Mata Wu Fan mengerjap berulang kali begitu melihat sosok dihadapannya. Chanyeol dan Lu Han berharap-harap bahwa Wu Fan akan memberikan respon yang baik. Sedangkan Yi Xing tersenyum pelan dengan penuh harapan seperti kedua adiknya. Jongdae dan Xiumin pun tiba-tiba muncul, penasaran dengan reaksi putranya.
Mata elang itu masih mengerjap, hingga mulutnya terbuka sedikit, "Kau ... –
.. –Siapa?"
新娘(Bride)
Chapter Two
Rated : T
Cast : Zi Tao, Wu Fan, Sehun, Lu Han, Joonmyeon, Yi Xing, Jongdae, Xiumin, Chanyeol, Baekhyun, Kai, Kyungsoo and others
Note : This Fic is from ajib4ff idea :) I am just help her to make this Fic
Warn : YAOI! Typo everywhere!
Not Like it? Get away!
NO SIDERS!
.
.
Just ENJOY it while reading this Fic!
Hope you like it~
.
.
Huang Zi Tao—Pria manis berumur 24 tahun. Baru saja menyelesaikan kuliahnya di luar negeri dan berencana untuk melanjutkan pendidikannya di negeri ginseng. Status ; single.
Huang Shuo—Ayah dari Huang Zi Tao, berumur 54 tahun. Bersahabat erat dengan Kim Jongdae. Status ; sudah menikah dan memiliki seorang putra.
Huang Zhin Jie—Ibu dari Huang Zi Tao, berumur 54 tahun. Seorang pria yang merupakan mantan atlit basket. Status ; sudah menikah dan memiliki seorang putra.
Ini gila. Siapa lelaki yang duduk dihadapannya? Siapa dia yang dengan beraninya menyapa dirinya? Siapa dia yang langsung saja akrab dengan keluarganya? Wu Fan benar-benar tidak tahu sama sekali. Ini ... menggelikan!
"Nah, Zi Tao, apa kesibukanmu sekarang?" Jongdae berseru sembari mengiris daging sapi panggang miliknya.
Lelaki itu, yang mengaku-ngaku namanya Huang Zi Tao, menjawab dengan senyum manis, "Ah .. saya bermaksud melanjutkan kuliah di Korea, dan saat ini ingin membuka cafe kecil-kecilan. Lumayan untuk belajar berusaha selagi saya masih muda,"
Joonmyeon mengangguk-angguk, "Kau anak tunggal bukan, Zi Tao?" tanyanya.
Kali ini giliran si pemuda Huang yang mengangguk, namun, belum sempat ia mengucapkan sepatah kata, tiba-tiba saja ia merasa badannya bergoyang. Mei Lie, si putri cilik, datang menghampiri Zi Tao dan mengguncang tubuhnya pelan, dengan tatapan berkaca-kaca ia meringis, "Uuuh ..."
Semua terkejut melihat si gadis tampak seperti akan menangis, terlebih Wu Fan. Ada apa dengan kemenakannya?!
"Ada apa, manis?"—dan dengan penuh kelembutan, Zitao menunduk sembari mengusap kepala Mei Lie.
.
.
Saat itu, Wu Fan berpikir ia merasa aneh sesaat.
.
.
"Aku ingin bersama denganmu, Uncle ..." Mei Lie mengangkat kedua tangannya keatas, seraya meminta untuk dipeluk. Zi Tao terkekeh mendengarnya. Semua terkejut, lagi. Terlebih Wu Fan. Tidak biasanya Mei Lie ingin mengakrabkan diri dengan orang lain. Wu Fan yakin betul kalau Mei Lie belum pernah bertemu dengan Zi Tao.
Tetapi dengan si Huang ini ...
This is insane
"Oh, tentu saja, sweatheart," Zi Tao kembali tersenyum, kemudian mengangkat tubuh mungil Mei Lie dan mendudukkannya di pahanya sendiri. Xiumin dan Jongdae tersenyum senang begitu mengetahui bahwa Zi Tao juga menyukai anak kecil, sama seperti Wu Fan.
