GT: Muncul lagi! Pasti sudah nunggu-nungguin kan si cantik-cantik imut ini? *nada merayu, audience pada muntah-muntah saking jijiknya.*

Claire: *Muntah ditempat* Sepertinya kehadiranmu tidak ditunggu, tuh...

GT: Arrggh sudahlah Claire, jangan kebanyakan omong, nanti kupanggil Skye loh, suruh cium kamu nanti kalo mulutnya nggak dikunci! Oh, ya... ngomong-ngomong sebenarnya judul Starry Night ini dibagi menjadi 3 chapter (ini chapter kedua), dan hmm? Alasannya? Well, masa lalu dari Claire yang super panjang. Dan beberapa karakter dari game HM Island of Happiness ikut buat debut disini :P

Claire: Whatever you say-lah tentang si pencuri mesum itu... *Claire: hiiddiihh, ogah gua mah ciuman sama orang kayak gitu* semua karakter yang muncul disini bukanlah milik GrandTale a.k.a GT sama sekali, kecuali storyline/ plotnya, ok?

GT: Now... Back to the story! Beep!


Chapter 2

Starry Night (Part 2)

Mother's Hill, Claire's POV

Aku mencoba untuk membuka mataku, walau kantuk masih terasa menyerangku sedikit. Tapi yang kulihat di sekelilingku bukanlah pemandangan ruang makan di rumahku… Justru hamparan salju putih yang menyambutku, dihiasi oleh beberapa batang pohon yang tertutupi sedikit oleh salju. Dan ketika aku menaikkan kepalaku keatas, aku bisa merasakan kepalaku mengenai sesuatu dengan cukup keras.

"Aduh!"

"Aduduh!"

Tunggu. Aduduh? Ada orang lain selain diriku? Suara yang lembut dan sudah cukup kukenal langsung memberikan jawabannya kepadaku.

"Claire! Kau ini, mengagetkan orang saja!"

"S-Skye! Kau… Kau…" mukaku kontan memerah karena marah, karena malu. Kedua telapak tanganku sudah mengepal dengan keras, ingin rasanya aku meninju mukanya. Tapi ketika tanganku hendak mengenai mukanya, aku bisa merasakan tangannya mencengkeram tanganku yang sudah tak bisa dibendung lagi kemarahannya. Jujur, dari dulu aku selalu merasa bahwa dia itu seperti barang pecah belah, seperti porselen, tapi ternyata tidak. Ia sama kuatnya seperti baja.

Tangannya lalu menghentikan tanganku, melepaskan tanganku ke samping, dan tanganku serasa seperti seluruh kemarahan yang telah meluap-luap didalam otakku tadi telah dihisapnya. Aku hanya bisa menempatkan kedua tanganku di dahiku, mencoba untuk mengingat kembali apa yang terjadi padaku sebelum ini.

" Well, ada apa ini? Seorang putri mencoba untuk memukul pangerannya? Kau… Ck,ck… Gadis yang kasar kau ini, Claire?" tanyanya. Aku bisa merasakan ia masih mencoba untuk menggodaku.

Kenapa aku ingin memukul-MU? Kau membuatku tak sadarkan diri, kau menculikku… Tidakkah itu cukup untuk membuat seseorang marah?

Lalu kedua lengannya yang kuat itu memelukku dengan lembut, menarikku kedalam pelukannya hingga mukaku berada tepat di depan dadanya, seperti hendak melindungiku. Mukaku memerah lagi, tapi kali ini karena senang. Claire? Kenapa kau senang dengan perlakuan begini? Sama Skye pula? Bukankah Kai juga sudah sering memelukmu begini?

Aku hanya bisa menatap disekelilingku dengan kosong, seakan memikirkan sesuatu hal, tapi langsung buyar seketika.

" Kau tahu, Claire. Kau ini sama sekali tidak berubah dengan waktu dulu, sewaktu pertama kalinya aku bertemu denganmu, princess." bisiknya, lalu menyandarkan dagunya di atas kepalaku. Aku jadi teringat peristiwa setahun lalu itu.

