Siapa yang menyangka, benda oval berwarna cokelat itu yang mempertemukan takdir sang quarterback jenius, lineman yang pantang menyerah, dan kicker '60-yards-magnum'? Pertemuan tak sengaja di masa kecil itu justru yang membekas di ingatan mereka bertiga. Tiga anak kecil yang tadinya tidak saling mengenal, saling mengukir nama masing-masing di hati mereka dan mengikuti arah takdir yang menyatukan mereka di olahraga bernama American Football.
Disclaimer for Inagaki Riichirō & Murata Yūsuke
Character: Hiruma Youichi, Hiruma Yuuya, Ryoukan Kurita, Takekura "Musashi" Gen
Background: Kota Deimon
Timeline: Ketika Hiruma, Kurita dan Musashi berusia 6 tahun.
~oOo~
First Meeting
by Little Hatake
.
.
CHAPTER 2: -WITH THE BIG ONE-
.
.
-Di Kuil-
"Waaah, luas sekalii..." Mata Hiruma kecil melebar ketika melihat kompleks kuil yang sangat luas. Ia tetap mengikuti ayahnya sambil melihat sekeliling. Di kompleks kuil itu terdapat beberapa rumah tradisional Jepang dengan beberapa biksu yang berlalu-lalang. Daun-daun pohon rindang berumur ratusan tahun hampir menutupi langit dan sinar matahari yang sudah terhalang oleh awan mendung masih mencoba menyelinap di antaranya.
"Ayah..." Hiruma kecil menarik-narik lengan ayahnya.
"Ada apa, Youichi?"
"Mereka siapa? Yang berkepala botak itu?"
"Mereka itu biksu, Youichi."
"Oooh..." Hiruma kecil tidak bertanya lebih jauh lagi karena ia sekarang sedang sibuk membuat balon dari permen karetnya.
"Naah, kita sampai." Langkah Ayah Hiruma terhenti di sebuah kuil berukuran sedang dengan lonceng besar menggantung di pelatarannya. Asap dupa terus mengepul memenuhi kuil itu. Terdengar gema doa-doa yang dilantunkan oleh biksu-biksu di kuil-kuil kecil di sekelilingnya.
"Youichi, ayo kita berdoa untuk kebahagiaan Ibu dan suksesnya rapat besar bisnis Ayah besok." Pria berjas hitam itu melepas genggamannya pada tangan Hiruma kecil lalu membakar dupa.
Hiruma kecil belum mengerti ritual berdoa ini. Ia hanya menatap ayahnya yang sedang menangkupkan kedua tangannya dan tiga buah dupa terjepit di antaranya. Hiruma kecil mengerenyitkan kedua alisnya, merasa terganggu dengan bau dupa yang menyengat. Lalu Hiruma kecil berusaha membuat balon di mulutnya lagi. Pipinya ia gembungkan sehingga menambah manis wajah tampannya itu.
Fuuuuuut... Balon hijau transparan berhasil dibuat oleh Hiruma kecil, tapi...
TENG! TENG! TENG!
PYAR!
Balonnya meledak seketika begitu lonceng kuil dipukul oleh Yuuya. Sontak Hiruma kecil kaget. Wajahnya sedikit merengut kesal karena ia tidak menyukai bunyi lonceng yang nyaring. "Huuuh..." gerutunya.
Tak melihat wajah kesal anaknya, Yuuya menggamit lengan Hiruma kecil dan mengajaknya pulang. "Youichi, ayo kita pulang..." Hiruma kecil mengikuti ayahnya menuju gerbang kompleks kuil.
"Yuuya!" Seorang pria berkaos putih tertutup jas cokelat dan bercelana jeans memanggil Hiruma Yuuya.
Yuuya pun menengok ke arah asal suara.
'Rambut spike cokelat? Bekacamata? Berwajah sedikit lancip? Lengan besar? Suara bass?' Hiruma Yuuya terdiam sesaat, mengumpulkan semua informasi dari orang yang memanggilnya itu. Otaknya berusaha memanggil ingatannya tentang semua kenalannya.
"Aaaaa... Hakuzo? Minamoto Hakuzo?" Yuuya mengkonfirmasi ingatannya.
