Title : Queen of pureblood

Disclaimer : Matsuri Hino, Seokwoo (orange marmalade)

Author : Hoshina's dark

Genre : Romance, Hurt/comfort

Rate : M

Warning : NTR, abal-abal, nyesek


Halo Readers... Kembali lagi dengan saya, Asakawa Hoshina. Hari ini, saya akan melanjutkan "The Queen of Pureblood" chapter 2. Jika terdapat kesalahan atau alur cerita tak sesuai keinginan. Mohon jangan segan-segan untuk memberikan saran kritiknya..

Don t like don t read just klick close

Happy reading


Chapter 2

"Cepat katakan, apa yang terjadi?! Apa yang mereka...

[Piipp...! Tut.. Tut...]

"T... Tidak mungkin... Apa... Apa yang terjadi?" tanyanya dalam hati.

...


YUKI POV

Kali ini, hidupku semakin rumit saja... Setelah diusir dari Kanagawa, apakah aku juga akan diusir dari keluarga Rido ji-san? Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa harus keluarga kami? Sebenarnya apa salah kami? Apa salahku? Apa maksud para dewan bodoh itu datang ke rumah mereka? Tidak, kali ini aku tidak akan tinggal diam.. Aku akan bertindak..! Aku harus memaksa mereka untuk angkat kaki dari rumah...!

YUKI POV END...

AUTHOR POV

"Telepon dari siapa? Rido nii?" tanya Kaname yang tiba-tiba berada di belakang Yuki sambil mengelap gelas pialanya.

"Ah?! Ka... Kaname senpai?"

"Soal dewan itu lagi ya? Sepertinya masalah itu sudah jadi sangat rumit..."

"Kaname senpai... Aku harus pulang sekarang..."

"Apa kau yakin? Jika sudah berada di sana, apa yang akan kau katakan pada mereka? Ichijou Asatou... Dia orang yang ber-ego tinggi, Shirabuki Sara... Juru bicara dewan yang handal, dan cucu Asatou, Ichijou Takuma... Apa kau bisa mengusir mereka begitu saja?

Yuki hanya bisa tertunduk. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.

"Apa aku harus pura-pura bungkam soal ini? Sampai kapan aku terus menghindar dari mereka? Kaname senpai, aku ini sudah dewasa. Aku harus belajar bertindak...!" ucapnya tegas. "Karena... Aku tidak mau, apa yang telah menimpa orang tuaku terjadi lagi pada mereka..." lanjut Yuki dengan nada yang semakin merendah.

"Kalau begitu, ayo ikut aku.." ajak Kaname sembari mengambil kunci mobilnya di atas meja dan segera keluar menghampiri mobilnya yang terparkir di halaman depan.

"Tou-san... Kenapa mereka kemari? Masalah Yuki lagi kah?"tanya Shiki

"Seperti yang kau pikirkan, Shiki..." jawabnya sambil menyangga dahinya yang terasa penat.

"Mereka kan bukan orang dalam.. Tapi kenapa mereka berani sekali mengambil keputusan yang terasa seperti ingin menghancurkan ketentraman keluarga kita"

"Kau tak perlu khawatirkan itu, Shiki. Semuanya akan baik-baik saja.."

Sport milik Kaname kini melaju sangat kencang di jalan yang tidak terlalu ramai itu. Mereka berusaha secepatnya menuju ke rumah Rido untuk mengusir para tetua itu dari rumah Yuki.

"Gomen, kaname senpai... Aku terlalu merepotkanmu. Seharusnya, aku naik kereta saja. Lagipula, tidak masalah kalau aku pulang larut malam..."

Kaname hanya diam membisu. Ia seperti tidak menghiraukan perkataan Yuki.

'Kaname senpai...' batin Yuki sambil menatap sedih ke arah orang yang kini sedang menyetir mobilnya dengan kencang.

"Ini, silahkan diminum..." ujar Karura sambil menghidangkan darah hangat ke meja tamu.

"Kelihatannya enak... Karura-sama, darah apa ini?" tanya Takuma.

"Itu darah kelinci, minuman kesukaan Yuki..."

"Oh.. Hontou ni? Kalau begitu akan kucoba..." ujar Sara sambil menyeruput secangkir darah tersebut.

"Oh ya, Karura-sama... Sejak kapan anda pindah kemari? Seingatku, awalnya tidak tinggal disini..." ujar Takuma.

"Ah... Baru kemarin kami pindah kemari. Itupun kami terpaksa pindah..."

"Waahh... Baru kemarin? Biasanya orang kalau baru pindah rumah, keadaannya berantakan sekali.. Ini sudah bersih tanpa ada debu sekalipun. Persis seperti baru membangun kembali... Lagipula, kelihatannya rumah ini sangat besar. Pasti kamarnya banyak ya..." puji Takuma.

"Tidak juga... Meski rumah sebesar ini, kami sangat jauh dari kata bangsawan. Maka dari itu, Yuki memang pantas pindah dari sini untuk mempertahankan gelar kebangsawannya. Bukankah seperti itu?"

Mereka berdua yang tengah enak-enaknya menikmati minumannya tiba-tiba sedikit tersentak setelah mendengar apa yang diucapkan Karura.

"Oh, sumimasen... Silahkan dinikmati lagi. Kalau kurang, akan kuambilkan..." ujar Karura sambil mundur kebelakang lalu pergi meninggalkan mereka.

"Ahahaha... Itu tadi hanya keceplosan kan, Sara?" tanya Takuma sambil menoleh ke arah Sara yang kini tengah menatap kosong ke arah cangkir yang sedang dipegangnya.

"Tidak apa-apa... Lagipula, ocehannya hanya terdengar seperti anak burung yang sedang menciap-ciap mencari induknya..."

"Sara... Kalau ngomong jangan keras-keras... Nanti dia mendengarnya..." bisik Takuma

"Aku tidak peduli..."

[Krieett... Blam...!]

"Sudah kubilang kan? Kalau ngomong jangan keras-keras. Dia jadi dengar tuh.."

"Tunggu, ini bukan suara dari pintu kamar... Sepertinya dari pintu depan..."

Snif... Snif...

"Kau menciumnya, Takuma?"

"Iya... Aku menciumnya... Dan tidak salah lagi, ini pasti aroma darah murni Yuki"

"Ayo kita kedepan..!" ajak Sara

"Baik..."

