Title
Tied Ship
Author
Uhm―me?
Lenght
3000+
Rate
T
Cast
Lee Jihoon, Yoon Jeonghan, Lee Chan, Kwon Soonyoung, Choi Seungcheol, Hong Jisoo, minor
Pairing(s)
Kwon Soonyoung/Lee Jihoon, Choi Seungcheol/Yoon Jeonghan, minor [like, really really minor] Hong Jisoo/Lee Chan, slight Choi Seungcheol/Lee Jihoon, Hong Jisoo/Yoon Jeonghan
Genre
Angst, Hurt/Comfort, Romance, Humor, Drama
Warning(s)
This is YAOI!, typo anywhere, and Broken!JiCheol, broken!JiHan
Disclaimer
All Cast belong to himself. Beside the story line, i own nothing.
Kim Mingyu is mine!
Summary
Menjalani cinta segitiga tentu saja melelahkan. Tapi bagaimana dengan Jihoon? Dia adalah tied ship―yang berjuang mencari cara mengurai simpul yang dipasangnya sendiri dan lepas dari jerat cinta segilima yang memuakkan.
.
.
Chapter I
.
.
"Kita berakhir, Jihoon."
Jihoon berhenti mengaduk kopinya.
"Aku tidak mencintaimu. Kau tahu itu. Sejujurnya aku lelah selalu berpura-pura merasa nyaman bersamamu."
Jihoon menyesap kopinya dan mengernyit.
Pahit.
"Aku sudah tidak sanggup lagi."
Jihoon mencengkeram mugnya erat-erat.
"Aku mencintai orang lain. Dan dia begitu cantik sampai aku tidak tahu harus bagaimana. Dan aku tahu, aku tidak akan bisa mendapatkannya seutuhnya kalau aku masih terikat padamu."
Jihoon meletakkan mugnya pelan di atas meja dan meraih jaketnya di atas meja dapur.
Berhenti.
"Jadi Jihoon, kita berakhir."
Jihoon memakai jaketnya―masih menghadap counter dapur.
Seungcheol, berhenti.
"Kuharap kau menemukan seseorang yang lebih baik dariku."
Jihoon mengkancingkan satu persatu kancing jaketnya.
Kumohon, hentikan. Aku tidak jauh-jauh datang ke Daegu untuk mendengarkan ini.
"Aku yakin ada banyak orang yang mampu mencintaimu―lebih dari aku."
Jihoon memejamkan matanya dan mencengkeram erat ujung lengan jaketnya.
Jangan bicara lagi, Seungcheol.
"Jihoon, katakan sesuatu."
Jihoon meraih tasnya dan berbalik menghadap Seungcheol. "Aku punya satu pertanyaan untukmu―lalu setelahnya, aku akan pergi."
Seungcheol terkesiap.
Jihoon terlihat tenang―meski ia bisa melihat bagaimana lelaki mungil itu sedikit bergetar. Seungcheol tidak tahu dunia pemuda kecil itu sedang hancur pelan-pelan.
Seungcheol menaikkan satu alisnya.
"Laki-laki cantik itu―siapa namanya?"
Seungcheol memperhatikan bagaimana Jihoon menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang. "Jeonghan."
Jeonghan.
Jihoon berharap bukan seseorang yang ia kenal dengan baik.
"Nama yang indah." Jihoon menatap Seungcheol tepat di matanya untuk pertama kalinya pada hari itu.
Jihoon berdiri dan menyelempangkan tasnya asal. Ia meraih mugnya dan meletakkannya tepat di depan Seungcheol.
"Baiklah, sampai jumpa." kata Jihoon. Sebelum ia keluar dari dapur―dan dari hidup Seungcheol, Jihoon menyempatkan diri berkata, "Aku membuatkan kopi untukmu. Tidak seperti biasanya, yang itu pahit."
Setelahnya, Jihoon berjalan keluar dari dapur―dan hidup Seungcheol dengan kepala tegak.
Dia tidak akan menangisi Seungcheol.
Tidak akan.
Tidak akan.
Tidak akan... kan?
.
.
"Hyung, keluarlah dari kamarmu. Kau harus melihat matahari sebelum kau mati membusuk di ranjangmu, hyung."
"Tidak mau!" teriakan Jihoon terdengar serak dan teredam di antara bantal-bantal yang menutupi kepala mungilnya.
