.
Je T'aime
Chapter 2 : Orang asing
.
Pria itu berjalan ke arah Eren yang masih duduk terdiam di mejanya, Eren merasa setiap langkah pria itu seperti model profesional yang sedang melangkah di atas catwalk.
"Sepertinya aku pernah melihat pria itu," bisik Eren pada dirinya sendiri
Dan saat pria itu sampai di meja Eren, dengan seenak jidat mulusnya pria itu mendudukkan bokongnya di sisi lain sofa yang sedang diduduki Eren.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini, mon petit ours," ucap pria itu sambil mengambil sepuntung rokok menthol dari kotak rokok yang berada di saku celananya kemudian menyalakan rokok itu dengan pematik api.
"H-Hai, Sir. Kita pernah bertemu dimana yah?" tanya Eren dengan wajah super polosnya yang membuat pria disampingnya itu menatap datar ke arah Eren.
"Kau harus membiasakan diri mengingat pelangganmu dengan memakai otak berkapasitas kecil milikmu itu, nak," balas pria itu sambil menghembuskan asap rokok berbau menthol ke wajah Eren yang langsung terbatuk menghirupnya.
"Dasar kuntet, memangnya dia siapa? Seenak jidatnya mengatai otakku berkapasitas kecil," kata Eren pelan sambil mengibaskan tangannya, menghalau asap rokok itu.
"Kau bilang apa?" tanya pria itu sambil menatap Eren dengan tajam.
"E-eh... Tidak, Sir. Saya hanya berusaha mengingat anda," balas Eren kikuk. "Nama anda siapa, Sir? Saya tidak begitu mengingat anda."
"Wah, otakmu benar-benar berkapasitas kecil," kata pria itu sambil tetap menikmati rokoknya. "Panggil saja aku Levi, aku pelangganmu semalam di club."
Setelah mendengar jawaban pria disampingnya itu Eren mulai mengingat-ingat kejadian apa saja yang dialaminya semalam, dan bagaikan kilat ia mengingat pria disampingnya ini yang ternyata pria beriris kelabu yang menarik perhatiannya semalam, oh dirinya benar-benar pelupa.
"A-ah! Anda teman, Miss Hanji kan? Saya mengingatnya," kata Eren dengan ceria setelah berhasil mengingat pria di sampingnya ini. "Saya tidak menyangka jika akan bertemu dengan anda disini, Sir. Ngomong-ngomong saya Eren Jaeger, senang bertemu anda kembali, Sir Levi." Eren menjulurkan tangannya ke arah Levi, mengajak berjabat tangan.
"Bagus, aku tidak menyangka kau bisa mengingatnya. Ternyata otakmu masih bisa mengingat sedikit," kata pria itu sambil terus menghisap rokoknya dan mengabaikan uluran tangan Eren.
Eren yang tidak mendapat respon dari Levi langsung menarik tangannya dengan kikuk, ia berharap Armin cepat kembali ke meja ini. Dan ternyata Dewi Sina masih menyayanginya, Armin kembali ke meja mereka dengan membawa pesanan mereka berdua di atas nampan.
"Armin! Kenapa kau begitu lama?" tanya Eren setelah Armin menaruh nampan berisi pesanan mereka di atas meja.
"Eren maaf aku lama- Eh, hello?" Armin yang ingin meminta maaf langsung mengurungkan niatnya ketika melihat pria asing yang sedang duduk bersama sahabatnya itu.
"Oh, temanmu?" tanya Levi
"Ya, Sir. Kenalkan ini Armin Arlert sahabatku dari kecil dan Armin perkenalkan ini Sir Levi, dia adalah salah satu pelanggan di club milik Hannes." Eren memperkenalkan mereka satu sama lain.
Armin kemudia mengulurkan tangannya kepada Levi, mengajak berjabat tangan dan hanya di balas tatapan menilai Levi. Levi memperhatikan Armin dari ujung rambut sampai ke sneakers butut milik Armin dan kembali lagi ke rambut pirangnya, berulang kali. Armin yang ditatap seperti itu dan uluran tangannya tak kunjung dibalas akhirnya menarik uluran tangannya sambil ikut memperhatikan penampilannya.
Armin kemudian mengalihkan tatapan bertanyanya kepada Eren 'Apakah ada yang salah dengan penampilanku?', yang di balas gelengan kepala Eren.
