OVERLORD Jilid 5: Orang-orang Kerajaan
Disclaimer: Overlord adalah sepenuhnya hak milik Maruyama Kugane.
Terjemahan Bahasa Indonesia oleh SpicyPizza
BAB 1
PERASAAN SEORANG ANAK LELAKI
Bagian 1
=== Bulan Api Rendah (Bulan ke 9), Tanggal 2, Jam 23:30 ===
Seorang pria menyalakan lentera yang tergantung di pinggangnya. Minyak khusus yang digunakannya menyulut api hijau dan menerangi sekitar dengan rona yang mengerikan.
Dia melangkah keluar, merasakan kehangatan merasuki tubuhnya. Meski ekspresi wajahnya tampak pahit, ia harus tetap bertahan terhadap musim. Meski matahari belum terbit, pada waktu seperti ini, dimanapun di Kerajaan terasa lembab dan hangat. Musim terburuk seharusnya sudah lewat dan hari-hari semakin sejuk. Hanya saja, hal ini belum terasa dimanapun.
"Ya ampun~ hari ini panas banget."
"Bener. Mereka bilang daerah di utara sudah mulai sejuk, yang dekat laut."
Rekan pria itu merespon gerutuannya.
"Kalau ada hujan mungkin panasnya bisa sedikit berkurang."
Dia memandang ke atas tapi hanya langit cerah tanpa ada awan sedikitpun, apalagi awan hujan. Bintang-bintang berkerlip cerah, seperti malam pada umumnya.
"Serius deh, kuharap ada hujan mendadak... Yah, ayo deh kerja lagi."
Ada sesuatu tentang kedua pria itu yang membuat mereka sulit untuk disebut warga biasa. Pertama, apa yang mereka pakai. Sebuah pedang panjang di pinggang dan baju kulit — perlengkapan mereka terlalu berlebihan untuk seorang peronda desa. Tak hanya itu, wajah dan tubuh mereka tak seperti orang yang biasa bekerja di ladang. Malah, yang terpancar dari mereka adalah aura berbahaya orang yang terbiasa dengan kekerasan.
Kedua pria itu berjalan menuju desa tanpa berkata seucap pun.
Bungkam di tengah kegelapan, hanya suara langkah mereka yang terdengar di desa itu. Seperti kota hantu. Dengan langkah yang lebar, kedua pria itu berjalan tenang di tengah atmosfer yang mencekam. Postur mereka menunjukkan bahwa hal ini adalah hal rutin yang biasa mereka lakukan.
Desa yang dilalui kedua pria itu dikelilingi dinding tinggi dan hanya dengan pandangan sekilas, dapat terlihat enam menara pantau. Cukup sulit untuk menemukan desa dengan pertahanan sekuat itu di daerah perbatasan dimana monster-monster sering muncul.
Daripada menyebutnya sebagai desa, mungkin lebih tepat untuk menyebutnya sebagai markas militer.
Orang luar mungkin akan melihat desa itu hanyalah sebagai desa dengan keamanan yang ketat. Tapi, apa yang ada selanjutnya akan membuat orang luar mengernyitkan alis.
Begitulah keganjilannya. Biasanya, dinding akan mengelilingi hunian atau gudang sementara ladang akan terhampar diluarnya. Melindungi ladang di balik dinding akan memberikan pekerjaan yang amat besar untuk lahan yang seluas itu. Tetapi, desa ini mengelilingi lahan hijau sejenis rumput dengan dinding dan melindunginya seolah rumput itu terbuat dari emas.
Pria yang sedang berjalan menyusuri desa aneh itu merasa ada yang mengawasinya dari menara pantau. Kenyataannya, seharusnya hal itu dilakukan oleh rekannya yang membawa busur. Jika ada sesuatu terjadi, pria itu dapat meminta bantuan dengan cara menggoyangkan lentera diatas kepalanya.
Mengingat kemampuan panahan rekannya, dia bisa mudah terlindungi. Malah, hanya dengan membunyikan bel untuk membangunkan yang lain sudah cukup untuk membuatnya merasa aman.
Tapi jika ia entah bagaimana secara tak sengaja membunyikan bel, dia akan dihajar oleh rekan-rekannya yang sedang tertidur. Bagaimanapun juga, pria itu siap menggoyangkan lentera sesegera mungkin jika ia merasa ada yang mencurigakan.
Apa lagi, dia tak mau kehilangan nyawanya.
