FF REQUEST
Fic request dari Koukei Harumi, dia yang nentuin Cast-nya, dia yang buat plot-nya tapi sudah ku ubah beberapa. Jadi katakanlah ini gabungan ide-ku dan Koukei Harumi.
.
Tittle: SHARE
Cast: Kris, Suho, Luhan.
Warn: YAOI, M-PREG. Crack Pair
.
Menjadi jahat tak membuatku bahagia. Dia bersamaku tapi rasa takut itu tetap ada, aku benci seperti ini–Suho
Apa benar itu cinta? Tapi aku yakin aku mencintai istriku–Kris
Kenapa aku yang terlihat sebagai tersangka? Mungkin aku juga salah tapi bolehkah kusebut diriku korban?–Luhan
.
.
Luhan diam. Jantungnya tak tenang, ia teringat Suho tapi ia juga tak mampu memungkiri rasa hangat pelukan Kris. Ia tak ingin tapi ia suka, ia ingin berontak tapi ia tak mampu. Akhirnya ia memilih diam, dan memejamkan matanya.
'Umma tau kau menyukainya, baby. Umma juga merasakannya.' Batinnya.
Luhan tak mampu menolak kehangatan pelukan Kris. Ia kini terdiam, membiarkan Kris memeluknya. Ia serasa ingin menangis. Hatinya berkecamuk, menolak tindakan Kris padanya tapi bagian lain dari hatinya merasa hangat.
"Aku tak tau kalau memelukmu bisa senyaman ini, Lu." Gumam Kris pelan, masih tak merubah posisinya.
Suara Kris menginterupsi perang batin Luhan. "Pertama kali kau memelukku saat kau mabuk berat dan melakan 'itu' padaku. Jadi kau tak mungkin mengingatnya." Balasnya.
Kris melepas pelukannya, perkataan Luhan seperti sindiran baginya. "Maafkan aku, Luhan."
"Sudahlah, Kris. Aku tak apa, kita sudah bersahabat lama dan aku tak bisa marah padamu."
Luhan menghela nafas dan kembali melanjutkan kalimatnya. "Lagi pula aku bahagia dengan kehadirannya. Aku tak pernah menganggapnya beban, karena kelak dia juga yang akan menemaniku. Aku akan menghabiskan hidupku bersamanya, hanya aku dan anakku." Gumamnya dengan tangan yang memegangi perutnya.
"Jangan lupakan bahwa dia punya seorang ayah." Ujar Kris.
"Dan jangan lupakan bahwa kau punya istri."
"Kumohon mengertilah, Luhan. Aku ayahnya dan kau tak bisa menghapuskan fakta itu. Aku juga ingin merawat dan melihatnya tumbuh. Aku juga punya hak untuk itu, dia juga anakku."
"Aku juga memohon padamu, berhenti menggunakan kata 'Anakku' pada anakku. Dia milikku, kau punya Suho dan ia pasti akan sakit jika mendengarmu memanggil anakku dengan panggilan 'anakku' juga."
Luhan, mengatur nafasnya sejenak. "Aku menyayangi Suho, bagaimanapun dia pasti merasa sakit karena kejadian itu. Tapi dia malah memperlakukanku seperti keluarganya sendiri. Aku tak ingin membalas kebaikannya dengan menambah rasa sakitnya. Dan aku yakin kau juga tak ingin Suho terluka, kan?!" Lanjutnya.
Kris terdiam. Benar kata Luhan, ia tak boleh menambahkan luka di hati Suho. Tapi haruskah ia menyangkal fakta bahwa anak di perut Luhan juga anaknya? Haruskah ia melakukan itu saat nalurinya sebagai seorang ayah meyuruhnya untuk melindungi anak, dan juga ibu dari anaknya? Tapi bagaimana dengan Suho, ia juga sangat mencintai Suho.
Kris menghela nafas berat, semua terasa semakin rumit. Tak bisakah ia memiliki semuanya tanpa mengorbankan salah satunya, termasuk dirinya sendiri?
"Aku hanya ingin menebus rasa bersalahku." Bisiknya.
Luhan menggenggam tangan Kris. "Kau tak perlu melakukannya, yang perlu kau lakukan hanya menjaga Suho agar tak terluka. Dia prioritas utamamu karena dia istrimu dan aku sahabatmu akan selalu mendukungmu."
Kris balas menggenggam tangan Luhan, ia berbalik menatap Luhan penuh kasih.