[Tap... Tap... Tap...]

"Dimana semuanya? Katanya mereka datang kemari..." tanya Kaname dingin.

"Akhirnya, kau datang juga... Yuki-sama... Kukira, kau akan lari dari kenyataan dan menghindari kita semua..." sambut Sara yang tiba-tiba muncul di depan pintu.

"Sekarang juga, pergilah dari rumah ini... Maaf jika aku harus mengusir kalian. Dan jangan pernah memanggilku tuan putri lagi. Karena aku bukan seorang bangsawan..." ujar Yuki dingin sambil berjalan masuk melewati Sara dan Takuma begitu saja.

"Yuki-sama... Tunggu dulu. Kami datang jauh-jauh kemari hanya untuk bertemu denganmu...!" teriak Sara sambil berlari menyusul Yuki.

"Ah... Kaname-sama... Kenapa kau datang kemari?" tanya Takuma.

Kaname hanya diam dan menatap Takuma dengan tatapan dingin. Yang ditatap terlihat ketakutan dan segera pergi menyusul Sara.

"Kau datang juga rupanya... Yuki..." ujar Asatou yang tiba-tiba muncul di hadapannya begitu saja. Yuki terkejut ketika melihat Asatou yang mendadak datang tanpa ia duga sebelumnya.

"Ichijou-sama...?"

"Kenapa kau tidak ingin bertemu denganku? Bukankah kau itu sudah diserahkan oleh Haruka padaku sebagai anak asuh?"

"Aku tidak mau hidup denganmu... Lebih baik aku tinggal bersama Karura ba dan Rido ji..."

"Apa maksudmu?! Kau itu anak bangsawan. Bukan anak gelandangan yang setiap waktu selalu berpindah karena diusir oleh penduduk sekitar. Apa kau tidak mengerti juga seperti apa posisimu saat ini?!"

"Tidak... Aku tidak mengerti dan tidak akan pernah ingin mengerti... Kau tahu, hidup bebas itu lebih menyenangkan daripada hidup di bawah aturan bangsawan... Lagipula, saat ini aku sedang menjajaki babak baru dalam kehidupanku. Aku harus hidup berdampingan dengan manusia yang membuatku menderita dengan aroma darah mereka. Apa aku harus selalu hidup dalam keganasan para vampir?!"

"Cukup..! Aku tidak mau lagi mendengar perkataanmu..! Sekarang juga, segera kemasi barang-barangmu dan ikut dengan kami...!"

Bola mata Yuki yang semula coklat berubah menjadi merah. Sepertinya ia sudah semakin kehilangan kesabarannya.

"Siapa kau?! Beraninya kau mengusirku dari rumah ini dan memaksaku untuk tinggal bersamamu. Sudah kubilang berapa kali? Aku tidak mau hidup bersamamu... Titik..! Jadi, sekarang enyah dari hadapanku dan jangan pernah kembali lagi kemari..."

"Yuki..! Kau tidak tahu saat ini kau sedang bicara dengan siapa hah?!" bentak Asatou geram.

"Aku tidak peduli soal dewan vampir yang isinya hanya orang tua dengan ego liat mereka dan sok bicara tentang kebenaran... Jujur saja, bahkan aku sendiri tidak tahu kenapa ayah ibuku bisa meninggalkanku begitu saja. Meski kalian mengatakan bahwa mereka dibunuh oleh para pemburu vampir, apa aku akan percaya begitu saja? Jangan bodoh...!" bentaknya. "Sekarang juga, pergi dari rumah ini dan jangan pernah mengganggu ketenanganku..!" lanjut Yuki.

"Baiklah... Kami akan pergi. Ingat, saat ini kau sedang berada dalam masalah besar. Dalam waktu dekat, mereka akan datang dalam kehidupanmu. Jika hal yang dikhawatirkan oleh para dewan vampir ini terjadi padamu, kami tidak akan pernah turun tangan untuk mengusir mereka... Cam kan ini baik-baik Yuki..!"

Yuki tidak mendengar apa yang orang tua itu katakan padanya. Ia hanya menatap tajam ke arahnya dengan mata vampirnya.

"Sara... Takuma... Ayo kita pergi dari sini..! Dan jangan pernah mengusik mereka bagaimanapun juga...!" ajak Asatou sembari berjalan meninggalkan Yuki.

"Aku mengerti..." ujar Sara mematuhinya.

Akhirnya, malam itu juga ketiga dewan vampir angkat kaki dari rumah tersebut. Usai mengemasi barang-barang, mereka segera keluar dari rumah tersebut dengan perasaan kecewa karena tidak berhasil membawa Yuki bersama mereka.

"Yuki... Kau..."

Tubuh Yuki tiba-tiba kehilangan keseimbangannya. Gadis itu kemudian ambruk begitu saja. Akan tetapi, sebelum tubuh Yuki menyentuh lantai, Kaname sudah lebih dulu menangkapnya dan memeluknya.

"Tubuhmu dingin... Seharusnya kau tidak memaksakan dirimu beradu mulut dengan mereka..." bisiknya.

Kaname lalu menggendong Yuki di tangannya dan segera membawanya ke kamar.

"Istirahatlah... Besok, kau harus sekolah lagi kan?" kata Kaname usai membaringkannya di atas tempat tidurnya

"Terima kasih banyak, Kaname senpai..."

"Kau tak perlu berterima kasih, Yuki... Hmm.. Sepertinya kau butuh sesuatu untuk menghangatkan tanganmu. Aku akan segera kembali..."

Ketika Kaname akan meninggalkannya, tiba-tiba Yuki memegang tangannya erat-erat.

"Tidak perlu... Biarkan aku seperti ini. Lebih baik sekarang kau pulang dan temui Rima-san... Dia mungkin sudah menunggumu di rumah..."

"Yuki..."

"Sudahlah... Pergilah.. Ini sudah cukup. Biarkan aku istirahat..." ujar Yuki terlampau dingin sambil menarik ujung selimutnya hingga menutupi seluruh badannya.

Kaname menghembuskan nafas pelan. Ia tahu, sebenarnya Yuki tidak menyukainya. Tapi bagaimanapun bentuk balasannya, Kaname akan tetap selalu menyukai Yuki hingga semua yang dia inginkan bersama Yuki bisa tercapai suatu saat nanti.