Xiumin mengangkat poci teh dan menuangkan teh beraroma melati tersebut ke dalam cangkir Zi Tao, "Bagaimana kabar Ayah dan Ibumu? Mereka baik-baik saja?"
"Ah, iya Bibi Xiu .. syukurlah mereka berdua tetap sehat sampai sekarang. Akhir-akhir ini Mama lebih sering menghabiskan waktu dengan bermain golf. Oh, Tuhan! Hampir saja aku lupa," Zi Tao bergumam kecil, lalu kembali menatap Xiumin dengan mata bulan sabitnya, "Mama dan Baba benar-benar meminta maaf karena tidak bisa ikut malam ini ... mereka berjanji akan membayarnya dengan mengajak anda berdua berlibur ke spa milik Baba di pulau Jeju,"
"Itu tidak masalah!" Xiumin tertawa pelan mendengar janji yang diucapkan Zi Tao, "Yang penting kau datang, dan sampaikan salamku pada kedua orangtuamu nanti, ya,"
Pemuda manis itu mengangguk kemudian menyesap perlahan teh melatinya, diikuti Mei Lie yang mulai makan di pangkuannya.
Lengan Wu Fan mulai gatal dan langsung saja menyikut Chanyeol, "Hei, siapa dia?"
"Ck," sang adik mendecak, "Namanya Huang Zi Tao, putra dari perusahaan Huang 'Zi Lea', dia rekan bisnis Baba,"
"Aku tahu itu!" bisik Wu Fan, "Maksudku, secara rinci. Siapa dia?"
"Tanyakan pada asistenmu,"
"Hei, jangan mulai! Beri tahu saja, kau ini!"
Chanyeol benar-benar tak tahan. Wu Fan terus saja memaksanya memberi tahu secara detail siapa identitas Huang Zi Tao. Kenapa ia tidak menanyakannya sendiri saja? Dia kan juga tidak tahu keterangan lebih tentang Huang Zi Tao.
Bruk!
Dengan sekali hentakkan, Chanyeol menarik perhatian seluruh orang di meja makan, bahkan anaknya Jungwoon yang sedang tertidur di pelukan Baekhyun pun terkejut.
"Zi Tao-ya! Wu Fan-ge, ingin menanyakan beberapa hal tentangmu, bolehkah?"
Mata Wu Fan mulai membelalak mendengar ucapan adiknya.
Zi Tao menggendikan bahu, "Kenapa tidak?"
"Nah," Chanyeol menepuk pundak Wu Fan, "Mulailah bertanya dan berhenti mendesakku,"
'Sial. Sial. Sialan.'—Dan sekarang, putra sulung Jongdae itu mulai mengumpat dalam hati. Tidak mau malu didepan tamu, Wu Fan mulai tersenyum tipis dan membungkuk sedikit, "Kau ... kuliah dari luar negeri, bukan? Dimana kau kuliah?"
"Puuff,"—akhirnya muncul juga si biang kerok. Lu Han mulai pura-pura terkejut mendengar ucapan Wu Fan, berusaha menggoda kakaknya sekaligus membuat heran si tamu. Wu Fan langsung saja menatapnya tajam, andai saja Lu Han duduk disampingnya, mungkin lengannya sudah memerah karena cubitan Wu Fan.
"Sebelumnya aku kuliah di China, namun karena Baba menginginkan pendidikanku jauh lebih tinggi, dan Mama juga mengizinkannya, akhirnya aku kuliah di Massachusetts Institute of Technology. Lumayan susah untuk masuk kesana, tapi untunglah aku bisa masuk disana," Zi Tao terus menjawab pertanyaan yang lainnya, bahkan daging sapinya pun belum tersentuh sama sekali.
Mata Baekhyun membelalak, "Ha?! Bukankah itu universitas terbaik di dunia?! Yaampun Zi Tao! Kau sangat beruntung bisa masuk disana!"
Wu Fan pun sama terkejutnya. Massachusetts Institute of Technology? Ya Tuhan .. anak ini bukan main! "L-lalu ... kenapa kau ingin kuliah lagi di Korea?"