"Hehehe." Minamoto Hakuzo tertawa. "Sudah berapa lama kita tidak bertemu, Yuuya?"
"Ayah, dia siapa?" Hiruma kecil menunjuk pria berjas cokelat itu.
"Dia sahabat baik Ayah, Youichi. Minamoto Hakuzo." Yuuya tersenyum dan mengajak Hiruma kecil menghampiri Hakuzo. Hiruma kecil menurut saja.
"Sudah empat tahun semenjak kematian istriku, Hakuzo!" Hakuzo dan Yuuya bersalaman dan berpelukan hangat.
"Aaah, anakmu sudah besar rupanya. Terakhir ku lihat dia masih tertatih berjalan." Hakuzo menepuk pelan pundak Hiruma kecil.
"Tentu saja ia masih tertatih, ia baru berusia dua tahun waktu itu."
"Hahaha, apa kabar, Hiruma kecil?" sapa Hakuzo hangat pada Hiruma kecil.
"Baik, Paman," jawab Hiruma kecil singkat. Ia masih kesal karena balon permen karetnya pecah padahal ia sudah bersusah payah membuat balon itu.
"Dan bagaimana kabarmu, Yuuya?"
"Yaah, seperti yang kau lihat saat ini, aku masih seorang ayah single parent yang bekerja keras untuk membahagiakan anaknya." Senyum Yuuya menipis. "Bagaimana denganmu?"
Hiruma kecil berfirasat obrolan reuni ini akan berlangsung lama. Rupanya Hiruma kecil tidak suka menunggu dan ia mencoba mencari sesuatu yang menarik baginya. Ia meninggalkan kedua pria yang sedang asyik bernostalgia itu tanpa sepengetahuan ayahnya. Ia berjalan mengelilingi kompleks kuil.
.
.
'Huh, membosankan! Apa tidak ada yang menarik di tempat sepi ini?' gumam Hiruma kecil dalam hati. Sudah cukup lama ia berjalan mengelilingi kompleks, tapi tidak ada yang menarik baginya. Ia memasukan kedua tangan kecilnya ke dalam saku celana. Bola amefuto ia selipkan di dekat siku. Berjalan santai memperhatikan kompleks kuil yang cenderung menyeramkan untuk anak seusianya. Tapi tidak berlaku sama dengan dia. Hiruma sudah pemberani dari masa kecil.
'Ah iya, aku harus mengingatkan Ayah untuk membeli permen karet less sugar!' Mulutnya terus mengunyah permen karet. Rupanya ia mulai ketagihan dengan permen lunak tersebut.
PRANG!
Tiba-tiba telinganya mendengar suara pecah yang cukup keras dan matanya yang tajam menangkap bayangan hitam besar yang berada di balik salah satu rumah tradisional di situ. Ia berlari dengan kaki kecilnya sambil memeluk bolanya, ingin tahu ada apa yang terjadi. Setelah sampai, ia melihat sesosok tubuh besar dan bulat berpakaian ala biksu sedang membereskan patung yang hancur berantakan.
Ternyata sosok itu adalah sosok seorang anak kecil namun bertubuh lebih besar dibandingkan dirinya. "Aduuuuh..." Wajah bulatnya terlihat panik sambil memungut bongkahan-bongkahan keramik. Badan anak itu yang gempal, hmm cenderung gendut, bergetar karena takut dan panik.
Hiruma kecil hanya berdiri di belakangnya tanpa melakukan apa-apa. Ia terus mengunyah permen karet sambil memperhatikan anak itu membereskan kekacauan yang ada.
Sedikit demi sedikit anak itu berhasil merapikan reruntuhan patung meskipun tidak sempurna seperti keadaan awal. Ia menepuk-nepukan kedua telapak tangannya yang besar, membersihkan debu dan tanah. Ia tidak tahu bahwa ada seseorang yang memperhatikannya dari tadi. "Naah, sudah beres." Senyum lebar tercetak di wajah anak besar itu. Wajahnya ramah dan terkesan amat baik. Ia membalik badannya ke belakang.
