Chapter 2

Desclamier : Naruto punya paman Masashi Kisimoto

Pairing : SasuHina slight GaaHina dan temukan sendiri

Warning : OOC, AU,typo (always) dll

Dont like, dont read

.

.

.

-Butuh semenit saja untuk jatuh cinta pada seseorang. Sejam untuk benar-benar menyukainya, dan sehari untuk mencintainya. Namun butuh seumur hidup untuk melupakannya- (Hinata)

Hujan semalam masih menyisakan cerita pada masing-masing manusia yang menikmatinya. Cuaca diluar juga sangat mendukung untuk menghabiskan waktu di rumah walaupun hanya untuk sekedar bermalas-malasan. Karena hari minggu memang cocok disebut dengan hari bermalas-malasan. Namun itu tidak berlaku bagi Hinata.

Suara sepatu kets warna merah dengan star trademarknya menggema di lobby kantor berlantai 18 yang lengang, karena hari ini libur. Namun sebagian karyawan yang sudah memiliki jabatan tertentu hari ini harus merasakan penatnya bekerja seperti hari kemarin karena perusahaan ini, Konoha Coorporation mengadakan rapat internal membahas persiapan pernikahan putra tunggal pemegang saham terbesar di perusahaan, jadi pernikahan ini harus benar-benar diselenggarakan secara sempurna. Dan acara yang sempurna harus memiliki persiapan yang matang.

Hinata berlari sambil melirik arloji emas ditangan kirinya. Rapat akan mulai 20 menit lagi dan ia masih berada dilobby sedangkan rapat akan dilangsungkan di lantai 14. Seharusnya satu jam yang lalu ia sudah berada dikantor, mempersiapkan bahan meeting yang sudah ia buat tadi malam. Oh jangan lupa, persiapan mental harus dilatih juga. Kini semua angan-angan Hinata itu harus sirna karena sahabatnya Ino. Kalau saja subuh tadi Ino mengatakan padanya kalau ia hari ini cuti sakit, ia tidak perlu buang-buang waktu untuk menunggu Ino.

"Ah… berkasku" ia menepuk jidatnya saat menyadari berkasnya ketinggalan di loker mejanya dan sialnya lagi ia harus kembali keruangannya. Ah… berapa menit sudah ia buang sia-sia karena kebodohannya.

Saat ia hendak berbalik…

Bugh…

"Ouch…" pantat Hinata mendarat di lantai dengan sukses

"Ini bukan sirkuit yang bebas berlari dan berbalik seenak jidatmu"

Iris mata Hinata yang berwarna pucat itu seketika membesar, ia bangun dan mendongak, "Cih…kau harusnya meminta maaf padaku tuan karena telah menabrakku dan…" Hinata menaikkan sebelah alisnya. Pemuda di depannya ini terasa tidak asing baginya, ia pernah melihat pemuda ini di suatu tempat namun, ah ia tidak mengingatnya.

"Aku harus meminta maaf padamu?" Pemuda yang berpakaian serba hitam ini, berhenti melakukan aktivitasnya—mengunyah permen karet. Ia lepaskan kacamata hitam yang sedari tadi setia melindungi kedua matanya dari sinar matahari.

Ia membungkuk sedikit, mensejajarkan posisinya dengan Hinata yang membuat Hinata mundur beberapa langkah karena jarak mereka begitu dekat.

Pemuda itu mengeluarkan sesuatu dari mulutnya dan tiba-tiba menarik tangan Hinata yang membuatnya hampir kehilangan keseimbangan.

"Tak sudi" dengan evil smriknya, ia menaruh sisa permen karet yang dikunyahnya tadi di tangan Hinata

"Yak! Menjijikkan" Hinata membuang sisa permen karet itu sejauh mungkin dari pandangannya. Ia hampir muntah dibuatnya.

Hinata melihat punggung pemuda yang dibalut dengan jaket kulit berwarna hitam serta menggendong gitar itu berjalan dengan santainya dan menghilang ditikungan setelah melakukan hal yang menurut Hinata sangat tidak sopan kepadanya. Kepalanya sekarang terasa mendidih, wajahnya memerah menahan marah. Ia mengepalkan tangannya emosi. Bisa-bisanya ia dipermalukan oleh orang asing di kantornya sendiri.