Si Huang hanya tersenyum tipis, "Entahlah .. orang-orang mengatakan 'jika pendidikan semakin tinggi dan semakin lama, maka tentulah ia berkualitas', mungkin ini yang membuatku ingin mendaki pendidikan jauh lebih lama,"
Wu Fan menggangguk sejenak, kemudian menatap kembali mata Zi Tao, "Berapa usiamu?"
"Dua bulan yang lalu aku berulang tahun, dan sekarang usiaku 24 tahun,"
Jedaarr!
Bagaikan petir di siang bolong, seluruh keluarga Kim dibuat terkejut oleh jawaban Zi Tao. 24 tahun?! Yaampun, perbedaan usia Wu Fan dan Zi Tao 11 tahun! Dan bagaimana bisa Jongdae ingin menjodohkan Zi Tao yang masih sangat muda kepada Wu Fan yang usianya sudah kepala tiga? Ini tak wajar!
"K-kau .. 24 tahun?"—Wu Fan masih dalam keterkejutannya. Yah, memang sih, Zi Tao memang masih kelihatan muda dari penampilannya yang modis. Tapi, Wu Fan benar-benar tidak menyangka ia semuda itu. Pikirnya Zi Tao pasti berusia 26 seperti Baekhyun ataupun 27 seperti Chanyeol. Dan ternyata ..
Yang benar saja
Zi Tao mengangguk lucu, lalu mengambil garpu dan dengan mahir menggunakan pisau dan garpu sebagai alat makannya. Akhirnya, ia bisa menyantap daging panggang tersebut walaupun sudah mulai dingin. Semua terdiam. Jongdae dan Xiumin saling pandang. Mereka mengingat betul bahwa Zhin Jie, Ibu Zi Tao berkata bahwa umur anaknya sudah sangat dewasa. Ah, tapi yasudahlah. Jika Wu Fan memang ditakdirkan bersama Zi Tao, maka secepat mungkin mereka akan melangsungkan pernikahan.
Mei Lie yang mulai mengantuk, lama-kelamaan bersender pula pada Zi Tao. Dengkuran halusnya membuat Zi Tao terkekeh, maka ia berhenti mengunyah makanan dan mengusap kepala gadis manis itu. "Ya Tuhan, dia benar-benar manis. Sudah lama aku menginginkan seorang adik .. tapi Tuhan berkehendak lain dan membiarkanku menjadi anak tunggal," si pemuda Huang mulai berceloteh.
"Mungkin ... kau ditakdirkan untuk memiliki anak, bukan adik,"
Dan seluruh pasang mata orang dewasa tertuju pada Wu Fan. Tidak terkecuali si paling muda Zi Tao. Pipi gembil itu, entah mengapa memerah dan Wu Fan mulai tertegun melihatnya. Sementara Lu Han yang tak tahan untuk menggoda kakaknya, mulai menyekap mulutnya sendiri agar tidak menyeletuk selagi Wu fan memandang Zi Tao yang menunduk.
"A-ah .. ge-gege ini! Tentu saja Zi Tao akan ditakdirkan untuk mempunyai anak! Hahaha,"—hingga akhirnya, tawa hambar Yi Xing lah yang menghancurkan suasana roman itu.
"Oh, yah, kau benar," gumam Wu Fan, sadar dari lamunannya dan dengan terburu-buru meneguk jus apelnya.
Zi Tao terkekeh sedikit, "Itu benar, Yi Xing-ge,"—lalu tiba-tiba ia memandang Yi Xing, "Tidak apa-apakan?"
"Tentu saja, Zi Tao didi-ku," Yi Xing tersenyum manis, "Kau boleh memanggil aku gege, aku tentu akan senang mendengarnya,"
"Hei, Zi Tao! Kau juga harus memanggilku gege, ya!" sungut Lu Han.
Si pemuda Huang kembali tersenyum manis, "Baiklah, Lu-ge,"
Wu Fan terdiam. Awalnya, sungguh, ia tidak merasakan apapun. Ia malah kesal. Orang asing yang berusaha akrab dengan keluargamu dan kepiawaiannya yang berani menjadi supel, siapa yang tidak kesal? Tapi kenapa? Kenapa sekarang ia malah jadi terpikat?
