~Cataclysm~

Naruto ©Masashi Kishimoto

Highschool DxD ©Ichiei Ishibumi

Warning : Godlike!Naru, Smart!Naru, etc

Mungkin Aneh, Mungkin Jelek dan Mungkin OOC

Genre : Adventure

Rating : M

Chapter Dua :

Reuni

.

.

Summary : Dia adalah salah satu dari empat Tokoh Penting yang memicu terjadinya Ragnarok, namun ketika semua itu selesai ia memutuskan untuk berbaur dengan makhluk awam.

.

Draconsteel, In!

.

.

Selamat membaca

.

"Cataclysm"

Sungguh kalau bisa di bilang suasana kali ini sangatlah mencekam, Rias yang penasaran dengan perubahan pada diri Naruto harus menahannya untuk sementara waktu. Rias akhirnya sadar betapa berbahaya nya adik kelasnya yang satu ini, kemampuan yang tidak diragukan lagi oleh dunia.

Dia telah menyaksikan bagaimana caranya Naruto membuat regenerasi Klan Phenex itu berhenti dan saat ini posisi kaki Naruto yang sedang menginjak leher Riser. Kalau ia harus jujur, bisa dilihat kalau dengan sekali hentakan kaki mungkin eksistensi putra ketiga Klan Phenex itu akan menghilang.

Aspek yang ia dapatkan tidak bisa di ganggu gugat, terlebih lagi ketika ia melirik kearah Grayfia yaitu salah satu kepala maid keluarga Gremory dan juga istri dari kakaknya itu pun hanya bisa terdiam membatu. Dan Rias tahu kalau kakak dari pion terbarunya itu adalah sosok yang tidak bisa di remehkan.

Dan untuk detik selanjutnya, Rias melebarkan matanya ketika Naruto telah mengangkat kaki setinggi-tingginya dan bersiap untuk menghujam kerongkongan itu. Jika melihat bagaimana pertempuran yang sudah di ketahui pemenangnya itu, mereka pasti menganggap kalau Riser akan mati pada saat ini juga.

Rias khawatir, bukan karena kematian Riser. Tetapi hubungan antara Klan Gremory dengan Klan Phenex yang nantinya akan goyah akibat insiden ini. Tentu saja Lord Phenex tidak akan terima dengan hal tersebut, terlebih lagi ada adik dari Riser yang juga otak dari Peerage Riser.

Namun rasa khawatir itu entah kenapa menghilang seketika, bagaimana gerakan Naruto terhenti oleh sebuah es yang Rias ketahui berasal dari Grayfia, kepala maid itu tetap memasang wajah datarnya dan sedang mengangkat satu tangannya sebagai kolaborasi pergerakan dan elemen es nya.

"Naruto, cukup" ujar Rias lirih. "Lepaskan dia"

Naruto menolehkan kepalanya dan menatap kearah Rias dengan ekor matanya. "Kau pikir aku peduli? Aku takkan membiarkan siapapun berbuat sombong, seolah-olah dirinya yang terkuat" kini tatapannya beralih kepada sosok adik angkat dan mantan biarawati yang berada disebelah Ise. "Siapapun yang berani menghina adikku, maka kematian lah yang akan menjemputnya"

Prank!

Satu sentakan tenaga, es yang mengunci pergerakan kaki Naruto hancur berkeping-keping. Tetapi Naruto tidak melanjutkan aksinya untuk membunuh Riser, ia hanya menendang kepala itu dengan hina nya dan berjalan menuju ambang pintu.

"Katakan pada Klan Phenex, berani menyentuh adikku maka bersiap menjelang kepunahan"

Rias tertegun, dan ia yakin kalau ratu kakaknya itu juga sedang menengang. Pernyataan itu memang berupa ancaman, namun aura yang di berikan oleh Naruto itulah yang membuatnya seperti ini. Aura kebangsawanan, pemimpin dan menjanjikan rasa sakit.

Naruto telah mengakui bahwa kekuatan dari Klan Phenex memanglah hebat, terlebih lagi pengendalian api dan angin tingkat tinggi membuatnya menjadi Klan Ternama. Mereka juga memiliki sebutan abadi karena memiliki regenerasi tingkat tinggi juga.

"Sialan kau, manusia jahannam!"

Naruto yang berniat untuk pergi harus menghentikan langkahnya ketika suara itu menginterupsi perjalanannya, ia memutar balikkan tubuhnya dan menatap kearah Riser yang berusaha bangkit.

