiga bulan kedepan.

Satu hal yang menarik dari dirinya. Saara sangat ekspresif dalam menampilkan raut wajah saat berbicara.

"Jadi, sensei hanya sementara ya di sini?" Sakura yang sedari tadi terdiam kini bertanya. Tentu saja, karena ia penasaran.

Emeraldnya memperhatikan dengan baik-baik wanita bernama Saara di depannya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Satu kata. Sempurna. Kulitnya putih mulus tanpa cacat, tinggi, rambutnya panjang badai, wajahnya cantik, kepribadiannya ceria. Pantas saja si Uchiha itu menyuruhnya menyelidiki Saara.

"Sayangnya, iya." Ia turunkan garis bibirnya sedih‒menjawab pertanyaannya.

"Yahhhh.." keluh suara siswa mendominasi.

"Sudah, sudah! Tenang! Jangan ribut ya. Kita mulai perkenalan saja, bagaimana?"

Ia ambil sebuah spidol, sensei muda itu berjalan menuju sebuah papan tulis putih lalu menuliskan namanya besar-besar.

Tuk! Tuk!

"Namaku Saara Seramu." Ia balikkan badannya untuk menghadap para murid-murid di depan. Sebelum melanjutkan, "Aku masih mengenyam pendidikan di salah satu Universitas yang ada di Konoha. Tepatnya, Konoha Universitas Design. Yap. Aku mengambil jurusan design ."

" Design ? Terus kenapa kau diperbolehkan mengajar kami?"

Sakura benar-benar menajamkan indera pendengarnya kali ini.

"Sebelumnya aku sudah lulus S1. Lalu aku mengambil lagi study design ."

"Ohh.." Siswi yang tadi bertanya mengangguk puas.

"Sensei umurnya berapa?"

Pertanyaan kali ini diberikan oleh siswa dengan tanda dua garis merah di kedua pipinya. Kiba Inuzuka. Dia adalah salah satu sahabat karib Naruto Uzumaki dari kelas sebelah.

"Kau tidak sopan." Komentar teman sebangkunya yang memakai kacamata hitam—Shino.

"Sirik aja." Balas Kiba sengit.

"Sudah, sudah tak apa. Aku 21 tahun." Saara menengahi mereka dengan menjawab pertanyaan Kiba.

"Wahh! udah punya pacar belum sensei ?" Kiba seketika berbinar-binar, ia lancarkan pertanyaan semangatnya itu—semi modus dikit, siapa tahu bisa digebet kalo single, pikirnya.

Sementara Sakura yang mendengarnya hanya bisa sweatdrop di tempat. Dasar cowok.

"Sepertinya, itu pertanyaaan yang terlalu privasi ya untuk dijawab." Saara berujar, sedikit misterius.

"Yahhh! Jadi sensei nggak mau jawab ya?"

Kiba terdengar kecewa. Begitu juga beberapa siswa lainnya yang menampilkan reaksi sama. Padahalkan dirinya kepo berat.

Saara hanya mengeluarkan senyum manisnya.

"Nah! Karena kalian semua sudah sedikit mengenalku secara pribadi. Sekarang giliranku yang ingin mengenal kalian."

"Ha'i ..."

.

.

¥Two Million ryo¥

.

.

"Saara- sensei perlu kubantu?"

Entah apa yang membuatnya berkata demikian. Biasanya, setelah bel istirahat berdering seperti ini, ia akan menjadi siswi nomer satu dengan Ino yang keluar kelas pertama. Dia akan mengacuhkan para guru yang terlihat seperti membutuhkan bantuan murid untuk membantunya, membawa entah buku atau peralatan mengajar lainnya. Tapi berhubung sahabat cantiknya itu sedang berhalangan masuk hari ini, ia pun dengan rela membiarkan dirinya untuk membantu guru muda ini—mengisi sedikit waktu kosong istirahat pada giliran pertama. Lagipula dirinya tak begitu lapar, jadi ia tak masalah dengan ini. Hitung-hitung supaya bisa sok-kenal-sok-deka t gitu.

