Youth Butterfly

.

.


MW


.

Chapter 2

Beauty and His Beast

.


MW


.

"APA KAU YANG DIUTUS WANITA ITU UNTUK MEMBUNUHKU?!"

Wonwoo membuka matanya, menatap wajah seorang pria yang dengan lengannya menahan leher Wonwoo diatas tanah. Remaja itu mencoba untuk mendorong lengan pria asing itu dengan kedua tangannya, tapi tak bisa, kekuatan pria asing jauh lebih kuat darinya—atau memang, Wonwoo memang lemah seperti yang terlihat.

"Le...lepaskan aku!" ucap Wonwoo susah payah, tapi seolah tak didengarkan. Wajah pria di atasnya terlihat menyilaukan karna sinar matahari di belakangnya. namun Wonwoo bisa melihat silatan kemarahan dimata pria itu. cukup untuk membuat Wonwoo kehilangan kata-katanya lagi.

"Kali ini cara apa lagi yang akan kau gunakan untuk membunuhku, hah?!" bentak pria itu lagi—yang lagi-lagi Wonwoo tak mengerti dan ia terlalu takut untuk bicara. Remaja yang selalu memasang wajah tenang dan datar itu bahkan lupa kapan terakhir kali ia merasa setakut ini. Kekuatan di tangan dan kakinya yang sedari tadi mencoba memberontak pun mulai berkurang.

Pria itu kemudian menarik kedua tangan Wonwoo keatas kepalanya dan menahan kedua tangan Wonwoo dengan satu tangannya. Begitu pula dengan kedua kaki Wonwoo yang diapit kaki pria asing itu, membuat Wonwoo sempurna tak bisa bergerak.

Lalu dengan gerakan cepat dan kasar, pria itu membuka resleting jaket Wonwoo. Membuat Wonwoo makin memandang horor pria di atasnya itu. Wonwoo tak mampu lagi melihat, ia menutup matanya erat saat satu tangan pria itu menyentuh seluruh tubuhnya—memeriksa, sebenarnya.

"Hei! Tatap aku! Katakan apa yang ingin kau lakukan di sini?! Dimana kau menyembunyikan senjatamu?!" ucap Pria itu, tidak sekeras tadi, tapi nada kemarahan terdengar begitu dalam. Wonwoo pun merasakan sesuatu yang tajam menyentuh lehernya. Menggores kulitnya, yang akhirnya membuat Wonwoo melihatnya, walau sedetik kemudian air matanya terjatuh. Entah karna ia ketakutan atau kesakitan. Ia tak menangis, menatap pria asing itu lurus tepat dimata, walau matanya sendiri berair.

"Kau diutus oleh wanita jalang itu, kan?! mengakulah!"

"Aku tak diutus siapapun." Ucap Wonwoo akhirnya. Singkat.

Ia tahu, sedetik sebelumnya, ada guratan ragu di mata pria diatasnya itu. pria itu seperti tak menemukan apa yang ia cari.

"Jangan berbohong!" pekiknya geram. Makin memperdalam goresan yang diperbuatnya dengan pulpen yang tajam. Wonwoo meringis, namun tak mengatakan apapun lagi. sampai ia merasakan darahnya mengalir ke tengkuknya sendiri.

.

"KIM MINGYU! APA YANG KAU LAKUKAN?!"

.

Sebuah suara menginterupsi. Dibarengi dengan tubuh pria itu yang tak lagi berada di atasnya. Pria itu... mungkin namanya Kim Mingyu, pikir Wonwoo di sela ia menarik napasnya dalam-dalam yang terasa begitu sulit. Hingga seseorang membantunya untuk duduk. Pria asing yang lain, namun berwajah sangat khawatir menatap Wonwoo.

"Astaga! Kau baik-baik saja?!" tanya panik, dan Wonwoo hanya mengangguk seraya memegangi lehernya yang tergores dan mengeluarkan banyak darah hingga mengotori kaos yang dipakainya di dalam jaket.

Pria asing satunya lagi terlihat makin panik. Ia mulai bicara dengan suara keras tentang darah dan rumah sakit, tapi Wonwoo tak mengubris pria berisik itu. Ia hanya menoleh ke samping. Menatap pria itu, yang memiliki rambut berwarna biru-abu-abu aneh, dan yang-sepertinya-bernama Kim Mingyu tanpa berkedip.

