Terima Kasih
.
.
.
Casts : Jongin, Sehun, EXO members
Pairing : KaiHun (Kai x Sehun)
Genre : romance, angst, fluff
Rated : T Length : chaptered
Warning : boys love, don't like don't read, don't plagiarism please
Chapter 2
Sebentar lagi valentine.
Terdengar gumaman-gumaman di seluruh penjuru kelas Sehun dan Jongin. Membicarakan cokelat dan seseorang yang akan mereka beri —tentu saja.
Sehun mendengus malas lalu melanjutkan mengerjakan soal matematika di hadapannya. Tidak terpengaruh sama sekali dengan kebisingan di sekelilingnya.
"—ssst" Jongin menusuk-nusuk pipi Sehun dengan menggunakan jari telunjuknya. Membuat konsentrasinya buyar seketika.
"MWO?!" pekiknya marah. Dia menutup buku matematikanya kesal.
Jongin justru terkikik. "—apa kau akan memberikan cokelat pada seseorang tahun ini?" tanya Jongin penuh harap. Semenjak dulu Sehun tidak pernah memberikan cokelat pada siapapun —termasuk dirinya. Malas katanya. Padahal Jongin sudah berharap setengah mati untuk dapat menikmati cokelat buatan Sehun.
Diluar dugaan, kini Sehun terlihat terkejut. Matanya bergerak gugup. "a-aku? Tt-tentu saja tidak—" ucapnya terbata. Benar-benar mencurigakan!
"—kau akan memberikan cokelat?" tebak Jongin telak. Sehun tidak pintar berbohong.
Sehun tambah gugup. Dia menatap Jongin di depannya yang tertawa penuh kemenangan lalu menghembuskan napas pelan. Sehun rasa tidak ada yang bisa ia tutupi dari Jongin, cepat atau lambat dia akan mengetahuinya juga.
"ya—" ucapnya pada akhirnya.
Mata Jongin melebar sempurna. "Siapa, siapa orang yang beruntung itu?" tanyanya tak sabar. Jongin berharap bahwa 'orang itu' adalah dia. Jongin pasti akan sangat senang jika mendapat cokelat dari Sehun.
Sehun terdiam sebentar, terlihat menerawang. "Kris sunbaenim—" ucapnya pelan setengah berbisik. Terlihat rona merah samar menjalar di pipinya. Berbanding terbalik dengan Jongin saat ini. Jongin bersumpah dia bisa mendengar suara retakan hatinya.
Ternyata orang lain—
"Kau menyukainya ya?" ucapan Jongin memelan, sorot matanya terlihat kecewa.
Sehun menatap Jongin. Lalu mengangguk malu-malu. Ini pertama kali dia menyukai seseorang dan Jongin adalah orang pertama yang ia beri tahu.
"Jongin, Jongin, kau kenapa?" Sehun mengguncang tubuh Jongin pelan. Dia khawatir, tiba-tiba saja Jongin menjadi terdiam seperti ini.
"Eh—aku tidak apa-apa" Jongin tersadar lalu nyengir lebar, menutupi hatinya yang terasa begitu pedih saat ini. Ternyata begini rasanya, bertepuk sebelah tangan— menyakitkan.
"Jangan melamun, apa kau sakit?" Sehun bertanya khawatir.
Jongin menggeleng pelan, lalu beringsut mundur. "—aku harus pergi ke kamar kecil sekarang" dia tersenyum pahit. Dia harus menjauhan dirinya dari Sehun sekarang atau dia akan semakin terluka nantinya.
Brukk
Jongin terjatuh lagi, padahal belum lima langkah dari bangkunya, tapi dia sudah terjatuh lagi.
"kau tidak apa-apa?" Sehun berlari menghampiri Jongin yang meringis kesakitan, dan membantunya berdiri.
Jongin menepis tangan Sehun pelan. "—tidak apa-apa, aku bisa sendiri" lalu berjalan tertatih meninggalkan Sehun yang begitu terkejut di tempatnya. Dia terpaku, Jongin tidak pernah menolaknya sebelumnya. Kenapa—?
Rasanya sakit.
o-o-o-o-o-o
Jongin menghempaskan tubuhnya kasar di lantai atap sekolah yang terasa hangat. Musim semi telah datang, udara sekitar terasa hangat dengan wangi bunga semerbak dimana-mana. Ia berbohong pada Sehun, nyatanya ia tidak pergi ke kamar kecil tapi justru ke atap sekolah.
Mata Jongin menatap langit biru yang membentang luas di hadapannya. Pandangannya menerawang.
Akhirnya hari ini tiba.