"Apa yang dilakukan bocah seperti kalian disini?" tanya Levi sambil kembali menikmati rokok menthol itu
"E-eh? Kami hanya singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan," jawab Armin kemudian mendudukkan dirinya di seberang sofa yang diduduki oleh Eren dan Levi.
"Oh," gumam Levi.
Hening tercipta diantara mereka bertiga sebelum Levi menjentikkan jarinya, memanggil pelayan.
"Bawakan bocah-bocah ini apapun yang mereka inginkan," kata Levi begitu pelayan itu datang dan dihadiahi tatapan bingung Armin dan tatapan bahagia Eren.
"Benarkah saya boleh memesan apa saja?" tanya Eren dengan kilatan bahagia yang terpancar dari kedua manik indahnya
"S-Sir, kami tidak bisa membayar semua itu." Armin gelagapan
"Tidak usah bayar, duduk dan nikmati saja, bocah." Levi beranjak dari hadapan Armin yang hanya bisa termenung dan Eren yang sibuk memesan.
.
.
.
"Eren, kenapa Sir Levi melakukan itu?" Armin bertanya begitu mereka sudah keluar dari la boulangerie de ackerman.
"Entahlah Armin, kita harus mengucapkan terima kasih begitu kita bertemu dengannya lagi." Eren melanjutkan langkahnya dengan gembria, meninggalkan Armin yang masih terdiam di depan pintu masuk la boulangerie de ackerman dan Armin yang baru sadar ketika Eren sudah berjalan agak jauh di depannya berusaha mensejajarkan langkah mereka.
"Armin, apakah toko bukunya masih jauh?" Eren bertanya begitu Armin sudah mensejajarkan langkah mereka.
"Tidak lama lagi Eren, ah! Ini dia, ayo masuk." Armin menarik tangan Eren begitu mereka sudah sampai lalu Armin membuka pintu toko buku itu.
Kling~
Saat Armin membuka pintu depan toko buku itu, mereka langsung disambut oleh petugas toko buku yang langsung meninggalkan pekerjaannya saat Eren dan Armin masuk.
"Selamat datang," ucap sang petugas toko buku dengan senyum, menyambut mereka. "Adakah yang bisa saya bantu?"
"Kami sedang mencari buku sejarah." Armin menjawab. "Bisa beri tahu kami dibagian mana buku tentang sejarah?"
"Tentu, silahkan ikuti saya," ucap petugas itu masih dengan senyum di wajahnya.
Eren dan Armin kemudian mengikuti petugas itu yang menuju ke salah satu rak buku di dalam toko buku dan mereka berhenti di depan rak buku yang berisi segala macam buku sejarah.
"Nah, ini rak buku bagian sejarah. Silahkan lihat-lihat dulu, saya mohon undur diri," kata petugas itu.
"Terima kasih, Marco," ucap Armin setelah melirik name tag yang berada di seragam petugas itu.
"Sama-sama," balas petugas yang bernama Marco itu dan berbalik pergi, kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Armin sebenarnya buku macam apa yang sedang kau cari?" tanya Eren yang dari tadi diam saja.
"Sebenarnya aku mencari buku tentang dunia underground." Armin memilah-milah buku yang ada disana.
"Hah? Terus kenapa kau cari di bagian buku sejarah?" tanya Eren heran.
"Ini hanya alibi Eren, kau tidak akan tahu siapa sebenarnya petugas tadi." Armin berbisik kepada Eren.
"Kau ini ada-ada saja, Armin." Eren mendecakkan lidahnya begitu mendengar jawaban Armin. "Memangnya mereka menjual buku seperti itu?"
"Tentu tidak!" Armin menjawab mantap.
"Terus kau mencari buku apa Armin?!" Eren menaikkan sedikit suaranya.
"Aku bercanda," jawab Armin sambil terkikik. "Aku mencari buku sejarah dunia untuk tugas sekolah Eren."
"Heh, sudahlah. Aku akan melihat-lihat buku juga kalau begitu," kata Eren kemudian pergi meninggalkan Armin dan berjalan mengitari toko buku itu.
Eren lelah mengitari toko buku yang entah sudah berapa kali ia putari, ia lelah dan bosan menunggu Armin. Eren akhirnya mendudukkan dirinya di salah satu sudut toko buku itu.
Sebenarnya ia berharap Armin segera menuntaskan pencariannya itu, ia merasa diikuti oleh seseorang tetapi ia abaikan. Eren yang merasa diperhatikan akhirnya memutuskan kembali ke rak buku sejarah dan mencari Armin.