"Ah dia menggunakan air mata phoenix" Rias bergumam pelan namun masih dapat di dengar oleh Naruto.

Cowok perak itu mengangkat sebelah tangannya secara tengadah dan mulai memejamkan matanya, tentu saja Rias yang mengetahui hal itu langsung menerjang kearah Naruto dan membungkam mulut cowok itu. Para pasang mata yang melihat kejadian itu hanya diam karena tidak mengerti maksud dari Rias.

"Oke cukup, jangan gunakan mantra itu. Kau tak ingin menghancurkan satu sekolah ini kan, ingatlah kalau masih ada murid-murid lainnya"

Mendengar penuturan Rias, ia langsung menurunkan tangannya dan menatap kearah Riser yang tubuhnya sudah diselimuti oleh api merah dengan intensitas luar biasa. Para peerage nya yang tidak memiliki kemampuan regenerasi hanya mampu untuk mengambil jarak dari King mereka.

"...kenapa?" Naruto menoleh kearah Rias lalu menatap kearah Grayfia dengan mata berkilat. "Kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan, Lucifuge"

"Jaga ucapanmu bocah, kau hanya anak SMA dari kalangan bawah"

Naruto langsung menaikkan intensitas aura nya dan sepasang sayap sangat lebar terbentang luas diikuti oleh sepasang tanduk menghiasi dahi Naruto, tak membutuhkan waktu lama Naruto telah mencengkeram leher Grayfia dan membenturkannya ke dinding.

"Jaga ucapanmu, kau tidak ada apa-apanya di hadapanku. Cewek jalang"

Bret!

Pakaian yang di gunakan Grayfia pun robek karena tidak kuat menahan panasnya api hitam yang menyelubungi tubuh Naruto, kemudian ia melirikkan matanya kearah para iblis muda yang sudah terkapar tak berdaya karena merasakan aura mematikan dari tubuhnya.

"Cih, aku kelepasan"

Naruto langsung memejamkan matanya dan menghilangkan wujud yang selama ini ia sembunyikan. Iris matanya berputar cepat diiringi oleh aura keemasan yang menyelimuti tempat ini, menggunakan salah satu jurusnya untuk menghilangkan ingatan mereka tentang kejadian barusan.

Tik!

Naruto menjentikkan jarinya tepat diatas dahi Grayfia, dan setelah itu sepasang pakaian maid kembali membungkus tubuh wanita itu. Tak perlu menunggu waktu lama hanya untuk menunggu mereka bangun, Naruto berjalan menuju salah satu sofa dan menyeruput teh buatan Ratu dari Rias.

"Kalian sudah sadar" ujar Naruto datar sambil menatap kearah mereka yang sedang mengucek matanya, kini tatapannya beralih pada Riser yang wajahnya kembali bugar. "Jadi, kau benar-benar ingin melawanku?"

"Manusia keparat!" Riser menyelimuti tubuhnya dengan api kemudian menerjang kearah Naruto sambil mengarahkan bogem berlapis api ke wajah Naruto yang sudah berada di depannya. "Mati kau!"

"Hiken!" Naruto juga tak mau kalah, ia menyelimuti kepalan tangannya dengan api hitam dan mulai mengadu pukulan bersama Riser.

Katakanlah kalau Riser kalah, tubuhnya yang terpental dengan tangan kanan terbakar oleh api hitam.

Grayfia melebarkan matanya sejenak, ia mengetahui apa api hitam itu. Api Hitam milik Dewi Amaterasu yang katanya dapat membakar seluruh ciptaan Tuhan di dunia, dan kini api hitam itu telah membumi hanguskan tangan kanan putra ketiga Klan Phenex itu.

"Ice" Grayfia membungkus lengan kanan Riser agar api hitam itu tidak merambat terus keseluruh tubuhnya, namun hasilnya sudah di ketahui.

Gagal.

Naruto menatap sang lawan yang berdiri mematung sambil berusaha menghilangkan api hitam itu, dan ia mulai berjalan kearah Riser sembari mengucapkan satu kata.

"Kai!"

Api hitam itu berubah menjadi asap yang menandakan kalau Naruto telah menghentikan serangannya, iris jam emas itu tetap berputar pelan sembari mengobservasi keadaan disini.

"Sebaiknya kau meminum elixir Klan mu sendiri agar lebih cepat penyembuhannya, atau kau mau mewek tak jelas untuk menyembuhkan luka itu"

Kiba yang mendengar hal itu membuang muka sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan, Koneko dan Asia tersenyum tipis karena memang mereka berdua jarang tertawa. Dan kini Rias serta Akeno sudah membungkam mulut mereka karena tawa kecil sudah keluar tadi.