"Aaaa!" Anak besar itu kaget dan hampir saja menjatuhkan patung yang sudah susah payah ia bereskan tadi. "Aku kira Ayah!" Wajah kaget anak itu kembali menjadi wajah tersenyum setelah melihat yang ia lihat hanyalah seorang anak kecil yang sedang meniupkan balon kehijauan dari mulutnya.
Dengan wajah tanpa dosa, tiba-tiba Hiruma kecil melemparkan bola amefuto dengan cepat kepada anak berbadan gempal itu. Anak berbadan besar itu tentu tidak siap menerima "serangan" dadakan Hiruma. "Eh, eh, eh, eh..." Anak itu kesulitan menangkap benda oval itu. Bolanya terpental-pental di kedua tangannya yang gendut.
'Cih, tidak cocok menjadi receiver!' Hiruma kecil menggumam dalam hati.
Hilang keseimbangan, akhirnya tubuh besar itu menghantam kembali patung yang sudah ia susun.
BRAKK! KREKK!
Bahkan kini keramik dan batu yang menyusun patung tersebut hampir rata dengan tanah karena tergilas badan besar yang beberapa kali berputar.
'Tapi dia cocok menjadi seorang lineman.' Seringai tipis terlihat di wajah Hiruma kecil. Memperlihatkan giginya yang runcing.
"RYOUKAN! RYOUKAN KURITA!"
Ternyata kali ini suara hantaman keramik sangat keras sehingga terdengar oleh kepala kuil sekaligus ayah dari si anak besar.
"AAAH! TIDAK! Ayah akan marah!" Wajah anak itu pucat pasi dan badannya bergetar lebih hebat dari sebelumnya.
Hiruma kecil berjalan mendekati anak gendut itu dan mengulurkan tangannya. "Hiruma. Hiruma Youichi." Hiruma kecil memperkenalkan namanya.
"Eh iya, Hiruma-kun..." Anak besar itu bernama Kurita. Ia membalas uluran tangan Hiruma kecil dengan gemetaran.
Ayah Kurita sudah sampai di tempat kejadian perkara. Melihat kekacauan yang ada, ayah Kurita kaget. "Ada apa ini, Ryoukan?! Mengapa patung ini hancur lebur seperti ini?!"
"Anooo... Anooo..." Kurita tidak dapat mengeluarkan kata-kata. Ia sangat takut pada ayahnya.
"Maaf, Paman," Hiruma kecil mengambil bola miliknya dan mendekati kepala biksu itu. "Ini bukan salah Kurita. Ini salah aku, Paman. Bolaku tersangkut di pohon itu. Karena badanku kecil, aku tidak bisa mengambilnya jadi aku meminta bantuan Kurita. Pada saat Kurita sudah mengambilkan bolaku, aku loncat kegirangan dan tanpa sengaja aku terjatuh dan menimpa patung itu. Maafkan aku, Paman." Wajah Hiruma kecil mengiba. Sinar matanya mengeluarkan puppy-eyes, yang tidak ada seorang pun yang tidak terenyuh melihat sorot kedua matanya yang menggemaskan itu.
"Kamu temannya Ryoukan?" tanya kepala biksu.
"Betul, Paman." Hiruma kecil mengangguk.
"Oooh, begitu ceritanya. Aku kira Ryoukan berulah lagi dengan menabrakan dirinya pada patung-patung." Kepala biksu itu tersenyum kepada Hiruma kecil. Kurita tidak menyangka bahwa anak kecil asing yang tadi tiba-tiba melemparkan bola sekarang membelanya, rela berbohong untuk dirinya.
"Itu coba lihat di belakang sana!" Ayah Kurita menunjuk ke arah tumpukan reruntuhan batu dan keramik yang sudah menggunung. "Itu hasil ulah Ryoukan. Ckckck, dia sangat terobsesi oleh American Football, nak. Dia ingin menjadi lon, lan, ummm... apa itu... lain, umm... lineman katanya." Ayah Kurita melirik pada badan besar anaknya itu.
"Apakah aku harus mengganti patung itu, Paman?"