Meski begitu, terjadinya situasi yang seperti itu cukup meragukan. Ia sudah berulang kali mengerjakan pekerjaan yang sama beberapa bulan ini dan akan tetap melanjutkannya.
Ketika ia tengah mengelilingi rute patrolinya, sesuatu seperti ular menempel di mulutnya. Bukan, itu bukan ular. Benda yang menempel kuat di mulutnya itu adalah lengan tentakel gurita.
Dagunya ditarik keatas dan diikuti dengan suara rintihan leher yang terbuka. Semua ini terjadi kurang dari satu detik.
Suara engahan terdengar dari lehernya.
Suara itu adalah suara terakhir yang ia dengar dalam hidupnya.
Tangan yang memegang mulut pria itu melepas cengkeramannya. Punggungnya disangga dari belakang sehingga tubuhnya tak roboh. Setelah yakin pisaunya menyerap darah, senjata sihir itu, 'Vampire Blade' dicabut keluar.
Yang menyangga pria itu dari belakang adalah sesosok yang terbalut dalam pakaian hitam kelam. Selain matanya, seluruh wajahnya tertutup dan seluruh tubuhnya ditutupi pakaian serba hitam. Pakaiannya terbuat dari kain tapi sarung tangan dan pelindung di kaki dan tangannya meningkatkan pertahanannya. Hal yang sama pada dadanya, tertutup oleh plat logam tetapi lekuk tubuh seorang wanita dapat jelas terlihat dari sosok itu.
Dengan cara yang sama, di balik pria yang satunya ada sesosok dengan pakaian yang sama. Sosok ini juga mengenakan plat logam di dadanya. Matanya mengarah ke samping dan mengangguk sekali.
Setelah yakin pembunuhan berhasil, wanita itu memeriksa keadaan sekitarnya. Tak ada tanda-tanda mereka terdeteksi, pikirannya sedikit lega.
Meski dengan cahaya dari lentera, mereka menempel erat dengan tubuh mayat sampai-sampai cukup sulit untuk melihat perbedaannya dari menara pantau. Satu-satunya hal yang merisaukan adalah ketika mereka menyerang— jarak pendek yang mereka lalui ketika bergerak melalui bayangan, 'Dark Crossing.' Tapi hal itu sudah diatasi.
Dengan mata pisau kemerahan karena menyerap darah yang masih menancap, wanita itu menopang tubuh yang akan roboh itu.
Bagi orang-orang di menara pantau, semua itu terlihat seolah orang yang berpatroli sedang berhenti sejenak. Tapi, berdiri dengan kaku atau tiba-tiba terjatuh pastinya akan membuat kecurigaan.
Oleh karena itu perlu segera meneruskan ke tahap selanjutnya. Tetapi, itu bukanlah peran dia.
Wanita itu merasakan sesuatu di tangannya; perasaan bahwa tubuh tak bernyawa pria itu mulai kaku, seolah ditopang dengan pilar. Seolah tak membuktikan bahwa ia salah, sesaat kemudian, tubuh pria itu tersentak.
Bahkan ketika tubuh mati itu bergerak, tak ada keterkejutan sama sekali. Semuanya berjalan sesuai rencana.
Wanita itu melepaskan kedua tangannya bersamaan, dan mengaktifkan kemampuannya. Salah satu kemampuan yang ia pelajari dari kelas Ninjanya, 'Hide Shadow'. Selama ada bayangan, seseorang dapat membaur sepenuhnya ke dalamnya dan tidak memungkinkan mata telanjang untuk menyadarinya.
Meninggalkan kedua tubuh yang tersembunyi dalam bayangan itu, mayat kedua pria itu mulai berjalan seolah baru terlepas dari rantai. Mereka kembali berjalan melalui rute patroli mereka. Seolah mereka ingat tugas awal mereka. Tetapi kecepatan langkah mereka lambat dan berat. Meski luka mereka belum sembuh, darah tak mengalir dari luka ke leher mereka karena seluruh darah mereka telah terkuras.
Hanya ada satu alasan mengapa mereka masih bergerak. Mereka telah berubah menjadi mayat hidup dan sedang mengikuti perintah tuannya.
Yang mengubah kedua pria itu menjadi mayat hidup bukanlah kedua wanita tadi.
Jika dilihat secara normal, hanya ada dua pria itu disini. Meski jika ada seseorang yang bisa melihat menembus kemampuan bersembunyi kedua wanita itu, masih tak lebih dari empat orang. Tetapi, ada orang kelima. Orang kelima yang tak terlihat itulah yang mengendalikan mayat hidup.