Alis Wu Fan berkerut. Tidak! Ia sudah dengan pandai menyusun balok-balok bata didalam hatinya selama 15 tahun agar tidak ada seorang pun yang mampu menghancurkannya. Dan Huang Zi Tao? Pria muda ini? Hanya dengan sekali saja, balok batanya retak? Yaampun, Wu Fan akan berpikir keras sampai tak tertidur malam ini.
.
.
.
"Mei Lie tidur dengan pulas," Zi Tao mengusap kedua tangannya yang terasa dingin. Angin malam memang membuatnya sedikit kedinginan.
Wu Fan menengok, menatapi pemuda disampingnya yang terus saja meniup tangannya kemudian menempelkannya pada pipi gembil itu. Kemudian pandangannya beralih pada Lu Han, Chanyeol, Baekhyun juga Sehun yang mengintip dari balik tirai. Lalu Yi Xing dan Joonmyeon yang beralasan pergi menidurkan Mei Lie, padahal anak mereka sudah terlelap. Dan kedua orang tuanya. Entah apa yang membuat mereka juga ikut meninggalkan Wu Fan berdua saja dengan Zi Tao.
Terlalu mudah ditebak
Wu Fan sudah tahu rencana mereka. Membuatnya mengenal Zi Tao jauh lebih dalam, membuatnya mengakrabkan diri dengan Zi Tao, dan membuatnya berdua saja dengan Zi Tao. Haruskah Wu Fan mengatakan kalau ini bukan perjodohan mendadak?
"Wu Fan,"—tiba-tiba saja, Zi Tao memanggil. Sang pemilik nama pun menoleh, "Ya?"
"Namamu Wu Fan, bukan?" tanya Zi Tao.
"Oh, i-iya ... kau .. bisa memanggilku .. gege .."—Holy crap! Kenapa Wu Fan harus terbata-bata?!
Pria manis itu sedikit tersentak, "Gege? Ah, maafkan aku,"
"Kenapa minta maaf?"
Zi Tao menundukkan kepalanya, "Harusnya sejak awal aku memanggilmu gege ... tapi .. sungguh, aku benar-benar tidak tahu kalau kau ternyata lebih tua dariku .."
Wu Fan terdiam sejenak. Wow. Semuda itukah dia?
"Benarkah? Lalu siapa yang menurutmu lebih tua dariku?"
Si manis tersenyum kecut, dengan pipi yang mulai memerah karena kedinginan, ia berdehem, "Ehm ... menurutku .. kalian semua terlihat muda. Kalau begitu, berapa umur gege?"
Wu Fan jelas tahu kalau Zi Tao mulai berbohong, ia pasti tidak ingin mengatakan siapa yang kelihatan berbeda dari umurnya karena ingin menjaga rasa hormat orang tersebut. Pemuda disampingnya bahkan mengalihkan pembicaraan. Wu Fan menyukainya. "35 tahun,"
Lucu sekali melihat reaksi Zi Tao. Matanya membulat sedikit dan mulutnya terbuka perlahan. Lengkap dengan rambut hitam kelamnya yang tertutup angin, dan tembemnya pipi itu sangat menggemaskan menurut versi Wu Fan. Tak tahan, bujangan tua itu tertawa, "Terkejut?" serunya.
Zi Tao mengangguk, "Y-yah .. menurutku gege kelihatan sangat muda .. apalagi pakaian yang gege pakai, terkesan sangat kasual bak gaya anak muda,"
"Haha, benarkah? Menurutku pakaian ini sangat aneh," sahut Wu Fan sambil menarik sedikit sweater biru yang dipakainya.
"Lalu mengapa memakainya ge?" Zi Tao memiringkan kepalanya, "Gege sangat aneh, seseorang pasti tidak akan mau memakai sesuatu yang menurutnya aneh kecuali ada hal yang mendesak," lanjutnya.
Wu Fan menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum miring, 'Mungkin bertemu denganmu adalah hal yang mendesak' pikirnya.
"Ah, sudah malam!"—si manis berseru kemudian berdiri. Tatapannya mengarah sebentar kearah langit, lalu menoleh kepada Wu Fan yang juga ikut berdiri.
"Kau ingin pulang?"—Jujur saja, Wu Fan sedikit kecewa.
