Chapter 2 – Smokes, Spice, and Everything Nice
Pertama kali ia merokok ketika ia masih berumur 12 tahun karena sangat ingin membuat dirinya dilihat sebagai orang 'dewasa' sebelum ditendang oleh Zeff yang waktu itu berteriak bahwa itu akan merusak indera perasanya. Namun Sanji tak percaya karena setelah bertahun-tahun menjadi chef, indera perasanya baik-baik saja. Ia mendengus dengan muka sombong. Sejak saat itu, ia tak pernah sekalipun sehari tanpa rokok. Asap rokok yang mengebul seakan menyelimuti kemanapun ia pergi. Manusia cerobong asap, jika kau ingin menyebutnya.
Zeff mengatakan padanya ketika ia masih kecil bahwa wanita adalah orang yang harus dijaga seperti permata. Ia tahu wanita bukan orang yang lemah, namun didalam otaknya sudah tertanam bahwa pria lah yang harus melindungi wanita. Sikap gentleman, namanya. Ia siap melakukan apapun demi wanita. Terkadang ia sadar bahwa ia dimanfaatkan—belikan ini, belikan itu, bawa ini, bawa itu, tapi mau bagaimana lagi dia adalah ksatria untuk setiap wanita. Ah~ tidakkah kalian setuju bahwa wanita adalah makhluk paling indah di dunia? Kulit yang halus, wajah yang cantik dan imut, suara mereka, kaki mereka, DADA mereka. Sanji mengelap hidungnya yang mimisan.
Hari ini ia ada kencan, Conis-chan meminta tolong untuk membantunya beres-beres untuk pindah. Ia telah bersiap-siap dengan sigap memakai hoodie biru kesayangannya dan celana jeans pendek. Ia juga telah 'meminta' izin kepada Zeff untuk memberikannya libur sehari—dengan tambahan tendangan oleh Zeff. Rumah Conis hanya 30 menit dari Baratie, kalau tidak macet.
Sanji menyalakan mobilnya sambil bersiul-siul senang.
Berdua dengan Conis-chan~ Ah~
"Hey, I just met you, and this is crazy. But here's my number so—"
"Keparat mana yang mengganti ringtone hp ku?" Sanji mendengus kesal mengangkat hp-nya.
Piik
"Apa, Carne?!"
"…."
"Haaaaahhhhh?! Tanya saja pada Patty atau si Pak tua itu! aku libur hari ini!"
"…"
"DALAM MIMPI MU"
"…"
"Kau menjiji-" ucapan Sanji dipotong danitu membuatnya naik darah.
"…"
"MATI SAJA KAU, SIA—" Sanji memotong sumpah serapahnya untuk membanting stir ke kanan untuk menghindari seorang bocah dan seorang lelaki yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Fuck, semoga mereka gak penyet. Bagus, sangat dramatis sekali seperti film.
Pikiran terakhirnya sebelum ia menabrak gedung.
zszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszsz
Ah, semuanya tenang.
Tidak ada suara kendaraan. Tidak ada suara klakson yang berlomba memekakkan telinga. Sangat sepi.
Apa aku sudah mati?
Tidak mungkin!
Bau cairan anti kuman yang sangat ia kenal menggelitik hidungnya. Matanya terbuka memandang langit-langit bewarna putih yang sangat membuatnya muak. Ia belum mati, syukurlah. Dia belum ingin mati, ia masih ingin menikah dengan wanita cantik dengan badan sexy dan berdada besar. Memiliki keluarganya sendiri, dengan anak-anak yang lucu. Rumah miliknya sendiri ditepi pantai. Ah, masa depannya sungguh indah.
Lagipula jika ia mati sia-sia, dia sangat yakin bahwa ayahnya akan menyeretnya dari neraka dan membunuhnya sekali lagi sambil mengatai dirinya idiot. Ayahnya sangat menakutkan dan mempunyai cara aneh untuk menunjukkan rasa sayang.
Ah, tunggu. Kenapa ia berada disini? Ia ingat sedang berada dimobilnya, sedang berteriak menelpon salah satu koki idiot, lalu… ah, apa? Ia menutup kembali matanya, ingin kembali tidur.
"Oi, aku tau kau sudah sadar, anak sialan," suara menggerutu yang sangat ia kenal.
"Diam, Pak tua sialan," jawabnya tak ada sopan-sopannya sama sekali.
"Cih, dasar anak tak berguna. Apa dosaku punya anak sepertimu?" balasnya lebih sinis.