Chan tidak heran.
Sejak kembali dari Daegu untuk menemui pacarnya, Jihoon terlihat seperti zombie. Seolah-olah kehidupan baru saja direnggut dari kedua matanya melalui cara yang paling kejam.
Tapi memang sebenarnya itu yang terjadi.
Tapi ini sudah dua hari dan Chan tidak suka melihat hyungnya begitu.
Dia memang tidak tahu seperti apa pacar Jihoon sebenarnya―baik wajah, kepribadian, Jihoon tidak pernah memberitahu, dan Chan tidak berminat mencari tahu. Kalau Jihoon siap, pemuda mungil yang juga merangkap sebagai hyung kandungnya itu pasti akan memberitahunya.
Jihoon selalu tertutup pada keluarga mengenai masalah cintanya―Chan suka kesal karenanya.
Masalah kali ini pun, Chan tidak begitu paham. Hanya mengerti kalau Jihoon hyungnya sedang patah hati berat. Dari racauan Jihoon dua malam lalu, pacar Jihoon sudah menemukan yang baru dan mengakhiri hubungan mereka begitu saja.
Chan tidak tahu nama. Bahkan marga. Hanya nama alias yang biasa Jihoon pakai kalau sedang curhat.
Jihoon-ie hyungnya memanggilnya Scoups. Bahkan menamai semua kontak id-nya dengan nama itu.
Dan Chan selalu memanggilnya sekup.
Pria itu―Scoups, adalah kawan masa kecil Jihoon yang tiba-tiba pindah keluar kota dan mereka berdua sudah menjalin cinta selama lima tahun sejak mereka kembali menjalin kontak di kelas 3 sekolah menengah pertama―mereka saling berkirim e-mail karena jarak dua kota yang membentang jauh.
Jihoon di Busan, Scoups di Daegu. Lalu semakin jauh karena sekarang Jihoon memutuskan untuk berkuliah di Seoul.
Tapi sebatas itu yang Chan tahu.
Yang mana sangat mengherankan mengingat Chan selalu berkeliaran di sekitar Jihoon selama masa hidupnya dan dia sama sekali tidak kenal siapa si Scoups itu. Jihoon melakukan pekerjaannya menutupi hubungan mereka sekaligus identitas Scoups dengan baik.
Sangat baik.
Hingga saat segalanya berakhir, Chan tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Hyung, ayolah."
Pintu kamar terbuka dan kepala mungil Jihoon terlihat dari baliknya. "Aku masih dalam masa duka, Chan-ie."
Chan menariknya keluar dan Jihoon tidak melawan. Ia menghela nafas saat melihat keadaan hyungnya. Kedua mata sipit Jihoon semakin menyipit karena membengkak dan memerah. Hidungnya merah dan pipinya sembab. Bercak-bercak air mata yang mengering menghiasi kedua pipinya yang tembam.
"Kau terlihat sangat tidak menarik, hyung."
"Terimakasih atas pujiannya, Chan-ie."
Chan menggembungkan pipinya. Ia menyeret Jihoon ke kamar mandi dan mendorongnya masuk ke dalam.
"Jangan keluar sebelum kau bersih dan wangi."
.
.
Chan berdiri gelisah di depan pintu kamar mandi setelah satu jam dan Jihoon belum juga keluar. Dia heran, sebenarnya sedang apa hyungnya di dalam?
"Hyung, aku menyuruhmu mandi, bukan menenggelamkan diri."
Tidak ada jawaban.
Chan menunggu lima menit lagi dan nihil. Masih tetap tidak ada respon dari yang di dalam.
Chan jadi was-was.
Holy shit.
Jangan-jangan, Jihoon benar-benar menenggelamkan diri di dalam sana?
"Hyung? Hyung?! HYUNG!"
Masih tetap tidak ada jawaban.
Chan tidak punya cara lain. Ia mundur tiga langkah dan berlari mendobrak pintu. Saat pintu terbuka, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak saat melihat Jihoon terkulai di dalam bathtub.
"HYUNG?!" teriaknya histeris.
Yang bersangkutan tidak bergerak.
Chan panik. Ia mendekati Jihoon dan menepuk pipinya pelan―tidak, sekarang jadi kasar setelah Jihoon tidak juga membuka matanya.
Yang benar saja.
