~.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:!08*80!:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.~
"Menikahlah denganku. Kita akan hidup bersama di sebuah tempat yang nyaman, mengadopsi anak, dan berbahagia saat melihat mereka menikah."
"Tidak Nickhun. Kau tidak mungkin berbahagia dengan cara seperti itu."
~.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:!08*80!:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.~
Destiny (Sequel of Hurt) Part 2 of 2
Author: Cho Eun Hye / LKyuLala
Main Cast: 2PM Wooyoung, 2PM Nickhun
Main Pair: KhunWoo / KhunYoung
Genre: Romance
Rating: PG-15
Desclaimer: they belong to each other. But Wooyoung is mine! Yeah! And this fict belong to me.
Warning: YAOI! Don't Like? Read it first, then you'll know you like it or not. I recommend to read "Hurt" before you read this fic. :D
~.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:!08*80!:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.~
"Park Jiyeon imnida..."
"Hm" jawab Nickhun singkat, "Kau memperkenalkan dirimu seperti orang baru"
Jiyeon tersenyum, ibu Nickhun bilang, orangnya memang sedikit dingin. Tapi dia akan berubah manja ketika ia dekat dengan seseorang. Ibu Nickhun berkata seolah Jiyeon tak pernah mengenal Nickhun sebelumnya. Dan ia ingin tertawa. Tapi sekarang Jiyeon pikir, Nickhun sedang tak menyukainya. Ya, Jiyeon bukan orang tolol yang tak bisa membedakan mana yang perawakan dingin, dengan mana yang memang dingin karena tak suka. Dan Nickhun termasuk dalam opsi kedua. Nickhun bersikap dingin pada orang yang tak ia sukai. Setidaknya, itu analisis Jiyeon sebagai lulusan fakultas psikolog. Belum lagi Nickhun itu teman SMAnya dulu. Ia benar-benar tahu kalau Nickhun sedang kesal dengannya karena mau-maunya berkopi darat seperti ini.
"Ingin memesan sesuatu?"
"Tak usah bersikap semanis itu, Jiyeon-ah. Aku tahu bagaimana dirimu."
Jiyeon mencibir, "Aku hanya berusaha bersikap layaknya pada pasienku agar dia merasa nyaman..."
"Kau pikir aku salah satu dari pasien gilamu itu?"
"Hm." Jiyeon mengangguk, "Setidaknya aku tidak akan berpikiran seperti itu jika kau mengenyahkan pandanganmu dari Wooyoung dan Taecyeon yang ada di sudut ruangan."
Nickhun menampakkan wajah bertanya. Bagaimana gadis ini tahu, padahal Wooyoung dan Tacyeon berhadapan dengan punggungnya?
"Mereka sudah ada sejak sebelum aku datang ke sini. Dan jangan berpikir kalau aku tidak memperhatikan gerak-gerikmu sedari tadi." Sela Jiyeon seolah ia benar-benar bisa membaca pikiran Nickhun. Oh, salah, ia memang bisa membaca apa yang ada di pikiran Nickhun.
Nickhun mendengus. Ia merebahkan kepalanya di meja, lelah.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu padanya. Hm, bahkan aku yang harus kena imbas saat kalian putus dulu. Kau selalu merutukiku seolah ini semua adalah salahku. Dan satu-satunya kesalahan yang kulakukan saat itu adalah berada di dekatmu. Sampai sekarang aku selalu ingat, jangan pernah berada di dekatmu dalam radius 100 meter saat kau sedang ada masalah. Dan hari ini aku melakukan kesalahan itu lagi." gumam Jiyeon
Nickhun mengangkat kepalanya sambil tersenyum simpul, "Kau ini..." gumamnya, "Seharusnya kau tidak usah menuruti kemauan ibuku untuk kopi darat seperti ini."
"Sebenarnya aku juga tidak ingin. Tapi eomma memaksaku. Lagipula aku pernah menyukaimu dulu. Jadi kupikir, tak apa kalau aku pergi denganmu seperti ini."