"HAHAHAHA" kini giliran Ise yang tertawa terbahak-bahak karena tak kuat menahan ejekan khas dari kakaknya, mereka membayangkan bagaimana jika Riser mewek-mewek jelek dikepala mereka. Sebuah kejadian yang sangat langka mungkin.

"Aku tak ada waktu di tempat ini, jaga dirimu baik-baik Issei. Nii-san hanya memperingatkanmu, jangan melawan putih pada saat ini. Kemampuanmu belum memadai kekuatannya" Naruto mengarahkan pandangannya kepada Ise dengan pandangan mengasihani. "Latihlah kekuatanmu, atau kau membutuhkan pil Draketsugan (Dragon Increasing Pil)"

"Tidak Nii-san, aku masih ada dua pil"

Naruto mengangguk dan tersenyum tipis. "Jangan lupa berlatih, dan ingat pesanku"

Srak!

Naruto mencakar udara kosong dan tercipta robekan dimensi disebelahnya, Ise yang baru saja bertemu kakaknya langsung berteriak dan berusaha untuk menghentikan langkahnya.

"Nii-san, kau mau kemana"

Naruto melambaikan tangannya. "Melawan Great Red"

..o.O.o..

Kali ini, Grayfia, Rias dan Riser beserta semua anggota peerage-nya menatap robekan dimensi itu dengan mata bersinar tak percaya. Oh yeah mungkin Naruto adalah orang gila yang berani menantang naga terkuat dan terbesar itu.

[Kau dengar? Dia menantang Great Red] Ddraig berkata dengan nada tenang. [Sudah kuduga kalau ia lebih kuat dari kami berdua]

Issei yang mengerti dari kata 'berdua' dari Ddraig pun mengangguk paham. Sekiryuutei dan Hakuryuukou tidak sebanding dengan kekuatannya.

"Tunggu dulu, bisa saja ia hanya membual kan?" Rias mengangkat bahunya.

Mereka dapat mendengar suara tawa bariton dari Ddraig. [Hahaha jangan bercanda nona, selama ini yang dapat menggunakan robekan dimensi untuk teleportasi hanyalah bangsa naga terdahulu contohnya yah Ophis dan Great Red]

Tepat setelah mereka mendengar kalimat Ddraig, semua kaum iblis di area itu merasakan keanehan. Riser yang tadinya berniat untuk menghancurkan Naruto harus menelannya bulat-bulat, Ravel dan Sona yang sedari tadi mengamati keadaan pun terus memutar otak mereka untuk menemukan masalah disini.

"Jadi menurut laporanmu waktu itu Rias, Naruto memiliki aura naga. Bisa saja itu sekedar Sacred Gear" Sona mendorong kacamatanya yang melorot. "Karena Sacred Gear pun bisa menurunkan aura pengguna, yah contohnya saja seperti Sacred Gear Hyoudou-san. Karena Hyoudou-san merupakan iblis baru mungkin ia belum bisa menurunkan auranya hingga ke titik terendah"

[Kau benar Sitri, pengguna Sacred Gear yang memiliki kemampuan untuk bertempur bisa menurunkan aura mereka menjadi seperti manusia untuk melindungi jati diri mereka yang sebenarnya]

Kini kacamata Sona berkilat terkena sinar matahari. "Jadi bisa dikatakan kalau Naruto pengguna Sacred Gear Naga, dan kalau boleh tahu jenis apa Naga miliknya, Ddraig-san"

[Hmm maaf Sitri, aku juga tidak mengetahui hal itu] dengan ucapan akhir itu, gauntlet yang menyelimuti lengan kiri Ise menghilang.

Sona menepukkan tangannya satu kali, bibirnya menyunggingkan senyum manis serta iris violet nya terbuka dan beralih pada Rias serta Riser. "Jadi karena kalian sudah sepakat untuk melakukan Rating Game seperti apa yang telah dikatakan oleh Grayfia beberapa hari yang lalu sebelum kedatangan Riser ke sini, kalau masih ada yang perlu ditanyakan tolong sampaikan sekarang"

"T-tidak ada Sitri-san" Ravel berjalan mendekati peerage lainnya diikuti oleh Riser yang mengekor dibelakangnya. Kini tatapan Riser menatap kearah Rias dengan tatapan meremehkan. "Persiapkan dirimu, Rias. Jangan permalukan aku dengan pertunjukan yang payah"

Rias yang mau membalas jawaban pedas Riser harus menahannya dengan mengepalkan tangannya erat-erat karena ia harus menahan emosinya baik di hadapan peerage nya sendiri dan peerage Sona. "Lihat saja"

Melihat kepergian Riser dan Sona, Rias hanya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia merobohkan tubuhnya di kursi dan mengusap dahinya yang nampak berkeringat.