"SIAL… jika aku bertemu dengannya lagi, akan ku pastikan ia tidak akan bisa bermain gitar lagi" Kedua kakinya ia hentak-hentakkan di lantai saking kesalnya.

"Jadi… mari kita tentukan konsep aca—

"Sumimasen" Hinata mencoba tersenyum sebaik mungkin walaupun agak dipaksakan. Semua orang yang mengikuti rapat hari ini mengalihkan perhatiannya kepada Hinata. Ia menggosok tengkuknya. Ia terlambat dan butuh tenaga ekstra untuk menggeser pintu ruangan rapat yang tiba-tiba saja beratnya sama dengan segalon besar air mineral yang sering ia angkat di apartemen.

Wanita bersurai pirang, pemimpin rapat menurunkan letak kacamatanya dan menghela napas. Sejurus kemudian dengan anggukan kepala, ia mengijinkan Hinata mengikuti kegiatan rapat.

Hinata menghembuskan nafas lega dan mencari kursi kosong untuk didudukinya.

Bugh…

Ia menjadi sorotan lagi. Berkasnya terjatuh. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tungkainya mendadak lemas tak bertenaga.

"Hinata-san?" Pemimpin rapat bernama Tsunade itu memanggilnya

"…"

"Hinata!" Suara wanita paruh baya itu mendadak naik

"Gomenasai Tsunade-sama"

"Jika kau kesini untuk bersungguh sungguh mengikuti rapat, sebaiknya kau duduk disampingku"

Hinata melangkah ke tempat yang diperintahkan untuknya. Ia tidak bertenaga, bahkan ia harus menyeret kedua kakinya agar sampai ke tempat duduknya. Kenapa ia ada disini? Pertanyaan itu terlalu mendadak muncul di kepalanya. Jantungnya berdegub dengan kencang. Keringat dingin mendadak muncul membasahi sekujur tubuhnya meskipun ruangan ini sudahdisejukkan dengan dua AC sekaligus. Tangannya bergetar dengan hebat.

warna yang selalu ia ingat. Warna yang menjadi pemicu ledakan itu. Ledakan memori yang berusaha ia kubur hingga kedalaman yang tidak akan ia jangkau lagi. Lagi-lagi ia bergetar. Bahkan untuk menulis resume rapat kali ini ia harus bertumpu pada tangan kirinya. Isi pensil mekaniknya patah karena mendapat tekanan yang luar biasa. Cemas, marah, takut, dan dendam menguasai Hinata sekaligus. Warna itu menatapnya dengan rasa yang sulit diartikan. Warna itu sekali lagi. Pemuda berambut kuning itu menatapnya dengan rasa bersalah dan membuat Hinata muak.

.

.

.

Segera setelah rapat usai, Hinata segera membereskan semuanya dengan tergesa- gesa dan secepat mungkin pulang ke apartemennya dan berendam di air yang hangat, kemudian tidur di kasur yang empuk. Melupakan semua hari beratnya dan mendesaign ulang program di otaknya bahwa semua kejadian hari ini adalah khayalan yang tidak nyata.

Seperti kecepatan kilat di langit malam.

Secepat itu pula tangan kokoh nan kasar pemuda itu mencengkram tangan mungil Hinata dan membuatnya meringis kesakitan. Pemuda itu menyadarkan Hinata bahwa hari ini tidaklah sebuah fiksi.

Hinata menatap pemuda di hadapannya dengan tajam

"Gomenasai… aku tidak bermaksud" Pemuda itu melepaskan cengkramannya. Ada rasa bersalah tergambar jelas di iris biru langitnya

Hinata tidak terlena

"Bisa kita bicara sebentar Hinata?" Hinata tidak menggubrisnya. Pemuda itu meyakinkannya, "Aku janji ini tidak akan lama, hm. Satu jam? Ah tidak tiga puluh menit sudah cukup bagiku"

Dan disinilah mereka, coffee shop dekat kantor menjadi pilihannya. Ah lebih tepatnya pilihan Hinata. Hinata juga memilih tempat duduknya. Ia sengaja memilih tempat duduk di dekat jendela, pemandangan diluar akan menjadi pengalih yang luar biasa dari pemuda yang duduk di depannya. Ini menurutnya dan sepertinya berhasil.