Zi Tao mengangguk. Keduanya pun berjalan memasuki rumah, Wu Fan mendelik kearah empat serangkai sialan yang berpura-pura bersantai di sofa yang terus bersiul-siul. Zi Tao membungkukkan badannya sedikit, "Gege, aku ingin pamit pulang dulu. Hari sudah malam dan mungkin Mama dan Baba akan mengkhawatirkanku,"
Begitu Zi Tao mengucapkan kata 'pamit', tiba-tiba saja, Jongdae, Xiumin, Yi Xing dan Joonmyeon keluar dari kamar mereka. Wu Fan memutar bola matanya. Kebiasaan yang ia lakukan jika sedang jengah. Pasti keempat orang itu mencuri dengar dari kamar mereka. Yah, kamar mereka dekat dengan halaman belakang.
"Paman Jongdae, Bibi Xiu, Yi Xing-ge, Joonmyeon-ge, saya mohon pamit .. terimakasih banyak atas jamuannya. Sungguh sangat menyenangkan bisa mengenal keluarga Kim lebih jauh," ucap Zi Tao penuh sopan.
Xiumin tersenyum, "Besok-besok datanglah kemari. Kita minum teh bersama, okay?"
"Akan saya usahakan, tawaran anda sangat menggoda, Bibi Xiu,"—senyum lima jari Zi Tao mengembang bersama dengan tawanya Xiumin. "Kalau begitu, saya permisi .."
Saat Zi Tao sudah melangkah, tiba-tiba saja Jongdae menyikut lengan Wu Fan yang melamun, "Antar dia,"
Mata Wu Fan membelalak, "Ha? Untuk apa?!"
"Sudah jangan melawan. Cepat antar dia pulang," Jongdae tetap saja bersikeras, dan tak mau berdebat, ia langsung masuk kedalam kamarnya.
Wu Fan menghela napas. Untuk apa ia mengantar Zi Tao padahal anak itu sendiri membawa mobilnya? "Oh, ya Tuhan, ada apa dengan semua ini!" rutuk Wu Fan, namun kakinya mulai berjalan menyusul Zi Tao.
Lu Han mendecih, "Dasar pedofil! Bilang saja kau menyukai Zi Tao," umpatnya, berbisik agar Wu Fan tak mendengarnya.
Yi Xing yang berada disebelah adiknya menyerngit, "Kau juga pedofil, Lu,"
Sementara Sehun tertawa menggoda dan Chanyeol tertawa mengejek, Lu Han mulai menggerutu.
.
.
.
.
.
"Gege tidak perlu serepot ini," Zi Tao menghela napas saat Wu Fan melepaskan sabuk pengamannya.
Pria tampan itu menoleh, tertegun mendengar ucapan Zi Tao, lalu segera keluar dari mobil mewah tersebut. "Ini .. bukan seberapa,"
Zi Tao terkekeh pelan, lalu melepas sabuk pengamannya dan ikut keluar dari mobil, "Haruskah aku mengantarmu pulang, ge?"
Wu Fan tersenyum tipis, "Masuklah," ucapnya sambil melemparkan kunci mobil yang diterima baik oleh pemiliknya. Mengingat sekarang sudah jam sebelas malam, tentu saja Wu Fan harus segera pergi dan membiarkan anak perawan(?) masuk kedalam rumahnya.
"... Hati-hati, ge .."
.
.
Percayalah
.
Wu Fan senang
.
.
Yi Xing mengangkat roti yang baru saja dipanggangnya, lalu mengoleskannya dengan selai blueberry dan diberikannya pada sang putri. Mei Lie dengan cepat melahapnya hingga taburan-taburan roti tersisa di bibir kecilnya.
"Mama .. Jin Chuan mana?" Gin Quan segera saja merengek kepada Lu Han yang baru saja bangun.
"Iya, iya .. tunggu sebentar,"—sambil terkantuk-kantuk, Lu Han menyiapkan roti dalam panggangan sementara ia membuatkan susu cokelat kesukaan anaknya. Sehun dan Joonmyeon bergabung didalam dapur. Joonmyeon langsung saja mengecup Yi Xing dan Mei Lie, kemudian berlalu masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan Sehun duduk di meja makan, menunggu susu vanilla buatan Lu Han datang.