Ia sadar kalau semua ini merupakan permasalahan yang melibatkan peerage-nya, bukan berarti peerage harus selalu ada untuk King nya. Tapi Rias tak ingin membuat peerage-nya harus ikut bermasalah dengan urusannya. Tentu saja sebagai majikan yang baik ia harus berfikir matang-matang tentang hal ini.

"Kita akan berlatih di villa milik keluarga Gremory"

. . .

Cataclysm

. . .

Iris matanya terpaku sesaat pada sosok yang sangat besar dan menyemburkan api tersebut. Salah satu reptil bersisik yang hobinya adalah memuntahkan si jago merah untuk meluluh lantahkan semua yang menghalanginya. Setibanya di sebuah ruangan yang hampa udara dan kosong, ia sudah di suguhkan pemandangan itu.

Api merah yang menyebar membentuk sebuah lautan api, di tengah-tengah itu sudah terdapat naga merah yang besar sedang membentangkan sayapnya lebar-lebar. Gumpalan api sudah siap untuk di muntahkan oleh sang naga karena merasakan bahaya mendekat.

"Sudah lama sekali, Baka-Red"

Ada sedikit rasa tidak percaya dalam hati Great Red ketika melihat sosok yang amat ia kenali. Sudah ribuan tahun lamanya mereka tidak bertemu untuk kedua kalinya. Okelah, bisa di sebut teman lama yang bertemu kembali karena memang sudah menjadi satu ras.

"Uh? Ternyata kau Cataclysm. Aku tak menyangka kau masih hidup"

Naruto memiringkan kepalanya. "Apa maksudmu? Aku tidak akan mati hing-"

"Ya ya aku tahu kau takkan pernah mati hingga Ragnarok"

Naruto terkekeh pelan. "Sepertinya kau masih mengingatnya, dan bagaimana keadaan dua yang lainnya?"

Naruto sempat mendengar dengusan pada Great Red yang tiba-tiba tubuhnya menguar dan berubah menjadi anak remaja berusia tujuh belas tahun dengan pakaian perang lalu rambut berwarna merah kehitaman.

"Hahh, kau tahu? Ophis selalu mengunjungiku hanya karena ingin marah-marah, dan Trihexa..." Great Red memandang kejauhan. "...ia disegel"

"Lalu, apa yang kau lakukan disini. Enak sekali hidupmu Baka-Red, tidur-tiduran tanpa kerjaan." Naruto mencemberutkan wajah dan memberikan tendangan pada punggung Great Red hingga personifikasi dari naga merah itu terpental sangat jauh.

"Gantian! Sekarang aku yang tidur" dengan nada puas, Naruto memejamkan matanya tanpa mempedulikan Great Red yang sumpah serapah dari jauh sana.

"Sebenarnya apa alasan kita bertarung pada waktu itu" entah kenapa Great Red yang sudah sampai disebelah Naruto hanya diam. "Apakah kalian telah sadar setelah kekuatan kalian yang kuambil"

"Tidak ada yang perlu disesali, Cataclysm. Aku juga sudah mengerti semuanya, terlebih lagi kau mengambil kekuatan kami itu tidak salah sama sekali. Kami menganggap kalau kaulah yang memang pantas menjadi pemimpin dunia ini"

Naruto membuka kelopak matanya dan tetap memasang posisi tidur. "Jadi begitu"

"Yah, karena di antara kita hanya kaulah yang memiliki perencanaan paling hebat. Berfikir sebelum bertarung kecuali kami, karena kau perwujudan dari otak dunia itu sendiri"

Kini Naruto telah mengambil posisi duduk dan menatap kearah personifikasi Transform dari Great Red. "Aku mengerti, kita tercipta untuk saling melengkapi. Kau dengan kekuatan besarmu, Ophis dengan ketidakterbatasannya, Trihexa dengan kegelapannya dan aku baru diciptakan untuk melengkapi kekurangan kalian"

"Jadi kau akan tetap memegang statusmu sebagai 'Destroyer'?"