Wonwoo mengamati pria itu, yang kini terduduk tak jauh darinya. Dengan napas yang juga tersengal. Pandangan pria itu terlihat tak fokus untuk beberapa saat, hingga akhirnya ia bertemu pandang dengan Wonwoo yang sedari tadi memandanginya. Keduanya saling berpandangan, agak lama, bahkan tanpa memperdulikan pria berisik yang mulai mengomel entah apa.

Merasa aneh, Wonwoo pun mengalihkan pandangannya, seraya berdiri dan berjalan mendekati Kim Mingyu, yang masih terduduk.

"Namaku Jeon Wonwoo. Aku tak diutus siapapun, dan tak mengenal siapa wanita yang kau sebutkan sedari tadi." ucap Wonwoo dengan nada sedatar mungkin khasnya. Pria bernama Mingyu itu membelalakkan matanya, terlihat terkejut dengan perkataan Wonwoo.

"... dan aku... baik-baik saja, jangan mengkhawatirkanku." Lanjut Wonwoo masih dengan memandang Mingyu walau maksudnya juga untuk pria berisik yang berada di belakangnya. Setelah itu, Wonwoo pun berbalik. Beranjak pergi setelah benar-benar meyakinkan si pria berisik bahwa dia baik-baik saja.

.

"Kau sungguh... akan mati jika berbohong padaku..."

.

Wonwoo menghentikan langkah kakinya, menoleh kebelakang. Menatap kembali Mingyu yang kini balik menatap Wonwoo dengan pandangan tajam, tapi ekspresi Wonwoo tetap tak berubah datar.

"Silahkan bunuh aku jika aku memang terbukti berbohong." Ucap Wonwoo dengan tenang, sebelum akhirnya kembali berbalik. Melanjutkan perjalanannya keluar dari hutan pinus ini. meninggalkan dua orang yang termangu melihat punggungnya dari belakang.

Dan setelah berjalan agak jauh dan sampai kembali ke depan pintu gerbang hutan pinus, Wonwoo buru-buru meresleting jaket hitamnya kembali sampai batas leher—hingga lukanya sama sekali tak terlihat dan ia terlihat benar-benar normal. Atau, tanpa topinya...

Wonwoo menoleh ke belakang. Sadar bahwa topinya mungkin tertinggal di dalam hutan. dan memikirkan untuk kembali ke dalam membuat tubuh Wonwoo merinding. Ia takut. Setengah mati. Dan itu memang tak terpampang jelas di wajahnya yang selalu memasang ekspresi datar.

Remaja itupun akhirnya mencoba tak peduli, ia akhirnya berjalan dengan kepala tertunduk—yang sudah menjadi kebiasaannya. Dan mengikuti beberapa orang yang berpakaian olahraga. Teringat pada teman sekamarnya, Junhui yang mengatakan ia berada di gedung olahraga. dan benar saja, setelah mengikuti orang-orang berpakaian olahraga itu, ia dibawa menuju gedung olahraga dan menemukan Junhui di sana. Sedang menunjukkan keahlian beladirinya yang sama sekali tidak 'konyol' seperti yang Jihoon katakan. Junhui terlihat memukau disana. Setidaknya cukup memukau, untuk dapat dilihat Wonwoo yang berada di sudut tempat penonton.

Dan saat sore menjelang. Orang-orang mulai bubar. Termaksud Junhui yang langsung Wonwoo hampiri.

"Wonwoo? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Junhui, tanpa nada kaget. Hanya memandang Wonwoo dari atas sampai bawah dengan ekspresi aneh. Pakaian serba hitamnya membuatnya terlihat mencolok.

Wonwoo hanya memaksakan senyuman tipis.

.

"Kau tahukan jalan pulang ke asrama?"

.

.


MW


.

Hari menjelang malam ketika Junhui dan Wonwoo sampai di kamar mereka. Disambut oleh Jihoon yang baru keluar dari kamar mandi.

"Kalian baru pulang? ah ya, ketua asrama menyuruh kita mengambil seragam untuk besok upacara penyambutan. Sekarang." ujar Jihoon. "Kau kenapa? Wajahmu terlihat pucat... bukan kau Junhui, Wonwoo." Jihoon memutar bola matanya saat Junhui menunjuk dirinya sendiri, dan remaja bertubuh pendek itu menunjuk kearah remaja di sampingnya.

Wonwoo kini menunjuk dirinya sendiri, sambil memandang Jihoon dan Junhui bergantian dengan wajah datar "Pucat? Kenapa?" tanyanya polos, makin membuat Jihoon memasang wajah jengah.

"Kenapa kau bertanya balik padaku?" keluh Jihoon.

"Merasa tak enak badan?" giliran Junhui bertanya, Wonwoo menggeleng.