"Apa kau masih menyukaiku?"
"Entahlah. Sepertinya tidak."
Nickhun tersenyum. Alasan mengapa dulu ia bisa berteman dengan gadis di depannya ini karena gadis itu pembawaannya memang menyenangkan. Walau kadang bisa menjadi menyebalkan sesekali.
.:.:.:!*!:.:.:.
Nickhun menatap Wooyoung intens. Segala hal indah tentang Wooyoung selalu berkelebat di otaknya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Wooyoung seraya mengencangkan sabuk pengamannya.
"Menatapmu. Memangnya kenapa?"
Wooyoung mendengus, "Jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku takut."
Nickhun menyeringai.
TEK!
Ia melepas sabuk pengamannya dan merangsek mendekati Wooyoung yang duduk di jok samping kemudi.
Wooyoung kelabakan. Oh, apa yang akan Nickhun lakukan? Ia sebenarnya tahu betul apa yang akan Nickhun lakukan setelahnya. Hm, ia tak pertama kali mengalami hal yang seperti ini.
Nickhun semakin mendekatkan tubuhnya hingga wajah mereka hampir tak berjarak. Mata Nickhun bergerilnya menyapu seluruh wajah yang begitu ia kagumi. Mata itu, yang dulunya selalu memenjara Nickhun. Hidung itu, yang membuat dirinya mabuk akan terpaan napas Wooyoung. Dan terakhir, bibir yang senantiasa dengan senang hati ia kecup. Hatinya terasa teriris manakala ia ingat bahwa ia bukan apa-apa sekarang. Ia tak punya hak untuk menklaim bahwa makhluk indah di depannya ini miliknya.
"Aku mencintaimu..." bisiknya seduktif, tepat di depan bibir Wooyoung.
Bibir mereka bertaut saling menyambut. Menyampaikan segala friksi kenikmatan. Menyalurkan segala emosi yang terpendam selama bertahun-tahun. Hingga mengakibatkan gemuruh dada di keduanya.
Mereka masih tenggelam dalam dunianya sendiri. Tanpa sadar, mereka ini bukanlah apa-apa. Otak Wooyoung berkata, ini sesuatu yang salah. Tapi egonya yang lebih menang. Biarlah ia hanyut dalam hal ini. Toh pemuda yang menciumnya ini tidak beristri. Toh ia pun sama halnya tak beristri. Egonya berkata, tidak ada yang salah dalam hal ini.
Wooyoung mulai terengah kehabisan napas. Ia meremas dasi yang Nickhun kenakan. Hingga membuat Nickhun melepaskan pagutannya.
"Aku mencintaimu..." bisiknya lagi dengan nada yang cukup seduktif.
Wooyoung tenggelam akan sosoknya. Ia tenggelam dalam kuncian obsidian cokelat. Ia tenggelam dalam segala kata yang Nickhun ucapkan. Sampai detik ini pun Nickhun masih memegang urutan nomor 1 pemuda yang dicintainya. Hatinya pun masih mau terbuka biarpun sekeras apa Wooyoung berusaha untuk menguncinya rapat-rapat. Tapi Wooyoung tak bisa. Ia tak bisa.
Ia tak bisa jauh dari Nickhun. Ia tak bisa untuk tidak mengangguk,
"Aku juga mencintaimu..."
.:.:.:!*!:.:.:.
"Aku dan nyonya Park sudah membicarakan acara pernikahan kalian..."
"Mwo?" mau tak mau, Nickhun terkejut juga mendengar penyataan ibunya. Menikah? Apa-apaan?
"Ya, pernikahanmu dengan Jiyeon. Kupikir kalian tak perlu bertunangan terlebih dahulu mengingat umur kalian berdua sudah cukup matang untuk menikah. Ini sudah menjadi keputusanku. Jadi, sudah tidak bisa diganggu gugat."
"Ibu..." Nickhun merangsek mendekati ibunya, "Sudah berapa kali kukatakan, aku.."