Sensei muda itu menoleh ke arahnya. "Eh? Haruno ya?

Saara sangat cepat menghapal namanya. Tentu saja, murid dengan rambut berwarna unik hanya satu di kelasnya tempat mengajar barusan. Sakura Haruno, kalau tidak salah.

"Iya." Sakura menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman.

"Boleh."

Ia ambil setumpuk buku paket super tebal di mejanya. Lalu segara dipindahkan secara cepat ke tangan Sakura yang sedang menadah.

Brukh!

Tubuh Sakura agak terhuyung ke depan. Nyaris terjatuh.

"Kebetulan sekali ya ada murid serajin dirimu. Eh tapi, ini semua bukan karena kau ingin mendapatkan nilai lebih dariku kan?" Iris ungu itu menyipit ke arah murid berambut pink.

" Iie ..." Sakura menjawab susah payah.

Demi apa, ini beneran buku? Beraat banget. Kalau di kiloin mungkin bisa mencapai 6-7 kilo. Satu buku saja tebalnya sudah seperti novel motivasi hidup. Apalagi puluhan? Jika bukan karena uang ia tidak akan mau menjadi babu seperti ini.

Dengan tergopoh-gopoh ia langkahkan kedua tungkai kakinya secara pelan-pelan.

"Oh, bagus, bagus. Soalnya aku ngerti jelas nih, kalau murid baik-baikin guru seperti inikan pasti ada maunya. Tapi ternyata kamu tidak. Aku salut padamu Haruno."

"Iya.."

Lagi. Sakura hanya menjawab seadanya. Bukunya agak mengahalangi pengelihatannya karena jumlah yang lumayan dan harus dijelaskan lagi bahwa bukunya itu tebal-tebal. Jika ditumpuk akan menjadi sebuah tumpukan tinggi.

Ocehan demi ocehan keluar dari mulut Saara di depannya. Semuanya bagaikan angin lewat di telinga Sakura. Keringat mulai mengucur dari ubun-ubun sampai ke dahinya yang lebar.

Mungkin sekarang dia sudah tertinggal agak jauh. Tidakkah Saara punya hati nurani? Setidaknya Saara bisa mengambil setengah tumpukan buku ini lalu gadis itu bisa berjalan beriringan dengannya. Kalau SKSD dengannya harus rela jadi babu seperti ini. Bisa tidak dia angkat tangan saja? Nggak kuat...

2 juta ryo~

Teringat dengan jumlah uang itu. Ia pun menepis jauh-jauh tentang keputus asaannya yang sempat melandanya tadi. Demi 2 juta ryo, badai menghalang pun akan ia lewati (?)

"Loh? Haruno- san ? Kenapa masih di situ?" Saara mendecakan lidahnya sambil bertelak pinggang. "Dasar anak jaman sekarang ya. Kau harus banyak-banyak berolahraga supaya tungkai kakimu bisa bergerak lebih cepat. Masa kalah denganku sih?"

Telinga Sakura berdenyut. Kalimat sensei muda berambut merah itu terasa begitu menyebalkan. Kalau saja ini bukan tugas menjadi 'mata-mata' sudah dipastikan dirinya akan menjawab sinis kalimat Saara. Tapi berhubung di sini ia harus memerankan sebagai tokoh sabar, ia pun berusaha. Walau tangannya sudah terkepal. Ia tetap mengeluarkan senyum manisnya.

Kembali ia berjalan, memasuki ruangan guru dan menempatkan buku-buku itu dengan hati-hati agar tidak terjatuh.

"Nah, selesai. Arigatou Haruno- san . Kau boleh beristirahat."

Sakura tidak mengikuti saran Saara. Dirinya malah terdiam, yang malah di mata Saara, Sakura seperti sedang melamun.