"Tapi... kurasa aku harus ke kamar mandi..." ucap Wonwoo kemudian, segera melangkah menuju kamar mandi yang berada di paling belakang kamar mereka. Meninggalkan dua teman sekamarnya yang memasang wajah bingung.

"Sudah kuduga." Tiba-tiba Junhui bicara lagi ketika suara kamar mandi yang tertutup terdengar. Jihoon menoleh, menatap remaja yang kini memasang wajah serius.

"Apa?"

"Dia mencariku tadi, tersesat katanya... Wonwoo pasti menahan hasrat buang airnya sejak dua jam yang lalu." Jelas Junhui. Masih dengan wajah super serius seolah baru menjelaskan kasus detektif.

Jihoon menepuk jidatnya "Dasar tak penting..." desis Jihoon geram seraya menarik tangan Junhui menyeretnya untuk pergi.

"Baiklah, santai saja Wonwoo-ya! kami akan mengambilkan seragammu juga!" pekik Jihoon akhirnya sebelum benar-benar keluar dari ruang kamar mereka bersama Junhui tanpa menunggu Wonwoo menjawab.

.

.


MW


.

Di kamar mandi, tepat setelah Wonwoo menutup pintunya, remaja itu berjalan lunglai menuju kloset dan duduk diatasnya dengan lemas. Tertatih, ia membuka jaket hitamnya yang langsung tercium bau anyir. Dari darah di lehernya yang kini sudah berhenti mengalir, namun bercak darah menyebar banyak hampir di sepertiga kaos putih yang di pakainya.

Semoga Junhui tak mencium bau anyir darahnya, pikir Wonwoo begitu ia membuka kaosnya pula. Mata sipitnya mengernyit, karna bau darahnya menyerbak, dan lehernya terasa sakit ketika ia membuka bajunya tadi. Merasa terlalu lelah, Wonwoo pun memilih untuk terdiam beberapa saat disana. Sambil memikirkan beberapa hal seperti... seorang yang bernama Kim Mingyu itu.

Wonwoo sungguh tak menyukai pemuda itu. Dia terlihat liar, kasar, dan menakutkan. Tentu saja, mengingat siapa pelaku yang membuat darah Wonwoo berkurang seperti ini. Mengingat pula perlakuan Mingyu yang begitu kasar, menakutkan, bersuara keras. Wonwoo ingat benar saat Mingyu mengatakan bahwa ia akan membunuh pemuda itu, tapi kenyataannya malah terlihat seperti Mingyu-lah yang akan membunuh Wonwoo hanya dengan pulpen.

Semuanya memang tak terlihat di wajah berekspresi kosong dan pucat milik Wonwoo, tapi tak ada yang tahu—kecuali dirinya sendiri tentang siratan mata Wonwoo yang ketakutan dan kesakitan. Wonwoo hanya melihat pantulan wajahnya di kaca kamar mandi. kembali berpikir, kapan terakhir kali ia terluka separah ini. kapan terakhir kali ia sekacau ini,

Dan kapan terakhir kali ia setakut ini—

.

Dok dok dok

.

"Jeon Wonwoo."

Wonwoo terjengit dalam lamunannya. Secara reflek menyembunyikan kaosnya di belakang tubuhnya "Ya?!" tanyanya tanpa bisa menyembunyikan kekagetannya begitu mendengar suara Junhui dibalik pintu. Ia tak menyangka teman sekamarnya itu kembali secepat ini.

"Kau masih hidup, kan?" tanya Junhui lagi, masih dengan nada suara biasa. Wonwoo terdiam sejenak sebelum menjawab.

"... Te... tentu?"

"Cepat selesaikan urusanmu, aku juga ingin mandi." ucapnya datar. Membuat Wonwoo entah kenapa menghela napas kelegaan.

"O-okay! Beri aku waktu lima belas menit!"

.

.


MW


.

.

Esoknya.

Setelah malam yang terasa panjang bagi Wonwoo berlalu, akhirnya pagi menyapa. Wonwoo bersyukur dalam hatinya, setelah semalaman ia tak bisa tidur. kepalanya terasa pusing, ia terus merasa mual, dan luka di lehernya seolah menyempurnakan penderitaan Wonwoo tadi malam. Tapi syukurlah, sudah berakhir. Hari telah berubah, sekarang adalah hari pertama ia akan masuk ke sekolah dengan diawali upacara penerimaan siswa baru yang akan dimulai satu jam lagi. dan disinilah Wonwoo. Duduk di kursi meja belajarnya dengan sebotol air di tangannya. Ia minum pelan-pelan, sambil memperhatikan dua teman sekamarnya yang sama-sama kesiangan dan tengah sibuk mengurusi urusan masing-masing.