Jihoon tidak boleh bunuh diri di apartement mereka!
"Hyung! bangun! Kumohon!"
Chan semakin ganas menampar pipi Jihoon.
"HYUNG!"
Jihoon membuka matanya dan langsung memegang kedua pipinya. "Kenapa, Chan-ie? Dan―oh, pipiku sakit sekali."
Chan langsung memeluknya. "KUPIKIR KAU BUNUH DIRI!"
"Aku cuma ketiduran, Chan-ie."
"TAPI KAU SEPERTI ORANG MATI!"
"Orang yang sedang tidur memang terlihat seperti orang mati, Chan-ie."
"AKU MENAMPAR PIPIMU LAMA SEKALI DAN KAU TIDAK BANGUN-BANGUN JUGA!"
"Kau lupa kalau aku tidur seperti orang ma―YAA! PANTAS SAJA PIPIKU SAKIT! DASAR BODOH!"
Sepuluh menit kemudian, Chan duduk merajuk di depan televisi dengan dahi lebam―Jihoon menghantamnya dengan botol sampo.
Chan lupa Jihoon itu sadis.
.
.
"Kenapa kau bisa sampai ketiduran di dalam, hyung? kau tidak tahu betapa khawatirnya aku!"
Jihoon mengompres dahi Chan dengan handuk yang dibasahi air hangat―satu hal yang peling Chan cinta dari hyungnya, Jihoon selalu merawat luka-lukanya, meski Jihoon juga yang menyebabkannya.
"Tidak tahu. Air hangat dan suasana tenang yang menyenangkan membuatku mengantuk di dalam."
Chan merengut. "Tapi berbahaya sekali, kan. Kau bisa saja tenggelam."
Jihoon melempar senyum kecil. "Aku tahu. Maaf. Kau perhatian sekali."
"Tentu saja. Aku tidak ingin pindah apartemen karena apartemen ini jadi TKP bunuh diri. Asal kau tahu, apartemen ini sangat nyaman, hyung. aku tidak mau repot-repot mencari―AW! SAKIT!"
Jihoon menekan luka lebam Chan keras-keras dan menyipitkan matanya jengkel. "YAA!"
Chan nyengir. "Tentu saja aku perhatian padamu. Kau ini hyungku."
Jihoon menghela nafasnya dan memilih melanjutkan mengkompres luka lebam Chan dan membiarkan bocah itu meneruskan celotehannya.
.
.
Setelah drama pagi yang melelahkan bersama Chan―dan bocah itu sukses menjejalinya dengan sarapan yang telat, Jihoon berangkat ke kampusnya dengan hati yang jauh lebih ringan dari sebelumnya.
Mungkin benar kata orang. Suasana yang gloomy itu malah memperparah keadaan patah hatinya. Ia jadi bertanya-tanya, kenapa adiknya tidak menariknya keluar dari kamar lebih awal?
Kelas hari ini berakhir lebih awal. Dosen Kim rupanya lebih berpikir kelahiran anak pertamanya jauh lebih penting daripada kuliahnya dan membubarkan mereka satu jam lebih awal.
Jihoon tidak bisa lebih senang dari ini―apalagi saat kuliah yang harus ditempuhnya bersama dosen Kim berdurasi 100 menit. Dan 60 menit bebas lebih awal merupakan surga kecil untuknya.
"Jihoon!"
Jihoon menoleh dan menghela nafas saat melihat yang bersangkutan. "Ya, hyung?"
"Ayo ke kantin sama-sama."
Jihoon memejamkan matanya dan memijat dahinya. Pikirannya tentang nama pria yang merebut Seungcheolnya membuatnya meragukan hyungnya sendiri.
Bodoh.
Nama Jeonghan dalam satu negara ini ada beribu-ribu.
Lagipula, siapa tahu Jeonghan yang itu rumahnya bertetangga dengan Seungcheol di Daegu.
"Kau kenapa?"
Jihoon membuka matanya. Jeonghan sedang menatapnya khawatir. Jihoon jadi merasa bersalah.
Jelas tidak mungkin kan, hyungnya yang berhati malaikat ini melakukan hal itu?
"Apa kau sakit?"
Jihoon tertawa kecil. "Ya, begitulah."
Sakit hati.
Jihoon belum bercerita apapun pada Jeonghan tentangnya yang baru saja di depak tiga hari lalu.