"Terimakasih Luhan."
.
Suho heran pada Kris dan Luhan, mereka tampak lebih akrab setelah ditinggal berdua seharian. Perkembangan yang bagus sebenarnya tapi seiring berjalannya waktu rasa takut mulai tumbuh di hati Suho. Rasa takut jika Kris meninggalkannya demi anaknya bersama Luhan.
Suho tau bahwa Luhan juga tanggung jawab Kris karena Luhan sedang mengandung anak Kris sekarang, jadi seharusnya perkembangan mereka itu adalah kabar bahagia. Dalam hatinya Suho juga merasa bahagia, sangat bahagia tapi rasa cemburu dan takut lebih mendominasi. Ia bisa saja memaksa Kris 'lagi' untuk menikahi Luhan, tapi ia sedang belajar menjadi jahat. Jika kemarin ia menyuruh Kris menikahi Luhan, sekarang tidak lagi, ia mencoba mempertahankan Kris untuk dirinya sendiri.
Suho menghela nafas. Ia tau ia salah dengan menjadi jahat. Tapi ia harus bagaimana jika ia dihantui ketakutan, rasa takut kehilangan Kris. Ia takut Kris meninggalkannya. Kedua orang tuanya sudah meninggal dan ia hanya mempunyai Kris.
Ia semakin takut, Kris bahkan pulang kerja lebih awal setiap harinya. Ia lebih banyak tersenyum pada Luhan, dan juga ia mulai perhatian pada namja cantik itu. Meski perhatian Kris pada dirinya lebih besar, meski Kris lebih banyak meluangkan waktu untuk dirinya dari pada Luhan, meski sebenarnya ia juga merasa senang karena hubungan Kris dan Luhan membaik tapi rasa tak suka juga tetap ada jika melihat hal itu.
Suho tak mengerti kenapa ia menjadi seperti ini. Hatinya seperti tertutup kabut, menyembunyikan rasa sayangnya pada Luhan.
Suho tak lagi memperhatikan Luhan seperti dulu, ia tak lagi memberikan ceramah panjang lebar pada Luhan, tak lagi mengajak Luhan memeriksakan kandungannya. Ia juga seperti menghindari Luhan dan lebih sering meninggalkannya sendiri saat Kris bekerja.
Dan Suho tau, dia sudah jahat.
.
"Kris~" Panggil Suho manja. Mereka sedang berbaring di kasur mereka sambil berbagi kehangatan melalui pelukan.
"Hmm." Gumam Kris. Ia mengelus rambut Suho lembut.
"Kenapa kau tiba-tiba berubah pada Luhan? Kemarin-kemarin kau tak terlalu banyak bicara padanya." Keluh Suho.
Kris tersenyum, Suho cemburu sepertinya. "Dia masih sahabatku juga, kan. Apalagi ia seperti ini karenaku, itu sebagai pertanggung jawabanku dan permintaan maaf. Kau tak usah cemburu, yeobo~" Jelas Kris. Sedikit menggoda sang istri dengan panggilan yeobo.
Suho hanya bergumam kecil menanggapinya. Jawaban Kris sesuai dengan perkiraannya sebelumnya. Ia sudah mengira bahwa Kris akan menjawab seperti itu, tapi ia tetap bertanya karena ia berharap mendapat jawaban lain.
'Suho bodoh.' Gerutunya dalam hati karena pemikirannya sendiri. Kenapa ia harus mengharap jawaban lain, itu sudah jawaban memuaskan, pikirnya.
Meski ia berpikir begitu rasa ragu masih tetap bersarang di hatinya. Ia tak tau apakah ini hanya imajinasinya atau bukan tapi ia melihat mata berbinar Kris saat menatap Luhan, ekspresi khawatir berlebihan serta senyum terlalu manis untuk Luhan.
Dan Suho berharap itu hanya imajinasinya saja.
"Aku sangat mencintaimu." Gumam Suho, sebelum jatuh tertidur.
.
"Luhan, kakimu tampak bengkak. Apa itu tak apa?" Tanya Kris khawatir.
Mereka bertiga, Kris Suho dan Luhan sedang bersantai setelah makan malam. Kris duduk berdampingan dengan Suho, sedangkan Luhan duduk di single sofa.