"Oh, aku yakin dosamu banyak sekali. Salah satunya adalah penganiayaan anak! Huft!" ucap Sanji seraya berusaha untuk duduk.
"Kau bukan anak-anak lagi. Kau sudah tua. Berhenti menyusahkan dan menghabiskan uangku untuk menyelamatkan pantat kurus sialanmu itu, Eggplant," gerutu Zeff, memilin kumisnya yang panjang.
Sanji menghela nafas. Ayahnya benar, dia harus berhenti menyusahkan pak tua itu. Dia sudah sangat tua dan seharusnya ia menikmati hari-hari dimasa tuanya. Hei! Tapi ini bukan salah Sanji. Dia berusaha menyelamatkan bocah… yang… oh my God.
"Bocah itu! Astaga! Apa dia baik-baik saja?! Pak tua! Kau tahu sesuatu?!" panik menggerogoti jiwanya. Bagaimana kalau… kalau…
"Bocah? Mana aku tahu, idiot. Aku sedang memasak ketika Patty berteriak bahwa kau berada dirumah sakit karena kecelakaan," gerutu Zeff seraya melipat kedua tangannya.
Sanji menggeram, bagaimana nasib bocah… oh astaga, bukan hanya bocah itu… tapi lelaki yang berusaha menjadi pahlawan itu juga. Apa ia menabraknya? Apa ia akan masuk penjara? Dia sangat yakin kalau ia berhasil membanting stir sebelum mobilnya benar-benar melindas rata lelaki malang itu.
Zeff menatap malas anaknya yang sedang mempunyai perang batin. Anak semata wayangnya yang bodoh ini tak henti-hentinya membuat keributan dan membuatnya pusing.
"Memang apa yang terjadi? Kenapa kau bisa kecelakaan? Apa aku harus menyita mobil dan motor mu agar kau jalan kaki saja lain kali? Huh? Hei, jawab aku, bocah tengik," Zeff merocos membuat Sanji kesal.
"Cerewet, Pak tua! Bukan salahku kalau bocah itu tiba-tiba lari ke tengah jalan, aku membanting stirku ke kanan dan mobil ku menabrak gedung… aku tak tau apa lagi yang terjadi, tapi aku ingat ada seorang pria yang mencoba menjadi pahlawan. Aku tak tau kalau aku melindas penyet si brengsek itu," jawab Sanji sambil menatap infus yang berada ditangan nya. Ia tak berani menatap Zeff, dan ia tidak tau kenapa.
Zeff menghela nafas. Ia sangat yakin biaya yang harus dikeluarkan sangat besar.
"Kalau kau masuk penjara dan harus mengeluarkan biaya tambahan, aku tak peduli. Pakai uangmu sendiri," Zeff menggerutu sebal.
"Tutup mulut mu, Pak tua. Lebih baik kau tanyakan suster apakah ada pasien yang dilarikan kesini karena kecelakaan selain aku," usir Sanji seraya mengibas-ngibaskan tangannya.
Zeff memutar kedua bola matanya jenuh. Ia bangkit dari kursi dan keluar untuk menyakan pada suster atau dokter yang ada dan meninggalkan Sanji dengan pikirannya.
Perasaan bersalah menggerogoti diri Sanji perlahan, ia takut kalau terjadi apa-apa pada bocah kecil dan lelaki itu.
"Ada yang masuk kemarin, dua orang. Anak kecil dan seorang pria. Yang benar saja, Eggplant. Kau hampir melindas penyet dua orang. Kemana matamu, hah?" gerutu Zeff seraya menutup pintu.
"… Apakah mereka terluka parah?" Sanji bertanya dengan nada yang sedikit khawatir.
"Anak kecil itu tidak apa-apa, hanya lecet. Si lelaki itu terluka dan tangan kirinya patah karena terserempet mobilmu. Untung tak ada yang mati," jawab Zeff.
Sanji menghela nafas sedikit lega mendengar perkataan Zeff, dia akan merasa sangat sedih jika salah satu dari mereka terluka sangat parah atau mati. Dia akan meminta maaf dan akan menanggung biaya yang diperlukan! Ia berjanji.
"Kalau kau berniat untuk menjenguk, mereka sudah pulang. Mereka tidak pingsan sepertimu, terong lemah. Padahal kau hanya terbentur dan lecet," Zeff menunjuk hidung Sanji dan menyentil jidatnya. Sanji menepis tangan Zeff kasar. Ia paling tidak suka ketika di panggil dengan sebutan 'terong'.