Flashback,

Claire's House, Winter 31, 10.00 PM

Aku berbaring di ranjangku, mencoba untuk merenungkan peristiwa apa saja yang telah terjadi selama 3 tahun aku berada di perkebunan ini, dan bagaimana aku menemukan perkebunan ini. Berkebun dan memiliki perkebunan sendiri memang merupakan mimpiku sejak kecil. Aneh memang. Di saat semua anak perempuan lain berharap ingin menjadi penyanyi, aktris atau semacamnya, aku tidak begitu.

Masih terngiang-ngiang dengan jelas memori dimana di sekolahku, aku diejek oleh anak-anak yang lain,bahkan sindiran beberapa guru,karena cita-citaku itu adalah menjadi petani dan semacamnya, dan ejekan mereka seperti, "Dasar gadis kampung!" atau semacamnya, bahkan juga kalimat seperti " Dasar anak desa, mengorbankan suara emasnya untuk sebuah mimpi untuk perkebunan yang nasibnya tidak jelas, sudah pasti suram. Jika kau memilih untuk menjual suaramu, pasti kau ini akan kaya dalam sekejap mata! Lihat orangtua dan kakakmu yang telah sukses itu!"

Aku bersikap biasa saja, aku tidak pernah begitu mengindahkan komentar-komentar mereka. Toh orangtua dan kakakku bahkan tidak pernah ambil pusing kok dengan keputusanku. Dan juga, aku tidak ingin hidup dalam gemerlap kemewahan duniawi, seperti ayah dan ibu. Juga saudariku yang 2 tahun lebih tua, Jill. Ayahku adalah seorang manager perusahaan perfilman yang sukses, sedangkan ibu adalah seorang aktris yang juga tak kalah suksesnya. Dan Jill… Ia memiliki suara indah bak malaikat dan populer, terkadang aku iri padanya. Dia juga pintar menari.

Bukan karena aku iri akan kesenangan dan kepuasan duniawi yang anggota keluargaku yang lain sudah teguk itu, tapi... Aku memiliki firasat buruk bahwa orang-orang semacam itu akan menjadi murtad, dan tak takut akan Tuhan, walaupun pada dasarnya sendiri aku juga tidak yakin karena ini adalah pengalamanku sendiri dari menonton TV, ngebrowsing internet , tapi...

Ternyata firasatku itu benar-benar terjadi.

Saat itu umurku baru 16 tahun. Saat larut malam, kira-kira jam 1 pagi, aku mendengar suara Ibu di kamarnya yang mewah dan didesain ala Victorian itu, ia berbicara dengan seseorang. Awalnya kupikir, 'Paling ia berbicara dengan ayah'. Tapi, detak jantungku serasa berhenti sesaat ketika aku mendengar jawaban orang lain itu. Orang itu... Tidak, tidak mungkin. Suara itu terdengar dalam dan tenang, seperti suara Ayahku. Tapi keringat dingin menjalar ke leherku, ke telapak tanganku. Tapi sisi paranoidku mengatakan bahwa orang itu adalah pria lain yang tak kukenal. Dan sisi paranoidku sering benar.

Aku takut.

Cepat-cepat aku bangkit dari ranjangku, walaupun sudah dalam keadaan setengah tertidur, refleks menuju ke kamar orangtuaku. Dan ketika aku membuka pintu kamarnya, aku langsung menjerit.

Tepat didepan mata kepalaku sendiri, di ranjang, Ibuku bersama dengan seorang pria yang tampan dan tegap. Salah satu lengannya merangkul Ibu, dan bajunya sedikit berlumuran darah. Tak ada tampak kesedihan di wajah Ibu. Tapi, muka mereka menunjukkan ekspresi yang sama; ekspresi terkejut. Dan di lantai kamar itu, aku melihat seseorang terbaring lemah, darah bercucuran dari belakang kepala, punggung, dan lengan dan kakinya, juga mengotori lantai didekat tempatnya berbaring. Aku tahu sosok itu, itu Ayah. Ayah yang selalu kusayangi dan kucoba untuk lindungi dengan segenap hati.

"Ayah!" air mata bisa kurasakan memasuki mulutku dengan derasnya saat aku berlari ke samping ayah. Tak ada denyut jantung sama sekali. Aku menaikkan kepalaku, menatap tajam pada ibu.