"Ya Jeon Wonwoo, wajahmu terlihat lebih pucat dari kemarin. Kau yakin akan tetap pergi ke upacara dengan wajah seperti itu?" tanya Jihoon, yang lebih seperti omelan karna remaja pendek itu tak juga menemukan sebelah kaos kakinya.

Wonwoo hanya mengangguk, sambil meneguk air minumnya lagi dan terlihat tak begitu peduli.

"Tidakkah kau kembung minum air sebanyak itu?!" tanya Jihoon lagi dengan nada yang lebih tinggi, yang lagi-lagi Wonwoo hanya mengangguk polos. Tahu Jihoon yang sekarang berwajah garang bukan karna marah padanya. Tapi karna kaos kaki yang tak kunjung remaja itu temukan.

Dan sesaat kemudian, setelah Jihoon menemukan sebelah kaos kakinya. Ia duduk di ranjangnya, menghadap Wonwoo dengan ekspresi lebih bersahabat.

"kau pasien hipotensi, kan?" tanya Jihoon tiba-tiba, dengan ekspresi menyelidik. Wonwoo memang tak langsung menjawab, namun ia mengangguk. Membuat Jihoon dan Junhui yang di pojokan sama-sama mengangguk pelan "Aku tahu dari sepupumu, ngomong-ngomong..." jelas Jihoon.

"Sudah minum obat?" tanya Junhui kemudian, memecah keheningan singkat antara ketiganya. Dan Wonwoo kembali mengangguk.

Yang entah karna apa Jihoon tiba-tiba memukul kepalanya bersamaan dengan dirinya yang bangkit berdiri. Membuat Wonwoo menahan ringisannya karna luka di lehernya kembali berdenyut. Namun ia hanya bisa memasang ekspresi kosong andalannya dan menatap remaja pendek itu tanpa berkedip.

"Katakan sesuatu, jangan hanya mengangguk!" serunya. Well, kamar mereka memang sudah terlalu senyap karna dihuni dua orang pendiam. Tiga sebenarnya, karna Jihoon sebenarnya bukan tipe yang banyak bicara—tapi dia merasa lebih baik dari dua temannya yang lain jika soal berkomunikasi.

"Waah, lihat! Awalnya aku kira kalian seperti si duo kembar pendiam. Namun cara kalian berpakaian sangat berbeda..." ucap Jihoon kemudian. Remaja itu berdecak, menatap Wonwoo dan Junhui bergantian. Membuat Wonwoo pun ikut memandang kearah Junhui.

Junhui terlihat memakai bajunya dengan sembarang. Tanpa dasi, kemeja yang dua kancing atasnya dibuka, dan blazer yang tak dikancingkan. Namun darimapun Wonwoo melihatnya, Junhui tetap terlihat menawan dengan badboy stylenya. Tidak dengan Wonwoo yang berpakaian lengkap dan rapi. ia bahkan mengancing kemejanya hingga atas—agar tak ada yang bisa melihat lukanya. Tapi ia mengernyit,

"Berhenti menatapku seperti itu, Jihoon-ah." Ucap Wonwoo sedikit kesal, menyadari Jihoon memberikannya tatapan menilai.

Akhirnya Jihoon menyerah, ia mengambil ranselnya "Ya sudah, ayo berangkat!" ucapnya malas seraya membuka pintu kamar mereka. Memimpin kedua teman 'pendiam'nya untuk berangkat, ke upacara penerimaan murid baru.

Junhui yang berjalan bersebelahan Wonwoo tiba-tiba menyenggol bahu Wonwoo pelan ketika mereka berjalan. Wonwoo menoleh, memberikan tatapan bingung ketika Junhui tak langsung bicara. Butuh waktu beberapa saat hingga Junhui membuka mulutnya.

"Kau yakin kau baik-baik saja?" tanyanya, yang membuat Wonwoo memasang

Wonwoo benar-benar tak bisa menyembunyikan senyumannya "apa aku terlihat sangat buruk?" tanyanya kemudian.

"Seperti kau bisa pingsan kapanpun." Ucap Junhui pelan, yang membuat Wonwoo membesarkan matanya. ia... tidak merasa seburuk itu, sebenarnya. Wonwoo kemudian menyentuh pipinya sendiri.

"Seburuk itu?"