"Berisik! Ini kan aku mau pulang!"
zszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszs
Setelah selesai dengan semua tetek bengek rumah sakit, ia dan Zeff kembali ke rumah dengan taxi karena Zeff sudah tak pernah mengendarai mobil sejak kehilangan kakinya. Kaki Sanji bergoyang-goyang gelisah karena ia dilarang merokok didalam mobil.
Mereka sampai disebuah restoran dengan kepala ikan besar didepan pintu masuknya. The Baratie adalah restoran ternama milik Zeff. Makanan disana sangat enak dan kau harus memesan tempat seminggu lebih awal—atau bahkan beberapa bulan, karena tempat itu selalu ramai oleh konsumen kelas atas. Pada hari-hari tertentu atau ada acara tertentu, para koki bisa membuatkan masakan istimewa yang tak ada dimenu berdasarkan apa yang menurut mereka cocok dengan si pembeli. Ruang makan di Baratie sangat elegan dengan meja bundar yang tersusun rapi. Kau juga bisa memesan tempat yang tertutup,
The Baratie terdiri dari dua lantai dan lantai atas adalah rumah mereka. Restoran impian Zeff sejak lama, dan impian Sanji juga—mungkin. Sanji tak tau apa yang akan ia lakukan jika bukan bekerja di Baratie, dia terlalu banyak menyusahkan Zeff di sepanjang hidupnya dan ia berhutang banyak pada Zeff. Pak tua itu sudah melakukan banyak hal untuknya, mulai dari memungutnya dari jalan dan membesarkannya sampai sekarang.
"Jangan lupa untuk kemas barang-barangmu dan pindah dari sini. Aku sudah mencarikan tempat untukmu dengan harga yang murah," celetuk Zeff seraya menaiki tangga ke lantai dua. Pernyataan itu mengejutkan Sanji walau Zeff dulu pernah bilang bahwa dia akan mengusirnya keluar kalau dia buat masalah. Tapi, dulu ia pikir itu hanyalah gertakan biasa.
"Hah?! Sejak kapan kau mencarikanku tempat tinggal baru?! Aku tidak mau pindah! Ini rumahku!" Sanji berteriak seraya mengunci pintu restoran.
"RumahKU, eggplant. Ini rumahku, ini impianku. Cari rumah dan impianmu sendiri. Kau sudah cukup tua untuk itu. Lagipula jika kau disini terus, kau akan terus merepotkanku dan menghabiskan uangku," Jawab Zeff.
"Apa ini karena aku menabrak orang? Zeff, please."
"Tidak juga. Walau itu juga termasuk alasannya. Tenang saja, salah satu anak yang menempati rumah itu adalah cucu temanku," jawab Zeff santai.
"Ta-tapi! Bagaimana dengan restoran? Kau membutuhkanku! Masakanku lebih enak daripada koki-koki keparat itu! Kau tau itu,'kan?!" Sanji berteriak marah, tak percaya bahwa ayahnya mengusirnya dari rumah mereka.
"Jangan besar kepala, shrimp. Apa kau tidak ingat kalau aku sangat sering mengatakan bahwa makananmu ampas? Lagipula, selama ada aku isi restoran akan sangat baik-baik saja," jawab Zeff santai.
"FINE! AKU SUMPAHI RESTORANMU BANGKRUT!" Sanji tiba-tiba berteriak dengan suara yang lebih kencang dan sedikit mengejutkan Zeff.
"Hish, mungkin jika kau tidak ada disini, telingaku akan lebih baik dan tidak sakit karena teriakan-teriakanmu itu."
"Aku sumpahi gendang telingamu jatuh!"
"… Zeff… kau tidak serius,'kan?"
"Aku serius, Sanji"
Sanji terkejut karena Zeff sangat jarang memanggilnya dengan nama asli. Itu menandakan bahwa ia benar-benar serius. Sanji menghela nafas panjang, ayahnya sama keras kepalanya seperti dirinya.
"Tapi… restoran…"
"Eggplant, setidaknya lihat dulu tempat barunya. Serius, Sanji. Kau masih bisa ke restoran, anak idiot. Aku tak pernah bilang kalau kau dipecat."
Oh.
OH.
"Oh."
Zeff memutar bola matanya malas. Yup, anaknya memang benar-benar idiot. Ia juga tidak mungkin memecat anaknya sebelum ia mendapat pekerjaan baru atau membuka restoran baru.