Sementara Sakura ditempatnya sedang berpikir keras, kalau dirinya SKSD di sekolah sepertinya tidak mungkin. Reputasinya kan selama ini selalu acuh tak acuh terhadap guru perempuan, kecuali lelaki, itu juga kalau tampan. Nah, jika tiba-tiba dirinya dekat dengan Saara tanpa alasan yang jelas pasti akan jadi pusat perhatian dalam kelasnya. Dan menyebar hingga satu sekolah. Gini-gini juga dia populer. Bukannya sombong, hanya info. Terlebih lagi, Sakura tidak begitu menyukai Matematika.

Sontak pergejolakan batin itu membuat kepala Sakura menggeleng pelan. Ia harus mencari cara lain.

Saara yang melihat reaksi Sakura, menaikkan kedua alisnya heran. Bukannya senang disuruh istirahat murid pink-nya itu malah geleng-geleng kepala.

Saat mulutnya membuka untuk memberikan sebuah pertanyaan lantas kembali tertutup, karena Sakura sudah mendahuluinya.

"Saara- sensei ..."

"Ya?"

"Sensei... mau tidak jadi guru privat pribadiku? Entah kenapa... otakku tidak bisa mencerna dengan baik jika belajar matematika di sekolah. Kebetulan juga Ayah memang lagi mencari guru privat untukku, tapi belum menemukan yang pas. Maka dari itu, kuharap kau mau... Pliss?"

Sakura mengeluarkan puppy eyesnya. Tak lupa kedua tangan yang ia katupkan di depan wajahnya. Soal Ayahnya yang sedang mencari guru privat itu memang benar, tapi tentu saja Sakura menolak keras. Ia beralasan bahwa ia bisa belajar matematika sendiri dengan pintar secara otodidak.

Jadi, penjelasan penuh banyak maksud itu tidak sepenuhnya bohong, juga tidak sepenuhnya jujur. Intinya ia lakukan ini semua agar dirinya bisa lebih dekat dengan Saara tanpa dicurigai pihak manapun. Fufufu~

"Hmm..."

"Kumohon..."

Bukan wajah memelas lagi yang ditunjukkan Sakura. Malah sekarang ia tampak sangat mengenaskan.

"Bagaimana ya Haruno- san ... Bukannya sok sibuk. Tapi, jadwal kuliahku sekarang bentrok dengan menjadi guru. Ditambah lagi dengan tugas kuliah menumpuk sana-sini. Jadi..." Saara menggantungkan kalimatnya. Ekspresinya terlihat tidak tega menyampaikannya.

Sakura lemas ditempat. "Aku mengerti. Daijoubu.. kalau begitu, aku pamit. Permisi.."

Sepertinya misi tidak berhasil. Padahal ia sudah berpikir matang-matang kalau Saara mau menjadi guru privatnya.

Aura murung terpancar dari tubuhnya kala ia berjalan.

"Haruno!"

Sebuah suara menghentikan laju langkahnya. Ia tolehkan wajahnya sedikit pada Saara yang sedang meringis tak enak hati.

Menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari sensei muda itu ia bergumam, "Ada apa sensei ? Perlu bantuan lagi?"

"Iie. Soal tawaranmu tadi. Kalau kamis dan sabtu saja mungkin aku bisa. Bagaimana..? Kau mau?"

Aura muram yang melekat di tubuhnya sekarang sirna diganti menjadi pancaran kebahagiaan berbunga-bunga yang terpancar. Wajahnya berseri-seri seketika. "Tentuuuuu—ups." Sakura segera menutup mulutnya sendiri ketika mendapati tatapan tajam Orochimaru-sensei terhadapnya. Ia membungkukan tubuhnya sedikit.

"Yasudah. Nanti beritahu Ayahmu ya. Ohya, kau sudah mencatat nomor yang kutulis saat perkenalan tadi kan, Haruno?"

"Em!" Sakura mengangguk semangat.

"Baiklah. Nanti kau tinggal kabari aku saja lewat sana."

"Siap sensei !"