"Eren, kau dari mana saja? Aku sudah mendapatkan bukunya! Ayo kita ke kasir." Armin berkata ketika ia melihat Eren yang muncul dari balik rak-rak buku yang tinggi itu dan mengajak Eren ke kasir untuk membayar buku yang dicarinya.
.
∞ Je T'aime ∞
.
"Armin, kau merasa diikuti seseorang tidak?" Eren memecah keheningan di antara mereka yang sedang menunggu di halte bus.
"Diikuti? Aku tidak merasa seperti itu, apa kau merasa jika seseorang mengikuti kita?" Armin memelankan suaranya.
"Iya, aku merasa jika diikuti oleh seseorang. Aku harap kita segera sampai di rumah." Eren menutup matanya, berusaha menenangkan diri.
Tidak lama setelah berbincang tentang itu, mereka melihat mobil Aston Martin Vanquish berhenti di depan halte bus. Kaca mobil terbuka dan menampilkan sosok pirang beralis tebal.
"Erwin-san?" Armin mengenali sosok pengemudi mobil itu.
"Apa yang kau lakukan disini Armin?" Erwin tersenyum melihat pemuda pirang itu
"A-aku habis berbelanja buku dengan Eren." Armin menjawab sambil menunjuk sosok Eren di sampingnya yang hanya diam saja.
"Wah, Eren. Kita bertemu lagi." Erwin menyapa Eren dengan senyum
"Sir Erwin, senang bertemu dengan anda." Eren membalas sapaan Erwin dengan disertai senyum manis.
"Armin, apakah kau mau pulang denganku? Aku akan mengantarmu." Erwin menawari Armin tumpangan.
"E-eh? Tetapi Eren bagaimana?" tanya Armin gelagapan.
"Ah-ya! Eren, maafkan aku, seandainya aku membawa mobil yang bisa menampung banyak penumpang." Erwin meminta maaf dengan canggung, tidak enak dengan Eren.
Eren yang sadar dengan apa yang terjadi dengan sahabat pirangnya itu menampilkan senyum jahil dan melirik-lirik Armin yang pipinya mulai bersemu merah. "Tidak apa-apa Sir, bus yang aku tunggu akan datang tidak lama lagi. Kau bisa mengantar Armin pulang."
"E-Eren?" Armin salah tingkah melihat senyum Eren.
"Armin, kau pulang saja bersama Sir Erwin, aku tidak apa-apa." Eren menarik tangan Armin dan memasukkan pemuda pirang itu ke kursi penumpang. "Sampai jumpa!"
Eren cekikikan melihat interaksi antara sahabatnya dan pelanggan club tempatnya bekerja itu. Ia kembali menunggu bus yang entah kapan sampainya itu.
"Huh, busnya kapan datang?" Eren menggerutu karena bus itu tidak kunjung datang.
"Kau sendiri?" Eren terkejut mendengar suara asing yang berada tepat disampingnya. 'Sejak kapan orang ini ada'.
"K-kau siapa?" Eren merutuki suaranya yang terbata.
Orang asing itu menggunakan hoodie sehingga wajahnya tidak terlihat, menambah kecurigaan Eren kepaada orang itu.
"Y-ya, apakah kau sedang menunggu bus juga?" Eren bertanya kepada orang itu, berusaha tidak terlihat takut.
"Ya, aku sedang menunggu sesuatu." Eren sekilas melihat seringai orang asing itu yang berhasil membuat bulu kuduknya meremang.
Hening tercipta diantara mereka, Eren merutuki daerah tempat ia menunggu bus itu terlihat sepi dan orang asing itu membuat Eren takut.
"Nah, jadi siapa namamu?" orang itu bertanya.
"N-namaku, Eren Jaeger. Kau bisa memanggilku Eren." Eren kembali merutuki suaranya yang bergetar.
Eren melihat orang itu mengulurkan tangannya, mengajak Eren berjabat tangan.
"Namaku m-"
Ucapan orang itu terhenti ketika sebuha mobil Lamborghini Veneno berhenti tepat di hadapan mereka. Dan orang didalam mobil itu menurunkan kaca mobilnya, menampakkan sang pengemudi.
"Bocah, naik sekarang." Levi memerintah Eren.
"T-tapi."