"Oyasumi, Yuki..." ujarnya tenang.

Sesegera mungkin ia berjalan meninggalkan kamar Yuki dan menutup pintunuya.

'Gomen, Kaname senpai...' ucap Yuki dalam hati.

Keesokan harinya...

Saat pelajaran olahraga, Yuki hanya duduk sendirian di bangku pinggir lapangan. Tatapannya dingin dan kosong. Sepertinya pikirannya sedang melayang kemana-mana. Cewek yang lain bahkan sedang sibuk fangirlingan dengan Zero yang kini sedang bertanding basket antar tim kelas. Kelas XII-1 melawan kelas XII-2 yang tengah berlangsung seru.

"Uwoooohhh... Zero-kuuuunnnn...! Kyaaaa...!"

"Kyaa... Dia caem banget..! Huwaa..."

"Zero-kun...! Sugoiii..!"

"Andai aku jadi pacarnya... Waahh.. Pasti menyenangkan.. Semuanya yang jelas akan iri padaku..."

"Hush... Kalo ngomong jangan keras-keras..! Ntar Katsumi denger..." bisik temannya yang lain.

"Iya yah kalo dia tahu, kita semua pasti bisa mampus..."

"Tapi meski begitu, Zero-kun orangnya dingin dan nggak suka terlalu banyak bicara. Udah berapa banyak cewek yang nembak dia. Tapi, dengan entengnya dia tolak mentah-mentah..."

"Iya juga ya... Humm.. Kalau dipikir-pikir, justru itu daya tariknya.. Cool, keren, dan tatapan dinginnya itu.. Uwaahh... Bikin cewek klepek-klepek lah.."

"Yaahh... Lagian, cowok macam itu kan juga sudah langka di sekolah ini. Yang ada disini hanya anak culun. Jadinya, direbutin ribuan cewek deh..."

Katsumi yang tengah bersandar di batang pohon pinggir lapangan sambil melipat tangannya ke dada kini hanya bisa memandang tajam ke arah para fangirl-fangirl yang sudah mulai menggila.

"Ish... Mereka tetap saja... Tereak-tereak gaje seperti itu. Zero kan pacarku. Seenaknya saja kagum sama dia.." ujar Katsumi gusar.

"Bos, sudahlah... Mereka kan cuma cewek nggak punya harga diri. Jadi biarin saja lah. Toh, mereka juga sudah tahu kalo bos itu pacarnya Zero.."

"Waahh... Zero-kun kalau lagi main basket keren yaa.. Aku jadi makin suka..." ucap Sayori kagum.

"Kau suka sama cowok macam dia? Ihh... Sayori... Sadar yah, kalau dia itu bukan cowok yang baik buat kamu..." tukas Ikari.

"Oh iya... Mana Yuki? Dari tadi dia nggak kelihatan batang hidungnya sama sekali.." tanya Sayori sambil menoleh kanan kiri mencari Yuki.

"Ah, iya juga ya.. Dimana dia? Apa dia nggak masuk?" ujar Ikari sambil ikut tolah-toleh mencari Yuki.

"Ha.. Itu dia... Ngomong-ngomong kenapa dia selalu sendirian sih?" tanya Sayori sekali lagi sambil menunjuk ke arah tempat duduk belakang.

"Samperin yuk..!" ajak Ikari sambil menarik tangan Sayori.

"Iya, iya... Tapi jangan tarik-tarik juga kali.." ucap Sayori dengan sweatdrop di pelipisnya.

[Tap... Tap... Tap...]

"Hei Yuki... Lagi sendirian nih.." sapa Ikari.

Yuki tersentak. Ia kemudian menoleh ke arah mereka dan menatapnya dingin.

"Main voli yuk.." ajak Sayori.

"Tidak ah, terima kasih... Kalian main sendiri saja.."

"Kelompok kita kurang satu orang. Jadi, kita ngajak kamu main.." ucap Ikari.

"Aku lagi malas main voli... Jadi, aku nggak mau.."

"Malas main voli ya... Uhm.. Bagaimana dengan bulutangkis?" tawar Ikari.

"Tidak.."

"Basket?"

"Nggak tertarik.."

"Lompat tali? Baseball? Kayang? Salto? Guling-guling?"

"Ngga tertarik juga.."

"Ah... Masa sampai harus guling-guling juga sih, Ikari?" tanya Sayori heran.

"Ahh.. Lagian aku juga sudah kehabisan ide tentang kegiatan olahraga.. Jadinya aku tanyakan apa saja yang muncul di pikiranku.."

"Lainkali saja aku ikut olahraga bersama kalian. Saat ini aku tidak bisa.. Gomen.."

"Humm.. Ok lah... Tapi janji ya.."

"Aku tidak bisa berjanji dengan siapapun.."

"Huuuhh.. Baiklah.. Pokoknya aku tunggu minggu depan yaa.."

"Terserah.."

"Ihhhh...!" ujar Ikari gemas.

"Sudahlah, Ikari... Ehehe... Yuki, gomen ya kalau kita mengganggumu.." ucap Sayori sambil mendorong paksa Ikari agar menjauh dari Yuki.

"Ahh.. Segarnya..." ujar Zero lega setelah membasuh mukanya di tempat cuci tangan. Ia kemudian mengelap muka dengan handuk yang sudah menggantung di lehernya.

[Crrsssshhhh...]

"Ah?!"

Zero kini menengok ke arah kran air di depannya yang terpisah oleh sekat tembok. Ia terkejut. Ternyata cewek yang selama ini dia pikirkan, Cross Yuki.

'Di... Dia didepanku?' tanya Zero dalam hati.

Snif... Snif...

'Hhh... Bau ini lagi..' ujar Yuki dalam hati sambil menutup hidungnya rapat-rapat.

Setelah selesai mencuci tangannya, Yuki segera meninggalkan tempat cuci tangan dan kembali ke dalam kelas.

'Mungkin aku bisa tanyakan soal dia pada Misaki. Kebetulan, dia juga berencana nembak dia..'

Di tempat ganti laki-laki...

"Hei, Misaki... Gimana rencanamu? Berhasil kah?"

"Hiks... Hiks..."

"Ah... Kenapa? Ditolak ya?

Misaki hanya mengangguk pelan.