Suho menahan nafasnya sesak karena mendengar pertanyaan bernada khawatir dari Kris. Ia melirik kaki Luhan, memang tampak membengkak. Kaki Luhan memang sedikit membengkak sejak bulan ke tujuh kehamilannya. Kalau Suho tak salah ingat kehamilan Luhan sudah delapan bulan lebih. Dan Suho akui kaki Luhan memang tampak membengkak. Terakhir ia menemani Luhan memeriksakan kandungannya sekitar satu bulan lalu, kata dokter itu tak apa tapi bengkaknya sekarang tampak parah.
"Tak apa, kata dokter dulu hal seperti ini memang biasa terjadi." Jawab Luhan, membuyarkan lamunan Suho.
"Benarkah?" Tanya Kris memastikan.
Suho menarik lengan Kris untuk melingkari pinggangnya. "Iya, terkahir aku menemaninya kata dokter itu tak apa. Ia hanya perlu menjaga asupan makanannya saja." Suho menjawab pertanyaan Kris, karena tak tahan melihat perhatian Kris pada Luhan.
Suho sendiri juga khawatir dengan keadaan Luhan, tapi melihat perhatian Kris membuatnya mengabaikan rasa khawatirnya.
.
Luhan bisa merasakan perubahan sikap Suho terhadapnya dan ia sadar ini karena perhatian Kris padanya. Ia semakin merasa bersalah kepada Suho. Jujur ia merindukan perhatian Suho padanya, bagaimanapun juga ia sudah terlanjur menyayangi Suho layaknya adik sendiri.
Suho yang menghindarinya sungguh menjadi beban tersendiri baginya. Perhatian Kris padanya juga membuatnya harus berusaha ekstra menahan debaran di dadanya. Ia jadi serba salah.
Ia tau Suho terluka, tapi disini dia juga terluka. Ini terlalu berat untuknya.
"Kris, aku ingin kembali ke tempatku dulu." Ujar Luhan pada Kris.
Ini akhir pekan dan Kris tak bekerja, Suho sendiri sedang ke rumah salah satu temannya, jadi mereka hanya berdua.
"Kenapa?"
"Mm tidak, ah– aku hanya merindukan tempat itu." Jawabnya beralasan. Ia memang berniat meninggalkan tempat ini karena Suho yang menghindarinya. Ia tak ingin Suho terbebani dengan kehadirannya.
"Kau boleh meninggalkan rumah ini setelah bayimu lahir. Kau tak ingat, usia kandunganmu sudah delapan bulan lebih, bahkan hampir memasuki sembilan bulan. Disana kau hanya sendiri, tak ada yang merawatmu." Tolak Kris.
Luhan menghela nafas. "Aku tak apa, Kris. Aku bisa merawat diriku sendiri. Boleh kan?"
"Ti-dak." Tolak Kris lagi.
"Kalau begitu berhenti memberikan perhatian padaku. Kau bisa kan?" Pinta Luhan.
Kris memandang Luhan aneh. "Kenapa kau meminta hal seperti itu?"
"Aku mencintaimu, kumohon jangan memberikan harapan sekecil apapun padaku." Aku Luhan pada akhirnya. Ia tak mungkin mengatakan bahwa ia ingin pergi karena perubahan sikap Suho padanya. Hanya kalimat itu yang terlintas di otaknya dan bibirnya terlalu cepat tanggap hingga kata itu mengalun bebas dari bibirnya. Ia jadi terkejut sendiri, tapi juga ada perasaan lega setelah mengungkapkannya.
Kris terkejut, "Kau sungguh-sungguh Luhan?"
"Apa aku pernah membohongimu? Apa aku tampak sedang bercanda sekarang?" Jawab Luhan. Sudah terlanjur, ia tak boleh mengelak.
"Maaf aku tak pernah menyadarinya." Sesal Kris.
Luhan tertawa kecil. "Jangan menganggapnya terlalu serius, aku merasakannya sudah lama dan aku sudah terbiasa."
Setelah berucap seperti itu, Luhan memegangi kepalanya dan mengaduh kecil. Kepalanya memang sering sakit akhir-akhir ini.
Kris mendekat, "Kau kenapa Lu?" Tanyaya khawatir.
Luhan tak merespon, kepalanya pening dan pengelihatannya kabur.
"Lu, Luhan. Kau dengar aku? Kau kenapa, Lu?" Tanya Kris lagi, ia sudah berlutut dan memegang kedua pundak Luhan.