Sosok itu tak terlihat bahkan oleh kedua wanita itu. Tapi ninjutsu mereka memungkinkan mereka untuk merasakan keberadaan yang tersembunyi dengan menggunakan sihir atau kemampuan. Kemampuan ini bereaksi pada sosok itu.
"Persiapan disini sudah selesai."
"Sempurna."
Terdengar suara pelan dan kecil yang merespon.
"Aku tahu karena aku memperhatikan. Aku akan bergerak ke lokasi selanjutnya. Aku harus menangkap yang berwenang paling tinggi disini."
Suara ini juga suara wanita. Tetapi suara yang satu ini lebih melengking dan kurang dewasa seperti suara anak-anak.
"Kalau begitu kami akan mulai menyerang. Bagaimana dengan dua yang lain?"
"Jangan bilang kalau mereka sedang bermain-main entah dimana."
"Tak mungkin. Mereka bersembunyi di luar, dekat dengan desa. Rencananya mereka akan menyerang dari depan dan belakang jika ada keadaan darurat. Baiklah. Aku akan mulai bergerak ke prioritas tertinggi kita. Kalian sebaiknya tetap pada rencana juga."
Teman tak terlihat mereka — meski hanya keberadaannya saja — naik ke udara. Wanita itu bergerak di udara menggunakan 'Flight'.
Keberadaan yang semakin menjauh itu pun lenyap mengarah ke bangunan yang disebutnya sebagai prioritas tertinggi mereka. Bangunan itu adalah salah satu bangunan yang ada di desa sekaligus lokasi kunci yang paling perlu diamankan pertama kali.
Normalnya, mereka akan memprioritaskan bangunan lain. Tapi alasan mengapa lokasi itu menjadi prioritas adalah karena sihir 'Message'.
Banyak yang tidak menyukai sihir ini, menyebutnya tak terpercaya. Pada saat yang sama, banyak juga yang tak peduli dan tetap menggunakannya. Contohnya Kekaisaran Baharuth yang lebih maju dari Kerajaan Re-Estize dalam hal pengembangan sihir, mereka yang butuh informasi sesegera mungkin, dan musuh yang menguasai desa ini. Karena itu, sangat penting untuk mengamankan agen penghubung yang ada di bangunan itu.
Sekarang karena teman mereka sedang menuju kesana, mereka harus menunggu di tempat dimana mereka harus berada. Semuanya harus berada pada pewaktuan yang tepat dan menyelesaikan tugas mereka tanpa terdeteksi.
Kedua ninja itu menghela nafas dan terus berlari.
Bergerak dari dan dalam kegelapan, mereka takkan terlihat oleh orang biasa. Tidak, meski mengenakan benda sihir sekalipun, bahkan petualang saja akan kesulitan menemukan mereka. Dengan kata lain, tak ada seorangpun di desa itu yang dapat melihat kedua wanita itu.
Rekannya yang sedang berlari bersama di sisinya itu dengan lihai menggerakkan jarinya. Walau kelihatannya hanya seperti menggerakkan asal-asalan, dia dapat memahami maksudnya.
—Untungnya pihak musuh tidak punya anjing.
Dia menjawab 'setuju' menggunakan jarinya.
Itu adalah bahasa isyarat yang digunakan para pembunuh bayaran. Pada tingkat kemahiran ini, mereka bisa berkomunikasi sama lancarnya seperti berbicara. Yah, meskipun mereka sebenarnya juga sudah mengajari rekan-rekan mereka, tetapi yang dapat rekan mereka pahami hanyalah kalimat atau perintah sederhana. Selain itu, kecepatan dan kosakata dalam isyarat mereka sudah berada pada tingkat dimana mereka dapat melakukan percakapan sehari-hari dan sering menggunakannya dalam perbincangan rahasia diantara mereka.
'—Aku tahu maksudmu. Pekerjaan ini jadi terasa mudah karena tak ada yang terpancing aroma darah.'
Andai musuh memiliki anjing penjaga, maka pekerjaan itu takkan mudah. Meski mereka juga sudah mempersiapkan cara untuk melumpuhkan anjing penjaga, lebih sedikit pekerjaan tentu lebih menyenangkan.
Segera setelah ia menjawab, jari rekannya bergerak cepat.
'—Kalau begitu aku akan pergi ke bangunan sasaranku.'