"Heehh... Ditolak gitu saja kau sudah nangis. Itu mah nggak sebanding dengan yang ditolak mentah-mentah didepan anak cowok lainnya? Kalau itu adalah kau, hahaha... Pasti sudah mati gantung diri di pohon tauge tuh.."

"Huwaaa...! Justru itu..!" teriak Misaki.

"Heh? Yang tadi itu beneran? Ditolak mentah-mentah? Di depan cowok lain? Yang benar? Waahh... Pasti setelah ini akan ada berita bunuh diri terkonyol didunia nih.." ujar Zero santai sambil melepas kausnya.

"Teman macam apa kau ini, Zero..! Teman sedang kesusahan malah kau bercandain..."

"Terus, aku harus bagaimana? Kan memang seperti itu kenyataannya. Ditolak biasa saja sudah nangis. Apalagi yang seperti itu.."

"Diberi semangat kek atau apa..."

"Ooohh... Maumu itu ya.. Baiklah, kalau sudah ditolak ya udah menyerah saja. Cari yang lain. Lagipula, cewek di dunia nggak cuma satu kan..?"

"Semangat macam apa tuh? Kau malah membuatku semakin down. Huwaaa..!"

"Katanya minta dikasih semangat. Ya udah, itu kan juga sudah disemangatin. Daripada kamu terus kepikiran, baper, terus ketemu Shinigami..? Yah.. Lebih baik dilupakan saja. Cari yang lain... Beres kan?"

"Ah, sudahlah... Lebih baik kau diam saja. Daripada hidupku jadi semakin suram..."

"Heehh... Dasar lebay... Oh ya, aku mau tanya sesuatu.. Kau bersedia menjawabnya kan?"

"Memang, kau mau tanya soal apa?"

"Soal cewek yang habis kau tembak itu.."

"Cieee... Kau juga mulai tertarik padanya ya?"

"Enak saja. Aku hanya penasaran dengan kalian. Bagaimana bisa cewek aneh dan baka seperti dia bisa kalian kejar-kejar sampai titik darah penghabisan? Kau tahu, kalian itu sudah seperti kucing yang sedang mengejar-ngejar ikan. Trus, ikannya itu diikatkan di bagian belakang mobil Lambhorgini yang sedang melaju dengan kecepatan 335 km/jam. Jadi dengan kata lain, kalian mengejar sesuatu yang tidak akan mungkin kalian raih semudah itu. Sungguh tindakan yang bodoh dan sia-sia bukan..?"

"Hhh... Kau memang pandai mengelak.."

"Kalau tidak mau kasih tahu ya sudah... Lagipula, aku juga nggak butuh cewek baka seperti itu..."

"Iya, iya... Aku ceritain nih. Dia itu, cewek yang super dingin dan cuek. Kebanyakan cowok memanggilnya putri es..."

"Putri... Es?"

"Ya, putri es. Kemana-mana dia selalu dibuntuti oleh anak-anak cowok yang iseng-iseng mau ngambil fotonya..."

"Parah tuh.. Kalian bahkan rela jadi paparazzi hanya untuk mengambil fotonya terus menciumnya setiap malam di rumah..."

"Diamlah kalau aku sedang bicara.."

"Iya, iya... Aku akan diam.." ujarnya santai sambil melipat tangannya di dadanya.

"Nah, udah banyak anak cowok yang nembak dia. Tapi, dengan wajah dinginnya dia menolak mereka mentah-mentah seperti tidak punya beban perasaan saja..."

"Oh... Begitu... Hanya itu kah? Kurasa tidak menarik sama sekali..."

"Zero... Aku bahkan membeli fotonya dari anak lain loh... Lihat..." ujar Misaki sambil mengeluarkan selembar kertas foto dari balik saku celananya.

"Kau bahkan rela membeli foto jelek itu karena menyukai gadis baka? Buang-buang uang saja. Kau terobsesi banget sih... Makanya, kalau suka sama orang jangan keterlaluan. Kalau ditolak gitu, jadinya sakit kan?"

"Ahh... Sudahlah. Nih, buat kamu saja. Syukur-syukur kalau kamu tertarik padanya.."

"Aahh... Nggak ah. Foto seperti itu tidak ada gunanya sama sekali. Mending tatap aja wajahnya langsung 24 jam non stop... Sudah ah, aku mau balik duluan. Bentar lagi juga mau istirahat..." ujar Zero sambil berjalan meninggalkan ruang ganti tersebut.

Bel istirahat pun berbunyi. Yuki segera mengambil kotak bekalnya dan meletakkannya di atas meja. Saat Yuki kembali menghadap belakang untuk mengambil sesuatu dari tasnya, tiba-tiba...

[Set...!]

"Jadi, kau ya yang namanya Cross Yuki?" tanya Katsumi sambil mengangkat kotak bekal Yuki.

Yuki lalu kembali menghadap depan dan kemudian menatapnya dengan tatapan dingin.

"Iya... Aku Cross Yuki... Memangnya kenapa?"

"Cih, nggak perlu sok pasang wajah es seperti itu. Dasar... Mau belajar jadi anak belagu kau?!"

"Sumimasen... Aku tidak ada urusan denganmu. Sekarang tolong minggir dan kembalikan kotak bekalku..."

"Hei... Hei... Seenaknya saja kau mengusirku..! Memangnya kau ini siapa, hah?! Berani sekali. Heehh... Kau itu masih anak baru. Nggak pantas jadi cewek populer di sekolah...!"

"Oh.. Jadi, kau datang kemari hanya karena kau iri saat popularitasmu di sekolah semakin merosot kah? Tolong, dengarkan aku baik-baik... Aku tidak peduli soal itu. Biar mereka membuntutiku seperti seorang paparazzi atau apa, aku tidak peduli. Yang perlu kau lakukan bukan melabrakku dan memarahiku seperti anak angsa yang baru lahir. Yang perlu kau lakukan adalah, memperbaiki wajah dan sifatmu agar mereka kembali terpesona padamu.." ujar Yuki dingin.

"Brengsek kau ya...!" teriak Katsumi sambil menarik kerah baju Yuki.

"Jangan jadi orang pengecut yang takut akan hal abstrak. Bukankah yang kukatakan itu sebuah kebenaran?"

"Yuriko..! Nori..! Huh... Buang kotak bau ini..!"

"Yoi, boss...! Hehe.."