"Tidak usah, nak. Tapi lain kali lebih berhati-hatilah, nak. Kuil itu bukan tempat untuk bermain. Juga kamu, Ryoukan!"
"Iii, iyaaa, Yaah..." Badan Kurita masih sedikit bergetar.
"Oh iya, orang tuamu dimana, nak?"
"Di sana, Paman." Hiruma kecil menunjuk dua orang pria yang masih asyik mengobrol.
"Sekali lagi, maafkan aku, Paman." Hiruma kecil membungkukkan badannya.
"Iya. Cepatlah kembali ke orang tuamu, langit sudah mendung dan sebentar lagi hujan." Ayah Kurita menepuk-nepuk pundak Hiruma kecil.
"Baik, Paman. Dan terima kasih." Hiruma kecil segera berbalik dan berlari menuju tempat ayahnya.
Kurita belum sempat mengucapkan terima kasih pada teman barunya itu tetapi Hiruma kecil sudah berlari cukup jauh ke arah kuil utama.
'Telinga runcing, mata hijau dan permen karet.' Ryoukan Kurita mencatat baik-baik penampilan teman barunya dan ia berjanji akan berterima kasih ketika mereka bertemu kembali.
.
.
"...berarti bisnismu sudah merambah internasional yah, Yuuya?"
"Tidak sehebat itu, Hakuzo. Hahaha..."
Tes. Tes. Tes.
"Waah, sudah mulai hujan," gumam Hakuzo sambil menengadahkan wajahnya ke langit. "Sebaiknya kita segera pulang jika tidak mau terjebak hujan di sini."
"Iya, langit sudah sangat mendung. Ayo Youichi, kita pulang!" Yuuya melirik pada Hiruma kecil yang baru saja sampai dari jalan-jalan singkatnya. Ia tidak tahu bahwa anaknya sudah menemukan sesuatu yang menarik.
"Um!" Hiruma kecil mengangguk.
"Baiklah, Hakuzo, kami pulang dulu." Yuuya membungkukkan badannya dan Hiruma kecil mengikutinya.
"Sampai berjumpa lagi, Yuuya!" Hakuzo juga membungkukkan badannya dan bersalaman dengan Yuuya. "Dan kau, Hiruma kecil! Jadi anak yang membanggakan ayahmu, yaah.." Hakuzo mengacak-ngacak rambut hitam Hiruma kecil. Hiruma hanya membalasnya dengan anggukan dan senyum.
Pada saat perjalanan pulang, kesunyian meliputi ayah dan anak ini. Tidak ada celoteh Hiruma kecil seperti biasanya. Tidak ada pertanyaan sederhana dari Yuuya untuk anaknya. Hanya terdengar deruman beberapa mobil yang sesekali lewat.
Pikiran Hiruma Yuuya sudah mencapai hari esok, bagaimana strategi dia untuk memenangkan tender bisnis bernilai jutaan yen itu. Sedangkan pikiran Hiruma Youichi memutar kembali kejadian dia bertemu dengan anak gendut bernama Ryoukan Kurita di kuil tadi. Ia lupa untuk menagih janji ayahnya membelikan permen karet less sugar.
Hiruma kecil menyeringai untuk kedua kalinya hari ini.
'Baiklah, seorang kandidat lineman sudah aku dapatkan.'
.
TBC
.
~oOo~
rgrds, LH
Chap 2 is released!
Panjang banget yah? Hehehe... Maaf yah klo deskriptifnya masih kurang jelas atau kurang menarik, masih proses belajar *bow*
Kalo ada yang bertanya siapa Minamoto Hakuzo itu, dia adalah OC buatan saya. Ceritanya dia itu sahabat baiknya Hiruma Yuuya yang udah lamaaa banget ga ketemu. Ketemu terakhir pas pemakaman ibunya Hiruma waktu Hiruma usia 2 tahun. Sedih yah Hiruma udah jadi anak piatu sekecil itu? :'(
Naah, soal Kurita udah kebayang kan yah besar badannya meskipun baru usia 6 tahun? Ga jauh beda sama waktu remajanya, laaah...
Ok, next! How about First meeting with Musashi? Just follow the story ;)
Please Read and Review, thanks! *bow*