Luhan tak tau ada apa dengan dirinya, rasa pening di kepalanya seperti menjalar. Seluruh tubuhnya menegang, urat-urat tubuhnya seperti tertarik, dan sedetik kemudian ia tak tau lagi apa yang terjadi.
Kris semakin panik melihat Luhan yang sudah terpejam, dengan tubuhnya yang kejang-kejang.
.
"Suho, kenapa akhir-akhir ini kau sering sekali berkunjung kesini?" Tanya pria bermata bulat kepada pria berkulit sangat putih di sampingnya, Suho.
"Kau tak suka?"
"Aku justru sangat senang, aku hanya khawatir apa ini ada hubungannya dengan Kris dan Luhan?" Tanya Kyungsoo, pria bermata bulat itu takut-takut.
Kyungsoo mendengar helaan nafas Suho. Ia tau Suho sedang kalut.
"Aku jahat, Kyungsoo." Lirih Suho.
Kyungsoo menggenggam tangan Suho. "Siapa yang berkata seperti itu, hm? Kau orang paling baik yang kukenal."
Suho menggeleng. "Aku jahat pada Luhan hyung. Aku jahat pada Kris. Aku jahat pada anak mereka."
Kyungsoo tak menjawab, ia memberikan waktu pada Suho untuk bercerita.
"Aku takut, Kyungsoo. Rasa takut membuatku jadi jahat. Aku takut Kris meninggalkanku demi anaknya, aku sangat mencintainya."
Kyungsoo melihat air mata yang mengalir dari mata Suho. Ia mengeratkan genggaman tangannya.
"Kau membenci Luhan?"
"Aku tidak membenci Luhan hyung, aku juga menyayanginya. Aku hanya benci diriku yang jahat, Kyungsoo. Aku harus bagaimana?"
Kyungsoo memeluk Suho, mengusap lembut punggung sahabatnya. Ia juga prihatin pada Suho tapi ia tak bisa menyalahkan Kris, atau Luhan. Kalau Kyungsoo boleh berpendapat maka Suho dan Kris yang salah dan Luhan hanyalah korban. Suho salah karena terlalu baik, membiarkan suaminya ke bar dan mengonsumsi alcohol hingga mabuk berat dan menghamili Luhan, Kris salah karena menyalahgunakan kebaikan dan kepercayaan istrinya dan Luhan tak mungkin mampu melawan tenaga Kris hingga terjadilah.
Ring Ring Ring
Suho menghapus air matanya begitu mendengar nada dering ponselnya berbunyi. Ia merogoh dan mengambil ponsel di celananya.
Kris
Suho mengatur nafasnya melihat nama Kris terpampang di benda persegi itu, setidaknya sampai suaranya sedikit normal. Setelahnya ia menekan tombol hijau.
"Ha—"
"Suho, cepat ke rumah sakit xxx Luhan pingsan dan kejang-kejang, ia sudah di tangani oleh dokter sekarang." Kris memotong perkataan Suho, ia bicara tersengal-sengal seperti habis berlari.
"ah— n-ne." Suho menjawab tergagap, memutus panggilan itu sepihak. Ia terlalu terkejut.
Suho sudah bilang, ia tak membenci Luhan, ia menyayanginya. Jelas saja jika ia khawatir mendengar kabar itu.
"Ada apa?"
Suho berbalik menghadap Kyungsoo, wajahnya pucat. "Aku harus pergi, Luhan hyung pingsan dan ia sedang di rumah sakit." Ucapnya dan langsung berlari meninggalkan rumah itu.
.
Suho berjalan tergesa menuju ICU, saat dalam perjalanan ia mendapat pesan dari Kris bahwa Luhan sudah dirawat di ICU. Setibanya di ruangan itu, ia melihat Kris duduk dengan kepala tertekuk di kursi depan ruangan. Ia berjalan mendekati Kris, menggenggam tangannya. Ia tak ingin bertanya apa-apa, Luhan dirawat di ICU berarti kondisinya sedang gawat.
Tak ada yang berniat mengeluarkan suara, mereka berada dalam keheningan hingga seorang dokter keluar dari ruangan itu. Mengabarkan bahwa Luhan mengalami gagal ginjal akut, bayinya harus segera dikeluarkan karena berbahaya bagi sang ibu, tapi jika bayinya di keluarkan itu juga berbahaya bagi sang bayi.
"Selamatkan ibunya." Ujar Kris cepat.
"Selamatkan anaknya." Sela Suho.
Sang dokter masih terdiam, menunggu kesepakatan dari dua orang itu. Kris sendiri memandang Suho tak percaya.