"Iya, oh. Istirahat dan jangan lupa kemas barangmu. Hari rabu kita akan pergi kesana," sahut Zeff sebelum menutup pintu kamarnya, meninggalkan Sanji dengan tampang bodoh didepan pintu kamarnya.
Sanji memandang pintu itu beberapa saat sampai jiwanya kembali lagi ke bumi.
Oh.
Dia tidak dipecat, hanya ditendang keluar dari rumah. Tunggu dulu. . . dimana tepatnya tempat tinggal barunya? Ia menggeram kesal, dia terlalu sibuk dengan pikiran bahwa ia dipecat sampai lupa untuk menanyakan dimana rumah itu. Dia tidak punya kendaraan, for God's sake! Bagaimana kalau jauh? Bagaimana ia bisa ke Baratie tanpa kendaraan? Taxi? Bus? Yang benar saja.
Ingin rasanya ia menggedor pintu kamar Zeff, tapi ia tau kalau ia lakukan itu, kaki kayu Zeff akan membuatnya langsung terjun ke neraka. Ia menghela nafas panjang dan berjalan ke kamarnya. Masa' bodoh dengan beres-beres, ia ingin tidur!
zszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszszsszszszs
Sanji mematikan alarm jam yang berada dimeja kecil di samping kasurnya. Mengulet dan mengucek matanya untuk mencoba menghilangkan rasa kantuk.
"STRING BEAN! BANGUN!"
"BERISIK, PAK TUA!"
Sanji memijat keningnya seraya menghela nafas dan mengusap wajahnya dramatis.
Jika pak tua itu tidak mati lebih dulu, maka aku yang mati lebih awal.
Sanji bersiap-siap dengan sigap untuk menjalani pekerjaan sehari-harinya. Mandi, sedikit bercukur, dan hal-hal lain yang semua pria—mungkin tidak—lakukan dipagi hari. You know.
Setelah bersiap-siap dan sedikit sarapan, ia segera ke dapur yang berisi teriakan-teriakan sumpah serapah yang mungkin akan membuat pelaut tersipu.
"SELAMAT PAGI, KOKI-KOKI PAYAH!" teriak Sanji yang disambut dengan sumpahan juga.
"JANGAN MEROKOK, KEPARAT!" Patty berteriak seraya mengayun-ayunkan sendok sup belumuran busa sabun ke Sanji.
"SUKA-SUKA AKU, POPEYE-WANNABE!" balas Sanji sambil menghembuskan asap rokoknya ke arah Patty sebelum ia didepak oleh Zeff atas alasan yang sama. Patty menyeringai.
Sanji mendengus kesal dan segera keluar dari pintu bekalang Baratie untuk menyelesaikan asupan rokok paginya. Ia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 6.30 pagi. Udara pagi membuatnya menggigil sedikit. Ia menggosok kedua tangannya sebelum menginjak puntung rokok dan kembali masuk.
Hmm, 6.45…
Keseharian di Baratie sangat sibuk, mulai dari pagi buka pada jam 7 sampai tutup pada jam 10 malam. Tempat itu ramai setiap hari, tidak pernah—TIDAK PERNAH—sepi sama sekali. Selain terkenal dengan masakannya yang luar biasa enak, Baratie juga terkenal dengan koki-koki yang berisik yang suka bersumpah serapah dan bertampang menyeramkan. Walau begitu, itu lah yang membuat Baratie sangat unik.
Jam 7 adalah waktunya sarapan, dan biasanya Baratie sudah mulai penuh dengan orang-orang yang terlalu rajin bangun pagi untuk membeli sarapan.
"Umm.. kalian sudah buka kan?" seorang gadis berambut oranye dengan jaket coklat tebal mendorong pintu utama Baratie. Telinga Sanji langsung menangkap suara merdu seorang wanita, dania langsung 'melayang' kedepan.
"My Lady~ iya, kami sudah buka. Baratie akan buka untukmu, bunga indahku~ mau pesan apa~?" Sanji tersenyum lebar ke gadis itu.
"DAGING! NAMI! AKU MAU DAGING!" seorang lelaki mengagetkan Sanji dengan suaranya yang keras.
"Luffy?"
A/N : hahahahha ada yang baca XD terimakasih atas review nya! Maaf sudah menunda ini satahun /ga/. Aku akan mencoba untuk apdet sebulan sekali setiap chapter.
Anyway, please don't kill me for the cliff hanger!