Naruto mengangkat bahu. "Entahlah, aku masih bermain-main di dunia manusia"

"Oh, dengan si Sekiryuutei itu"

"Begitulah, kau tahu? Potensinya itu yang sangat kusuka berbeda dengan Hakuryuukou"

Great Red memasang pose berfikir keras. "Yah kalau bisa dibilang sih Sekiryuutei itu sangat hebat hanya saja ia harus terus di rangsang untuk mencapai kekuatan penuhnya"

"Dengan Oppai?"

Great Red terkekeh. "Begitulah, aku tak menyangka kalau bocah mesum itu yang mendapatkan Ddraig"

Tiba-tiba ekspresi Naruto menjadi keras dan tatapannya menajam ketika melihat sebuah ruang distorsi yang tercipta di depan mereka dan menampakkan gadis loli dengan rambut hitam sebahu. Naruto yang mengenali aura ini hanya memberikan cengirannya.

"Hahaha ternyata kau Ophis, jadi apa alasanmu mengganti wujud kakek tua itu"

Gadis loli itu memonyongkan bibirnya. "Muu~ kau tak pernah berubah Cataclysm"

"Ah iya, aku merasakan hal yang tidak beres dengan anggota organisasimu. Tepatnya pemilik True longinus"

Ophis menaikkan satu alisnya. "Maksudmu Cao-cao?"

Naruto mengangkat bahu. "Entahlah, aku fikir dia hanya memanfaatkan otak bodohmu itu"

"APA MAKSUDMU HAH!"

Naruto memutar mata bosan sambil menciptakan sebuah robekan dimensi didepannya. "Seharusnya kau mengerti, kenapa kau memberikan kekuatanmu pada seluruh anggotamu. Seharusnya kau tahu apa yang terjadi kalau pengguna True Longinus memberontak, senjata itu bisa dengan mudah membunuhmu"

"Great Red, mau ikut?" Naruto menyiku lengan Great Red dengan pelan dan memberi kode dengan alis yang bergerak-gerak.

"Kemana?"

"Bertemu kawan lama, dan Ophis mau ikut?"

Ophis mencemberutkan wajahnya, tetapi ia tetap melangkahkan kakinya untuk memasuki robekan dimensi bersama dengan Great Red. Dan dalam beberapa detik setelah itu, mereka bertiga telah menghilang diikuti dengan robekan dimensi yang kembali tertutup.

..o.O.o..

Sekitar satu jam Rating Game antara Rias Gremory dan Riser Phenex telah berlangsung, dan pertarungan itu di menangkan oleh kelompok Riser karena kontrol emosi Issei yang tidak terkendali akibat kekalahan Koneko ketika terkena serangan Yubelluna.

Dan seperti mereka para petarung sejati, emosi adalah salah satu aspek paling penting dalam bertarung. Dengan emosi maka sudah di pastikan siapa yang akan kalah dan siapakah yang akan menang, apalagi hal itu terjadi dua kali saat Asia terkena serangan Riser.

Kini Ise hanya bisa duduk di atas tempat tidurnya sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, ia tidak rela kalau Buchou nya harus menikah dengan orang lain. Kalau Ise harus jujur, ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi dan ia ingin menggagalkan pertunangan itu.

"Jadi, katakan kepadaku apa yang membuatmu terus berdiam diri seperti itu"

Ise mendongak dengan wajah cerahnya. "Nii-san!"

. . .

Pertunangan yang sebentar lagi menjadi pernikahan itu sedang berlangsung, sang mempelai wanita hanya bisa duduk di depan meja rias sambil memandang wajahnya sendiri. Sejujurnya ia tidak menginginkan hal ini harus terjadi pada kehidupannya, ia masih ingin mengalami masa muda yang panjang.

Di antara suasana yang begitu romantis tiba-tiba amukan angin mengelilinginya, para tamu undangan di kagetkan oleh suara debuman pintu besar yang hancur. Tentu saja iblis di sana memasang pose siaga dan bersiap menghadapi serangan dari musuh.

"Jadi, bisa katakan dimanakah pria bernama Sirzech"

Pria bersurai merah itu tertawa. "Hahaha ternyata kau datang juga yah, Naruto-san"

Deg!

Riser dan Ravel tiba-tiba saja menegang, pupil mereka mengecil karena mendengar nama itu. Nama yang menjadi ancaman terbesar dunia, sosok yang mendeklarasikan niatnya untuk melawan Great Red. Dan juga sosok yang telah memberikannya luka terdalam.