Mereka berdua segera mengambil kotak bekal Yuki dan kemudian membantingnya ke lantai. Isinya berhamburan kemana-mana. Katsumi kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Yuki.

"Ingat ya, kalau sampai kau berbuat sesuatu lebih jauh lagi... Akan kubunuh kau..!" ancamnya.

Katsumi kemudian melepaskan genggamannya dari kerah baju Yuki dan segera berjalan meninggalkannya.

"Hei kalian berdua, ayo pergi dari sini... Kali ini, aku akan kencan dengan Zero... Jadi aku harus siap-siap.."

"Dimengerti..."

Mereka bertiga segera berjalan ke arah gerombolan murid yang sedang sibuk melihat kelakuan buruk mereka terhadap Yuki.

"Minggir..!" teriak Katsumi sambil mendorong murid-murid yang mnghalangi jalannya.

"Kasian juga ya..."

"Dia memang sudah keterlaluan.."

"Kotak bekalnya dilempar begitu saja... Dia tidak makan deh jadinya..."

"Permisi, permisi..." ujar seseorang yang mendorong mereka dari belakang.

"Yuki... Kau tak apa? Dia ngapain aja kesini? Apa ada yang terluka?" tanya Ikari panik sambil memegang bahu Yuki.

"Aku tidak apa... Kau tak perlu khawatirkan aku..." jawab Yuki sambil berpangku tangan dan memandang keluar dari arah jendela di sampingnya.

"Bekalmu sudah dihancurkan oleh nenek sihir itu ya?... Kau pasti lapar. Ayo, ikut denganku... Aku akan mentraktirmu makan..."

"Nggak usah... Aku nggak lapar..."

"Heehh... Nggak mungkin laahh.. Aku tahu kau pasti lapar..."

"Tidak apa... Tinggalkan saja aku..."

"Yuki... Aku hanya berusaha membantumu... Kenapa kau selalu menolakku seperti ini?"

Yuki kemudian menoleh ke arah Ikari dengan wajah yang masih sama seperti tadi.

"Ayo, kumohon... Anggap aku jadi temanmu... Aku hanya ingin jadi temanmu, itu saja... Ya?"

"Hhh... Jangan merengek seperti itu.."

"Ayolah... Ya? Ya? Kamu mau kan, jadi temanku?" tanyanya dengan wajah memelas dan kedua tangannya saling menggenggam, menandakan jika ia benar-benar ingin berkawan dengannya.

Tatapan Yuki masih dingin seperti biasa. Tapi, dalam hati, ia menaruh simpati pada temannya yang satu ini.

"Tak masalah... Suka-suka kamu saja..."

"Eh?! Ja.. Jadi.. Kau menerimaku?"

"Begitulah..."

"Uwaaahh... Yuki-chan..! Kau baik sekali...! Terima kasih ya... Yuhuuu... Akhirnya, aku menjadi orang pertama yang bisa berteman dengan Yuki..! Yeheeeyy..!" teriak Ikari jejingkrakan

'Senang sekali...? Sebenarnya dia ini kenapa sih? Padahal itu kan hanya hal biasa... Seperti habis dapat darah manis saja...' tanya Yuki dalam hati sambil menatapnya bingung.

Ikari lalu memeluk Yuki erat-erat.

"E... Eh... Lepasin.." pinta Yuki sambil mendorong bahu Ikari hingga menjauh darinya.

"Aku senang loh... Oh ya, ngomong-ngomong... Kapan kau ada waktu luang? Kita main sama-sama yuk..! Jalan-jalan, pergi belanja, kulineran, habis itu..."

"Aaahh.. Cukup, cukup.. Itu terlalu berlebihan.. Kalau soal itu lain kali saja..."

"Ahh.. Begitu ya... Tak apa, lain kali kita keluar untuk jalan-jalan... Ya..?"

"Terserah..."

"Oh iya... Yuki, kau temui Sayori dan pergilah jalan-jalan sebentar sana... Semua ini biar aku yang beresin..."

"Tapi..."

"Ah... Sudahlah... Pokoknya kau pergi dulu... Nanti... Saat kau kemari semuanya sudah bersih..." ujar Ikari sambil mendorong Yuki hingga ke pintu depan kelas. Ia kemudian mengibas-ngibaskan kedua tangannya untuk mengusir murid cowok untuk tidak bergerombol di depan pintu.

"Hush...! Hush...! Tidak ada yang menarik untuk kalian liat. Hush..! Hush..! Sudah sana, kalian pergi..!"

Setelah semuanya menghilang dalam sekejap mata, dengan cepat Yuki mengambil langkah seribu agar bisa menjauh dari kumpulan anak cowok yang sudah terlalu tergila-gila padanya.

"Ahhh... Sekarang, saatnya bersih-bersih.." gumam Ikari sambil bersiul dan keluar kelas untuk mengambil sapu, kain pel, dan air.

Zero yang melihat Yuki dikejar oleh gerombolan anak cowok hanya memasang tampang terkejut dan tak lupa dengan jawdrop di kepalanya.

"PUTRI ES...! AKU MAU MEMELUKMU SEPERTI ANAK ITU TADI...!" teriak mereka

'Yuki... Semua rahasia yang kau simpan benar-benar membuatku semakin penasaran...' ucap Zero dalam hati sambil terus melihat Yuki yang sedari tadi lari bolak balik melewatinya.

"Kalian bodoh..! Menjauh dariku...!" teriaknya

Sepulang sekolah, seperti biasa Yuki membuka lokernya untuk menyimpan barang-barang yang memang sengaja ia tinggalkan di sekolah. Dan mengambil sebagian barang yang harus ia bawa pulang. Setelah itu, ia berjalan meninggalkan tempat loker tersebut berada. Hari ini ia sengaja menolak ajakan dua orang teman yang menurut dia aneh itu dengan beralasan untuk mengunjungi suatu tempat yang cukup jauh dari sekolah.

'Enaknya sekarang ngapain ya? Ahh... Aku jadi tidak bersemangat untuk pulang... Padahal, hari ini aku pulang lebih awal dari biasanya. Sekarang masih jam satu siang... Huh.. Bosannya...' ujar Yuki dalam hati

[Tek..!]