Bagaimana dia jauh-jauh datang ke sana, hanya untuk pulang dengan hati berbentuk serpihan.
Sejujurnya Jihoon heran, bagaimana bisa ia kembali pulang ke Seoul dalam keadaan sehat dan tidak terluka akibat kecelakaan? Dia yakin tampangnya saat keluar dari rumah Seungcheol terlihat seperti tahanan yang baru saja menerima hukuman mati. Dan jangan lupakan kebiasaannya berjalan sempoyongan seperti orang mabuk saat kehilangan akal.
Benar-benar keajaiban Jihoon bisa tiba dengan selamat sampai di rumah.
Jihoon tersentak dari lamunannya saat Jeonghan meraba keningnya. "Tapi suhu badanmu normal. Apa karena kau belum makan?"
"...sudah."
Jeonghan menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. Dia selalu tahu kapan Jihoon berbohong. "Ayo ke kantin. Setelah itu, temani aku ke kafe. Ada seseorang yang ingin kuperkenalkan padamu."
Jihoon tidak tahu kenapa tapi firasatnya memburuk.
"Duluan saja, hyung. ada beberapa nada yang harus kuubah sebentar di ruang klub."
Jeonghan mengacak surai Jihoon dan memberikannya senyumnya yang paling lebar. "Jangan lama-lama. Kau harus makan siang atau umma Lee akan menceramahiku seharian karena kau telat makan."
Jihoon merengut. "Iya, iya."
Jeonghan melambai dan pergi menjauh. Meninggalkan Jihoon di tengah koridor sendirian.
.
.
"Halo, stroberi."
Jihoon menoleh jengkel pada pemuda bersurai blonde yang sedang menyandarkan separuh berat badannya di kusen pintu klub.
"Halo juga, kepala nanas."
Soonyoung merengut. "Kepalaku sama sekali tidak seperti nanas, Jihoon."
"Aku juga tidak terlihat seperti stroberi, Soonyoung."
Soonyoung berdecak. Ia menunjuk kepala Jihoon dan tertawa. "Warna rambutmu, Jihoon, terlihat seperti seseorang menumpahkan sirup rasa stroberi di sana. Terlihat manis sekali."
Jihoon menggembungkan pipi.
Warna rambutnya memang mentereng. Warna merah jambu yang kalau menilik kata Chan dua minggu yang lalu―terlihat manis dan menyenangkan untuk dipegang.
Tapi warna ini membuatnya menjadi sasaran untuk diganggu. Kapanpun dia melangkah di koridor kampus, atau di parkiran, atau di taman, atau bahkan hanya duduk diam di pojokan, akan selalu ada seorang barang dua orang yang meneriakinya 'Stroberi!' dan berebut mengelus kepalanya.
Memangnya dia bocah?
Meski tinggi badannya serupa dengan kurcaci, tapi tetap saja, Jihoon jauh dari kata bocah. Dia sudah menjadi pemuda dewasa yang memasuki usia 20 tahun bulan ini.
"Berhentilah menggangguku, kepala nanas."
Soonyoung tertawa. "Kau ini kenapa, stroberi? Hari ini kau lebih galak dari biasanya."
Jihoon melemparnya dengan buku musiknya. "Kubilang berhenti menggangguku!"
Soonyoung tersenyum dan mengangkat kedua tangannya defensif setelah berhasil menghindar. "Baiklah, stroberi. Kutinggalkan kau di sini. Jangan membuat klub berantakan atau Seungkwan akan memburu pantatmu."
Jihoon mengangguk acuh. Ia kembali fokus pada barisan nada di mejanya.
"Bye, stroberi!"
"YAA!"
.
.
Sender: Seungcheol-ie
Bisa bertemu hari ini? Aku rindu -3-
Jeonghan menatap layar ponselnya dan tersenyum lebar.
To: Seungcheol-ie,
Tentu! Aku baru mau mengajakmu keluar! Ada tiga dongsaengku yang harus kau kenal.
Jeonghan menatap piring cemilannya di atas meja dan kembali meraih ponselnya saat getar yang familiar menerpa pahanya.
Sender: Seungcheol-ie
Baiklah. Kafe biasa dan jam yang biasa terdengar bagus?
Sampai ketemu nanti :*
Aku mencintaimu, Jeonghan-ie :*
Jeonghan tertawa tertahan. Pacarnya kadang-kadang sukar dimengerti kelakuannya.