"Baiklah Riser-kun, aku cukup kecewa karena pertarungan yang berat sebelah seperti ini. Jadi aku ingin kau melawan Naruto-"

"Aku bersama adikku"

Sirzech memasang wajah tidak kecewa sama sekali. "Hahaha baiklah-baiklah kalian berdua akan melawan Riser dan Ravel"

Dan dengan sebuah perintah, Grayfia memindahkan tubuh Naruto dan Issei bersamaan dengan Riser dan Ravel yang memasuki arena. Kini mereka berada tepat di sebuah padang rumput yang luas dan hanya di hiasi oleh dua pohon besar disetiap tempat.

"Hahahaha akhirnya aku bisa membunuhmu, manusia keparat!"

Naruto mengangkat jari telunjuknya. "Sebelum memulai pertarungan ini, apa aku boleh membunuhnya"

"A-apa maksudmu nii-san?"

Naruto menoleh kearah Ise. "Dia berkata kalau ingin membunuhku, kalau Fraksi manusia memiliki kekuatan mungkin mereka akan marah. Sebagaimana saat ini Iblis Murni dalam ambang kepunahan mereka tidak akan segan-segan membunuh siapa saja yang berani melukai anggota dari 34 pilar yang tersisa" Naruto mengalihkan tatapannya kearah Riser. "Anggap saja kau membunuh anak raja"

"Jadi, pernyataan ini aku tujukan kepada kau Lord Phenex" Naruto memasang wajah datarnya, tak lupa iris matanya yang berputar pelan seolah meminta jawaban saat ini juga. "Tapi, aku benci kalau kematian dalam Rating Game tidaklah permanen"

Naruto menatap sebentar kearah peerage Riser yang sudah lengkap, memegang masing-masing senjata di setiap tangan mereka dan bersiap untuk menyerang mereka. Perbandingan yang sangat tidak rasional, satu set lengkap melawan dua orang.

Oh yeah mungkin bagi orang biasa itu tidaklah sportif.

Tapi, itu bukanlah masalah bagi Naruto. Ia memejamkan matanya dengan kedua tangan menengadah dan ia berucap beberapa mantra yang tidak di ketahui oleh mereka.

Rias yang melihat itu hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Dia menggunakan itu lagi"

Sona yang duduk di sebelahnya menautkan alis tidak mengerti. "Apa maksudmu?"

Rias diam tidak menjawab, ia lebih memilih untuk menatap ke layar besar dihadapannya. "Lihatlah dan perhatikan"

"Menghilanglah bersama kegelapan"

"Menyatu bersama gelapnya malam"

"Ditelan oleh lingkaran hitam tak berujung"

"The Heavenly Body Magic : Altairis"

Sebuah bola hitam berukuran dua puluh meter langsung tercipta di hadapan Naruto dan bersiap untuk membabat habis semua yang di lewatinya. Mira, pion terlemah dari peerage Riser langsung memucatkan wajahnya dan tongkat yang ia pegang terjatuh.

Ledakan adalah kehancuran...

Mereka yang tidak bisa menghindar pun hanya menjadi bulan-bulanan bola hitam itu, tergilas dan menghilang dapat mereka rasakan bersama rasa sakit tersebut. Rasa sakit yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya, kini pada akhirnya mereka mengenal siapakah yang memberikan rasa sakit itu.

"Riser, Yubelluna, Ravel. Terserah kamu ingin melawan yang mana, mereka hanyalah iblis sombong yang tak pernah di ajarkan apa itu rasa menghargai seseorang yang dibawahnya"

Ketiga sosok itu terdiam, mereka marah dan kesal karena telah di lecehkan seperti itu. Tapi di lain hati, mereka menyadari kalau ucapan itu memanglah benar.

Mereka arogan..

Sombong...

Dengan kekuatan yang dimiliki oleh mereka sehingga membuat mereka harus meremehkan seseorang yang berada di bawahnya, dan mereka akhirnya mengerti kalau ke aroganan akan berujung pada... kematian.

"Biar kulawan Riser, akan kuajarkan kepadanya apa itu sopan santun"

"Ha'i Nii-san" Issei mengeluarkan sebuah pil berwarna merah kehitaman dan menelannya dengan sekali teguk.

Beberapa detik kemudian, efeknya pun mulai bereaksi. Energi berwarna kehijauan meledak dari tubuh Issei, youki yang sangat kuat itu menggerakkan rumput-rumput dibawahnya. Sampai kuatnya, rambut Issei berkibar melawan gravitasi diikuti oleh Gauntlet di lengan kirinya telah berubah.

"Explosion!"