Krruuuukkk.

Wajah gadis bersurai pink itu terlihat panik ketika perutnya berbunyi sangat keras. Padahal dirinya tidak begitu lapar. Maka dari itu ia segera pamit untuk meninggalkan ruangan guru dengan wajah menunduk. Meninggalkan Saara yang terkekeh melihat kelakuan unik Sakura.

.

.

¥Two Million ryo¥

.

.

Drrtt.. Drrtt..

Ponsel mahal berbentuk persegi panjang dengan lebar layar yang besar itu bergetar. Pemilik dari ponsel itu masih terlihat sibuk dengan komputernya. Oniyx-nya masih sangat fokus, tanda bahwa ia tidak bisa diganggu gugat. AC yang berhembus menciptakan suasana sejuk dan nyaman bagi pemilik ruangan di kantor itu.

Dia—Itachi.

Drrttt... Drttt..

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini, ia bisa mengalihkan pandangannya dari komputer pada ponsel malang yang sempat terabaikan itu.

Baka Otoutou is calling...

Itachi menghela napas. Dengan wajah datar ia regangkan tubuhnya sebentar sebelum mengangkat ponsel itu.

"Ya ada apa, Sasuke? Kau merindukanku, hm?"

Terdengar decihan yang menyahut dari sana. " Kau lupa membawa ponselmu yang satunya lagi. Ini sangat mengganggu. Ponselmu terus berdering dengan nama Pinky berkali-kali. Aku tak tahu dia siapa, yang pasti orang tidak jelas. "

Sebentar.

Pinky ya... kalau tidak salah nomor itu ia beri nama untuk gadis ber-helm dengan untaian rambut merah muda yang malam itu digodai oleh teman-temannya.

" Aniki! Kau masih di sana kan? "

"Iya. Aku masih di sini. Ehm, dia mengatakan apa?" Itachi memfokuskan lagi pendengarannya pada Sasuke. Ia ambil sebuah kertas kosong dan pulpen, tangannya bergerak membuat coretan asal.

" Tidak jelas. Saat kuangkat ini siapa dia malah marah-marah, katanya aku ini cowok plin-plan. Kuputuskan saja sambungannya. Lalu setelah itu, ponselmu berdering lagi dan lagi dengan nama Pinky terus menerus. " jelas Sasuke di seberang sana, sangat kentara sekali bahwa ia sedang menahan kesal.

"Oh begitu ya.."

" Itachi—‒"

"Panggil aku kakak."

" Tsch. 'Kakak' aku hanya heran, kenapa kau itu selalu berteman dengan orang-orang aneh? Tch. " Sasuke menekankan kata 'kakak' dalam kalimatnya diakhiri decihan mengejek.

"Mereka semua orang yang fun . Kau harus lebih banyak berinteraksi dengan mereka, Sasu. Kujamin kau pasti ketagihan."

Ia amat sangat tahu bahwa Sasuke sangat tidak suka ia bergaul dengan anggota Akatsuki. Sasuke selalu dingin jika teman-temannya sedang bermain di rumah. Entahlah karena apa, setahunya teman-temannya tidak pernah berbuat salah. Kecuali, Deidara. Ia pernah tidak sengaja mengambil celana dalam Sasuke untuk mengelap ingusnya ketika sedang bersin. Padahal Deidara hanya mengambil secara reflek di tempat pakaian. Taunya Sasuke malah marah dan ketus pada teman-temannya bukan Deidara saja.

" Tidak akanhn, lihat. Baru saja dibicarakan, si Pinky ini menelponmu lagi. Dia siapa sih? Peliharaanmu atau apa sampai kau memberinya nama Pinky? " komentar Sasuke dengan ketus.

"Abaikan saja dulu. Nanti kalau sudah berhenti, kau kirim nomornya padaku ya."

