Chapter sebelumnya~
Aku bermimpi digigit oleh makhluk mengerikan, dan saat bangun aku melihat diriku tampak seperti monster itu. Dijalan aku bertemu sepasang suami-isteri yang mengaku sebagai vampire, dan menyatakan bahwa aku telah sama seperti mereka.
Aku dibawa pergi meninggalkan Konoha dan menjadi anggota keluarga mereka. Disana aku diperkenalkan dengan anggota keluarga lain yang merupakan anak angkat pasangan itu. Menurut mereka, kami semua memiliki kelebihan yang berbeda.
Aku mampu melihat masa depan. Dan aku melihat kekasihku, Sasuke, diculik oleh empat orang berjubah hitam. Aku ingin menyelamatkannya, namun dihentikan oleh Naruto dan Sakura yang memilih pergi ke Konoha untuk menyelamatkannya. Apa yang akan diperbuat mereka pada Sasuke? Berhasilkah Naruto dan Sakura menyelamatkannya?
-V&W-
Title : Vampire and the Wizards
Author : Kay Yamanaka
Genre : Supranatural, Romance, Adventure
Pairing : SasuInoGaa
Rating : T
Summary : Ino bermimpi digigit seorang vampir, dan berubah menjadi makhluk yang sama. Itu adalah mimpi terburuk Ino. Tapi apa jadinya jika mimpi itu benar-benar nyata? Apa yang akan dilakukan Ino selanjutnya?
Disclaimer :-Naruto belong to Masashi Kishimoto
-Vampire and the Wizards belong to Kay Yamanaka
Warning : Abal, Gaje, Typo, OOC, AU, AH, etc…
A/N : Disini pake sudut pandang Ino sebagai tokoh utamanya ya :D Dan jangan lupa RnR, please? XD
Don't like, Don't read!
Chapter 2
Perasaanku kini semakin tak karuan, aku benar-benar takut jika sampai terjadi apa-apa padanya. Aku pasti akan menyalahkan diriku sendiri seumur hidupku. Tenten dan Hinata sudah berusaha menenangkanku sejak tadi dan membawaku kekamar, namun aku masih belum bisa tenang. Aku tak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Aku bahkan tak pernah memikirkannya.
"Sasuke akan baik-baik saja. Tenanglah." Ucap Hinata sambil mengusap bahuku lembut.
"Dia tidak akan baik-baik saja jika mereka berhasil, Hinata!" seru Tenten dari arah belakangku.
"Tenten!" bentak Hinata. Baru kali ini aku melihat gadis lembut itu membentak seseorang, apalagi saudarinya sendiri.
"Apa? Kita toh tak akan bisa membohonginya, jika memang waktunya dia akan melihatnya sendiri. Apa kau lupa dia bisa melihat masa depan?"
"Apa maksud kalian sebenarnya? Jelaskan padaku!" seruku menghentikan perdebatan mereka seketika.
Hinata menghela nafas, lalu berucap dengan lirih, "Jika Naruto-kun dan Sakura-chan gagal, mereka akan mengubah Sasuke-san."
"APA? Mengubahnya menjadi apa?"
"Menjadi seperti kita." Sahut Tenten tegas.
"Tapi mungkin... dia akan dihasut untuk melawan kita." Lanjut Hinata.
Mataku terbelalak. Aku tak bisa membayangkan jika Sasuke sampai menjadi musuh kami. Itu tak boleh terjadi!
"Naruto dan Sakura pasti berhasil menyelamatkannya." Ucap Rin yang entah sejak kapan sudah berada dikamarku.
"Entahlah, aku tak yakin mereka sempat. Sekarang mereka masih dipesawat, dan kemungkinan Sasuke sudah berhasil mereka culik!"
"Jangan pesimis begitu! Disana masih ada anggota keluarga yang lain, mereka pasti sempat menyelamatkannya!" seru Hinata dengan yakin.
"Tapi…"
Sebelum aku selesai bicara, tangan Tenten sudah membekap mulutku seraya membentak, "Diamlah!"
Tak ingin mereka lebih marah, aku memutuskan untuk diam. Namun dalam pikiranku tetap saja banyak hal berkecamuk, terlebih lagi karena sampai sekarang aku belum mendapat penglihatan baru.