Riser menutup matanya ketika hembusan angin yang sangat kuat membuat matanya sakit, entah kenapa ia merasakan kalau ratu dan adiknya telah terlempar menabrak pohon karena tidak kuat menahan amukan energi yang meluap dari tubuh Issei.

Peningkatan fisik yang sangat pesat, berasal dari pelepasan akumulai energi secara langsung tidak menggunakan [Boost] mungkin akan mengakibatkan kelumpuhan beberapa jam. Issei berkelebat dan menghilang dari pandangan kemudian muncul di hadapan Ratu Riser yang sudah memegang tongkatnya.

Melihat sang ratu akan menggunakan jurus andalannya, Issei langsung mengaktifkan salah satu jurusnya.

"Boosted Gear : Speed!"

Tiba-tiba tubuh Issei berbayang dan menghilang dari depan Yubelluna yang mengurungkan niatnya untuk menyerang, ia di kejutkan oleh sebuah pukulan pelan yang di hantamkan oleh Issei tepat dipunggungnya.

"Nii-san, akan kutunjukkan jurus originalku!"

Issei melakukan pose yang berakhir dengan mengulurkan dua jari, telunjuk dan jempol. Dengan sekali kedipan mata, ia menjentikkan jarinya.

"Dress Break!"

Naruto mengusap wajahnya dengan wajah memerah malu. "Hahh, aku jadi malas menganggapmu adik karena sifat mesummu yang sangat berlebihan itu"

"E-eh? Jangan begitu Nii-san, bagaimanapun juga ini ajaran dari Azazel-san"

Entah kenapa Azazel yang sedang menonton pertandingan ini langsung memucat, karena hanya ia yang mengetahui siapakah itu Naruto.

"Oh, Azazel ya? Baiklah akan kuberikan-"

Naruto mendengus ketika ucapannya belum selesai harus di potong oleh tinjuan dari Riser yang berdebum tepat di perutnya, ia menautkan alisnya ketika api hitam langsung membakar tangan kanannya. Kejadian yang sama untuk kedua kalinya.

"Kau mengerti? Apa kau sudah mengerti, apakah ke aroganan bisa membuatmu mengalahkanku?" Riser terdiam sambil mengibas-ngibaskan tangannya untuk menghilangkan api hitam yang terus merambat tersebut. Melihat Naruto yang melangkah maju untuk mendekatinya, ia mengambil langkah mundur.

Alih-alih ciut nyali, Ravel yang memang tidak bisa berbuat apapun hanya mampu membenamkan wajahnya di antara kedua lutut. Ravel sebenarnya ingin melawan, tetapi ketika melihat ekspresi buas yang terpasang di wajah adik-kakak itu, hatinya diliputi rasa takut hingga reaksinya menjadi lambat.

"Angkat gadis kecil itu, Issei"

Issei yang tidak berani berbuat macam-macam di depan kakaknya pun hanya menurut dan membopong tubuh Ravel yang berontak karena ketakutan. Tak mengidahkan Yubelluna yang masih terduduk sambil menutupi dadanya, Ise berjalan mendekati kakaknya.

"Riser" panggil Naruto.

"Y-ya?"

"Kau sudah mengerti?"

"Mengerti ap-Guahh!"

Merasakan sebuah tinjuan yang berhasil bersarang di perutnya, ia harus merelakan tubuhnya terpental hingga menghancurkan pohon di belakangnya.

"Kau sudah mengerti?"

"Mengerti apa?-Hueek!"

Riser memuntahkan darah segar ketika Naruto menendang perutnya hingga Riser memuntahkan cairan kental dari tenggorokannya. Tak sampai disitu, penyiksaan Naruto terhadapnya terus berjalan dan mengulang kembali pertanyaan retorik tersebut, dan akhirnya Riser mengerti arti dari pertanyaan itu.

"S-su-sudah c-c-cukup, a-aku ti-tidak a-akan a-arogan l-l-lagi" dengan ucapan akhir itu, tubuh Riser terhuyung kedepan dan pingsan setelah itu. Dia baru saja merasakan kehancuran mental yang selama ini menjadi kepribadiannya, tanpa mereka sadari Lord Phenex tersenyum tipis melihat hal itu.

'Anak yang menarik'

Kini Naruto mengangkat tubuh Yubelluna yang tidak mengenakan busana apapun, meskipun pada awalnya memberontak tetapi akhirnya sang Queen menurut dan tak lupa tetap menutupi dadanya.

"Nii-san, kau curang" rengek Issei ketika melihat kakaknya mendapatkan kesempatan yang sangat langka itu.

