SHILL
Chapter 1
KAIHUN KAIHUN KAIHUN
.
.
.
Because my final assignment stuck and I feel like flipping everything
.
.
Kim Jongin.
Muda, kaya, jenius.
Jangan lupakan ketampanannya.
Tapi siapa sebenarnya Kim Jongin itu?
Apa dia seorang pemimpin perusahaan alias CEO?
Bukan.
Apa dia pewaris keluarga milyarder?
Bukan juga.
Atau, jangan-jangan dia adalah seorang perampok?
Bukan juga.
Kalau iya dia adalah perampok, sudah pasti dia ditangkap karena kejahatannya itu, kan? Lagipula dia terkenal, pasti mudah sekali menemukannya. Dan lagi, perampok mana yang tampannya seperti dia? He ain't no Robin Hood, baby.
Lalu dia siapa? Kenapa dia kaya di usia muda dan terkenal? Jenius pula.
Apa kalian akan percaya kalau ku bilang dia hanya seorang pria lulusan SMA biasa?
Kalian pasti bilang I talked bullshit, but really, lelaki itu hanya seorang pria berusia 24 tahun dan seorang lulusan SMA biasa.
Lulusan SMA biasa mana ada yang seperti itu! Don't judge. Biar ku jelaskan dulu apa yang dilakukannya sampai dia bisa sekaya itu.
Saat ku bilang dia hanya lulusan biasa, aku benar benar mengatakan yang sebenarnya. Dan dia bukan pewaris keluarga milyuner. Jangankan menjadi pewaris, memiliki keluarga saja dia tidak. Sejak kecil Jongin di buang orangtuanya, dan seingatnya, dia sudah berada di panti asuhan. Lelaki itu lalu memilih untuk tinggal dan membiayai hidupnya sendiri saat memasuki bangku sekolah menengah atas. Dia bekerja paruh waktu di sebuah kafe yang dekat dengan sekolahnya di sore hari, dan pada malamnya dia akan bekerja di minimarket 24 jam.
Apa dia tidak belajar selain di sekolah? Sayangnya tidak, dan sialnya lelaki itu dikaruiniai otak yang jenius, ditambah sifatnya yang tidak peduli pada sekelilingnya. Jadi saat tahu dia ditinggal orangtuanya di panti asuhanpun tak pernah sekalipun dia menanyakan mereka. Baginya selama dia masih hidup, bisa makan dan tidur tak ada yang perlu dipikirkan lagi.
Dia bukan lelaki yang macam-macam, kerjaannya hanya sekolah, bekerja, makan dan tidur. Tidak memiliki kekasih maupun sahabat, karena menurutnya itu merepotlan sekali. Berhububgan dengan orang lain itu merepotkan.
Semuanya biasa saja, sampai suatu malam minimarket tempatnya bekerja diliburkan, dan karena lelaki itu terbiasa tidak tidur pada jam segitu, dia memutuskan untuk berkeliling. Kakinya membawanya ke pinggiran kota, ditempat yang sangat ramai padahal sudah tengah malam. Mungkin kalian menyebutnya underground world. Sebenarnya Jongin tidak tertarik, hanya saja rasa penasarannya muncul saat berada di depan sebuah club. Dia tahu itu club khusus untuk gambling, di dalamnya banyak berbagai macam permainan judi, mulai dari casino, russian roullette, bahkan poker.
Rasa penasarannya semakin meningkat saat melihat kerumunan orang-orang yang sedang cheering pada sebuah taruhan. Jongin mendekat pada kerumunan itu dan bertanya pada salah seorang yang ada disana tentang apa yang sedang mereka sorakkan. Ternyata mereka sedang mengusung orang untuk ikut bermain double or nothing pada sebuah permainan roulette. Taruhannya cukup besar, melebihi 6 juta won, dan sepertinya mereka yang ada disana tidak memiliki uang yang cukup banyak untuk berani mengikuti taruhan itu. Jongin, dengan rasa penasarannya tinggi bertanya mengenai cara bermainnya. Permainan itu nyatanya cukup mudah, dalam pikirannya. Tinggal memutar roulette nya dan melemparkan bola sampai bola berhenti pada nomor yang dipertaruhkan. Masalahnya adalah mereka akan bermain dengan system straight, yang artinya hanya boleh bertaruh pada satu nomor dari 38 nomor. Berarti kemungkinan untuk menang hanyalah satu berbanding tiga puluh depalan, dan kemungkinan kalahnya nyaris 99%, ditambah lagi jika bola berhenti di nomor lawan di harus membayar dua kali lipatnya.