" Hn. "

Sambungan terputus. Ia hentikan kegiatan mencoret asalnya. Ditaruhnya ponsel putih bermerek itu dengan pelan. Layarnya masih menyala, menampilkan fotonya dengan Saara. Di foto itu terlihat dirinya yang menampilkan senyum tipis, tangannya merangkul Saara yang sedang berpose ceria dengan tangan yang membentuk tanda ' peace ' ke arah kamera.

Iris hitam sekelam malam masih memandang ke arah layar ponsel itu sampai layarnya berubah menjadi gelap.

Itachi menghela napasnya sedikit. Kemudian berdiri.

18.57.

Seharusnya jam pulangnya adalah pukul 16.05. Karena itu, pria itu segera membereskan peralatannya. Berniat pulang. Niat lemburnya seketika sirna dalam sekejap mata. Dirinya harus beristirahat. Terutama pikirannya.

Cklek.

"Permisi.. Oh? Itachi- san , anda sudah mau pulang? Baru saja kubuatkan kopi biar kau tidak mengantuk."

Seorang wanita cantik berpoleskan lipstik merah dengan baju ketat yang menampilkan belahan dadanya masuk ke dalam ruangannya. Tangannya membawa secangkir kopi. Ia tersenyum manis.

Itachi mengabaikan kehadirannya.

"Hn. Seperti yang kau lihat, ini sudah waktunya jam pulang. Kalau begitu aku duluan." Tanpa menatap mata wanita cantik itu, Itachi melengos pergi. Meninggalkan Sekertaris pribadinya yang terduduk lesu karena diabaikan.

Cklek.

"Megumi."

Ternyata Itachi belum benar-benar pergi dari sini. Lantas wanita bernama Megumi itu menegakkan tubuhnya kembali. Rasa senang seketika muncul karena sebuah harapan.

"Ya?" Dengan menahan senyum ia menjawab.

"Kuharap kau bisa mengenakan pakaian yang sopan besok untuk bekerja."

Blam.

Sosok Itachi menghilang. Senyum kecil yang sempat terbentuk kini memudar. Matanya berkaca-kaca karena ucapan Itachi yang begitu menohok ramuan yang ia beli pada dukun itu tak mempan untuk pria bermata onyx itu. Lalu bagaimana? Niatnya pupus sudah untuk menikahi seorang bos seperti di film-film.

"Huuaa! Dasar jahat! Hiks.. hiks.."

.

.

Dalam menuju perjalanan pulang seperti ini, didalam mobilnya Itachi kembali berpikir mengenai gadis pinky itu. Yang ia tahu nama gadis itu adalah Sakura Haruno. Dia bersekolah di KNH High School. Dirinya tahu semua itu karena tentu saja tidak sulit baginya bila ingin mendapatkan informasi apapun.

Kira-kira untuk apa gadis itu menelpon dirinya?

.

.

¥Two Million ryo¥

.

.

"Hiks... hiks.. HWAAAA haaaaa!"

Air mata Sakura seketika tumpah, jeritannya terdengar sampai ke dapur dan ruangan kerja Kizashi.

Alasan kenapa gadis itu menangis ialah karena tokoh pria favoritnya dalam drama yang tayang setiap jam 7 malam, tewas tertembak. Kasihan sekali, pikirnya. Ia sampai-sampai bisa merasakan apa yang kekasihnya dalam drama itu rasakan. Pasti sakit sekali. Maka dari itu ia sampai menangis seperti ini.

"Ne Sakura! Tak bisakah kau pelankan sedikit suaramu? Ayah sedang berkonsentrasi. Kalau kau tidak mau berhenti juga, akan kuberi kau les privat matematika setiap jam 7 malam!" Kizashi berteriak dari dalam ruangan kerjanya yang memang terletak tak jauh dari ruang televisi.

"Sayang... jangan terlalu keras terhadap Sakura. Dia kan masih muda. Lagipula nilai matematikanya lumayan meningkat akhir-akhir ini." sahut Mebuki menenangkan Kizashi dari arah dapur.

"Meningkat apanya? Dari nilai 3,5 ke 50 kau bilang meningkat?!"