"Ibu... Apa maksud semua ini?" tanyaku dengan geram. Aku yakin api telah tersulut di kedua bola mataku. Dan aku bisa melihat muka ibu memerah bagaikan tomat, tapi sebelum ia bisa mengatakan sepatah kata pun, aku langsung memotongnya dengan lebih geram lagi dan sambil menunjuk kearah pria itu,"Dan siapa pria amoral ini?"

Kata-kata yang meluncur dari mulutku seakan sudah tidak memiliki batas kesopanan lagi; aku tidak peduli. Kata-kata kotor dan kelas rendah pun mungkin saja keluar dari sana. Ibu diam saja.

Yang kuketahui bisa kulakukan saat itu hanya satu; berlari, lari dari neraka yang membutakan ini. Aku langsung mengambil semua barang milikku dan uang tabunganku, dan tanpa peringatan apapun, aku langsung lari keluar dari rumah(aku juga tidak mengucapkan selamat tinggal pada Jill), berteriak-teriak seperti orang gila, menyesali takdir dan garis hidupku.

Lalu, setelah satu minggu aku kabur dari rumah, suatu pagi, aku mulai merasa capek dan gerah. Haruskah aku balik ke rumah? Tapi, tidak, tidak bisa. Ibu sudah mengkhianatiku, dan ia juga tidak meminta maaf akan insiden itu. Ibu macam apa itu? Aku hanya bisa mendesah pelan, mengingat-ingat kembali kejadian itu sedikit demi sedikit. Dan... Lagipula dimana aku sekarang ini?

Aku melihat-lihat sekelilingku. Nihil. Tak ada peta petunjuk jalan, bahkan tak ada siapa-siapa. Hanya aku sendiri. Kakiku mulai merasa pegal karena berjalan tanpa tujuan, hingga aku sampai di sebuah cafe."Cafe Harvest," gumamku pelan. Aku bisa merasakan perutku lapar, yang membuatku masuk kedalam bangunan itu.

"Welcome to Cafe Harvest!" beberapa waitress menyambutku dengan ramah.

Hal pertama yang kusadari adalah bau cokelat yang enak menyeruak kedalam penciumanku begitu masuk aku kedalam. Cafe itu interiornya terlihat sederhana tapi masih enak untuk dipandang: beberapa meja kayu yang dicat berwarna hijau muda, dengan empat kursi berwarna hijau tua di sekeliling meja-meja itu. Di ujung ruangan, terdapat pintu besi, mungkin saja itu dapurnya. Wallpapernya berwarna hijau yang sangat muda, dengan pola dedaunan yang tidak terlihat norak. Udara diruangan ini cukup menyejukkan, dengan beberapa pot tanaman di dekat dinding-dinding ang ditata dengan baik dan juga 2 AC di sudut kiri dan kanan ruang. Dan tepat ditengah ruangan itu, ada sebuah konter, dengan seorang laki-laki berambut cokelat berdiri dibelakangnya. Aku langsung mencari tempat duduk, dan menaruh barang-barang bawaanku ke kursi-kursi lain didekat kursiku. Lalu aku berjalan menuju ke konter, memesan teh Earl Grey, kesukaanku, dan sandwich daging, lalu aku kembali ke mejaku semula, makan dalam kesunyian.

(Still Flashback)

Cafe Harvest, Jack's POV

"Hrrmmhh, hari ini belum ada pelanggan lagi..." gumamku dengan malas, sambil mengacak-acak rambutku sendiri dengan gemas.

"Bertahanlah, Jack! Pasti ada yang datang!" sahut Ann dari dapur, sedang membuat cokelat panas. "Yoi! Pasti ada yang datang kok!" seru Denny santai dari kursi yang didudukinya. Aku dan teman-temanku, Ann, Denny, Natalie, Muffy dan Mary, memang memiliki impian berupa memiliki cafe sendiri sejak setahun yang lalu. Awalnya kami pikir semua akan berjalan lancar seperti impian kita dahulu, tapi realita kehidupan berkata lain: cafe ini cukup sepi pengunjung.

"Haahh! Kalo kayak begini terus mah, kapan kita-" umpatku, tapi sesuatu menghentikanku untuk menyelesaikannya. 'Klinting, klinting.' Bunyi bel pintu masuk berbunyi. Pengunjung!