Segera setelah ia mendapat jawaban setuju, rekannya yang berlari bersamanya itu berpisah darinya.
Kini sendirian, ia melihat ladang dengan ekor matanya sembari berlari dengan kecepatan tinggi.
Apa yang ditanam di ladang itu bukanlah padi atau sayuran. Yang ditanam adalah tanaman bahan baku narkoba yang ilegal di Kerajaan, Debu Hitam. Dikelilingi dengan dinding yang tinggi, sebagian besar lahan di desa ini ditanami tanaman yang sama. Ini membuktikan bahwa desa ini adalah salah satu markas untuk menumbuhkan narkoba itu.
Debu Hitam, juga dikenal sebagai Bubuk Laira, narkoba ini berupa bubuk berwarna hitam yang dicampur dan diminum dengan air.
Sangat mudah untuk memproduksi masal dan menjualnya murah. Karena cepatnya reaksi dan euforia yang ditimbulkan, narkoba ini menjadi terkenal di Kerajaan. Tak hanya itu, banyak pula yang percaya bahwa narkoba ini tidak menyebabkan kecanduan dan tidak memiliki efek samping, yang menyebabkan narkoba itu dengan mudah menyebar luas dan jauh.
Dia mengingat informasi palsu itu dan berusaha menahan tawa.
Tak ada narkoba seperti itu. 'Aku bisa berhenti kapan saja' katamu? Konyol sekali. Hasil penelitian dari seorang candu debu hitam menunjukkan penyusutan ukuran otak penggunanya sebesar 80%.
Debu Hitam adalah narkotika keras yang terbuat dari sebuah tanaman yang awalnya tumbuh di alam liar. Sungguh mencengangkan bagaimana orang-orang dapat dengan mudahnya percaya kalau tanaman beracun seperti itu tak menyebabkan kecanduan. Alasan mengapa Debu Hitam tersebar di kota sebagai obat anestesi adalah karena efeknya yang kurang manjur.
Bagaimanapun juga, narkoba itu tetaplah menyebabkan kecanduan berat dan membutuhkan waktu lama untuk hilang dari sistem tubuh penggunanya. Hasilnya, sering kali si pecandu sudah mengkonsumsinya lagi sebelum tubuhnya benar-benar bersih. Jika para uskup tidak menggunakan sihirnya untuk mengeluarkannya dengan paksa, si pecandu akan mencapai stadium dimana tak mungkin lagi untuk menghilangkan efek candu itu.
Hal yang merepotkan dari narkoba yang menakutkan itu adalah, narkoba itu memiliki gejala sakau yang lemah. Meski ketika si pecandu sedang kumat, ia takkan berlaku kasar atau merusak ke sekitarnya. Itulah mengapa para atasan Kerajaan tidak benar-benar memahami bahayanya dan seringkali mengabaikan Debu Hitam. Mereka justru malah memilih untuk fokus berusaha membongkar narkoba yang lain. Tak aneh jika Kekaisaran Baharuth mencurigai kalau Kerajaan Re-Estize membantu produksinya secara rahasia.
Selama hari-harinya sebagai pembunuh bayaran, wanita itu pernah mengkonsumsi Debu Hitam jika memang perlu. Dan karena organisasinya juga menumbuhkan tanaman sejenis, ia tak memiliki kebencian dalam hal itu. Bahkan narkoba pun bisa sangat efektif jika digunakan secara hati-hati. Narkoba tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan tanaman obat yang memiliki efek samping berbahaya.
Tetapi, pekerjaan kali ini adalah permintaan seseorang dan pendapat pribadinya bukanlah masalah. Hanya saja—
'...Permintaan yang tidak dibuat melalui Guild Petualang itu berbahaya.'
Dia mengernyit di balik topengnya. Pelanggan kali ini adalah teman dari pimpinan tim. Walau upahnya lumayan, menerima permintaan yang melangkahi guild dapat berakibat merepotkan kedepannya. Meskipun mereka adalah salah satu dari dua kelompok petualang kelas adamantite di Kerajaan.
'Hmm? Bukannya ada tiga sekarang?'
Ia baru saja ingat kalau pernah mendengar kabar terbentuknya kelompok kelas adamantite baru— ketika sedang memikirkan itu, wanita itu tiba di dekat bangunan yang mereka kode sebagai 'No. 2.'
Peran yang harus ia lakukan adalah mengumpulkan setiap informasi yang ada di bangunan itu. Setelahnya, ia harus membakar lahannya.