Hari yang ditakutkan Jongin.
Sehun menyukai seseorang. Terlihat begitu jelas karena rona merah yang begitu kentara tadi tercetak di pipi putihnya ketika ia membicarakan tentang 'seseorang' tadi —Kris Wu.
Jongin mendengus kasar, dia tidak akan berhasil. Kris Wu begitu populer, tinggi, tampan, kaya, pintar, dan merupakan kapten basket di sekolah mereka. Dia sempurna. Dan itu merupakan salah satu fakta yang Jongin benci karena dia adalah saingannya.
Pemujaan Jongin terhadap Sehun samasekali tidak berkurang walaupun ia tahu bahwa Sehun tidak meliriknya dan mereka hanya sebatas —sahabat. Ia akan selalu menyukai Sehun walaupun beribu-ribu tahun kemudian mereka terlahir kembali dan sosok Sehun akan selalu membuatnya jatuh cinta kembali.
Pandangan Jongin berubah sayu. Cokelat— Sebenarnya Jongin ingin sekali benda itu. Apalagi jika dari Sehun. Mengapa dia jadi menyedihkan seperti ini? Hanya karena Sehun tidak memberikannya cokelat valentine besok lalu dia jadi murung, begitu? —tapi memang begitulah nyatanya sekarang. Seandainya Sehun memberikannya cokelat besok, walaupun cokelat sisa atau apapun itu, setidaknya ia akan sedikit terhibur? Dia akan menjaganya seumur hidup! Setidaknya itu pertanda bahwa Sehun menyayanginya bukan? Meskipun ia tidak akan membalas perasaannya...
Jongin memejamkan matanya.
Ia tidak punya banyak waktu lagi.
o-o-o-o-o-o
"Jongin, Jongin, bangun" Jongin menggeliat pelan ketika dirasanya tubuhnya diguncang oleh seseorang. Dia mengerjapkan matanya, membiasakan diri dengan cahanya menyilaukan yang merasuki matanya.
"Sehun?" gumamnya pelan, masih belum tersadar sepenuhnya. Samar-samar dilihatnya sosok ramping berkulit pucat itu di sampingnya.
"Iya, ini aku. Cepat bangun. Kau mau sampai kapan tidur di sini?" Jongin mendengar sedkit nada kesal yang dibuat-buat dalam suaranya. Jongin akhirnya tersadar sepenuhnya.
"Bagaimana kau tahu aku ada di sini?" tanya Jongin, dia lalu berdiri dan menepuk-nepuk seragamnya. Membebaskannya dari debu yang menempel.
"Huh?! Aku tadi mencarimu dimana-mana sampai aku menemukan tempat ini" Sehun mencubit pinggang Jongin kesal.
"Aw—itu sakit" Jongin meringis lalu mengusap pinggangnya pelan, berusaha menghilangkan rasa pedas yang Sehun buat. "—kau kenapa sih?" tiba-tiba mata Jongin melebar, dia terpaku. Sehun —menangis?
"—hei maaf aku—"
"dasar bodoh—" Sehun berkata sambil mengusap air matanya kasar. Dia menatap Jongin tajam. "—aku benar-benar khawatir."
"Maaf—" Jongin berkata pelan. Dia mendudukkan dirinya di samping pemuda itu.
"kenapa tidak mengangkat teleponku? Aku hampir gila karena mencarimu tadi" dia merosot ke lantai atap sekolah dan memeluk lututnya. Bergetar. Setengah hari tanpa Jongin membuatnya —kesepian?
"Aku ketiduran" Jongin merapatkan tubuhnya mendekati Sehun yang kini terlihat menyedihkan, lalu mengusap rambutnya lembut. "—jangan menangis"
Sehun menggenggam tangan Jongin yang berada kepalanya, lalu menggenggamnya erat. "—jangan pergi"
Jongin tersenyum pahit. "Sehun—"
"Jangan pergi tanpa bilang padaku lagi, jangan berbohong lagi—" Sehun terisak, dia menangis dan menggenggam tangan Jongin erat.
Jongin tidak tau, betapa senangnya Sehun ketika menemukan pria itu di atap tadi. Betapa paniknya ia ketika Jongin tak kunjung kembali ke kelas. Betapa ia begitu khawatr karena tak menemukan pria itu di manapun sampai bel pulang telah berbunyi—
—betapa ia sangat bersyukur Jongin ada di sampingnya dan tersenyum padanya saat ini.
Jongin mengusap punggung Sehun pelan, menenangkannya. Dan ketika Sehun tiba-tiba menariknya dalam sebuah pelukan, Jongin tak dapat menahan dirinya lagi.