To: Seungcheol-ie
Oke.
Aku juga mencintaimu, Seungcheol :*
Jeonghan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya dan memainkan sedotan di dalam gelas jusnya. Ia sedang menunggu tiga dongsaeng kesayangannya kemari.
.
.
Chan menatap orang-orang yang sedang duduk bersama dengannya dalam satu meja dan menggembungkan pipinya bingung.
Suasana di meja ini terasa janggal.
Asing.
Chan baru saja datang setelah Jeonghan menyuruhnya ke kafe ini satu jam yang lalu. Ia bisa melihat Jihoon dan Soonyoung duduk diam bersebelahan―mengejutkan, mengingat mereka selalu bertengkar meneriakkan kata 'stroberi' dan 'kepala nanas' lalu melihat Jeonghan hyung dengan senyum yang lebih lebar dari biasanya.
Chan mengusap dagunya dan berpikir. Lingkaran pertemanan mereka selalu berputar-putar di antara Jeonghan, Jihoon, dan si kecil Chan―baru ketambahan anggota Soonyoung sejak mereka berada di bangku kuliah. Dua yang lebih tua sudah lebih dulu menjalani tali pertemanan sejak mereka baru saja bisa membedakan mana warna hijau, mana warna biru. Chan hadir di tengah mereka karena―well, ibunya selalu menyuruh Jihoon membawa Chan kapanpun pemuda mungil itu pergi keluar bermain. Jihoon tidak pernah keberatan. Bagaimanapun, Chan adalah satu-satunya adik yang paling ia sayang.
Hampir seumur hidup berkeliaran di sekitar mereka berdua membuat Chan hapal di luar kepala bagaimana bahasa tubuh mereka―dan sekarang, bisa Chan bilang, Jihoon sedang gugup hanya karena berada di dekat Jeonghan.
Apa persisnya yang membuat hyungnya bersikap seperti itu, Chan juga ingin tahu.
Tepukan dari kedua tangan Jeonghan yang menakup di depan dada membuatnya mengalihkan pandangan pada yang lebih tua.
Jeonghan melempar senyum lebar. "Jadi, aku mengumpulkan kalian semua di sini karena aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian."
Chan baru sadar, ada pemuda lain yang juga bergabung dengan mereka di meja.
Pemuda tampan. Dan tampak sama gugupnya dengan―Jihoon?
Jeonghan menarik tangan pemuda itu dan menggenggamnya di atas meja dan Chan bersumpah dia melihat Jihoon berjengit.
"Jadi, ini pacarku. Dia lebih tua dari siapapun yang ada di meja ini jadi lebih baik panggil dia hyung."
Chan menoleh menatap pemuda asing itu dan melempar senyum kecil. "Halo, hyung."
"Hyung, namanya siapa? Kalau bertemu di jalan, aku tidak akan bingung memanggilnya." Soonyoung menyela.
Jeonghan tertawa. "Oh, iya. Lupa. Panggil saja Seungcheol. Seungcheol hyung."
"Berapa lama kalian menjalin hubungan?"
Suara Jihoon terdengar bergetar. Chan tidak tahu kenapa.
Jeonghan terlihat berpikir sejenak. "Kurasa satu tahun?" lalu tertawa. "Ya, aku yakin baru satu tahun."
Lalu Jihoon terlihat shock.
Entah untuk alasan apa, Chan tidak tahu.
"Satu tahun, hyung? kenapa kau baru memutuskan memberitahu kami sekarang?" Soonyoung mencibir.
"Tentu saja karena Seungcheol baru saja pindah ke Seoul dua hari yang lalu. Sebelumnya dia tinggal di luar kota."
Chan menaikkan satu alisnya. "Oh, ya? Di mana?"
"D―"
"Daegu."
Itu Jihoon yang menjawab.
Jeonghan tertawa. "Bagaimana kau tahu, Jihoon?"
Jihoon mengeluarkan tawa yang aneh. "Anu, aku sudah mengenalnya."
Kedua manik mata Jeonghan melebar. "Oh ya?"
Jihoon mengangguk. "Hm."
"Bagaimana bisa?"
"Kami teman sejak kecil. Aku kaget saat bertemu dengannya di sini."
Itu Seungcehol yang menjawab.