"Mencintai pemuda itu?" suara Ibunya kian terdengar tinggi, "Dengar, Nickhun, kau adalah satu-satunya puteraku. Mau jadi apa kau menikah dengan lelaki macam itu? Yang kau butuhkan adalah wanita." Serunya lagi. ia memijit pertengahan kedua matanya. Penat, "Ya Tuhan, salah apa aku hingga anakku menjadi seperti ini?"
Dengusan putus asa tak pelak terdengar dari Nickhun. Ibunya ini sungguhlah keras kepala.
.:.:.:!*!:.:.:.
Nickhun dan Jiyeon kembali 'berkencan'. Entahlah, ini sudah yang keberapa Nickhun tak tahu. Yang ia tahu, ia bahkan sering membatalkan janjinya dengan Wooyoung sehingga cukup membuatnya uring-uringan seminggu ini saking kangennya. Belum lagi kalau teringat bayangan wajah Taecyeon. Ukh! Ia tak ingin Wooyoung-nya diapa-apakan oleh Taecyeon. Sungguh!
"Dan kau menyetujuinya?"
Jiyeon mengangguk, "Aku tak punya pilihan lain. Eomma terus meracau tak jelas karena aku tak pernah memiliki pacar. Eomma terus saja khawatir kalau nantinya aku menjadi janda seumur hidup. Sungguh menggelikan!"
"Aish! Tak bisakah kau menolaknya? Well, kau tahu kan apa alasanku?"
Mendadak air muka Jiyeon mengeras, "Aku tidak mau."
"Mwo? Kau bilang kau terpaksa? Kenapa sekarang tidak mau?"
"Kau tahu, sama seperti ibuku, aku pun takut nantinya aku menjadi janda seumur hidup. Itu menyakitkan."
"Aish, Jiyeon-ah, aku akan mencarikan kekasih untukmu asal kau mau membatalkan pernikahan kita."
Jiyeon menggeleng, "Biarkan aku bersikap sedikit egois, Nickhun. Aku tak mungkin hidup dengan orang yang tidak kucintai..."
.:.:.:!*!:.:.:.
Kepala Nickhun sungguhlah penat. Ia rasa, ini benar-benar akhir bagi hidupnya. Ia sudah benar-benar tidak bisa mempertahankan hubungannya dengan Wooyoung. Hatinya benar-benar menolak untuk meninggalkan Wooyoung. Tapi memang apa mau dikata? Ia sudah benar-benar tak bisa. Ada jalan buntu di depannya.
Jiyeon menolak untuk membatalkan pernikahannya. Ibunya sungguhlah keras kepala. Dan apa yang bisa ia lakukan? Kabur? Oh, tidak. Ia tak ingin wanita yang sangat ia sanjung itu kelabakan mencarinya. Ia tak ingin menjadi anak durhaka.
"Wooyoung-ah..." gumamnya pelan.
Ia sungguh menginginkan Wooyoung. Sangat. Melebihi apapun di dunia ini. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Memohon pada Tuhan? Ia bahkan tak yakin Tuhan akan mendengarkannya mengingat ia sungguh jarang beribadah.
.:.:.:!*!:.:.:.
Cafe. Lagi-lagi Wooyoung mendengus kesal menunggui Nickhun di cafe seperti biasa. Apakah Nickhun akan tiba-tiba membatalkan janjinya seperti kemarin-kemarin? Ukh! Wooyoung kenal betul akan Nickhun. Ia tak mungkin membatalkan janjinya secara tiba-tiba. Tapi, sungguh yang ia kenal adalah Nickhun saat masih menjadi kekasihnya untuk pertama kalinya. Bukan Nickhun yang menjadi rekan kerjanya sekaligus kekasihnya untuk yang kedua kalinya.
"Oh, maafkan aku. Kau menunggu lama?" tanya Nickhun dengan napas terengah-engah. Ia berlari dari parkiran mobilnya yang cukup jauh dari cafe. So, jangan bertanya kenapa.
"Tidak. Aku baru saja datang" Well, Wooyoung berbohong tentu saja.
"Oh, syukurlah..."