"Tidak ada tapi-tapian, bocah." Levi turun dari mobil dan menarik tangan Eren kemudian mendudukkan pemuda jaeger itu ke kursi penumpang dan menancap gas mobilnya meninggalkan orang asing itu sendiri.
"Cih."
.
.
.
"S-Sir?" Eren memanggil Levi setelah diam cukup lama dan tidak ditanggapi oleh sang lawan bicara.
"Sir Levi, apa yang anda lakukan tadi?" Eren bertanya.
"Kau pikir apa yang ku lakukan tadi, nak?" Levi balik bertanya, tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari jalanan.
Eren diam, dia bingung akan mengatakan apa untuk menghilangkan suasana canggung yang tercipta di dalam mobil sport mewah itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Levi
"Y-ya?"
"Apa yang kau lakukan disana tadi?" Levi kembali bertanya
"Aku menunggu bus, Sir." Eren menjawab sambil mencuri-curi pandang ke arah Levi
"Sendiri?"
"Tidak, sebelumnya aku bersama Armin tetapi dia dijemput Sir Erwin." jelas Eren
"Dan kau kenal orang tadi?"
"Orang tadi?" Eren diam beberapa saat. "Ah! Orang bertudung tadi? Aku tidak kenal dia, Sir."
"Aku kira dia kekasihmu," kata Levi datar
"T-tidak Sir, saya tidak punya kekasih." Eren menajawab dengan gelagapan
"Begitu. Katakan dimana rumahmu?" Levi bertanya lago
"E-eh? Untuk apa Sir?" tanya Eren balik
"Tentu untuk mengantarmu, bodoh." Levi melirik bocah di sampingnya itu
"Anda tidak usah repot-repot! Anda bisa menunrunkan saya di halte bus selanjutnya," tolak Eren sambil tersenyum.
"Tidak ada penolakan." Levi menambah kecepatan laju mobilnya.
"B-baiklah, Sir." Eren pasrah atas pria di sampingnya itu.
Setelah memberitahu alamat rumahnya, Eren bergerak-gerak gelisah. Ingin mengatakan sesuatu kepada pria itu. Hal itu tidak luput dari mata Levi, tetapi ia biarkan saja.
"S-Sir Levi?" panggil Eren yang hanya dibalas lirikan dari sang empunya nama.
"T-Terima kasih atas traktiran yang Sir Levi berikan kepadaku dan Armin." Eren mengucapkan terima kasih dengan wajah yang memerah, tidak berani menatap manik kelabu itu.
"Tidak masalah." Levi memilih untuk menatap jalanan itu daripada wajah pemuda brunette yang seperti wajah orang habis disetubuhi.
.
∞ Je T'aime ∞
.
"Terima kasih Sir," ucap Eren sambil membungkukkan badannya begitu ia sampai di depan rumahnya.
"Hm." Levi menaikkan kaca mobilnya dan menancap gas, pergi dari hadapan Eren.
"Hati-hati di jalan!" Eren sedikit berteriak dan melambaikan tangannya.
Begitu sudah memastikan mobil Levi tidak terlihat lagi, Eren melangkahkan kaki jenjangnya masuk ke rumah sederhana itu. "Aku pulang."
"Eren?" suara Mikasa menyambut kepulangan Eren.
"Mikasa? Dimana Ayah dan Ibu?" tanya Eren sambil melepaskan simpul tali sepatunya.
"Ayah sedang beristirahat dan Ibu sedang pergi bekerja." Mikasa menjawab sambil berlalu dari hadapan Eren.
"Oh, seperti itu." Eren berjalan ke arah dapur dan mengambil minuman.
"Kenapa kau pulang terlambat Eren?" tanya Mikasa sambil mencuci piring yang belum sempat ia kerjakan tadi.
"Aku menunggu bus yang datangnya lama sekali," jelas Eren dan menaruh gelas itu ke meja.
Mikasa hanya bergumam tidak jelas sambil terus mencuci piring. "Sebaiknya kau membersihkan dirimu, kita akan pergi bekerja."
"Baiklah."
Eren berjalan menuju kamarnya yang berada disamping kamar orang tuanya. Ia kemudian membuka pintu lalu masuk dan membaringkan dirinya di kasur butut miliknya. Ia bisa mendengar suara batuk ayahnya yang terdengar begitu menyiksa sang empunya.
"Ayah," lirih Eren. "Maafkan aku, aku belum bisa membawa ayah berobat."