"Selamatkan anaknya, dokter. Tolong." Ulang Suho, ia tak memperdulikan tatapan Kris padanya.
Dokter sudah kembali masuk ke dalam ruangan itu. Kris masih betah menatap istrinya nyalang.
"Apa maksudmu?" Tanyanya dingin.
Suho berbalik menatap Kris. "Semua ibu pasti memilih menyelamatkan anaknya dari pada dirinya sendiri. Aku yakin Luhan hyung pasti setuju dengan keputusanku."
Rahang Kris mengeras, ia tak ingin membalas perkataan Suho karena ia yakin jika ia membuka mulutnya sekarang maka yang keluar adalah bentakan dan ia tak ingin membentak istrinya.
"Ia mempertahankannya selama berbulan-bulan, aku yakin ini yang Luhan hyung inginkan."
"Tapi bukan ini yang aku inginkan, aku mengenalnya sudah bertahun-tahun dan apa aku harus merelakannya demi sesuatu yang diperutnya itu?" Balas Kris sedikit berteriak.
"Itu anakmu, Kr—"
"Aku tau, dan Luhan seperti ini karenaku. Aku tak mau ia mati karenaku." Potong Kris. Suaranya bergetar.
Suho lagi-lagi melihat Kris menangis. Bedanya kali ini karena Luhan.
"K–kau mencintainya? Kau tak mencintaiku?" Tanya Suho tergagap. Ia tau sekarang bukan waktu yang tepat untuk cemburu, tapi ia terlalu takut.
Kris berbalik menatap Suho dengan air mata yang masih menggenang.
"Ya, karena dia sahabatku. dan Aku mencintamu karena kau istriku. Cinta yang berbeda, Suho." Kris menjawab penuh penekanan, sedikit menggeram. Tak menatap wajah Suho sama sekali. Ia heran kenapa Suho bertanya kekanakan di saat yang tak tepat seperti ini. Ia mencoba mengatur nafasnya, pertanyaan Suho memperburuk suasana hatinya.
"Kau mencintainya, Kris." Suho sudah mulai menangis.
Rahang Kris kembali mengeras, dengan sedikit kasar ia mendorong Suho ke dinding dan menghimpitnya. Mempertemukan bibirnya dengan bibir tipis Suho. Tak ada lumatan atau hisapan, Kris hanya menekan bibirnya pada bibir Suho. Nafasnya memburu karena emosi. Ia sudah sangat khawatir dengan kondisi Luhan dan Suho meragukan perasaannya.
Suho terdiam, nafas Kris yang memburu menerpa wajahnya. Ia tak pernah melihat Kris bertingkah seperti ini. Nama Luhan kembali terlintas di pikirannya, hanya Luhan yang mampu membuat Kris kalut ke tingkat maksimal seperti ini, pikirnya. Ia memejamkan matanya, air mata makin deras mengalir. Sesaat kemudian ia merasa bibirnya dilumat dengan lembut oleh Kris. Ia diam tak membalas.
"Aku mencintaimu." Gumam Kris lembut di sela ciumannya.
Suho mendorong dada Kris hingga ciumannya terlepas. Menatap Kris dengan matanya yang basah.
"Tapi kau terlalu mengkhawatirkannya." Ucapnya.
Kris kembali menghela nafas, ia membawa Suho dalam pelukannya, terasa sangat nyaman. Saat ia memejamkan matanya untuk menikmati kehangatan Suho, ia teringat saat ia memeluk Luhan. Apakah benar ia juga mencintai Luhan? Ia tak tau, tapi ia sangat yakin bahwa cintanya pada Suho masih sama seperti dulu. Ia masih sangat mencintai Suho.
Kris hanya tak sadar bahwa lambat laun hatinya mulai bercabang.
"Kau terlalu mengkhawatirkannya." Ulang Suho karena Kris tak menjawab. Suaranya bergetar.
Kris melepas pelukannya, memegang pundak Suho dan menatap lurus tepat di mata basah itu.
"Aku mencintaimu, sangat. Jika kau yang berada di posisi Luhan, aku pasti lebih gila lagi." Gumamanya.
Suho menunduk dan bergumam, "Maaf~"
Kris menuntun Suho untuk duduk setelah menenangkan tangisnya. Mereka menunggu operasi Luhan dalam diam. Karena terlalu lelah, Suho tertidur dengan kepalanya yang berada di bahu Kris.