"Jadi, bisa kita mulai pembicaraan kali ini?"
"Hey! Berhenti berbicara seformal itu. Aku membencinya!" pekik Nickhun
Wooyoung tertawa, "Baiklah. Aku merindukanmu. Bagaimana?"
Nickhun tersenyum manis. Tapi ada fakta lain di balik senyumnya. Ia masih bimbang akan Wooyoung. Ia masih bimbang, akankah ia mengatakannya?
.:.:.:!*!:.:.:.
"Wooyoung-ah, aku sungguh mencintaimu..." ucap Nickhun
Nickhun memandangi Wooyoung intens. Perlahan air matanya terjatuh.
Wooyoung tertegun, "Aku juga." Ia menghela napas, "Jadi tenanglah.."
Wooyoung tahu betul kalau Nickhun sedang tak enak hati. Ia sedang ada masalah. Wooyoung mengerti betul jikalau masalah yang Nickhun hadapi bukanlah masalah kecil.
"Aku akan menikah dengan Jiyeon bulan depan.." gumamnya.
Wooyoung menunduk seraya memegangi sabuk pengaman yang melilit dadanya. Oh, ini terjadi lagi. Apa Tuhan benar-benar berniat mempermainkannya? Baru sekitar seminggu mereka kembali berkasih, kini sudah diterpa masalah seperti ini.
Wooyoung mendongakkan kepala dan tersenyum, "Hm" Wooyoung mengangguk mantap, "Aku mengerti.."
"Tapi aku tak ingin, Wooyoung-ah. Aku ingin bersamamu. Sangat ingin."
Wooyoung tersenyum simpul. Sesuatu yang membuat Nickhun semakin teriris begitu mengingat ia sangat mencintai pemuda di sampingnya itu. Wooyoung menangkupkan kedua tangannya di pipi Nickhun. Ia menghapus air mata yang mengalir dari kedua bola mata Nickhun.
"Dengarkan aku.." Wooyoung menghela napas mencoba meyakinkan dirinya bahwa inilah yang terbaik, "Kau, harus hidup bahagia. Kau harus memiliki istri yang cantik dan baik hati. Lalu kemudian bersama-sama membesarkan anak kalian hingga tumbuh besar dan pandai. Saling merawat saat kalian tua nanti, dan melihat anak kalian menikah dengan orang yang paling ia cintai." Wooyoung kembali menarik napas panjang, berusaha menghela air mata yang sewaktu-waktu bisa turun, "Aku ingin kau hidup seperti itu. Aku ingin kau memiliki kehidupan yang baik. Jadi, menikahlah dengannya. Buatlah ibumu bahagia. Dan aku akan menjadi salah satu orang yang paling bahagia saat melihat pernikahanmu besok, dan pernikahan anak-anakmu kelak."
Air mata Nickhun makin mengalir deras mendengar kata-kata yang Wooyoung lontarkan.
"Kau tidak mencintaiku?"
Perkataan Nickhun tentu berhasil menohok Wooyoung.
Wooyoung menggeleng pelan, "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu..."
Nickhun memegangi kedua pergelangan tangan Wooyoung dan melepaskan tangkupan tangan Wooyoung di wajahnya, "Menikahlah denganku. Kita akan hidup bersama di sebuah tempat yang nyaman, mengadopsi anak, dan berbahagia saat melihat mereka menikah."
"Tidak Nickhun. Kau tidak mungkin berbahagia dengan cara seperti itu." Wooyoung masih tetap mencoba meyakinkan Nickhun bahwa keputusannya tak dapat berubah. Walau tak dapat ia pungkiri, ia sangat menginginkan untuk bersama-sama dengan Nickhun selamanya. Saling membahagiakan satu sama lain.
"Aku mencintaimu.." ucap Wooyoung untuk yang terakhir kalinya sebelum ia mengecup singkat bibir Nickhun dan pergi keluar dari mobil Nickhun. Pergi meninggalkan hati Nickhun yang masih hancur menjadi serpihan debu.
.:.:.:!*!:.:.:.