Eren yang tenggelam dalam lamunannya kembali sadar begitu ia mendengar suara ketukan pada pintu kamarnya. Ia bergegas membuka pintu.
"Mikasa? Ada apa?" tanya Eren begitu ia mendapati Mikasa yang mengetuk pintunya
"Eren, cepatlah bergegas. Kita akan pergi sekarang," kata Mikasa datar.
"Tapi siapa yang akan menjaga Ayah?" tanya Eren sambil memperhatikan Mikasa yang berlalu lalang di hadapannya.
"Ibu sudah pulang, kita bisa pergi sekarang." Mikasa menyahut dari arah ruang keluarga.
"Baiklah, berikan aku waktu lima belas menit untuk bersiap-siap," kata Eren sambil menutup pintu kamarnya.
"Aku tunggu di ruang keluarga."
.
.
.
"Mikasa, ayo!" Eren mengajak Mikasa begitu ia sudah siap dan langsung diikuti oleh gadis itu. "Ibu, aku pergi dulu."
"Hati-hati di jalan!" sahut ibunya dari dalam kamar.
Eren dan Mikasa berjalan menuju halte bus untuk ke tempat kerja mereka. Perjalanan mereka diisi dengan perbincangan hangat seputar sekolah, bekerja, kesehatan ayah dan pekerjaan ibu. Begitu mereka sampai di halte bus, mereka harus menunggu lagi karena bus yang akan mereka tumpangi belum sampai.
"Hujan turun Eren," kata Mikasa sambil menengadah ke arah langit, melihat butiran butiran hujan jatuh semakin deras. "Sepertinya kita akan kehujanan."
"Tenang, aku bawa payung kok!" Eren mengeluarkan payung lipat dari ranselnya.
Hening tercipta, Eren lebih memilih memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang sedangkan Mikasa lebih memilih untuk memejamkan mata. Mikasa tersentak dan segera memperhatikan sekelilingnya, Eren bingung dengan tingkah saudara angkatnya itu.
"Mikasa, kau kenapa?" Eren memegang bahu Mikasa, menenangkan gadis itu.
"Kau merasa seperti diperhatikan Eren?" Mikasa berbisik.
"Hujannya lebat yah," suara asing menyahut dari belakang Eren yang membuat ia dan Mikasa langsung berbalik.
"K-Kau?" Eren terkejut akan kehadiran sosok asing yang sebelumnya ia jumpai di halte tadi sedangkan Mikasa menatap waspada orang bertudung itu.
"Kau mengenalnya Eren?" tanya Mikasa sambil menatap orang itu dengan tajam.
"T-Tidak, aku tidak mengenalnya." Eren menggeleng.
"Loh, bukannya kita sudah berkenalan sebelumnya?" Eren melihat orang itu menyeringai, "Baiklah aku akan memperkenalkan diri."
Kemudia orang asing itu mengeluarkan pisau dari balik jaketnya dan mulai menyerang Eren yang berada paling dekat dengannya. Suasana hujan membuat sekitar mereka yang sudah sepi bertambah menjadi lebih sepi sehingga membawa keberuntungan bagi orang asing itu.
"Mikasa! Lari!" Eren menarik tangan Mikasa menerobos hujan.
Mereka berlari sekuat tenaga menghindari orang asing yang masih mengejar mereka. Sesekali mereka melihat ke belakang dimana orang asing itu tetap mengejar mereka dengan jarak yang semakin dekat. Tiba-tiba Mikasa terjatuh ketika gadis itu tidak sengaja menginjak tali sepatunya yang tidak terikat dengan benar.
"Mikasa!" Eren membantu gadis itu untuk berdiri. "Mikasa ayo! Kita tidak punya banyak waktu!"
Eren berpikir untuk menggendong gadis itu saja sebelum orang asing itu memperpendek jarak di antara mereka dan langsung menancapkan pisaunya ke bahu Mikasa.
"ARGH!" Mikasa berteriak kesakitan sambil memegang bahunya yang sudah mengeluarkan darah.
Eren membelalakkan matanya dan langsung memukul orang asing itu sampai terjatuh ke tanah, orang itu bangkit dan membalas pukulan Eren tepat di wajah yang disusul pukulan di perut berulang kali sampai Eren terbatuk.
"Ugh!" Eren terjatuh sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.