"Minumlah!" ujar Tenten sambil menyodorkan segelas penuh darah donor padaku. Aku menggeleng, namun tubuhku rupanya berpikiran lain. Tanganku bergerak cepat menyeruput gelas ditangan Tenten dan menenggak isinya sampai habis.
"Bagaimana? Merasa lebih baik?" tanyanya.
"Ya, kurasa sedikit lebih baik. Arigatou." Ucapku tulus. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum. Tapi tiba-tiba saja ia melesat meninggalkanku sendirian dikamar. Tunggu! Sendirian? Kemana Rin dan Hinata? Rupanya mereka sudah melesat lebih dulu daripada Tenten. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa mereka tampak panik?
Aku melesat dengan cepat menyusul mereka keruang keluarga dan menemukan Tenten serta semua anggota (minus Naruto dan Sakura) tengah berkumpul disana, tampak berbicara serius. Namun semua mengalihkan pandangan kearahku saat mendengar langkah kakiku mendekat.
"Apa yang terjadi?" tanyaku bingung.
"Kembalilah kekamarmu!" perintah Neji.
"Jangan berteriak padanya, Neji." Ucap Rin lembut, "Hinata?" Ia mengalihkan pandangannya kearah gadis berambut indigo itu, seolah memberi kode melalui tatapan matanya.
Hinata mengangguk seraya bangkit dan membawaku kekamar dengan sedikit paksaan karena aku sedikit memberontak.
"Apa-apaan ini? Ada apa ini sebenarnya?" tanyaku sambil terus memberontak, namun cengkraman Hinata rupanya lebih kuat.
"Tolong menurut saja, Ino-chan! ini juga demi kebaikanmu."
"Tapi..."
"Sudahlah.." Diseretnya aku masuk kekamar dan mengunci pintu tersebut, lalu duduk diatas tempat tidurku. "Ino-chan, kau masih sangat muda dan masih belum stabil. Jadi tolong turuti saja perkataan mereka, biar kami yang mengurus semua ini. Kau tak usah ikut campur." Pintanya lembut.
Tapi aku, seorang Ino tak mungkin menurut begitu saja, bukan? "Setidaknya izinkan aku mengetahui apa yang kalian diskusikan!"
"Kau akan tau, Ino-chan. Tapi bukan sekarang.."
"Kapan? Tolong beritahu aku, Hinata-chan?"
"Tunggu sampai Tou-san sendiri yang menjelaskan padamu. Bukan porsiku menjelaskan hal itu. Sekarang kita menunggu disini untuk sementara, kau bisa memberitahuku jika melihat sesuatu lagi." Ujarnya sambil tersenyum.
Aku yang akhirnya menyerah hanya bisa mengangguk menuruti kata-katanya.
...
Selamaman kami berada dikamar, menunggu jika nantinya Kakashi memutuskan untuk memberitahuku tentang apa yang mereka bicarakan. Dan menunggu seandainya aku mendapat penglihatan baru. Aku sudah memutari ruangan ini berpuluh-puluh kali, tapi semua masih sama. Tak ada Kakashi, tak ada penglihatan baru. Apa semua akan baik-baik saja?
Deg!
Sesuatu tiba-tiba muncul dipikiranku, membuatku menghentikan langkahku seketika.
"Mereka akan mengubah Sasuke-kun!" pekikku seraya berbalik ke arah Hinata dengan tatapan horor. "Kita harus segera menyelamatkannya!" teriakku lagi. Dengan langkah cepat aku menuju kearah pintu, ingin segera keluar dari ruangan itu dan menyelamatkan kekasihku. Namun tangan Hinata menahan lenganku.
"Jelaskan apa yang kau lihat!" perintahnya.
"Tidak ada waktu! Mereka akan segera mengubahnya! Aku tak akan membiarkan mereka!" Aku berusaha menyentakkan tanganku, namun tenaga gadis itu lebih kuat.
"Diam disini! Aku akan memanggil mereka!" serunya seraya melesat keluar, dan dalam beberapa detik ia kembali bersama semua anggota keluarga (masih minus Naruto dan Sakura).
"Apa benar kau melihat mereka akan mengubahnya?" tanya Kakashi.
Aku menggeleng, kemudian menatap mereka, "Aku melihatnya tengah kesakitan, mereka sudah menggigitnya." Jawabku lirih.
"APA?" seru mereka bersamaan.
