Seminggu setelah Gilbert menggantikan posisi Maria sebagai Guardian. Mulanya semuanya begitu normal, tidak ada hal aneh yang terjadi di Issyl kecuali monster-monster yang berusaha masuk di pagi hari— Seharusnya sudah biasa jika makhluk-makhluk tak berotak tersebut menerobos hutan hanya untuk di tebas oleh Maria/ Gilbert saat ini.

Tapi pagi tersebut berbeda dari yang biasanya. Sang Guardian albino masih dengan kaos tidurnya, setengah mengantuk membuka jendela kamarnya. Senyum masam terukir bagus di bibirnya, sementara matanya menyipit menunjukan ketidak sukaan.

Jam 08:30. Seharusnya matahari sudah menampakan dirinya, tapi yang dipantulkan penglihatan rubi Gilbert adalah kilat-kilat petir gemuruh. Langit gelap, sama sekali tak membiarkan sang Surya menampakan dirinya. Manik merahnya berlahan bergeser ke arah timur, melihat segerombolan 'manusia'—yang merupakan penduduk yang tengah panik. Mereka semua berlarian menuju rumah kayu miliknya.

"Hari yang buruk," gumam Gilbert seraya menutup jendelanya dan segera bergegas mengambil senjatanya.

Gilbert tidak sempat memakai seragamnya. Membuka pintu, dia keluar hanya dengan kemeja putih dan celana panjang hitam yang digunakannya tidur semalam. Tanpa diberitahupun dia tahu jika situasi sedang gawat. Itu karena kakek Jenkin muncul di hadapannya dengan jubah hitam dan tongkat kayunya— Beliau adalah penyihir yang setiap malam memasang barier penghalang monster. Wajah pria tua tersebut masih tenang, namun nampak jelas jika beliau sedang menyembunyikan rasa paniknya.

"Bisa jelaskan apa yang terjadi?," tanya Gilbert dengan nada datar. Badannya menyandar ke pedang besar milik Maria yang di tancapkannya ke tanah. Gestur cuek dan meremehkan tersebut banyak mendapat tatapan 'benci' warga, dan Gilbert tidak akan pernah peduli akan tatapan—yang melihatnya sebagai parasit—tersebut. Dia sudah biasa, biasa diperlukan sebagai seorang personifikasi.

Sebagai seorang personifikasi negara. Mereka dianggap seperti makhluk yang kebetulan saja ada, dan memberitahu para manusia bagaimana keadaan negara mereka. Manusia tak peduli bagaimana sedihnya berperang melawan teman sendiri, tidak tahu betapa beratnya tangung jawab seorang personifikasi, tidak tahu sakitnya ketika 'negara' mengalami keterpurukan ekonomi.

Seperti dia—Gilbert. Personifikasi Prussia bekerja di bawah pempinan dan mati karena pimpinan. Saat ini nama Prussia sudah lenyap sepenuhnya, dan digantikan dengan German sebagai negara bersatu, tak terpisahkan oleh tembok Berlin. Padahal, sebelum itu. Perpisahan tersebut juga bukan maunya. Dia tidak ingin meninggalkan Ludwig, dia masih ingin melihat perkembangan adiknya.

Tapi keberadaannya sebagai personifikasi hanyalah seperti kata majas. Hanya sebuah kata—keberadaan yang ada hanya untuk pemanis...

Dan 'pamanis' itu sama sekali tak berguna bagi manusia. Hello...mereka pikir siapa yang maju perang di barisan pertama? Bekerja susah payah hanya untuk menanggung sakit yang luar biasa, terutama karena personifikasi tidak bisa mati hanya karena tertembak di kepala!?.

Dari tatapan para penduduk pada Gilbert saat ini. Sungguh pasti sebenarnya Guardian dan Personifikasi memiliki makna eksistensi yang sama. Sungguh bodoh baginya untuk sempat iri pada dirinya yang perempuan—Maria mendapatkan perlakukan yang sama, mempunyai tangungan yang sama.

Memikirkan semua itu malah membuat dirinya semakin mencemaskan gadis albino tersebut. Mein Gott semoga saja dirinya yang lain itu tidak mendapat masalah yang serupa.