Langkah Yuki tiba-tiba terhenti saat ia melihat ruangan kosong di ujung sekolah. Ia kemudian segera melihat isi ruangan itu lewat jendela. Ia terkejut. Ternyata ruangan itu benar-benar kosong kecuali hanya ada sebuah gitar yang tersandar di kursi.

"Ah, gitar... Sepertinya menarik..." gumamnya.

Yuki kemudian membuka pintu ruangan yang berdecit karena engselnya yang tua. Setelah itu ia berjalan pelan mendekati kursi tersebut dan segera mengangkat gitarnya.

[Fiuhhh...]

Setelah meniup debu yang ada di permukaan gitar tersebut, ia lalu mencoba memetik salah satu senar gitarnya.

[Jreenggg..]

"Ah, suaranya aneh..." gumamnya sambil mengernyitkan dahinya. Ia kemudian mengatur ketegangan senar dengan memutar tuas yang ada di ujungnya.

[Jreng...]

"Nah, begini baru bagus..." gumamnya sambil tersenyum.

Yuki mulai menarik nafasnya kuat-kuat kemudian menghembuskannya pelan-pelan.

#

Fukai fukai mori no oku ni ima mo kitto...

Okizari ni shita kokoro kakushiteru yo...

Sagasu hodo no chikara mo naku tsukarehateta..

Hitobito wa eien no yami ni kieru...

Chiisai mama nara kitto ima demo mieta kana...

#Reff..

Boku-tachi wa ikiru hodo ni...

Nakushiteku sukoshi zutsu...

Itsuwari ya uso wo matoi...

Tachisukumu koe mo naku...

[Instrument]

#

(Sekarang aku yakin bahwa aku tinggalkan hatiku

Tersembunyi di balik dalamnya hutan mendalam

Aku sangat lelah, tanpa kekuatan yang cukup untuk mencari,

Orang menghilang ke dalam kegelapan abadi

Jika masih tetap kecil, apakah aku bisa melihatnya sekarang?

#Reff

Seperti kita hidup,

Sedikit demi sedikit kita kehilangan

Diselimuti kepalsuan dan kebohongan,

Kita berdiri terpaku, tanpa suara)

Tak lama, Yuki pun tersenyum. Entah apa yang membuatnya tersenyum. Yang jelas ia mulai merasa ada beberapa penggalan lirik tersebut mirip dengan realita yang sedang ia jalani.

#

Aoi aoi sora no iro mo kizuka nai mama

Sugite yuku mainichi ga kawatte yuku

Tsukurareta wakugumi wo koe ima wo ikite

Sabitsuita kokoro mata ugokidasu yo

Toki no RIZUMU wo shireba mou ichido toberu darou

#Reff

Boku-tachi wa samayoi nagara

Ikite yuku dokomademo

Shinjiteru hikari motome

Arukidasu kimi to ima

[Instrument]

#

(Hari-hari berlalu dan berubah,

Tanpa kita bahkan sadari betapa langit benar-benar biru

Sekarang tinggal di luar kerangka yang dibuat,

Dan hati yang berkarat mulai berdetak lagi.

Jika kita bisa menemukan ritme waktu, kita akan bisa terbang lagi.

#Reff

Kita menjalani hidup kita,

Seraya berkelana ke mana-mana.

Mempercayaimu, sekarang aku mulai berjalan,

mencari cahaya itu)

Tangannya yang piawai mulai bersemangat memetik dawai gitar, menciptakan alunan melodi nan indah seindah penghayatan lagunya.

#

Boku-tachi wa ikiru hodo ni

Nakushiteku sukoshi zutsu

Itsuwari ya uso wo matoi

Tachisukumu koe mo naku

Boku-tachi wa samayoi nagara

Ikite yuku dokomademo

Furikaeru michi wo tozashi

Aruiteku eien ni

Tachisukumu koe mo naku ikite yuku eien ni

#

(Seperti kita hidup,

Sedikit demi sedikit kita kehilangan

Diselimuti kepalsuan dan kebohongan,

Kita berdiri terpaku, tanpa suara

Kita menjalani hidup kita,

Seraya berkelana ke mana-mana.

Menutup jalan kembali,

Kita berjalan selamanya.

Kita berdiri terpaku, tak bisa menangis selamanya)

(Fukai mori, Do as Infinity)

Ia kemudian mengakhiri lagunya dengan petikan dawai yang semakin lama semakin merendah, dan akhirnya selesai.

Tak terasa, air mata Yuki perlahan-lahan meleleh. Ia tahu, lirik lagu tersebut benar-benar menjadi kenyataan. Kenyataan bahwa ia harus lahir dan hidup dalam sebuah kebohongan. Demi harus menikmati kebahagiannya yang mungkin bagi orang lain tak begitu penting. Tapi baginya, itu sangat berharga.

Plok...! Plok..! Plok..!

[Degh..!]

"Waahh... Ngomong-ngomong, suaramu tadi bagus sekali loh.. Aku sampai terharu mendengarnya... Iya kan, Sayori?" ujar Ikari senang sambil berjalan mendekati Yuki bersama Sayori di belakangnya.

"Iya... Tadi aku terharu mendengarnya, Yuki... Lagumu bagus sekali..!"

"Kalian? Sejak kapan kalian berdua ada di sini?" tanya Yuki bingung sambil pura-pura mengucek matanya untuk menghapus air mata yang sudah mulai membasahi pipi tadi.

"Kami disini sudah dari tadi. Kalau nggak salah, waktu kamu mulai nyanyi deh... Awalnya aku heran. Siapa ya, yang nyanyi di ruangan bekas klub band. Eh, waktu aku sama Sayori ngedeketin ternyata itu kamu. Jadinya, aku sempatin dengar kamu nyanyi..." jelas Ikari panjang lebar.

"Waahh... Kalau gitu, kita buat klub band lagi yuk. Udah lama mangkrak nih.. Gimana? Nanti, Yuki yang jadi vokalisnya..." usul Sayori.

"Oh... Boleh juga idemu itu, Sayori... Kita buat klub band agar ekskul musik bisa hidup lagi... Hehe... Yagari sensei pasti mau bantu kita. Soalnya, dia kan guru seni musik..."

"Yuki-chan... Ayo nyanyi sekali lagi... Kita mau dengar suara emasmu..." pinta Sayori.