Junhui mengangguk "Kau bisa pingsan jika memaksakan diri." ulangnya, seraya menatap Wonwoo serius. Membuat remaja berambut hitam kelam itu menggaruk tengkuknya. Merasa aneh dengan Junhui yang banyak bertanya.

"Kurasa aku akan baik-baik saja... jangan khawatir, Junhui-ya!" ujar Wonwoo yang kemudian memberikan Junhui tepukan di punggungnya.

.

Iya, dia akan baik-baik saja...

Atau tidak.

Wonwoo memandang gelisah sekitarnya. Upacara penerimaan murid baru baru dimulai satu jam yang lalu. Semua anak baru dikumpulkan di depan sebuah aula besar dan duduk di sana. seharusnya memang tak banyak hal yang bisa dilakukan, selain mendengarkan kata pengatar dari para petinggi akademi. Yang—sialnya- begitu lama dan membosankan. Wonwoo yang sejak tadi malam tidak tidur dengan baik mulai merasa kepalanya pusing dan dadanya terasa sesak.

Melihat banyak orang di sekitarnya pula, membuat ia makin merasa tak nyaman. ia harus pergi dari sini.

"Jihoon, aku akan pergi ke toilet sebentar..." bisiknya pada Jihoon yang sedari tadi duduk di sebelahnya. Remaja pendek itu sedikit memandang Wonwoo dengan pandangan cemas dan menawarkan bantuan untuk ditemani, tapi Wonwoo menolak dengan lembut dan beranjak dari aula itu dengan langkah lebar dan kepala yang menunduk menatap tanah.

.

.


MW


.

Beralih pada tempat lain, dengan orang yang berbeda.

Yang kini tengah duduk dengan santai diatas ranting pohon kokoh. Memandang ke bawah, kearah jalanan yang lenggang. Semua orang pasti berada di aula, pikirnya. karna hari ini adalah hari penerimaan murid baru. Dari tingkat dasar hingga tingkat atas, semuanya dikumpulkan dalam satu ruangan. Tapi kenapa 'dia' tidak?

Remaja yang hanya memakai kemeja putih dan celana coklatnya itu kembali menyipitkan matanya. memastikan seseorang yang tengah ia intai dari atas itu benar-benar 'dia'. Si pembuat onar, Jeon Wonwoo, jika ia tak salah ingat

Yang membuat tidur seorang Kim Mingyu tak tenang tadi malam.

Dan Mingyu tak habis pikir kenapa 'dia' berjalan kearah hutan pinus. Lagi? Mingyu kira ia sudah cukup membuat remaja berambut hitam kelam berkulit putih itu ketakutan—walau sebenarnya ia tak begitu yakin. Remaja yang namanya tak pernah hilang dari ingatan Mingyu itu tak terlihat ketakutan kemarin. Membuat Mingyu makin mengernyitkan dahinya. Jangan-jangan, apa yang Mingyu duga sebelumnya benar?

Masih dengan perasaan penuh tanya, remaja pemilik tubuh tinggi dengan kulit kecoklatan dan rambut biru keabuan layaknya perak itu kembali melangkah. Melangkahkan kakinya dari satu dahan ke dahan lainnya dengan lihai. Pepohonan yang ditanam di sekitar akademi memang sudah menjadi jalur jalannya. Yang kadang remaja itu lebih suka berjalan dari atas pohon dari pada jalanan di tanah.

Karna ia bisa mengawasi semua yang terjadi di bawahnya, tanpa orang mengetahui kehadirannya.

Seperti sekarang, Mingyu berjongkok di atas dahan pohon pinus. Sedikit tak menyangka bahwa remaja berambut hitam kelam itu akan pergi ke dalam daerah kekuasaanya lagi. Hutan Pinus yang terlarang—bagi banyak orang-. tapi ada yang aneh, remaja itu tak terlihat baik-baik saja. tak terlihat seperti seorang penyusup—apalagi pembunuh, yang Mingyu duga sebelumnya.

Remaja berambut hitam itu tiba-tiba menyandar di salah satu pohon pinus yang besar. Wajahnya terlihat sangat pucat, dan remaja itu terus menutupi mulutnya dengan tangan. Terbatuk, lama sekali. Hingga bahkan Mingyu tak menyadari ia melangkahkan kakinya dari satu pohon ke pohon lainnya untuk mendekat. Mendekat... dan mendekat, Mingyu tak tahu apa yang sedang tubuhnya lakukan, tapi otaknya terus menyuruhnya untuk menemui remaja yang terlihat kesakitan itu. dan menanyakan padanya...