"Para monster menerobos masuk kedalam desa," terang kakek Jenkin sambil menunjukan bola kristalnya. Kristal tersebut menampakan desa yang tersapu air laut dan di bagian lainnya yang lebih dalam, rumah-rumah terbakar. Hewan-hewan beringas menghancurkan segala yang berada di depannya, dan korban berjatuhan dengan tidak manusiawinya.

Gilbert berdehem, masih belum menunjukan rasa simpatinya. Namun mengingat kakek Jenkin yang baik, dia berusaha menujukan wajah cemas—Tapi bukan itu intinya. Dia tetap akan membantu Issyl meskipun itu nyawa taruhannya...

Karena itu adalah tugas Maria. Dengan kata lain dirinya juga akan terlibat.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

02: Chaos

Surai peraknya yang panjang berkibar, berkilau seperti hamparan laut yang terkena sinar sang surya. Bau garam yang amis, udara panas yang lengket. Maria tak pernah merasa nyaman berada diatas laut, membayangkan hidup diatas kapal saja sudah membuatnya mual. Dia tidak akan pernah mengerti kenapa Alice begitu menyukai air garam berombak.

Gadis itu benar-benar berada di tengah cuaca yang kebalikan dengan dirinya yang berada di Issyl. Matahari begitu cerah, panas menyinari segalanya. "Aaah~," dia mendongak, bersuara menunjukan kebosanannya kepada langit tak berawan.

Samar-samar dia mencium bau roti. Berlahan kepalanya menunduk melihat deck kapal di bawah. Dari atas menara dia bisa melihat koki kapal membagikan roti panas pada setiap kru, terlebih dahulu kaptennya.

Manik biru si pirang bertemu pandang dengannya, lalu tersenyum. Tanpa sungkan Maria mengernyitkan dahinya, lalu membuang wajahnya berlahan. Rasa tidak suka tersebut bukan ada tanpa alasan. Mereka terlalu mencurigakan, dan si pirang yang adalah kapten itu cukup sombong.

"John kapan kita sampai ke pulau terdekat?," tanyanya seraya menuruni tangga tali. Sebelum kakinya menginjak deck kayu, John menjawab "Dua hari lagi. Kelihatannya kau tipe yang tidak sabar nona Guardian."

Maria tersenyum kecil, bersandar pada pagar. Tidak lama kemudian Felix si koki datang, memberi tamu mereka sepotong roti. "Jika saja kapal ini adalah kapal pesiar yang mewah mungkin aku akan menikmati perjalanan ini," ujarnya sebelum mencuil roti lalu memakannya. "Dari awal kalian tidak menyambutku. Itu juga salah satu alasan kenapa aku menjadi wanita yang tak sabaran Mr John," nama si kapten di pertegasnya, ditambah dengan lirikan tajam "Aku sama sekali tak merasa aman. Bisa saja kalian meracuniku."

"Selama seminggu ini kau memakan masakan, tak ada masalah bukan?," Felix membela rotinya, tentu saja. "Bagi kami kau adalah paket penting. Tentu saja kami tak akan merusak paket yang berharga," lanjutnya diakhiri senyuman licik.

"Kurir profesional huh," Maria tertawa garing namun matanya melihat pria kurus tersebut dengan tatapan mengintimidasi. Jika John sang kapten ahli pedang, maka Felix adalah penembak jitu. Gadis itu kapan saja bisa berimajinasi kalau dia di penggal atau tertembak jika saja dia lengah.

Jujur saja dia tidak tahan dengan suasana diantara mereka bertiga saat ini. kru yang lain melihat mereka, menjauh berlahan tak ingin mencari masalah. Maria merutuki dirinya karena telah bergabung menjadi panitia pesta canggung ini, andai saja dia bisa menutup mulutnya.

Ini sama sekali tidak hebat. Kenyataannya, dia memang tidak suka dengan sikap kapten dan koki kapal yang sombong, tapi diapun bukan orang yang rendah hati. Gadis itu selalu berpikir jika kenarsisan Gilbert itu seperti orang sinting— Sebagai diri Gilbert yang lain. Kelihatannya sifat tersebut masih ada pada dirinya.

"Membosankan," Maria menjauh. Berjalan menuju kamarnya tanpa melihat lagi kedua lelaki berstatus penting di kapal tersebut.