"Sepertinya Naruto dan Sakura terlambat!" ujar Sai seraya menoleh kearah Kakashi. Pria bermasker itu mengangguk, kemudian kembali mengalihkan pandangan padaku.
"Dimana mereka berada? Apa kau bisa melihatnya?"
"Entahlah, penglihatan itu hanya sekilas, tapi firasatku mengatakan mereka ada dikota ini!"
"Sial!" geram Kakashi. Dengan cepat ia menekan tombol diponselnya untuk menghubungi Naruto dan Sakura yang masih berada di Konoha. "Naruto, Sakura, segera kembali! Mereka sudah tak ada disana!" serunya pada Naruto yang berada diseberang telepon.
"Aku tau! Karena itu kami sedang dibandara!" Sahut Naruto yang terdengar jelas oleh kami.
"Baiklah. Segera kembali, mungkin kami akan membutuhkan kalian!"
"Hai', wakarimashita!"
Tut! Tut! Sambungan terputus.
"Ino, kau ikut dengan kami! Kita harus segera menemukan Sasuke sebelum dia berubah sempurna dan menjadi pengikut akatsuki!"
"Akatsuki?" tanyaku bingung.
"Empat vampir yang kau lihat menculik Sasuke-san itu adalah anggota terkuat akatsuki." Jelas Tenten.
"Baik, aku akan ikut!" Jawabku mantap.
-V&W-
Hari masih sore, kami bergegas menuju ketempat dimana Sasuke disekap. Namun, baru setengah jalan kami sudah dihadang oleh empat vampir yang menculiknya. Empat anggota terkuat Akatsuki. Sasori, Deidara, Konan, dan Tayuya. Shit!
"Hmm... Ada anggota baru rupanya, un?" ucap Deidara sambil tersenyum sinis.
"Bukan urusanmu!" sentak Sai. "Minggir! Jangan halangi jalan kami!" serunya lagi.
Sasori ikut tersenyum sinis, "Kheh! Sudah berani melawan rupanya kau, bocah?" ucapnya dengan nada sarkastis.
"Memangnya kenapa kalau iya?"
"Sai, cukup! Biar aku yang mengurus ini." Ucap Kakashi dengan tenang.
"Hatake.. Kakashi. Ingin jadi pahlawan lagi, un?" tanya Deidara dengan nada mengejek,"Padahal kau tak lebih dari seorang pencuri, un! Selalu mencuri ciptaan kami dan menjadikannya keluargamu! Cih! Menggelikan!"
"Tapi, sayang sekali... kali ini kau tak akan berhasil, Kakashi! Sasuke milik kami. Sepenuhnya!" Lanjut Tayuya dari belakang Sasori, "Sasuke yang lama sudah mati. Yang ada sekarang adalah Sasuke anggota Akatsuki! Sasuke... kemarilah!" teriak Tayuya sambil menyeringai. Dan dari arah belakang mereka, aku dapat melihat siluet seseorang melangkah dengan santainya. Sosok dalam gelap itu perlahan mendekat, menunjukkan sosok nyatanya. Mataku melebar seketika saat melihatnya...
"Sasuke-kun!" Gumamku lirih. Hampir saja aku melesat dan memeluknya andai saja keluargaku tak menahan tubuhku.
"Hentikan, Ino! Dia sudah bukan Sasuke yang kau kenal!" seru Kakashi.
"No! He's my Sasuke!" Teriakku mengabaikan peringatan mereka."Sasuke-kun!"
Sasuke tampak berjalan mendekat kearahku, mengabaikan tatapan tajam keluargaku. Dengan senyum lembut, ia mengulurkan tangan kanannya, "Ino?" panggilnya.
"Kau mengingatku, Sasuke-kun?" tanyaku dengan mata berbinar-binar. Merasa pegangan keluargaku mengendor, aku dengan cepat berlari mendekati Sasuke. Kuraih tangannya dan tersenyum. Kupeluk tubuh yang sangat kurindukan itu dengan erat, menumpahkan setiap emosi yang kurasakan.
Dan untuk sejenak, aku melupakan keberadaan Akatsuki...
Brukk!
"Ukh!"
"Arrghhh!"
