CHAPTER II
SATU PESERTA LAGI
Satu minggu setelah pembicaraan merepotkan itu, Shikamaru menemukan dirinya sedang berada di gedung utama pelaksanaan Turnamen. Menurut penjelasan yang diberikan oleh Hokage kelima, sebelum Turnamen dimulai, semua peserta harus berkumpul terlebih dahulu di gedung utama untuk diberikan penjelasan. Maka disinilah dia, duduk malas diantara para peserta lainnya.
Sebenarnya, tempat ini tidak bisa disebut gedung. Pikir Shikamaru. Mungkin akan lebih tepat bila disebut rumah. Atau gudang. Karena selain ukurannya yang kecil, tempat ini hanya mempunyai satu ruangan. Yah... mungkin sama besarnya dengan ruangan kelas Shikamaru saat masih di akademi dulu. Ditengah-tengah ruangan berjejer kursi dan meja, yang mengingatkan shikamaru pada seleksi tertulis ujian Chunin dulu. Namun bedanya, disetiap meja, terdapat papan kecil dengan lambang berbagai macam desa. Seperti meja yang ditempati Shikamaru, ada papan kecil dengan lambang Konoha diatasnya.
Hanya ada 10 meja yang tersedia. Itu berarti ada 10 peserta dari 10 desa yang mengikuti Turnamen ini. Shikamaru memperhatikan, hanya ada satu kursi yang belum terisi. Dia tidak tahu siapa dan dari desa mana, tapi yang jelas, orang ini pasti merepotkan. Karena berkat keterlambatannya, Turnamen ini terpaksa harus diundur lebih lama. Cih... padahal Shikamaru berharap Turnamen merepotkan ini bisa cepat selesai.
Pintu terbuka, lalu kira-kira selusin Shinobi berseragam ( yang diketahui Shikamaru sebagai seragam panitia) masuk kedalam ruangan dan berjejer didepan peserta. Salah seorang dari mereka maju satu langkah, semua hening.
"Saya mohon perhatiannya sebentar!" Semua orang menatapnya. "Sebagai ketua pelaksana, saya memberitahukan kepada anda bahwa Turnamen ini belum bisa dimulai sebelum semua peserta hadir"
Beberapa orang mulai ribut. Tapi si ketua pelaksana tidak menghiraukannya dan terus berbicara "saya harap anda semua untuk bersabar...."
"Bersabar??" potong seorang peserta. "yang benar saja... Butuh waktu empat hari perjalanan dari Iwagakure ke sini. Dan sekarang kami masih harus disuruh menunggu?"
"Benar!" Orang disebelahnya ikut menimbali, kali ini sambil berdiri. "Lagipula, yang belum datang hanya utusan dari Sunagakure kan? Bagaimana kalau dia memang tidak datang?
Ternyata tinggal utusan Sunagakure yang belum datang... tidak heran sih,,, Suna memang dipenuhi oleh orang-orang merepotkan. Pikir Shikamaru
"Apa maksud anda?" Si ketua pelaksana balik bertanya.
"Yah... kalian semua pasti tahu bagaimana keadaan Suna sekarang kan? Mereka sedang Krisis. Kazekage mereka baru saja kehilangan kekuatannya! Dan apa yang bisa diharapkan dari desa yang pemimpinnya sendiri tidak bisa melindungi diri? Mungkin Suna bukannya belum datang, tapi memang tidak bisa datang!"
Kata-kata tadi disambut anggukan setuju dari beberapa peserta lain. Para panitia pun mulai saling berbisik-bisik. Ada sedikit keraguan di wajah ketua pelaksana, namun dengan tenang dia berkata "Suna akan ikut Turnamen ini. Kazakage sudah mengirim kembali formulir pendaftarannya. Mereka sudah mengutus seorang wakilnya!"
"Tapi dimana dia sekarang?" Lagi-lagi shinobi Iwagakure itu yang bicara. "Aku menuntut ketegasan dari pihak panitia! Aku ingin peserta Suna ini Didiskualifikasi!"
Semua peserta berseru setuju. Minus Shikamaru tentunya, yang hanya menanggapi situasi ini dengan kuapan.
Merepotkan.... Pikirnya. Paling-paling mereka hanya mau menghilangkan satu saingan...
Si ketua pelaksana bimbang sesaat. Perkataan peserta ini ada benarnya. Mereka tidak tahu akan berapa lama lagi menunggu. Sedangkan saat ini, mereka sudah melenceng jauh sekali dari jadwal yang sudah ditetapkan sebelumnya. Akhirnya, dia memutuskan untuk berhenti menunggu. Dengan hembusan nafas berat, sang ketua maju dan berkata:
" Baiklah... Saya putuskan bahwa Sunagakure di...."
BRAK!!!
Pintu terbuka lebar. Seseorang berdiri didepannya. Sebagian cahaya dari luar ruangan yang tidak bisa masuk karena terhalang tubuhnya, membentuk sebuah siluet yang indah.
Orang itu masuk, berjalan dengan nafas tersengal menuju ke arah Panitia. Dia sama sekali tidak menghiraukan tatapan tajam orang-orang disana. Dia bahkan tidak tahu bahwa Shikamaru sedang menatapnya tak percaya dengan mulut terbuka.
"Maaf aku terlambat! Ada hal yang harus aku urus dulu!" Itulah kata-kata pertamanya setelah sampai didepan ruangan. Dia menjulurkan tangan ke arah ketua pelaksana, yang menyambutnya dengan senyum gembira.
"Sudah lama kami menunggu anda... Sabaku no Temari dari Sunagakure!"
_____________________________________________________________________
Suka ga suka ma ceritanya... review ya!!!!!
Plizzzz.......