...

Sehari sebelum mereka sampai ke sebuah pulau bernama Drean. Maria melewatkan sarapan, dan siang ini dia juga tak berencana bergabung kedalam meja makan yang kumuh dan biadab. Mengingat betapa menjijikannya para tentara bayaran membuatnya ingin muntah, seenak apapun makanan di depannya dia akan menolaknya. Sayangnya masakan Felix bukan yang terbaik, terburuk malah. Mungkin Alice dilarang masuk ke dapur karena akan membakar segalanya, namun pria kurus itu...hanya kata menjijikan yang ada.

Selain karena sangat membenci sosok sang koki, penampakan dapurpun sebenarnya...adalah salah satu alasannya.

Dengan malas dia merebahkan dirinya ke kasur gantung. Dengan ayunan pelan, gadis itu masih bisa menulis sambil bersandar.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

OXO

Kembali ke hari sebelumnya, tepat disaat Issyl menjadi gelap gulita...

"Kumpulkan semua yang selamat di padang rumput. Hanya tempat itu saja bukan? yang memiliki halaman luas," kata Gilbert seraya mencabut sarung pedangnya yang berlapis perak.

"Apa maksudmu? Kau akan mengorbankan kita!?"

"Kita hanya akan menjadi santapan empuk!"

"Kau seharusnya melindungi kami sialan!"

Sesuai dugaannya, para warga mulai memprotes. Itu sudah menjadi pemandangan biasa baginya. Yang pria berteriak dan mengamuk, sementara yang wanita menangis dan memelas seolah dia makhluk tak berhati. Seperti itulah manusia begitu egois.

"...Apa kalian memiliki ide yang bagus?," tanyanya dengan senyuman tipis "Katakan. Aku akan akan mengikuti apapun yang kalian rencanakan," tambahnya lalu menoleh ke arah pemukiman berada. Suara derap kaki semakin mendekat dari berbagai arah, burung-burung bertebrangan berkoak panik. "Jika ada sebaiknya cepat sebelum—"

Sesuai dugaannya. Seekor Cimera meloncat ke arah mereka. Entah datangnya darimana, dan tiba-tiba saja makhluk berkaki kerbau tersebut jatuh menginjak seorang pemuda. Kaki lelaki tersebut patah terinjak tubuh yang berat. Sementara yang lainnya panik, kakek Jenkin berteriak memanggil Gilbert.

Si albino memberi pria tua tersebut cengiran khasnya lalu mencengkram pedangnya. Sebelum monster berkepala singa itu melahap manusia sial tersebut, Gilbert melemparkan senjatanya. Pedang seberat 2 kilo tersebut melesat dengan cepat, menusuk sayap kanan si Cimera.

Meraung sekali, Cimera tersebut menoleh ke arah sang Guardian. Orang-orang sudah menjauh dari mereka, namun tidak cukup jauh untuk menghindari amukan sang Cimera. Beberapa monster bisa mengunakan sihir serangan— Seolah seperti ada badai sesaat. Angin berputar begitu cepat, bagaikan pisau yang mengiris daging. Gilbert tak ambil peduli. Si albino menerjang, setengah berlari dia mengeluarkan belati dari balik celananya.

Serangan pertama mengincar kepala singa, namun tertahan oleh taring sang raja hutan. Ekor ular berbisa tak hanya diam, hewan panjang tersebut menjulur berniat mengigit. Untung saja tangan kiri Gilbert cekatan, menangkap kepala ular lalu mematahkannya. Belum sempat melakukan apapun lagi, Gilbert lupa jika belatinya berada dalam gigitan singa. Tangannya terpelentir ketika monster tersebut mengayun-ayunkan kepalanya. Cimera besar tersebut cukup merepotkan— Menyerah, akhirnya Gilbert melepaskan tangan kanannya, mengorbankan belatinya.

Senyum sumringah mekar dari bibirnya. Belum sampai badannya jatuh kebumi, Gilbert mengambil belati dari balik celananya lagi. Dengan cepat dia mengincar tengorokan. Senjata kecil seperti itu tidak akan mampu membunuh Cimera. Karnanya, ketika makhluk itu sibuk menikmati rasa sakit. Gilbert bangkit lalu meloncat mengambil pedangnya, lalu melakukan serangan yang sama ke tengorokan. Tak lama kemudian Cimera tersebut menjadi batu lalu runtuh menjadi abu.