Taruhan satu ini akan menguras banyak uang jika kalah, tapi sialnya uang yang akan didapatkan jika menang terlalu menggiurkan, dan sepertinya Jongin sedang kehilangan akal sehatnya. Lelaki itu memanggil croupier untuk mendaftarkan namanya dalam taruhan ini. Jongin tidak membawa uang cash, tapi dia bawa atm nya yang sebenarnya berisi cukup banyak uang hasil menyisihkan gaji kerja paruh waktunya.
Banyak yang meremehkan Jongin, karena wajar saja, lelaki itu masih muda, dan mereka tidak pernah melihatnya keluyuran di dunia judi seperti ini. Dia nyaris saja diusir dari tempat itu, tapi saat menunjukkan ATM dan saldo tabungannya, mereka membiarkannya bergabung, dengan tujuan untuk menguras isi tabungannya. Anak itu amatir, mereka bisa dengan mudah memanipulasinya.
Jongin mengambil nomor 20 sebagai nomor keberuntungannya, sedangkan lawannya meminta nomor 8. Sang croupier kemudian menaruh token yang telah mereka sepakati di atas roulette table.
Saatnya penentuan.
Roulette diputar dan bola pun mulai dilepaskan. Semua orang terfokus pada benda yang sedang berputar itu, menunggu saatnya berhenti untuk tahu dinomor mana bola itu bersarang. Kecepatan putaran semakin melambat, begitu pula dengan gerakan bolanya.
Entah keajaiban atau bagaimana, bola itu bersarang ke slot bernomor 20. Nomor taruhan Jongin.
Semua orang terdiam untuk sesaat hingga croupier menarik token yang berada di nomor 8 ke arah Jongin, mereka mulai bersorak.
Lelaki itu menang.
Dengan pendapatan uang 2 kali dari apa yang dipertaruhkan.
Yah, kurang lebih begitulah awal mulanya Jongin menyelami dunia gambling. Sejak kemenangan pertamanya itu, Jongin mulai mempelajari semua jenis permainan yang ada di dunia perjudian. Dengan bantuan otaknya yang jenius, dengan mudah anak itu mempelajari semuanya, dan nyaris memenangkan semua permainannya—atau—jika dia tahu dia akan kalah, maka sebisa mungkin dia akan mengajak lawannya untuk bermain lagi hingga akhirnya lawannya kehabisan uang.
Berjudi sebenarnya bukan tujuan utamanya, hanya saja hal itu terasa menyenangkan untuk hari-harinya yang terasa datar. Lagipula tak ada orang yang akan memarahinya karena bermain judi. he fucking lives alone so no one cares.
Jongin paling suka bermain dengan high roller karena uang yang mereka keluarkan akan sangat besar, dan kebanyakan dari mereka tidak terlalu pintar dalam permainannya. Jongin hanya perlu mengalah di awal untuk kemudian membuat mereka semakin sombong dan meningkatkan nilai taruhannya, dan saat permainan akan selesai, Jongin akan mengeluarkan intelejensinya yang sesungguhnya dan meraup untung yang besar. Seorang high roller tak akan protes saat kalah dengan angka yang besar. And thats what makes it fun.
Pendapatannya dari gambling sangat besar, bahkan dalam dua tahun, lelaki itu bisa membiayai kuliahnya, sekaligus memiliki sebuah apartemen. Mobil? Nah, Jongin tidak memprioritaskan memiliki kendaraan, because Seoul somehow has good public transportation. Uangnya juga diinfestasikan untuk usaha property. Dia bukan pemilik perusahaannya, tapi propertinya tersebar dimana-mana. Young and successful man.