"Ah, tidak... Terima kasih. Aku mau pulang dulu. Ba-san pasti sudah menungguku di rumah..." tolak Yuki yang kemudian berdiri sambil membawa gitar tua itu dan berjalan menuju pintu keluar.

"Ta... Tapi Yuki... Bakatmu itu sudah bagus... Kita harus memanfaatkan bakat emasmu itu..." ujar Ikari.

"Mungkin lain kali saja. Oh ya, gitar ini akan aku bawa. Kasihan jika dibiarkan berdebu dan sendirian disini. Aku pulang dulu ya. Jaa..." ucap Yuki dingin sembari berjalan melewati mereka berdua begitu saja.

"Sifat aslinya masih dilestarikan saja ya.." celetuk Ikari gemas.

"Sssttt... Jangan bicara keras-keras. Nggak baik bergosip tepat di belakang orangnya.." bisik Sayori sambil membungkam mulut Ikari.

"Hump... Hump.."

[Tap... Tap... Tap...]

'Hhh... Untung hanya mereka yang melihatnya. Bagaimana kalau semua anak cowok yang melihatnya. Pasti akan seram jadinya. Disini ternyata tidak ada tempat yang aman untukku sendirian... Selalu ada saja yang mengusikku. Ini menyebalkan...

Usai keluar dari ruang klub, Yuki tidak juga langsung pulang. Ia masih menyempatkan diri bersandar di bawah pohon yang tak jauh dari sekolahnya hanya untuk menikmati indahnya langit yang biru, sejuknya angin yang bertiup sepoi-sepoi, dan damainya nyanyian burung-burung yang hinggap di pohon tepat di atasnya. Gitarnya ia letakkan di sampingnya. Tak lupa, telinganya juga sudah terpasang headset yang mengeluarkan alunan melodi yang mungkin bisa menenangkan pikirannya dari segala masalah selama ini menyiksanya.

"Inikah yang namanya hidup damai...? Haahhh... Tidak ada siapapun yang menggangguku. Menyenangkan sekali..." gumamnya sambil memejamkan matanya.

Snif... Snif...

"Huh... Aku tidak menyangka, di sekolah ini akan ada banyak manusia beraroma menyebalkan seperti ini... Kapan mereka akan terus berkeliaran disekitarku? Menggangguku saja..." gumamnya lagi sambil menutup hidungnya.

"Oi... Kau dengar aku nggak? Dasar cewek aneh..." ujar Zero sambil melepas salah satu headset yang terpasang di telinga Yuki.

Cepat-cepat, Yuki bangkit untuk segera meninggalkan Cowok tak dikenalnya itu. Akan tetapi, sebelum ia berhasil berdiri Zero menahan kepalanya dan mendorongnya ke bawah hingga ia duduk lagi.

"Siapa lagi?" tanya Yuki dengan tatapan dinginnya.

"Kau masih tanya siapa lagi? Aduh, kau ini pelupa atau apa sih? Dasar... Kau benar-benar membuatku gemas" keluh Zero sambil menepok jidatnya.

Yuki hanya menatap laki-laki itu bingung.

"Aahh... Baiklah, aku bahkan juga lupa jika harus mengenalkan diriku ke orang yang baru kukenal. Kiryuu Zero... Itu namaku. Zero.. Itu sudah yang paling singkat. Nggak mungkin kau akan lupa"

"Zero? Aneh sekali namamu... Mana mungkin aku bisa ingat..."

"Aahhh... Mungkin kau perlu pergi ke dokter untuk sedikit membenahi isi kepalamu itu..." ejeknya sambil mengetuk-ngetuk keningnya.

"Mau apa kau disini? Mengganggu ketenanganku saja..." ujarnya sewot.

"Hei... Urusan kita masih belum selesai..."

"Urusan yang mana?"

"Huh... Urusan kita saat di kereta yang waktu itu.. Sampai kapan kau akan terus melupakannya?"

"Aku nggak tahu... Itu kan hanya sebuah kesalahan. Lagipula, waktu itu aku juga sudah minta maaf padamu kan...?" ucap Yuki cuek sambil memasang kembali headset yang dilepas Zero tadi. Ia kemudian kembali memejamkan matanya sambil menikmati lagu kesukaannya.

"Ke... Kesalahan... Katamu..? Kau menganggap itu hanya sebuah kesalahan?!"

"Yup... Kesalahan... Bahkan itu hanyalah masalah yang sepele yang sengaja dibesar-besarkan..." ujarnya santai.

'Uggghhh.. Kau ini... Susah sekali sih diajak ngobrol aja..!' geram Zero dalam hati

Zero kemudian melepas headset dari kedua telinga Yuki dan hapenya lalu menyembunyikannya di belakang tubuhnya.

"Apaan sih? Kenapa kau selalu menggangguku terus? Cepat kembalikan headsetku..!" pinta Yuki sambil memandangnya takut.

"Aku nggak akan mengembalikan headsetmu ini sebelum kau menjelaskan siapa kau ini sebenarnya padaku..."

'Ukh... Orang ini... Sebaiknya, aku harus menahan baunya..' ucapnya dalam hati sambil menjauhkan telunjuk dan ibu jarinya dari hidungnya. ''Fuaaahhh... Leganya...' batinnya sambil bernafas lega.

"Huffftt... Namamu Yuki kan?"

Yuki hanya diam saja. Zero kemudian berlutut di depannya. Jantung Yuki berdetak semakin kencang.

"Kau mau tahu, kenapa tampangku berantakan macam berandalan seperti ini? Ini semua karena kau..." ucapnya melemah

"Kenapa semuanya jadi salahku? Aku bahkan baru kenal denganmu hari ini..."

"Tentu saja ini semua salahmu... Kau selama ini selalu ada dalam pikiranku. Sampai-sampai, keadaanku benar-benar tak terurus. Aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri. Kenapa harus kau yang membayangiku tiap malam?"

"Ah... Maksudmu itu apa?"

"Semakin aku berusaha untuk melupakanmu, aku jadi semakin mengingatmu. Bahkan aku merasa semakin menyayangimu dan terus mengejarmu. Yuki, apa kau tahu? Ini baru pertama kalinya aku jatuh hati pada cewek amnesia sepertimu. Aku selalu bertanya, apakah ini yang namanya jatuh cinta?"