Sekitar dua jam berlalu, dokter yang menangani Luhan keluar dari ruang ICU.
"Bagaimana keadannya?" Tanya Kris, tak beranjak dari duduknya karena tak ingin membangunkan Suho. Tapi percuma, Suho tetap terbangun karena mendengar suara Kris.
"Bayinya perempuan, ia selamat tapi kondisinya lemah. Ibunya juga selamat tapi gagal ginjal yang dialaminya tak memungkinkan hidupnya bertahan lama. Oleh karena itu ia harus rutin melakukan cuci darah." Jelas dokter.
"Apa aku boleh melihatnya?" Tanya Kris pemuh harap.
Sang dokter mengangguk, ia pun dengan cepat melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu.
Dokter itu akan segera beranjak, tapi Suho langsung berdiri menghalanginya.
"Kenapa dia bisa seperti itu dokter? Selama ini kondisinya selalu baik, hanya kakinya yang membengkak."
"Ia mengalami keracunan hamilan yang menyebabkan terjadinya gagal ginjal. Penyebabnya bisa jadi karena kondisi mentalnya. Entah itu kecemasan berlebihan ataukah sesuatu yang membebani pikirannya. Kaki membengkak itu salah satu gejalanya." Jelas dokter.
Suho menerawang, apakah ini karena dirinya ataukah karena Kris. Ia merasa bersalah, seharusnya ia lebih memperhatikan Luhan dan menghiraukan rasa takutnya. Ia baru sadar beratnya beban yang harus Luhan tanggung, hamil tanpa suami, terlebih yang menghamilinya adalah sahabatnya sendiri yang sudah beristri. Belum lagi hinaan yang ditujukan padanya, tapi Luhan masih mampu tersenyum setiap harinya. Dan bukannya membantu Luhan menjalaninya seperti jajinya pada awal, ia malah menambah beban Luhan. Ia merasa benar-benar jahat.
"Apa dia tak bisa disembuhkan?" Tanyanya.
Sang dokter menghela nafas, "Bisa jika dia mendapat donor ginjal yang cocok."
"Periksa ginjalku."
.
Kris duduk di samping kasur Luhan, menatap sedih wajah Luhan yang tampak sangat pucat. Tak sadar air matanya kembali terjatuh, ia sungguh tak sanggup melihat Luhan seperti ini. Ia ingin melihat Luhan tersenyum, bukannya terpejam dengan wajah yang sarat akan rasa sakit seperti ini.
Kris hanya memandang Luhan, tak berani menyentuhnya. Seakan kulit Luhan akan pecah jika bersentuhan dengan kulitnya. Ia sangat ingin merengkuh tubuh ringkih itu dalam pelukannya tapi ia juga tak ingin menyakitinya. Luhan terbaring lemah begini karena dirinya dan kebodohannya, ia tak ingin menyakitinya lebih.
Ia baru kembali ke rumah saat tengah malam, ia sebenarnya ingin menjaga Luhan sampai besok, atau besoknya lagi, bahkan sampai Luhan sadar. Meski waktu berkunjung hanya sampai jam sembilan tapi asal dia sudah berada di sekitar ruangan Luhan itu sudah termasuk menjaganya. Tapi ia teringat Suho, istrinya.
Suho belum tidur saat Kris pulang, ia menonton. Menatap tv dengan pandangan datar lebih tepatnya. Kris terlalu banyak pikiran jadi ia tak bertanya.
Malam itu tak seperti biasanya. Malam yang biasa mereka isi dengan berbagi kehangatan dan saling melontarkan kata cinta itu, kini menajadi malam yang sunyi. Sunyi yang mencekam. Sibuk dengan rasa bersalah mereka masing-masing.
Esoknya, pagi-pagi sekali Kris sudah bersiap untuk menjenguk Luhan. Suho berkata ia akan menyusul nanti.
Sesampainya di rumah sakit ia dikejutkan dengan kabar bahwa Luhan baru saja sadar. Ia memasuki kamar Luhan dengan senyum yang sangat lebar di bibirnya, Luhan menatapnya dengan pandangan sendu, mencoba tersenyum kecil karena kondisinya memang masih sangat lemah.
"Hai Lu." Sapanya.
Luhan mengangguk lemah. "Mana anakku, Kris? Aku ingin melihatnya." Tanyanya berbisik.