Chan heran. Sikap mereka berdua tidaklah terlihat seperti teman sejak kecil yang baru saja bertemu kembali.
"Jihoon, kita juga teman sejak kecil, tapi aku tidak pernah melihat Seungcheol."
Jihoon kembali tertawa. Kali ini terdengar sumbang. "Dia teman les musik, hyung."
Jeonghan mengangguk paham.
Chan menatap hyungnya dan merasa ada sesuatu yang harus diingat otaknya.
"Hyung," mendadak Jihoon berdiri dan yang paling aneh―Jihoon menyeret Soonyoung bersamanya. "Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku dan Soonyoung harus pergi."
Soonyoung menatap Jihoon bingung. "Aku?"
Jeonghan merengut. "Ke mana? Kalian bahkan belum makan."
Jihoon melempar senyum kecil. "Aku lupa mengerjakan tangga nada yang disuruh Mingyu." Lalu beralih menatap Soonyoung. "Ayo, Soonyoung, kita butuh banyak waktu untuk menyelesaikannya."
Chan menatap kedua hyungnya keluar dari kafe dan menatap kedua hyungnya yang lain. Ia mengangkat bahu saat Jeonghan menatapnya dengan pandangan bertanya.
.
.
Jihoon tidak percaya.
Jihoon masih menolak percaya.
Hyungnya. Jeonghan hyungnya. Yang sudah ia anggap seperti seorang kakak. Begitu tega merebut Seungcheol darinya?
Tapi―melihat bagaimana semangatnya Jeonghan ingin memperkenalkan Seungcheol padanya, Jihoon rasa Jeonghan tidak tahu.
Ya, Jeonghan tidak tahu lima tahun ini Seungcheol menjalin cinta bersamanya.
Tapi, ini tetap menyakitkan.
Melihat bagaimana―bagaimana Seungcheol tampak bahagia sekali.
Lelaki brengsek itu tersenyum.
Benar-benar tersenyum. Hangat. Layaknya sinar mentari pertama di musim panas.
Lelaki brengsek itu tidak pernah tersenyum begitu manis dan hangat selama lima tahun bersamanya.
Jihoon berjongkok dan memegangi sisi kepalanya.
Dia menerima kalau Seungcheol mendepaknya dan baru menjalin cinta dengan yang lain. Tidak seperti ini. Tidak diselingkuhi.
Dia pusing. Dan rasa pusing ini membuatnya ingin muntah.
Siapa yang sebenarnya jahat di sini?
Seungcheol?
Otaknya yang lambat berjalan tentu saja langsung mengarahkan tuduhan penyelingkuh padanya. Bukankah sudah jelas?
Tapi hati kecil Jihoon menolak memberikan tuduhan jahat itu padanya.
Jeonghan?
Dipikir dengan logika, tentu saja pemuda ini tidak tahu apa-apa.
Tapi hati kecilnya bilang, Jeonghan merebutnya darinya.
Kenangan lima tahunnya yang datar bersama Seungcheol, tampak kalah telak dibandingkan dengan momen lovey-dovey yang baru saja mereka lakukan.
Lima tahun.
Lima tahun Jihoon menabung cinta.
Dan apa yang ia tuai tidak sesuai dengan harapannya.
"Jihoon? Jihoon-ie? kau kenapa?"
Jihoon lupa.
Soonyoung sedang bersamanya.
.
.
Jeonghan menatap Seungcheol dengan mata disipitkan.
"Cheol-ie? kau tidak bilang kenal dengan Jihoon-ie?"
Seungcheol menatap orang berlalu lalang di jalanan di luar kaca jendela. Ia menghela nafas. Menolak menjawab.
Chan sudah pulang lima menit lalu―bocah polos itu lupa harus mengumpulkan essay pada dosen Hwang satu jam lagi.
"Seungcheol? Apa ada sesuatu yang aku tidak tahu?"
Seungcheol menoleh dan menggeleng. Ia melempar senyum kecil.
Tapi Jeonghan keras kepala. "Seungcheol. Jangan membuatku marah."
Seungcheol kembali menghela nafas. Ia menggenggam kedua tangan Jeonghan erat.
"Kau tahu saat aku menyatakan cinta padamu dan kubilang aku masih menjadi pacar orang?"
Jeonghan mengangguk. Ia menatap kedua manik mata Seungcheol yang menyorotkan rasa bersalah.