Apa Jongin bermain dengan wanita untuk menemani malamnya? Tidak. Kecuali untuk sesekali saja, tapi dia bukan pecandu padahal banyak wanita yag setiap malam menemaninya di meja judi, tapi tidak sampai dia bawa ke ranjang. Pernah suatu ketika dia mendapat taruhan berupa first class lady escort yang harga perjamnya lumayan, dia memenangkan taruhan tersebut tapi si lady diberikan pada salah satu petugas valet parking. Jongin itu gay. Dan meskipun banyak cute boy yang juga bermain di area gambling itu, tidak satupun yang menarik perhatiannya.
Sampai suatu saat, tepatnya dua tahun yang lalu, seorang lelaki kurus yang sialnya so fucking cute membuatnya memenangkan suatu putaran judi.
.
.
Seperti yang kuberi tahu tadi, Jongin suka sekali bermain dengan high roller. Suatu malam, ada seorang high roller yang baru membuka permainan poker. Pemain itu terlihat sudah tua dengan perut buncit dan kulit keriputnya, sepertinya juga bukan seorang yang pintar bermain. Berbekal pemikirannya yag seperti itu, Jongin mengikuti permainan yang dibuka oleh lelaki tua itu.
Seperti biasa, Jongin akan sesekali mengalah pada permainan hingga dirasa harga taruhannya sudah cukup tinggi. Tapi sepertinya si dewi keberuntungan itu sedang berbelanja atau entah apa yang dilakukannya hingga saat Jongin berusaha untuk memenangkan permainan, dia tetap kalah. Persediaan uangnya sudah menipis, harga taruhan semakin besar dan sialnya dia tak bisa membaca gerakan lawannya. Si pak tua itu ternyata jago juga. Jongin tak akan mengatakan si perut buncit itu hebat sampai dia benar-benar kehilangan uangnya.
Putaran terakhir hampir selesai, Jongin sudah mengeluarkan isi saldonya yang terakhir untuk malam ini. Rasa frustasi sudah mencapai ubun-ubunnya, dan para wanita genit yang berada di sekelilingnya terasa sangat mengganggu sekali. Otaknya berkabut, dia tak bisa berpikir jernih jika mengingat kemungkinannya untuk menang sangatlah tipis.
Dia mengangkat wajahnya untuk membaca ekspresi lawannya, tapi perhatiannya teralihkan pada seorang pria manis yang duduk tepat di samping pria buncit itu. Lelaki itu terlihat sangat senang dengan kehadiran lelaki manis itu. Cih, tipikal pak tua mesum. Si pria tua itu terus saja menggoda lelaki manis yang duduk di sampingnya dan seperti memberikan gestur untuk membiarkan lelaki itu melihat kartunya. Poker macam apa ini yang tidak dimainkan dengan wajah poker.
Saat matanya hendak beralih dari lawannya, Jongin seperti melihat lelaki itu mengerling padanya. No! he's not a fucking delusional yang berpikir semua orang berusaha menggodanya, tapi serius! Lelaki manis itu mengerling padanya. Dengan wajah pokernya, Jongin kembali menatap lelaki manis itu, dan benar saja, sebuah kerlingan kembali diberikan padanya.
Tapi tunggu, itu bukan kerlingan menggoda biasa. Ada sesuatu di balik semua itu.
Semakin diperhatikan, semakin terasa ada sesuatu di balik tatapannya. Tapi Jongin tak mau ambil pusing dan kembali ke permainannya.
Sekarang giliran lelaki itu untuk mengeluarkan kartunya. Jongin yakin dia punya kartu yang bagus, karena kartu yang ada di tangannya tidak terlalu memuaskan. Jongin pasrah dengan kekalahan besar pertamanya, tapi keajaiban terjadi.
Kartu yang dikeluarkan oleh pria buncit itu adalah di luar ekspektasinya. Buruk, bahkan sedikit lebih buruk dari miliknya. Ini poker, dan Jongin tetap menjaga ekspresinya sampai gilirannya tiba.
Jongin menang, dan semua uang yang dipertaruhkan oleh lelaki buncit itu menjadi miliknya. Itu bukan jumlah yang kecil.