Suara erangan suara yang tak asing itu mengusikku. Seolah menarikku menuju alam sadar. Kulepaskan pelukanku dari Sasuke dan berbalik. Dan mataku terbelalak sempurna saat melihat keluarga angkatku tengah sekarat tak jauh dari sana. Entah bagaimana caranya mereka ditaklukkan. Dan entah kenapa aku sama sekali tak mendengar bunyi pertarungan mereka?
"Otou-san! Kaa-san!" pekikku panik. Aku baru saja berniat menolong mereka andai saja genggaman tangan Sasuke tak lebih kuat hingga membuatku tertahan dan kembali masuk kedalam pelukannya.
"Jangan pedulikan mereka, Ino. Bergabunglah dengan kami. Kita akan terus bersama selamanya." Ucapnya sambil terus menahanku yang memberontak dalam pelukannya.
"Apa? Tidak! Hentikan para Akatsuki itu! Keluargaku akan mati!" teriakku histeris. Dengan sebuah hentakan kuat, aku berhasil melepaskan diri dari pelukan Sasuke dan berlari menuju tempat keluargaku terpojok.
Dengan kemampuan beladiri yang pernah diajari Neji padaku, akhirnya aku nekad untuk melawan mereka berempat sendirian. Meski aku yakin tak mungkin sanggup mengalahkan Akatsuki, tapi setidaknya aku pasti bisa mengulur waktu demi pemulihan luka mereka.
Pertarungan berlangsung cukup sengit dengan aku yang beberapa kali terhantam ketanah akibat serangan mereka yang begitu kuat dan tanpa ampun. Dari sudut mata, dapat kulihat Sasuke yang tengah berdiri tenang dengan sebuah seringai licik terpatri diwajahnya. Mata merah berkilat itu menatapku tanpa ekspresi. 'Kami-sama, apa Sasuke ku telah hilang dari tubuh itu?'
Dengan gerakan cepat dan begitu tiba-tiba, ia melesat kearahku yang sudah mulai kepayahan. Tangan kanannya mencengkeram leherku dengan begitu erat dan mendorongku dengan keras hingga dapat kurasakan nyeri pada punggungku yang menghantam sebuah pohon besar hingga pohon itu patah. Aku tak bisa melawan. Tenagaku sudah terkuras habis, ditambah lagi dia baru saja diubah dan masih begitu kuat. Sementara keluargaku berusaha bangkit dengan susah payah, keempat anggota Akatsuki itu hanya tertawa penuh kemenangan. Rasanya leherku sudah hampir putus akibat cengkeraman Sasuke yang begitu kuat. Dengan segenap kekuatan yang masih tersisa, aku mencoba untuk balik mencengkeram lehernya dan menghantamkannya kesebuah pohon tak jauh dari tempatku tercekik tadi.
Brakkkk!
Brugh!
"Ukh!"
Berkali-kali kami saling menghantam satu sama lain, dengan nafas tersengal-sengal, aku masih berusaha menyadarkannya. Berharap Sasuke yang dulu kembali lagi...
"Sasuke-kun.. akh! Sa-sayang.. Sadarlah, Sasuke-kun!"
Bruakk!
"Ukh! Ku... mohon... sadarlah.." ucapku lirih dengan leher tercekik olehnya.
"Sasukemu tak ada disini!" serunya seraya menghimpitku ketanah.
"Uhukk.. uhukk! Sa-suke... to..long... henti..kan.." pintaku terputus-putus.
"Aku akan melepaskanmu kalau kau bergabung denganku, Ino." Ucapnya datar. Sebuah seringai muncul dibibirnya.
"Tapi jangan sakiti mereka." Pintaku penuh harap.
"Mereka bukan urusan kita, Ino!"
"Mereka keluargaku sekarang! Mereka adalah urusanku!"
Brakk!
Dengan sekuat tenaga aku mendorongnya menjauh. Menghampiri anggota keluargaku yang sebagian masih belum sadarkan diri.
Sasuke sudah benar-benar tak ada ditubuh itu. Sasuke sudah mati. Sekarang aku harus mulai mempercayai itu. Tanpa memedulikan Akatsuki dan Sasuke, aku memapah Tenten, sedangkan Neji memapah Hinata yang belum sadar dan berlari bersama yang lain. Sedangkan para Akatsuki masih tertawa puas, melesat menjauh membawa kemenangan. Tapi kami belum mati. Ini belum berakhir. Kami akan terus berjuang. Sekalipun dengan usia mereka yang telah mencapai 2000 tahun itu, aku yakin mereka pasti juga punya kelemahan. Tunggulah kalian, Akatsuki... Sasuke.