Mereka hanya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing hingga seorang waiter datang membawa pesanan dan menginterupsi kegiatan mereka. Waiter membungkuk dan melangkah pergi setelah mendapat ucapan terimakasih.

Pemuda bersurai kuning itu menyesap sedikit espresso Chillnya yang asapnya masih mengepul, menyegarkan sedikit tenggorokannya yang terasa kering.

"Ohisasibure desu ne Hinata-san" Ia membasahi bibirnya. Ada rasa gugup yang menjalar disekujur tubuhnya. Mungkin karena sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan gadis dihadapannya. Itu pikirnya.

Tatapan Hinata kini beralih, dagunya masih bertumpu pada tangan kanan. Ia menatap pemuda itu tanpa ekspresi. Kemudian sudut bibirnya tertarik ke atas. Ia tersenyum sarkastik.

"Seperti yang kau lihat sekarang ini, Naruto" Tungkainya ia silangkan, "Oh ya… jangan memasang wajah tegang seperti itu Naruto. Kau tidak perlu bersalah atas apa yang terjadi, hm! Aku hidup dengan baik setelah kejadian itu. Makan dengan teratur, tidur cukup, shoping seperti perempuan yang lain dan hebatnya lagi aku bias lulus dengan peringkat claumlade di kampus ku. Hebat kan?"

Naruto menatap Hinata dengan tatapan sendu, tatapan bersalah. Ia tahu Hinata telah berjuang dengan keras seorang diri. Senyum yang Hinata ukir di bibirnya adalah senyum fake dan Naruto tau itu.

Hinata menatap Vanila lattenya tanpa minat yang mulai mendingin

"Naruto-san"

Tatapannya kini menajam

"Mulai hari ini, bisakah kita berpura-pura untuk tidak saling mengenal? Aku mengenalmu karena dia kan? Membentuk ikatan karena dia. Dan sekarang ikatan dan benang merah itu sudah kuputuskan. Jadi aku tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan dia ataupun dengan mu. Karena bagi ku, kalian semua sama saja"

Naruto menegang. Lidahnya terasa kelu. Belum sempat ia membalas Hinata sudah berdiri dan meyambar tote bagnya

"Terimakasih untuk traktirannya hari ini Naruto-san. Mulai hari ini kita akan semakin sering bertemu karena kerjaan, kan? Jika kau mengalami kesulitan tentang kerjaan, jangan sungkan untuk menghubungi ya. Hubungan kita hanya sebatas rekan kerja. Yoroshiku onegai shimasu" Hinata membungkuk kemudian berbalik dan sebelum pergi Hinata memberikan senyum fake terbaiknya yang menjadi pukulan telak buat Naruto

Naruto melihat Hinata yang pergi meninggalkan coffee shop, menaiki taksi dan bergabung memecah kepadatan jalan ibu kota Tokyo. Ia meremas cup espresso Chill yang telah kehilangan kenikmatannya kemudian beralih meremas dadanya yang terasa sesak. Entah sudah berapa kali ia menghirup udara agar sesaknya menghilang. Sesak karena rasa bersalah.

Seperti espresso Chill yang tidak akan nikmat untuk diminum ketika mulai mendingin. Rupa sama namun rasa berbeda. Sama seperti Hinata saat ini.

.

.

.

Entah sudah berapa kali Hinata menarik nafas kemudian menghembusnya lagi. Sudah tiga puluh menit ia berdiri di depan pintu apartemennya dan dadanya masih saja membuncah hebat setelah kejadian sejam lalu.

"Yosh" ia melompat lompat untuk menghilangkan rasa gugupnya

"Tadaima…" ia membuka pintu apartemenya yang sengaja tidak dikunci

"Okaeri" Ino menjawab dari dapur. Sepertinya ia sedang masak besar hari ini

Menaruh tasnya di atas sofa, Hinata langsung mengekori Ino ke dapur. Dahinya berkerut melihat meja makan penuh dengan makanan

"Sepertinya tidak ada yang ulang tahun hari ini Ino-chan?" Hinata bertanya. Tangan kanannya mengambil ayam goreng dan langsung memakannya

"Setidaknya kau ganti baju dulu" Ino yang datang dari arah dapur langsung mengambil ayam goreng yang dibawa Hinata. Hinata mengerucutkan bibirnya

"Ha'i, ibu ketua" balas Hinata yang sukses membuat Ino tertawa terbahak-bahak. Apron wana hitam dengan aksen polkadotnya membuat Ino terlihat sangat cantik. Sepertinya ia sudah siap menikah dan menjadi ibu rumah tangga sekaligus wanita karier.