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Tanya Mingyu dengan nada sinis dan dingin. Sukses membuat remaja itu, Jeon Wonwoo tersentak kaget dan sontak mendongak. Menatap Mingyu yang persis berada di depannya. Tak habis pikir sejak kapan Mingyu ada di depannya.

Mingyu tersenyum sinis melihat reaksi Wonwoo "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya remaja tinggi itu lagi.

"... Aku tersesat." Ucap Wonwoo tak lama kemudian. kini ekspresi kosongnya kembali muncul, yang seolah tak kenal takut pula menatap Mingyu tepat dimata. Menegaskan kalau ia tak berbohong.

"Apa kau ke sini untuk mencariku? Merasa gagal dengan percobaan kemarin, huh?" tanya Mingyu lagi.

"Aku bilang, aku tersesat." Wonwoo menghela napas dengan berat, wajahnya yang sudah pucat kini terlihat frustasi. well, karna ia memang mengatakan yang sebenarnya. Terkutuklah untuk akademi kelewat besar ini hingga Jeon Wonwoo tak pernah habis pikir dimana arah timur, selatan, barat, dan utara. Wonwoo benar-benar hanya ingin mencari toilet tadi... tapi ia tak tahu kenapa ia harus berakhir di sini. Dengan remaja menyeramkan yang jelas tak mungkin percaya dengan apa yang ia katakan.

"Aku akan pergi sekarang." ucap Wonwoo akhirnya. Dengan gerakan lunglai ia mencoba berjalan menjauh dari Mingyu. Tapi Mingyu dengan kasar menahan tangan Wonwoo, membuat remaja bereskpresi kosong itu terperanjat dengan ekspresi yang...

Mingyu tak tahu harus mendiskripsikannya seperti apa, tapi yang jelas, Mingyulah yang lagi-lagi dibuat kaget oleh remaja bermarga Jeon itu. Bahkan hingga untuk sesaat Mingyu lupa dengan hal yang ingin ia katakan selanjutnya. Ia terlalu terpanah melihat wajah Wonwoo, menghasilkan keheningan singkat yang hanya bersuarakan gemerisik dedaunan pinus karna angin.

"... Apa kau baik-baik saja?" tanya Mingyu kemudian memecah keheningan. tak sadar bahwa pertanyaan yang baru saja ia lontarkan seharusnya bukan itu.

"Aku baik-baik saja." jawab Wonwoo singkat. Ia mencoba melepaskan genggaman tangan Mingyu di tangannya, namun tak bisa. Remaja berambut hitam kelam itu pun mulai merasa tak nyaman karna terus ditatap oleh Mingyu.

Dan ia meringis ketika Mingyu makin mengeratkan genggamannya "Aku tanya apa kau baik-baik saja?" tanyanya dengan penuh penekanan. Ia menatap Wonwoo tepat dimata. Berharap Wonwoo mengatakan sesuatu yang akan membuat Mingyu puas. Tapi Wonwoo berkata sebaliknya dan balas menatap Mingyu dengan pandangan terganggu.

"Kenapa kau suka sekali mengulang pertanyaanmu?" tanya Wonwoo.

"Karna aku tak menyukaimu." Ucap Mingyu kemudian, seraya melepaskan genggaman tangannya pada Wonwoo kemudian menggaruk tengkuknya.

"Bagaimana ini? aku sungguh benci jenis manusia sepertimu..." karna kau berbohongdan aku benci orang yang berbohong. Kau jelas... tidak baik-baik saja dan ketakutan, lanjut Mingyu yang sebagian hanya ia ucapkan dalam hati.

Tapi Wonwoo kembali memasang ekspresi seolah Mingyu hanyalah debu di penglihatannya. Ia berdiri tegap, bersiap untuk benar-benar pergi kali ini. walaupun ia harus berlari, yang jelas ia harus menjauhi remaja mengerikan ini.

"Itu bukan urusanku kalau kau membenciku." Ujar Wonwoo "Menambah satu orang lagi yang membenciku bukanlah masalah." Lanjutnya, sebelum benar-benar berbalik dan pergi dengan langkah yang lebar-lebar.

Ia mengucapkan syukur berkali-kali dalam hati karna Mingyu sepertinya tak mengikutinya. Walaupun lagi-lagi, ketika ia sudah sampai di luar pintu gerbang hutan pinus, ia kembai terpikir tentang topi hitamnya yang hilang. Wonwoo menghela napasnya kasar. Itu adalah peninggalan ayahnya... dan yang paling penting, hanya dengan topi hitam kesayangannya itu, Wonwoo bisa merasa baik-baik saja ketika berada di tempat ramai yang selalu membuatnya risih.