Semua bersorak untuknya dan atas kebahagiannya itu, Jongin mentraktir minuman untuk semua orang. Pendapatannya malam ini bahkan melebihi pendapatannya dalam dua minggu. Bermain dengan high roller memang tak pernah mengecewakan.
Setelah bermain dan membayar tagihannya, Jongin memutuskan untuk pulang. Dia sedang menunggu mobil yag disewanya saat seseorang menepuk pundaknya.
"Kau harus memberiku upah."
Oh. Itu lelaki manis yang tadi.
"Hey. Mana upahku?"
Jongin menaikkan salah satu alisnya dan menahan asap rokok yang sudah memasuki paru-parunya sebelum menghembuskannya. Upah?
"Apa maksudmu?"
"Upahku! Aku membuatmu menang, setidaknya beri aku sebagian dari pendapatanmu malam ini."
The fuck? Dia membuat Jongin menang, katanya? Di bagian mana?
"Sepanjang aku bermain tadi, aku tak lihat kau berkontribusi apapun dalam kemenanganku."
"Jangan sombong, tuan. Kau pikir siapa yang membuat kakek tua itu mengeluarkan kartu terburuknya? Sesungguhnya kakek itu memiliki beberapa kartu yang lebih baik dari milikmu."
Benarkah? Jadi perkiraan atas kekalahannya tadi tidak salah. But he fucking won. Lalu kenapa lelaki ini bilang kemenangannya itu karena dirinya?
"Kalau kau butuh uang, bilang saja. Aku akan memberimu uang."
"don't be too high, Sir. Aku memang meminta uangmu, tapi uang bagianku."
"Kau tak ikut bermain tadi." Rasanya Jongin mulai jengkel dan mobil yang ditunggunya tidak datang-datang. Brengsek.
"Tapi aku membuatmu menang."
"Aku menang karena permainanku send—yah sialan! Kenapa kau menjewer telingaku!" Jongin memegangi telinganya yang habis di siksa lelaki itu. fucker jewerannya menyakitkan sekali.
"Cepat mana uangku? Aku mau beli makanan."
Jongin mendengus pada lelaki itu dan memberinya tatapan mendelik. "Kau masih di bawah umur, ya? Mana orangtuamu?"
"Sialan aku sudah 20 tahun! Dan aku tak punya orangtua."
"huh? Kau dibuang?"
Lelaki itu mengendikkan bahunya dan terlihat sekali tidak tertarik dengan pertanyaan Jongin.
"Kau tinggal dimana? Biar ku antar."
"Kau bahkan tak punya mobil, jangan berlagak mau mengantarku. Cepat kemarikan saja uangku!"
"Heh anak kecil! Aku tak punya mobil tapi uangku cukup banyak untuk membeli lusinan mobil!" saking kesalnya, Jongin memukul kepala lelaki manis itu, tidak kencang sih hanya untuk pelampiasannya saja.
"Sudahlah tak perlu mengantarku, mobil tak akan bisa masuk ke daerah tempatku tinggal."
"Kalau kau tidak mau memberitahu tempatmu tinggal, bagaimana kalau kau ikut ke tempatku?"
"Sialan aku bukan lelaki seperti itu!"
"Memang aku bilang apa? Dasar mesum! Aku hanya menyuruhmu untuk ikut ke tempatku. Aku ingin kamu menjelaskan kenapa aku harus membayarmu."
"Aku tak mau!"
"Ya sudah, aku mau pulang." Jongin melangkahkan kakinya menuju mobil yang baru saja berhenti di hadapannya..
"Eh tunggu! Aku ikut!" Lelaki itu berlari menyusul Jongin dan memberikan wajah cemberut padanya. Belum Jongin memasuki mobil sewaannya, lelaki manis itu sudah mendahului masuk ke dalam mobil tersebut.
"God, lelaki macam apa itu." Jongin menggerutu dan memasuki mobil itu, kemudian mobil melaju menuju apartemennya.
.
.
"Wow!"
"Gila! Mewah sekali!"
"Wah! Kau punya televise yang besar!"
"Aku pikir ini hanya ada di film!"
Sepertinya Jongin akan bertambah tua setiap kali mendengar kata-kata random yang keluar dari mulut lelaki manis yang dibawanya dari tempat judi tadi. Dia tak menyangka lelaki itu akan segitu takjubnya melihat segalal sesuatu ynag bahkan menurut Jongin adalah hal yang biasa.