Wooyoung berjalan tanpa memperdulikan udara dingin yang menusuk kraussenya. Perlahan air mata yang terus ia coba untuk bendung mengalir di pipi pucatnya. Matanya menerawang jauh mengingat bagaimana ia begitu mencintai Nickhun dan Nickhun begitu mencintainya. Ia mengingat bagaimana Nickhun memperlakukannya dengan lembut. Dan ia ingat betul fakta bahwa Nickhun akan meninggalkannya. Bahwa ia dan Nickhun tidak akan pernah bersama lagi..
.:.:.:!*!:.:.:.
30 April 2013
Lonceng gereja berdentang. Segala-gala yang putih mendominasi. Satu persatu tamu undangan mulai duduk di kursinya. Dan akhirnya, kursi yang mengisi gereja itu penuh dengan sendirinya.
Nickhun berdiri di depan altar menunggu sang mempelai wanita datang. Hari ini ia akan benar-benar melepas status lajangnya. Melepas cintanya, Wooyoung.
Satu demi satu memorial terputar di otak Nickhun. Memorinya bersama yang terkasih, Wooyoung. Hatinya mencelos, ia tak ingin melakukan pernihakan ini. Ia tak ingin. Ia ingin menikah dengan Wooyoung. Bukan wanita yang ibunya pilihkan.
Tap! Tap!
Langkah kaki mulai terdengar. Nickhun tahu, Jiyeon sang mempelai wanita sudah datang. Ia tak berbalik sama sekali. Ia juga tak memandang sang pastor yang setia berdiri di depannya. Ia hanya menunduk. Berdo'a kepada Tuhan semoga ini bukan akhir dari hidupnya.
Ini sebuah kesalahan. Sang pastor tampak berdehem pelan dan menyadarkan Nickhun dari kebodohannya. Nickhun pun berbalik dan menyambut Jiyeon dengan senyum palsunya, kemudian membimbingnya menuju depan altar, berhadapan dengan sang pastor.
Sang pastor berdehem sebentar sebelum menyampaikan votum dan salamnya. Ia kemudian mempersilakan jemaat yang sekiranya keberatan atas pernikahan ini.
Nickhun was-was. Ia sungguh berharap jikalau Wooyoung yang hadir sebagai jemaat di sini akan mendeklarasikan kalau ia keberatan. Tapi suara yang ditunggunya tak juga terdengar.
Dan ikrarpun terucap,
"Di hadapan tuhan dan jemaatnya ini, bersediakah kau Nickhun Buck, menikahi Park Jiyeon dan berjanji akan senantiasa mengasihi dan setia baik dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sesuai dengan kewajiban suami yang baik. Engkau dan istrimu akan senantiasa berbakti kepada Tuhan sampai maut memisahkan kalian?"
Nickhun mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak hebat, "Ya, saya bersedia" ucapnya kemudian. Oh Tuhan, ia tengah berbohong kali ini. Ia berbohong kepada Tuhannya dan seluruh jemaat bahkan orang di dunia ini.
"Dan kau Park Jiyeon, bersediakah kau menikahi Nickhun Buck, dan berjanji akan senantiasa mengasihi dan setia baik dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sesuai dengan kewajiban istri yang baik. Engkau dan suamimu akan senantiasa berbakti kepada Tuhan sampai maut memisahkan kalian?"
"Saya," Jiyeon menggantungkan ucapannya. Ia mengeratkan genggaman tangannya terhadap Nickhun, "Tidak bersedia"
Seluruh hadirin yang ada di dalam gereja itu terkaget-kaget. Nickhun tertegun mendengar keputusan yang Jiyeon ucapkan.
"Apa kau bodoh, hah?" bisik Nickhun
Jiyeon melepaskan genggaman tangannya, dan berkata, "Aku tidak bodoh"
Jiyeon berbalik meninggalkan Nickhun. Ia terus saja berjalan melewati jemaat yang ada di sana. Sampai kemudian langkahnya terhenti. Tepat di lajur terakhir.