Tapi ini tidak seperti Wonwoo berani bertanya pada Mingyu apa remaja itu melihat topi yang ia jatuhkan kemarin... ide konyol.

Wonwoo akhirnya hanya bisa mengacak rambutnya frustasi. mencoba tak peduli, sekali lagi. Yang ia ingin lakukan sekarang hanyalah sampai ke asrama, entah bagaimana caranya, ia harus Sampai ke asrama dan tidur hingga keesokan harinya. Berharap ingatan tentang kemarin dan hari ini menghilang.

Berharap jika nanti ia terbangun, ia tak akan mengingat sosok Kim Mingyu yang mengerikan.

.

Tapi sayang semuanya tak sampai di situ. Wonwoo memang merasakan tubuhnya mulai menyerah. Sakit, karna lukanya, dan karna Kim Mingyu terus menghantui pikirannya. Tapi Wonwoo bukan satu-satunya korban.

Di sini, di waktu yang sama, ada juga seorang remaja yang tengah mengacak rambutnya frustasi sepeninggal Wonwoo di hadapannya. Ia kemudian merasakan otaknya sudah menyerah untuk berpikir dan membiarkan tubuhnya membawanya pergi sesuai hatinya. Ia memanjat pohon, melangkahkan kakinya dengan lihai dari satu dahan ke dahan lainnya hampir selama dua jam sambil tersenyum aneh mengintai sesuatu di bawahnya hingga ia benar-benar dibawa ke sebuah asrama siswa tingkat atas, dan pulang saat melihat sosok intaiannya tertidur di ranjang dengan lelap. Ia bisa melihatnya dengan jelas dari jendela besar tepat di samping ranjang 'intainnya itu'.

.

.

Perjalanan yang panjang. Jeon Wonwoo kau memang penderita buta arah yang parah dan... well, selamat beristirahat.

.

.


MW


.

.

"Astaga Jeon Wonwoo... Apa yang harus kukatakan pada ibumu nanti?" suara Jisoo terdengar frustasi "Kau demam di hari pertamamu sekolah? Bagaimana bisaa? Kau harusnya bilang lebih cepat jika tidak enak badan!" omelnya lagi, masih dengan tangan sibuk memeras kain hangat di meja samping ranjang Wonwoo.

Remaja yang kini berbaring lemas di atas ranjangnya itu tersenyum tipis "Tidak seperti Ibu akan menanyakan keadaanku, hyung..." ucapnya, sukses untuk membuat remaja yang lebih tua terdiam. Ia meletakkan kain basah Wonwoo di baskom dan mengacak pinggang, menatap adik sepupunya itu dengan tatapan menegur.

"Ini bukan hanya masalah ibumu. Tapi aku." Ucap Jisoo "Aku sangat merasa bertanggung jawab atas dirimu, Jeon Wonwoo. Sejak kau masuk ke akademi ini." lanjutnya tegas.

"Hyung sudah punya banyak tanggung jawab di sekolah, kan? Jadi tak perlu menambahkanku di daftar tanggung jawabmu. Aku baik-baik saja." ujar Wonwoo kemudian, yang setelahnya ia menyesali apa yang ia katakan.

Raut wajah Jisoo mengeras, yang tak pernah Wonwoo lihat sebelumnya. Hong Jisoo adalah orang paling ramah dan baik dan lemah lembut yang pernah Wonwoo kenal di dunia ini. melihat dahi Jisoo yang berkerut dan tatapan tajam itu cukup membuat Wonwoo kaget. Ia hanya berharap Jisoo tak salah pa—

"Terserah kau saja." ucapnya dingin pada Wonwoo. Remaja berambut coklat terang itu kemudian mengambil blazernya di meja dan beranjak pergi meninggalkan Wonwoo.

Namun sebelum ia melewati pintu kamar yang berisi tiga orang itu, ia menatap Wonwoo lagi,

"Kau harusnya paham jika aku bertanggung jawab di sini karna aku adalah keluargamu, Wonwoo-ya..." ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu. Ia menatap Wonwoo dengan pandangan lembutnya yang dapat membuat Wonwoo menyadari apa yang ia katakan memang salah.

Oke, ia akan minta maaf pada sepupu—merangkap ketua kesiswaan tingkat atas itu nanti, ketika ia sudah merasa bisa bangkit dari tempat tidurnya. Karna ia sekarang merasa tubuhnya seolah mengkhianatinya. Tubuhnya terasa dingin hingga ujung kaki dan ia terus merasa mual. Ingin muntah, tapi mengingat ia bahkan belum makan apapun sejak pagi. Wonwoo memejamkan matanya dengan erat karna rasa sakit di tubuhnya, hingga tiba-tiba sesuatu yang basah menyentuh dahinya dengan lembut.