"Lu Han, tolong siapkan teh untukku," seruan Wu Fan tiba-tiba menyeruak memenuhi ruangan dapur. Ia sudah siap berangkat menuju kantornya dengan sangat rapi. Matanya lalu menoleh kearah Mei Lie yang berusaha mengambil serbet. Dengan cpat ia mengangkat tubuh kecil Mei Lie dan mengecup pipi kemenakannya, "Selamat pagi Mei Lie," senyumnya.
Mei Lie diam saja. Ia hanya mengangguk kemudian merengek meminta diturunkan. Alis Wu Fan naik sebelah, ia sedikit bingung dengan perubahan sikap kemenakannya. "Ada apa, hm?"
Yi Xing hanya terkekeh dan menghidangkan beberapa muffin di meja makan. "Dia sudah tidak menyukaimu lagi, ge,"
Wu Fan tambah heran, kemudian Mei Lie memonyongkan bibirnya, "Itu benar! Aku sudah tidak suka uncle Fan lagi .. aku sukanya pada uncle Ji Tao saja, uncle Ji Tao imut tidak seperti uncle Fan. Uncle Fan mukanya seperti harimau,"
"Bwahahaha! Rasain!" Lu Han tertawa mengejek, melihat reaksi Wu fan yang baru saja mendengar ucapan Mei Lie.
Seperti harimau?
"Uncle tampan-tampan begini kok dibilang seperti harimau?"
"Ada ribut-ribut apa ini?" Jongdae dan Xiumin baru saja keluar dari kamar mereka dan segera duduk dimeja makan.
"Tidak ada apa-apa, Ma. Hanya perdebatan kecil antara Mei Lie dan Wu Fan-ge," sahut Yi Xing, mengangkat Mei Lie dari kursi dan mengantarnya menuju bus sekolah paud yang sudah menunggu didepan halaman rumahnya.
Keluarga besar itu pun makan dengan tenang, Chanyeol dan Baekhyun ikut bergabung setelah baru saja mandi, lalu Joonmyeon pun segera duduk dimeja makan. Yi Xing ikut bergabung setelah mengantar Mei Lie dan menghidangkan yogurt untuk Jongdae dan suaminya.
"Jadi," Xiumin menuangkan teh ginsengnya kedalam cangkir, "Bagaimana pendapatmu tentang Zi Tao, Wu Fan?"
Wu Fan meneguk teh kemudian menatap sang Ibu, "Maksud Mama?"
"Tidak usah sok bodoh, kau sudah tahu bahwa kami bermaksud mempertemukanmu dengan Zi Tao," jawab Xiumin, menatap tajam pada putra sulungnya.
"Tidak ada," Wu Fan membalas ucapan Ibunya. Ia pun melanjutkan memakan telur dan daging sapinya dengan tenang.
Chanyeol menepuk dahinya, "Serius, ge. Apa pendapatmu tentang dia?"
"Dia sopan,"
Semuanya terdiam mendengar ucapan Wu Fan. Memang benar kalau Zi Tao anak yang sopan. Tetapi ..
"Wah, gege benar-benar sudah tidak ada harapan,"—Sehun menggelengkan kepalanya. Ia masih tidak mengerti kenapa Wu Fan sampai saat ini belum juga ingin mempunyai kekasih.
Jongdae menatap anak lelaki dewasanya itu dengan sangat tajam. Hingga seluruh orang yang berada dimeja makan merasa terintimidasi. "Wu Fan, jangan membuatku marah. Kau tahu maksud saudaramu bukanlah tentang hal yang seperti itu. Jadi beri kami jawaban sebelum aku memutuskan untuk menanam saham di perusahaan Kwon,"
Mata kecoklatan itu langsung saja melebar, "Apa?! Baba, yang benar saja! Kau ingin memberikan kepercayaanmu pada Kwon Ji Young?! Jangan lupa kalau dia itu musuh bebuyutan perusahaan Kim sejak dulu, Baba!" teriak Wu Fan tak terima.