Orang itu berjalan ke arah Eren sambil menyeringai, ia mengeluarkan sebilah pisau dari kantungnya. Orang itu berjongkok di hadapan Eren kemudian mencengkram rambut Eren dengan kasar lalu mendekatkan pisau itu ke wajah Eren. "Kau mau merasakannya?"
Mikasa yang tidak tinggal diam mengambil balok kayu yang berada di dekatnya dan berjalan dengan pelan ke arah orang itu. Mikasa mengangkat balok, ingin memukul tengkuk orang itu. Tetapi, orang itu dengan cepat berbalik ke arah Mikasa yang langsung melindungi dirinya dari pisau itu dengan balok yang berada dalam genggamannya. Eren yang melihat kesempatan kemudian berlari ke arah orang itu dan memukul tengkuknya sekeras mungkin sampai orang itu kehilangan kesadaran.
"Mikasa! Kau baik-baik saja?" Eren membantu gadis itu untuk duduk.
Eren kemudian mencabut pisau itu dari bahu Mikasa dan merobek sebagian kemeja yang dikenakannya untuk menutupi luka gadis itu.
"Mikasa naiklah ke punggungku!" Eren berjongkok dihadapan gadis yang semakin terlihat pucat itu.
"A-Aku masih bisa berjalan." Mikasa menolak untuk digendong
Eren yang tidak terima dengan penolakan Mikasa akhirnya memaksa gadis itu untuk naik ke punggungnya dan langsung berlari secepat mungkin menjauhi tempat itu sebelum orang itu sadar, walaupun ia sendiri tidak kuat membawa beban dipunggungnya.
.
∞ Je T'aime ∞
.
Pintu club terbuka menampilkan Eren yang kehujanan dengan kemeja sobak dan Mikasa yang berada dipunggungya. Keadaan club yang ramai tidak membuat Eren dan Mikasa menjadi pusat perhatian karena pengunjung sedang sibuk dengan urusan masing-masing.
Eren berjalan melewati kerumunan manusia yang meliukkan badannya dengan liar mengikuti musik. Eren berjalan terseok-seok ke arah counter bar. Begitu sampai di counter bar, Eren sontak menarik perhatian orang yang sedang duduk disana.
"EREEEEN!" Isabel memekik begitu ia melihat Eren dan membantu pemuda itu menurunkan Mikasa yang sepertinya pingsan dari punggung Eren. "A-apa yang terjadi denganmu? W-WAH! MIKASA BERDARAH!"
Mendengar ribut-ribut dari arah luar, Hannes keluar dan terkejut melihat keadaan kedua bawahannya yang mengenaskan.
"Apa yang terjadi disini?" Hannes bertanya. "Rico kau gantikan Isabel melayani pelanggan dan kau Isabel, bawa Mikasa ke dalam!"
Eren langsung menjatuhkan badannya ke lantai karena kakinya tidak mampu menahan tubuhnya.
"Eren, kau kenapa?" Hannes mensejajarkan tubuhnya dengan Eren yang terduduk dilantai bar.
"K-Kami diserang oleh orang tidak dikenal d-dan orang itu menyerang kami k-kemudian." Eren merasakan tubuhnya menggigil dan Hannes yang melihat itu memanggil Jean untuk membantu Eren masuk ke ruang karyawan.
.
∞ Je T'aime ∞
.
Levi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru club, ia sedang mencari pemuda brunette dengan iris hijau indah memikat itu.
"Wah.. sepertinya ada yang ketagihan datang ke club ini." Hanji menggoda sahabatnya itu yang hanya dibalas death glare dari Levi.
"Hanji, jangan menggoda Levi terus," kata Erwin menengahi sebelum pria beriris kelabu itu meledak dan melakukan tindak kekerasan kepada Hanji.
Levi berjalan ke arah bar dan duduk disalah satu kursi yang diikuti oleh kedua sahabatnya itu dan mulai memesan minuman untuk dirinya.
"Kemana bartender yang kemarin malam berjaga disini?" Levi bertanya kepada bartender bersurai pirang itu.
"Dia sedang istirahat, Sir." Bartender itu menjawab setelah terdiam agak lama.
"Hooh seperti itu." Levi sebenarnya kurang puas dengan jawaban bartender itu dan memilih untuk tidak ambil pusing.