"Ayah... tak perlu repot-repot mencarikanku guru privat. Aku sudah menemukannya." Sakura segera menengahi mereka, yang sempat berdebat karena dirinya.

"Hontou ni Sakura?"

Ibunya berjalan ke hadapannya sambil membawa kue buatannya yang ia masak tadi. Bergabung untuk duduk dengannya. Sakura mengangguk sebagai jawaban. Ia ambil kue yang masih mengepulkan asap itu. Ditiupnya sebentar lalu digigitnya.

"Kau lihat kan Sayang? Sakura sudah berubah. Lagian dia hanya kurang menguasai matematika. Itu hal yang wajar. Akupun dulu begitu." Bela Mebuki.

"Matematika adalah salah satu pelajaran untuk menentukan dirinya masuk Universitas nanti! Tentu saja itu penting! Memangnya siapa yang kau pilih untuk jadi guru privatmu, hah Sakura?"

"Saara- sensei. Ia guru matematika juga di sekolahku. Kebetulan dia guru freelancer. Orangnya baik."

Senyum Sakura terbentuk ketika mengatakan itu. Dilupakannya sejenak drama menyedihkan yang sempat ditontonnya tadi.

"Oh. Baguslah. Kalau begitu aku kan tenang." kembali Kizashi menyahut dari ruangannya. Nadanya sedikit lebih lembut.

Tangan mungil milik anak tungal dari keluarga Haruno menaruh kue yang sempat di makannya ke dalam sebuah piring kosong. Ditepuknya kedua tangannya untuk menghilangkan remah-remah kue. Ia mengambil ponselnya lalu jari-jarinya mulai bergerak mengetikkan sesuatu pada ponsel yang tadi di pangkuannya.

To: Uchiha Si Melekete

Hei, aku punya kabar bagus untukmu. Aku akan sedikit melupakan kekesalanku padamu saat kau tidak menjawab telponku tadi. Bisakah kita bertemu lusa depan saat aku pulang sekolah?

Kita bertemu di cafe dekat sekolahku ya! Awas kalau nggak dateng '_' Ini penting. Menyangkut Saara pokonya.

TO BE CONTINUED

a/n:

Iya, iya.. author tahu harusnya kan saya masih hiatus tapi mau bagaimana lagi kalau ternyata author banyak liburan akhir-akhir ini #dasarlabil. Soal nama belakangnya Saara aku punya penjelasan kenapa ia memakai nama belakangnya dengan nama ibunya. Itu karena... Aku gak tahu lagi harus menggunakan nama apa yang cocok buat dia... huee.. #gubrak Ohya klo ada yg heran kenapa aku publish dua chapter di hari yg sama dgn judul berbeda sekaligus, akan kujawab: aku apdet fic ini juga fic milikku yang berpairing SasuSaku itu krna sebenernya chapter ini udah selesai aku buat dari pas aku bikin chapter pertama hehe.

Oh ya sekalian aku mau membalas beberapa review yg ada.

Tectona Grandis : Wahh sama dong, aku jugaa.

sitilafifah989 : Ini udah dilanjut. Semoga gak mengecewakan ya dan semoga puas.

Lin Xiao li : Iya aku maapin (?) Salah riview gimana emg maksudnya :D

KanonAiko : Wkwk wahh iya nih pake cinta segitiga keknya #jrengjrengjreng. Makasiih ya buat saran dan riview semangatnyaa #langsungsemangat45

sitilafifah : Terimakasih untuk pujiannya. Tapi ini masih jauh dari kata keren deh kayaknya #ngumpetdipojokan Ini udah lanjut ko.

daffmipa97 : Makasih ya udah mau menunggu, udah kulanjut nih.

Buat semua yg udah review atau sekedar baca aja arigatou ya! Jangan bosen" untuk ninggalin review buat author ini oke! Review kalian adalah semangat author #eaa

Terakhir, boleh minta riview?