Pipi Yuki semakin merona. Melihat cowok itu tiba-tiba berlutut di depannya dan mengatakan hal yang seingatnya sering dikatakan Kaname padanya.

'Ah... Tidak, tidak, tidak..! Ini sihir... Ti... Tidak boleh terpengaruh..!' ucapnya dalam hati, berusaha untuk menyadarkan diri sendiri sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Yuki kemudian menutup hidungnya karena sudah tidak tahan dengan baunya itu.

"Kenapa kau selalu menutup hidungmu? Kalau hidungmu kau tutupi terus, aku jadi tidak bisa melihat wajahmu dengan jelas..." ujar Zero bingung sambil melepas paksa tangan kanan Yuki dari hidungnya.

Tangan kanan tidak ada bukan berarti menyerah. Dengan cepat tangan kiri Yuki menutup hidungnya kuat-kuat menggantikan tangan kanannya. Zero lalu kembali melepas paksa tangan kiri Yuki dari hidungnya. Kembali lagi Yuki menutup hidungnya dengan tangan kanannya.

"Ok..!" ujar Zero singkat.

Zero melepas tangan kanan Yuki dari hidungnya dan dengan cepat, Yuki menutup hidunganya dengan tangan kirinya. Hal seperti itu terus saja berlanjut sampai Zero berhasil memegang kedua tangan Yuki erat-erat agar tidak kembali menutup hidungnya lagi.

"Hosh... Hosh... Hosh... Ok, ini sudah cukup. Sejak tadi, kau selalu bertindak aneh. Kau ini peka tidak sih kalau aku ini selalu memperhatikanmu. Apa kau juga masih pura-pura tidak tahu lagi?"

"Aku... Aku memang tidak tahu... Ukh.. Kau ini sebenarnya mau bicara apa sih? Aku bahkan nggak paham dengan apa yang kau katakan panjang lebar padaku tadi..." ucapnya dengan nafas yang masih tersengal-sengal dan juga berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Zero.

"Hoh... Belum mengerti rupanya. Uhm... Bagaimana kalau aku mengatakan padamu jika aku itu benar-benar menyukaimu? Humm? Kau sekarang pasti paham kan?"

"Kalau keadaanku seperti ini, apapun yang kau katakan padaku, sesingkat apapun, aku tetap nggak mengerti... Bagaimana kalau kau lepaskan tanganku dulu, baru kita bicara..."

"Baiklah..." ucap Zero sambil melepaskan tangan Yuki. Yuki kemudian bangkit berdiri diikuti dengan Zero.

"Ok, kau tetap berdiri disitu. Jangan bergerak sebelum ada aba-aba bergerak dariku.." kata gadis dengan merentangkan tangannya ke arah Zero untuk memberi tanda agar laki-laki itu tetap berada ditempatnya. Yuki kemudian mencangklong tasnya dan membawa gitarnya di tangan kirinya

"Apa yang mau kau lakukan?"

"Sudahlah.. Pokoknya tahan disitu, dan jangan bergerak.."

Selangkah demi selangkah, Yuki melompat kecil ke belakang menjauhi Zero. Setelah dirasa cukup, barulah ia berhenti.

"Nah, bicaralah..."

Wussshhh...! tiba-tiba angin bertiup menerpa mereka berdua.

"Dengan jarak sekitar lima meter ini?! Yang benar saja?!" teriak Zero sambil berjalan mendekati Yuki.

Yuki semakin ketakutan. Ia perlahan lahan mundur seiring dengan mendekatnya Zero ke arahnya.

"Kau ini, bisa sedikit tenang tidak sih?!"

Zero kemudian berjalan cepat mendekati Yuki dan begitu pula sebaliknya, Yuki berjalan mundur dengan cepat menghindari Zero. Tanpa membuang waktu, Zero segera berlari ke arahnya dan memegang erat tangan kanannya.

"Kena kau... Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu lagi..." ujarnya sambil menyeringai senang.

"Kau ini.. Sebenarnya, maumu apa sih?"

"Mauku? Aku ingin mencoba peduli padamu. Aku ingin kau mengerti. Dan aku juga akan berusaha mengerti dirimu. Itu mauku..."

"Kalau memang itu maumu, dengarkan baik-baik. Mulai hari ini, jangan pernah mendekatiku lagi. Pergilah jauh-jauh dari kehidupanku... Itulah cara yang harus kau tempuh untuk mengerti diriku..."

"Apa?"

"Jauhi aku dan lupakan soal aku.. Bagaimanapun usahamu untuk mengerti aku, itu akan sia-sia... Aku tidak akan pernah bisa dimengerti oleh siapapun termasuk kau. Sekarang juga, lepaskan aku dan biarkan aku pergi.." ucap Yuki dengan tatapan es-nya.

Zero kemudian melepaskan genggamannya dan sesegera mungkin, Yuki berjalan meninggalkan Zero di belakang.

"Cih, siapa juga yang mau mendekatinya lagi.." gumam Zero kesal.

'Huh... Memangnya, dia mengerti soal apa tentang aku.?! Menyebalkan sekali. Setiap kali bertemu denganku, pasti membahas soal kereta melulu. Sudah kubilang berapa kali, kalau aku itu memang benar-benar lupa soal kereta-keretaan itu..." gumam Yuki dalam hati gusar.

AUTHOR POV END

つづく...

(Bersambung...)


AN :

Auth : Hai, kita ketemu lagi nih... Kali ini, saya datang dengan tokoh OC yang harus kukenalkan lagi pada kalian. Check it out..!

❇ Di chapter kali ini, ada Katsumi... Di cerita saya, dia adalah anak dari kepala sekolah Kaien. Ciri-cirinya, rambut lurus pirang, panjang rambutnya hanya sebahu, bola mata berwarna hijau emerald. Sifatnya... Yaah.. Bisa dibilang sok jago, belagu, daan.. Sombong. Plus plus deh.. Nggak perlu ditanya bagaimana bisa dia seperti itu. Aku sendiri juga bingung...

Katsumi : Berani-beraninya kau...! Awas kau ya..!

Auth : I... Iya, ampun.. Ampun..

Nah hanya itu saja yang bisa saya jelaskan... Kalau ada hal yang ingin ditanyakan atau kurang jelas mungkin, bisa ditanyakan lewat kotak riview di bawah. Yosha..! Sampai jumpa di chap selanjutnya yah... Daaahh..!