Levi pergi begitu ia menaruh sejumlah uang yang ia rasa cukup untuk minuman yang ia pesan dan meninggalkan kedua temannya yang masih saja asik dengan minuman mereka sambil bercerita, tidak sadar Levi sudah meninggalkan mereka. Levi berjalan ke arah salah satu sofa di pojok ruangan club dan langsung mendudukkan dirinya ke sofa itu, tidak butuh waktu lama ia sudah dikerumuni oleh para wanita penghibur disana.
"Tampan, bermainlah bersama kami," salah satu penghibur disana menggoda Levi dengan menempelkan dadanya ke lengan kekar Levi.
"Hm? Apakah kalian sanggup melayaniku?" Levi menyeringai begitu meihat ekspresi kegirangan para wanita penghibur yang mengelilinginya.
Levi menarik salah satu wanita penghibur berambut merah sebahu dan mendudukkan wanita itu dipangkuannya, sontak saja erangan kecewa terdengar dari wanita-wanita yang lain.
"Oi, apakah kau bisa memuaskanku?" Levi berbisik ke telinga wanita itu yang membuat wanita itu tersipu.
Saat sedang membisikkan godaan ke telinga wanita itu matanya tidak sengaja melihat pemuda brunette yang baru saja keluar dari ruang karyawan, ia berseringai.
"Ya, Sir. Tentu," jawab wanita itu dengan nada menggoda yang dibuat-buat membuat Levi makin melebarkan seringainya.
"Sejujurnya aku sangat butuh hiburan sekarang, nafsuku sudah sampai ke ubun-ubun." Levi mendekatkan wajahnya ke arah wanita itu yang membuat wajah wanita itu bersemu merah karenanya. "Tapi, aku tidak suka barang bekas."
Levi meninggalkan wanita itu yang sepertiya sedang syok dengan perkataan Levi. Ia mengikuti pemuda brunette itu yang sedang berjalan ke arah toilet dan sesampainya didalam toilet ia melihat pemuda itu terdiam di depan westafel. Levi berdiri memperhatikan pemuda itu, menunggu pemuda itu sadar akan kehadirannya.
"S-Sir Levi?" Eren terkejut begitu ia melihat Levi ada dibelakangnya. "Apa yang anda lakukan disini?"
Levi mengacuhkan pertanyaan Eren lalu berjalan ke arah pemuda brunette itu kemudian mengunci pergerakan Eren yang sekarang terjebak di antara westafel dan tubuh Levi yang semakin rapat. Ingatkan Levi untuk membersihkan tangannya dengan baik setelah ini.
"Kau dari mana saja, hm?" Levi merendahkan suaranya, menggoda pemuda brunette itu.
"A-Aku t-terlambat." Eren memundurkan wajahnya begitu wajah Levi terlalu dekat dengan wajahnya. "Sir, wajah anda terlalu dekat."
"Hooh? Aku suka posisi seperti ini." Levi menyeringai melihat wajah Eren yang bersemu merah sampai ke telinganya.
"Wajahmu kenapa?" Levi memegang sudut bibir Eren yang terluka dengan wajah tidak senang. Ia baru menyadari sudut bibir Eren yang terluka itu.
"T-Tidak apa-apa, Sir." Eren berusaha menutupi lukanya.
Levi menangkup wajah Eren dengan menggunakan tangannya yang bebas, menjulurkan lidahnya dan menjilat sudut bibir Eren yang terluka. "Aku tidak suka kau terluka."
"Sir, jangan begini. Nanti ada orang yang melihat." Eren gelagapan setelah mendapatkan perlakukan mengejutkan itu.
"Hooh, jadi kau mau kalau tidak ada yang melihatnya, hm?" Levi menatap wajah Eren yang sudah semakin merah kemudian menaruh wajah tampannya di ceruk leher Eren, mengendus aroma pemuda brunette itu.
Belum sempat mencicipi pemuda brunette itu lebih jauh, tiba-tiba pintu toilet terbuka dengan keras yang disusul dengan teriakan yang juga tidak kalah kerasnya.
"LEVI!"
'Fuck, kenapa jalang itu datang disaat tidak tepat.'
A/N :
Akhirnya update fiuh~ #lap keringat. Maaf yah menunggu lama ;-; aku harus merombak lagi semuanya dari awal dan maaf jika masih ada kesalahan dan typo karena pada dasarnya aku sudah bersatu dengan kedua masalah itu T^Tb typos dan kaidah penulisan salah sudah bagaikan belahan jiwaku, oh~.
Terima kasih sudah setia menunggu FF ini. RnR pls ^^ Levi badass sekali yah? wkwkwk