-V&W-
Rin merawat Tenten dan Hinata dengan penuh kasih sayang hingga mereka cukup pulih meski masih tak sadarkan diri, sepertinya luka mereka terlalu parah. Tak pernah kusangka, bahwa seorang vampir sekalipun masih memiliki nurani dan kasih sayang. Rin memang baik. Sejak awal aku sudah mengetahui itu. Keluarga ini sangat berbeda dari cerita-cerita vampir yang pernah kubaca atau kutonton dulu. Aku beruntung memiliki mereka.
"Kaa-san, apa mereka akan baik-baik saja?" tanyaku khawatir.
Rin hanya tersenyum kearahku, sebelum menjawab, "Mereka akan baik-baik saja."
"Ini semua salahku!" seruku tiba-tiba,"Seandainya aku tak terhanyut kedalam pelukan Sasuke... mungkin semua akan baik-baik saja sekarang.." gumamku penuh penyesalan.
Rin menggeleng,"Jangan menyalahkan diri sendiri. Sekalipun kau menolaknya saat itu, mereka akan tetap menyerang kami."
"Tapi..."
"Sudahlah. Lebih baik kita keluar dan biarkan mereka istirahat sekarang."
"Hai'! Wakarimashita!"
...
Diluar, dapat kulihat Kakashi dan Neji tengah bersiap untuk berburu. Persediaan darah bagi kami sudah mulai menipis. Jadi beberapa orang harus... berburu, mengumpulkan darah binatang, terutama beruang dan kijang.
"Tou-san!" panggilku.
"Ya?"
"Boleh aku ikut dengan kalian?" pintaku padanya,"Aku... ingin belajar berburu."
"Hm? Baiklah. Tapi sebaiknya nanti kau jangan terlalu jauh dari kami. Ada kemungkinan hutan tempat kita berburu nanti berbahaya. Selain ada kemungkinan munculnya vampir lain, bisa jadi ada werewolf juga. Mereka akan lebih berbahaya dan lebih merepotkan daripada sesama vampir." Kakashi memperingatkan.
Aku mengangguk mengerti dan mengikuti mereka.
-V&W-
Hutan tempat berburu kami ternyata cukup jauh, sekitar 5 jam perjalanan. Karena menggunakan mobil tentu saja, untuk mencegah kecurigaan manusia. Akan lebih cepat jika berlari.
"Jadi... kita akan berburu disini?" tanyaku ragu.
"Ya." Jawab Neji singkat.
"Kita harus berhati-hati. Ada kemungkinan jika manusia berburu binatang disini, jadi.. usahakan jangan sampai bertemu mereka. Apalagi kau masih baru, masih belum sempurna dalam menahan godaan darah manusia." Lagi-lagi Kakashi memeperingatkan.
"Wakarimashita!" jawabku seraya mengangguk mantap.
"Ayo kita mulai!" ucap Kakashi.
...
Neji memutuskan untuk berburu sendiri agar mendapat lebih banyak mangsa. Sedangkan Kakashi tetap bersamaku demi mengajari cara berburu yang benar. Kami mulai berlari semakin memasuki hutan yang sedikit gelap itu, mencari sesuatu yang bisa kami buru. Dan tak jauh dari tempat kami berpijak, terlihatlah seekor kijang yang cukup besar sedang meminum air disebuah danau kecil disana.
"Perhatikan!" bisik Kakashi sesaat sebelum ia melesat dan menerkam kijang itu tepat dilehernya hingga mati. Aku hanya mampu meneguk ludah menyaksikan pemandangan itu. Setelah kijang itu benar-benar mati, dia merobek sedikit bekas gigitannya dan memasukkan darah binatang itu kedalam sebuah botol yang dibawanya. "See? Ini cukup mudah." Katanya sambil tersenyum.
"Kurasa begitu.." sahutku ragu.
"Ayo kita cari lagi. Itu akan jadi buruan percobaanmu."
"Hai'!"
...
Kali ini kami bertemu seekor kijang lagi. Namun ukurannya lebih kecil jika dibandingkan dengan buruan Kakashi tadi. Aku menoleh pada Kakashi dan dia mengangguk. Dengan langkah hati-hati aku mendekati kijang itu.