"Sebenarnya kau siapa, sih? Kau bisa masuk ke area gambling tapi kau seperti takjub sekali melihat benda-benda ynag ada di apartemenku. Dan bisakah kau duduk? Aku pusing melihatmu berkeliaran di ruangan ini."
Lelaki manis itu tertawa kecil dan duduk di sofa besar di seberang Jongin, tak lupa sebuah kalimat takjub tentang kenyamanan sofa itu keluar dari mulutnya. Sesungguhnya itu terlihat menggemaskan, tapi Jongin belum mengetahui siapa lelaki ini.
"Siapa namamu?"
Sehun yang sedang menikmati sofa itu mengalihkan pandangannya pada orang yang bertanya tadi. "Ah iya! Namaku Oh Sehun, aku 20 tahun."
"Sehun.." Jongin mengulang nama itu dan mengangguk. "Kenapa kau ada di tempat itu? Sepertinya kau tidak pernah berada di sana dan aku juga tak pernah melihatmu sebelumnya."
Sehun mengangguk dan menggerakkan badannya, bermain-main dengan sofa yang memantulkan berat badannya. "Itu kali pertamaku. Dan aku membuatmu menang!"
"Kau terus saja bilang kau yang membuatku menang. Sebenarnya apa maksudmu?" Jongin mengambil dua kaleng cola dan memberikan salah satunya di meja depan lelaki itu, dan meminum cola lainnya.
"Aku tadi meminta lelaki itu untuk mengeluarkan kartu terburuknya. Dan dia melakukannya. Sebelumnya aku melihat kartumu dan kartumu buruk sekali."
Jongin mengakui bagian kartunya buruk sekali, tapi dia masih tidak mengerti mengapa lelaki itu melakukan hal itu. "Kenapa kau meminta kakek tua itu mengeluarkan kartu yang seperti itu?"
"Tentu saja agar kau menang!"
"Kenapa?"
Sehun mengendikkan bahunya dan meminum colanya. Dia mengayun-ayunkan kakinya dan masih saja memandangi sekelilingnya.
"Kau tinggal sendiri?" tanya Jongin setelah memperhatikan lelaki itu untuk beberapa saat.
Sehun mengangguk dan kembali meminum colanya. Dia suka cola itu. hal yang jarang sekali bisa dirasakannya.
"Kau tidak pernah melihat barang-barang seperti ini?" perkataan Jongin itu mengacu pada barnag-barang yang ada di apartemennya.
Sehun menggeleng, "Aku miskin. Aku dibuang orangtuaku entah karena apa, dan aku terkadang hanya punya uang untuk satu atau dua kali makan dalam sehari. Tak ada yang mau memberiku pekerjaan karena mereka selalu bilang kalau aku anak kecil. Aku sudah besar! Aku sudah 20 tahun!"
"Lalu bagaimana ceritanya kau bisa ada di area judi tadi? Dan pakaianmu tidak terlihat seperti pakaian orang miskin."
"Ini pakaian bagusku satu-satunya, biasanya aku gunakan untuk melamar pekerjaan. Sayangnya hari ini aku di tolak lagi dan aku berjalan-jalan sampai menemukan tempat tadi. Penjaga membiarkanku masuk dan aku melihatmu. Sisanya seperti yang aku ceritakan tadi."
Jongin mengangguk mendengar cerita itu, mirip dengan ceritanya pertama kali masuk ke dunia judi, tapi sepertinya Jongin sedikit lebih beruntung karena memiliki uang lebih. "Mungkin mereka mengijinkanmu masuk karena mereka piker kau adalah lelaki pesanan."
Sebuah bantal kecil menampar pipi Jongin sesaat setelah di amengucapkan kalimat itu. Jongin tertawa dan benar-benar wajah yag dia lihat terlihat sangat imut sekali. Lelaki manis itu cemberut dengan wajah bersungut-sungut.
"Aku hanya bercanda. Maafkan aku."
"Itu tidak lucu!"
"Iya, karena itu maafkan aku."