Benggong. Kelihatannya ini pertama kalinya mereka melihat Guardian mereka bekerja. Gilbert tak ambil pusing, dia selalu luar biasa bukan? Hanya saja, mungkin sorakan akan membuatnya lebih senang.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Maria merasakan guncangan, berlahan dia turun dari ranjang gantungnya dan memasukan notenya pada saku. Mulanya dia pikir jika guncangan tersebut dikarenakan ombak besar biasa, namun setelah 'sesuatu' menyerangnya ketika berjalan di lobi dia mulai mengerti apa yang sedang mereka hadapi.

"Kraken," gumamnya seraya memutar bola matanya kesal "Apa aku tidak bisa libur sejenak dari para monster itu?," seraya Maria mengomel sekali lagi dia menghindari tentakel raksasa yang mencoba menangkapnya. Dinding bagian kanan tempatnya berdiri terdapat banyak jendela yang mana tentakel-tentakel tersebut masuk kedalam, gadis itu harus menghindari semuanya untuk menuju deck utama dan bergabung dengan kru John.

Suara-suara ledakan meriam, teriak-teriakan ketakutan para manusia, dan lengkingan raungan Kraken sendiri, menyambut kedatangan gadis albino yang mulai berkeringat karena berlari. Tanpa pikir panjang, Maria mengambil sebilah pedang yang tergeletak di dekat salah satu awak. "Lebih buruk dari pedang karatan, tapi lebih baik daripada tidak ada bukan?," melihat-lihat sebentar pedang—yang menurutnya murahan—tersebut, segera dia berlari secara horizontal, dengan sekali tebas gadis itu memotong empat tentakel yang menempel pada tepi kapal. Kelihatannya sang Kraken menjadi sangat kesal padanya, monster itu berencana menjatuhkan salah satu tentakelnya yang lain dan meremukan Maria. Namun sang nona guardian berhasil kembali menghindar, meloncat dan mencincang tentekal tersebut.

Selanjutnya dua tentakel bersamaan menyerang. Memutar tubuhnya dengan cepat seperti gangsing, Maria juga mencincang daging-daging tersebut.

Sementara itu sang kapten kapal masih diam, memperhatikan Guardian yang sedang bertarung. "Monster berwujud manusia itu memang benar-benar kuat sekali huh," ocehnya sambil menyeringai jahat.

Tak lama kemudian kapal semakin berguncang, rasanya laut sedang gampa saja. Rupanya Kraken mulai menunjukan kepalanya, an sekali lagi keenam tentekelnya kembali utuh. Dengan manik biru langitnya itu, dia memperhatikan Maria yang sedang berlarian dia atas tentekal yang mencoba menangkapnya, berusaha mengincar kepala sang monster. Maria memposisikan pedangnya ke posisi vertikal, menancapkannya sedikit ke tentakel dan menyigar daging laut tersebut

"Tidak kusangka dari semua monster laut yang akan mendatangi kita adalah Kraken sang penguasa lautan!," oceh John seraya mengangkat kedua tangannya dan tertawa keras.

Maria sempat melirik pria tersebut. Sudah gila dia, pikirnya lalu kembali fokus. Namun pada gerakan ketiganya, pedang tersebut patah. Di dunia ini memang hanya pedang pribadinya sendiri yang tahan terhadap cara pemakaiannya. Suara besi yang jatuh masuk ke dalam air terdengar begitu keras di telinga gadis tersebut, rasanya semua terjadi begitu lambat.

DOR!

Detik selanjutnya sebuah panah menancap pada dadanya, sedikit meleset pada jantung namun bisa jadi luka yang parah. Manik Rubi gadis itu bergeser, melihat sosok familiar tersenyum licik padanya. Benar dugaannya mengenai kapal ini akan menkhianatinya, Felix menembaknya!...

"Sialan!," Maria sadar jika dia masih berada di atas tubuh Kraken, butuh beberapa menit untuk gurita raksasa tersebut menjatuhkan gadis itu ke dalam laut.

To be Continue...