Hap!
Aku melompat, dan...
"Sial!" Aku meleset. Kijang itu berlari dengan cepat, tapi aku tak kalah cepat menyusulnya. Dan kali ini aku berhasil menangkapnya dari arah depan. Kuarahkan taringku kelehernya dan menghisap darahnya. Setelah sedikit kenyang, aku merobek sedikit bekas gigitanku dan memasukkan darah yang tersisa kedalam botol yang juga kubawa. Ini dia buruan pertamaku. Aku tersenyum gembira kearah Kakashi yang dibalas senyuman juga darinya. Sekarang kami sudah mendapat beberapa botol darah, entah berapa banyak yang sudah dikumpulkan Neji.
Kami melanjutkan perburuan. Semuanya cukup mudah, meski semuanya hanya kijang. Sepertinya tak ada beruang dihutan ini. Baru saja kami berniat untuk melanjutkan perburuan demi mengumpulkan lebih banyak persediaan, namun sepertinya rencana itu harus dibatalkan saat kami mencium bau werewolf. Ini pertama kalinya aku mencium baunya, tapi aku yakin ini adalah bau mereka. Baunya begitu memuakkan.
"Ayo kita pergi!" perintah Kakashi,
"Werewolf?" tebakku asal. Dia hanya mengangguk dan kami melesat menjauhi tempat berbahaya itu, mencari Neji.
...
Aku merasakan sesuatu mengikuti kami dibelakang. Dan saat aku menoleh, dapat kulihat tiga ekor serigala raksasa tengah berlari kencang tepat dibelang kami. 'Sial!'
"Lari lebih cepat!" perintah Kakashi.
"Kenapa harus berlari? Kenapa tak kita lawan saja?" tanyaku gusar.
"Kita tak akan bertarung dengan mereka, kecuali itu berhubungan dengan hidup dan mati."
"Kenapa?" tanyaku kurang puas dengan jawabannya.
"Kita memang penghisap darah. Tapi kita masih menghargai makhluk lain."
"Mereka bahkan tak menghargai kita!" seruku emosi.
"Turuti saja kata-kataku!" perintahnya. Dan akupun meneruskan lariku dalam diam.
...
Kami terus berlari hingga ujung hutan dan masih belum melihat sosok Neji. Jika kami keluar dari hutan ini, maka akan mendekati rumah penduduk, dan pasti akan membuat mereka ketakutan. Tapi jika kami tetap dihutan ini, mereka akan menyerang kami.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanyaku pada Kakashi.
"Kita harus bernegosiasi dengan mereka! Jika gagal, kita akan melawan."
"Baik!"
Kami berhenti berlari, dan berbalik kearah pada werewolf yang ikut berhenti dengan jarak sekitar lima meter dan menatap kami dengan tajam.
"Tenanglah.." ucap Kakashi datar,"kami tak ingin mengganggu kalian, kami hanya ingin berburu kijang. Tak ingin membuat masalah dengan para werewolf." Ia menjelaskan dengan tenang.
Melihat niat baik Kakashi, seekor werewolf yang berada dibarisan paling depan berubah jadi manusia dan mulai berbicara..
"Ini adalah wilayah werewolf! Vampir tidak berhak memasuki tempat ini!" serunya.
Kakashi masih bersikap tenang, sedangkan aku sudah cukup panik. Ditambah lagi gambaran-gambaran tak jelas yang berulang kali muncul dipikiranku begitu menganggu.
"Gomenasai. Kami tidak tau jika ini wilayah kalian."
"Kiba pasti marah besar kalau mengetahui banyak vampir berkeliaran diwilayah kami!"
"Sekali lagi, gomenasai. Tolong izinkan kami pergi. Kami tak akan pernah mendekati wilayah kalian lagi." Pintanya.
"Tidak bisa! Kalian berdua harus ikut dengan kami! Atau kalian mati!" ancamnya. Ingin sekali rasanya aku membantah dan merobek-robek mulut menyebalkan itu, tapi Kakashi mengentikanku dan berkata,
"Baik. Kami akan ikut dengan kalian. Tapi sebenarnya.. kami bertiga."