"Kenapa masak sebanyak ini?" Hinata keluar kamar dan mengganti bajunya dengan baju Winnie the pooh warna putih pemberian kakaknya—Neji di ulangtahunnya tahun lalu. Ukurannya yang kebesaran membuat Hinata makin terlihat mungil. Celana pendek warna ungu dengan corak bunga-bunga. Ia menarik kursi makan, "Tumben banget" kemudian menyerahkan piringnya kepada Ino. Ino menuangkan dua sendok nasi ke piring Hinata

"Sebagai perayaan atas keberhasilan kita"

Hinata makin tidak mengerti. Ia memasukan beberapa potongan sosis kedalam mulutnya

"Departemen kita telah berhasil mengikat kontrak dengan band yang paling mahal di negeri ini loo Hinata. Dan kau harus tahu kalau salah satu personilnya adalah Shikamaru, aahh… seharusnya tadi pagi aku ikut rapat saja", "Tsunade-sama menelponku" imbuhnya

Hinata baru ingat kalau ia juga melihat Shikamaru ikut dalam rapat bersama dengannya tadi pagi. Ia tersenyum mengejek. Dunia memang tidak selebar daun kelor.

"Doushite Hinata?" Ino merasa Hinata tiba-tiba terdiam

"iie… nandemonai" Hinata tersenyum. "Masakanmu benar-benar lezat Ino-chan, waahh aku sampai terdiam seperti ini merasakan sensasinya"

"Benarkah?" ada binar bahagia terpancar di wajah Ino. Apalagi ia tau akan bekerja dengan orang yang disukainya membuat kebahagiaan Ino menjadi 2x lipat dan Hinata tau itu. Hinata tidak akan mungkin tega untuk memberitahunya bahwa Shikamaru dan Naruto berada di band yang sama. Jalan satu-satunya saat ini adalah berpura-pura untuk tidak tahu. Bukankah Hinata adalah ratu untuk berpura-pura? Berpura-pura untuk selalu tersenyum, berpura-pura untuk selalu kuat, tegar, berpura-berpura bahwa semuanya sudah baik-baik saja. Karena berkat kepura-puraannya itulah ia tidak dipandang remeh. Karena kepura-puraannya membuat ia seperti batu karang. Sangat kokoh diluar namun mudah rapuh.

Mendadak nafsu makannya menjadi hilang.

.

.

.

Sasuke mengusap-ngusap rambut hitam legamnya yang masih basah menggunakan handuk kecil. Air masih saja menetes dirambutnya padahal sudah tiga kali ia keringkan dengan handuk itu. Mungkin karena rambutnya yang tebal membuatnya jadi lama untuk mengering. Jam diatas nakasnya sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Ternyata mandi menjadi obat penenangnya dari penatnya menulis lirik, membuat melodi hingga mengkomposisi lagu seharian ini.

Keadaannya yang topless membuat perutnya yang sixpack terekspos dengan sempurna. Tak heran jika Sasuke menjadi idola para wanita dari segala usia. Memiliki wajah bak pangeran dari kerajaan Inggris, body atletis dan penampilan yang bad boy serta pemain musik menjadi paket lengkap untuk dijadikan suami.

Sasuke Uchiha. Paket yang terlalu sempurna bahkan melampaui kata sempurna. Sasuke dengan bentuk fisiknya dan Uchiha dengan nama keluarga yang terpandang, terhormat dan paling ditakuti. Siapa yang tidak mengenal keluarga Uchiha? Bahkan dari ujung rambut sampai ujung kaki pun semua orang pasti mengenal keluarga Uchiha.

Konoha Coorporation merupakan salah satu perusahaan milik keluarga Uchiha, lebih tepatnya milik Sasuke Uchiha. Ia sengaja mengatasnamakan Uchiha sebagai pemiliknya karena Sasuke tidak suka diusik masalah pribadinya. Dan menghilangkan nama marga Uchiha dibelakang namanya adalah jalan teraman. Semua keluarganya pun sudah tahu dan mereka tidak mempermasalahkan hal tersebut. Karena menurut mereka Uchiha hanya sebuah nama. Karakter dan kepribadian orangnya lah yang paling penting.