Ketika ia membuka matanya, ternyata Junhuilah yang meletakkan kain hangat di dahi Wonwoo, melanjutkan hal yang tadi Jisoo tinggalkan. Ia juga bisa melihat Jihoon berdiri di samping ranjangnya.

"Aku sebenarnya tak begitu tertarik dengan masalah keluargamu. Tapi kupikir kau harus tahu saat tadi Jisoo sunbae memberikan kata sambutannya, ia terlihat tak konsentrasi karna melihatmu pergi dan tak juga kembali dari toilet" jelas Jihoon, yang hanya bisa membuat Wonwoo menghela napasnya karna makin merasa bersalah.

Kemudian ia menatap dua teman sekamarnya itu bergantian, yang walaupun keduanya sama-sama tak mengatakan apapun, ia baru sadar jika keduanya terus berada di kamar bahkan dari Jisoo datang menjenguknya. Harusnya jika orang normal, mereka akan mulai bertanya-tanya dari percakapan tadi. tapi Jihoon dan Junhui memilih untuk diam dam merawat Wonwoo. Bahkan Jihoon yang bertampang super cuek itu terus menanyakan apa ada yang Wonwoo butuhkan setengah jam sekali. Membuat Wonwoo tersenyum penuh terima kasih.

"Kenapa kau tersenyum aneh seperti itu?" tanya Jihoon, ia menatap Wonwoo dengan tatapan aneh, begitu juga dengan Junhui dan remaja yang tengah sakit hanya menggeleng.

Terima kasih banyak...

Saat hari menjelang malam dan Junhui serta Jihoon memutuskan untuk tidur, Jihoon yang ranjangnya berada tepat di samping Wonwoo memberikan pertanyaan terakhirnya sebelum bersiap tidur

.

"Apa kau tak perlu mengganti perban di lehermu?"

.

Wonwoo sontak menyentuh luka di lehernya begitu mendengar pertanyaan Jihoon, dan ia menggeleng kaku "Ku... kurasa tidak..." jawabnya, seraya memberikan senyuman tipis. Yang syukurnya Jihoon hanya berdehem dan mengangguk, lalu menarik selimutnya sebatas dada untuk tidur.

Membuat Wonwoo menghela nafas lega. Untung Jihoon tak banyak bertanya, karna Wonwoo pun tak tahu ia harus menjelaskan bagaimana ia mendepatkan luka ini. dan kembali, Wonwoo teringat pada seseorang yang sungguh ingin Wonwoo lupakan kehadirannya dari ingatannya. Tapi tidak bisa...

Remaja berambut hitam kelam itu bergerak gelisah di dalam tidurnya—atau sebenarnya, Wonwoo mencoba tidur, namun tak juga masuk ke dalam alam mimpinya. Ia terus memikirkan seorang bernama Kim Mingyu sebagaimanapun Wonwoo mencoba tak peduli.

Ia terus bertanya-tanya ada apa dengan Mingyu di awal pertemuan mereka itu, apa yang terjadi? Kenapa ia mengira Wonwoo akan membunuhnya? Apa nyawanya terancam? Apa sesuatu yang buruk akan terjadi? Tanya Wonwoo dalam hati. yang semakin ia memikirkan, semakin banyak pertanyaan lain yang muncul dan ia tak mendepatkan satupun jawabannya. Apalagi jawaban dari pertanyaan pokoknya,

.

Kenapa ia harus peduli?

.

.

.

Bersambung.

.

.

hi this is Bisory

lama tidak berjumpa readernim sekalian, saya mohon maaf atas keterlambatan ini *deepbow* semoga di chapter kedua ini tidak begitu mengecewakan readersnim sekalian :)

jadi, bagaimana? apa pertanyaan kalian hampir sama dengan yang dipikirkan wonwoo? atau sebaliknya, ceritanya sudah bisa ditebak? hoho semoga chapter ini tidak mengurangi rasa penasaran kalian semua, karena seiring berjalannya waktu, para member lain juga akan muncul memenuhi plot cerita ini hehe, please looking forward for it!

ah ya, tak lupa saya mengucapkan terima kasih untuk readernim yang memberikan review di chapter sebelumnya. terima kasih untuk antusiasme dan koreksi-koreksiannya! saya sangat berterima kasih untuk itu! luv you all

and thanks for reading this chapter, let me know what do you think then!