Naruto yang tidak mengerti hanya menautkan alisnya. "Ada apa?"

"Uuuh!" Issei mencemberutkan wajahnya, ia baru menyadari kalau kakaknya memanglah bodoh soal hal seperti itu.

"Issei"

"Ya?"

"Kau kalah dengan mereka? Padahal kukira mereka tak ada apa-apanya"

Issei langsung drop mendengarnya, secara tidak langsung Naruto mengejeknya dan meremehkannya. "Aku kan tidak menggunakan Draketsugan"

Naruto memberikan senyuman menawan yang membuat Yubelluna memerah karenanya. "Kekuatan itu bukan bersumber dari sesuatu yang praktis, tetapi kekuatan berasal dari dirimu sendiri"

Ketika mereka telah di pindahkan dari arena ketempat pertunangan tadi, Naruto langsung menyentuh dahi Yubelluna dan seketika pakaian wanita itu kembali. Tatapannya kini beralih kepada para iblis yang menatapnya dengan tatapan berbeda-beda, ia dapat melihat kagum, shock, dan juga takut.

"Sirzech, tepati janjimu"

Sirzech tertawa pelan sambil memukul lengan Naruto. "Tenang saja, kau akan menjadi boss nya setelah itu"

"Nii-san, apa maksudnya?"

Naruto langsung menepuk kepala adiknya dengan pelan. "Kita akan hidup bahagia sekarang"

"Benarkah?"

Naruto mengangguk. "Kita akan hidup bahagia, aku tidak bisa melihatmu harus terpuruk dalam ekonomi yang rendah. Bukankah kakak akan selalu ada untuk adik? Dan kakak rela mati demi adik"

Suasana yang tadinya romantis kini menjadi sendu. Mendengar bagaimana ucapan yang mereka yakini kalau adik-kakak ini selalu hidup dalam keterpurukan tidak seperti mereka. Apalagi mereka hidup dengan berfoya-foya sampai tidak menyadari kalau ada orang yang lebih membutuhkan di luar sana.

"Ah iya Nii-san"

Para tamu undangan langsung di buat penasaran oleh wajah Ise yang berbinar-binar. Naruto yang merasa di panggil langsung memiringkan kepalanya dan mengucapkan satu patah kata. "Hm?"

"Apa kau menang melawan Great Red"

...Cetar membahana...

.

.

To be Continued~

.

Draketsugan, salah satu pil karangan saya. Jangan di ikutin karena itu hanya menyesatkan kalian. Pil ini memiliki fungsi meningkatkan kekuatan berkali-kali lipat pada penggunanya. Dan efek penggunaan ini hanya berpengaruh selama sepuluh menit kedepan. Efek sampingnya, mungkin pengguna yang tidak kuat akan mengalami kelumpuhan sementara atau pingsan.

Ahaha saya gak nyangka satu chapter mendapat Review lebih dari dua puluh. Yah saya sih biasanya Cuma dapet 21 kalo lagi suram Cuma 14 kayak FF Uzumaki Rinnegan :v.

Soal pair? Hehehe gak kepikiran gan, naga masa pacaran? Kan jadi aneh kalo di bayangin, tapi saya usahain bakal nyari yang cocok.

Alasan kenapa setiap Fic saya kebanyakan berpenampilan Rambut Perak dan Iris Mata Jarum Emas itu hanya sebagai karakter saya, sebagaimana kalau suatu saat aku ini di jebol. Saya akan buat Fic baru dan readers-san akan mengetahui kalau itu punya saya.

Tapi gak semuanya kok yang berpenampilan seperti itu Fic saya, hehe.

Thanks to :

Namikaze KahFi ErZA, Zeref si dewa, Zero Akashi, dianrusdianto39, ahmad. .9, Karyuu no Yokou, xxXX095XXxx, Saikari Ara Nafiel, maulana59, arafim123, adityasriwijaya, Rising Fire Blast, Kyosuke Kitsune, The Nightmare at Friday at 13, 20th Ward Eyepatch, Namikaze Shiro, Varian Andika, kiiroi kitsune.197, HyperBlack Hole, , alta0sapphire, firmanuciha4, Black Rabbit, Dre, Zero Akashi, L, d'hendar, vay trihexa, Ryoko, .3, seven77, Uchiha madara, shikanara88, . Lucifer, Rakito Rin, , GUEST.

.

Maaf kalau chapter ini membosankan dan mengecewakan.

.

© DraconsteeL Out~