Mukanya terlihat anggun, dengan rambut pirang panjang yang indah, dan pakaian yang didesain dengan indah pula, tapi wajahnya seakan menyimpan seribu satu macam penyesalan dan kesedihan. Juga rasa lelah. "Apa yang kira-kira terjadi padanya?" pikirku. Hei... Kenapa aku begitu peduli tentang hal itu?

Ia lalu memesan sandwich daging dan Earl Grey, membayarnya, lalu menunggu dimejanya ia duduk sampai Natalie memberikan pesanannya, dan ia makan dalam kesunyian. Lalu aku berjalan ke gudang untuk mengambil sebuah sapu, karena aku pikir lantainya terlihat cukup berdebu, dan tiba-tiba saja aku mendengar bunyi seperti terbatuk-batuk.

Aku melihat dari jendela kecil di gudang, melihat bahwa gadis tadi ternyata MEMANG terbatuk-batuk, dan... Air mata? Ia menangis? Muffy dengan sigap membantunya agar tidak terbatuk-batuk lagi, membawa segelas air dan beberapa lembar tisu. Lalu aku melihatnya dan juga Natalie mengatakan sesuatu padanya, dan gadis itu, masih sedikit terbatuk-batuk, tersedak dan berurai air mata, mengatakan sesuatu pada mereka. Aku memutuskan untuk menunggu sampai mereka selesai bercakap-cakap.

Aku tidak yakin dengan apa yang mereka bicarakan, tapi samar-samar aku mendengar kalimat-kalimat ini diantara percakapan mereka:

"Selingkuh... Mereka selingkuh.. Uh-huk! Ibu..."

"Apa yang kau ingin lakukan sekarang?"

"Rumah, aku butuh rumah... Tempat... t-tinggal! Hiks...Aku kabur dari rumah..."

Setelah cukup lama menunggu, aku mendengar suara pintu ditutup. Dan aku melirik dari jendela, wajah Mary dan Muffy seperti menunjukan rasa simpati yang mendalam. Lalu aku beranjak keluar menghampiri mereka, dan menanyakan apa ia katakan.

Ternyata gadis itu kabur dari rumah.

"Katanya sih karena ibunya selingkuh, dan selingkuhannya itu membunuh ayahnya." ucap Muffy dengan tatapan mata sedih dan juga sedikit penekanan pada kata 'selingkuh.'

"Makanya dari itu kita memutuskan untuk memberitahunya sebuah tempat tinggal yang cocok. Tahu 'kan maksudku?" jawab Natalie.

"Nat, salah satu perkebunan kakekmu? Yang di Mineral Town itu?"

Natalie hanya mengangguk pelan.

"Kalo nggak salah, namanya.. Good... Good... Ah! Goodie Farm milik kakekmu? Kau yakin ia akan merawatnya dengan baik?" aku bertanya, terperangah. Ia hanya mengangguk, tapi penuh dengan keyakinan. Tatapan matanya seakan mengatakan," Entah kenapa, aku yakin gadis yang ulet dan bertekad baja itu pasti bisa, walaupun kami sendiri baru mengenalnya."

Aku hanya bisa percaya pada Natalie dan Muffy. Bagaimana kehidupan gadis itu nanti, aku hanya bisa bertanya pada angin yang berhembus diluar sana.

...Percayalah. Suara hatiku itu sedikit menenangkanku dari kekhawatiran terhadap gadis malang itu.

-To be Continued-


GT: Akhirnya... Selesai juga... *background music: We are the champions, my friend...* Bagaimana? Bagus? Biasa saja? Atau malah jelek?

Claire: Tapi flashback-nya belum selesai 'kan? Nanti juga ada kelanjutannya sedikit?

Skye: *tiba-tiba muncul* RnR pleasee?~

Claire: Gyaarrgghh! Dari mana kau muncul?

Skye: Heheh~ Kan aku pencuri bayangan... *flirty mode on*

Claire: Bodo amat! Pergi dari hadapanku! *mengacungkan palunya*

GT: Hoi hoi hoi! Jangan berantem di ruang kerja(?) saya! Para readers, mohon maaf jadi kacau begini, arigatou telah membaca fic gaje ini, dan... YOIKS! *kena hantam palu Claire secara sangat tidak disengaja* - humor garing tingkat elite*