"Jadi, si vampir tak sopan itu bersama kalian, huh? Dia sudah ditangkap! Sekarang giliran kalian, ikut kami dan jangan melawan. Atau kalian akan berakhir sekarat seperti teman kalian!"
"Tolong, jangan bunuh Neji." Pinta Kakashi.
"Semua itu tergantung pada Kiba." Ucap sang manusia serigala sambil menyeringai.
-V&W-
Akhirnya kini kami diikat dengan rantai perak, dan dibawa ketempat mereka. Rupanya tempat persembunyian mereka tepat berada ditengah-tengah hutan itu. Sebuah goa yang dijaga banyak werewolf. Jumlah mereka sekitar duapuluh ekor, besar-benar pula. Aku hanya bisa menunduk lemah, tak berdaya dengan rantai perak yang seolah menghisap seluruh tenagaku ini. Begitu juga dengan Kakashi. Namun wajahnya lebih terlihat tenang, berbeda dengan aku yang paniknya kentara sekali.
"Kiba, kami membawa dua lagi. Akan kita apakan mereka?" tanya seorang werewolf yang telah berubah menjadi manusia.
"Hm.. mereka tak terluka sedikitpun?" tanya pria itu heran, sebelah alisnya terangkat keatas.
"Mereka menyerahkan diri."
"Bagaimana bisa?" kini kedua alis pria bertato taring merah dipipinya itu berkerut.
"Entahlah." Temannya mengangkat bahu, "Mereka bilang tak ingin bertarung, dan hanya ingin berburu dengan damai."
"Menarik!" Kiba tersenyum sinis. "Lepaskan mereka!" perintahnya.
"Tapi, Kiba..."
"Lakukan saja!"
"Hai'." Dan pemuda itu mulai melepaskan rantai yang mengikat tubuhku dan Kakashi.
Hhh.. kini aku bisa bernafas sedikit lebih lega, rantai tadi benar-benar menyiksaku!
"Jadi..." ia menautkan jari-jarinya dan meletakkannya dibawah dagu,"kenapa kalian menyerahkan diri semudah itu? Padahal selama ini belum pernah ada vampir yang menyerahkan diri begitu saja pada werewolf, karena itu berarti mati!" Ia menyeringai, menampakkan sepasang taringnya yang cukup panjang untuk ukuran seorang manusia. Tentu saja, dia 'kan werewolf? Hhh...
"Kami tak takut. Kami tak bersalah." Jawab Kakashi dengan tenangnya.
"Baka! Kalian bersalah! Dan kalian tau betul apa kesalahan kalian. Yaitu... berburu diwilayah kami!" teriaknya emosi.
"Kami bahkan tak tau ini wilayah kalian!" bentakku.
Kiba sedikit terkejut, namun kemudian melangkah mendekatiku dengan senyum sinisnya, "Benarkah?" ia mengangkat daguku dengan jari telunjuknya.
"Itu benar! Dan kami datang bukan untuk emncari masalah dengan kalian! Jadi, lepaskan kami!" kutepis tangannya dari daguku. "Jangan coba menyentuhku lagi dengan tangan baumu yang menjijikkan itu!" teriakku padanya.
"Kauu...!" desisnya penuh emosi.
"Jangan ganggu dia! Dia masih baru. Masih belum mengerti apa-apa." Ucap Kakashi demi menenangkannya.
"Jadi kau masih muda? Kau cantik sekali nona. Sayang kau seorang vampir!"
"Mana Neji?!" tanyaku tanpa memedulikan ucapannya.
"Dia sudah mati." Jawabnya dengan santai, seolah 'mati' adalah kata yang biasa baginya.
"Tidak mungkin!" seruku tak percaya.
"Aku serius, nona. Dan sebentar lagi adalah giliran kalian!" dia tertawa licik. Dikiranya dia sudah menang?
Dengan emosi yang tak stabil, kuterjang tubuhnya hingga membentur dinding goa dengan kerasnya. Melihat apa yang baru saja kulakukan pada ketua mereka, semua manusia yang ada disana berubah menjadi serigala seketika, begitu juga dengan Kiba yang telah bangkit. Amarah terlihat jelas dimatanya.
"Ggggrrrr...!"