Dia membalas pelukan itu. "aku menyukaimu—" bisiknya begitu pelan. "—sangat"
Dan Jongin rasa suaranya hanyalah sebuah angin lalu karena Sehun samasekali tidak bergerak untuk menanggapinya.
Dia perlahan melepas pelukan mereka.
Sehun tertidur.
Jongin tersenyum geli. Dia mengusap jejak air mata yang merusak wajah cantiknya dengan penuh kasih lalu menggendong pemuda kurus itu di punggungnya, mengantarkannya pulang. Jongin harap dia tidak terjatuh hari ini, karena ia membawa seseorang yang begitu berharga dalam dekapannya sekarang.
o-o-o-o-o-o
Ini hari valentine.
Semenjak kejadian di atap tempo lalu, hubungan Sehun dan Jongin kembali seperti biasa. Tidak mengungkit-ungkit kejadian itu lagi dan mereka hanya menyimpannya sebagai suatu kenangan di hati masing-masing.
"Jongin" kali ini Sehun yang membuka percakapan di antara mereka. Kelas sudah berakhir dan kini hanya tinggal mereka berdua
"Hmm?" Jongin tidak mengalihkan pandangannya dari sebatang cokelat yang ada di genggamannya saat ini. Itu cokelat pertama yang dia terima selama hidupnya sekaligus satu-satunya cokelat yang dia terima hari ini. Dari Ha Young—adik kelasnya yang tiba-tiba mendatanginya tadi pagi ketika ia tiba di depan lokernya lalu menyerahkan cokelat dengan bungkus yang manis ini kepadanya.
"Jongin—" panggil Sehun lagi. Dia cemberut, Jongin sama sekali tidak menoleh padanya dan hanya senyum-senyum gila karena sebatang cokelat yang dia terima hari ini. Sehun mendengus, cokelat yang diterimanya bahkan 10x lipat lebih sedikit dari Luhan. Lihat, di laci anak itu bahkan sudah terlalu penuh dengan cokelat para penggemarnya. Tapi dia hanya bersikap biasa saja, tidak seperti Jongin—yang kelihatan begitu bahagia hanya karena sebatang cokelat.
"Hahaha—" kali ini Jongin malah tertawa sambil memeluk cokelat di genggamannya dengan erat —seolah itu adalah benda paling berharga baginya saat ini. Sehun merengut, dia kalah oleh sebatang cokelat? Menggelikan sekali.
Pletakk
"Jongin!" Sehun memukul kepala anak itu kuat-kuat saking kesalnya karena diacuhkan sejak tadi.
"Uh—" Jongin memekik. Dia sontak memegang kepalanya yang kena pukul Sehun. "—sakit tau!" protesnya.
"Kenapa kau mengacuhkanku?!" bentak Sehun kesal.
"Aku tidak mengacuhkanmu" kilah Jongin.
"Iya kau mengacukanku!"
"Tidak"
"Iya"
"Tidak"
"Iya"
"Ti—"
"Cukup!" Sehun berteriak kesal. "dari tadi kau hanya memerhatikan cokelatmu itu" tunjuknya, dadanya naik turun menahan marah.
"Hah? Aku?" ucap Jongin terlihat bingung. Tahu-tahu dimarahi seperti ini oleh sahabatmu, siapa yang tidak bingung coba?
"IYA!"
"Maaf, maaf aku terlalu senang, ini cokelat pertamaku. Kau tahu?" ujarnya berbinar-binar lalu memerhatikan cokelat itu lagi. Mengaguminya.
"ISHH, KAU MENYEBALKAN!" Sehun mencubit lengan Jongin keras-keras lalu menghentak-hentakkan kakinya kesal.
"Hei—Kau cemburu?" Jongin berkata jahil.
"A-apa?" Sehun gelagapan. "Tidak, bodoh!" dia lalu menenggelamkan kepalanya diantara kedua tangannya, tidak ingin Jongin melihat wajahnya yang memerah saat ini.
"Mengaku saja" Jongin menggoyang-goyangkan tubuh Sehun yang bergelung seperti bola di bangkunya dengan jahil.
"Tidak"
Jongin menghela napas. "Ya sudah—" mana mungkin Sehun cemburu? benar kan?
"Siapa?" samar-samar Jongin mendengar Sehun bertanya dalam suara pelan. Tidak begitu jelas karena tangannya menutupi mulutnya.
"Hn?" Jongin tidak mengerti.
"Siapa yang memberimu cokelat itu?" ulang Sehun lalu mengangkat kepalanya menghadap Jongin.