"Orang itu―" Seungcheol menarik nafasnya lalu menunduk.
Tiba-tiba Jeonghan tidak ingin mendengarnya.
Perasaannya mengatakan hal yang akan di dengarnya selanjutnya akan―
"―dia Jihoon."
―menghancurkan dunianya.
.
.
Soonyoung tahu tadi Jihoon bohong.
Mereka sudah mengerjakan tangga nada titipan Mingyu seminggu yang lalu. Lengkap dengan yang memesan saat mengerjakannya.
Tapi saat menatap manik mata Jihoon yang menatapnya dengan penuh harap, Soonyoung menurut saat pemuda kecil itu menyeretnya keluar dari kafe―hanya sempat melambai sambil berjalan untuk berpamitan.
Lalu sekarang, pemuda kecil itu malah mengacuhkannya. Berjalan sempoyongan memegangi sisi kepala dengan ekspresi wajah seolah telah melihat akhir kehidupan.
Pias.
Soonyoung mendekati Jihoon. Ia memegang pundak Jihoon yang bergetar dan bertanya bingung, "Jihoon? Jihoon-ie? kau kenapa?"
Jihoon menolak berbalik―pun menolak merespon. Pemuda mungil itu tetap berjongkok diam memegangi sisi kepalanya.
"Jihoon―hei!" Soonyoung memekik kaget saat Jihoon tiba-tiba berbalik.
Soonyoung mengerutkan keningnya. Raut wajah Jihoon tidak terlihat baik-baik saja―jauh dari itu, terlihat seperti dia baru saja mendengar berita duka yang tidak sanggup diterimanya.
"Jihoon?"
Jihoon menatapnya kosong. Matanya berkaca dan ada sebutir yang mengancam turun dari sudut mata. Soonyoung bingung harus bersikap seperti apa.
"Seungcheol―"
Soonyoung menaikkan alisnya. "Iya?"
Jihoon menjambak rambutnya sendiri kali ini. Soonyoung menggenggam jemari Jihoon dan berusaha melepaskannya. Jihoon tidak boleh menyakiti dirinya sendiri.
"Dia―dia―"
Soonyoung masih menanti sabar. Jemarinya masih sibuk mencegah kedua tangan Jihoon kembali ke kepalanya.
"―dia―mantan pacarku."
Soonyoung terdiam.
Dia kaget.
Dia tidak mampu memproduksi kalimat untuk mengomentari ini.
Jadi, Soonyoung melakukan satu-satunya hal yang mampu dipikirkan otaknya―ia menarik Jihoon dan memeluknya erat. Membiarkan pemuda mungil itu menangis. Membiarkannya meredam teriakannya di dada.
Lalu Jihoon meledak.
"Soonyoung―dia mantan pacarku. Baru tiga hari lalu dia mendepakku, Soonyoung dan kau ingat Jeonghan hyung bilang apa?―"
Soonyoung memutar rekaman memorinya pada kalimat Jeonghan selama mereka makan cemilan di dalam kafe―
"―mereka sudah berpacaran selama satu tahun?"
―dan berpikir betapa kejamnya takdir yang menerpa bocah stroberinya.
.
.
TBC
.
.
A/N:
Nyeheheh. So, ini chapter satunya. Semoga nggak kecewa. Dan melebihi ekspetasi /bow/
Jadi ini semacam awal mula kenapa kisah ini bisa begitu rumit. Adek Jisoonya belom keluar. Masih saya simpen di dalem kamar.
Setelah saya timbang lagi, kayaknya ini bakalan lebih dari tiga chapter. Nulisnya rumit banget buset -_-
Dan saya juga perlu banyak adegan [karakternya banyak, bruh] untuk menyusun konflik jadi, ya, sepertinya memang ditakdirkan untuk menjadi fiksi yang panjang.
.
Review dibales kalo sempet ya :3
Pokoknya terimakasih buat yang udah mau baca prolognya, udah nge-fav, udah nge-follow, apalagi yang udah ngereview :3
Makasih bangeeeet /bow/
.
.
P.S. mama Changminnya belom kelar, karena ternyata chapternya lebih panjang dari biasanya /laugh/
Spoiler buat mama Changmin ya, si tripletnya mau ketemu papa! /akhirnya/
.
.
Lastly, Mind to riview?