Kris termenung sejenak, dadanya berdetak aneh mendengar Luhan berkata 'anakku' yang seharusnya 'anak kita'. Tapi ia tak ingin menentangnya, Luhan sedang sakit.
Kris belum menjenguk anaknya dan Luhan hari ini. Ia hanya sempat melihatnya sebentar di ruang incubator semalam sebelum pulang.
"Ia di ruangan lain. Ia perempuan, sangat cantik dan mungil sepertimu. Ia sangat mirip denganmu, Lu." Jawabnya.
Senyum kecil tersungging di bibir pucat Luhan, air matanya mengalir karena bahagianya. Ia bahagia, tak peduli kondisinya sekarang asal anaknya selamat itu sudah sangat cukup.
Kris menghapus air mata Luhan, "Sssttt.. jangan menangis. Jika kau ingin melihat anak kita, kau harus segera sembuh."
Luhan mengangguk. Ia terlalu lemah menanggapi kata 'anak kita' yang meluncur dari bibir Kris. Kris sendiri tampak tak menyadari ucapannya.
"Mana Suho, Kris?" Tanyanya.
"Dia akan segera menyusul." Jawab Kris.
Klek.
Pintu terbuka, Suho masuk dengan rangkaian bunga di tangannya. Ia tersenyum pada Luhan dan Kris. Berjalan masuk lalu menyimpan bunga itu di meja dekat kasur Luhan.
"Bagaimana keadaanmu Luhan hyung?" Tanyanya dengan menyunggingkan senyum tulus.
Luhan sedikit gugup. Ini pertama kalinya Suho kembali menampakkan perhatiannya, meski itu hanya sekedar formalitas tapi ia sudah bahagia, dan juga gugup. Apakah Suho masih marah padanya ataukah tidak.
Suho berbalik menatap Kris. "Kris, bisakah kau belikan aku air dan beberapa makanan? Aku belum sarapan." Pintanya pada sang suami, yang sebenarnya hanya sebuah alasan. Ia ingin berbicara berdua saja dengan Luhan.
Kris mengangguk dan langsung beranjak, perutnya juga belum di isi jadi sekalian saja.
Suho mendudukkan dirinya pada kursi yang diduduki Kris tadi. Menghela nafas pelan sebelum membuka mulut.
"Luhan hyung."
.
.
.
TBC
Maaf, tidak jadi END di chap dua, mungkin chap tiga. Maafkan updatenya yang lama. Maaf kalau ada kesalahan tentang Ginjal. Maaf aku potongnya di situ, aku udah usahain biar TBC-nya gak gantung tapi jadinya tetep begitu. Next chap mungkin update-nya lama lagi. Aku mau nuntasin last chap salah satu FF-ku yang terabaikan karena ngetik ini.
Big Thanks:
Reeeee; Yulika19343382; rin; rizkyeonhae; jameela; SHyoon88; Y; askasufa; Hello K; lee minji elf; lulu deer; chuapExo31; adorable fangirl; ameera; chencen; RyuMin HyeHye; Ruiki Kaera; yongchan; KrisHo WonKyu; YeHyuk EunHae; Rha0108; tehehe; asdindas; krisho exotic; Krisho Exotic; mitchihyun; DEPO LDH; ByunnaPark; nonono; Baby Magnae; Manchungi98; ekasudaryadi; Shinji eunkyoBlackDragon; Uchiha Tachi'4'Sora; Koukei Harumi; upit; Ryeolu; chochoberry; ohristi95; Krisho shipper; 1994sekai; Myunnie; Augesteca; ockta1810; loliloli:
Maaf aku tak bisa balas satu-satu, karena terlalu bahagia aku jadi tak tau harus berkata apa. Tapi aku baca semua kok, aku baca sekali sehari buat penambah semangat. Beneran loh, aku bacanya review kalian tiap hari sebelum ngetik. Aku ngetik tiap hari, sambung sambung.
Aku gak nyangka responnya sebaik ini. Gak nyangka juga ff ini berhasil bikin readers-nya galau. Terimakasih yang sebesar-besarnya buat yang sudah review, follow, fav. Aku bahagia. Dan jangan sungkan buat ngasih saran atau kritikan dan sejenisnya, ok. Aku terima semua. Kalau ada pertanyaan juga akan aku jawab. Tapi soal ending jadinya siapa itu rahasia, dan itu hanya aku dan Koukei Harumi yang tau.
Semoga feelnya kerasa ya, ByeBye
—