Meski benar bahwa asap yang timbul dari membakar tanaman itu berbahaya, hal ini harus dilakukan untuk menyelesaikan misinya. Tergantung kondisi angin, bukannya tidak mungkin akan mengenai penduduk desa juga. Hanya saja tak ada waktu dan cara yang tepat untuk mengevakuasi mereka.
'Pengorbanan itu dibutuhkan.'
Setelah menguatkan hatinya, ia kesampingkan keselamatan penduduk.
Dibesarkan sebagai pembunuh, hilangnya nyawa seseorang tak mempengaruhi kondisi emosinya. Dia takkan meneteskan air mata setetespun, apalagi jika itu orang yang tak dikenalnya. Dia hanya tak suka ekspresi ketuanya ketika ada korban. Tetapi karena rencana ini sudah mendapat persetujuan ketuanya, ia sedikitpun tak merasa perlu untuk menyelamatkan penduduk.
Dan lebih penting lagi, mereka harus menggunakan sihir teleportasi segera setelah selesai jadi mereka bisa pindah ke desa lain dan mengulangi pekerjaan yang sama. Kepalanya dipenuhi dengan pikiran tentang rencana mereka.
Desa ini bukanlah satu-satunya desa dimana bahan baku narkoba itu ditanam. Menurut hasil investigasi, ada 12 perkebunan skala besar di Kerajaan. Dan sangat mungkin kalau ada perkebunan yang belum mereka temukan. Jika tidak, maka akan sulit untuk memahami asal narkoba yang tersebar di Kerajaan dengan jumlah sebesar itu.
'Rumput harus segera dicabut saat baru tumbuh... Meski kebanyakan tak berbuah, hanya itu satu-satunya cara.'
Jika mereka bisa menemukan sesuatu yang menyerupai perintah tertulis di desa ini, mereka bisa dianggap beruntung. Sayangnya, tak pernah semudah itu. Mereka cuma bisa berharap kalau yang berwenang di desa ini tahu sesuatu.
'Ketua bakal senang jika kita bisa dapat sedikit saja informasi tentang organisasinya."
Sindikat kuat yang menanam narkoba itu bernama "Delapan Jari", dinamai sesuai dengan Dewa Pencuri yang berjari delapan, bawahan dari Dewa Bumi. Mereka adalah kelompok yang mengendalikan dunia hitam di Kerajaan.
Organisasi kriminal itu dibagi dalam 8 divisi: penjualan budak, pembunuhan, penyelundupan, pencurian, penjualan narkoba, keamanan, perbankan, dan perjudian. Jangkauan mereka meliputi seluruh kelompok kriminal di Kerajaan dan dari jumlah anggotanya saja menunjukkan kalau mereka penuh misteri.
Di sisi lain, apa yang terlihat hanyalah seberapa besar pengaruh yang mereka miliki di Kerajaan. Desa di depannya adalah bukti dari itu.
Mereka menanam tanaman ilegal terang-terangan. Itu saja sudah cukup untuk melibatkan bangsawan tanah itu sebagai anteknya. Hanya dengan menuntut takkan menunjukkan kalau mereka bersalah.
Mungkin akan beda cerita jika keluarga kerajaan atau seseorang dari otoritas pengadilan yang menyelidikinya. Tapi meski begitu, akan sulit untuk membuktikan seseorang bersalah ketika berkenaan dengan aristokrasi feudal. Bangsawan tanah itu akan mengaku tidak tahu-menahu jika tanaman itu bisa dipakai sebagai bahan narkoba. Mereka bahkan bisa menuduh para penduduk bertindak semaunya sendiri agar tidak disalahkan.
Pengumuman publik tidaklah efektif dan mencoba memaksa menghentikan peredarannya hampir tak mungkin dilakukan dengan adanya organisasi yang menyuap para bangsawan dengan pengaruh dalam saluran distribusinya.
Itulah mengapa satu-satunya pilihan yang tersisa adalah kekerasan, yaitu dengan membakar lahan sebagai upaya terakhir.
Sejujurnya, ia yakin meskipun ia bakar lahan ini sekarang, itu takkan berpengaruh banyak dalam operasi mereka. Mengingat pengaruh mereka dalam politik, yah sebesar itulah kekuatan organisasi itu.
"Mengulur sedikit waktu... Jika kita tak segera membuat serangan yang tegas suatu hari nanti, semua ini akan sia-sia."