"Oh, Ha Young—" jawab Jongin sambil tertawa. Dan Sehun sedikit tidak senang mendengar nama itu. Jongin tidak pernah menyebut nama orang lain selain dirinya dengan begitu lembut. Dia, dia kesal—!
Hei tunggu, apa ia cem-bu-ru barusan?
Noooooo!
"Kau suka? Aku pikir kau tidak suka cokelat—" tanya Sehun setelah berhasil mengendalikan pikiran gilanya.
Jongin mengangguk. "Tentu saja aku suka, kenapa?" kini giliran ia yang bingung.
"Kau menolak cokelatku waktu itu—" ucap Sehun memelan. Ingatannya kembali ke masa lalu ketika mereka masih sekolah dasar. Sehun memberikan sekotak cokelat pada Jongin tepat pada hari valentine juga. Tapi Jongin justru berkata '—untukmu saja' dan menolak cokelat itu. Bukankah itu berarti dia tidak suka cokelat? Makannya Sehun tidak pernah memberikan cokelat pada Jongin selama bertahun-tahun di hari valentine walaupun Jongin merupakan satu-satunya orang yang 'mungkin' akan diberikannya cokelat karena dia merupakan sahabatnya. —takut ditolak kembali. Trauma.
"Kapan?" kini Jongin menatap Sehun serius.
"Dulu, waktu sekolah dasar"
"Oh—" Jongin menepuk jidatnya, dia ingat. "—itu karena aku telah memakan berkotak-kotak cokelat milik kakakku sehari sebelumnya, sehingga keesokan harinya aku benar-benar malas melihat cokelat lagi, hehe" Jongin berkata kalem.
Sehun melotot.
Jadi hanya karena itu?
"Oh" balas Sehun singkat, tidak tahu harus berucap apapun lagi. Tahu begitu dia seharusnya memberikan Jongin cokelat tahun-tahun sebelumnya. Dia kan sahabat terbaik Sehun.
"Ngomong-ngomong— apa yang ingin kau bicarakan tadi?" ucapan Jongin membuyarkan lamunan Sehun.
"Eh—mm, aku tidak bisa pulang bersamamu hari ini. Aku akan pulang bersama Kris sunbaenim, dan lagi aku—" ucapan Sehun menggantung.
"akan memberinya cokelat?" ucap Jongin membantu.
"Ya—" Sehun memainkan tangannya, tidak berani menatap Jongin. Ada apa sih dengannya? "apa kau— keberatan?" lanjut Sehun gugup. Ini pertama kali dia tidak pulang bersama Jongin karena pergi dengan orang lain, biasanya mereka selalu pulang bersama kecuali ada kegiatan club berbeda yang mereka lakukan.
"Kenapa bertanya padaku? Tentu saja boleh" Jongin tertawa, berusaha keras agar tidak terlihat kecewa. Dia sudah memutuskan untuk tidak bersikap kekanakan lagi mulai sekarang. Mungkin dia harus menyerah—?
Kebahagiaan Sehun lebih penting.
"Benarkah?" Sehun berbinar, matanya berkelip lucu.
Jongin mengangguk meyakinkan. "Kurasa itu bisa membantu hubunganmu dengannya, buat Kris menyatakan cinta padamu dengan cepat" Jongin memberikan semangat.
"Terima kasih, hehe" Sehun memeluk Jongin erat-erat. Dia memang yang terbaik!
"Iya, iya, lepaskan aku, kau mencekikku" Jongin berkata dengan susah payah, terlalu erat~
Sehun tertawa lalu melepaskan pelukannya. "Bye Jongin" dia lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan tergesa menuju pintu keluar. Tapi belum lima langkah tiba-tiba dia menoleh. "—berhati-hatilah di jalan. Jangan sampai terjatuh lagi" Sehun melambaikan tangannya lalu kembali berlari secepat kilat meninggalkan Jongin di sana sendiri.
Jongin tersenyum, Sehun memang perhatian.
Perlahan senyumnya memudar, dia meletakkan punggung tangannya menutupi matanya dan menghembuskan napas dengan kasar. "—lihatlah, betapa menyedihkannya dirimu Kim"
Dan Sehun tidak akan pernah tahu, bagaimana terlukanya ia saat ini.
Bersambung
I'm back :v Terima kasih udah memberi review di chapter kemarin, saya sangat senang. Saya gak nyangka kalian mau mampir dan review, itu berkesan banget. Maaf gak bisa bales, saya sibuk belakangan ini. Momo-sok-sibuk-mode.
Sekian aja dari saya. Momo harap kalian tuangkan pendapat tentang chapter ini di kotak review ya.
Momo