Sehun membuang muka dan meminum colanya lagi, kali ini dengan sedikit kasar. Untungnya dia tidak tersedak.
"Tinggallah disini. Aku akan membiayaimu."
Kali ini Sehun benar-benar tersedak dengan minumannya. Apa katanya? Tinggal dengannya?
"Kita punya cerita yang sama. Aku juga di buang orangtuaku. Tapi sepertinya aku sedikit lebih beruntung darimu. Kurasa tak ada salahnya untuk berbagi."
Sehun mengedipkan matany abeberapa kali, tak percaya dengan apa yang telah diterima oleh indera pendengarannya. "Kau anak buangan juga?"
Jongin mengangguk.
"Dan kau mau aku tinggal denganmu?"
Jongin mengangguk lagi.
"Hanya karena kita memiliki cerita yang sama?"
"Apa salahnya? Lagipula aku tinggal sendiri."
"Damn! Aku tak tahu penjudi punya sisi manusiawi!"
"Sialan." Kali ini bantal itu mengenai wajah lelaki manis yang sedang memegang kaleng cola. Kaleng itu kemudian terjatuh dan isinya membasahi lantai karpet di bawahnya. Lelaki yang terkena lemparan bantal itu hanya tertawa dan kembali melemparkan batal itu ke arah pelakunya.
.
.
Begitulah cerita bagaimana Jongin dan Sehun bisa bekerja sama. Naturally, they work together. Jongin dengan hobinya bermain judi, dan Sehun yang membantunya sebagai balasan telah mengajaknya tinggal di apartemen mewah miliknya. Jongin memang memiliki otak yang jenius, tapi keberadaan Sehun di sekitar lawannya semakin meningkatkan kemungkinannya untuk menang.
Di balik wajahnya yang seperti anak kecil, lelaki manis itu benar-benar tahu bagaimana caranya menggoda dan mengecoh lawannya. Dia bisa menggoda dengan bersih, bahkan tanpa dijamah sana-sini.
Jongin, hanya dengan wajahnya yang semakin gagah dan dewasa sudah bisa memberikan rasa intimidasi bagi lawan-lawannya, di tambah postur tubuhnya yang sempurna dan otak yag cemerlang. Kemenangan bukan hal yang sulit.
Sejak bekerja sama dengan Sehun, kemenangannya semakin besar dan Sehun juga selalu mendapatkan bagiannya.
Bisa dibilang mereka adalah partner in crime, a gambler and his shill.
Dua tahun berlalu, dan hubungan mereka masih sebatas a gambler and his shill karena mereka adalah dua orang yang professional. Meski berasal dari lingkungan miskin, Jongin mengakui jika Sehun memiliki attitude yang cukup "sombong" untuk bisa berada di arena judi, jangan lupakan wajahnya yang minim ekspresi membuat para lelaki maupun wanita di sana ikut menggodanya.
Jongin cemburu? Tidak. Sehun bukan miliknya, dan mereka hanya sebatas business partner.
.
.
Atau setidaknya itulah yang selalu muncul dalam pikirannya.
.
.
.
Ahra_27/11/2016
Lohaloooo apa kabar kalian semuanya. Hahahha rasanya aku ingin tertawa keras tapi di saat yang bersamaan aku ingin menangis :'((((
Lama sekali aku meninggalkan story ini, mianhae. Sulit sekali mencari waktu ya, padahal memang akunya saja yang tidak bisa mengaturnya hiks :'(
Alright chap 1 update yaaa.
Banyak istilah yang tidak dimengerti? Sebenarnya mudah sih. Tapi utnuk udahnya kujelaskan ya.
High roller: orang yang selalu mengeluarkan jumlah uang besar dalam berjudi, mereka biasanya tidak peduli dengan jumlah yang mereka keluarkan dan mereka mendapat perlakuan alias service khusus dari tempat gamblingnya. Misalnya kamar VIP, private jet, dsb
croupier: orang yang bertugas untuk memasang token pada meja judi.
poker: salah satu permainan table gambling yang menggunakan kartu.
Straight: pilihan satu nomor pada permainan roulette.
Shill: OH SEHUN lol okno.
XD XD XD