Sasuke Uchiha bukan orang yang berpangku tangan. Bukan pemalas. Ia seorang perfeksionis dan ambisius. Bukan berarti setelah ia menanggalkan nama Uchihanya untuk sementara waktu ia menjadi bebas tugas. Tidak. Sama sekali tidak. Bahkan ia bekerja sama dengan Anikinya, Itachi untuk membuat Konoha Coorporation menjadi perusahaan raksasa di Jepang. Dan Sasuke bekerja di belakang layar. Menciptakan gagasan dan ide-ide cemerlangnya dari balik meja kerja yang kini menjadi studio musiknya. Sedangkan kakaknya, Itachi menjadi tamengnya.

Sasuke yang saat ini adalah Sasuke si pemain gitar. Sasuke yang bad boy. Sasuke yang memiliki dua tindikan ditelinga kanannya. Sasuke yang bebas. Karena menurutnya musik itu adalah sebuah kebebasan untuknya. Sedari kecil ia sangat menyukai musik. Terlebih lagi gitar.

Dihidupnya, Sasuke memerankan dua peran sekaligus. Tapi ia sama sekali tidak merasa terbebani dengan hal itu. Sasuke Uchiha si ambisius,terikat dan Sasuke si penyuka kebebasan. Seperti yin dan yang. Dan menurut Sasuke hidupnya saat ini sudah sangat seimbang.

Ia sengaja memilih hidup terpisah dengan kedua orangtua dan kakaknya malah lebih memilih untuk menyewa apartemen mewah dikawasan elit di Tokyo. Karena actor yang sempurna harus rela melakukan segala cara agar kemampuan actingnya diakui.

Setelah mengeringkan rambutnya, ia bergegas menuju ruangan yang memanjang dan dibuat khusus di dalam kamarnya yang letaknya di seberang tempat tidurnya. Disamping kamar mandinya. Pintunya ia geser dan di dalam ruangan itu terpajang dengan rapi koleksi baju dengan brand terkenal. Ia masuk kemudian memilih baju apa yang cocok digunakan untuk malam ini. Kaos oblong berwarna navy dan celana jeans selutut menjadi pilihannya.

Ia hendak bergegas tidur, namun perutnya bermasalah. Ia kelaparan. Tidur dalam keadaan perut kosong sama sekali bukan kebiasaannya. Kemudian ia pergi ke dapur, memasak mie instant sebagai penganjal perut di jam malam adalah pilihan yang bijak. Belum sempat tangannya mengambil mie instant yang ada di lemari makanan, bel apartemennya berbunyi. Berbunyi berkali-kali hingga membuat gendang telinganya sakit. Ia menutup pintu lemari makannya dengan keras.

"Sial…" Sasuke berdecak dan pergi ke layar monitor untuk mengetahui siapa orang yang berani mengganggu jam makannya

Dan tanda empat siku muncul di dahi Sasuke ketika layar monitor menampilkan pemuda bersurai kuning membawa sekantong plastik hitam ukuran sedang ditangan kanannya.

"Oi… teme, buka pintunya "

Sasuke hendak menggubrisnya. Membiarkan sahabat sekaligus rivalnya itu mati kedinginan di luar sana. Namun, ia menghela napasnya. Bukan Naruto namanya jika ia tidak bisa mendapatkan apa yang ia mau. Jika Sasuke tidak membuka pintu apartemennya, Naruto akan memencet bel apartemennya terus menerus hingga ia bisa masuk. Dan jika itu terjadi, bisa-bisa besok Sasuke harus memeriksakan telinganya ke dokter THT.

"Kau tidak punya rumah hah, dobe?" Sasuke membuka pintu apartemenya. Dengan wajah sarkastik dan kedua tangannya ia selipkan di kantong celana jeansnya ia pergi meninggalkan Naruto yang sedang melepaskan sepatunya dan kemudian mengekori Sasuke ke balkon

"Aku sedang banyak pikiran hari ini" Naruto kemudian duduk di sofa berwarna merah maroon di samping Sasuke yang sudah asik dengan gitarnya. Ia kemudian membuka penutup kaleng beer yang sengaja dibawanya tadi.