"Jang Wooyoung..." bisiknya pelan sebelum akhirnya ia menarik dan membimbing Wooyoung untuk berdiri di samping Nickhun, di depan Altar.
Wooyoung tentu saja kaget akan apa yang dilakukan wanita cantik itu. Jiyeon tersenyum dan menautkan tangan Nickhun serta Wooyoung.
"Aku akan sangat berbahagia jika kalian yang menikah sekarang."
Kemudian Jiyeon berbalik lagi dan menghampiri ibu Nickhun dan eommanya yang duduk berdampingan.
"Adjhuma, maafkan aku..." pinta Jiyeon seraya berlutut, "Bahagiakan Nickhun, maka buatlah ia bahagia dengan menikahi pemuda di sampingnya itu. Itu akan benar-benar membuatnya bahagia, adjhuma..."
"Jiyeon-ah..." kini eommanya menyahut
"Eomma, kau tidak mungkin membuat putrimu ini menderita karena menikahi pemuda yang tak ia cintai, bukan?"
Wanita paruh baya itu mengangguk mendengar penuturan Jiyeon, putrinya. Ia mengusap pelan bahu Jiyeon dan membimbingnya untuk berdiri.
"Aku menghargai keputusanmu..."
Nickhun tampak berbalik, bermaksud meminta persetujuan dari ibunya. Ia menatap ibunya berusaha memohon agar mengizinkannya untuk menikahi pemuda yang sangat ia cintai. Dan tak dapat ia pungkiri kalau ia sangat bahagia melihat ibunya mengangguk memberi restu.
Nickhun tersenyum lega. Pastor pun bersiap untuk mengucapkan ikrar yang sama.
"Ya, saya bersedia."
~,:,:,:,:,:,:,:,:,:,:!08*80!:,:,:,:,:,:,:,:,:,:,~
FIN
~':':':':':':':':':!08*80!':':':':':':':':':~
Well, otte? Mengecewakankah? Oh, saya harap tidak. Hm, saya rasa banyak yang berpikir kalau fic ini tidak sesuai bayangan dan terlalu membosankan, yeah! Saya bahkan pusing, harus bikin yang gimana lagi? ow! Dan well, kalau boleh jujur, cukup sedih juga sih. Nggak tau kenapa! Hahha! Mungkin karena saya pas lagi galau seperti ini, jadi suka sedih tanpa sebab.
Thank's For:
ballon | KhunLily | Ryu | TaecWoo | nn | Gaemgyu Yeoja
and whoever that read this fanfiction
Balasan Review
Balloon: otte? Happy ending bukan? Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk membaca dan meninggalkan jejak! Terimakasih banyak!
KhunLily: tapi sekarang udah dibolehin nikah sama Wooyoung, kan? Well, terimakasih sudah menyempatkan diri untuk membaca dan meninggalkan jejak! Terimakasih banyak!
Ryu: terimakasih banyak atas apresiasinya, Ryu-ssi. Saya telah menamatkan fict ini. Berkat dukungan Ryu-ssi juga nih! Well, terimakasih sudah menyempatkan diri untuk membaca dan meninggalkan jejak! Terimakasih banyak!
TaecWoo: ohoho, maaf sekali, TaecWoo-ssi, saya tidak bisa mengabulkan permintaan anda. Tapi, terimakasih sudah menyempatkan diri untuk membaca dan meninggalkan jejak! Terimakasih banyak!
Nn: hahaha! Ini juga udah semangat ngerjainnya. Hehehe... Udah tahu, kan, akhirnya Wooyoung milih siapa? Dan kayaknya Nickhun itu tetep yang nomor satu deh buat Wooyoung. Semoga lain kali masih bisa publish fict lagi. Well, terimakasih sudah menyempatkan diri untuk membaca dan meninggalkan jejak! Terimakasih banyak!
GaemGyu Yeoja: hm, jaim ceritanya mereka. Well, terimakasih sudah menyempatkan diri untuk membaca dan meninggalkan jejak! Terimakasih banyak!
mind to review?