Mereka menyerang kami bersamaan. Dengan susah payah aku dan Kakashi melawan mereka sekuat tenaga. Namun jumlah mereka terlalu banyak jika dibandingkan dengan kami. Berkali-kali kami terlempar akibat terjangan mereka dan hampir terkoyak akibat gigitan taring mereka. Dinding goa yang terus menerus terbentur makhluk-makhluk keras itu mulai bergoncang. Beberapa batu mulai terjatuh dari atap goa, namun kami terus bertarung tanpa memedulikan kondisi goa itu. Mereka terlalu banyak. Mereka terlalu kuat. Kami berdua sudah mulai kewalahan. Akhirnya Kakashi mulai berkonsentrasi dan dalam beberapa detik mereka sudah terdiam. Aku bingung, "Apa yang terjadi?" tanyaku heran.
"Mereka sedang terjebak dalam dunia ilusi yang kubuat. Kita harus bergegas mencari Neji sebelum efek ilusi itu menghilang!" seru Kakashi seraya melesat mencari Neji. Begitupula denganku.
...
Hampir seluruh ruangan yang ada di goa itu telah kujelajahi. Namun tak kutemukan sama sekali keberadaan Neji. Aku tak mengerti, aku bahkan tak bisa merasakan keberadaannya. Apa werewolf tadi sungguh-sungguh telah membunuh Neji? Tidak! Itu tidak mungkin! Segera kulanjutkan pencarianku, hingga akhirnya aku menemukan sesuatu.
"Neji?" gumamku.
Aku menunduk mendekati potongan sisa pakaian yang telah terbakar itu. Aku kini hanya bisa tertunduk lemah saat menyadari... itu adalah pakaian Neji.
Berarti... bekas terbakar itu... adalah bekas Neji yang dibakar para werewolf itu?
Sambil menahan air mata yang mulai menggenang agar tak sampai menetes, aku mulai mengumpulkan sisa-sisa abu Neji lalu memasukkannya kedalam sebuah botol yang masih kosong, dan melesat meninggalkan tempat itu setelah bertemu dengan Kakashi.
Kini aku sudah tak sanggup lagi menahan air mataku. Cairan bening itu mulai mengalir deras dari kedua pipiku. Bagaimana perasaan Hinata jika mengetahui hal ini? Dia pasti akan sangat terpukul. Kami terus berlari hingga keluar hutan. Dengan kecepatan penuh, Kakashi memacu mobilnya untuk segera kembali kerumah..
-V&W-
Kami baru tiba dirumah saat malam. Dapat kulihat Hinata melesat mendekati kami dengan berurai air mata. Apa dia tau soal Neji?
"Ino-chan, Otou-san. Mana Neji-niisan? Kenapa dia tak ikut pulang bersama kalian? Apa... apa... terjadi sesuatu padanya?"
"Hinata-chan..." Aku hanya bisa menangis sambil memeluknya. Kakashi mengeluarkan botol berisi abu Neji dan memberikannya pada Hinata.
Gadis itu menatap horor kearah abu tersebut, "Tou-san... jangan bilang ini..."
"Maaf, Hinata-chan. Kami terlambat.." ujarku lirih.
"Tidak! Tidak mungkin... TIDAK MUNGKIN!" teriaknya histeris. Airmata kini semakin deras membanjiri pipinya. Anggota keluarga yang lainpun hanya bisa terdiam dan menatap horor kearah botol yang dipegang Hinata.
Mendadak suasana menjadi dingin. Sangat dingin. Bahkan lebih dingin dari suhu tubuh kami. Aku tak mengerti. Apa yang terjadi?
To Be Continued...
Hola...! Kay balik nih dengan update'an fic ini. Kali ini updatenya kilat loh XD Tepar sebenernya ngetik ini dalam sehari -_- tapi apa boleh buat, Kay ngebet banget pengen update fic ini XD buat fic lainnya, ditunggu ya ^^a
Oh iya, Kay mau curhat sedikit nih, boleh kan? XD #Dilempar sendal
Gini loh, cuma mau bilang, Kay tadi ngiler banget waktu ngetik adegannya Ino yang ngehisap darah Kijang itu. Kayaknya mode vampire nya Kay muncul lagi gara-gara nulis fic ini deh ^^a
Udah sekian deh cuap-cuap dari Kay.
Arigatou gozaimashita buat yang udah RnR chapter 1 nya yah XD
Dan kalo boleh, Kay mau minta RnR lagi buat chapter kali ini ^^
Please? *Puppyeyes