Cheess…

Riuh soda keluar dari ujung kaleng beer dan secepat mungkin Naruto meneguknya. Mereka berdua menikmati pemandangan malam hari kota Tokyo dari balkon apartemen Sasuke. Lampu-lampu gedung pencakar langit yang lengkap dengan layar digital yang menampilkan beberapa iklan dari artis yang sedang naik daun. Kerlap-kerlip lampu kendaraan yang bahkan sudah hampir larut malam masih saja padat melintasi lalu lintas Tokyo. Langit malam hitam yang hanya dihiasi dengan cahaya redup sang bintang dan bulan menjadi pemandangan yang sering dilihat Naruto. Angin sepoi-sepoi, petikan gitar dari sang empunya, Sasuke membuat hati Naruto menjadi sedikit lebih tenang.

"Kau tau… aku bertemu Hinata hari ini?"

Sasuke menghentikan permainannya. Walaupun tak melihat secara langsung lawan bicaranya, Naruto tau kalau Sasuke menegang.

"Dia… sudah berubah" Naruto kembali menyesap beernya

"Hm… aku juga bertemu dengannya"

Dan kali ini giliran Naruto yang menegang. Beer nya diletakkan kembali ke atas meja. Posisi duduknya kini berubah, berhadapan dengan Sasuke. Ia jelas-jelas ingin mendengar kejelasan dari Sasuke. Pasalnya Sasuke belum menceritakan apapun kepada dirinya. Padahal jelas-jelas mereka sudah bersahabat dari kecil. Dan diantara sahabat tidak boleh ada rahasia.

"Kapan? Dimana?" Naruto benar-benar tidak sabaran menunggu jawaban Sasuke

"Berisik…" Sasuke memindahkan gitarnya, kemudian mengambil sekaleng beer dan membuka penutupnya dan menyesapnya, "Aku bertemu dia tadi pagi di kantor"

"Yang benar saja… bukankah kau tidak ikut rapat bersama kami?" Naruto melayangkan protes kepada sahabatnya ini yang tidak pernah mau datang jika ada technical meeting ataupun rapat

"Aku bertemu di lobby" Sasuke kembali menyesap beernya. Sensasi panas langsung menggelegar di tenggorokannya

"Lalu?" Naruto sengaja menggantungkan kalimatnya. Menahan sedikit egonya untuk bertanya lebih banyak kepada Sasuke. Ia membiarkan agar Sasuke yang menceritakan semua kepadanya.

"Tentu saja dia belum berubah. Tetap seperti Hinata yang dulu, Hinata yang tidak pernah melihat ke arahku. Hinata yang tidak pernah mengenalku" Ada rasa penyesalan terdalam yang tersirat dalam pernyataan Sasuke. Ia tersenyum mengejek kepada dirinya sendiri bahwa selama ini ia tidaklah berarti apa – apa di mata gadis itu. Gadis yang selama ini ia sukai.

"Dan apakah kali ini kau juga akan mengalah,hm?"

Seolah menjawab tantangan Naruto, Sasuke menyeringai. Ia menatap tajam Naruto, "Tidak… mungkin waktu itu aku hanyalah sebuah bayangan. Yang selalu berwujud hitam walaupun sinar matahari bersinar terik. Namun kali ini aku ingin menjadi cahaya. Aku ingin merebut dia"

Naruto tersenyum kemudian mengangguk, "Selamatkan dia Sasuke", "Onegaishimasu" Naruto memohon

Dan malam yang dingin, balkon, gitar, bahkan sekaleng beer menjadi saksi bisu atas pengharapan Naruto selama ini. Pengharapan agar rasa penyesalannya terhadap Hinata dapat ia bayar. Dan sekarang, sahabatnya datang dengan suka rela menjadi healer. Healer untuknya dan untuk Hinata.

TBC

Hallo Minna… bagaimana dengan chap ke 2 ini? Terlalu monoton kah? Terlalu berbelit-belit? Ilaa sangat menanti review kalian sebagai masukan untuk Ilaa. Karena seorang newbie seperti ilaa tidak akan pernah bisa maju tanpa review kalian. Sekali lagi, mohon reviewnya

Onegaishimasu #bungkuk 90°