"Oleh karena itu, cepat berikan kami jawabanmu yang sebenarnya,"
Lagi-lagi Wu Fan terdiam. Jujur saja, ia sedikit malu mengungkapkan apa yang sebenarnya ada didalam hatinya. Tidak mungkin ia langsung menyukai seorang pria muda yang baru saja ditemuinya kemarin malam. Lagi pula, jika harus menyukai seseorang, memerlukan beberapa tahap. Namun, Wu Fan sama sekali tidak bisa mengerti bagaimana cara Zi Tao masuk perlahan-lahan kedalam hatinya.
Wu Fan sudah memikirkannya semalaman, sungguh. Ia sudah lama tidak mengenal apa itu cinta. Walaupun orang disekelilingnya terus saja mengajarinya untuk mengenal lebih dalam akan arti sebuah perasaan kasih sayang. Wu Fan mempunyai kasih sayang, tentu saja! Tetapi, kasih sayang miliknya bukanlah seperti cinta para saudaranya pada pasangan mereka.
Jika memang Wu Fan tidak tahu apa itu cinta, lalu Huang Zi Tao itu apa?
His true love
"Ya,"
.
.
.
Hening.
.
.
"Ya apa, ge?" Baekhyun menyahut.
Wu Fan melirik, kemudian berdehem, "Ehm .. ya .. aku menyukainya,"
Dan Lu Han, Chanyeol, Sehun serta Baekhyun langsung saja bersorak. Bahkan Gin Quan ikut bersorak, walaupun sebenarnya tidak tahu apa-apa.
"Ini kabar gembira! Akhirnya gege akan menikah!" seru Lu Han, sementara Wu Fan langsung tersedak mendengar ucapan adiknya, Jongdae, Xiumin, Yi Xing dan Joonmyeon hanya tersenyum mendengarnya. "A .. apa kau bilang?"
"Gege akan menikah dengan Huang Zi Tao! Benarkan Baba?"
Anggukan Jongdae membuat Wu Fan semakin pusing.
Yi Xing yang melihat kakaknya kelimpungan, segera memberikannya air, "Gege kau tak apa?"
Yang lain mulai bingung saat Wu Fan mulai meneguk kasar air tersebut dan segera berdiri dari kursi, berjalan terburu-buru ke kamarnya, mengambil kunci mobil dan hendak segera pergi ke kantor. Dengan cepat, mereka semua mencegat Wu Fan sebelum si bujangan tua itu pergi.
"Ge, kau baik-baik saja?" tanya Yi Xing.
"Aku baik saja,"
"Pasti Gege terkejut dengan ucapanku tadi. Maaf ge, aku tidak bermaksud membuatmu terkejut, tapi memang Baba akan menikahkanmu dengan Huang Zi Tao,"
.
.
.
"Aku tidak akan menikah dengannya!"
"APA?!"
.
"Aku tidak akan menikah!"
Hingga mobil itu melaju dengan kecepatan maksimum, meninggalkan keluarga Kim yang memandangnya cemas.
.
.
.
TBC
HALLOO READERS-KU YANG CAKEP JELITAAA ^^
MAAFKAN DAKU YANG TELAH MENINGGALKANMUUU
Oke, ira bener2 minta maaf, sungguhan deh. Ira udah ga lanjut ff dan meninggalkan fic2 ira menumpuk.
TUGAS! Adalah alasan utama ira harus meninggalkan sebentar dunia ffn.
Harusnya fic ini udah lanjut chapt 4, tapi masih chapt 2 #tabok saja ira
Oiya, chapt depan bakal muncul saingannya Wupan lo :v
Dan ira juga minta izin, kalao update ffnya gabisa secepat keinginan kalian. Ira hanyalah makhluk sosial yang tak luput dari kesalahan, oleh karena itu maafkanlah readersku tersayang :3
Thank you so much buat yang udah ingatin ira tentang lanjutan ff sampai pm ira :D
BIG THANKS TOO BUAT YANG UDAH REVIEW DI CHAPT 1, YANG UDAH NGE-FAV in, NGE-FOLLOW in FIC BERABE INIII!
DONT, FORGET, Review yo rek :)
Sign,
.
.
.
blankRa09
